Anda di halaman 1dari 27

BAB 1.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Medula spinalis merupakan struktur berbentuk selinder yang berdiameter
< 2 cm dan terdiri dari bagian putih, dan bagian abu. Medula spinalis berada
kanalis sentralis vertebra yang dikelilingi oleh struktur tulang (collum vertebrae).
Memanjang dari foramen magnum yang berada di dasar tengkorak sampai
setinggi L1-L2 disebut conus medullaris. Di bawah tingkat ini, lumbar sac (theca)
hanya mengandung filamen serabut saraf yang disebut dengan cauda equina.
Medula spinalis di selubungi oleh 3 selaput meningen, yang merupakan lanjutan
dari selaput yang menyelubungi otak. Piameter melekat pada medula spinalis,
duramater dan arachnoid (tanpa pembuluh darah) memanjang secara kaudal
sampai setinggi vertebra S yang mana kemudian akan bergabung dengan filum
terminale untuk membentuk ligamentum koksigis (filum of the dura).
Medula spinalis menerima input melalui nervus perifer dari bagian tubuh dan
melalui traktus desenden dari otak, kemudian memproyeksikan output melalui
saraf perifer ke bagian tubuh dan melalui traktus asenden ke otak (Israr, 2008).
Cedera medula spinalis dapat dibagi komplet dan inkomplet berdasarkan ada
atau tidaknya fungsi yang dipertahankan di bawah lesi. Status fungsional dan
kemandirian pasien dapat ditingkatkan serta morbiditas dapat diturunkan dengan
program rehabilitasi terpadu yang melibatkan multidiplin kesehatan, yakni dokter,
perawat, fisioterapis, occupational therapist, speech and language pathologist
Rehabilitasi pada pasien cedera medula spinalis biasanya dilakukan di unit
perawatan neurologi dengan lama hari rawat/length of stay (LOS) yang panjang
akibat disabilitas dan berbagai komplikasi yang terjadi (Guyton, 1997).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut penulis dapat merumuskan masalah
pada makalah kami yaitu sebagai berikut:
1.2.1 apa pengertian dari cedera medula spinalis?
1.2.2 bagaimana epidemiologi tentang cedera medula spinalis?
1.2.3 apa klasifikasi dari cedera medula spinalis?
1.2.4 apa etiologi dari cedera medula spinalis?
1.2.5 bagaimana tanda dan gejala dari cedera medula spinalis?
1.2.6 bagaimana patofisiologi dari cedera medula spinalis?
1.2.7 apa komplikasi dan prognosis dari cedera medula spinalis?
1.2.8 bagaimana pengobatan dari cedera medula spinalis?
1.2.9 bagaimana pencegahan cedera medula spinalis?
1.2.10 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan cedera medula
spinalis?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, makalah ini memiliki tujuan yaitu
sebagai berikut:
1.3.1 mengetahui apa pengertian dari cedera medula spinalis;
1.3.2 mengetahui epidemiologi tentang cedera medula spinalis;
1.3.3 mengetahui klasifikasi dari cedera medula spinalis;
1.3.4 mengetahui apa etiologi dari cedera medula spinalis;
1.3.5 mengetahui bagaimana tanda dan gejala dari cedera medula spinalis;
1.3.6 mengetahui bagaimana patofisiologi dari cedera medula spinalis;
1.3.7 mengetahui apa komplikasi dan prognosis dari cedera medula spinalis;
1.3.8 mengetahui bagaimana pengobatan dari cedera medula spinalis;
1.3.9 mengetahui bagaimana pencegahan cedera medula spinalis;
1.3.10 mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan cedera
medula spinalis.
1.4 Manfaat
Pembuatan makalah ini tentunya sangat bermanfaat untuk banyak pihak
khususnya untuk perawat yaitu untuk dapat memberikan gambaran yang nyata
tentang cedera medula spinalis dan tentang bagaimana pelaksanaan asuhan
keperawatan pada klien dengan cedera medula spinalis dengan menggunakan
metode keperawatan sehingga dalam pemberian asuhan keperawatan dapat
dilakukan secara maksimal.
1.5

BAB 2. PEMBAHASAN
1.1 Pengertian
Medula spinalis merupakan satu kumpulan saraf-saraf yang terhubung ke
susunan saraf pusat yang berjalan sepanjang kanalis spinalis yang dibentuk oleh
tulang vertebra. Ketika terjadi kerusakan pada medula spinalis, masukan sensoris,
gerakan dari bagian tertentu dari tubuh dan fungsi involunter seperti pernapasan
dapat terganggu atau hilang sama sekali. Ketika gangguan sementara ataupun
permanen terjadi akibat dari kerusakan pada medula spinalis, kondisi ini disebut
sebagai cedera medula spinalis (Israr, 2008).
Trauma atau cedera medulla spinalis merupakan salah satu penyebab
gangguan fungsi saraf yang sering menimbulkan kecacatan permanen pada usia
muda. Kelainan yang lebih banyak dijumpai pada usia produktif ini seringkali
mengakibatkan penderita harus terbaring di tempat tidur atau duduk di kursi roda
karena tetraplegia atau paraplegia (Tirtasari, 2012).
2.2 Epidemiologi
Setiap tahun di Amerika Serikat, sekitar 7.600 sampai 10.000 individu
mengalami cedera medula spinalis. Sampai tahun 1999, diperkirakan ada
sebanyak 183.000 sampai 203.000 orang yang hidup dengan cedera medula
spinalis di negara tersebut. Cedera medula spinalis dikaitkan dengan mortalitas
yang tinggi, ketidak berdayaan, rehabilitasi dan perawatan yang berkepanjangan,
dan beban ekonomi yang tinggi. Pada tahun 2004, Christopher & Dana Reeve
Foundation bekerja sama dengan Centers for Disease Control and Prevention
(CDC) melakukan penelitian untuk mengetahui epidemiologi penderita cedera
medula spinalis dan yang mengalami paralisis di Amerika Serikat.
Hasilnya yaitu sekitar 1,9% dari populasi Amerika Serikat atau sekitar
5.596.000 orang melaporkan beberapa bentuk paralisis berdasarkan definisi
fungsional yang digunakan dalam survei tersebut. Sekitar 0,4% dari populasi

Amerika Serikat atau sekitar 1.275.000 orang dilaporkan mengalami paralisis


dikarenakan oleh cedera medula spinalis. Menurut Dahlberg dkk. (2005),
penyebab cedera medula spinalis yang terbanyak di Helsinki, Finlandia adalah
jatuh (43%) , diikuti dengan kecelakaan lalu lintas (35%), menyelam (9%),
kekerasan (4%) dan penyebab lain (9%).
Penyebab cedera medula spinalis di negara berkembang bervariasi dari
satu negara ke negara lain. Kecelakaan lalu lintas mencakup sebesar 49%
penyebab cedera medula spinalis di Nigeria, 48,8% di Turki dan 30% di Taiwan.
Bila dibandingkan dengan negara maju, insiden cedera medula spinalis lebih
tinggi di negara yang sedang berkembang. Faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap hal ini antara lain:
1. Kondisi jalan yang buruk
2. Berkendara melewati batas kecepatan
3. Kurangnya penggunaan sabuk pengaman dan sandaran kepala di dalam
mobil
4. Korupsi dan suap yang melingkupi implementasi regulasi lalu lintas
5. Volume kendaraan yang berlebih
6. Perlengkapan keamanan yang tidak adekuat saat menyelam dan bekerja
7. Kondisi-kondisi yang tidak lazim seperti jatuh dari pohon dan jembatan
(Tirtasari, 2012).
2.3 Etiologi
Cedera medula spinalis dapat dibagi menjadi dua jenis:
1. Cedera medula spinalis traumatik, terjadi ketika benturan fisik eksternal seperti
yang diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh atau kekerasan,
merusak medula spinalis. Hagen dkk (2009) mendefinisikan cedera medula
spinalis traumatik sebagai lesi traumatik pada medula spinalis dengan beragam
defisit motorik dan sensorik atau paralisis. Sesuai dengan American Board of
Physical Medicine and Rehabilitation Examination Outline for Spinal Cord Injury
Medicine, cedera medula spinalis traumatik mencakup fraktur, dislokasi dan
kontusio dari kolum vertebra.

2. Cedera medula spinalis non traumatik, terjadi ketika kondisi kesehatan seperti
penyakit, infeksi atau tumor mengakibatkan kerusakan pada medula spinalis, atau
kerusakan yang terjadi pada medula spinalis yang bukan disebabkan oleh gaya
fisik eksternal. Faktor penyebab dari cedera medula spinalis mencakup penyakit
motor neuron, myelopati spondilotik, penyakit infeksius dan inflamatori, penyakit
neoplastik, penyakit vaskuler, kondisi toksik dan metabolik dan gangguan
kongenital dan perkembangan (Israr, 2008).
2.4 Klasifikasi
Cedera Medulla spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan tidak komplet
berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan di bawah lesi.
karakteristik
motorik
Proploseptik(joint

Lesi komplet
Hilang di bawah lesi
Hilang di bawah lesi

Lesi inkomplet
Sering (+)
Sering (+)

position vibrasi)
Sacral sparing
Ro vertebra

Negatif positif
Sering (+)
Sering fraktur, luksasi, Sering normal
atau listesis

Terdapat 5 sindrom utama cedera medulla spinalis inkomplet menurut


American Spinal Cord Injury Association yaitu :
(1) Central CordSyndrome,
(2) Anterior Cord Syndrome,
(3) Brown Sequard Syndrome,
(4) CaudaEquina Syndrome, dan
(5) Conus Medullaris Syndrome.
Lee menambahkan lagi sebuah sindrom inkomplet yang sangat jarang
terjadi yaitu Posterior Cord Syndrome Central Cord Syndrome (CCS) biasanya
terjadi setelah cedera hiperekstensi. Sering terjadi pada individu di usia
pertengahan dengan spondilosis cervicalis. Predileksi lesi yang paling sering
adalah medulla spinalis segmen servikal, terutama pada vertebra C4-C6. Sebagian
kasus tidak ditandai oleh adanya kerusakan tulang. Mekanisme terjadinya cedera

adalah akibat penjepitan medulla spinalis oleh ligamentum flavum di posterior


dan kompresi osteofit atau material diskus darianterior. Bagian medulla spinalis
yang paling rentan adalah bagian dengan vaskularisasi yang paling banyak yaitu
bagian sentral. Pada Central Cord Syndrome, bagian yang paling menderita gaya
trauma dapat mengalami nekrosis traumatika yang permanen.
Edema yang ditimbulkan dapat meluas sampai 1-2segmen di bawah dan
di atas titik pusat cedera. Sebagian besar kasus Central CordSyndrome
menunjukkan

hipo/isointens

pada

T1

dan

hiperintens

pada

T2,

yangmengindikasikan adanya edemaGambaran khas Central Cord Syndrome


adalah kelemahan yang lebih prominen pada ekstremitas atas dibanding
ektremitas bawah. Pemulihan fungsiekstremitas bawah biasanya lebih cepat,
sementara pada ekstremitas atas (terutamatangan dan jari) sangat sering dijumpai
disabilitas neurologic permanen. Hal initerutama disebabkan karena pusat cedera
paling sering adalah setinggi VC4-VC5 dengan kerusakan paling hebat di medulla
spinalis C6 dengan lesi LMN. Gambaran klinik dapat bervariasi, pada beberapa
kasus dilaporkan disabilitas permanen yang unilateral (Tirtasari, 2012).
Penilaian neurologis pada cedera medula spinalis meliputi penilaian
berikut seperti:
1) Sensasi pada tusukan (traktus spinotalamikus)
2) Sensasi pada sentuhan halus dan sensasi posisi sendi (kolum posterior)
3) Kekuatan kelompok otot (traktus kortikospinal)
4) Refleks (abdominal, anal dan bulbokavernosus)
5) Fungsi saraf kranial (bisa dipengaruhi oleh cedera servikal tinggi, seperti
disfagia)
Dengan memeriksa dermatom dan miotom dengan cara demikian, level
dan completeness dari cedera medula spinalis dan keberadaan kerusakan
neurologis lainnya seperti cedera pleksus brakialis dapat dinilai. Segmen terakhir
dari fungsi saraf spinal yang normal, seperti yang diketahui dari pemeriksaan
klinis, disebut sebagai level neurologis dari lesi tersebut. Hal ini tidak harus sesuai
dengan level fraktur, karena itu diagnosa neurologis dan fraktur harus dicatat.
Cedera inkomplit didefinisikan sebagai cedera yang berkaitan dengan adanya

preservasi dari fungsi motor dan sensorik di bawah level neurologis, termasuk
pada segmen sakral yang paling rendah.
Penilaian tingkat dan komplit atau tidaknya suatu cedera medula spinalis
memungkinkan prognosa untuk dibuat. Jika lesi yang terjadi adalah komplit,
kemungkinan penyembuhan jauh lebih kecil dibandingkan dengan lesi inkomplit.
Menyusul terjadinya cedera medula spinalis, terdapat beberapa pola cedera yang
dikenal, antara lain:
a. Sindroma korda anterior
Terjadi akibat gaya fleksi dan rotasi pada vertebra menyebabkan dislokasi
ke anterior atau akibat fraktur kompresi dari corpus vertebra dengan
penonjolan tulang ke kanalis vertebra.
b. Sindroma korda sentralis
Biasanya dijumpai pada orang tua dengan spondilosis servikal. Cedera
hiperekstensi menyebabkan kompresi medula spinalis antara osteofit
ireguler dari corpus vertebra di anterior dengan ligamentum flavum yang
menebal di posterior.
c. Sindroma korda posterior
Sindroma ini umumnya dijumpai pada hiperekstensi dengan fraktur pada
elemen posterior dari vertebra.
d. Sindroma Brown-sequard
Secara klasik terjadi akibat cedera tusukan tetapi juga sering dijumpai
pada fraktur massa lateral dari vertebra. Tanda dari sindroma ini sesuai
dengan hemiseksi dari medula spinalis.
e. Sindroma konus medularis
f. Sindroma kauda ekuina
Derajat keparahan cedera medula spinalis dapat dibagi menjadi beberapa
grade menurut Frankel yaitu:
Frankel A: kehilangan fungsi motorik dan sensorik
Frankel B: ada fungsi sensorik, motorik tidak ada
Frankel C: fungsi motorik ada tetapi tidak berfungsi
Frankel D: fungsi motorik ada tetapi tidak sempurna

Frankel E: fungsi sensorik dan motorik baik, hanya ada refleks abnormal
(Tirtasari, 2012)
2.5 Tanda dan Gejala
Menurut (Israr, 2008) berdasarkan anamnesis, gejala dan keluhan yang
sering muncul adalah:
1. Nyeri akut pada belakang leher, yang menyebar sepanjang saraf yang
terkena
2. Paraplegia
3. Paralisis sensorik motorik total
4. Kehilangan kontrol kandung kemih (retensi urine, distensi kandung
kemih)
5. Penurunan keringat dan tonus vasomotor
6. Penurunan fungsi pernapasan
7. Gagal nafas
2.6 Patofisiologi
Kerusakan medulla spinalis berkisar dari kamosio sementara (pasien
sembuh sempurna) sampai kontusio, laserasi dan kompresi substansi medulla,
(lebih salah satu atau dalam kombinasi) sampai transaksi lengkap medulla
(membuat pasien paralisis).
Bila hemoragi terjadi pada daerah medulla spinalis, darah dapat merembes
kekstrakaudal, subdural atau subarakhnoid pada kanalspinal. Segera setelah terjadi
kontusion atau robekan akibat cedera, serabut-serabut saraf mulai membengkak
dan hancur. Sirkulasi darah dan subtansiagrisea medulla spinalis, tetapi proses
patogenik dianggap menyebabkan kerusakan yang terjadi pada cedera pembuluh
darah medulla spinalis, tetapi proses patogenik dianggap menimbulkan kerusakan
yang terjadi pada cedera medulla spinalis akut. Suatu rantai sekunder kejadiankejadian yang menimbulkan iskemia, hipoksia, edema, dan lesi-lesi hemoragi,
yang pada gilirannya menyebabkan kerusakan meilin dan akson. Reaksi ini
diyakini menjadi penyebab prinsip degenarasi medulla spinalis pada tingkat
cedera, sekarang dianggap reversible sampai setelah cedera. Untuk itu jika
kerusakan medulla tidak dapat diperbaiki, maka beberapa metode mengawali

pengobatan dengan menggunakan kortikosteroiddan obat-obat antiinflamasi


lainnya

yang

dibutuhkan

untuk

mencegah

kerusakan

sebagian

dari

perkembangannya, masuk kedalam kerusakan total dan menetap.


Cidera medulla spinalis dapat terjadi pada lumbal 1-5
- Lesi 11 15 : kehilangan sensorik yaitu sama menyebar sampai lipat
paha dan bagian dari bokong.
- Lesi L2 : ekstremitas bagian bawah kecuali 1/3 atas dari anterior paha.
- Lesi L3 : Ekstremitas bagian bawah.
- Lesi L4 : Ekstremitas bagian bawah kecuali anterior paha.
- Lesi L5 : Bagian luar kaki dan pergelangan kaki.
2.7 Komplikasi
1. Syok neurogenik versus syok spinal
Syok neurogenik merupakan hasil dari kerusakan jalur simpatik yang
desending pada medulla spinalis. Kondisi ini mengakibatkan kehilangan tonus
vasomotor dan kehilangan persarafan simpatis pada jantung. Keadaan ini
menyebapkan vasodilatasi pembuluh darah visceral serta ektremitas bawah, terjadi
penumpukan darah dan sebagai konsekuensinya terjadi hipotensi. Sebagai akibat
kehilangan cardiac sympatik tone. Penderita akan mengalami bradikardia atau
setidak-tidaknya

gagal

untuk

menjadi

takhikardia

sebagai

respon

dari

hipovolemia. Pada keadaan ini tekanan darah tidak akan membaik hanya dengan
infus saja dan usaha untuk menormalisasi tekanan darah akan menyebabkan
kelebihan cairan dan udema paru. Tekanan darah biasanya dapat diperbaiki
dengan penggunaan vasopresor, tetapi perfusi yang adekuat akan dapat
dipertahankan walaupun tekanan darah belum normal. Syok spinal adalah keadaan
flasid dan hilangnya repleks, terlihat setelah terjadinya cedera medulla spinalis.
Pada syok spinal mungkin akan tampak seperti lesi komplit, walaupun tidak
seluruh bagian rusak.
2. Efek terhadap organ lain.

Hipoventilasi yang disebabkan karena paralysis otot interkostal dapat


merupakan hasil dari cedera yang mengenai medulla spinalis didaerah servikal
bawah atau torakal atas. Bila bagian atas atau tengah medulla spinalis didaerah
servikal mengalami cedera, diagframa akan mengalami paralysis yang disebabkan
segmen C3-C5 terkena, yang mempersarafi diagfragma melalui N. frenikus.
3. Trombosis vena profunda
Adalah komplikasi umum pada cederamedulla spinalis. Pasien PVT
berisiko mengalami embolisme pulmonal.
4. Komplikasi lain adalah hiperfleksia autonomic(dikarakteristikkanoleh
sakit kepala berdenyut, keringat banyak,kongestinasal,piloereksi,
bradikardi dan hipertensi), komplikasi lain yaitu berupa dekubitus dan
infeksi(infeksi urinarius,dan tempat pin ).
2.8 Pemeriksaan Diagnosis
a. Sinar X spinal
Menentukan lokasi dan jenis cedera tulan (fraktur, dislokasi), unutk
kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi
b. CT Scan
Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun struktural
c. MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi
d. Mielografi.
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor
putologisnya tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub
anakhnoid medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelah
mengalami luka penetrasi).

e. Foto rontgen thorax,


Memperlihatkan keadan paru (contoh : perubahan pada diafragma,
atelektasis)
f. Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vita, volume tidal)

Mengukur volume inspirasi maksimal khususnya pada pasien dengan


trauma servikat bagian bawah atau pada trauma torakal dengan gangguan
pada saraf frenikus /otot interkostal).
g. GDA
Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi (Marilyn E.
Doengoes, 1999 ; 339 340)
2.9 Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mencegah cedera medula spinalis
lebih lanjut dan untuk mengobservasi gejala perkembangan defisit neurologis.
Lakukan resusitasi sesuai kebutuhan dan pertahankan oksigenasi dan kestabilan
kardiovaskuler.
1. Farmakoterapi
Berikan steroid dosis tinggi (metilpredisolon) untuk melawan edema
medela.
2. Tindakan Respiratori
a) Berikan oksigen untuk mempertahankan PO2 arterial yang tinggi.
b) Terapkan perawatan yang sangat berhati-hati untuk menghindari
fleksi atau eksistensi leher bila diperlukan inkubasi endrotakeal.
c) Pertimbangan alat pacu diafragma (stimulasi listrik saraf frenikus)
untuk pasien dengan lesi servikal yang tinggi.
3. Reduksi dan Fraksi skeletal
a) Cedera medulla spinalis membutuhkan immobilisasi, reduksi,
dislokasi, dan stabilisasi koluma vertebrata.
b) Kurangi fraktur servikal dan luruskan spinal servikal dengan suatu
bentuk traksi skeletal, yaitu teknik tong /capiller skeletal atau halo
vest.
c) Gantung pemberat dengan batas sehinga tidak menggangu traksi
d) Intervensi bedah = Laminektomi Dilakukan Bila :
1) Deformitas tidak dapat dikurangi dengan fraksi
2) Terdapat ketidakstabilan signifikan dari spinal servikal
3) Cedera terjadi pada region lumbar atau torakal
4) Status Neurologis mengalami penyimpanan untuk mengurangi
fraktur spinal atau dislokasi atau dekompres medulla.

2.10 Pencegahan
Faktor faktor resiko dominan untuk cedara medulla spinalis meliputi usia,
jenis kelamin, dan penyalahgunaan obat. Frekuensi factor resiko ini dikaitkan
dengan cedera medulla spinalis bertindak untuk menekankan pentingnya
pencegahan primer.untuk mencegah kerusakan dan bencana cedera ini, langkah
langkah berikut perludilakukan :
(1) menurungkan kecepatan berkendara.,
(2) menggunakan sabuk pengaman,
(3) menggunakan helm untuk pengendara motor dan sepeda,
(4) program pendidikan langsunguntuk mencegah berkendara sambil
mabuk,
(5) mengajarkan penggunaan air yang aman,
(6) mencegah jatuh,
(7) menggunakan alat alat pelindung dan tekhnik latihan.

BAB 3. ASUHAN KEPERAWATAN


4.1 Pengkajian
Pemeriksaan fisik didasarkan pada pemeriksaan pada neurologis, karena
kemungkinan akan didapati defisit motorik dan sensorik di bawah area yang
terkena : shock spinal, nyeri, perubahan fungsi kandung kemih, kerusakan fungsi
seksual pada pria (umumnya pada wanita tidak terganggu), perubahan fungsi
defekasi,. Kaji juga tentang perasaan/persepsi klien terhadap kondisinya ; lakukan
pemeriksaan diagnostik; pertahankan prinsip ABC (Airway, Breathing dan
Circulation)agar kondisi klien tidak semakin memburuk.
Hal penting lainnya yang perlu dikaji pada klien dengan cedera medula
spinal ini adalah : tanyakan riwayat trauma yang dialami oleh klien (apakah
karena kecelakaan lalu lintas, olahraga atau penyebab yang lain), kemudian
tanyakan juga apakah ada riwayat penyakit degeneratif (sperti osteoporosis,
osteoartritis, dll), bagaimana mekanisme terjadinya trauma pada klien, kemudian
stabilisasi dan monitoring klien, lakukan pemeriksaan fisik pada klien : lihat KU
klien, ukur TTV, kaji apakah ada defisit neurologis, tanyakan bagaimana status
kesadaran awal klien saat kejadian, lakukan tes refleksi, motorik, lokalis (look,
feel and move) pada klein, fokuskan pada deformitas leher, memar pada leher dan
bahu, memar pada muka atau abrasi dangkal pada muka atau abrasi dangkal pada
dahi, lakukan pemeriksaan neurologi penuh.
Data fokus akan didapatkan dengan melakukan pengkajian 11 pola Gordon
berikut:

1 Aktifitas dan istirahat : kelumpuhan otot terjadi kelemahan selama syok spinal
2. Sirkulasi : berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi, hipotensi,
bradikardia ekstremitas dingin atau pucat.
3. Eliminasi : inkontinensia defekasi dan berkemih, retensi urine, distensi perut,
peristaltik usus hilang.
4. Integritas ego : menyangkal, tidak percaya, sedih dan marah, takut cemas,
gelisah dan menarik diri.
5. Pola makan : mengalami distensi perut, peristaltik usus hilang
6. Pola kebersihan diri : sangat ketergantungan dalam melakukan ADL

7. Neurosensori : kesemutan, rasa terbakar pada lengan atau kaki, paralisis flasid,
hilangnya sensai dan hilangnya tonus otot, hilangnya reflek, perubahan reaksi
pupil, ptosis.
8. Nyeri/kenyamanan : nyeri tekan otot, hiperestesi tepat diatas daerah trauma,
dan mengalami deformitas pada derah trauma.
9. Pernapasan : napas pendek, ada ronkhi, pucat, sianosis
10. Keamanan : suhu yang naik turun
11.Seksualitas : priapismus (pada laki-laki), haid tidak teratur (pada wanita)
4.2 Analisa Data dan Masalah
Data
Ds: pasien

Etiologi
Paru-paru sulit

Masalah
Bersihan jalan nafas

mengatakan

mengembang dan px

tidak efektif

kesulitan bernafas

mengalami kesulitan

Do: sesak nafas,

bernafas, batuk

terdapat tarikan
diafragma,

Pergerakan otot

sianosis, hasil

intercosta dan

GDA: PaO2 < 80,

diafragma terganggu

PaCo2 > 45, RR =


28 x/menit

Terpotongnya spinal,
sehingga persarafan
untuk pernapasan
menjadi cedera

Ds: pasien

Cedera pada servikalis


Px tidak dapat

Kerusakan mobilitas

mengatakan tidak

melakukan aktivitas

fisik

dapat melakukan

sehari-hari

pergerakan pada
tangan dan kaki

Px tidak dapat

Do: ada

menggerakkan tangan

kontraktur,

dan kakinya

kekuatan otot
(ROM menurun),

Cedera servikal

cedera atau lesi


pada servikal
Ds: pasien

Timbul rasa nyeri

mengeluh nyeri

Gangguan rasa
nyaman nyeri

pada daerah yang

SSP mengeluarkan

cedera

transmitter nyeri

Do: wajah pasien

(seperti: bradikinin)

meringis, skala
nyeri 4-6, luka

Terjadi diskontinuitas

atau lesi di tempat

antara otot dan

yang mengalami

jaringan

cedera
Ds: pasien

cedera pada spinal


Peristaltik usus dan

Gangguan eliminasi

mengatakan tidak

bising usus serta

alvi / konstipasi

dapat atau sulit

fungsi rektum

untuk BAB

mengalami penurunan

Do: jika dilakukan


palpasi pada

Gangguan persarafan

abdomen akan

pada usus dan rektum

didapatkan tegang
atau keras pada

Cedera pada spinal

abdomen pasien,
karena
feses impaksi
pada colon pasien
Ds: pasien

Terjadi retensi urin

Perubahan pola

mengaku kesulitan

eliminasi urine

saat berkemih, dan merusakkan saraf yang


berkemihnya juga

mengatur perkemihan

jarang
Do: produksi urine

Cedera spinal pada

< 50 cc/jam, luka

lumbalis

karena cedera
spinal, adanya
distensi bladder
Ds: pasien

Terjadi ulkus

Gangguan integritas

mengatakan nyeri

dekubitus

kulit

pada punggung
Do: adanya

Menurunkan aliran

kemerahan,

darah ke tempat yang

bernanah, kulit

cedera serta

lembab, luka

meningkatkan tekanan

dekubitus

pada daerah tersebut


Tirah baring dalam
waktu yang cukup
lama
Terjadi kelumpuhan
Cedera pada spinal

4.3 Intervensi

Dx
Keperawatan
Bersihan jalan

Tujuan dan

Intervensi

Kriteria Hasil
Tujuan: setelaha) Pertahankan

napas tidak

dilakukan

efektif

tindakan

berhubungan

keperawatan

dengan

selama maksimal

kelumpuhan

1 jam, bersihan

otot intercosta

jalan nafas

dan diafragma

Rasional
jalan
a) Pasien

dengan

nafas; posisi kepala cedera cervicalis


tanpa gerak.
b) Lakukan

akan
membutuhkan

penghisapan lendir
bila

perlu,

catat

bantuan

untuk

mencegah

jumlah, jenis dan

aspirasi/
karakteristik sekret.
pasien menjadi
mempertahankan
c) Kaji
fungsi
efektif
jalan nafas.
pernapasan.
b) jika batuk tidak
Kriteria hasil : d) Auskultasi
suara
efektif,
sesak nafas
napas.
e) Observasi
warna penghisapan
berkurang, tidak
kulit.
dibutuhkan untuk
ditemukan
f) Kaji distensi perut
mengeluarkan
tarikan
dan spasme otot.
sekret,
dan
diafragma, g) Anjurkan
pasien
mengurangi
sianosis tidak
untuk
minum
resiko
infeksi
ada, PaO2 > 80, minimal
2000
pernapasan.
PaCo2 < 45,RR cc/hari, jika tidak
c) trauma pada C5= 16-20 x/menit ada kontraindikasi.
6 menyebabkan
h) Lakukan
hilangnya fungsi
pengukuran
pernapasan
kapasitas
vital,
secara
partial,
volume tidal dan
karena
otot
kekuatan
pernapasan
pernapasan.
i) Pantau analisa mengalami
gas darah.
kelumpuhan.
j) Berikan oksigen
d) hipoventilasi
dengan cara yang biasanya
tepat dan lakukan atau

terjadi

fisioterapi
dada.

nafas menyebabkan
akumulasi sekret
yang

berakibat

pneumonia.
e) menggambarkan
adanya
kegagalan
pernapasan yang
memerlukan
tindakan segera
f) kelainan penuh
pada

perut

disebabkan
karena
kelumpuhan
diafragma
g) membantu
mengencerkan
sekret,
meningkatkan
mobilisasi sekret
sebagai
ekspektoran.
h) menentukan
fungsi

otot-otot

pernapasan.
Pengkajian terus
menerus
mendeteksi
adanya
kegagalan
pernapasan.
i) untuk

untuk

mengetahui
adanya kelainan
fungsi pertukaran
gas

sebagai

contoh

hiperventilasi
PaO2 rendah dan
PaCO2
meningkat.
j) metode dipilih
sesuai

dengan

keadaan
insufisiensi
pernapasan

dan

untuk
mencegah sekret
tertahan
kerusakan

Tujuan

a) Kaji secara

mobilitas fisik

perawatan :

teratur fungsi

berhubungan

setelah dilakukan motorik.

dengan

tindakan

kelumpuhan

keperawatan

b) Instruksikan
pasien untuk

pada

paru-paru
a) mengevaluasi
keadaan

secara

umum
b) memberikan rasa
aman
c) membantu ROM

selama 2x24 jam, memanggil bila


perawatan

secara pasif
minta pertolongan.d) mencegah

gangguan

c) Lakukan log

mobilisasi bisa

rolling.

diminimalisasi

d) Pertahankan

sampai cedera

sendi 90 derajat

diatasi dengan

terhadap papan

pembedahan
Kriteria hasil :

kaki.
e) Ukur tekanan

footdrop
e) mengetahui
adanya hipotensi
f)

ortostatik
gangguan
sirkulasi

dan

hilangnya sensai
resiko

tinggi

tidak ada
kontraktur,
kekuatan otot
meningkat ROM
meningkat
(antara 4-5), lesi
berkurang,
pasien mampu

darah sebelum dan

kerusakan

sesudah log rolling. integritas kulit.


g) berguna
untuk
f) Inspeksi kulit
membatasi dan
setiap hari.
mengurangi nyeri
g) Berikan relaksan
yang
otot sesuai
berhubungan
keperluan, seperti
dengan spastisitas
diazepam.

beraktifitas
kembali secara
gangguan rasa

bertahap.
Tujuan

a) Kaji terhadap

nyaman nyeri

keperawatan :

nyeri dengan skala

melaporkan

berhubungan

setelah dilakukan

0-10.

nyeri

biasanya

tindakan

b) Bantu pasien

diatas

tingkat

keperawatan

dalam identifikasi

selama 1 jam,

faktor pencetus.

nyeri pasien

c) Berikan tindakan

berkurang

kenyamanan.

Kriteria hasil :

d) Dorong pasien

melaporkan rasa

menggunakan

nyerinya

tehnik relaksasi.

berkurang, wajah

e) Berikan obat

pasien rileks,

antinyeri sesuai

skala nyeri 1-3,

keperluan.

dengan adanya
cedera

luka atau lesi di


tempat yang
mengalami
cedera berkurang

a) pasien

cedera.
b) nyeri
dipengaruhi
oleh;
kecemasan,
ketegangan,
suhu,

distensi

kandung kemih
dan

berbaring

lama.
c) memberikan rasa
nyaman dengan
cara membantu
mengontrol
nyeri
d) memfokuskan
kembali

perhatian,
meningkatkan
rasa kontrol.
e) untuk
menghilangkan
nyeri otot atau
untuk
menghilangkan
kecemasan dan
meningkatkan
istirahat.
a) Auskultasi bisinga) bising

usus

dilakukan

usus, catat lokasi

mungkin

tidak

alvi /konstipasi

tindakan

dan

ada selama syok

berhubungan

keperawatan

dengan

selama 2x24 jam,

b) Observasi

gangguan

pasien tidak

adanya distensi

persarafan

menunjukkan

gangguan

Tujuan : setelah

eliminasi

pada usus dan


rektum.

karakteristiknya.

perut.

adanya gangguan c) Catat adanya


eliminasi

keluhan mual dan

alvi/konstipasi

ingin muntah,

Kriteria hasil :

pasang NGT.

pasien bisa BAB


secara teratur
sehari 1 kali, jika
dilakukan palpasi
pada akan
didapatkan hasil
abdomen yang
tidak tegang

spinal.
b) untuk
mengetahui
penurunan
bising usus
c) perdarahan
gantrointentinal
dan

lambung

mungkin terjadi
akibat
dan stress.

trauma

4.4 Implementasi dan Evaluasi


Dx

Implementasi

Keperawatan
Bersihan jalana) Mempertahankan jalan nafas;
posisi kepala tanpa gerak.
napas tidak
b) melakukan penghisapan lendir
efektif
bila perlu, catat jumlah, jenis
dan karakteristik sekret.
berhubungan
c) Mengkaji fungsi pernapasan.
dengan
d) Mengauskultasi suara napas.
kelumpuhan e) Mengobservasi warna kulit.
f) Mengkaji distensi perut dan
otot intercosta
spasme otot.
dan diafragma
g) Menganjurkan pasien untuk
minum minimal 2000 cc/hari,
jika tidak ada kontraindikasi.
h) Melakukan
pengukuran

Evaluasi
S : Px mengatakan sudah
lebih mudah untuk
bernafas
O : sesak nafas agak
berkurang, masih
ditemukan tarikan
diafragma, sianosis tidak
ada, PaO2 > 80, PaCo2 <
45,RR = 24 x/menit
A : masalah bersihan
jalan nafas tidak efektif

kapasitas vital, volume tidal

teratasi sebagian

dan kekuatan pernapasan.


i) Memantau analisa gas darah.
j) Memberikan oksigen dengan

P : Lanjutkan intervensi
a-j.

cara yang tepat dan lakukan


kerusakan

fisioterapi nafas dada.


a) Mengkaji secara teratur

S : Px mengatakan masih

mobilitas fisik

fungsi motorik.

berhubungan

b) Menginstruksikan pasien

tubuhnya

dengan

untuk memanggil bila minta

O : masih ada kontraktur,

pertolongan.

kekuatan otot meningkat

c) Melakukan log rolling.

ROM meningkat (antara

kelumpuhan

sulit menggerakkan

d) Mempertahankan sendi 90

4-5), lesi berkurang,

derajat terhadap papan kaki.

pasien masih belum

e) MMengukur tekanan darah

mampu beraktifitas

sebelum dan sesudah log

secara normal

rolling.

A : masalah kerusakan

f) Menginspeksi kulit setiap

mobilitas fisik teratasi

hari.
g) Memberikan relaksan otot

sebgaian
P : Lanjutkan intervensi

sesuai keperluan, seperti

a-g

gangguan rasa

diazepam.
a) Mengkaji terhadap nyeri

S : Px mengatakan rasa

nyaman nyeri

dengan skala 0-10.

nyeri sudah agak

berhubungan

b) Membantu pasien dalam

berkurang

dengan adanya

identifikasi faktor pencetus.

O : rasa nyerinya

c) Memberikan tindakan

berkurang skala nyeri 1-

kenyamanan.

4, Px tampak agak rileks,

d) Mendorong pasien

luka atau lesi di tempat

menggunakan tehnik relaksasi.

yang mengalami cedera

e) Memberikan obat antinyeri

berkurang

sesuai keperluan.

A : Masalah gangguan

cedera

rasa nyaman : nyeri


taeratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
gangguan

a) Mengauskultasi bising usus,

eliminasi

catat lokasi dan

alvi /konstipasi karakteristiknya.


berhubungan
dengan

b)Mengobservasi adanya

a-e
S : Px mengatakan dapat
melakukan BAB lebih
lancar (2 hari sekali)
O : palpasi abdomen

distensi perut.

didapatkan hasil distensi

gangguan

c) Mencatat adanya keluhan

abdomen berkurang, px

persarafan

mual dan ingin muntah, pasang

pada usus dan


rektum.

NGT.

BAB 2 hari sekali


A : Masalah gangguan
eliminasi/konstipasi
teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
a-c

BAB 4. KESIMPULAN
Cedera medula spinalis merupakan salah satu penyebab utama disabilitas
neurologis akibat trauma. Penyebab paling sering untuk terjadinya trauma medulla
spinalis adalah karena kecelakaan lalu lintas, dll. Trauma medulla spinalis sendiri
diklasifikasikan menjadi trauma medulla spinalis komplet dan trauma medulla
spinalis inkomplet. Sedangkan gejala yang paling sering pada trauma medulla
spinalis adalah nyeri akut pada belakang leher, paraplegia, paralisis sensorik
motorik total, kehilangan kontrol kandung kemih (retensi urine, distensi kandung
kemih), penurunan keringat dan tonus vasomotor, penurunan fungsi pernapasan,
gagal nafas. Terapi cedera medula spinalis terutama ditujukan untuk
meningkatkan dan mempertahankan fungsi sensoris dan motoris. Terapi operatif
kurang dianjurkan kecuali jika klien memiliki indikasi untuk dilakukannya
operasi. Cedera medula spinalis tidak komplit cenderung memiliki prognosis yang
lebih baik daripada trauma medulla spinalis komplit.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medical Bedah Volume 3. Jakarta: EGC.
Guyton, Arthur, C. Hall, John, E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.
Jakarta : EGC.
Manjoer , Arif M, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedoteran Edisi III. Jakarta : Media
Aeculapius FKUI.
Marilynn, E. Doenges., dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Sylvia & Lorraine. 1994. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta:
EGC.
Israr, Yayan A. 2008. Hemiseksi Medulla Spinalis Faculty of Medicine
University of Riau Arifin Achmad General Hospital of Pekanbaru [Serial
Online]. http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/01/referat-ya2n_hemiseksi-medula-spinalis_files-of-drsmed.pdf. [30 April 2013].
Tirtasari, Silviana. 2012. Trauma Medulla Spinalis.Universitas Tarumanegara
[Serial Online]. http://www.scribd.com/doc/105700454/86888365Trauma-Medulla-Spinalis. [30 April 2013].