Anda di halaman 1dari 11

RMK

MANAJEMEN PERPAJAKAN
PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN
ATAS PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
DAN/ATAU PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH

Oleh:
Kelompok III
Gede Wahyu Saputra (1506325003)
I Putu Kass Wikarna Keneh (1506325005)
Dwi Haryadi Nugraha (1506325006)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016
0

BAB XI
PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN
ATAS PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
DAN/ATAU PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
A. Memaksimalkan Mekanisme Pengkreditan PPN
Perusahaan sebaiknya memperoleh Barang Kena Pajak (BKP)/Jasa Kena Pajak (JKP)
dari Pengusaha Kena Pajak (PKP), supaya Pajak Masukannya dapat dikreditkan.
Perusahaan perlu mengamati dengan cermat jangan sampai terdapat Pajak Masukan yang
belum dikreditkan lagi.
PPN dikenakan atas:
1.

Penyerahan BKP/JKP yang dilakukan oleh PKP

2.

Impor BKP.

3.

Pemanfaatan BKP tidak berwujud/JKP luar daerah pabean di dalam daerah pabean.

4.

Ekspor BKP oleh PKP.

Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah Pajak Masukan yang berhubungan
langsung dengan produksi, distribusi, pemasaran, dan manajemen atas BKP/JKP dan
faktur pajaknya adalah faktur pajak standar atau dokumen yang disamakan dengan faktur
pajak standar. Perlu juga diperhatikan ketentuan dalam Pasal 9 ayat (8) UU PPN, yang
menentukan bahwa Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan bagi pengeluaran untuk:
1.

Perolehan BKP/JKP sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai PKP.

2.

Perolehan BKP/JKP yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan


usaha.

3.

Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon,
kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan..

4.

Pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar daerah pabean sebelum
pengusaha dikukuhkan sebagai PKP

5.

Perolehan BKP/JKP yang faktur pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) atau ayat (9) atau tidak mencantumkan nama,
alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) pembeli BKP atau JKP.

6.

Pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar daerah pabean yang faktur
pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6).
1

7.

Perolehan BKP dan JKP yang Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan
ketetapan pajak.

8.

Perolehan BKP dan JKP yang Pajak Masukannya tidak dilaporkan dalam SPT masa
PPN, yang ditemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan.

9.

Perolehan

BKP selain barang modal atau JKP sebelum PKP berproduksi

sebagaimana dimaksud pada Pasal 9 ayat (2a).


Pajak masukan yang belum dikreditkan dengan pajak keluaran pada masa pajak yang
sama, dapat dikreditkan pada masa pajak berikutnya, selambat-lambatnya pada bulan
ketiga setelah berakhirnya tahun buku yang bersangkutan, sepanjang belum dibebankan
sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan (Pasal 9 ayat (9) UU PPN).
Berdasarkan penjelasan tersebut maka perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1.

Cek secara teliti Faktur pajak Masukan yang diterima sebelum melakukan
pembayaran. Perlu diperhatikan persyaratan formal Faktur Pajak Masukan yang
dapat dikreditkan agar tidak menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

2.

Cek secara teliti apakah semua Pajak Masukan yang ditransaksikan telah memiliki
bukti pendukung yang cukup kuat sebagai Pajak Masukan yang dapat dikreditkan
sesuai dengan peraturan perpajakan.

3.

Berkaitan dengan batas waktu tiga bulan masa pengkreditan, usahakan Faktur Pajak
sudah diterima sebelum lewat tiga bulan setelah berakhirnya masa pajak, kecuali
untuk pemungutan PPN.

4.

Makin cepat menerima Faktur Pajak dari pembelian barang, maka akan lebih baik
bagi perusahaan karena perusahaan sudah dapat mengkreditkannya walaupun belum
melakukan pembayaran.

5.

Cek dan teliti semua pelaporan ke kantor pajak, terutama untuk permohonan restitusi
karena lebih bayar pajak masukan. Bila ada faktur pajak yang tidak disetujui, segera
lakukan tindakan perbaikan sebelum dilakukannya closing conference hasil
pemeriksaan permohonan restitusi PPN tersebut, misalnya dengan meminta penggati
faktur pajak yang cacat dari pembeli barang.

B. Penundaan Pembuatan Faktur Pajak


Dalam hal penjualan BKP/JKP yang pembayarannya belum diketahui, pembuatan faktur
pajak bisa ditunda sampai akhir bulan berikutnya setelah penyerahan BKP atau JKP.
2

Dalam kaitan dengan pembuatan Faktur Pajak, makin lambat PKP membuat Faktur
Pajak, maka akan lebih baik karena PKP tidak perlu menalangi pembayaran PPN.
Berkaitan dengan hal ini, sebaiknya PKP penjual dalam menentukan syarat pembayaran
yang ideal, yaitu tidak lebih 45 hari setelah penyerahan BKP atau JKP (penerbitan
invoice). Jika pembayaran baru diterima PKP setelah lewat 45 hari berarti bahwa PKP
penjual akan menalangi pembayaran PPN ke Kas Negara.
C. Memaksimalkan Fasilitas Di Bidang PPN
Sejak diberlakukannya UU No 36 Tahun 2008, fasilitas di bidang PPN yang dikenal di
dalam ketentuan PPN adalah PPN tidak dipungut, PPN dibebaskan, dan PPN ditanggung
pemerintah.
1.

Fasilitas PPN Tidak Dipungut


PPN Masukan yang berhubungan dengan perolehan BKP/JKP tetap dapat
dikreditkan (Pasal 16B ayat (2) UU PPN). Fasilitas PPN tidak dipungut berlaku
untuk:
a.

Atas impor barang, pemasukan BKP, pengiriman hasil produksi, pengeluaran


barang, penyerahan kembali BKP, peminjaman mesin, pemasukan Barang Kena
Cukai (BKC) ke dan atau dari kawasan berikat atau EPTE.

b.

Peraturan Menkeu No. 121/PMK.03/2009 tentang pemanfaatan BKP tidak


berwujud dari luar daerah Pabean, penyerahan BKP/JKP oleh kontraktor utama
dan atau subkontraktor sehubungan dengan proyek pemerintah.

Contoh:
PT Dirgantara melakukan penjualan senjata kepada Bendaharawan TNI senilai
Rp1.100.000.000,- termasuk PPN, dan PT Dirgantara mempunyai Pajak Masukan
terkait sebesar Rp50.000.000,-. Perbandingan jumlah uang yang diterima apabila
atas penjualan tersebut dipungut PPN atau tidak dipungut PPN adalah sebagai
berikut:

Pada dasarnya dipungut atau tidak dipungut PPN oleh Bendaharawan secara
finansial tidak berbeda, tetapi kalau tidak dipungut PPN maka pengusaha akan dapat
menikmati PPN yang seharusnya tidak perlu dipungut tersebut mulai saat
pemungutan hingga proses restitusi untuk pengembalian PPN tersebut terjadi.
2.

Fasilitas PPN Dibebaskan


PPN Masukan yang berhubungan dengan perolehan BKP/JKP tidak dapat
dikreditkan (Pasal 16B ayat (3) UU PPN). Pajak Masukan yang tidak dapat
dikreditkan diperlakukan sebagai biaya oleh WP. Ini mengandung arti bahwa
fasilitas pembebasan PPN tidak memberikan secara langsung adanya penghasilan
lain berupa restitusi PPN atas Pajak Masukan, tetapi hanya memberikan tambahan
biaya yang diperkenankan untuk mendapatkan penghasilan kena pajak dan tentu saja
akan mengurangi besarnya penghasilan kena pajak. Fasilitas PPN dibebaskan
berlaku untuk:
a.

BKP/JKP tertentu yang penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN.

b.

Impor dan atau penyerahan BKP tertentu yang bersifat strategis.

c.

Fasilitas pemberian restitusi atas pembebanan PPN dan PPn BM bagi


Perwakilan Diplomatik negara asing atau Badan Internasional serta Pejabat atau
Tenaga Ahlinya.

d.

Perlakuan Kepabeanan, Perpajakan, dan Cukai serta Tata Laksana Pemasukan


dan Pengeluaran Barang ke dan dari serta berada di kawasan yang telah
ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas.

e.

Perlakuan pajak atas penyerahan atau perolehan/pemanfaatan BKP tidak


berwujud dan penyerahan/perolehan JKP di dalam kawasan perdagangan bebas
dan pelabuhan bebas.

Contoh:
PT Mufakat dalam satu tahun telah menyerahkan bibit tanaman jati senilai
Rp550.000.000,-. HPP bibit tanaman tersebut adalah Rp200.000.000,- dan biaya
usaha Rp100.000.000,- serta Pajak Masukan sebesar Rp10.000.000,-. Bagaimanakah
perbandingan penghasilan antara PPN dibebaskan dengan yang tidak dibebaskan.

Dengan dibebaskannya PPN atas penyerahan bibit tanaman jati tersebut maka WP
mendapat fasilitas pengurangan PPh sebesar Rp1.250.000,-. Selain pengurangan PPh
juga terdapat pengurangan PPN sebesar Rp20.000.000,- yang seharusnya dibayar
oleh WP.
3.

Fasilitas PPN Ditanggung Pemerintah


Fasilitas berupa PPN ditanggung Pemerintah akan mengurangi beban pengusaha
baik dalam menghitung HPP dan juga dalam menentukan harga jual produk untuk
dapat bersaing dengan produk lain yang sama, terutama dengan produk yang didapat
secara impor.
Pengurangan beban akibat PPN ditanggung Pemerintah tersebut, yang pertama
berupa tidak perlu membayar selisih antara Pajak Keluaran dengan Pajak Masukan,
dan juga pengusaha akan mendapakan kembali Pajak Masukan yang telah
dibayarkan, yang akan menjadi penghasilan lain bagi pengusaha.
Berbagai kegiatan usaha yang PPN-nya ditanggung Pemerintah antara lain: minyak
goreng, perusahaan taxi, dan bantuan luar negeri.

Contoh:
PT Argo Wilis sebagai industri minyak goreng dalam satu tahun menjual minyak
goreng dengan HPP senilai Rp5.000.000.000,- dengan PPN Keluaran sebesar
Rp500.000.000,-

yang

ditanggung

Pemerintah

dengan

HPP

sebesar

Rp3.000.000.000,- biaya usaha Rp1.000.000.000,- dan mempunyai Pajak Masukan


berkaitan kegiatan tersebut sebesar Rp200.000.000,-.
Perbandingan keuntungan yang diperoleh WP apabila PPN tidak ditanggung dan
ditanggung Pemerintah adalah berikut:

Dengan adanya PPN ditanggung Pemerintah, WP mendapatkan keuntungan


tambahan sebesar Pajak Masukan dan harga jual produk tersebut mempunyai daya
saing terutama dengan produk impor, karena pembeli tidak perlu membayar lebih
tinggi dari yang seharusnya, yaitu berkurang sebesar PPN Keluaran.
D. Sentralisasi Tempat PPN Terutang
Sesuai dengan Pasal 12 ayat (2) UU PPN, atas pemberitahuan secara tertulis dari PKP,
Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan 1 (satu) tempat atau lebih sebagai tempat
pajak terutang.
Sebelum mengambil keputusan untuk memilih pemusatan tempat terutang sebaiknya
perusahaan melakukan penelitian dan mempertimbangkan mana cara yang lebih
menguntungkan, apakah dalam pelaporan pajaknya perusahaan memakai sistem
sentralisasi atau desentralisasi.
Sentralisasi tempat terutangnya PPN tersebut pada dasarnya merupakan fasilitas yang
bisa dimanfaatkan oleh PKP. Dengan izin sentralisasi, maka akan terdapat penghematan
6

biaya administrasi dan pengaturan cash flow perusahaan yang lebih baik dalam
melaksanakan hak dan kewajiban di bidang PPN.
E. Manajemen Restitusi PPN
Dalam hal terjadi kelebihan bayar, PKP perlu menimbang-nimbang apakah akan
melakukan kompensasi atau melakukan restitusi. Pertimbangan utama dalam
menentukan pilihan tersebut akan berkaitan dengan cara pemeriksaan dan opportunity
cost dari dana yang tertanam di negara. Yang dimaksud dengan biaya pemeriksaan adalah
biaya yang timbul karena pemeriksaan berkaitan dengan status bayar, waktu, tenaga, dan
biaya yang harus dialokasikan selama proses pemeriksaan berlangsung. Sedangkan
opportunity cost dapat tercermin dari tingkat bunga deposito yang berlaku. Jika
opportunity cost lebih besar dibandingkan dengan biaya pemeriksaannya, maka WP akan
cenderung meminta restitusi.
Beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memutuskan apakah perlu
melakukan restitusi PPN atau tidak, adalah:
1.

Jumlah atau besarnya PPN yang lebih bayar tersebut


Makin besar PPN yang lebih bayar tersebut maka sebaiknya permohonan restitusi
dilakukan. Makin besar lebih bayar yang ada dalam SPT masa PPN maka akan
makin besar opportunity cost yang hilang jika tidak direstitusi.

2.

Kondisi keuangan perusahaan


Kondisi keuangan perusahaan ini juga ikut menentukan perlu tidaknya melakukan
restitusi PPN. Jika perusahaan cukup banyak cash flowmaka kebutuhan akan
restitusi juga akan menurun. Restitusi PPN merupakan salah satu sarana untuk
mendapatkan cash inflow dari pada harus memperolehnya dari kredit.

3.

Kesiapan perusahaan untuk diperiksa


Jika melihat fakta yang ada, maka sebenarnya tidak semua perusahaan siap untuk
diperiksa. Kesiapan menghadapi pemeriksaan pajak ini dapat dilihat dari:
a.

Kelengkapan dokumen yang mendukung transaksi perusahaan yang akan


diaudit. Misalnya kelengkapan Faktor Pajak Masukan maupun Faktor Pajak
Keluaran, pencatatan yang mendukung transaksi penjualan, dsb.

b.

Ada atau tidaknya personil yang akan menangani pemeriksaan secara langsung.
Hal ini bisa dikaitkan dengan siklus pekerjaan di perusahaan masing-masing.

4.

Prediksi masa depan pembayaran PPN


Jika diprediksikan bahwa kelebihan PPN tersebut dapat dikompensasikan dengan
Pajak Keluaran yang akan terutang di masa yang akan datang, maka sebaiknya tidak
perlunya dimintakan restitusi. Oleh karena itu kebijakan mengenai pembelian dan
penjualan beserta pembayarannya menjadi penting agar tidak terjadi kelebihan bayar
atau kekurangan bayar yang besar.

Dalam kondisi tertentu perusahaan mungkin memiliki pertimbangan khusus untuk


meminta kelebihan bayar PPN. Dan bagi WP yang melakukan kegiatan tertentu, yaitu
ekspor BKP atau yang melakukan penyerahan BKP/JKP kepada pemungut PPN, maka
restitusi merupakan hal yang tidak terhindarkan.
F. Manajemen Pajak Dalam Tahap Pendirian Perusahaan
Pastikan apakah produk yang akan diproduksi termasuk BKP/JKP yang terutang PPN
atau tidak terutang PPN atau termasuk BKP dan/atau JKP yang penyerahannya mendapat
pembebasan PPN.
1.

Jika sejak awal sudah dipastikan bahwa produk perusahaan tidak termasuk dalam
kategori BKP/JKP maka perusahaan tidak perlu mengukuhkan dirinya sebagai PKP
dan berusaha mengendalikan Pajak Masukan atas perolehan barang atau jasa untuk
kegiatan produksinya.

2.

Jika sejak awal kegiatan usaha sudah dapat dipastikan bahwa produk perusahaan
termasuk dalam kategori BKP/JKP yang penyerahannya mendapat pembebasan
PPN, maka perusahaan harus mengukuhkan dirinya sebagai PKP.

3.

Jika sejak awal kegiatan usaha, perusahaan ragu dan tidak yakin apakah produknya
termasuk dalam kategori BKP/JKP yang terutang PPN atau tidak terutang PPN atau
termasuk BKP dan/atau JKP yang penyerahannya mendapat pembebasan PPN, maka
sebaiknya perusahaan sejak awal meminta penegasan dengan surat ke Direktur
Jenderal Pajak agar punya kepastian hukum atas PPN produk yang dihasilkannya.

Selain itu, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan juga perlu diperhatikan. Menurut Pasal
9 ayat (2a) UU PPN, bagi PKP yang belum berproduksi sehingga belum melakukan
penyerahan yang terutang pajak, Pajak Masukan atas perolehan dan/atau impor barang
modal dapat dikreditkan. Dengan batasan hanya pada Pajak Masukan yang berasal dari
perolehan barang modal saja yang dapat dikreditkan, maka sebelum perusahaan didirikan
harus dibuat perencanaan yang matang mengenai waktu kapan dimulainya berproduksi.
8

Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk memulai waktu berproduksi akan semakin
memboroskan beban pajak dikarenakan banyaknya Pajak Masukan yang tidak dapat
dikreditkan (kecuali hanya Pajak Masukan untuk perolehan barang modal saja). Jika
suatu perusahaan dihadapkan pada situasi yang sulit dimana ternyata untuk memulai
waktu berproduksi tetap dibutuhkan waktu yang cukup lama, maka sebaiknya
perusahaan mempertimbangkan untuk tetap bisa memproduksi dalam skala kecil dahulu
sehingga syarat dimulainya berproduksi telah terpenuhi walaupun dalam skala/kapasitas
kecil dan seluruh Pajak Masukan atas perolehan BKP dan/atau JKP dapat dikreditkan.
G. Manajemen Pajak Pada Saat Pelaksanaan Kegiatan Usaha
1.

Pengendalian Terhadap Faktur Pajak Keluaran


Terkait dengan penerbitan Faktur Pajak, hal yang harus diperhatikan adalah:
a.

Faktur Pajak atas penjualan yang dibuat terlalu cepat dibandingkan dengan
pelunasan atas tagihan penjualan akan menyebabkan kesulitan cash flow.

b.
2.

Faktur Pajak yang dibuat terlambatnya akan dikenakan sanksi administrasi.

Pengendalian Atas Pajak Masukan


Terkait dengan Pajak Masukan yang harus diperhatikan adalah ketentuan yang diatur
dalam Pasal 9 ayat (8) UU PPN. Perusahaan harus bisa memilah agar tidak terjadi
suatu Pajak Masukan yang seharusnya bisa dikreditkan tetapi tidak dikreditkan oleh
perusahaan dan sebaliknya. Jika ada Pajak Masukan yang seharusnya bisa
dikreditkan tetapi perusahaan lalai tidak mengkreditkannya, maka hal ini dapat
memboroskan cash flow perusahaan jika PPN dalam masa tersebut secara
keseluruhan masih kurang bayar, kebalikannya, jika ada Pajak Masukan yang
seharusnya tidak bisa dikreditkan tetapi oleh perusahaan lalai dikreditkan maka
selain akan terkena sanksi Pasal 13 ayat (2) KUP yang berisiko terkena sanksi Pasal
13 ayat (3) KUP dalam hal terjadi kelebihan bayar PPN karena pengkreditan Pajak
Masukan yang tidak seharusnya. Sanksi yang besar ini tentu sangat memboroskan
keuangan perusahaan.

3.

Pengendalian Atas Pemenuhan Kewajiban Administrasi PPN


Pasal 14 ayat (4) juncto Pasal 14 ayat (1) UU KUP mengatur bahwa keterlambatan
PKP melaporkan Faktur Pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan Faktur Pajak
akan dikenakan sanksi administrasi STP berup denda 2% dari dasar pengenaan PPN.
9

Agar terhindar dari sanksi Pasal 14 ayat (4) ini, perusahaan harus lebih teliti dengan
memeriksa apakah ada Faktur Pajak yang dilaporkan terlambat.
H. Manajemen Pajak Pada Saat Pembubaran
Hal yang perlu diperhatikan yaitu Pasal 1A ayat (1) huruf e UU PPN, yang termasuk
pengertian penyerahan BKP adalah BKP berupa persediaan dan/atau aset yang menurut
tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran
perusahaan. Artinya pada saat pembubaran perusahaan, PKP yang bersangkutan harus
memungut dan menyetorkan PPN yang terutang atas BKP berupa persediaan dan/atau
aset yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan yang masih tersisa pada
saat pembubaran. Jika pada saat pembubaran perusahaan masih ada tersisa barang atau
bahan baku yang telah rusak dan menjadi kerugian perusahaan, maka Pajak Masukan
atas perolehan barang atau bahan baku yang telah rusak tersebut tetap dapat dikreditkan,
demikian juga dengan adanya piutang yang tak tertagih hingga saat pembubaran
perusahaan, piutang tak tertagih tersebut tidak membuat pembatalan atas Faktur Pajak
Keluaran yang PPN-nya sudah disetorkan oleh perusahaan (PP No. 1 Tahun 2012).
Sumber:
UU PPN No 42 Tahun 2009.
IAI. 2015. Chartered Accountant Manajemen Perpajakan. Jakarta Pusat: IAI.
Pohan., C. A. 2015. Manajemen Perpajakan Strategi Perpajakan Dan Bisnis. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.
Muliono, D. 2009. Tax Planning Menyiasati Pajak Dengan Bijak. Yogyakarta: CV Andi
Offset.
Partikan dan Darmayasa. 2012. Handout Bahan Ajar S1 Terapan Akuntansi Manajerial,
Manajemen Pajak. Bali: Politeknik Negeri Bali.

10