Anda di halaman 1dari 14

1.

Definisi Inventory dan Tujuan Inventory

Persediaan merupakan salah satu unsur penting dalam operasi perusahaan, selain itu
persediaan dapat mempermudah dan memperlancar jalannya kegiatan normal pada suatu
perusahaan yang dilakukan secara rutin untuk memproduksi barang yang selanjutnya
ditimbulkan pada konsumen. Pengertian persediaan menurut Freddy Rangkuti yaitu : Salah
satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara continue diperoleh,
diubah
kemudian
dijual
kembali.
Sedangkan pengertian persediaan menurut Warren Reeve Fess yang diterjemahkan oleh
Aria Farahmita, Amanugrahani dan Taufik Hendrawan yaitu :
Digunakan untuk mengindikasikan (1) barang dagang yang disimpan untuk kemudian
dijual dalam operasi bisnis perusahaan, dan (2) bahan yang digunakan dalam proses
produksi atau yang disimpan untuk tujuan itu. Berdasarkan pernyataan di atas, dapat
disimpulkan bahwa persediaan adalah unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang
digunakan untuk dijual kembali atau digunakan dalam proses produksi.

Tujuan Persediaan
Dalam perusahaan seperti perusahaan manufaktur dan perusahaan dagang memiliki persediaan yang
beraneka ragam jenisnya, sehingga persediaan memiliki tujuan. Tujuan persediaan menurut Freddy
Rangkuti terdiri dari :
1. Batch Stock/Lot Size Inventory
2.
Fluctuations Stock
3. Anticipation Stock
Adapun uraian dari tujuan persediaan adalah sebagai berikut :
1.
Batch Stock/Lot Size Inventory, persediaan yang diadakan karena kita membeli atau
membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar dari jumlah yang
dibutuhkan saat ini.
2.
Fluctuation Stock, persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen
yang tidak dapat diramalkan.
3. Anticipation Stock, persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi
permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun
dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan atau permintaan yang meningkat.
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya persediaan, maka
perusahaan dapat melakukan efisiensi produksi dan penghematan biaya angkut, dapat
menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan atau tidak beraturan serta
untuk mengatasi jumlah pesanan yang telah diramalkan sebelumnya.

1.2

ABC System

Analisis ABC adalah metode dalam manajemen persediaan (inventory management)


untuk mengendalikan sejumlah kecil barang, tetapi mempunyai nilai investasi yang tinggi.
Analisis ABC didasarkan pada sebuah konsep yang dikenal dengan nama Hukum Pareto
(Ley de Pareto), dari nama ekonom dan sosiolog Italia, Vilfredo Pareto (1848-1923). Hukum
Pareto menyatakan bahwa sebuah grup selalu memiliki persentase terkecil (20%) yang bernilai
atau memiliki dampak terbesar (80%). Pada tahun 1940-an, Ford Dickie dari General Electric
mengembangkan konsep Pareto ini untuk menciptakan konsep ABC dalam klasikasi barang
persediaan.
Berdasarkan hukum Pareto, analisis ABC dapat menggolongkan barang berdasarkan
peringkat nilai dari nilai tertinggi hingga terendah, dan kemudian dibagi menjadi kelas-kelas
besar terprioritas; biasanya kelas dinamai A, B, C, dan seterusnya secara berurutan dari peringkat
nilai tertinggi hingga terendah, oleh karena itu analisis ini dinamakan Analisis ABC.
Umumnya kelas A memiliki jumlah jenis barang yang sedikit, namun memiliki nilai yang sangat
tinggi.
Dalam hal ini, saya akan menggunakan tiga kelas, yaitu: A, B, dan C, di mana besaran
masing-masing kelas ditentukan sebagai berikut (Sutarman, 2003, pp. 144145):
1. Kelas A, merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 15-20% dari total seluruh
barang, tetapi merepresentasikan 75-80% dari total nilai uang.
2. Kelas B, merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 20-25% dari total seluruh
barang, tetapi merepresentasikan 10-15% dari total nilai uang.
3. Kelas C, merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 60-65% dari total seluruh
barang, tetapi merepresentasikan 5-10% dari total nilai uang.
Besaran masing-masing kelas di atas akan membentuk suatu kurva sebagaimana terlihat
pada Gambar 1 di bawah ini.

Sumber: Kusnadi, 2009, p. 9

Gambar 1. Kurva Analisis ABC

Adapun langkah-langkah atau prosedur klasikasi barang dalam analisis ABC adalah
sebagai berikut:
1. Menentukan jumlah unit untuk setiap tipe barang.
2. Menentukan harga per unit untuk setiap tipe barang.
3. Mengalikan harga per unit dengan jumlah unit untuk menentukan total nilai uang dari
masing-masing tipe barang.
4. Menyusun urutan tipe barang menurut besarnya total nilai uang, dengan urutan pertama
tipe barang dengan total nilai uang paling besar.
5. Menghitung persentase kumulatif barang dari banyaknya tipe barang.
6. Menghitung persentase kumulatif nilai uang barang dari total nilai uang.
7. Membentuk kelas-kelas berdasarkan persentase barang dan persentase nilai uang barang.
8. Menggambarkan kurva analisis ABC (bagan Pareto) atau menunjuk tingkat kepentingan
masalah.
Dengan analisis ABC, kita dapat melihat tingkat kepentingan masalah dari suatu barang.
Dengan begitu, kita dapat melihat barang mana saja yang perlu diberikan perhatian terlebih
dahulu.

1.3

Fixed- Order Quantity Model

Fixed-Order Quantity Model atau Q model adalah model untuk menentukan titik spesifik,
R, saat dimana pemesanan dilakukan dan jumlah yang harus dipesan, Q. Titik pemesanan, R,
biasanya dinyatakan dalam jumlah unit inventori pada level R. Penghitungan Q digunakan rumus
EOQ ( Economic Order Quantity) atau juga disebut sebagai Optimal Order Quantity.
Penggambaran model Fixed Order Quantity dapat dilihat pada gambar. Berbagai model yang
masuk kategori Q model antara lain:

EOQ

Yang perlu diperhatikan dari model tersebut adalah bahwa asumsi-asumsi yang digunakan tidak
realistik. Akan tetapi, model tersebut dapat digunakan sebagai pijakan awal untuk memahami
manajemen inventori.

Fixed Order Quantity Model (Q Model) dengan Adanya Penggunaan Selama Waktu
Produksi / Economic Production Quantity (EPQ).

Model sebelumnya mengasumsikan bahwa jumlah yang dipesan akan diterima dalam sekali
antar, pada hal dalam kenyataan tidak selalu demikian. Pada banyak situasi, produksi dari item
persediaan dan penggunaan item tersebut berjalan secara simultan. Hal ini benar bila satu bagian
dari sistim produksi bertindak sebagai supplier bagi bagian yang lain. Pada kasus yang demikian,
bila d adalah tingkat permintaan (demand rate) yang konstan untuk item yang diproduksi dan p
adalah tingkat produksi (production rate), maka TC dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan:
Dengan menggunakan konsep diferensiasi, diperoleh rumusan matematik menghitung Q optimal
yang disebut Economic Production Quantity (EPQ):

Sedangkan Total Biaya Annual atau disingkat TAC atau TC dihitung dengan rumus:

Secara grafis dapat digambarkan sebagai berikut:

Contoh Lot size yang Optimal model FOQ; Penggunaan selama Produksi / Economic
Production Quantity
Produk X adalah komponen standard persediaan suatu perusahaan. Assembel akhir dari produk
jadi dilakukan setiap hari. Salah satu komponen produk X (disebut komponen Y) diproduksi di
departemen lain. Departemen tersebut memproduksi komponen Y pada tingkat produksi 100 unit
per hari. Sementara tingkat permintaan/penggunaan komponen tersebut 40 unit per hari. Dengan
menggunakan data tambahan di bawah ini, tentukan lot size untuk produksi komponen Y.

Tingkat permintaan/penggunaan harian (d) = 40 unit


Permintaan tahunan (D) = 40 unit x 250 hari kerja
Produksi harian (p) = 100 unit
Biaya set up produksi (S) = Rp.50
Biaya simpan tahunan (H) = 0,50 per unit
Biaya/ harga komponen Y (C) = Rp.7,00 per unit
Lead time (L) = 7 hari
Pembahasan:

Dengan demikian bahwa pemesanan komponen Y sebanyak 1.826 unit akan dilakukan bila
tingkat persediaan di gudang tinggal 280 unit.

Fixed Order Quantity Model (Q Model) dengan Tingkat Layanan Tertentu

Sistem dari Q model secara perpetual memonitor tingkat inventori dan melakukan pemesanan
baru ketika persediaan mencapai level R. Masalah kehabisan bahan dari model demikian hanya
mungkin muncul selama periode lead time, yakni antara waktu dilakukan pemesanan hingga
waktu barang diterima. Gambar berikut menjelaskan adanya kemungkinan kehabisan bahan
(stockout):

Reorder point dihitung dengan cara:

dimana
z = jumlah standard deviasi untuk tingkat layanan (service level) tertentu
=standard deviasi penggunaan selama lead time
Untuk dapat menghitung nilai R di atas diperlukan data nilai z dan standard deviasi. Oleh karena
itu pula perlu dihitung terlebih dahulu nilai z dan standard deviasi tersebut dengan cara:
Menghitung rata-rata penggunaan per hari

dimana n= jumlah hari lead time


Selanjutnya dihitung Standard deviasi permintaan harian:

Oleh karena standard deviasi di atas merupakan standard deviasi untuk satu hari, maka bila lead
timenya lebih dari satu hari maka standard deviasi selama lead time sama dengan akar dari
jumlah variance selama lead time, yaitu:

Kemudian, dihitung nilai z dengan menentukan nilai E(z) yakni jumlah unit yang memenuhi
tingkat layanan yang diinginkan.

Dengan telah diperoleh nilai z (dilihat pada tabel) dan standard deviasi maka nilai R dapat
ditentukan.
Contoh: Jumlah Order Ekonomis model FOQ dengan service level
Bila diketahui bahwa

Tentukan saat dilakukan pemesanan ulang! (sebagai catatan hari kerja se tahun 250 hari)
Pembahasan:
Pemesanan ulang/ reorder point

Oleh karena nilai z belum diketahui maka perlu dicari terlebih dulu dengan rumus:

Selanjutnya nilai z pada E(z) = 0,4 dapat diperoleh denga melihat tabel jumlah out of stock
versus Standard Deviasi yang dinormalisaskan pada 1 SD. Diperoleh nilai z = 0, sehingga solusi
pemesanan kembali (R) adalah:

Kesimpulannya: ketika persediaan di gudang tinggal 60 unit perusahaan harus memesan kembali
sebanyak 200 unit
Contoh 2
Permintaan harian untuk suatu produk tertentu terdistribusi normal dengan rata-rata 60, dan
standar deviasi 7. Supplier dapat dipercaya untuk menjaga lead time 6 hari. Biaya order Rp.10,dan biaya simpan Rp.0,5 pewr unit per tahun. Tidak ada biaya kehabisan bahan, karena pesanan
yang belum terpenuhi dapat segera didatangkan. Diasumsikan penjualan terjadi dalam satu
tahun. Tentukan jumlah yang dipesan dan kapan dilakukan pemesanan kembali untuk memenuhi
95% pelanggan yang diambilkan dari persediaan.
Informasi:

Pembahasan :
Pertama menghitung jumlah pemesanan optimal atau Economic Order Quantity

Untuk menentukan saat pemesanan kembali, perlu lebih dulu menghitung jumlah produk yang
digunakan selama lead time dan menambahkannya sebagai safety stock.

Oleh karena nilai z dan standar deviasi belum diketahui maka perlu dihitung terlebih dulu
besaran z dan standar deviasi selama lead time .

hasil perhitunganmenunjukkan bahwa standar deviasa selama lead time sebesar 17,2
Sedang nilai z dicari dengan

Dengan menggunakan tabel, dapat diperoleh nilai z pada E(z) = 2,721 sebesar 2,72
Setelah diketahui nilai dari z dan maka R dapat ditentukan:

Sehingga kebijakannya akan berbunyi, jumlah pemesanan sebesar 936 unit akan dilakukan pada
saat persediaan tersisa sebanyak 313 unit.

1.4

Time Period Model

Pada sistem periode tetap, inventori dihitung hanya pada waktu-waktu tertentu,
misalnya setiap minggu atau setiap bulan. Dengan demikian pada sistim ini, jumlah yang dipesan
untuk setiap kali pemesanan tergantung pada tingkat penggunaan selama periode monitoring.
Perbedaan pokok sistim Fixed-Time Periode (P model) dengan Fixed-Order Quantity (Q Model)
adalah sebagai berikut:
Aspek

Q Model/ FOQ

P Model/ FTP

Jumlah yang dipesan

Konstan, jumlah yang dipesan setiap


waktu sama

Variabel, jumlah yang dipesan untuk setiap


kali pesan senantiasi bervariasi

Waktu pemesanan

Pemesanan/pemesanan

Pemesanan/pemesanan

kembali

kembali

dilakukan

dilakukan pada saat inventori berada


pada tingkat reorder (R)

pada saat dilakukan review yang dilakukan


secara berkala dengan tenggang waktu yang
tetap.

Pencatatan

Pencatatan dilakukan setiap kali ada


penambahan
atau
pengurangan
inventori

Dihitung hanya pada saat periode review tiba.

Ukuran Inventori

Lebih sedikit dibanding P model

Lebih banyak dibanding Q model

Waktu pemeliharaan

Lebih tinggi karena pencatatan


dilakukan secara perpetual

Jenis item

Harganya lebih mahal, kritikal, dan


penting.

Gambar berikut menunjukkan secara grafis model fixed time period:

Beberapa model yang masuk kategori Fixed-Time Periode (P Model) antara lain:

Fixed Time Periode FTP atau P Model dengan Tingkat Layanan Tertentu

Pada sistim fixed time period, pemesanan kembali dilakukan pada saat review (T) dan lead time
(L) yang konstan, serta safety stock sebanyak:

Selanjutnya jumlah yang dipesan, q adalah


= rata-rata permintaan selama T dan L + safety stock + Inventori di tangan + dlm perjalanan

Rumusan matematiknya:

dimana
T = tenggang/jarak waktu antar review
Rho = standard deviasi permintaan selama lead time dan periode review
I = tingkat persediaan termasuk pesanan yang direncanakan diterima
Nilai z diperoleh dengan terlebih dulu menghitung E (z), yakni:

dimana standard deviasi selama lead time dan periode review sebesar:

Contoh Jumlah Pemesanan: Model FTP dengan Service Level


Diketahui permintaan harian untuk suatu produk adalah 10 unit dengan standard deviasi 3 unit.
Periode Review 30 hari dan lead time 14 hari. Manajemen telah membuat kebijakan untuk
memenuhi 98% permintaan dalam bentuk persediaan. Pada review awal periode, terdapat
persediaan 150 unit. Berapa banyak yang harus dipesan?
Pembahasan
Jumlah pemesanan dihitung dengan rumus:

Oleh karena nilai z dan standar deviasi belum diketahui, maka perlu dihitung terlebih dulu:

Selanjutnya untuk menentukan nilai z, perlu menghitung E(z):

dari tabel dan hasil interpolasi diperoleh nilai z= 0,21, sehingga jumlah yang harus dipesan
adalah:

Dengan demikian untuk memenuhi 98% permintaan, maka pada saat review dilakukan
pemesanan sebanyak 294 unit.

1.5

Special Purpose

Ada dua macam model yang termasuk dalam kategori model tujuan khusus, yakni:
i) Price-Break Model
Model ini digunakan untuk menganalisis pengaruh jumlah pemesanan bila terdapat perubahan
harga (diskon) sehubungan dengan banyaknya pemesanan.. bagaimanapun, dalam kenyataan
sering dijumpai adanya pemotongan atau pengurangan harga bila jumlah pemesanan semakin
besar. Misalnya bila jumlah yang dipesan lebih kecil dari 500 unit,maka harga akan sebesar
harga normal. Bila membeli 500 unit hingga 1000 unit akan diberi potongan harga 10%, dan bila
membeli di atas 1000 unit akan mendapat potongan 15%.
Contoh Price Break
Diketahui
D = 10.000 unit (permintaan tahunan)
S = Rp.20,- per pesan
i = 20% dari harga per tahun
C = per unit tergantung besarnya pemesanan; pesan di bawah 499 unit harga per unit = Rp.5,00;
pesan antara 500 sampai 999 unit, harga per unitnya Rp.4,50, sedang bila pesan di atas 1.000,
harga per unitnya 3,90.
Berapa jumlah yang harus dipesan?
Pembahasan:
Rumus yang cocok untuk dipakai mencari solusi dari kasus di atas adalah:

Masing-masing kategori harga dicari EOQ-nya. Dari perhitungan tersebut dapat ditentukan
jumlah pemesanan yang feasible dan yang tidak. Dari yang feasible, selanjutnmya dipilih yang
TIC-nya terkecil. (Kunci Jawaban Untuk C= Rp.5,- maka EOQ = 633 , tidak feasible, untuk
P=Rp.4,5 maka EOQ-nya = 666, feasible dengan TIC Rp.45.599,7, untuk P=Rp.3,9, maka EOQnya = 716, tidak feasible, sedang untuk P=Rp.3,9 Q=1.000, feasible dengan TIC=Rp39.590 dan
ini menrupakan solusi optimal)
ii) Single-periode Model
Model ini sering disebut sebagai model statis. Pemesanan dan persediaan dinalisis berdasarkan
trade off dengan menggunakan analisis marginal. Marginal analisis di sini hanya akan cocok bila
ada informasi mengenai probabilitas kejadian. Dalam situasi ini, perlu dilihat mengenai laba
yang diharap (expected profit) dan kerugian yang diharap (expected loss). Dengan demikian bila
laba yang diharap lebih besar atau sama dengan kerugian yang diharap, maka situasi yang
demikian adalah menguntungkan. Jadi persamaannya adalah sebagai berikut:

P= probabilitas unit persediaan terjual


MP= marginal profit
ML = marginal loss
1-P = probabilitas unit persediaan tidak terjual
Selanjutnya nilai bersih dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Contoh Salvage Value


Misalkan sebuah produk dijual pada harga Rp.100,00 per unit. Biaya produk tetap sebesar
Rp.70,- per unit. Setiap unit yang tidak terjual memiliki nilai sisa (salvage value) Rp.20,-.
Permintaan diharapkan berada pada range 35 sampai 40 unit setiap periode. Bila jumlah barang
yang ada sebanyak 35 unit dipastikan dapat terjual, namun bila persediaan barang di atas 40 unit
maka pasti ada yang tidak laku. Kemungkinan barang laku dan tidak laku adalah sebagai berikut:
Jumlah
unit yang
diminta

Probabilita
s
permintaan

Akumulas
i jml
produk

Probabilita
s terjual

35

0,10

1 sampai
35

1,00

36

0,15

36

0,90

37

0,25

37

0,75

38

0,25

38

0,50

39

0,15

39

0,25

40

0,10

40

0,10

41

41 lebih

Tentukan berapa unit yang harus dipesan?


Pembahasan:
Keuntungan margin jika setiap unit terjual adalah harga dikurangi biaya atau
MP= P-C =100 70 = 30
Kerugian margin terjadi jika unit barang tidak laku terjual. Besarnya adalah biaya dikurangi nilai
sisa atau
ML = C SV = 70 20 = 50
Probabilitas optimal dari unit terakhir yang terjual adalah:

Berdasarkan tabel probabilitas akumulatif pada kasus di atas, maka kemungkinan terjual dari unit
barang harus sama atau lebih besar dari 0,625, dan angka yang paling mendekati itu adalah 37
unit dengan probabilitas terjual sebesar 0,75. Selanjutnya net benefit dari memiliki persediaan
sebanyak 37 unit adalah profit margin yang diharap dikurangi kerugian margin yang diharap:

iii) Miscellaneous System (Sistim Rupa-Rupa)


Ada setidaknya tiga sistim antara lain:
1. Sistim persediaan Sederhana
Sistim Persediaan Sederhana meliputi tiga sistim:

Sistim Pemesanan Opsional

Suatu sistim pengendalian inventori dimana inventori direview dengan frekuensi yang tetap
seperti mingguan atau bulanan, dan pemesanan penambahan dilakukan jika tingkat inventori
telah berada pada jumlah tertentu.

Two-Bin System

Persediaan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah persediaan yang akan
digunakan, sedang kelompok kedua berfungsi sebagai penyangga untuk menjamin ketersediaan
bahan.

One-Bin System

Suatu sistim dimana penambahan dilakukan secara periodik tanpa mempermasalahkan barapa
banyak yang dibutuhkan