Anda di halaman 1dari 34

BAB I

LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
Nama

: Nn. N

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 23 tahun

Alamat

: Dusun Krajan, Pucungroto, Kajaran

Diagnosis Pre-Op

: Tumor payudara

Tindakan Op

: Eksisi tumor

Jenis Anestesi

: Anestesi umum

Tanggal Masuk

: 7 Desember 2015

Tanggal Operasi

: 8 Desember 2015

Pemeriksaan Pre Anestesi


BB

: 50 Kg

TB

: 152 cm

IMT

: 21,6 (normal)

Anamnesis
Subjektif
Keluhan Utama
Benjolan pada payudara kanan.
Riwayat Penyakit Sekarang
Benjolan ditemukan pada payudara kanan regio atas sejak 1 bulan SMRS, pertama kali
ditemukan saat mandi berukuran kecil ( diameter +1 cm) kadang benjolan terasa nyeri baik saat
beraktivitas ataupun sedang tidak beraktivitas, awalnya nyeri ringan (skala nyeri 1) semakin
lama nyerinya semakin sering dan berat, skala nyeri saat ini 3. Nyeri tidak dipengaruhi oleh
perubahan posisi tubuh.

Riwayat Penyakit Dahulu


Sebelumnya pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini, namun waktu kecil
(pasien lupa usia berapa tahun) pasien mengalami tumor jinak di bawah dagu dan dioperasi. HT
(-), DM (-), Alergi (-), asma (-), kelainan pembekuan darah (-).
Pasien sudah menikah selama 4 tahun, 3 tahun SMRS pasien mengalami hamil anggur, lalu
dilakukan kuretase.
Riwayat Penyakit Keluarga
Adik dari nenek pasien menderita tumor payudara
Nenek pasien menderita hipertensi
Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah berobat dan belum mendapatkan pengobatan apapun untuk penyakit
ini.
Pasien menggunakan KB suntik sejak 3 tahun SMRS.
Objektif
B1

: RR 20 x/menit
Teeth

: tidak ada kelainan

Tongue

: tidak ada kelainan

Tonsil

: T1-T1

Tiroid

: tidak ada pembesaran

Tempura madibua joint

: mulut dapat dibuka sampai 4 jari

Tiromental distance

: tidak ada kelainan

Trakea

: letak berada di tengah

Tortikolis vertebrae

: normal

Mallampati score

: Skor kelas I

Pulmo

Inspeksi

: Pergerakan dinding dada simetris

Palpasi

: Vocal fremitus kanan = kiri

Perkusi

: Sonor seluruh lapang paru


2

: SDV +/+, rhonki /, wheezing /

Auskultasi
B2

: BP 120/80 mmHg
HR 80 x/menit
Capillary refill time
Cor

: < 2 detik
:

Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba, tidak kuat angkat

Perkusi

:Batas jantung kanan atas: ICS II parasternal dekstra


Batas jantung kiri atas: ICS II midclavicular sinistra
Batas jantung kanan bawah: ICS V parasternal
dekstra
Batas jantung kiri bawah: ICS V midclavicular
sinistra

Auskultasi

: BJ S1=S2 reguler, murmur (), gallop ()

Riwayat hipertensi disangkal, penyakit jantung disangkal


Tumor

:Teraba benjolan pada payudara kanan region atas,


teraba keras, rata dan mobile, tidak nyeri pada
penekanan, diameter +3 cm.

USG:

Lesi padat pada payudara kanan atas

Pemeriksaan laboratorium darah:


PARAMETER
WBC
RBC
HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC
RDW
PLT
MPV
PCT
PDW

HASIL
10.4
4.61
12.8
36.8
80.0
27.8
34.8
11.6
304
7.9
0.24
14.7

NILAI NORMAL
4.0 12.0
4.00 6.20
11.0 17.0
35.0 55.0
80.0 100.0
26.0 34.0
31.0 35.0
10.0 16.0
150 400
7.0 11.0
0.20 0.50
10.0-18.0
3

B3

: GCS 15 (E4 M6V5)


Reflek cahaya

: +/+

Pupil

: Isokor +/+

Refleks Fisiologis sup +/+ ; inf +/+


Refleks Patologis sup -/- ; inf -/B4

:BAK (+) 4x 5x BAK/hari, urin tidak ditampung, 1x BAK 250 ml, warna
kuning jernih, nyeri (-), sulit BAK (-)
Kateter (-)

B5

: Mual (), muntah ()


BAB (+) lancar
Abdomen

B6

Inspeksi

: Supel

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Perkusi

: Timpani

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

: Ekstremitas
Akral hangat +/+/+/+
Kering +/+/+/+
Merah normal +/+/+/+
Edema ///
Deformitas ///
Suhu axila 36.0 C

Assesment
Pasien wanita, usia 23 tahun dengan diagnosis tumor payudara ASA I
Planning
Jenis Pembedahan

: Eksisi tumor
4

Jenis Anestesi

: Umum

Permasalahan
Tidak ditemukan permasalahan medis, bedah, maupun anastesi.
Persiapan Pre-Operasi
1. Persiapan pasien :
a. Informed Consent
b. Pasien puasa 6 12 jam pre op
c. Infuse RL 20 tpm
d. Tanda vital
2. Persiapan alat anestesi :
a. STATIC :
S : Scope Stetoskop, laringoskop
T : Tubes pipa trakea. Dipilih sesuai dengan usia. Usia <5 tahun tanpa
balon (cuffed) dan >5 tahun dengan balon (cuffed).
A : Airway pipa mulut-faring (guedel, orotracheal airway) atau pipa
hidung-faring (naso-tracheal airway)
T : Tape plester
I : Introducer mandrin atau stilet
C : Connector penyambung pipa dan peralatan anesthesia
S : Sucstion
b. Mesin anastesi lengkap
c. Bedside monitor
d. Tangan meja
3. Persiapan obat-obatan:
Lidocain 2% (dosis: 1-1,5 mg/kgbb)
Bupivacain 0,5% (dosis: 2-2,5 mg/kgbb)
Pethidin 100 mg/ 2cc amp (dosis:1-1,5 mg/kgbb)
Fentanyl 0,05 mg/ cc amp (dosis: 50-100 mcg/kgbb)
Propofol 200 mg/ 20 cc amp
Ketamin 100 mg/ cc vial
Succinilcholin 200 mg/ 10 cc vial
Tramus 10 mg/cc amp
Efedrin HCl 50 mg/ cc amp
Sulfas atropin 0,25 mg/cc amp
Ondansentron 4 mg/ 2cc amp
Aminofilin 24 mg/ cc amp
Dexamethason 5 mg/ cc amp
Adrenalin 1 mg/ cc amp
5

Neostigmin 0,5 mg/ cc amp


Midazolam 5 mg/ 5 cc amp
Ketorolac 60 mg/ 2 cc amp
Difenhiframin 5 mg/ cc amp

Durante Operasi
a.
b.
c.
d.

Anastesi
: Propofol 100 mg dan sevoflurane 3lpm
Lama operasi
: 09.50 10.05
Lama anestesi
: 09.45 10.05
Premedikasi yang digunakan :
1) Ondansetron 4 mg (iv)
2) Ketorolac 60 mg (iv)
e. Teknik Anastesi:
1) Jam 09.40 pasien masuk kamar operasi, ditidurkan terlentang di atas meja operasi,
tangan di atas tangan meja, dipasangkan infus, sungkup muka, pengukur saturasi
dan manset. Disuntikkan ondansetron 4 mg (iv) dan ketorolac 40 mg (iv).
2) Jam 09.45 disuntikkan anastesi umum propofol 100 mg (iv).
3) Setelah refleks bulu mata hilang dipasangkan sungkup oksigen
4) Naikkan oksigen mencapai 6 L
5) Kurangi oksigen hingga 3L lalu pertahankan. Buka sevoflurane 3L
6) Jam 09.50 operasi dimulai
f. Monitoring
Memastikan kondisi pasien stabil dengan monitoring vital sign setiap lima menit
Pernafasan: O2 sungkup oksigen 3L/menit
Waktu

Tekanan

Nadi

SpO2

09.40

Darah
120/80

90

99

Keterangan
Terpasang infus RL 500
cc 20 tpm
Posisikan pasien untuk
tindakan anestesi
Injeksi Ondansetron 4
mg (iv)
Injeksi Ketorolac

09.45

105/60

78

99

mg (iv)
Disuntikkan

40

anastesi

propofol 100 mg (iv)


Pasang sungkup muka
Naikkan
oksigen
6

sampai 6 L
Oksigen turun jadi 3L,
nyalakan
09.50
09.55
10.00
10.05

105/60
105/60
105/60
105/60

78
79
78
78

99
99
99
99

sevoflurane

3L
Operasi dimulai
Pelaksanaan operasi
Pelaksanaan operasi
Operasi selesai

1) Jam 10.05 operasi selesai


2) Jam 10.15 pasien dipindahkan ke recovery room dalam keadaan sadar dengan posisi
terlentang, kepala di ekstensikan, diberikan O2 2 liter/menit, dan tanda vital di
monitoring tiap 10 menit
Post-Operasi
Keluhan:
Bekas operasi terasa nyeri setiap kali bergerak, skala nyeri 4
Mual (-), muntah (-), pusing (-)
Pemeriksaan fisik:
B1

: airway paten, nafas spontan, RR 20x/menit, rhonki -|-, wheezing -|-

B2

: akral hangat, lembab, kemerahan, HR 80 x/menit, TD 120/80 mmHg,


S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

B3

: GCS 15, pupil bulat isokor 3mm, refleks cahaya +|+

B4

:tidak terpasang kateter, urine warna kuning jernih (+), produksi urin 200 cc.

B5

: flat, supel, bising usus (+) normal.

B6

: mobilitas (-), mampu menggerakkan keempat ekstremitas secara


spontan, edema -/-/-/- warna ekstremitas merah normal +/+/+/+ CRT<2 detik,
luka operasi bersih, tertutup kassa.

Monitoring (Recovery Room)


7

Kriteria pemindahan pasien berdasarkan Aldrette Score :


Point
4 ekstermitas
2 ekstremitas
Spontan+batuk
Nafas kurang
Beda <20%
20-50%
>50%
Sadar penuh
Ketika dipanggil
Kemerahan
Pucat
Sianosis
Total

Motorik
Respirasi
Sirkulasi
Kesadaran
Kulit

Nilai
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0

Pada Pasien

10

Bromage Score
0
1
2
3

Gerak penuh dari tungkai


Tidak mampu ekstensi tungkai
Tidak mampu flexi lutut
Tidak mampu flexi pergelangan kaki

Monitoring Pasca Anestesi


Jam
10.20

Tensi
120/70

Nadi
90

RR
22

Keterangan
O2 2L/menit, Monitoring tanda
vital

10.30

120/70

88

20

Monitoring tanda vital

10.40

120/70

90

22

Monitoring tanda vital


Aldrette score 10, dan
Bromage score = 0, pasien
pindah ke bangsal Edelwise
8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1.ANASTESI UMUM
1. Definisi Anestesi Umum
Anastesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya
kesadaran dan bersifat reversible. Anestesi umum yang sempurna menghasilkan
9

ketidaksadaran, analgesia, relaksasi otot tanpa menimbulkan resiko yang tidak diinginkan

dari pasien.
2. Syarat Anastesi Umum
Memberi induksi yang halus dan cepat.
Timbul situasi pasien tak sadar atau tak berespons
Timbulkan keadaan amnesia
Timbulkan relaksasi otot skeletal, tapi bukan otot pernapasan.Hambatan persepsi rangsang sensorik

sehingga timbul analgesia yang cukup untuk tindakan operasi.


Memberikan keadaan pemulihan yang halus cepat dan tidak menimbulkan efek samping yang
berlangsung lama
3. Kontraindikasi Anastesi Umum

Kontraindikasi mutlak dilakukan anestesi umum yaitu dekompresi kordis derajat III IV, AV blok
derajat II total (tidak ada gelombang P).

Kontraindikasi Relatif berupa hipertensi berat/tak terkontrol (diastolik >110), DM tak terkontrol,
infeksi akut, sepsis, GNA

4. Persiapan Anastesi Umum

Kunjungan pre anastesi


Kunjungan pre-anestesi dilakukan untuk mempersiapkan pasien sebelum pasien
menjalani suatu tindakan operasi.Pada saat kunjungan, dilakukan wawancara (anamnesis)
sepertinya menanyakan apakah pernah mendapat anestesi sebelumnya, adakah penyakit
penyakit sistemik, saluran napas, dan alergi obat.Kemudian pada pemeriksaan fisik,
dilakukan pemeriksaan gigi geligi, tindakan buka mulut, ukuran lidah, leher kaku dan
pendek.Perhatikan pula hasil pemeriksaan laboratorium atas indikasi sesuai dengan
penyakit yang sedang dicurigai, misalnya pemeriksaan darah (Hb, leukosit, masa
pendarahan, masa pembekuan), radiologi, EKG.
Dari hasil kunjungan ini dapat diketahui kondisi pasien dan dinyatakan dengan status
anestesi menurut The American Society Of Anesthesiologist (ASA).
ASA I
: Pasien dalam keadaan normal dan sehat.
ASA II
: Pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai sedang
baik karena penyakit bedah maupun penyakit lain. Contohnya: pasien batu
ureter dengan hipertensi sedang terkontrol, atau pasien appendisitis akut
dengan lekositosis dan febris.
ASA III
: Pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat
yang diakibatkan karena berbagai penyebab. Contohnya: pasien appendisitis
10

perforasi dengan septisemia, atau pasien ileus obstrukstif dengan iskemia


miokardium.
ASA IV

: Pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara

langsung mengancam kehidupannya. Contohnya: Pasien dengan syok atau


dekompensasi kordis.
ASA V
: Pasien tak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun
dioperasi atau tidak. Contohnya: pasien tua dengan perdarahan basis kranii

dan syok hemoragik karena ruptur hepatik.


Pengosongan Lambung
Pengosongan lambung untuk anestesia penting untuk mencegah aspirasi lambung karena
regurgutasi atau muntah. Pada pembedahan elektif, pengosongan lambung dilakukan
dengan puasa : anak dan dewasa 4 6 jam, bayi 3 4 jam. Pada pembedahan darurat
pengosongan lambung dapat dilakukan dengan memasang pipa nasogastrik atau dengan
cara lain yaitu menetralkan asam lambung dengan memberikan antasida (magnesium

trisilikat) atau antagonis reseptor H2 (ranitidin).


Kandung kemih
Kandung kemih juga harus dalam keadaan kosong sehingga boleh perlu dipasang kateter.
Informed Consent
Sebelum pasien masuk dalam kamar bedah, periksa ulang apakah pasien atau keluarga
sudah memberi izin pembedahan secara tertulis (informed concent).

Premedikasi
Premedikasi sendiri ialah pemberian obat - 1 jam sebelum induksi anestesia dengan

tujuan melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesia, menghilangkan rasa
khawatir,membuat amnesia, memberikan analgesia dan mencegah muntah, menekan refleks
yang tidak diharapkan, mengurasi sekresi saliva dan saluran napas.
Obat obat premedikasi yang bisa diberikan antara lain :
Gol. Antikolinergik
Atropin.Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah, antimual dan
muntah, melemaskan tonus otot polos organ organ dan menurunkan spasme

gastrointestinal. Dosis 0,4 0,6 mg IM bekerja setelah 10 15 menit.


Gol. Hipnotik sedatif
Barbiturat (Pentobarbital dan Sekobarbital).Diberikan untuk sedasi dan
mengurangi kekhawatiran sebelum operasi.Obat ini dapat diberikan secara oral atau
11

IM.Dosis

dewasa

100

200

mg,

pada

bayi

dan

anak

mg/kgBB.Keuntungannya adalah masa pemulihan tidak diperpanjang dan efek


depresannya yang lemah terhadap pernapasan dan sirkulasi serta jarang

menyebabkan mual dan muntah.


Gol. Analgetik narkotik
Morfin.Diberikan untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan menjelang
operasi.Dosis premedikasi dewasa 10 20 mg. Kerugian penggunaan morfin ialah
pulih pasca bedah lebih lama, penyempitan bronkus pada pasien asma, mual dan
muntah pasca bedah ada.
Pethidin.Dosis premedikasi dewasa 25 100 mg IV.Diberikan untuk menekan
tekanan darah dan pernapasan serta merangsang otot polos.Pethidin juga berguna
mencegah dan mengobati menggigil pasca bedah.

Gol. Transquilizer
Diazepam (Valium).Merupakan golongan benzodiazepine.Pemberian dosis rendah
bersifat sedatif sedangkan dosis besar hipnotik.Dosis premedikasi dewasa 0,2

mg/kgBB IM.
5. Metode Pemberian Anastesi Umum
Obat obat anestesi umum bisa diberikan melalui

Perenteral (Intravena,

Intramuscular), perektal (melalui anus) biasanya digunakan pada bayi atau anak-anak
dalam bentuk suppositoria, tablet, semprotan yang dimasukan ke anus.Perinhalasi
melalui isapan, pasien disuruh tarik nafas dalam kemudian berikan anestesi
perinhalasi secara perlahan.
6. Tahapan Anastesi Umum
Tahapan dalam anestesi terdiri dari 4 stadium yaitu stadium pertama berupa analgesia sampai kehilangan
kesadaran, stadium 2 sampai respirasi teratur, stadium 3 dan stdium 4 sampai henti napas dan henti
jantung.
Stadium I
Stadium I disebut stadium analgesia atau disorientasi, dimulai dari saat pemberian zat
anestetik sampai hilangnya kesadaran.Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti
perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit).Tindakan pembedahan ringan,
seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar, dapat dilakukan pada stadium
ini.Stadium ini berakhir dengan ditandai oleh hilangnya reflekss bulu mata (untuk
mengecek refleks tersebut bisa kita raba bulu mata).
12

Stadium II
Stadium II disebut stadium eksitasi atau delirium dimulai dari akhir stadium I dan
ditandai dengan pernapasan yang irreguler, pupil melebar dengan reflekss cahaya (+),
pergerakan bola mata tidak teratur, lakrimasi (+), tonus otot meninggi dan diakhiri

dengan hilangnya reflekss menelan dan kelopak mata.


Stadium III
Stadium III disebut stadium pembedahan, yaitu stadium sejak mulai teraturnya lagi
pernapasan hingga hilangnya pernapasan spontan. Stadium ini ditandai oleh
hilangnya pernapasan spontan, hilangnya refleks kelopak mata dan dapat
digerakkannya kepala ke kiri dan kekanan dengan mudah. Stadium ini terbagi jadi 4
plana:

- Plana 1 ditandai dengan ventilasi teratur torako abdominal, pupil miosis, refleks
cahaya (+), lakrimasi meningkat, refleks faring dan muntah (-), tonus otot mulai
menurun
- Plana 2 ditandai dengan ventilasi teratur abdominaltorakal, volume tidal menurun,
frekuensi nafas meningkat, pupil midriasis, refleks cahaya menurun, refleks kornea(-)
- Plana 3 ditandai dengan ventilasi teratur abdominal dgn kelumpuhan saraf
interkostal, lakrimasi (-), pupil melebar dan sentral, refleks laring dan peritoneum (-),
tonus otot menurun
- Plana 4 ditandai dengan ventilasi tidak teratur dan tidak adekuat karena otot
diafragma lumpuh (penurunan tonus otot tidak sesuai volume tidal), tonus otot
menurun, pupil midriasis, refleks sfingter ani dan kelenjar lakrimalis (-)

Stadium IV
Disebut juga stadium paralisis. Ditandai dengan kegagalan pernapasan (apnea) yang
kemudian akan segera diikuti kegagalan sirkulasi/ henti jantung dan akhirnya pasien
meninggal. Pasien sebaiknya tidak mencapai stadium ini karena itu berarti terjadi

kedalaman anestesi yang berlebihan.


7. Teknik Anastesi Umum
a. Sungkup Muka (Face Mask) dengan napas spontan
Indikasi :
Tindakan singkat ( - 1 jam)
13

Keadaan umum baik (ASA I II)


Lambung harus kosong
Prosedur :

Siapkan peralatan dan kelengkapan obat anestetik

Pasang infuse (untuk memasukan obat anestesi)

Premedikasi + / - (apabila pasien tidak tenang bisa diberikan obat penenang) efek
sedasi/anti-anxiety :benzodiazepine; analgesia: opioid, non opioid, dll

Induksi

Pemeliharaan

b. Intubasi Endotrakeal dengan napas spontan


Intubasi endotrakea adalah memasukkan pipa (tube) endotrakea (ET= endotrakeal tube)
kedalam trakea via oral atau nasal. Indikasi; operasi lama, sulit mempertahankan airway
(operasi di bagian leher dan kepala)

Prosedur :

1. Sama dengan teknik anastesi umum, hanya ada tambahan obat (pelumpuh otot/suksinil dgn
durasi singkat)
2. Intubasi setelah induksi dan suksinil
3. Pemeliharaan

Persiapan Induksi

Untuk persiapan induksi sebaiknya kita ingat STATICS:


S = Scope. Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringo-Scope
T = Tubes. Pipa trakea. Usia >5 tahun dengan balon(cuffed)
A = Airway. Pipa mulut faring (orofaring) dan pipa hidung faring (nasofaring) yang
digunakanuntuk menahan lidah saat pasien tidak sadar agar lidah tidak menymbat jalan napas
T = Tape. Plester untuk fiksasi pipa agar tidak terdorong atau tercabut
I = Introductor. Stilet atau mandrin untuk pemandu agar pipa trakea mudah dimasukkan
C = Connector. Penyambung pipa dan perlatan anestesia
S = Suction. Penyedot lendir dan ludah

Teknik Intubasi

1. Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap


2. Induksi sampai tidur, berikan suksinil kolin fasikulasi (+)
14

3. Bila fasikulasi (-) ventilasi dengan O2 100% selama kira - kira 1 mnt
4. Batang laringoskopi pegang dengan tangan kiri, tangan kanan mendorong kepala sedikit
ekstensi mulut membuka
5. Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah kanan, sedikit demi sedikit,
menyelusuri kanan lidah, menggeser lidah kekiri
6. Cari epiglotis tempatkan bilah didepan epiglotis (pada bilah bengkok) atau angkat
epiglotis ( pada bilah lurus )
7. Cari rima glotis ( dapat dengan bantuan asisten menekan trakea dar luar )
8. Temukan pita suara warnanya putih dan sekitarnya merah
9. Masukan ET melalui rima glottis
10. Hubungkan pangkal ET dengan mesin anestesi dan atau alat bantu napas( alat resusitasi )
Klasifikasi Mallampati :
Mudah sulitnya dilakukan intubasi dilihat dari klasifikasi Mallampati:

c. Intubasi Endotrakeal dengan napas kendali (kontrol)


Pasien sengaja dilumpuhkan/benar2 tidak bisa bernafas dan pasien dikontrol pernafasanya
dengan kita memberikan ventilasi 12-20 x permenit.Setelah operasi selesai pasien
dipancing dan akhirnya bisa nafas spontan kemudian kita akhiri efek anestesinya.

Teknik sama dengan diatas


15

Obat pelumpuh otot non depolar (durasinya lama)


Pemeliharaan, obat pelumpuh otot dapat diulang pemberiannya.

8. Obat-obatan yang digunakan dalam anastesi umum.


1.

Jenis obat anestesi umum diberikan dalam bentuk suntikan intravena atau inhalasi.
Anestetik intravena
Penggunaan
:
Untuk induksi
Obat tunggal pada operasi singkat
Tambahan pada obat inhalasi lemah
Tambahan pada regional anestesi
Sedasi
Cara pemberian :
Obat tunggal untuk induksi atau operasi singkat
Suntikan berulang (intermiten)
Diteteskan perinfus
Obat anestetik intravena meliputi :
a. Benzodiazepine
Sifat : hipnotik sedative, amnesia anterograd, atropine like effect, pelemas otot
ringan, cepat melewati barier plasenta.
Kontraindikasi : porfiria dan hamil.
Dosis : Diazepam : induksi 0,2 0,6 mg/kg IV, Midazolam : induksi : 0,15 0,45
mg/kg IV.
b. Propofol
Merupakan salah satu anestetik intravena yang sangat penting. Propofol dapat
menghasilkan anestesi kecepatan yang sama dengan pemberian barbiturat secara
inutravena, dan waktu pemulihan yang lebih cepat. Dosis : 2 2,5 mg/kg IV.
c. Ketamin
Ketamin adalah suatu rapid acting nonbarbiturat general anaesthetic.Indikasi
pemakaian ketamin adalah prosedur dengan pengendalian jalan napas yang sulit,
prosedur diagnosis, tindakan ortopedi, pasien resiko tinggi dan asma. Dosis
pemakaian ketamin untuk bolus 1- 2 mg/kgBB dan pada pemberian IM 3 10
mg/kgBB.
d. Thiopentone Sodium
Merupakan bubuk kuning yang bila akan digunakan dilarutkan dalam air menjadi
larutan 2,5%atau 5%. Indikasi pemberian thiopental adalah induksi anestesi umum,
operasi singkat, sedasi anestesi regional, dan untuk mengatasi kejang.
16

Keuntungannya :induksi mudah, cepat, tidak ada iritasi mukosa jalan napas. Dosis 5
mg/kg IV, hamil 3 mg/kg IV.
2. Anestetik inhalasi
a. N2O
Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa dan lebih berat daripada udara.N2O biasanya tersimpan dalam bentuk
cairan bertekanan tinggi dalam baja, tekanan penguapan pada suhu kamar 50
atmosfir.N2O mempunyai efek analgesic yang baik, dengan inhalasi 20% N2O
dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg morfin. Kadar optimum untuk
mendapatkan efek analgesic maksimum 35% .gas ini sering digunakan pada
partus yaitu diberikan 100% N2O pada waktu kontraksi uterus sehingga rasa sakit
hilang tanpa mengurangi kekuatan kontraksi dan 100% O2 pada waktu relaksasi
untuk mencegah terjadinya hipoksia. Anestetik tunggal N2O digunakan secara
intermiten untuk mendapatkan analgesic pada saat proses persalinan dan
Pencabutan gigi. H2O digunakan secara umum untuk anestetik umum, dalam
kombinasi dengan zat lain
b. Halotan
Merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar dan tidak
mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen.Halotan bereaksi dengan
perak, tembaga, baja, magnesium, aluminium, brom, karet dan plastic.Karet larut
dalam halotan, sedangkan nikel, titanium dan polietilen tidak sehingga pemberian
obat ini harus dengan alat khusus yang disebut fluotec.Efek analgesic halotan
lemah tetapi relaksasi otot yang ditimbulkannya baik. Dengan kadar yang aman
waktu 10 menit untuk induksi sehingga mempercepat digunakan kadar tinggi (3-4
volume %). Kadar minimal untuk anestesi adalah 0,76% volume.
c. Isofluran
Merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar.Secara kimiawi mirip
dengan efluran, tetapi secara farmakologi berbeda. Isofluran berbau tajam
sehingga membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap oleh penderita karena
penderita menahan nafas dan batuk. Setelah pemberian medikasi preanestetik
stadium induksi dapat dilalui dengan lancer dan sedikit eksitasi bila diberikan
bersama N2O dan O2.isofluran merelaksasi otot sehingga baik untuk intubasi.
17

Tendensi timbul aritmia amat kecil sebab isofluran tidak menyebabkan sensiitisasi
jantung

terhadap

ketokolamin.

Peningkatan

frekuensi

nadi

dan

takikardiadihilangkan dengan pemberian propanolol 0,2-2 mg atau dosis kecil


narkotik (8-10 mg morfin atau 0,1 mg fentanil), sesudah hipoksia atau hipertemia
diatasi terlebih dulu. Penurunan volume semenit dapat diatasi dengan mengatur
dosis.Pada anestesi yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan SSP
seperti pada pemberian enfluran. Isofluran meningkatkan aliran darah otak pada
kadar labih dari 1,1 MAC (minimal Alveolar Concentration) dan meningkatkan
tekanan intracranial.
d. Sevofluran
Obat anestesi ini merupakan turunan eter berhalogen yang paling disukai untuk
induksi inhalasi, karena tidak terlalu berbau dan memiliki efek bronkodilator,
memiliki efek minimum terhadap tekanan intracranial, tidak memiliki efek klinis
yang signifikan pada fungsi hati atau ginjal.

II.

SKOR PEMULIHAN PASCA ANESTESI

Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang


menggunakan general anestesi, maka perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk
menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi
di ruang Recovery room (RR).
A. Aldrete Score
Nilai Warna
Merah muda, 2
Pucat, 1
Sianosis, 0
Pernapasan
Dapat bernapas dalam dan batuk, 2
Dangkal namun pertukaran udara adekuat, 1

Apnoea atau obstruksi, 0


Sirkulasi
Tekanan darah menyimpang <20% dari normal, 2
Tekanan darah menyimpang 20-50 % dari normal, 1
18

Tekanan darah menyimpang >50% dari normal, 0


Kesadaran
Sadar, siaga dan orientasi, 2
Bangun namun cepat kembali tertidur, 1
Tidak berespons, 0
Aktivitas
Seluruh ekstremitas dapat digerakkan, 2
Dua ekstremitas dapat digerakkan,1
Tidak bergerak, 0
Jika jumlahnya > 8, penderita dapat dipindahkan ke ruangan

B. Steward Score (anak-anak)


Pergerakan
Gerak bertujuan 2
Gerak tak bertujuan 1
Tidak bergerak 0
Pernafasan
Batuk, menangis 2
Pertahankan jalan nafas 1
Perlu bantuan 0
Kesadaran
Menangis 2
Bereaksi terhadap rangsangan 1
Tidak bereaksi 0
Jika jumlah > 5, penderita dapat dipindahkan ke ruangan

II.1. PROPOFOL
1. Definisi
Propofol adalah suatu obat hipnotik intravena diisopropilfenol yang menimbulkan
induksi anastesi yang cepat dengan aktivitas eksitasi minimal (contohnya mioklonus).
2. Indikasi

Menginduksi anastesi umum pada dewasa dan pasien anak-anak yang berusia
lebih dari 3 tahun.

Memelihara anestesi yang menggunakan tehnik seimbang dengan obat lainnya


seperti opioid
19

Inhalasi anestesi pada dewasa dan pasien anak yang berusia lebih dari 2 bulan.

Untuk sedasi pada keadaan medis, perawatan dokter, seperti pada Intensive Care
Unit (ICU)

Sedasi untuk mengintubasi

Prosedur colonoscopy dan endoskopi..

3. Kontraindikasi
Propofol tidak ditujukan pada Pasien pediatric untuk perawatan monitor anestesi
(MAC) sedasi atau sedasi dalam perawatan intensif
.
4.

Farmakokinetik
Digunakan secara intravena dan bersifat lipofilik dimana 98% terikat protein plasma.
Eliminasi dari obat ini terjadi di hepar menjadi suatu metabolit tidak aktif, waktu paruh
propofol diperkirakan 2-4 menit jika didistribusikan secara cepat ke jaringan tepi dan 3060 menit jika distribusi ke jaringan tepi berlangsung lambat.

5. Farmakodinamik
Efek Hemodinamik :
Efek hemodinamik propofol secara umum lebih tegas dibanding obat anestesi intravena
lainnya. Hipotensi arteri dengan penurunan kira kira 30% atau lebih telah dilaporkan,
kemungkinan oleh karenahambatan dari aktivitas saraf vasokonstriktor simpatis. Efek
hipotensi sebanding dengan dosis propofol, dan dikuatkan oleh obat analgetik opoid.
Propofol juga dapat menurunkan resistensi vascular sistemik, myocardial aliran darah,
dan konsumsi oksigen. Mekanisme ini melibatkan efek langsung vasodilation dan
inotropy negatif. Efek seperti penurunan jantung dan stroke volume output telah
ditunjukkan dalam beberapa studi.
Efek Pernapasan
:
Propofol mendepresi sistem pernapasan, seringkali terjadi apnea yang menetap lebih dari
60 detik, tergantung dari beberapa faktor seperti premedikasi, tingkat administrasi, dosis,
dan adanya hyperventilasi atau hiperoxia. Propofol juga menurunkan nilai pernapasan,
tidal volume, mean inspiratory flow rate base, dan kapasitas fungsi residu. Depresi
ventilasi dapat diredakan oleh nyeri stimulasi bedah.
20

Efek Cerebral
:
Propofol menurunkan aliran darah cerebral, komsumsi oksigen metabolisme cerebral,
tekanan intrakranial, dan meningkatkan resistensi cerebrovaskular.
1. Mula kerja (OOA):
Kehilangan kesadaran terjadi cepat dan lembut, biasanya 40 detik
2. Lama Kerja (DOA) :
Rata rata durasi single bolus 2 2.5 mg/kg BB adalah 3 5 menit.
3. Dosis dan penggunaan
Induksi: 2 2,5mg/kgbb (berikan secara lambat dalam 30 detik dalam 2-3 dosis terbagi.
Maintenance: 25 50 mg diberikan bolus IV, Infuse 100 200 g/kg/menit, anti emetic
IV 10 mg
Sedasi: bolus IV,25 50 mg (0,5 1 mg/kg), totrasi lambat hingga efek yang diinginkan.
Fungsi pernafasan dan jantung harus dipantau terus menerus.
6. Sediaan: Ampul 1% x 20 ml; Vial 1% x 50ml; 2% x 50ml, prefilled syringe 1% x 50ml
7. Efek Samping dan toksisitas

Kardiovaskuler: hipotensi, bradikardi, aritmia, cardiac arrest. Pernah dilaporkan, propofol


dihubungkan dengan kerusakan myocardial yang fatal

Respirasi: batuk, obstruksi saluran nafas atas, hipoventilasi, asidosis respiratori, dan
dispnea, bronchospasme, laringospasme, apneu.

SSP: nyeri kepala, gerakan klonik,mioklonik, opistotonus, kejang.

Renal: urine berwarna hijau (pada penggunaan propofol jangka panjang).

Hepar: pancreatitis akut

Gastrointestinal: mual, muntah, pancreatitis.


21

Local: nyeri pada tempat suntikan (Nyeri ini bisa di cegah dengan pemberian lidokain),
terbakar, phlebitis

Alergi: eritema, urtikaria, pruritus.

Lain-lain: peningkatan tekanan intra ocular.

II.3. TERAPI CAIRAN


Terapi cairan perioperatif bertujuan untuk :
1. Mencukupi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang hilang selama operasi.
2. Replacement dan dapat untuk tindakan emergency pemberian obat.
Pemberian cairan operasi dibagi :
1. Pra operasi
Dapat terjadi defisit cairan kaena kurang makan, puasa, muntah, penghisapan isi
lambung, penumpukan cairan pada ruang ketiga seperti pada ileus obstruktif, perdarahan,
luka bakar dan lain lain. Kebutuhan cairan untuk dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml /
kgBB / jam. Bila terjadi dehidrasi ringan 2% BB, sedang 5% BB, berat 7% BB. Setiap
kenaikan suhu 10 Celcius kebutuhan cairan bertambah 10 15 %.
2. Selama operasi
Dapat terjadi kehilangan cairan karena proses operasi. Kebutuhan cairan pada dewasa
untuk operasi :
a. Ringan

= 4 ml / kgBB / jam

b. Sedang

= 6 ml / kgBB / jam

c. Berat

= 8 ml / kg BB / jam

Bila terjadi perdarahan selama operasi, dimana perdarahan kurang dari 10% EBV maka
cukup digantikan dengan cairan kristaloid sebanyak 3 kali volume darah yang hilang.
Apabila perdarahan lebih dari 10 % maka dapat dipertimbangkan pemberian plasma /
koloid / dekstran dengan dosis 1 2 kali darah yang hilang.
3. Setelah operasi
22

Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit cairan selama operasi
ditambah kebutuhan sehari hari pasien.
II.4. PEMULIHAN
Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi
yang biasanya dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room yaitu ruangan untuk
observasi pasien pasca operasi atau anestesi. Ruang pulih sadar adalah batu loncatan
sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif di ICU.
Dengan demikian pasien pasca operasi atau anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang
disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya.
II.5. TUMOR PAYUDARA
1. Pengertian
Tumor payudara adalah pertumbuhan sel-sel yang abnormal yang mengganggu
pertumbuhan jaringan tubuh terutama pada sel epitel di payudara.
2. Etiologi
Sampai saat ini, penyebab pasti tumor payudara masih belum diketahui. Namun,
ada beberapa faktor risiko yang telah teridentifikasi antara lain:
1. Jenis kelamin
Wanita lebih berisiko menderita tumor payudara dibandingkan pria.
2. Riwayat keluarga
Wanita yang memiliki keluarga penderita tumor payudara berisiko tiga kali lebih besar
untuk menderita tumor payudara.
3. Faktor genetik
Mutasi gen BRCA1 pada kromosom 17 dan BRCA2 pada kromosom 14 dapat
meningkatkan risiko tumor payudara sampai 85%. Selain itu, gen p53, BARD1, BRCA3,
dan nory2 juga diduga meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.
4. Faktor usia
23

Risiko tumor payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia


5. Faktor hormonal
Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif, terutama jika tidak diselingi
oleh perubahan hormon akibat kehamilan, dapat meningkatkan resiko terjadinya
tumor payudara.
6. Usia saat kehamilan pertama
Hamil pertama pada usia 30 tahun beresiko dua kali lipat dibandingkan dengan
hamil pada usia kurang dari 20 tahun.
7. Terpapar radiasi
8. Intake alkohol
9. Pemakaian kontrasepsi hormonal
Pemakaian

kontrasepsi hormonal dapat

meningkatkan

resiko

tumor

payudara.

Penggunaan pada usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih tinggi dibandingkan
dengan penggunaan pada usia lebih tua.

3. Klasifikasi

Tumor jinak
Hanya tumbuh membesar , tidak terlalu berbahaya dan tidak menyebar keluar jaringan

Tumor ganas
Sel yang telah kehilangan kendali dan mekanisme normalnya sehingga mengalami
pertumbuhan tidak wajar , liar , dan kerap kali menyebar jauh ke sel jaringan lain serta
merusak

4. Gambaran Klinis
24

Biasanya tidak ada keluhan

Tumor payudara umumnya tidak nyeri, namun pada sebagian kasus ada juga yang nyeri

Perdarahan.keluar cairan dari putting susu

Kelainan bentuk payudara

Keluhan karena metastase

5. Pemeriksaan
a.Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Pada pemeriksaan fisik diperiksa benjolan yang ada dengan inspeksi pada saat berbaring,
duduk, dan membungkuk apakah terlihat benjolan, kerutan pada kulit payudara (peau
dorange), dan dengan palpasi pada daerah tersebut, dari palpasi itu dapat diketahui
ukurannya, jumlahnya, apakah mobile atau tidak, kenyal atau keras, bernodul atau tidak,
dan mengeluarkan cairan dari putting susu atau tidak.

Palpasi
Pada palpasi dilakukan perabaan pada payudara, klavikula, serta kelenjar limfe aksilaris,
diperiksa pula sekitar putting untuk mengetahui jika ada keluar cairan dari putting. Jika
teraba adanya benjolan, diraba ukurannya, konsistensinya, terasa berkapsul (mobile) atau
menyatu dengan jaringan sekitar, serta permukaannya, Lakukan sedikit penekanan dan
tanyakan apakah pasien merasakan nyeri.

b. Pemeriksaan Penunjang
Radiologi : Terdiri dari pemeriksaan mammografi dan USG payudara.
Mammography dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak teraba, jadi sangat
baik untuk diagnosis dini dan screening. Hanya saja cara ini adalah cara yang mahal dan
dianjurkan digunakan secara selektif saja misalnya pada wanita dengan adanya faktor
resiko. Ketetapan 83-95%, tergantung dari teknis dan ahli radiologinya. Sedangkan dengan
pemeriksaan USG hanya dapat dibedakan lesi solid dan kistik.

25

FNAC: Pada FNAC (Fine Needle Aspiration Cytology) pemeriksa akan mengambil sel dari
tumor dengan menggunakan penghisap berupa sebuah jarum yang dimasukkan pada
suntikan. Dari alat tersebut kita dapat memperoleh sel yang terdapat pada fibroadenoma,
lalu hasil pengambilan tersebut dikirim ke laboratorium patologi untuk diperiksa di bawah
mikroskop. Namun hal ini jarang dilakukan, karena pemeriksaan patologi anatomi untuk
tumor payudara cenderung lebih sering dilakukan setelah pengangkatan tumor.
6. Patofisiologi
Tumor payudara tergantung pada jaringan payudara yang terkena dan ketergantungan
estrogennya. Tumor payudara ganas sebelum menopause berbeda dari tumor payudara
ganas sesudah masa menopause (postmenopause). Beberapa tumor yang dikenal sebagai
estrogen dependent mengandung reseptor yang mengikat estradiol, suatu tipe
ekstrogen, dan pertumbuhannya dirangsang oleh estrogen.

7. Penatalaksanaan

Pembedahan
o Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Mulai dari lumpektomi
sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang
terkena).
o

Mastektomi total dengan diseksiaksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar


limfedilateralotocpectoralis minor.

o Mastektomi radikal yang dimodifikasi

Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksial

Mastektomi radikal: Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor


dibawahnya : seluruh isi aksial.

26

Mastektomi radikal yang diperluas: Sama seperti mastektomi radikal ditambah


dengan kelenjar limfemamariainterna.

Non pembedahan
o Penyinaran :Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada
kanker lanjut pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe aksila.
o

Kemoterapi: Adjuvan sistematik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut.

Terapi hormon dan endokrin: Untuk tumor ganas yang telah menyebar, memakai
estrogen, androgen, antiestrogen, adrenalektomi, hipofisektomi.

BAB III
PEMBAHASAN
27

III. 1. PERMASAAAN DARI SEGI MEDIK


Penegakan diagnosis bedah
Pasien Ny.N usia 23 tahun memeliki keluhan adanya benjolan pada payudara kanan yang
semakin membesar disertai nyeri. Pada pasien ini dalam pemeriksaan fisik didapatkan benjolan
pada payudara kanan regio atas berukuran diameter 3 cm, konsistensi keras, mobile, dan tidak
nyeri pada penekanan. Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik dengan pasien, dapat
diambil kesimpuan bahwa pasien didiagnosa tumor payudara.
III. 2. PERMASALAHAN DARI SEGI ANASTESI
1. Pemeriksaan pra anestesi
Pada penderita ini telah dilakukan persiapan yang cukup, antara lain :
a. Puasa lebih dari 6 jam untuk mengosongkan lambung.
b. Pemeriksaan laboratorium darah
Tidak ditemukan permasalahan dalam bidang medis, bedah maupun anastesi. Pasien
juga tidak memiliki riwayat penyakit jantung, infeksi akut, DM, hipertensi atau sepsis,
sehingga pasien tidak terdapat kontraindikasi untuk melakukan anastesi umum pada
pasien. Tidak terdapat juga kontraindikasi pasien terhadap propofol sehingga
diperkirakan aman menggunakan propofol sebagai obat induksi anastesi pasien.
1) Premedikasi
Pada pasien ini diberikan ondansetron 4 mg (iv) dan ketorolac 60 mg (iv)
2) Tahap anastesi umum
Pasien masuk kamar operasi, ditidurkan terlentang di atas meja operasi, manset

dan monitor dipasang.


Dilakukan anastesi umum propofol
Setelah refleks bulu mata hilang dipasangkan sungkup oksigen
Naikkan oksigen mencapai 6 L
Kurangi oksigen hingga 3L lalu pertahankan. Buka sevoflurane 3L

28

3) Maintenance
O2 nasal canul 3 L/menit
Terapi Cairan
Kebutuhan cairan yang diperlukan selama operasi dan karena trauma operasi selama 15
menit, yang dihitung berdasarkan berat badan (BB) penderita:
BB = 50 kg
a. Maintenance

= 4 x 10 kg = 40 cc
= 2 x 10 kg = 20 cc
= 1 x 30 kg = 30 cc

b. Stress operasi

= 6 cc/kgbb/ jam = 1,5 cc/kgbb/15 menit


= 1,5 x 50 = 75 cc/15menit

c. Perdarahan yang terjadi = 100 cc


EBV = 100 cc/KgBB = 100 x 50 = 5000 cc
20% x 5000 = 1000 cc
Perdarahan pada pasien ini hanya 100cc/15menit, sehingga tidak perlu ditransfusi.
Cukup diberi cairan kristaloid.
d. Kebutuhan cairan selama operasi 15 menit:
Perdarahan + maintenance + stress operasi
100 + 90 + 75= 265 cc
e. Cairan yang sudah diberikan saat operasi 500 cc
Balance cairan = 500 265= +235 cc
Dalam

manual

postoperative

management-

WHO,

2000

yang

disadur

dalam

steinergraphics, 2015, penggantian kehilangan cairan tubuh selama operasi dengan pemasukan
cairan berlebih menyebabkan balance cairan positif yang biasanya sudah diperkirakan. Hal ini
untuk mengantisipasi kehilangan cairan lebih lanjut, misalnya dari drainase nasogastrik, drainase
lain, dan perdarahan. Pertimbangan pemberian cairan sendiri berdasarkan tiga faktor, yaitu:
a. Kebutuhan untuk mengoreksi deficit cairan pada preoperative state. Tindakan ini
idealnya dilakukan secepat mungkin dalam bentuk bolus cairan dan dibawah
pengawasan.
b. maintenance schedule

29

c. respon pasien, seperti perlambatan dari takikardia, urine output, peningkatan tekanan
darah, peningkatan JVP, kembalinya turgor kulit ke normal, dan kembalinya mata
cekung menjadi normal.
Maksud dari balance cairan yang positif dimana intake lebih banyak daripada output,
terkesan pada pasien mungkin sedang terakumulasi cairan. Namun faktanya balance cairan yang
positif tidak benar-benar positif karena ada beberapa output yang tidak diperhitungkan dengan
akurat (misal feses, uap respirasi dan keringat).
Secara umum, bila pada pasien kritis misal septik, kasus bedah, menunjukkan balance
cairan positif yang persistent setiap harinya, hal ini menggambarkan perjalanan penyakitnya
yang tidak kunjung membaik.
Pada pasien ini balance cairan +265 cc dirasa masih aman dengan mempertimbangkan
kondisi pasien pada preoperative serta respon klinis pasien saat operasi. Dan seharusnya
melakukan pengawasan pada hari-hari berikutnya selama rawat inap.

Post operatif
Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke recovery room. Observasi post operasi dengan
dilakukan pemantauan secara ketat meliputi vital sign (tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi).
Oksigen tetap diberikan 2-3 liter/menit
III. Permasalahan Dari Segi ASA PS
Pada pasien termasuk ASA PS I sesuai karena pasien terdapat benjolan pada payudara
kanan dan tidak ditemukan kelainan sistemik lainnya.
III.3. Post operatif
Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke recovery room. Observasi post operasi
dengan dilakukan pemantauan secara ketat meliputi vital sign (tekanan darah, nadi, suhu
dan respirasi). Oksigen tetap diberikan 2-3 liter/menit.
Dari hasil Aldrrete score di dapatkan :
Aldrette score

Point

Nilai

Motorik

4 ekstermitas

2 ekstremitas

Pada Pasien

30

Respirasi

Sirkulasi

Kesadaran

Kulit

Spontan + batuk

Nafas kurang

Beda <20%

20-50%

>50%

Sadar penuh

Ketika dipanggil

Kemerahan

Pucat

Sianosis

Total

10

Apabila total Aldrette score >8 pasien sudah dapat dipindah ke bangsal. Pada saat malam
hari post operasi.
B1 (Brain)
GCS
: 15
B2 (Breath)
Respiratory Rate : 20x/menit
B3 (Blood)
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi
: 72x/menit
B4 (Bladder)
Berkemih lancer, jumlah output urin cukup
B5 (Bowel)
Bising usus
: 6 x/menit
B6 (Bone)
Luka jahit berbalut kassa pada payudara kanan
Tidak ditemukan kelainan

31

BAB IV
PENUTUP
IV. 1. KESIMPULAN
Ny. N tahun dengan diagnosis tumor payudara. Dari anamnesis didapatkan benjolan pada
payudara kanan yang disertai nyeri. Lokasi operasi yang dilakukan adalah di regio atas mammae
dekstra.
Anestesi menggunakan anaestesi umum dengan teknik sungkup muka, Pada pasien ini
dilakukan operasi pada payudara kanan, yang merupakan indikasi anastesi umum. Tindakan
operasi dan anestesi berjalan lancar tanpa penyulit
IV. 2. SARAN
1. Persiapan preoperative pada pasien perlu dilakukan lebih baik lagi, agar proses anestesi
dan pembedahan dapat berjalan dengan baik
2. Memperhatikan kebutuhan cairan pasien pada saat operasi berlangsung.
3. Pemantauan tanda vital selama operasi terus menerus agar dapat melihat keadaan
pasien selama pasien dalam keadaan anesthesia.

32

DAFTAR PUSTAKA
1.

Muhardi, M, dkk. (1989). Anestesiologi, bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif, FKUI,
CV Infomedia, Jakarta.

2.

Tony H., (1998). Anestesi umum dalam Farmakologi dan Terapi, edisi IV. Balai Penerbit
FKUI, Jakarta.

3.

Morgan G.E., Mikhail M.S., (1992). Clinical Anesthesiology. 1st ed. A large medical Book

4.

Wim de Jong, (1996) Buku Ajar lmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

5.

Boulton T.H., Blogg C.E., (1994). Anesthesiology, cetakan I. EGC, Jakarta.

6.

Wirjoatmojo, K, (2000). Anestesiologi dan Reanimasi Modul Dasar Untuk Pendidikan S1


Kedokteran, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

7.

Dobson Michael B, (1994)Penuntun Praktis Anestesi, cetakan I, Penerbit Buku


Kedokteran EGC, Jakarta

8.

Latief SA, Suryadi KA. Petunjuk Praktis Anestesiologi, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia 2009.

9.

Omuigui . The Anaesthesia Drugs Handbook, 2nded, Mosby year Book Inc, 1995.

10.

Dachlan, R.,dkk. 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi FK UI.
Jakarta

33

34