Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO A BLOK 27

LISA YUNIARTI
04111401049
Kelompok 2

Pembimbing : dr. Maznah Hamzah

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA PALEMBANG
2014
1

III. Analisis Masalah


1a. Apa saja sistem yang mungkin terganggu pada pasien ini (kepala, thoraks, dan
ekstremitas bawah)? Apa saja jenis trauma yang mungkin dialami pasien dan
bagaimana mekanismenya?

Gangguan Breathing. Karena didapat gejala-gejala seperti sesak napas, sianosis,


pergerakan dinding dada yang asimetris, dan laju pernapasan yang tinggi. Diakibatkan
karena adanya Tension Pneumothorax akibat fraktur costae IX, X, dan XI. Terjadi

gangguan sistem respirasi


Gangguan Circulation. Didapat gejala-gejala seperti hipotensi, takikardi lemah, sianosis,
kulit yang pucat dan dingin, serta keringat dingin. Diakibatkan karena adanya syok

obstruktif akibat adanya Tension Pneumothorax


Gangguan Disability. Didapat gejala yaitu adanya limitasi gerakan, khususnya pada
tungkai bawah kanan. Diakibatkan karena adanya fraktur tulang femur akibat trauma.
Trauma yang terjadi pada Tuan Sopir yaitu trauma kepala, trauma thoraks dan trauma

femur. Namun apa bila dilihat dari mekanisme terjadi kecelakaan, korban mengalami
beberapa trauma:
a. Kemungkinan lutut membentur dasbord: fraktur patela dan atau luksasi sendi
panggul, fraktur femur
b. Kemungkinan benturan kaca mobil: trauma kepala, cedera otak, fraktur servikal
c. Dada terbentur kemudi: fraktur sternum, fraktur iga, cedera jantung, cedera paru.
Trauma yang terjadi dalam kasus ini adalah trauma tumpul. Mekanisme trauma
bertujuan mencari cedera lain yang saat ini belum tampak dengan mencari tahu:
a.
b.
c.
d.
e.

Dimana posisi penderita saat kecelakaan: pengemudi


Posisi setelah kecelakaan: terlempar keluar, tergeletak di jalan
Kerusakan bag luar kendaraan: bag depan hancur, kaca depan pecah,
Kerusakan bag dalam mobil: tidak di jelaskan
Sabuk pengaman, jarak jatuh, ledakan dll: tidak di jelaskan

Dari skenario diketahui :Mobil melaju kencangnabrak tiang listrik sampai


bengkokbagian depan mobil hancur dan kaca depan pecah sopir terlempar keluar
multipel trauma(kemungkinan cedera seluruh tubuh).
Pada trauma kepala, yang mungkin terganggu adalah otak dan jalan napas seperti
hidung, faring, dan laring. Cedera pada otak dapat berupa epidural hematom, subdural
hematom, intraserebral hematom, hematom yang sifatnya difus dan herniasi. Gangguan pada
jalan napas pada cedera kepala biasanya adalah obstruksi jalan napas ditandai dengan retraksi
interkosta, pernafasan cuping hidung, dan suara napas abnormal seperti snoring, gurgling dan
2

stridor. Mengorok (snoring) menandakan airway tersumbat oleh lidah atau jaringan jaringan
padat di tenggorokan. Bunyi kumur kumur (gurgling) disebabkan adanya obstruksi oleh
cairan seperti isi lambung, darah, atau cairan lain yang mungkin ada di jalan napas. Stridor
adalah suara yang keras selama menarik nafas (inspirasi) kemungkinan karena laring yang
membengkak dan menyumbat airway bagian atas atau sumbatan parsial oleh benda asing.
Suara tersebut timbul akibat pergerakan udara melewati bagian yang mengalami sumbatan.
Pada obstruksi total, tidak dirasakan adanya hembusan udara.
Pada trauma thoraks, organ yang mungkin terganggu adalah jantung dan paru-paru.
Gangguan pada jantung dapat berupa pendarahan dan tamponade jantung, Tamponade
jantung terjadi akibat pendarahan intrapericardial. Akumulasi darah intrapericardial
mengakibatkan tekanan intrapericardial meningkat dan jantung lebih sulit mengembang. Hal
ini akan mengakibatkan berkurangnya stroke volume dan cardiac output sehingga mengarah
ke syok dan kematian.
Gangguan pada paru dapat berupa pneumothorax, haemothorax, dan flail chest.
Pneumothorax disebabkan masuknya udara ke rongga pleura sehingga tekanan dalam thorax
meningkat. Pneumothorax dapat dibagi menjadi tension pneumothorax dan simpel
pneumothorax. Tension pneumothorax terjadi ketika udara masuk ke rongga pleura saat
inspirasi melalui suatu daerah yang menyerupai katub satu arah sehingga udara terjebak di
dalam rongga pleura. Tension pneumothorax ditandai dengan deviasi trakea, hipersonor pada
daerah yang mengalami pneumothoraks, dan suara napas menjauh (terdengar lebih kecil).
Simpel pneumothorax terjadi ketika suatu trauma mengakibatkan rongga pleura berhubungan
langsung dengan udara luar sehingga tekanan intrapleural menjadi sama dengan tekanan
udara luar. Bedanya, pada kasus simpel pneumothorax, udara bebas keluar masuk melalui
lubang tersebut. Haemothorax adalah keadaan dimana rongga pleura berisi darah, ditandai
dengan daerah paru yang redup saat perkusi, syok dan suara napas menghilang. Flail chest
adalah kegagalan rongga paru atau sebagian rongga paru untuk mengembang sehingga fungsi
ventilasi menjadi tidak efisien, biasanya terjadi akibat fraktur pada beberapa iga yang
berdekatan.
Trauma pada ekstremitas dapat berupa dislokasi sendi dan fraktur. Dislokasi sendi
adalah bergesernya sendi dari posisi semestinya, sedangkan fraktur adalah patah tulang.
Fraktur pada femur dapat mengakibatkan syok akibat pendarahan karena pada tulang femur
terdapat pembuluh arteri besar yaitu arteri femoralis yang dapat terluka pada saat tulang
femur patah. Fraktur ditandai dengan adanya memar, hematom, nyeri saat digerakkan dan
ditekan, krepitasi dan deformitas pada ekstremitas yang mengalami fraktur.
3

1b. Bagaimana mekanisme merintih, sesak dan nyeri di dada kanan?

Benturan yang sangat hebat pada bagian thorax fraktur costa 9, 10, 11 anterior
dextra costa yang patah,menembus pleura dan merobek paru-paru terjadi
kebocoran udara udara masuk ke dalam rongga pleura dan tidak dapat keluar lagi
(one way valve) dada terasa sesak, dan merintih saat melakukan usaha napas akibat

nyeri pasca trauma.


Nyeri dada disebabkan oleh fraktur pada costae 9 -11 ditandai adanya tanda crepitasi
pada daerah tersebut, crepitasi merupakan gesekan antara tulang yang terjadi fraktur
dan menyebabkan rasa nyeri yang hebat terutama apabila kita palapasi.

1c. Bagaimana mekanisme nyeri paha kiri?

Fraktur femur menimbulkan rasa nyeri yang sangat karena terjadi gesekan antara
segment tulang dan merangsang serabut syaraf afferent (sensorik) pada tulang tersebut.

1d. Tindakan awal pada pasien di tempat kejadian dan peralatan apa saja yang
diperlukan?
Pertama lakukan Triage yaitu penilaian vital dan kondisi pasien. Lakukan uji respon
pasien dengan menepuk pundak dan mengurut bagian sternum. Lalu ukur denyut nadi pada a.
Brachialis atau a. Carotis dalam waktu 10 detik. Bila ada denyut maka lanjutkan ke Primary
Survey ABC, namun bila tidak ada denyut maka lakukan resusitasi jantung paru (primary
survey CAB). Posisikan pasien terlentang dengan benar. Nilai jenis trauma yang dialami,
nilai trauma/cedera pada organ, dan nilai kondisi awal pasien.
Kedua Penanganan yang dapat dilakukan pada pasien dengan trauma dilokasi
kecelakaan adalah primary survey untuk mengenali keadaan yang mengancam nyawa. Yang
terdiri dari :
a. A : Airway, menjaga jalan nafas tetap bebas dengan control servikal (cervical spine
control). Jika ada obstruksi maka lakukan :
Chin lift / jaw thrust (lidah itu bertaut pada rahang bawah)
Suction / hisap (jika alat tersedia)
Guedel airway / nasopharyngeal airway
Intubasi trakhea dengan leher di tahan (imobilisasi) pada posisi netral
b. B : Breathing, menjaga pernafasan cukup. Jika pernafasan tidak memadai maka lakukan :
Dekompresi rongga pleura (pneumotoraks)
Tutuplah jika ada luka robek pada dinding dada
Pernafasan buatan

Identifikasi dengan prinsip look, listen, feel dan lakukan terapi awal jenis cedera
seperti : tension pneumothorax, pneumotoraks terbuka, flail chest, hemotoraks massif dan
tamponade jantung.
Jika ditemukan tanda-tanda pneumotoraks seperti pada kasus:
1) Look : inspeksi pergerakan dada simetris/asimetris, pemakaian otot tambahan
pernafasan, deviasi trakea, distensi vena jugularis dan tanda-tanda cedera lain.
2) Listen : auskultasi toraks bilateral, penurunan atau tidak terdengarnya suara nafas
pada satu atau kedua hemitoraks merupakan tanda adanya cedera dada.
3) Feel : perkusi untuk menentukan apakah redup atau hipersonor, ada krepitasi yang
mengindikasikan fraktur, tentukan posisi trakea (di tengah atau mengalami deviasi)
Segera lakukan dekompresi dan penaggulangan awal dengan cepat berupa insersi
jarum yang berukuran besar pada sela iga dua garis midclavicular pada hemitoraks yang
terkena. Tindakan ini akan mengubah tension pneumothorax menjadi pneumotoraks
sederhana. Evaluasi ulang selalu diperlukan. Terapi definitive selalu dibutuhkan dengan
pemasangan selang dada (chest tube) pada sela iga ke 5 (setinggi putting susu) di anterior
dari garis midaxillaris.
c. C : Circulation, dengan control perdarahan dan kenali tanda-tanda syok. Jika sirkulasi
tidak memadai maka lakukan :
Hentikan perdarahan eksternal
Segera pasang dua jalur infus dengan jarum besar (14 - 16 G)
Berikan infus cairan
d. D : Disability , status neurologis.
Pemeriksaan GCS
Tanda-tanda herniasi/lateralisasi (pupil anisokor, hemiparese)
e. E : Exposure/ environmental : buka baju penderita dan cegah hipotermia
Keadaan lain yang berbahaya adalah kemungkinan perdarahan dalam karena fraktur
femur yang menyebabkan trauma arteri femoralis. Untuk meringankan gejala maka harus
dilakukan pemidaian yang dapat meng-imobilisasi fraktur sehingga nyeri dapat dikurangi
dan perdarahan tidak terlalu banyak. Pemasangan bidai yang baik dapat menurunkan
perdarahan secara nyata dengan mengurangi gerakan dan meningkatkan pengaruh
tamponade otot sekitar fraktur. Penekanan pada arteri tidak disarakankan karena
ditakutkan akan berakibat menurunnya vaskularisasi ke distal ekstremitas bawah.
a. Peralatan
Pembalut biasa, Pembalut segitiga,
Kasa steril, Plester/Perban, Kapas
Tourniquet, Alat suntik
Alat-alat bedah sederhana
Tandu, Bidai
Masker
5

b. Obat-obatan
1. Obat-obat antiseptik
2. Obat-obat suntikan
3. Obat-obat oral
2a. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal pada kasus?
-

Pada Kasus
Pasien sadar tapi terlihat bingung,
cemas

GCS : 13 (E:3, M:6, V:4)

Tanda vital :
laju respirasi 40x/menit, kesulitan
bernafas
nadi :110x/menit,lemah,
-

TD : 90/50 mmhg
Wajah dan bibir terlihat kebiruan,
Kulit pucat, dingin,berkeringat
dingin

Interpretasi
Terjadi karena berkurangnya aliran
darah ke otak akibat dari syok
Penurunan kesadaran karena
berkurangnya aliran darah ke otak
Kompensasi tubuh karena
berkurangnya perfusi O2
Kompensasi tubuh untuk
meningkatkan aliran darah akibat syok
obstruktif
Hipotensi karena terjadi syok
obstruktif
Kurangnya aliran darah yang
mengandung O2

RR = 40 x/menit takipneu
Mekanisme: sesak nafas dapat timbul akibat pengembangan paru yang tidak
optimal akibat tension pneumotaraks atau dapat juga disebabkan sebagai kompensasi

akibat perdarahan yang terjadi untuk memenuhi kebutuhan oksigen.


HR =110 x/menit, lemah, takikardi dengan tekanan atau isi nadi lemah.
Mekanisme: perdarahan massif kehilangan darah dalam jumlah banyak
hipoperfusi arteri kompensasi untuk mencukupi kebutuhan dengan mempercepat
frekuensi jantung. Volume darah yang kurang menyebabkan nadi tersa lemah pada

perifer.
TD = 90/50 mmHg hipotensi
Mekanisme: hipoperfusi menurunkan stroke volume atau volume sekuncup
jantung menurunkan tekanan darah

Wajah dan bibir terlihat kebiruan, kulit pucat, dingin, berkeringat dingin
Wajah dan bibir yang kebiruan menunjukkan sudah terjadinya sianosis sentral.
Mekanisme : Hipoperfusi pada jaringan tidak tercukupinya kebutuhan oksigen
sianosis wajah dan bibir tampak biru.
Kulit pucat, dingin, berkeringat dingin. Mekanisme : Mekanisme : Adanya
pendarahan menyebabkan berkurangnya volume darah dalam vaskular (hipovolemia).
6

Hal ini menyebabkan tekanan arteri berkurang. Kemudian baroreseptor arteri (sinus
karotikus dan arkus aorta) dan reseptor regangan vaskular merespon penurunan
tersebut. Perubahan yang ditangkap oleh reseptor tersebut memberikan stimulus

kepada saraf simpatis yang menyebabkan keringat dingin.


GCS 13 : Pasien dengan kesadaran menurun. Trauma kranio serebral ringan (GCS =
13-15)

2b. Apa saja jenis syok dan kriteria menegakkan diagnosis syok?
2c. Apakah pasien sudah masuk dalam keadaan syok? Apa jenis syok yang dialami
pasien?
2d. Bagaimana cara melakukan penilaian dan menginterpretasi hasil pengukuran
GCS?
Prosedur kerjanya adalah lakukan test pada orang coba dengan menyesuaikan nilai
yang terdapat pada kolom dibawah ini, kemudian hasil pada setiap respon dijumlahkan,
selanjutnya sesuaikan dengan kategori tingkat kesadaran

Interpretasi:

GCS 14-15 -> Cidera kepala ringan

GCS 9-13 -> Cidera kepala sedang

GCS 3-8 -> Cidera kepala berat


7

3a. Bagaimana cara memobilisasi pasien ke UGD?


Dokter/ penolong harus mengevaluasi dengan prinsip yang sama seperti primary
survey. Untuk membawa pasien, dokter/penolong harus mengimobilisasi apabila pasien
mengalami fraktur, tatalaksana dengan cairan kristaloid untuk mencegah syok saat perjalanan
ke UGD, kemudian tutup/kompresi apabila ada luka robek.
3b. Bagaimana penatalaksanaan pasien di UGD?
Di exposure seperti membuka baju pasien , kemudian evaluasi lagi vital sign,
kemudian tindakan antiseptic pada pasien dengan luka robek, untuk pasien pneumothoraks
diberikan water seal drain dengan tujuan mengurangi udara pada rongga pleura.
3c. Bagaimana kriteria merujuk ke RSMH?
Kriteria Rujukan Antar Rumah Sakit , bila keadaan rumah sakit tidak mencukupi
kebutuhan pasien
KEADAAN KLINIS
Susunan saraf
pusat

Toraks

Pelvis/ abdomen

Ekstremitas

Cedera multisistem

Trauma kapitis
Luka tembus atau fraktur impresi
Luka terbuka, dengan atau tanpa kebocoran
cairan serebrospinal
GCS < 14 atau penurunan GCS
Tanda lateralisasi
Trauma medula spinalis atau fraktur vertebra
yang berat
Mediastinum melebar atau curiga cedera
pembuluh darah besar
Cedera dinding dada berat atau kontusio paru
Cedera jantung
Pasien yang membutuhkan ventilasi untuk
waktu lama
Kerusakan pelvic ring yang tidak stabil
Kerusakan pelvic ring dengan syok dan tanda
perdarahan berlanjut
Fraktur pelvis terbuka
Fraktur terbuka yang berat
Traumatik amputasi yang mungkin masih
dapat dilakukan reimplantasi
Fraktur intraartikular yang rumit
Crush injury yang berat
Iskemia
Trauma kapitis disertai trauma wajah, toraks,
abdomen atau pelvis
Cedera pada dua atau lebih regio tubuh
Luka bakar berat , atau luka bakar dengan
8

Fraktur komorbid

Penurunan
keadaan lebih
lanjut (late
sequele)

cedera lain
Fraktur tulang panjang proksimal pada lebih
dari satu tulang
Umur > 55 tahun
Anak-anak
Penyakit jantung atau pernafasan
Insulin independen diabetes melitus , obesitas
morbid
Kehamilan
imunosupresi
diperlukan ventilasi mekanik
sepsis
kegagalan organ tunggal atau multipel
(penurunan keadaan susunan saraf pusat,
jantung, pernafasan, hepar, ginjal atau sistem
koagulasi)
nekrosis jaringan yang luas

3d. Apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum merujuk pasien ke RSMH?
Pengelolaan selama transport: Petugas pendamping harus yang terlatih, tergantung
keadaan pasien, dan masalah yang mungkin akan timbul

Monitoring tanda vital dan pulse oximetry


Bantuan kardio-respirasi dimana diperlukan
Pemberian darah bila diperlukan, dalam kasus ini cukup memberikan cairan intravena

kristaloid
Pemberian obat sesuai instruksi dokter, atau sesuai prosedur tetap
Menjaga komunikasi dengan dokter selama transportasi
Melakukan dokumentasi selama transportasi

4a. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal?


Interpretasi pemeriksaan kepala
Keadaan korban
Keadaan normal
Luka lecet di dahi Tidak ada luka
dan pelipis kanan
2-4 cm

Interpretasi
Terdapat luka pada
bagian dahi dan
pelipis

Mekanisme
Kecelakaan
benturan (trauma)
kapitis jaringan
kulit tergores
luka lecet pelipis
dan dahi

Interpretasi pemeriksaan leher

Keadaan korban
Keadaan normal
Trakea bergeser ke Trakea di tengah
kiri

interpretasi
Akumulasi
udara
di
pleura
menggeser
trakea
ke
arah
yg
berlawanan

Distensi
jugularis

Venous
return
terhambat

vena JVP 5-2

Mekanisme
Trauma
tumpul

mengenai thoraks fraktur


iga

tension
pneumothoraks kanan
udara dirongga pleural
peningkatan tekanan intra
pleural trakea bergeser
kekiri
Trauma
tumpul

mengenai
thoraks

fraktur iga tension


pneumothoraks kanan
udara dirongga pleural
peningkatan tekanan intra
pleural menghambat
venous retrun distensi
vena jugularis

Inte
PemerPemeriksaan toraks
Keadaan korban
Keadaan
normal
Inspeksi:
- Gerakan
Simetris
dinding dada
asimetris,
kanan
tertinggal,
RR
40x/ 16-24x/ menit
menit
-

Tidak
Tampak
memar
memar
disekitar dada
kanan bawah
sampai
ke
samping

Interpretasi

Mekanisme

Gangguan
Trauma dada fraktur
pertukaran O2 di costae 9, 10, 11
paru-paru
memar disekitar dada
kanan bawah sampai
samping Dan tulang
costae menusuk pleura
Takipneu
dan parenkim paru
fenomena one way
Adanya
dilatasi valve gangguan
ada pembuluh darah, ekspansi paru kanan
karena benturan
gerakan dinding dada
tidak
simetris,
kompensasi
dengan
bernafas cepat

10

Auskultasi
- Bunyi nafas Bunyi
nafas Terjadi gangguan
kiri dan kanan ventilasi
kanan
sama
(penurunan bunyi
melemah,
nafas pada daerah
bising nafas
trauma)
kiri terdengar
jelas
-

Bunyi
jantung
terdengar
jelas, cepat,
frekuensi
110x/menit

Bunyi jantung Jantung berusaha


terdengar
memompa keras,
jelas, sedang, takhikardia
frekuensi 60100x/menit

Fenomena one way


valve tekanan
intrapleura paru-paru
kanan kolepsbising
kanan<kiri
Aliran darah ke jantung
tidak adekuat jantung
berusaha
memompa
lebih kuat dan cepat

Palpasi
- Nyeri tekan Tidak
pada
dada tekan
kanan bawah,
sampai
ke
samping(loka
si memar)
-

nyeri Frakture costae, Kecelakaan lalu lintas


tanda trauma dada trauma tumpul pada
toraks fraktur iga 9,
10, 11 krepitasi iga
9,10,11 Dan tulang iga
tersebut menusuk pleura
dan parenkim paru
Tidak
ada Fraktur costae
Krepitasi
menekan
saraf-saraf
pada
kosta krepitasi
parietal nyeri.
9,10,11 kanan
depan

Perkusi
- Kanan
hipersonor,
kiri sonor

Keduanya
sonor

Paru kanan lebih Fenomena one way


banyak udara dari valve udara masuk
kiri
ketika inspirasi tapi
tidak dapat keluar dan
terperangkat di parietal
saat ekspirasi udara
menumpuk
menekan
paru jika diperkusi
hipersonor

Kesimpulan pemeriksaan toraks:


Terdapat tanda- tanda tension pneumotoraks, yaitu: nyeri dada, distres pernafasan,
takikardi, hipotensi deviasi trakea, hilangnya suara paru pada satu sisi yng terkena
trauma, perkusi hipersonor dan distensi vena jugularis,
Pemeriksaan ekstremitas
Keadaan korban

Keadaan
normal

Interpretasi

Mekanisme

11

Inspeksi:
tanpak deformitas,
memer, hematom
pada paha tengah
kanan

Tidak ada Tandadeformitas, terjadi


memar dan femur
hematom

tanda Trauma tumpul ( Kecelakaan


fraktur lalu lintas) energi kinetik
yang terbentuk sangat besar
eneri kinetik yang terbentuk
berubah menjadi shockwave
yang harus diterima jaringan
terjadi penekanan pada os.
Palpasi:
Femur Fraktur femur
nyeri tekan
Tidak ada Fraktur femur
Deformitas paha; trauma
nyeri tekan
pembuluh darah sekitar
femur pecah hematom dan
ROM:
memar(perdarahan tertutup);
Pasif: limitasi Tidak ada Gangguan gerak fraktur femur mengenai saraflimitasi
(fraktur femur)
gerakan
saraf sekitar femur nyeri
gerakan
Aktif: limitasi
paha kanan;; fraktur, hematom
gerakan
& memar, nyeri gerakan
ROM terbatas baik yang
dibantu gerak atau gerak
spontan
5. Apa saja diagnosis banding pada kasus ini?
Tanda
Trauma tajam
Syok
Inspeksi
Perkusi
Auskultasi
Deviasi trakea

Tension
Pneumotoraks
+
+
Sesak napas,
salah satu bagian
tertingal
Hipersonor
Suara vesicular
+

Hemotoraks
+
+
Sesak napas, salah
satu bagian tertingal
Pekak
Suara vesicular
-, + jika bersamaan
pneumotoraks

Cardiac
tamponade
+
+
Sesak napas
Sonor
Suara jantung
-

6. Apa diagnosis kerja pada kasus ini?


Tension pneumothoraks dengan gejala distensi vena jugularis, deviasi trakea kearah
yang sehat, pergerseran jantung ke sisi yang berlawanan yang pneumothoraks, syok
obstruktif. Trauma sereberal ringan dilihat dari luka lecet dahi dan pelipis serta nilai GCS
13. Fraktur costae dextra IX , X , XI. Fraktur os. Femoralis dektra.
7. Apa pemeriksaan penunjang yang diperlukan dalam kasus ini?
Pemeriksaan tambahan
A.
-

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium darah rutin : Hb, RBC, WBC, gol. darah
12

B.
C.
D.

Analisis gas darah


Pemeriksaan Radiologi radiologi Thorax dan femur-pelvis
CT Scan kepala untuk memastikan kondisi cedera kepala
EKG memastikan jantung tidak terganggu

8. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi pada kasus?


Komplikasi pada tension pneumothorax

Gagal napas akut (3-5%)


Komplikasi tube torakostomi lesi pada nervus interkostales
Henti jantung-paru
Infeksi sekunder dari penggunaan WSD
Kematian
timbul cairan intra pleura, misalnya.
Pneumothoraks disertai efusi pleura : eksudat, pus.
Pneumothoraks disertai darah : hemathotoraks.
Syok

Komplikasi fraktur costae: Komplikasi yang timbul akibat adanya fraktur costa dapat
timbul segera setelah terjadi fraktur, atau dalam beberapa hari kemudian setelah terjadi.
Besarnya komplikasi dipengaruhi oleh besarnya energi trauma dan jumlah costae yang patah.
Gangguan hemodinamik merupakan tanda bahwa terdapat komplikasi akibat fraktur
costae. Fraktur costa ke 4-9 biasannya akan mengakibatkan cedera terhadap vasa dan nervus
intercostalis dan juga pada parenkim paru, ataupun terhadap organ yang terdapat di
mediastinum, sedangkan fraktur costa ke 10-12 perlu dipikirkan kemungkinan adanya cedera
pada diafragma dan organ intra abdominal seperti hati, limpa, lambung maupun usus besar.
9. Bagaimana langkah preventif pada kasus ini?
10. Bagaimana prognosis kasus ini?
Dubia et bonam. Tension pneumothorax hampir 50% mengalami kekambuhan setelah
pemasangan tube torakostomi tapi kekambuhan jarang terjadi pada pasien-pasien yang
dilakukan torakotomi terbuka. Fraktur costa pada anak dengan tanpa komplikasi memiliki
prognosis yang baik, sedangkan pada penderita dewasa umumnya memiliki prognosis yang
kurang baik oleh karena selain penyambungan tulang relatif lebih lama juga umumnya
disertai dengan komplikasi. Keadaan ini disebabkan costa pada orang dewasa lebih rigit
sehingga akan mudah menusuk pada jaringan ataupun organ di sekitarnya
11. Apa SKDI kasus ini?

Tension Pneumothoraks : 3B
13

Syok Obstruktif : 3A
Fraktur Costae dan fraktur femoralis terutup : 3A

14