Anda di halaman 1dari 65

PENGELOLAAN

BARANG MILIK NEGARA


BERDASARKAN PP 27 TAHUN 2014

KEMENTERIAN
KEUANGAN RI

DISAMPAIKAN OLEH

DRS. A.Y. SURYANAJAYA, SH.MH.


Widyaiswara Utama

KONSEPSI DASAR

PENGELOLAAN BARANG
MILIK NEGARA/DAERAH

DASAR HUKUM
PENGELOLAAN BMN
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003

tentang Keuangan Negara


2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang Perbendaharaan Negara
3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara
4. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun
2014 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah

Barang milik negara adalah semua barang yang


dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal
dari perolehan lainnya yang sah.
Barang milik daerah adalah semua barang yang
dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal
dari perolehan lainnya yang sah.
Perolehan lainnya yang sah meliputi :
Hibah/sumbangan atau yang sejenis;
Sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;
Berdasarkan ketentuan perundang-undangan;
atau
Berdasarkan putusan pengadilan yang telah
berkekuatan hukum tetap.
4

LINGKUP BMN/D
ASAL PEROLEHAN

APBN
Peroleh
an Lain
yang
sah

Hibah/sumbangan
Perjanjian/kontrak
Peraturan perundangundangan
Putusan pengadilan

(52)
(53)
(56)
(57)
(58)

Jenis belanja:
- Belanja barang
- Belanja modal
- Belanja hibah
- Bantuan sosial
- Belanja Lain-lain

Penguatan dasar hukum dan penegasan pengaturan


Ruang lingkup BMN/D dalam PP mengacu pada pengertian
berdasarkan rumusan dalam Pasal 1 angka 10 dan angka 11 UU No. 1
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Pengaturan mengenai
lingkup BMN/D dibatasi pada pengertian BMN/D yang bersifat
berwujud, namun sepanjang belum diatur lain, juga melingkupi
BMN/D yang bersifat tak berwujud sebagai kelompok BMN/D
Slide 5

PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN BMN


1. Pengelolaan BMN memenuhi azas fungsional,
kepastian hukum, transparansi, efisiensi,
akuntabilitas, dan kepastian nilai,
2. Perencanaan pengadaan BMN adalah dalam
rangka memenuhi kebutuhan aset untuk
penyelenggaraan TUSI
3. Pengadan harus memenuhi azas efisiensi,
efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil /
tidak diskriminatip, akuntabel
4. BMN digunakan hanya untuk penyelenggaraan
TUSI pemerintah
6

PRINSIP-PRINSIP (Lanjutan)
5. BMN harus dijamin keamanannya; fisik,
administratif, hukum.
6. Tanah dan / atau bangunan yg.tidak
digunakan utk penyelenggaraan TUSI
wajib diserahkan kpd. Menteri Keuangan
selaku Pengelola Barang
7. Menteri Keuangan atas tanah dan / atau
bangunan yang telah diserahkan tsb :
-menetapkan status penggunaan;
-melaksanakan pemanfaatan, dan
-melaksanakan pemindahtanganan
8. Tanah milik negara harus disertifikatkan
a.n. Pemerintah RI

Asas Pengelolaan BMN


Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah
dilaksanakan berdasarkan asas :
fungsional,
kepastian hukum,
transparansi,
efisiensi,
akuntabilitas, dan
kepastian nilai.

KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB


PRESIDEN:

PEMEGANG KEKUASAAN
PENGELOLAAN KEUANGAN
NEGARA

DIKUASAKAN

MENTERI KEUANGAN
PENGELOLA BARANG

MENTERI/PIMP.LBG
PENGGUNA BARANG

KEPALA KANTOR
KUASA PENGGUNA BMN

DISERAHKAN

GUB/BUPT/WALKOTA
PEMEGANG KEKUASAAN
PENGELOLAAN BMD

SEKRETARIS DAERAH
PENGELOLA BMD

KEPALA SKPD
PENGGUNA BMD

Penyederhanaan Birokrasi
Pendelegasian kewenangan Pengelola BMN kepada Pengguna BMN
(Pasal 4 ayat (3))
Pendelegasian kewenangan Pengguna BMN kepada Kuasa Pengguna
Slide 9
Barang (Pasal 6 ayat (3))

PENGELOLAAN
BARANG MILIK
NEGARA
a. Perencanaan
Kebutuhan dan
penganggaran;
b. pengadaan;
c. Penggunaan;
d. Pemanfaatan;
e. pengamanan dan
pemeliharaan;
f. Penilaian;
g. Pemindahtanganan;
h. Pemusnahan;
i. Penghapusan;
j. Penatausahaan; dan
k. Pembinaan,
pengawasan dan
pengendalian

Lingkup Pengelolaan BMN/D


PERENCANAAN
KEBUTUHAN &
PENGANGGARAN
PEMBINAAN
PENGAWASAN &
PENGENDALIAN

PENATAUSAHAAN

PEMUSNAHAN

PENGADAAN

PENGGUNAAN

PENGELOLAAN
BARANG
MILIK
NEGARA/
DAERAH

PEMUSNAHAN

PEMINDAHTANGANAN

PEMANFAATAN

PENGAMANAN &
PEMELIHARAAN

PENILAIAN
11

PEJABAT PENGELOLA BARANG


MILIK NEGARA/DAERAH

PENGELOLA
BARANG

PENGGUNA
BARANG

KUASA
PENGGUNA
BARANG

Menteri Keuangan
adalah Pengelola
BMN
Sekretaris Daerah
adalah Pengelola
BMD

Menteri/Pimpinan
Lembaga adalah
Pengguna BMN
Kepala SKPD
adalah Pengguna
BMD

Kepala Kantor di
lingkungan
kementrian/lembaga
adalah kuasa
pengguna barang
pada kantor yang
dipimpinnya

12

PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN


PENGANGGARAN
1. Perencanaan Kebutuhan Barang Milik Negara/Daerah disusun
dengan memperhatikan kebutuhan pelaksanaan tugas dan fungsi
Kementerian/Lembaga/satuan kerja perangkat daerah serta
ketersediaan Barang Milik Negara/Daerah yang ada.
2. Perencanaan Kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi perencanaan pengadaan, pemeliharaan, Pemanfaatan,
Pemindahtanganan, dan Penghapusan Barang Milik Negara/Daerah.
3. Perencanaan Kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan salah satu dasar bagi Kementerian/ Lembaga/satuan
kerja perangkat daerah dalam pengusulan penyediaan anggaran
untuk kebutuhan baru (new initiative) dan angka dasar (baseline)
serta penyusunan rencana kerja dan anggaran.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan


Perencanaan Kebutuhan dimaksud
kecuali untuk Penghapusan
berpedoman pada:
standar barang;
standar kebutuhan; dan/atau
standar harga

Penetapan Standar
1. Standar barang dan standar kebutuhan ditetapkan oleh:
a. Pengelola Barang, untuk Barang Milik Negara setelah
berkoordinasi dengan instansi terkait; atau
b. Gubernur/Bupati/Walikota, untuk Barang Milik Daerah
setelah berkoordinasi dengan dinas teknis terkait.
a. Penetapan standar kebutuhan oleh Gubernur/Bupati/
Walikota dimaksud dilakukan berdasarkan pedoman yang
ditetapkan Menteri Dalam Negeri.
b. Standar harga ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

15

Proses Penyusunan Rencana


Kebutuhan Barang

Pengguna Barang menghimpun usul rencana kebutuhan barang


yang diajukan oleh Kuasa Pengguna Barang yang berada di
lingkungan kantor yang dipimpinnya.

Pengguna Barang menyampaikan usul rencana kebutuhan Barang


Milik Negara/Daerah kepada Pengelola Barang.

Pengelola Barang melakukan penelaahan atas usul rencana


kebutuhan Barang Milik Negara/Daerah bersama Pengguna Barang
dengan memperhatikan data barang pada

Pengguna Barang dan/atau Pengelola Barang dan menetapkannya


sebagai rencana kebutuhan Barang Milik Negara/Daerah.

Alasan melakukan perencanaan


kebutuhan dan penganggaran
Untuk

mengisi kebutuhan barang karena


adanya perkembangan organisasi dan atau
pegawai unit organisasi bersangkutan.
Adanya barang-barang yang rusak,
dihapuskan, dijual, hilang, mati atau sebab
lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Adanya mutasi pegawai
Untuk menjaga tingkat persediaan barang
Perkembangan teknologi
17

pengadaan

Pengadaan BMN/D dilaksanakan berdasarkan


prinsip-prinsip efisien, efektif, transparan, dan
terbuka, bersaing, adil/tidak diskriminatif dan
akuntabel.
Pelaksanaan pengadaan Barang Milik
Negara/Daerah dilakukan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan,
kecuali ditentukan lain dalam Peraturan
Pemerintah ini.

PP NO. 27 TH. 2014, PASAL 12 & 13

18

PENGGUNAAN BMN/D
Status

penggunaan BMN/D ditetapkan

oleh:
Pengelola barang untuk Barang Milik
Negara
Gubernur/Bupati/Walikota untuk
Barang Milik Daerah

19

Pengecualian Penetapan Status


Penetapan status Penggunaan tidak dilakukan terhadap:
a.Barang Milik Negara/Daerah berupa:
a. barang persediaan;
b. konstruksi dalam pengerjaan; atau
c. barang yang dari awal pengadaannya direncanakan untuk
dihibahkan.
b.Barang Milik Negara yang berasal dari dana dekonsentrasi dan dana
penunjang tugas pembantuan, yang direncanakan untuk diserahkan;
c.Barang Milik Negara lainnya yang ditetapkan lebih lanjut oleh Pengelola
Barang; atau
d.Barang Milik Daerah lainnya yang ditetapkan lebih lanjut oleh
Gubernur/Bupati/Walikota.
20

Tata cara Penetapan Status BMN


Penetapan status Penggunaan Barang Milik Negara

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a


dilakukan dengan tata cara sebagai berikut:
a.

b.

Pengguna Barang melaporkan Barang Milik Negara yang


diterimanya kepada Pengelola Barang disertai dengan usul
Penggunaan; dan
Pengelola Barang meneliti laporan dari Pengguna
Barang sebagaimana dimaksud pada huruf a dan
menetapkan status penggunaannya.

Dalam kondisi tertentu, Pengelola Barang dapat

menetapkan status Penggunaan Barang Milik Negara


pada Pengguna Barang tanpa didahului usulan dari
Pengguna Barang.
21

Penetapan status untuk


dioperasikan Pihak Lain
O Barang Milik Negara/Daerah dapat ditetapkan status

penggunaannya untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi


Kementerian/Lembaga/satuan kerja perangkat daerah, guna
dioperasikan oleh Pihak Lain dalam rangka menjalankan pelayanan
umum sesuai tugas dan fungsi Kementerian/ Lembaga/satuan kerja
perangkat daerah yang bersangkutan.
O Barang Milik Negara yang telah ditetapkan status penggunaannya

pada Pengguna Barang dapat digunakan sementara oleh Pengguna


Barang lainnya dalam jangka waktu tertentu tanpa harus mengubah
status Penggunaan Barang Milik Negara tersebut setelah terlebih
dahulu mendapatkan persetujuan Pengelola Barang.
22

Pengalihan Status Penggunaan

Barang Milik Negara dapat dialihkan status


penggunaannya dari Pengguna Barang kepada
Pengguna Barang lainnya untuk
penyelenggaraan tugas dan fungsi berdasarkan
persetujuan Pengelola Barang.

Pengalihan status Penggunaan Barang Milik


Negara dapat pula dilakukan berdasarkan
inisiatif dari Pengelola Barang dengan terlebih
dahulu memberitahukan maksudnya tersebut
kepada Pengguna Barang.

23

Status Penggunaan Tanah


dan/atau Bangunan
Penetapan status Penggunaan Barang Milik Negara/ Daerah berupa tanah
dan/atau bangunan dilakukan dengan ketentuan bahwa tanah dan/atau
bangunan tersebut diperlukan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas
dan fungsi Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang yang
bersangkutan.
Pengguna Barang wajib menyerahkan Barang Milik Negara/Daerah
berupa tanah dan/atau bangunan yang tidak digunakan dalam
penyelenggaraan tugas dan fungsi Pengguna Barang, kepada:
Pengelola Barang, untuk Barang Milik Negara; atau
Gubernur/Bupati/Walikota melalui Pengelola Barang Milik Daerah, untuk Barang
Milik Daerah.

Dikecualikan dari ketentuan dimaksud, apabila tanah dan/atau bangunan


tersebut telah direncanakan untuk digunakan atau dimanfaatkan dalam
jangka waktu tertentu yang ditetapkan oleh:
Pengguna Barang, untuk Barang Milik Negara; atau
Gubernur/Bupati/Walikota, untuk Barang Milik Daerah.
24

Sanksi
Pengguna Barang yang tidak menyerahkan
Barang Milik Negara berupa tanah dan/atau
bangunan yang telah ditetapkan sebagai
Barang Milik Negara yang tidak digunakan
dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi.
Pengguna Barang dimaksud dikenakan sanksi
berupa:
pembekuan dana pemeliharaan Barang Milik Negara
berupa tanah dan/atau bangunan tersebut; dan/atau
penundaan penyelesaian atas usulan Pemanfaatan,
Pemindahtanganan, atau Penghapusan Barang Milik
Negara.
25

PENCABUTAN STATUS PENGGUNAAN


atas tanah dan/atau bangunan
Tanah dan/atau bangunan yang tidak digunakan
atau tidak dimanfaatkan dicabut penetapan
status penggunaannya oleh:
a. Pengelola Barang, untuk Barang Milik Negara;
atau
b. Gubernur/Bupati/Walikota, untuk Barang Milik
Daerah.

26

Penetapan BMN yang harus


diserahkan

1. Pengelola Barang menetapkan Barang Milik Negara yang


harus diserahkan oleh Pengguna Barang karena tidak
digunakan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas dan
fungsi Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang
dan tidak dimanfaatkan oleh Pihak Lain.
2. Dalam menetapkan penyerahan di atas, Pengelola Barang
Milik Negara atau Gubernur/Bupati/Walikota memperhatikan:
a. standar kebutuhan tanah dan/atau bangunan untuk
menyelenggarakan dan menunjang tugas dan fungsi
instansi bersangkutan;
b. hasil audit atas Penggunaan tanah dan/atau bangunan;
dan/atau
c. laporan, data, dan informasi yang diperoleh dari sumber
lain.

27

Tindak Lanjut
Tindak lanjut pengelolaan atas
penyerahan Barang Milik Negara atau
Barang Milik Daerah dimaksud
meliputi:
a. penetapan status Penggunaan;
b. Pemanfaatan; atau
c. Pemindahtanganan.
28

PEMANFAATAN BARANG MILIK


NEGARA
Pemanfaatan adalah
pendayagunaan Barang
Milik Negara/Daerah
yang tidak digunakan
untuk penyelenggaraan
tugas dan fungsi
Kementerian/
Lembaga/satuan kerja
perangkat daerah
dan/atau optimalisasi
Barang Milik
Negara/Daerah dengan
tidak mengubah status
kepemilikan.

KRITERIA PEMANFAATAN BMN


1. Pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah dilaksanakan oleh:
a. Pengelola Barang, untuk Barang Milik Negara yang berada dalam
penguasaannya;
b. Pengelola Barang dengan persetujuan Gubernur/ Bupati/Walikota,
untuk Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaan
Pengelola Barang;
c. Pengguna Barang dengan persetujuan Pengelola Barang, untuk
Barang Milik Negara yang berada dalam penguasaan Pengguna
Barang; atau
d. Pengguna Barang dengan persetujuan Pengelola Barang, untuk
Barang Milik Daerah berupa sebagian tanah dan/atau bangunan
yang masih digunakan oleh Pengguna Barang, dan selain tanah
dan/atau bangunan.
2. Pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah dilaksanakan berdasarkan
pertimbangan teknis dengan memperhatikan kepentingan
negara/daerah dan kepentingan umum.

BENTUK
BENTUK PEMANFAATAN
PEMANFAATAN BMN
BMN

Sewa
Sewa

Pinjam
Pinjam Pakai
Pakai

Kerja
Kerja Sama
Sama Pemanfaatan
Pemanfaatan (KSP)
(KSP

Bangun
Bangun Guna
Guna Serah
Serah (BGS)
(BGS) atau
ata

Bangun
Bangun Serah
Serah Guna
Guna (BSG)
(BSG)

Kerja
Kerja Sama
Sama Penyediaan
Penyediaan Infrast
Infrast
31

SEWA
Sewa adalah Pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah oleh
pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima
imbalan uang tunai.
Sewa Barang Milik Negara/Daerah dilaksanakan terhadap:
Barang Milik Negara yang berada pada Pengelola
Barang;
Barang Milik Daerah berupa tanah dan/atau bangunan
yang sudah diserahkan oleh Pengguna Barang kepada
Gubernur/Bupati/Walikota;
Barang Milik Negara yang berada pada Pengguna
Barang;
Barang Milik Daerah berupa sebagian tanah dan/atau
bangunan yang masih digunakan oleh Pengguna Barang;
atau
Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan.
32

Kriteria Sewa
1. Barang Milik Negara/Daerah dapat disewakan kepada Pihak
Lain.
2. Jangka waktu Sewa Barang Milik Negara/Daerah paling lama 5
(lima) tahun dan dapat diperpanjang.
3. Jangka waktu Sewa Barang Milik Negara/Daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dapat lebih dari 5 (lima) tahun dan
dapat diperpanjang untuk:
a. kerja sama infrastruktur;
b. kegiatan dengan karakteristik usaha yang memerlukan
waktu sewa lebih dari 5 (lima) tahun; atau
c. ditentukan lain dalam Undang-Undang.
4. Formula tarif/besaran Sewa Barang Milik Negara/Daerah
berupa tanah dan/atau bangunan ditetapkan oleh:
a. Pengelola Barang, untuk Barang Milik Negara; atau
b. Gubernur/Bupati/Walikota, untuk Barang Milik Daerah.

33

5.

Formula tarif/besaran Sewa Barang Milik Negara/Daerah


selain tanah dan/atau bangunan ditetapkan oleh:
a. Pengguna Barang dengan persetujuan Pengelola Barang,
untuk Barang Milik Negara; atau
b. Gubernur/Bupati/Walikota dengan berpedoman pada kebijakan
pengelolaan Barang Milik Daerah, untuk Barang Milik Daerah.

6.

Sewa Barang Milik Negara/Daerah dilaksanakan


berdasarkan perjanjian, yang sekurang-kurangnya
memuat:
a. para pihak yang terikat dalam perjanjian;
b. jenis, luas atau jumlah barang, besaran Sewa, dan jangka
waktu;
c. tanggung jawab penyewa atas biaya operasional dan
pemeliharaan selama jangka waktu Sewa; dan
d. hak dan kewajiban para pihak.

34

KRITERIA ...
7. Hasil Sewa Barang Milik Negara/Daerah merupakan
penerimaan negara dan seluruhnya wajib disetorkan ke
rekening Kas Umum Negara/Daerah.
8. Penyetoran uang Sewa harus dilakukan sekaligus
secara tunai paling lambat 2 (dua) hari kerja sebelum
ditandatanganinya perjanjian Sewa Barang Milik
Negara/Daerah.
9. Dikecualikan dari ketentuan dimaksud pada angka 8,
penyetoran uang Sewa Barang Milik Negara/Daerah
untuk kerja sama infrastruktur dapat dilakukan secara
bertahap dengan persetujuan Pengelola Barang.

Pinjam

Pakai adalah penyerahan


Penggunaan barang antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah atau antar
Pemerintah Daerah dalam jangka waktu
tertentu tanpa menerima imbalan dan
setelah jangka waktu tersebut berakhir
diserahkan kembali kepada Pengelola
Barang.

PINJAM PAKAI

Ketentuan Pinjam Pakai

Pinjam Pakai Barang Milik Negara/Daerah


dilaksanakan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah atau antar Pemerintah
Daerah dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan.
Jangka waktu Pinjam Pakai Barang Milik
Negara/Daerah paling lama 5 (lima) tahun
dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali.
Pinjam Pakai dilaksanakan berdasarkan
perjanjian

Kerja Sama Pemanfaatan


Kerja Sama Pemanfaatan adalah
pendayagunaan Barang Milik Negara/Daerah
oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu
dalam rangka peningkatan penerimaan negara
bukan pajak/pendapatan daerah dan sumber
pembiayaan lainnya.
Kerja Sama Penyediaan Infrastruktur adalah
kerja sama antara Pemerintah dan Badan Usaha
untuk kegiatan penyediaan infrastruktur sesuai
dengan ketentuan Peraturan Perundangundangan.

Tujuan Kerja Sama


Pemanfaatan
Kerja Sama Pemanfaatan Barang Milik
Negara/Daerah dengan Pihak Lain
dilaksanakan dalam rangka:
a.mengoptimalkan daya guna dan hasil guna
Barang Milik Negara/Daerah; dan/atau
b.meningkatkan penerimaan
negara/pendapatan daerah.

39

Ketentuan KSP

Kerja Sama Pemanfaatan atas Barang Milik Negara/ Daerah dilaksanakan dengan
ketentuan al:
tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dana dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara/Daerah untuk memenuhi biaya operasional, pemeliharaan,
dan/atau perbaikan yang diperlukan terhadap Barang Milik Negara/Daerah
tersebut;
mitra Kerja Sama Pemanfaatan ditetapkan melalui tender, kecuali untuk Barang
Milik Negara/Daerah yang bersifat khusus dapat dilakukan penunjukan langsung;
mitra Kerja Sama Pemanfaatan harus membayar kontribusi tetap setiap tahun
selama jangka waktu pengoperasian yang telah ditetapkan dan pembagian
keuntungan hasil Kerja Sama Pemanfaatan ke rekening Kas Umum
Negara/Daerah;
selama jangka waktu pengoperasian, mitra Kerja Sama Pemanfaatan dilarang
menjaminkan atau menggadaikan Barang Milik Negara/Daerah yang menjadi objek Kerja
Sama Pemanfaatan; dan
jangka waktu Kerja Sama Pemanfaatan paling lama (tiga puluh) tahun sejak perjanjian
ditandatangani dan dapat diperpanjang.

BGS DAN BSG


Bangun Guna Serah adalah Pemanfaatan Barang Milik
Negara/Daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara
mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya,
kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka
waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya
diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana
berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu.
Bangun Serah Guna adalah Pemanfaatan Barang Milik
Negara/Daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara
mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan
setelah selesai pembangunannya diserahkan untuk
didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu
tertentu yang disepakati.

41

Ketentuan BGS dan BSG


1.

Bangun Guna Serah atau Bangun Serah Guna Barang Milik


Negara/Daerah dilaksanakan dengan pertimbangan:
a.

b.

2.

3.

Pengguna Barang memerlukan bangunan dan fasilitas bagi


penyelenggaraan pemerintahan negara/daerah untuk
kepentingan pelayanan umum dalam rangka penyelenggaraan
tugas dan fungsi; dan
tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dana dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah untuk penyediaan
bangunan dan fasilitas tersebut.

Jangka waktu Bangun Guna Serah atau Bangun Serah


Guna paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak perjanjian
ditandatangani.
Penetapan mitra Bangun Guna Serah atau mitra Bangun
Serah Guna dilaksanakan melalui tender.

PENGAMANAN BARANG
MILIK NEGARA

Pengamanan adalah suatu kegiatan atau tindakan untuk


menjaga dan melindungi barang milik negara dengan
tujuan agar dalam pengurusan dan pemanfaatannya
terhindar dari resiko kehilangan, penyerobotan,
pengambilalihan atau klaim pihak lain, dan
penyimpangan lainnya (safeguarding resources/assets
against loss due to waste, abuse, mismanagement,
errors, and fraud and irregularities - INTOSAI).

43

Ketentuan Tentang
Pengamanan BMN/D

Pengelola barang, pengguna barang dan/atau


kuasa pengguna barang wajib melakukan
pengamanan barang milik negara/daerah yang
berada dalam penguasaannya.
Pengamanan barang milik negara/daerah
meliputi pengamanan administrasi,
pengamanan fisik, dan pengamanan hukum

PP 27/2014, Ps. 42
44

Pengamanan
Administrasi
Pengamanan administrasi meliputi
kegiatan pembukuan,
penginventarisasian, dan pelaporan
barang milik negara/daerah serta
penyimpanan dokumen kepemilikan
secara tertib.

45

BUKTI KEPEMILIKAN

BMN/D

BMN/D berupa tanah harus disertifikatkan atas nama


Pemerintah Republik Indonesia/pemerintah daerah
ybs.
BMN/D berupa bangunan harus dilengkapi dengan
bukti kepemilikan atas nama Pemerintah Republik
Indonesia/ pemerintah daerah ybs.
BMN selain tanah dan/atau bangunan harus
dilengkapi dengan bukti kepemilikan atas nama
pengguna barang.
BMD selain tanah dan/atau bangunan harus
dilengkapi dengan bukti kepemilikan atas nama
pemerintah daerah ybs.

46

Penyimpanan Bukti
Kepemilikan

Bukti kepemilikan BMN/D wajib


disimpan dengan tertib dan aman
Penyimpanan bukti kepemilikan BMN
berupa tanah dan/atau bangunan dilakukan
oleh pengelola barang
Penyimpanan bukti kepemilikan BMN selain
tanah dan/atau bangunan dilakukan oleh
pengguna barang/kuasa pengguna barang
Penyimpanan bukti kepemilikan
BMN dilakukan oleh pengelola
barang.
47

PENGAMANAN FISIK
Pengamanan fisik antara lain ditujukan untuk

mencegah terjadinya penurunan fungsi


barang, penurunan jumlah barang, dan
hilangnya barang.
Pengamanan fisik untuk tanah dan bangunan
antara lain dilakukan dengan cara pemagaran
dan pemasangan tanda batas tanah,
sedangkan untuk selain tanah dan bangunan
antara lain dilakukan dengan cara
penyimpanan dan pemeliharaan.

48

Pengamanan hukum antara lain meliputi


kegiatan melengkapi bukti status
kepemilikan.
Bukti kepemilikan tanah dan bangunan
berupa sertifikat atas nama Pemerintah
Republik Indonesia/Pemerintah Daerah yang
bersangkutan, sedangkan selain tanah dan
bangunan harus dilengkapi dengan bukti
kepemilikan atas nama pengguna barang.

49

PEMELIHARAAN
BMN/D
Pemeliharaan adalah suatu
rangkaian kegiatan untuk menjaga
kondisi dan memperbaiki semua
barang milik negara/daerah agar
selalu dalam keadaan baik dan siap
digunakan secara berdaya guna dan
berhasil guna

50

TANGGUNG JAWAB
PEMELIHARAAN BMN/D
(1)

(2)

(3)

Pengguna barang dan/atau kuasa pengguna barang


bertanggung jawab atas pemeliharaan barang milik
negara/daerah yang ada di bawah penguasaannya
Pemeliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berpedoman pada Daftar Kebutuhan Pemeliharaan
Barang (DKPB)
Biaya Pemeliharaan barang milik negara/daerah
dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara/Daerah

Catatan : DKPB merupakan bagian dari Daftar Kebutuhan


BMN/D
PP 27 Th. 2014 Ps 46

51

PENILAIAN BMN/D

Penilaian adalah suatu proses kegiatan penelitian


yang selektif didasarkan pada data/fakta yang
objektif dan relevan dengan menggunakan
metode/teknik tertentu untuk memperoleh nilai
barang milik negara/daerah
Penilaian BMN/D dilakukan dalam rangka
penyusunan neraca pemerintah pusat/daerah,
pemanfaatan, dan pemindahtanganan BMN/D.
Penetapan nilai BMN/D dalam rangka penyusunan
neraca pemerintah pusat/daerah dilakukan dengan
berpedoman pada Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP).

Ps. 48 dan 49

52

PEMINDAHTANGANAN
PEMINDAHTANGANAN BMN
BMN/D
/D

Bentuk pemindahtanganan:
Penjualan
Tukar Menukar
Hibah
Penyertaan Modal
Pemerintah/Pemerintah
Daerah
(PMP/PMPD)
53

8. PEMINDAHTANGANAN BMN (LANJUTAN)


8. PEMINDAHTANGANAN BMN (LANJUTAN)

POKOK-POKOK
POKOK-POKOKPEMINDAHTANGANAN
PEMINDAHTANGANAN(1)
(1)

HARUS DGN PERSETUJUAN DPR:


Pemindahtanganan tanah dan/atau
bangunan, dengan beberapa
pengecualian;
Pemindahtanganan Barang Milik Negara
selain tanah dan/atau bangunan di atas
Rp.100 milyar
54

8. PEMINDAHTANGANAN BMN (LANJUTAN)


8. PEMINDAHTANGANAN BMN (LANJUTAN)

POKOK-POKOK
POKOK-POKOKPEMINDAHTANGANAN
PEMINDAHTANGANAN(2)
(2)
TIDAK
TIDAKPERLU
PERLUPERSETUJUAN
PERSETUJUANDPR:
DPR:

Tanah dan/atau bangunan


Tanah dan/atau bangunan
Sudah
Sudahtidak
tidaksesuai
sesuaidengan
dengantata
tataruang
ruangwilayah
wilayahatau
atau
penataan
penataankota;
kota;
Harus
Harusdihapuskan
dihapuskankarena
karenaanggaran
anggaranuntuk
untukbangunan
bangunan
pengganti
penggantisudah
sudahdisediakan
disediakandalam
dalamdokumen
dokumen
penganggaran
penganggaran
Diperuntukkan
Diperuntukkanbagi
bagipegawai
pegawainegeri;
negeri;
Diperuntukkan
Diperuntukkanbagi
bagikepentingan
kepentinganumum;
umum;
Dikuasai
DikuasaiNegara
Negaraberdasarkan
berdasarkankeputusan
keputusan
pengadilan,
pengadilan,yang
yangtelah
telahmemperoleh
memperolehkekuatan
kekuatan
hukum
hukumtetap
tetapdan/atau
dan/atauberdasarkan
berdasarkanketentuan
ketentuan
perundang-undangan,
perundang-undangan,yang
yangjika
jikastatus
status
kepemilikannya
55
kepemilikannyadipertahankan
dipertahankantidak
tidaklayak
layaksecara
secara
ekonomis.

PEMINDAHTANGANAN BMN (LANJUTAN)


8. PEMINDAHTANGANAN BMN (LANJUTAN)

POKOK-POKOK
POKOK-POKOKPEMINDAHTANGANAN
PEMINDAHTANGANAN(3)
(3)
Pengguna Barang

5.

Pe
ny
er

Pe
Pe rse
lak tuj
sa ua
na n
an
4.b

ah
an
BM /pen 1
N gu
su
lan

Pengelola Barang
Pelaksanaan pemindahtanganan
utk. Tanah/bangunan krn RUTW
& selain tanah/bangunan

4.a

PEMINDAHTANGANAN BMN YANG


HARUS DGN PERSETUJUAN DPR

Us
2
ta ul P
ng e
an mi
an nd
BM ah
Pe
N
rs
etu
jua
3
n

a. SK Penghapusan
b. Pelaksanaan pemindahtanganan

DPR
56

8. PEMINDAHTANGANAN BMN (LANJUTAN)


8. PEMINDAHTANGANAN BMN (LANJUTAN)

POKOK-POKOK
POKOK-POKOKPEMINDAHTANGANAN
PEMINDAHTANGANAN(4)
(4)
Pengguna Barang

5.

Pe
ny
er
a

P
Pe erse
lak tuj
sa ua
na n
an
4.b

Pelaksanaan pemindahtanganan
utk. Tanah/bangunan krn RUTW
& selain tanah/bangunan

ha
n
BM1/pen
N gu

PEMINDAHTANGANAN BMN YANG


TIDAK PERLU PERSETUJUAN DPR

su
lan

Pengelola Barang

4.a

Pe
rs

Us
ta ul P
ng e
(R an 2min
p. an da
> 1 BM h
0M N
)

etu
jua
3
n

a. SK Penghapusan
b. Pelaksanaan pemindahtanganan

Presiden
57

PEMUSNAHAN BMN/D
Pemusnahan Barang Milik Negara/Daerah dilakukan dalam hal:
Barang Milik Negara/Daerah tidak dapat digunakan, tidak dapat
dimanfaatkan, dan/atau tidak dapat dipindahtangankan; atau
terdapat alasan lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar, dihancurkan,
ditimbun, ditenggelamkan atau cara lain sesuai dengan
ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

58

PENGHAPUSAN
Penghapusan meliputi:
Penghapusan dari Daftar Barang
Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa
Pengguna dalam hal BMN sudah tidak
berada dalam penguasaan Pengguna
Barang/Kuasa Pengguna Barang; dan
Penghapusan dari Daftar Barang Milik
Negara/Daerah dalam hal BMN sudah
beralih kepemilikan, terjadi pemusnahan,
atau karena sebab lain.
59

PENATAUSAHAAN BMN/D
Inventarisasi
Pembukuan
Pelaporan

60

INVENTARISASI
Ketentuan :
1.
2.

3.

4.

Pengguna barang melakukan inventarisasi BMN/D sekurangkurangnya sekali dalam lima tahun
Dikecualikan tehadap ketentuan tsb terhadap BMN?D yang
berupa persediaan dan konstruksi dalam pengerjaan,
pengguna barang melakukan inventarisasi setiap tahun
Pengguna barang menyampaikan laporan hasil inventarisasi
kepada pengelola barang selambat-lambatnya tiga bulan
setelah selesai inventarisasi
Pengelola barang melakukan inventarisasi BMN/D berupa
tanah dan/atau bangunan yang berada dalam
penguasaannya sekurang-kurangnya sekali dalam lima tahun
61

Garis Besar Tahapan Inventarisasi


Tahap Persiapan :
Membentuk Tim Inventarisasi
Membagi tugas dan menyusun jadual pelaksanaan
Mengumpilkan dokumen BMN/D
Menyiapkan label kode barang sementara
Membuat denah ruangan, nomor ruangan dan menentukan
penanggungjawab ruangan
Menyiapkan kertas kerja

Tahap Pelaksanaan
Menghitung jumlah BMN/D per sub-sub kelompok
Mencatat barang (jenis, merek, jumlah dll) ke dalam kertas
kerja
Menempelkan label kode barang sementara pada barang yang
telah dihitung
Menentukan kondisi barang dengan kriteria : baik, rusak
ringan, rusak berat
62

Garis Besar Tahapan Inventarisasi


Tahap Pelaporan
Menyusun Laporan Hasil Inventarisasi (LHI)
Membandingkan LHI dengan dokumen BMN/D yang ada
Membuat daftar BMN/D yang tidak ditemukan, belum terdaftar
dan yang rusak berat
Menyampaikan LHI, Daftar BMN/D yang tidak ditemukan,
belum tercatat dan rusak berat kepada Penanggung Jawab
UAKPB untuk ditindaklanjuti

Tahap Tindak Lanjut


Menelusuri BMN/D yang tidak ditemukan
Membuat usulan penghapusan BMN/D yang rusak berat
Mencatat hasil inventarisasi ke dalam pembukuan dan
pelaporan BMN/D (Akuntansi BMN/D)

63

PEMBUKUAN
1.

2.

3.

KPB/PB harus melakukan pendaftaran dan


pencatatan BMD ke dalam Daftar Barang Kuasa
Pengguna (DBKP)/Daftar Barang Pengguna
(DBP) menurut penggolongan dan kodefikasi
barang
Pengelola Barang harus melakukan pendaftaran
dan pencatatan BMD ke dalam Daftar Barang
Milik Negara/daerah (DBMN/D) menurut
penggolongan dan kodefikasi barang
Penggolongan dan kodefikasi barang daerah
ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah
mendapat pertimbangan Menteri Keuangan

64

PELAPORAN
1. KPB harus menyusun Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran
(LBKPS) dan Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) untuk
disampaikan ke Pengguna Barang
2. KP harus menyusun Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS)
dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) untuk disampaikan ke
Pengelola Barang
3. PB harus menyusun Laporan Barang Milik Negara/Daerah (LBMN/D)
berupa tanah dan/atau bangunan semesteran dan tahunan
4. PB harus menghimpun LBPS dan LBPT serta LBMN/D berupa tanah
dan/atau bangunan
5. PB harus menyusun LBMN/D berdasarkan hasil penghimpunan laporan
di atas
6. LBMN/D digunakan sebagai bahan menyusun necara pemerintah
pusat/daerah
7. Tata cara pelaksanaan pembukuan, inventarisasi dan pelaporan diatur
lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan

65