Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada umumnya manusia lahir ke muka bumi seorang diri. Akan tetapi, bila
dibandingkan dengan makhluk lain seperti hewan, manusia tidak bisa hidup
seorang diri. Manusia selalu membutuhkan manusia lain untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping itu manusia tidak dikaruniai
Tuhan dengan kemampuan fisik yang cukup kuat untuk dapat hidup sendiri.
Kecenderungan manusia untuk berkelompok (gregariousness) pada zaman
dahulu sering dianggap suatu naluri yang diwariskan secara biologis. Manusia
adalah jenis makhluk yang juga hidup dalam kelompok. Dengan demikian,
maka pengetahuan mengenai asas-asas hidup berkelompok yang sebenarnya
telah dapat kita pelajari pada sebagian jenis protozoa, serangga, dan bintang
berkelompok tersebut, juga penting untuk mencapai pengertian mengenai
kehidupan berkelompok makhluk hidup manusia.
Walaupun demikian masih ada suatu perbedaan asasi yang sangat
mendasar antara kehidupan kelompok binatang dan kehidupan kelompok
menusia. Sistem pembagian kerja, aktivitas kerja sama, dan berkomunikasi
dalam kehidupan kelompok binatang bersifat naluri. Naluri merupakan suatu
kemampuan yang telah terencana oleh alam dan terkandung dalam gen jenis
binatang yang bersangkutan.
Perilaku berkelompok (kolektif) pada diri manusia, juga dimiliki oleh
makluk hidup yang lain, seperti semut, lebah, burung bangau, rusa, dan
sebagainya, tetapi terdapat perbedaan yang esensial antara perilaku kolektif
pada diri manusia dan perilaku kolektif pada binatang. Kehidupan
berkelompok (perilaku kolektif) binatang bersifat naluri, artinya sudah
pembawaan dari lahir, dengan demikian sifatnya statis yang terbentuk sebagai
bawaan dari lahir. Contoh bentuk rumah lebah, sejak dahulu sampai sekarang
tidak ada perubahan, demikian halnya dengan rumah semut dan hewan
lainnya. Sebaliknya perilaku kolektif manusia bersifat dinamis, berkembang,
dan terjadi melalui prosesbelajar (learning process).
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai


berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa yang dimaksud dengan manusia berkelompok ?


Apa pengertian manusia sebagai mahluk yang hidup berkelompok?
Apa saja ciri-ciri dan dasar pembentukan kelompok sosial manusia?
Jelaskan macam-macam kelompok sosial manusia?
Apa saja klasifikasi kelompok sosial manusia?
Bagaimana kehidupan masyarakat pedesaan & masyarakat perkotaan?
Bagaimana kehidupan hewan berkelompok?

1.3 Tujuan Masalah


1. Untuk mengetahui kehidupn manusia berkelompok.
2. .Untuk mengetahui pengertian manusia sebagai mahluk yang hidup
berkelompok.
3. Untuk mengetahui ciri-ciri dan dasar pembentukan kelompok sosial
manusia
4. Untuk mengetahui macam-macam kelompok sosial manusia.
5. Untuk mengetahui klasifikasi kelompok sosial manusia.
6. Untuk mengetahui kehidupan masyarakat pedesaan & masyarakat
perkotaan
7. Untuk mengetahui kehidupan hewan berkelompok

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Manusia Berkelompok
Manusia selain sebagai makhluk individu, manusia juga disebut sebagai
makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan serta
kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain,

selanjutnya interaksi ini berbentuk kelompok. Kemampuan dan kebiasaan


manusia berkelompok ini disebut juga dengan zoon politicon.
Aktualisasi manusia sebagai makluk sosial, tercermin dalam kehidupan
berkelompok. Manusia selalu berkelompok dalam hidupnya. Berkelompok
dalam kehidupan manusia adalah suatu kebutuhan, bahkan bertujuan. Tujuan
manusia berkelompok adalah untuk meningkatkan kebahagiaan dan
kesejahteraan hidupnya.
Apapun bentuk kelompoknya, disadari atau tidak, manusia berkelompok
mempunyai tujuan meningkatkan kebahagiaan hidupnya. Melalui kelompok
manusia bisa memenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya, bahkan bisa
dikatakan kebahagiaan dan keberdayaan hidup manusia hanya bisa dipenuhi
dengan cara berkelompok. Tanpa berkelompok tujuan hidup manusia yaitu
mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan tidak akan bisa tercapai.
Manusia merupakan makluk individu dan sekaligus sebagaimakluk sosial.
Sebagai makluk sosial manusia selalu hidup berkelompok dengan manusia
yang lain.
2.2 Pengertian manusia sebagai mahluk yang hidup berkelompok
Manusia adalah mahluk sosial. Sosialitas manusia, secara asasi
merupakan sesuatu yang tidak dapat ditolak. Manusia hanya dapat
berkembangan sebagai manusia seutuhnya hanya bila ia berada dalam
kelompok. Karl Marx (Perdue, 1986:312) menyatakan bahwa sociability
manusia lebih dari sekedar pengertian bahwa manusia membutuhkan yang
lainnya untuk memenuhi kebutuhannya. Marx melihat manusia sebagai
human social animal yang dapat berkembang sebagai peribadi dalam
kelompok masyarakat.
Suatu kelompok manusia ataupun suatu pergaulan hidup manusi
bukanlah suatu penjumlahan atau himpunan orang-orang yang bebas satu
dengan lainnya, yang suatu saat bergabung, suatu saat bubar, dan pada saat
yang lain bergabung kembali. Kelompok adalah suatu kehidupan bernama
individu dalam suatu ikatan kebersamaan. Dalam ikatan hidup bersama

tersebut terdapat adanya interaksi dan interrelasi sosial yang memungkinkan


timbulnya perasaan bersama atau lazim disebut sebagai some degree of fellow
feeling,
Individu-individu yang berkelompok dalam suatu keadaan tertentu di
suatu tempat dan juga pada waktu yang bersamaan tidak bisa disebut sebagai
suatu kelompok sosial. Contohnya, orang-orang yang membeli karcis,
memesan makanan di kafetaria dan berhenti di lampu merah.
2.3 Ciri-Ciri dan Dasar Pembentukan Kelompok Sosial Manusia
Ciri-Ciri Kelompok Sosial (Soekanto, 2006:101)
1. Adanya kesadaran pada tiap anggota kelompok bahwa dia merupakan
sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota
yang lain.
3. Adanya suatu faktor yang dimiliki bersama sehingga hubungan antara
mereka bertambah erat, yang dapat merupakan nasib yang sama,
kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama dan
lain-lain. Memiliki musuh bersama dapat juga menjadi faktor pemersatu
kelompok.
4. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
5. Bersistem dan berproses.

Dasar Pembentukan Kelompok sosial Manusia


1.
2.
3.
4.

Faktor Kepentingan yang sama


Faktor Darah dan Keturunan yang Sama
Faktor Geografis
Faktor Daerah Asal yang Sama

2.4 Macam-Macam Kelompok Sosial Manusia


Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan
berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan
kesadaran jenis. Bierstedt kemudian membagi kelompok menjadi empat
macam:
1. Kelompok statistik, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki
hubungan sosial dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok
penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.
2. Kelompok kemasyarakatan, yaitu kelompk yang memiliki persamaan
tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial di antara
anggotanya.
3. Kelompok sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran
jenis dan berhubungan satu dengan yang lainnya, tetapi tidak terukat
dalam ikatan organisasi. Contoh: Kelompok pertemuan, kerabat.
4. Kelompok asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai
kesadaran jenis dan ada persamaan kepentingan pribadi maupun
kepentingan bersama. Dalam asosiasi, para anggotanya melakukan
hubungan sosial, kontak dan komunikasi, serta memiliki ikatan organisasi
formal. Contoh: negara, sekolah.
2.5 Klasifikasi Kelompok Sosial Manusia
Dalam sosiologi terdapat berbagai klasifikasi kelompok sosial ditinjau dari
beberapa sudut.
1. Klasifikasi Menurut Cara Terbentuknya
a. Kelompok Semu
Kelompok semu timbul di tengah-tengah pergaulan hidup manusia,
bersifat sementara, tidak mempunyai kemungkinan membentuk tradisi
ataupun ikatan sebagai anggota. Kelompok semu biasa disebut khalayak

ramai atau khalayak umum dan tidak memiliki aturan-aturan sebagai


pengendali.
Kelompok semu dibagi menjadi beberapa bagian , yaitu :
1. Kerumunan
Kerumunan adalah sekelompok individu yang berkumpul secara
kebetulan di suatu tempat pada waktu yang bersamaan. Ukuran
utama adanya kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara
fisik. Sedikit banyaknya jumlah kerumunan adalah sejauh mata
dapat melihat dan selama telingan dapat mendengarkannya.
Kerumunan tersebut segera berakhir setelah orang-orangnya bubar.
Oleh karena itu, kerumunan merupakan suatu kelompok sosial yang
bersifat sementara (temporer).
2. Massa atau Mass
Massa atau mass merupakan kelompok semu yang memiliki ciri-ciri
hampir sama dengan kerumunan, tetapi kemungkinan terbentuknya
di sengaja dan direncanakan dengan persiapan sehingga tidak
bersifat spontan. Misalnya, kelompok yang dikumpilkan untuk
berdemonstrasi.
3. Publik
Publik sebagai kelompok semu mempunyai ciri-ciri terbentuknya
yang hampir sama dengan massa, perbedaannya adalah punlik
kemungkinan terbentuknya tidak pada suatu tempat yang sama.
b. Kelompok Nyata
Kelompok nyata mempunyai satu ciri yang sama yaitu kehadirannya
selalu konstan.
Kelompok nyata dibagi menjadi beberapa bentuk, yaitu :
1. Kelompok Statistik
Kelompok statistik biasanya terbentuk karena dijadikan ssaran
penelitian oleh ahli-ahli statistik atau sosiolog untuk kepentingan
penelitian.
2. Kelompok Societa atau Societa Group (Kelompok Kemasyarakatan)
Kelompok societa memiliki kedasaran akan adanya kesamaan jenis,
seperti jenis kelamin, jenis kulit, dan kesatuan tempat tinggal, tetapi
belum ada kontak dan komunikasi di antara anggota dan tidak
terlibat dalam organisasi.
3. Kelompik Sosial atau Social Group
Pengamat-pengamat sosial sering menyamakan kelompok sosial
dengan masyarakat dalam arti khusus. Kelompok sosial terbentuk
6

karena adanya unsur-unsur yang sama, seperti tempat tinggal,


pekerjaan yang sama, kedudukan yang sama atau kegemaran yang
sama.
4. Kelompok Asosiasi atau Associational Group
Kelompok Asosiasi adalah kelompok yang terorganisir dan
memiliki struktur dan memiliki struktur formal atau kepengurusan,
seperti ketua, para staf dan para pembantunya.
2. Klasifikasi Menurut Era Longgarnya Ikatan Antaranggota
a. Gemeninschaft (Paguyuban)
Gemeninschaft (paguyuban) merupakan kelompok sosial yang
anggota-anggotanya memiliki ikatan batin yang murni, bersifat
alamiah, dan kekal.
b. Gesellscaft (Patembayan)
Gesellscaft (patembayan) merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok
untuk waktu yang pendek, strukturnya bersifat mekanis dan bersifat
sebagai pokok untuk waktu yang pendek, strukturnya bersifat mekanis
dan bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka. Misalnya,
ikatan antar pedagang dan organisasi dalam suatu pabrik.

No Gemeninschaft (Paguyuban)

Gesellscaft (Patembayan)

Personal / pribadi

Impersonal

Informal

Formal, kontraktual

Tradisional

Nilai Guna (utilitarian)

Sentimental

Realitas

Umum

Khusus

3. Klasifikasi Menurut Kualitas Hubungan Antaranggota


a. Kelompok Primer
Kelompok primer merupakan suatu kelompok yang hubungan antar
anggotanya saling mengenal dan bersifat informal. Contohnya
keluarga dan sahabat.
7

b. Kelompok sekunder
Kelompok sekunder merupakan suatu kelopmok yanh hubungan
antaranggotanya bersifat formal, impersonal, dan didasarkan pada asas
manfaat. Contohnya, Persatuan Guru Republik Indonesia, dan serikat
sarjana.

No

Perbedaan

Bentuk Kelompok
Primer

Sekunder

Jumlah anggota

Relatif Kecil

Relatif Besar

Pola Hubungan

Pribadi, akrab, informal

impersonal, formal

Komunikasi

Dilakukan

langsung Sedikit sekali komunikasi

secara tatap muka


4

Sifat Hubungan

dengan tatap muka

Permanen, para anggota Bersifat

temporer

berada bersama dalam kebersamaan para anggota

Keputusan
Kelompok

waktu relatif lama

dalam waktu relatif singkat

Lebih bersifat tradisional

Lebih

rasional

dan

menekankan pada efisiensi


kerja

4. Klasifikasi Menurut Pencapaian Tujuan


a. Kelompok formal
Kelompok formal merupakan kelompok yang memiliki peraturanperaturan yang tegas dan dengan sengaja dibuat oleh anggotaanggotanya untuk mengatur hubungan antaranggotanya. Contohnya,
organisasi massa dan partai politik.
b. Kelompok informal
Kelompok informal merupakan kelompok sosial yang terbentuk karena
pertemuan-pertemuan yang berulang dan merasa memiliki kepentingan
dan pengalaman yang sama. Contohnya kelompok kecil (klik) dan
kelompok pertemanan.
5. Klasifikasi Menurut Sudut Pandang Individu
a. In Group (Kelompok Sendiri)

In

group

merupakan

kelompok

sosial

tempat

individu

mengidentifikasikan dirinya. Misalnya, Ani adalah siswa SMAN 2, ia


akan berkata pada temannya yang bukan siswa SMAN 2 dengan
sebutan sekolah kami. Dasar perbedaan kelompok sendiri dengan
kelompok luar dibuat oleh anggota-anggotanya yang merasa bagian
dari suatu kelompok atas dasar perasaan simpati.
b. Out Group (Kelompok Luar)
Out group merupakan kelompok yang menjadi lawan in group,
terkadang ditandai dengan sikap antipati sehingga dapat menjadi dasar
munculnya sikap etnosentris. Misalnya, kami atau klik di
lawankan dengan mereka
6. Klasifikasi Menurut Pendapat Robert K.Merton
a. Membership Group
Merupakan kelompok sosial yang setiap orang secara fisik menjadi
anggota kelompok tersebut. Contohnya, seorang siswa dalam
berperilaku dan bersikap sudah berorientasi pada aturan dan nilai yang
berlaku dikalanagan perguruan tinggi meskipun secara resmi ia belum
berstatus mahasiswa.
b. Reference Group
Merupakan kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang yang
bukan anggota kelompok untuk membentuk pribadi dan perilakunya
sesuai dengan kelompok acuan. Terkadang antara membership group
dan reference group sulit untuk dipisahka. Contohnya, seorang anggota
suatu parpol kebetulan menjadi anggota DPR, maka DPR adalah
membership group baginya, tetapi jiwa dan pikirannya terikat pada
partainya yang menjadi reference group baginya.
2.6 Kelompok masyarakat pedesaan & masyarakat perkotaan
Masyarakat Pedesaan
Yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartohadi Kusuma adalah
suatu kesatuan hokum di masa hokum di mana bertempat tinggal suatu
masyarakat pemerintahan sendiri.
Ciri-ciri:

a. Warga pedesaan mempunyai hubungan erat dan mendalam ketimbang


b.
c.
d.
e.

hubungan mereka dengan warga pedesaan lainnya.


Sistem kehidupan biasanya berkelompok berdasar kekeluargaan.
Warga pedesaan umumnya mengandalkan hidupnya dari pertanian.
Sistem gotong royong, pembagian kerja tidak berdasarkan keahlian.
Cara bertani sangat tradisional dan tidak efisien karena belum mengenal
mekanisasi dalam pertanian. Mereka bertani semata-mata untuk memenuhi

kebutuhan hidup, bukan untuk bisnis.


f. Golongan orang tua dalam masyarakat pedesaan memegang peranan
penting
Hakikat dan Sifat Masyarakat Pedesaan
Seperti di kemukakan para ahli atau sumber bahwa masyarakat Indonesia
lebih dari 80% tinggal di pedesaan denga mata pencarian yang bersifat
agraris. Masyarakat pedesaan yang agraris biasanya di pandang antara
sepintas kilas di nilai oleh orang-orang kota sebagai masyarakat tentang
damai. Tapi sebetulnnya ketenangan masyarakat pedesaan itu hanyalah
terbawa oleh sifat masyarakat itu yang oleh Ferdinand Tonies di istilahkan
dengan masyarakat gemeinschaft (paguyuban). Dalam hal ini kita jumpai
gejala-gejala social yang sering di istilahkan:
1.

Konflik (pertengkaran)

2.

Kontraversi (pertentangan)

3.

Kompetisi (persiapan
Masyarakat Perkotaan
Kota menurut definisi universal adalah sebuah area urban yang berbeda dari
desa

ataupun

kampong

berdasarkan

ukuranya,kepadatan

penduduk,kepentingan atau status hukum.


Beberapa definisi (secara etimologis) kotadalam bahasa lain yang agak
tepat dengan pengertian ini,seperti dalam bahasa Cina,kota artinya dinding
dan dalam bahasa Belanda kuno,tuiin,bisa berarti pagar.Jadi dengan demikian
kota adalah batas.Selanjutnya masyarakat perkotaan sering disebut juga urban
community,Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat

10

kehidupanya serta cirri-ciri kehidupanya yang berbeda dengan masyarakat


pedesaan.
Ciri-ciri:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kehidupan keagamaan berkurang dibanding kehidupan agama di desa.


Orang kota lebih individual, dan kurang bergantung pada orang lain.
Pembagian kerja lebih tegas dan ada batas-batasnya.
Kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan lebih banyak
interaksi-interaksi berjalan berdasarkan kepentingan dan lebih rasional.
Jalan kehidupan yang cepat di kota mengakibatkan pentingnya faktor

waktu.
g. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota karena kota
biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
2.7 Hewan Berkelompok
"Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung
yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat (juga) seperti
kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al Kitab, kemudian
kepada Tuhan merekalah, mereka dihimpunkan." (QS. 6:38)
Menurut Blachere, seorang ahli tafsir kuno seperti Al Razi berpendapat
bahwa ayat ini hanya menunjukkan tindakan-tindakan instinktif yang
dilakukan oleh binatang untuk memuji Tuhan.
Syekh si Baubekeur "Hamzah" (Sayid Abubakar Hamzah, seorang ulama
Maroko) dalam tafsirnya menulis: "Naluri yang mendorong makhlukmakhluk untuk berkelompok dan berreproduksi, untuk hidup bermasyarakat
yang menghendaki agar pekerjaan tiap-tiap anggota dapat berfaedah untuk
seluruh kelompok."
Cara hidup binatang-binatang itu pada beberapa puluh tahun terakhir
telah dipelajari secara teliti dan kita menjadi yakin akan adanya masyarakatmasyarakat binatang. Sudah terang bahwa hasil pekerjaan kolektif telah dapat
meyakinkan orang tentang perlunya organisasi kemasyarakatan. Tetapi
penemuan tentang mekanisme organisasi beberapa macam binatang baru
terjadi dalam waktu yang akhir-akhir ini. Kasus yang paling banyak diselidiki
dan diketahui adalah kasus lebah. Nama Von Frisch dikaitkan orang dengan
penyelidikan tersebut. Pada tahun 1973 Von Frisch, Lorenz dan
Tinbergenmendapat hadiah Nobel karena penyelidikan mereka.

11

Kelakuan binatang berkelompok (animal behavior) yang berakar dalam


naluri, pada manusia menjadi tingkah laku manusia dalam kehidupan
berkelompok, sebaiknya diadakan perbaikan istilah juga. Kelakukan binatang
dan kelakuan manusia yang prosesnya telah direncanakan dalam gennya dan
merupakan milik dirinya tanpa belajar, seperti refleks, kelakuan naluri, dan
kelakuan membabi buta, tetap kita sebut kelakuan (behavior).
Bukan hanya makhluk manusia saja, melainkan juga banyak jenis
makhluk lain yang hidup bersama individu sejenisnya dalam sebuah
kelompok. Dari ilmu mikrobiologi, misalnya, kita mengetahui bahwa banyak
jenis protozoa hidup bersama makhluk sel sejenis dalam suatu kelompok
sebanyak ribuan sel yang masing-masing tetap merupakan individu sendirisendiri. Dalam kelompok protozoa misalnya jenis Hydractinia itu, ada suatu
pembagian kerja yang nyata antara subkelompok. Ada subkelompok yang
terdiri dari ratusan sel subkelompok lain yang fungsinya mereproduksi jenis
dengan cara membelah diri, ada subkelompok yang berfungsi meneliti
keadaan lingkungan dengan kemampuan membedakan suhu yang terlampau
tinggi atau terlampau rendah, untuk mendeteksi adanya bahan yang dapat
dimakan, adanya lingkungan yang cocok untuk reproduksi dan lain-lain.
Kita juga mengetahui bahwa jenis serangga, seperti semut lebah,
belalang dan lain-lain hidup secara berkelompok. Dalam kelompok serangga
seperti itu pun dapat kita amati adanya pembagian kerja yang luas antara
berbagai subkelompok individu. Ada beberapa jenis semut yang menurut para
ahli terbagi ke dalam 16 subkelompok yang masing-masing bertugas
melakukan salah satu dari ke-16 macam fungsi yang berbeda-beda. Ada yang
hanya bertugas dalam fungsi reproduksi dengan bertelur, ada yang berfungsi
sebagai

tukang

membersihkan

sarang,

ada

yang

berfungsi

dalam

mempertahankan sarangnya dan sebagainya.


Selain makhluk sel dan serangga, juga banyak jenis binatang yang lebih
tinggi, seperti ikan, burung, serigala, bangteng, dan makhluk-makhluk
primata, hidup sebagai kesatuan kelompok. Dari mempelajari kelompokkelompok binatang seperti itu kita dapat mengabstraksikan beberapa ciri yang
dapat kita anggap ciri khas kehidupan berkelompok, yaitu (1) pembagian

12

kerja yang tetap antara berbagai macam subkesatuan atau golongan individu
dalam kelompok untuk melaksanakan berbagai macam fungsi hidup, (2)
ketergantungan individu kepada individu lain dalam kelompok sebagai akibat
dari pembagian kerja tadi(3) kerja sama antaraindividu yang disebabkan
karena sifat ketergantungan tadi, (4) komunikasi antaraindividu yang
diperlukan guna melaksanakan kerja sama tadi, (5) diskriminasi yang
diadakan antara individu-individu warga kelompok dan indvidu-individu dari
luarnya.
Mengenai asas-asas pergaulan antara makhluk dalam kehidupan
alamiah itu, beberapa ahli filsafat seperti H. Spencer pernah menyatakan
bahwa asas egoisme atau asas mendahulukan kepentingan diri sendiri di atas
kepentingan yang lain, mutlak perlu bagi jenis-jenis makhluk untuk dapat
bertahan dalam alam yang kejam. Hanya sikap egois yang dapat membuat
sejenis makhluk menjadi kuat sehingga ia cocok (fit) dengan alam untuk
dapat bertahan dan hidup (survive). Sikap eogis memungkinkan the survival
of the fittest.
Sebalikanya, ada beberapa ahli filsafat lain yang menunjukkan bahwa
lawan asas egoisme, yaitu asas altruisme atau asas hidup berbakti untuk
kepentingan yang lain. Juga dapa membuat jenis makhluk itu menjadi
sedemikian kuatnya sehingga dapat bertahan dalam proses seleksi alam yang
kejam. Kita dapar mengerti bahwa asas altruisme ini. Justru karena altruisme
yang kuat, maka jenis makhluk berkelompok itu mampu mengembangkan
suatu hubungan saling tolong-menolong begitu kuat dapat bertahan hidup
dalam alam yang kejam. Jika pada semut ada individu-individu yang dengan
pernah dedikasi mencari makan, dan keamanan jenisnya, maka ratu semut
dapat dengan sepenuhnya berkonsentrasi pada aktivitas bertelur saja sehingga
dapat menetaskan semut baru yang cukup banyak guna menjamin
kelangsungan hidup dari jenisnya.
Tujuan hewan hidup berkelompok yaitu
a. untuk melindungi diri dari musuh
b. untuk mempermudah mereka berburu mangsa, contohnya singa.
c. Untuk melindungi diri dari hewan pemangsa, karena jika berkelompok
akan lebih aman contohnya zebra.

13

d. Dan hewan hidup berkelompok juga karena sudah merupakan sifat asli
mereka contohnya gorilla
Ciri-ciri adaptasi hewan yg hidup dalam kelompok
a. Memilih tempat tinggal yang luas dan jauh dari predator
b. Memiliki tempat tinggal sementara karna jika terus bersarang disana lama
kelamaan akan didatangi predator
c. Selalu berkelompok,hidup dalam satu kawasan
d. Selalu bersama sama dengan kelompoknya

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Aktualisasi manusia sebagai makluk sosial, tercermin dalam kehidupan
berkelompok. Manusia selalu berkelompok dalam hidupnya. Berkelompok
dalam kehidupan manusia adalah suatu kebutuhan, bahkan bertujuan. Tujuan
manusia berkelompok adalah untuk meningkatkan kebahagiaan dan
kesejahteraan hidupnya.
Apapun bentuk kelompoknya, disadari atau tidak, manusia berkelompok
mempunyai tujuan meningkatkan kebahagiaan hidupnya. Melalui kelompok
manusia bisa memenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya, bahkan bisa
dikatakan kebahagiaan dan keberdayaan hidup manusia hanya bisa dipenuhi
dengan cara berkelompok. Tanpa berkelompok tujuan hidup manusia yaitu
mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan tidak akan bisa tercapai.
Manusia merupakan makluk individu dan sekaligus sebagaimakluk sosial.
Sebagai makluk sosial manusia selalu hidup berkelompok dengan manusia
yang lain.
Dari mempelajari kelompok-kelompok binatang seperti itu kita dapat
mengabstraksikan beberapa ciri yang dapat kita anggap ciri khas kehidupan
berkelompok, yaitu (1) pembagian kerja yang tetap antara berbagai macam
subkesatuan atau golongan individu dalam kelompok untuk melaksanakan
berbagai macam fungsi hidup, (2) ketergantungan individu kepada individu
lain dalam kelompok sebagai akibat dari pembagian kerja tadi(3) kerja sama
antaraindividu yang disebabkan karena sifat ketergantungan tadi, (4)

14

komunikasi antaraindividu yang diperlukan guna melaksanakan kerja sama


tadi, (5) diskriminasi yang diadakan antara individu-individu warga kelompok
dan indvidu-individu dari luarnya.
3.2 Saran
Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial yang berkelompok, seharusnya
lebih banyak memberikan rasa tanggungjawab untuk mengayomi individu
yang jauh lebih lemah dari pada wujud sosial yang besar dan kuat serta
mampu belajar bekerja sama seperti hewan-hewan yang berkelompok.
DAFTAR PUSTAKA
Soekanto, Soerjono.2013.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada
http://kumpulan-materi.blogspot.co.id/2012/02/kehidupan-berkelompokmakhluk-manusia.html
http://hanif-istiadi.blogspot.co.id/2012/11/karakter-binatang-yang-hidupberkelompok.html

15