Anda di halaman 1dari 22

Aspek H ukum

D alam
Pem bangunan
(H SPB802)
Kelompok:
Hamidi H1A113224
Aulia Rizannor H1A113223
Aulia Roosyidah H1A113226
Anugrah Dwi A. P.H1A113229
Ryan Agus H1A113232
Khairi Fikri H1A113233
Hendra Lesmana P. H1A113240
Fitra Haiqal Mirza H1A114218

P ejab at P elaksan a Tekn is


K eg iatan (P P TK )
Perpres
tentang
pengadaan
barang/jasa
tidak
mengatur secara detail tentang PPTK. Dalam Perpres
70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Perpres
54 tahun 2010 hanya dijumpai aturan tentang PPTK
dalam penjelasan pasal 7 ayat (3). Pasal 7 ayat (3)
yang berbunyi PPK dapat dibantu oleh tim pendukung
yang diperlukan untuk pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa. Penjelasan pasal tersebut berbunyi:
o Tim pendukung adalah tim yang dibentuk oleh PPK untuk
membantu pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa.
o Tim pendukung antara lain terdiri atas Direksi Lapangan,
Konsultan Pengawas, Tim Pelaksana Swakelola, dan lain-lain.
o PPK dapat meminta kepada PA untuk menugaskan Pejabat
Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) dalam rangka membantu
tugas PPK.

P ejab at P elaksan a Tekn is


K eg iatan (P P TK )
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 1 ayat (16) menyebutkan
bahwa Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan yang selanjutnya
disingkat PPTK adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang
melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program
sesuai dengan bidang tugasnya.
Dari pasal ini beberapa kata kunci yang dapat dicermati.
Pertama, PPTK melekat pada jabatan struktural. Ini menegaskan
bahwa jabatan sebagai PPTK adalah bagian dari tugas, pokok dan
fungsi (tupoksi), oleh karena itu selayaknyalah penghargaan
sebagai PPTK sudah melekat pada gaji dan tunjangan jabatan.
Kedua, PPTK bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kegiatan
dari satu program. Adapun tugas PPTK dijelaskan dalam Pasal 12
ayat (2) PP 58 Tahun 2005, yaitu: mengendalikan pelaksanaan
kegiatan; melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan dan
menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran
pelaksanaan kegiatan.

K ed u d u kan P P TK d alam K eran g ka


P en g ad aan B aran g /Jasa
Pengadaan barang/jasa merujuk pada diperolehnya barang/jasa sebagai
bagian pemenuhan tugas kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD),
baik sebagai pengguna angaran (PA) sekaligus pengguna barang. Dengan
demikian, kegiatan pengadaan barang/jasa adalah tanggungjawab kepala
SKPD yang dalam Perpres 70/2012 disebut sebagai pengguna anggaran
(PA). Definisi PA disini sama dengan definisi yang ada dalam PP 58/2005.
Di sisi pelaksanaan teknis (fungsional), pengadaan barang/jasa PA
menunjuk dan/atau menetapkan personil yang mempunyai kompetensi
teknis menjadi PPK (Pejabat Pembuat Komitmen). Sebagaimana
diterangkan dalam Pasal 8 ayat (1) huruf (c) Perpres 70 Tahun 2012.
Tugas kepala SKPD seperti amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun
2003 tentang Keuangan Negara adalah sebagai pengguna anggaran (PA)
berujung pada kegiatan. Sementara itu, sebagai pengguna barang
berujung hingga ke paket pekerjaan. Dalam wilayah pengguna anggaran
sesuai amanat PP 58/2005, PA dapat menunjuk pejabat dibawahnya
sebagai PPTK pada batas kegiatan. Sementara itu dalam tujuan
memperoleh barang/jasa, PA dapat menetapkan seorang PPK pada
batas pelaksanaan pekerjaan.

K ed u d u kan P P TK d alam K eran g ka


P en g ad aan B aran g /Jasa
Pengelolaan keuangan dan pengadaan barang/jasa pemerintah
merupakan bidang pekerjaan yang berbeda. Demikian juga proses
pengadaan barang/jasa dan proses pembayaran atas pengadaan
barang dan jasa merupakan lingkup pekerjaan yang berbeda.
Begitu juga, PPTK dan PPK tidak bisa dipahami secara struktural
karena keduanya memang memiliki tugas yang berbeda. PPK
memiliki tugas fungsional sebagai pelimpahan kewenangan dari
PA disisi memperoleh barang/jasa. Sementara itu, PPTK memiliki
tugas struktural yang juga pelimpahan kewenangan PA disisi
pembayaran.
PPTK bersifat admnistratif, sedangkan PPK bersifat teknis
operasional. PPTK bertanggung jawab terhadap kegiatan,
sedangkan PPK bertanggung jawab terhadap paket pekerjaan.
PPTK bertanggung jawab atas adminsitrasi pembayaran,
sedangkan PPK bertanggung jawab atas perolehan barang/jasa.
Jelas tidak ada yang harus dipertentangkan.

K ed u d u kan P P TK d alam
K eran g ka P en g ad aan
B aran g /Jasa
Alur proses yang harusnya dipahami PPTK sebagai pembantu PA memastikan
secara administratif anggaran telah tersedia. Sejalan dengan itu, PPK
mempersiapkan pelaksanaan pengadaan sejak penyusunan spesifikasi, HPS, dan
rancangan kontrak.
Setelah penyedia ditetapkan, PPK menunjuk penyedia dan menandatangani
kontrak bersama. Kemudian PPK mengendalikan kontrak hingga didapatkannya
barang/jasa yang ditandai dengan berita acara serah terima (BAST). Setelah itu,
PPK tidak punya kewenangan untuk menjalankan administrasi pembayaran.
Untuk itu, PPTK mendukung PPK dalam proses admnistrasi pembayaran.
Tahap inilah yang diataur dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan disempurnakan dengan
Permendagri 21/2011. Secara rinci, tugas PPTK bisa dilihat sebagai berikut:
Pasal 1 ayat (69)
SPP Langsung yang selanjutnya disingkat SPP-LS adalah dokumen yang diajukan
oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan pembayaran Iangsung kepada
pihak ketiga atas dasar perjanjian kontrak kerja atau surat perintah
kerja Iainnya dan pembayaran gaji dengan jumlah, penerima, peruntukan, dan
waktu pembayaran tertentu yang dokumennya disiapkan oleh PPTK

K ed u d u kan P P TK d alam
K eran g ka P en g ad aan
B aran g /Jasa
Pasal 13 ayat (2)
PPK-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas:
meneliti kelengkapan SPP-LS pengadaan barang dan jasa yang
disampaikan oleh bendahara pengeluaran dan diketahui/disetujui
oleh PPTK;
Pasal 205
Ayat (1)
PPTK menyiapkan dokumen SPP-LS untuk pengadaan barang
dan jasa untuk disampaikan kepada bendahara pengeluaran dalam
rangka pengajuan permintaan pembayaran.
Ayat (3) huruf m
Surat pemberitahuan potongan denda keterlambatan
pekerjaan dari PPTK apabila pekerjaan mengalami keterlambatan;

K ed u d u kan P P TK d alam
K eran g ka P en g ad aan
B aran g /Jasa
Ayat (5)
Dalam hal kelengkapan dokumen yang diajukan
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak lengkap,
bendahara pengeluaran mengembalikan dokumen
SPP-LS pengadaan barang dan jasa kepada PPTK
untuk dilengkapi.
Ayat (6)
Bendahara
pengeluaran
mengajukan
SPP-LS
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada
pengguna anggaran setelah ditandatangani oleh
PPTK guna memperoleh persetujuan pengguna
anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPKSKPD.

K ed u d u kan P P TK d alam
K eran g ka P en g ad aan
B aran g /Jasa
Menurut penulis, dari ketentuan tersebut dapat dilihat bahwa :
PPTK menyiapkan dokumen SPP-LS yang di dalamnya termasuk
kelengkapan pertanggung jawaban pelaksanaan kontrak oleh
PPK.
Klausul adanya keterlambatan dan denda keterlambatan
berasal dari PPK, kemudian disampaikan pada PPTK untuk
diproses secara administratif oleh PPTK dengan membuat surat
pemberitahuan potongan denda sebagai kelengkapan SPP-LS.
Jika
dokumen
dianggap
tidak
lengkap,
verifikator
keuangan/bendahara mengembalikan dokumen kepada PPTK.
Sementara itu, jika ada ketidaklengkapan dalam wilayah
kontrak dan pelaksanaan kontrak, dimintakan kepada PPK.
PPTK sebagai unsur staf dari PA, memberikan tanda tangan
sebagai verifikasi bahwa dokumen SPP-LS telah lengkap dan
sesuai ketentuan.

Kesim pulan:
Pengelolaan keuangan dan pengadaan barang/jasa pemerintah merupakan bidang
pekerjaan yang berbeda. Demikian juga proses pengadaan barang/jasa dan proses
pembayaran atas pengadaan barang dan jasa merupakan lingkup pekerjaan yang
berbeda.
Prosedur pengadaan barang/jasa diatur dalam Pereturan Presiden Nomor 54 Tahun
2010 yang telah diubah dengan Perpres Nomor 70 tahun 2012. Sedang Prosedur
pembayaran atas pengadaan barang/jasa yang dibiayai dari APBD diatur dalam
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006.
Pihak yang berperan dalam proses pengadaan barang/jasa adalah: PA/KPA, PPK,
Panitia/Pejabat Pengadaan/ULP, dan PPHP. Pihak yang berperan dalam proses
pembayaran adalah PA/KPA, PPK, PPK-SKPD, PPTK, Pejabat Penanda Tangan SPM, dan
Bendahara pengeluaran.
Dalam hal PPK memerlukan bantuan PPTK dalam pelaksanaan tugasnya, PPK dapat
mengusulkan kepada PA untuk menugaskan PPTK dalam rangka membantu tugas PPK.
Hanya PPTK yang ditetapkan oleh PA sebagai pembantu PPK yang dilibatkan dalam
tugas PPK.
Keterlibatan PPTK dalam membantu tugas PPK tidak membebaskan PPTK dari tugas
pokoknya yaitu: Mengendalikan pelaksanaan kegiatan, Melaporkan perlembangan
pelaksanaan kegiatan, dan Menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran
pelaksanaan kegiatan.

P EN G ER TIA N S K P D
Satuan Kerja Perangkat Daerah (biasa disingkat SKPD)
adalah
perangkat
Pemerintah Daerah
(Provinsi
maupun
Kabupaten/Kota) di Indonesia. SKPD adalah pelaksana fungsi
eksekutif yang harus berkoordinasi agar penyelenggaraan
pemerintahan berjalan dengan baik. Dasar hukum yang berlaku
sejak tahun 2004 untuk pembentukan SKPD adalah Pasal 120
UU no. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Gubernur dan wakilnya, Bupati dan wakilnya, atau Walikota dan
wakilnya tidak termasuk ke dalam satuan ini, karena berstatus
sebagai Kepala Daerah. Ke dalam SKPD termasuk Sekretariat
Daerah, Staf-staf Ahli, Sekretariat DPRD, Dinas-dinas, Badanbadan, Inspektorat Daerah, lembaga-lembaga daerah lain yang
bertanggung jawab langsung kepada Kepala Daerah,
Kecamatan-kecamatan (atau satuan lainnya yang setingkat),
dan Kelurahan/Desa (atau satuan lainnya yang setingkat).

P en g ertian P P K
Berdasarkan Perpres RI Nomor 70 tahun 2012 tentang
Perubahan Kedua atas Perpres Nomor 54 tahun 2010
tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, yang
disebut PPK adalah pejabat yang bertanggung jawab
atas pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa.

Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor


45 tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, PPK
adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh PA/KPA
untuk mengambil keputusan dan/atau melakukan
tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran
anggaran belanja negara.

P en g ertian P P K
Berdasarkan pengertian tersebut, maka PPK
adalah
pejabat
yang
berwenang
untuk
mengambil keputusan dan tindakan yang
berakibat pada pengeluaran anggaran dan
bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan
barang /jasa. Jika kita melihat mekanisme
pencairan anggaran belanja negara, maka peran
PPK ada pada mekanisme uang persediaan dan
mekanisme langsung (LS). Pada mekanisme UP,
PPK berwenang untuk mengambil tindakan yang
berakibat pada pengeluaran, sedangkan pada
mekanisme LS , PPK bertanggung jawab atas
pelaksanaan pengadaan.

P en g ertian P P K
Adapun tugas PPK secara rinci disebutkan dalam Pasal 11 Perpres 70
Tahun 2012, yaitu:

A. Tugas pokok PPK :


1. Menetapkan rencana pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa yang
meliputi:

a. Spesifikasi teknis Barang/Jasa;


b. Harga Perkiraan Sendiri (HPS); dan
c. rancangan Kontrak.
2. Menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa;
3. Menyetujui bukti pembelian atau menandatangani Kuitansi/Surat
Perintah Kerja (SPK)/surat perjanjian
4. Melaksanakan Kontrak dengan Penyedia Barang/Jasa
5. Mengendalikan pelaksanaan Kontrak;

P en g ertian P P K
6. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian
Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA;
7. Menyerahkan hasil pekerjaan Pengadaan
Barang/Jasa kepada PA/KPA dengan
Berita Acara Penyerahan;
8. Melaporkan
kemajuan
pekerjaan
termasuk penyerapan anggaran dan
hambatan
pelaksanaan
pekerjaan
kepada PA/KPA setiap triwulan; dan
9. Menyimpan dan menjaga keutuhan
seluruh
dokumen
pelaksanaan

P en g ertian P P K
B. Selain tugas pokok
diperlukan PPK dapat :

diatas,

dalam

hal

1. mengusulkan kepada PA/KPA perubahan paket


pekerjaan dan/atau perubahan jadwal kegiatan
pengadaan;
2. menetapkan tim pendukung;
3. menetapkan tim atau tenaga ahli pemberi
penjelasan teknis untuk membantu pelaksanaan
tugas ULP; dan
4. menetapkan besaran Uang Muka yang akan
dibayarkan kepada Penyedia Barang/Jasa.

P en g ertian P P K
B. Selain tugas pokok
diperlukan PPK dapat :

diatas,

dalam

hal

1. mengusulkan kepada PA/KPA perubahan paket


pekerjaan dan/atau perubahan jadwal kegiatan
pengadaan;
2. menetapkan tim pendukung;
3. menetapkan tim atau tenaga ahli pemberi
penjelasan teknis untuk membantu pelaksanaan
tugas ULP; dan
4. menetapkan besaran Uang Muka yang akan
dibayarkan kepada Penyedia Barang/Jasa.

P an itia/P ejab at P en g ad aan /U n it


Layan an P en g ad aan
Panitia/Pejabat
Pengadaan/Unit
Layanan
Pengadaan
merupakan tiga jabatan yang berbeda yang memiliki tugas
yang sama yakni melaksanakan pemilihan penyedia
barang/jasa atau menentukan kepada siapa barang/jasa
harus
dibeli.
Panitia
pengadaan
memiliki
tugas
melaksanakan pemilihan penyedia barang/jasa dengan cara
lelang (tender), kecuali untuk pengadaan barang khusus
dan/atau pengadaan yang dilakukan dalam kondisi khusus
(darurat) dimana pemilihan penyedia boleh dilaksanakan
dengan cara Penunjukan Langsung. Pejabat Pengadaan
memiliki
tugas
melaksanakan
pemilihan
penyedia
barang/jasa dengan cara Pengadaan Langsung tanpa
melalui proses lelang (tender). Unit Layanan Pengadaan
adalah suatu unit kerja (entitas) dengan tugas sama dengan
Panitia Pengadaan yakni melaksanakan pemilihan penyedia
barang/jasa dengan cara lelang (tender).

P an itia/P ejab at P en g ad aan /U n it


Layan an P en g ad aan
Perangkat organisasi ULP ditetapkan
sesuai kebutuhan yang paling kurang
terdiri atas:
a. kepala;
b. sekretariat;
c. staf pendukung; dan
d. kelompok kerja.

S W A K ELO LA
Swakelola merupakan kegiatan Pengadaan Barang/Jasa
dimana pekerjaannya direncanakan, dikerjakan dan/atau
diawasi sendiri oleh K/L/D/I sebagai penanggung jawab
anggaran, instansi pemerintah lain, dan/atau kelompok
masyarakat.
Dari pengertian ini terlihat bahwa swakelola bersifat
mandiri dan dikerjakan oleh diri sendiri, bukan melalui
penyedia. Jadi, apabila tetap menggunakan penyedia
barang/jasa, misalnya toko, kontraktor, konsultan, tenaga
ahli dari swasta, PT, CV, dan lain-lain, maka itu bukanlah
swakelola.
Swakelola bukan berarti dikelola sendiri. Bukan berarti
diberikan uang, kemudian beli sendiri ke toko. Karena kalau
sudah membeli ke toko, artinya sudah menggunakan
penyedia, dimana toko inilah yang menjadi penyedianya.

S W A K ELO LA
Tim Swakleola adalah tim yang diangkat
oleh
PA/KPA
untuk
melaksanakan
pekerjaan yang dilaksanakan secara
swakelola. Tim Swakelola terdiri dari tim
perencana, tim pelaksana, dan tim
pengawas. Tim pelaksana swakelola
hanya memiliki tugas melaksanakan
pekerjaan dengan cara membuat atau
mengerjakan
sesuatu.
Dalam
hal
pelaksanaan pekerjaan secara swakelola
memerlukan barang atau material, maka
pengadaan barang material tersebut
dilaksanakan
oleh
Panitia/Pejabat

S W A K ELO LA
Dibawah ini adalah kasus yang sering terjadi:
Sebuah sekolah, diberikan bantuan dana dari APBN atau
APBD untuk pengadaan meubelair sejumlah Rp. 300 Juta.
Dalam petunjuk teknis (juknis) disebutkan bahwa
pengadaannya dilaksanakan dengan cara swakelola
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Karena melihat juknis ini, maka Kepala Sekolah segera
mencairkan anggaran yang telah diterima melalui
rekening sekolah, kemudian mendatangi toko meubelair
terdekat dari beberapa toko yang ada, kemudian
membelanjakan semua uang tersebut untuk membeli
meubelair untuk sekolahnya. Ini dengan alasan bahwa
yang namanya swakelola adalah dikelola sendiri.