Anda di halaman 1dari 7

ORGANISASI PENGUSAHA

Sama halnya dengan pekerja, para pengusaha juga mempunyai hak dan kebebasan untuk
membentuk atau menjadi anggota organisasi atau asosiasi pengusaha. Asosiasi pengusaha
sebagai organisasi atau perhimpunan wakil pimpinan perusahaan-perusahaan merupakan mitra
kerja serikat pekerja dan Pemerintah dalam penanganan masalah-masalah ketenagakerjaan dan
hubungan industrial. Asosiasi pengusaha dapat dibentuk menurut sektor industri atau jenis usaha,
mulai dari tingkat lokal sampai ke tingkat kabupaten, propinsi hingga tingkat pusat atau tingkat
nasional.
Setiap pengusaha berhak untuk membentuk dan menjadi anggota organisasi pengusaha
yaitu Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) yang khusus menangani bidang
ketenagakerjaan dalam rangka pelaksanaan Hubungan Industrial. Hal tersebut tercermin
dari visinya yaitu Terciptanya iklim usaha yang baik bagi dunia usaha dan misinya adalah
Meningkatkan hubungan industrial yang harmonis terutama ditingkat perusahaan,
Merepresentasikan dunia usaha Indonesia di lembaga ketenagakerjaan, dan Melindungi,
membela dan memberdayakan seluruh pelaku usaha khususnya anggota. Untuk menjadi
anggota APINDO Perusahaan dapat mendaftar di Dewan Pengurus Kota/Kabupaten (DPK)
atau di Dewan Pengurus Privinsi (DPP) atau di Dewan Pengurus Nasional (DPN).
Bentuk pelayanan APINDO adalah sebagai berikut :
1.Pembelaan
a. Bantuan hukum baik bersifat konsultatif, pendampingan, legal opinion maupun legal
action di tingkat perusahaan dalam proses :
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI)
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Perlindungan Lingkungan (Environmental).
b. Pendampingan dalam penyusunan, pembuatan dan perpanjangan Peraturan Perusahaan
(PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB).
c. Perundingan Pengusaha dengan Wakil Pekerja/Buruh maupun dengan Pemerintah.
2. Perlindungan
a. Apindo proaktif dan turut serta dalam pembahasan pembuatan kebijakan dan peraturan
ketenagakerjaan di tingkat daerah maupun nasional.
b. Sosialisasi peraturanperaturan ketenagakerjaan tingkat nasional, propinsi dan kabupaten
c. Proaktif dalam pembahasan penetapan upah minimum propinsi dan kabupaten
d. Ikut serta mendorong penciptaan iklim hubungan industrial yang harmonis, dinamis dan
berkeadilan bagi dunia usaha melalui forum LKS Bipartit maupun LKS Tripartit
3. Pemberdayaan
a. Penyediaan informasi ketenagakerjaan yang selalu terbarukan dan relevan
b. Pelatihan/seminar masalah ketenagakerjaan di dalam dan di luar negeri

c. Konsultasi ketenagakerjaan mulai dari rekruitmen, tata laksana sampai pasca kerja, termasuk
keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan perlindungan Lingkungan.

Lembaga Kerjasama (LKS) Bipartit


A. Latar Belakang
Di dalam sebuah perusahaan, baik itu pengusaha maupun pekerja pada dasarnya memiliki
kepentingan atas kelangsungan usaha dan keberhasilan perusahaan. Perusahaan memiliki
kepentingan untuk mendapatkan keuntungan sekaligus juga mengharapkan adanya
ketenangan dan kenyamanan dalam menjalankan usahanya itu. Sementara dari sisi
pekerja, perusahaan merupakan sumber penghasilan dan kesempatan untuk
mengembangkan diri.
Namun disadari pula bahwa walau keduanya memiliki kepentingan terhadap keberhasilan
perusahaan ini, konflik diantara keduanya dimungkinkan untuk dapat terjadi. Hal ini
tidak lepas dari adanya perbedaan kepentingan dalam melihat keberhasilan perusahaan
itu. Bila sampai terjadi konflik antara pekerja dan pengusaha, maka dapat dipastikan
bahwa keberhasilan perusahaan bisa jadi hanya akan menjadi mimpi yang indah. Karena
terjadinya konflik berarti tidak adanya ketenangan bekerja dan juga tidak adanya
ketenangan usaha. Akibat besarnya perusahaan akan menderita kerugian yang yang
sangat besar atas konflik yang terjadi.
Menyadari akibat negatif dari konflik antara pekerja dengan pengusaha, timbullah
gagasan untuk mencoba menjembatani konflik tersebut dengan membentuk wadah dialog
antara serikat pekerja/ pekerja dengan pengusaha. Wadah dialog ini diharapkan sedikit
demi sedikit konflik tersebut dapat ditekan dan kerjasama antara serikat pekerja/ pekerja
dengan pengusaha dapat meningkat.
Pembentukan wadah kerjasama antara serikat pekerja/ pekerja dengan pengusaha akan
sangat strategis dan cukup meyakinkan karena adanya faktor faktor yang mendorongnya,
antara lain:
a. Berkembangnya pandangan orang tentang demokrasi, Selama ini orang beranggapan
bahwa demokrasi yang dikembangkan dalam masyarakat (khusunya masyarakat pekerja)
ternyata berhenti di pintu perusahaan. Hal ini disebabkan karena di dalam perusahaan
tidak ada lagi demokrasi. Dalam rangka menerapkan demokrasi di dalam perusahaan,
maka perlu para pekerja diberikan kesempatan untuk turut serta memberi masukan
kepada pengusaha dalam menentukan kebijaksanaan perusahaan. Oleh karena itu perlu
dibentuk suatu wadah agar pekerja dapat berpartisipasi dalam menentukan kebijaksanaan
perusahaan.
b. Dalam era globalisasi diprediksikan akan terjadi persaingan yang sangat ketat di
berbagai bidang. Oleh karena itu diperlukan peningkatan kerjasama antara serikat
pekerja/ pekerja dengan pengusaha.
Wadah kerjasama berupa dialog ini mulai mengemuka dengan melihat kepada beberapa
hal:

1. Wadah kerjasama dipandang sebagai pelaksanaan dari demokrasi industrial.


2. Wadah kerjasama dipandang sebagai wujud partisipasi pekerja dalam penentuan
kebijaksanaan perusahaan.
3. Wadah kerjasama dipandang sebagai pembagian kekuasaan di dalam perusahaan
(powersharing)
Bentuk kerjasama antara pekerja dan pengusaha yang dikemukakan di Indonesia dikenal
dengan nama LEMBAGA KERJASAMA BIPARTIT yang diatur secara resmi dengan
Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No 255/MEN/2003 tentang
Lembaga Kerjasama Bipartit.
Dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 106 ayat (1)
disebutkan bahwa Setiap Perusahaan yang mempekerjakan 50 (lima puluh) orang
pekerja/ buruh atau lebih wajib membentuk Lembaga Kerjasama Bipartit.
B. Pengertian
LEMBAGA KERJASAMA BIPARTIT (LKS BIPARTIT) adalah forum komunikasi dan
konsultasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial di satu
perusahaan yang anggotanya terdiri dari pengusaha dan serikat pekerja yang sudah
tercatat di instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan atau unsur pekerja.
Yang perlu dipahami bahwa Lembaga Kerjasama Bipartit atau sering juga disebut Forum
Bipartit, berbeda dengan penyelesaian secara bipartit sebagai sebuah mekanisme
penyelesaian perselisihan hubungan industrial. Lembaga Kerjasama Bipartit lebih bersifat
sebagai forum komunikasi antara pekerja dengan pengusaha yang membahas berbagai
permasalahan di perusahaan atau hanya sebagai forum tempat berbagi informasi.
Sedangkan Penyelesaian secara bipartit adalah pertemuan antara pekerja dan pengusaha
dalam merundingkan suatu suatu permasalahan (contoh: tuntutan dari pekerja) untuk
mencari penyelesaiannya.
C. Fungsi
Lembaga Kerjasama Bipartit berfungsi:
a. Sebagai forum komunikasi, konsultasi dan musyawarah antara pengusaha dan wakil
serikat pekerja atau pekerja pada tingkat perusahaan;
b. Sebagai forum untuk membahas masalah hubungan industrial di perusahaan atau unitunit kerja perusahaan untuk meningkatkan produktivitas kerja, disiplin kerja, ketenangan
kerja dan ketenangan usaha.
D. Tugas
Lembaga Kerjasama Bipartit mempunyai tugas:
Melakukan pertemuan secara periodik dan/atau sewaktu-waktu apabila diperlukan;
Mengkomunikasikan kebijakan pengusaha dan aspirasi pekerja berkaitan dengan
kesejahteraan pekerja dan kelangsungan usaha;

Melakukan deteksi dini dan menampung permasalahan hubungan industrial di


perusahaan;
Menyampaikan saran dan pertimbangan kepada pengusaha dalam penetapan kebijakan
perusahaan;
Menyampaikan saran dan pendapat kepada pekerja dan/atau serikat pekerja.
Sebagai catatan: Adanya Lembaga Kerjasama Bipartit ini tidak mengambil alih fungsi
dari Organisasi Pekerja. Karena itu dari Lembaga Kerjasama Bipartit ini tidak dihasilkan
suatu keputusan yang mengikat tetapi hanya berupa saran. Oleh sebab itu
keanggotaannya tidak seluruhnya dari pengurus Organisasi Pekerja tetapi bisa saja wakil
dari masing-masing bagian. Selain itu Lembaga Kerjasama Bipartit pun tidak digunakan
untuk media perundingan antara pekerja dan pengusaha.
E. Kepengurusan & Keanggotaan Lembaga
a. Setiap perusahaan yang mempekerjakan 50 (lima puluh) orang pekerja atau lebih wajib
membentuk LKS Bipartit.
b. Pembentukan LKS Bipartit dilakukan secara musyawarah antara Pengusaha dengan
Wakil Serikat Pekerja atau Wakil Pekerja.
a. Kepengurusan Lembaga Kerjasama Bipartit bersifat kolektif dan kekeluargaan.
b. Susunan Keanggotaan Lembaga Kerjasama Bipartit terdiri dari unsur pengusaha dan
unsur pekerja dengan komposisi perbandingan 1 : 1 yang jumlahnya disesuaikan
kebutuhan dengan ketentuan paling sedikit 6 (enam) orang dan paling banyak 20 (dua
puluh) orang.
c. Komposisi pengurus sekurang-kurangnya terdiri dari seorang Ketua, seorang
Sekretaris, dan Anggota.
d. Jabatan Ketua LKS Bipartit dapat dijabat secara bergantian antara wakil pengusaha dan
wakil pekerja.
e. Masa Kerja keanggotaan LKS Bipartit 2 (dua) tahun.
f. Masa jabatan keanggotaan LKS Bipartit Berakhir apabila:
Meninggal Dunia;
Mutasi atau keluar dari perusahaan;
Mengundurkan diri sebagai anggota lembaga;
Diganti atas usul dari unsur yang diwakilinya;
Sebab-sebab lain yang menghalangi tugas-tugas dalam keanggotaan lembaga.
g. Pergantian keanggotaan LKS Bipartit sebelum berakhirnya masa jabatan dapat
dilakukan atas usul dari unsur yang diwakilinya.
h. Pergantian keanggotaan LKS Bipartit diberitahukan kepada instansi yang
bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan.
Ada baiknya dalam kepengurusan Lembaga Kerjasama Bipartit ini dari pihak pengusaha
salah seorang direksi ikut di dalamnya. Hal ini dimaksudkan agar komunikasi yang
terjadi dapat cepat sampai ke tingkat yang paling atas di perusahaan. Sedangkan dari

pihak pekerja paling baik bila terdiri dari wakil pengurus serikat pekerja ditambah dengan
wakil-wakil pekerja dari tiap-tiap bagian. Harapannya dengan komposisi seperti itu,
masukan dari tiap-tiap bagian yang ada di perusahaan dapat terhimpun dalam pertemuan
ini.
F. Tugas-Tugas Pengurus
1. Ketua memimpin sidang-sidang bersama sekretaris, menandatangi hasil-hasil sidang
untuk diteruskan kepada pihak yang berkepentingan berupa saran-saran,
2. Sekretaris menyiapkan agenda sidang, membuat risalah sidang, dan bertanggung jawab
atas permasalahan administrasi;
3. Pengurus menetapkan jadwal dan acara-acara sidang, menyusun tata kerja maupun
program kerja;
G. Mekanisme Kerja
a. Penentuan waktu, acara dan materi sidang Lembaga Kerjasama Bipartit dapat
diusulkan oleh Pengusaha atau dari pihak pekerja.
b. Lembaga Kerjasama Bipartit merupakan lembaga tersendiri dan bekerjasama dengan
lembaga-lembaga lainnya seperti P2K3, Organisasi Pekerja, dan lain-lain.
c. Mekanisme atau hubungan kerja dengan lembaga-lembaga lain bersifat koordinatif,
konsultatif dan komunikatif.
d. Lembaga Kerjasama Bipartit tidak mengambil alih tugas Organisasi Pekerja maupun
hak Pimpinan Perusahaan.
e. Hasil konsultasi dan komunikasi yang dicapai hanya terbatas untuk konsumsi intern
perusahaan dan merupakan saran, rekomendasi, memorandum bagi pimpinan perusahan
dan pekerja.
f. Setiap 6 (enam) bulan sekali, hasil kegiatan LKS Bipartit dilaporkan kepada instansi
yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan Kabupaten/ Kota.
H. Tata Cara Persidangan
1. Pengurus menetapkan jadwal dan tema persidangan baik secara periodik maupun
insidentil;
2. Jadwal pertemuan dilakukan minimal 1 (satu) kali dalam sebulan atau setiap dipandang
perlu.
3. Pertemuan insidentil disesuaikan dengan kebutuhan atas permintaan salah satu pihak
dan atas persetujuan pihak lain, untuk setiap permintaan pertemuan agar diajukan baik
secara tertulis maupun lisan;
4. Hasil-hasil pertemuan dilaporkan kepada pimpinan perusahaan dan pengurus serikat
pekerja sebagai masukan bahan pertimbangan untuk mengambil kebijakan atau
keputusan.
Beberapa tema yang dapat dijadikan pokok bahasan pada Lembaga Kerjasama Bipartit
a. Sosialisasi mengenai General Increase di awal Tahan

b. Company Performance
c. Proses Penilaian Karya
d. Kejelasan ketentuan Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB)
e. Kondisi kerja dan perbaikan cara kerja
f. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
g. Produktifitas kerja
h. Disiplin Kerja
i. Pengembangan peran pekerja
j. Lain-lain
I. Kewenangan Lembaga Kerjasama Bipartit
a. Saran yang merupakan hasil kesepakatan kedua belah pihak, pelaksanaannya tidak
mengikat.
b. Rekomendasi merupakan kesepakatan yang mempunyai bobot yang urgen untuk
diperhatikan sebagai pertimbangan dalam pelaksanaan.
c. Memorandum merupakan hasil kesepakatan yang sudah pernah diajukan kepada kedua
belah pihak atau ketentuan-ketentuan lain yang sudah disepakati oleh masing-masing
pihak tetapi belum terealisir atau dilaksanakan.
J. Tahap-Tahap Pembentukan
PERTEMUAN PENGUSAHA DENGAN SERIKAT PEKERJA ATAU PEKERJA
Pertemuan Pembentukan LKS Bipartit
Pengusaha dan Wakil Serikat Pekerja dan/atau Wakil Pekerja mengadakan musyawarah
untuk membentuk, menunjuk dan menetapkan anggota LKS Bipartit di perusahaan.
Dalam pertemuan ditetapkan jumlah anggota LKS Bipartit yang akan dibentuk dengan
ketentuan paling sedikit 6 (enam) orang dan paling banyak 20 (dua puluh) orang.
Komposisi perbandingan anggota LKS Bipartit dari unsur pengusaha dengan unsur
pekerja adalah 1 : 1 (satu banding 1), artinya jumlah anggota dari pengusaha dan pekerja
sama jumlahnya.
Lembaga Tripartit
Lembaga Kerjasama Tripartit merupakan LKS yang anggotaanggotanya terdiri dari
unsur-unsur pemerintahan, organisasi pekerja dan organisasi pengusaha untuk saling
bertukar informasi, berdialog, berkomunikasi, berunding dan mengambil kesepakatan
bersama secara consensus di bidang hubungan industrial serta mengenai kebijakan
ekonomi social pada umumnya. Fungsi lembaga kerjasama Tripartit adalah sebagai
FORUM Komunikasi, Konsultasi dengan tugas utama menyatukan konsepsi, sikap dan
rencana dalam mengahadapi masalahmasalah ketenagakerjaan, baik berdimensi waktu
saat sekarang yang telah timbul karena faktor-faktor yang tidak diduga maupun untuk
mengatasi halhal yang akan datang.

Lembaga Kerja sama Tripartit terdiri dari:


1. Lembaga Kerja sama Tripartit Nasional, Provinsi dan Kabupataen/Kota; dan
2. Lembaga Kerja sama Tripartit Sektoral Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.
3. Peraturan perusahaan;
Peraturan perusahaan adalah peraturan yang dibuat secara tertulis oleh pengusaha yang
memuat syarat-syarat kerja dan tata tertib perusahaan. Pengusaha yang mempekerjakan
pekerja/buruh sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orang wajib membuat peraturan
perusahaan yang mulai berlaku setelah disahkan oleh Menteri atau Pejabat yang ditunjuk.
Peranan Lembaga Kerjasama Tripartit :
Tukar Menukar informasi
Menggalang komunikasi dan kerjasama yang sebaik-baiknya antara pemerintah, pekerja
dan pengusaha.
Menampung, merumuskan dan memecahkan maslah-maslaah yang menyangkut
kepentingan bersama.
Konsultasi
Negosiasi atau perundingan
Lembaga Kerjasama Tripartit tertentu dapat menerbitkan keputusan bersama sesuai
dengan kewenangan yang diberikan oleh peraturan perundangan-undangan, antara lain
panitia penyelesaian perselisihan perburuhan
Tujuan
1. Menjadi wadah pengembangan gagasan kerjasama yang serasi
2. Meningkatkan produksi dan produktivitas serta perluasan kesempatan kerja
3. Pemerataan pendapatan dan hasil-hasil dalam pembangunan