Anda di halaman 1dari 18

Modul 2

Tinggi Tekan pada Aliran Melalui Pipa


2.1

Pendahuluan
Pipa adalah saluran tertutup yang biasanya berpenampang lingkaran

yang digunakan untuk mengalirkan fluida dengan tampang aliran penuh


(Triatmojo 1996 : 25). Fluida yang di alirkan melalui pipa bisa berupa zat
cair atau gas dan tekanan bisa lebih besar atau lebih kecil dari tekanan
atmosfer. Apabila zat cair di dalam pipa tidak penuh maka aliran termasuk
dalam aliran saluran terbuka atau

karena tekanan di dalam pipa sama

dengan tekanan atmosfer (zat cair di dalam

pipa tidak penuh), aliran

temasuk dalam pengaliran terbuka. Contoh dari pipa terbuka ( saluran


terbuka ) adalah selokan atau parit, sungai, dan sebagainya. Sedangkan
contoh pipa tertutup ( saluran tertutup ) adalah jaringan pipa air bersih atau
instalasi air bersih.
Jaringan pipa air bersih atau instalasi air bersih adalah suatu jaringan
pipayang digunakan untuk mengalirkan atau mendistribusikan air, baik itu
dari sumber air ke penampungan air maupun dari provider ke konsumen.
Dimana pada aliran normal terjadi karena adanya perbedaan tinggi
tekanan/perbedaan elevasi mukaair. Sedangkan pada aliran mekanik
digunakan pompa air, sehingga dapatmengalirkan air dari tempat yang
rendah ke tempat yang lebih tinggi.
Pada aliran air memalui pipa/saluran tertutup, salah satu gangguan
atau hambatan yang sering terjadi dan tidak dapat diabaikan ada aliran air
yang menggunakan pipa adalah kehilangan energi primer ( mayor lose ) dan
kehilangan energi sekunder ( minor lose ). Yang dimaksud mayor lose
adalah kehilangan tinggi tekan yang disebabkan oleh adanya faktor
geesekan dalam aliran fluida dalam pipa tersebut. Sedangkan minor lose
adalah adanya kehilangan tinggi tekan yang disebabkan oleh perubahan
arah, perubahan penampang ( pelebaran/penyempitan luas penampang ),
tikungan pipa dan sambungan pipa. Hal ini menyebabkan energi pada aliran
fluida dalam pipa tersebut semakin lemah dan mengecil.

Dalam analisis percobaan aliran pada pipa kecil, digunakan berbagai


acuan dasar rumus yang diambil dari :

2.2

Persamaan Kontinuitas
Persamaan Bernoulli
Persamaan Darcy Weisbach
Persamaan Blassius
Bilangan Reynolds
Tujuan Percobaan
Tujuan dalam percobaan ini adalah menghitung besarnya kehilangan tinggi

tekan yang disebabkan oleh gesekan pada pipa lurus, peleberan pipa, penyempitan pipa
dan tikungan pada pipa.
2.3

Alat Praktikum
Alat yang digunakan dalam melakukan percobaan ini adalah alat percobaan

aliran di dalam pipa yang terdapat seperti di gambar 1


2.4

Dasar Teori
2.4.1

Persamaan Kontinuitas

Persamaan kontinuitas diperoleh dari hukum kelestarian massa yaitu:

dari saluran terbuka, dengan tampang aliran konstan ataupun tidak konstan,
maka volume zat cair yang lewat tiap satuan waktu adalah sama di semua
tampang.
Fluida Incompressible

Dimana :

massa jenis fluida


luas penampang

kecepatan aliran

2.4.2

Persamaan Bernoulli

Persamaan Bernoulli merupakan salah satu bentuk penerapan hukum kelestarian


energi. Prinsipnya adalah energi pada dua titik yang di analisis haruslah sama.
Untuk aliran steady dan fluida incompressible ( perubahan energi dalam
diabaikan ) persamaan yang diperoleh adalah :

Dimana :

= ketinggian dari bidang datum

HL

= head loss dari titik 1 ke titik 2


=
=
=
=

2.4.3

Kehilangan Energi Primer

Kehilangan energi primer atau bisa juga disebut major lose


merupakan salah satu bentuk kehilangan energi. Major lose terjadi
akibat adanya kekntalan zat cair dan turbulensi karena adanya
kekasaran dinding batas pipa dan akan menimbulkan gaya gesek
yang akan menyebabkan kehilangan energi di sepanjang pipa.
Besarnya kehilangan energi primer ini dapat dihitung menggunakan
rumus Darcy Weisbach sebagai berikut :

Dimana :

hf

= kehilangan energi dalam pipa akibat gesekan

= koefisien gesekan Darcy Weisbach

= panjang pipa ( m )

= diameter pipa bagian dalam ( m )

= kecepatan aliran dalam pipa ( m/detik )

= percepatan gravitasi ( m/det ) = 9,81 m/det

koefisien ggesekan f merupakan fungsi dari bilangan Reynold ( Re =


D
V

) dan kekasaran relative pipa ( k/D ), dimana adalah

kekentalan kinematik air, k adalah kekasaran pipa dan D adalah


diameter pipa.
Untuk menentukan f dapat menggunakan persamaan Colebrook dan
White yang dibedakan berdasarkan jenis kekasaran pipanya.
Persamaan persamaan tersebut dapat dituiskan sebagai berikut ;

Pipa hidraulik licin


f
1
=2 log
2,51
f

Pipa hidraulik kasar


f
1
=2 log
2,51
f

f
1
=2 log
2,51
f

Pipa transisi

Untuk menentukan bisa juga menggunakan diagram Moody

Gambar 2. Diagram Moody


2.4.4

Kehilangan Energi Sekunder

A
Tentukan:
o

Tebal lapis batas laminair


Jenis kekasaran pipa

Tidak

Jenis kekasaran :hidraulik licin


atau transisi

Tentukan:
o Bilanga Reynolds
o Jenis aliran pada pipa

Jenis aliran:
Turbulen atau laminer

Tidak

2.7 Data dan Hasil Percobaan


Pembacaan Manometer
Nomor
Pipa

1a
2a
3a
4a
5a
6a
7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
7

Tinggi air di
Manometer
Awal
(mm)

Diameter

(mm)

Tinggi air di
Manometer saat
tidak Ada Aliran
(mm)

Tinggi air di
Manometer saat
Ada Aliran
(mm)

6b
Tabel 2-1
Perhitungan Volume dan Suhu Air
Volume(liter)

Waktu(detik)

Suhu Air
Tabel 2-2

2.8 Analisis Data


2.8.1 Perhitungan Debit(Q)
Nilai debit diperoleh dari perbandingan volume dan waktu
seperti perhitungan berikut:
Qn=
Nilai debit rata-ratanya diperoleh dari:
Qrata-rata=
2.8.2 Pengkoreksian Pembacaan Tinggi Air di Manometer
Posisi manometer yang tidak sejajar menyebabkan perlu
dilakukaan koreksi terhadap pembacaan tinggi air pada tabung
manometer.Koreksi dilakukan dengan cara berikut

Datum disarkan pada tinggi air maksimum dimanometer saat

tidak ada aliran,yaitu


Tinggi air dimanometer nomor 1 saat tidak ada aliran=

Tinggi air dimanometer nomor 1 saat ada aliran sebelum

dikoreksi=
Tinggi air dimanometer nomor 1 saat ada aliran setelah
dikoreksi=

Hasil koreksi terhadap keseluruhan pembacaan tinggi air


dimanometer dapat dilihat pada table dibawah ini:
Nomor
Pipa

1a
2a
3a
4a
5a
6a
7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
9

Tinggi air di
Manometer saat
tidak Ada Aliran

Tinggi air di
Manometer saat
Ada Aliran

(mm)

(mm)

Tinggi air di
Manometer saat
Ada Aliran,
terkoreksi
(mm)

6b
Tabel 2-3
2.8.3 Tinggi Kecepatan
Hukum kontinuitas menyatakan bahwa disepanjang pipa nilai
debit akan sama selama tinggi mengalami gangguan.Dengan
demikian,kecepatan aliran disetiap pipa dengan diameter sama
adalah tetap, sehingga tinggi kecepatan pada sebuah segmen pipa
yang berdiameter sama juga tetap.Nilai tinggi kecepatan pada
masing-masing pipa dapat ditentukan berdasarkan perhitungan
sebagai berikut:

Debit aliran =
Diameter dalam pipa(D)=
Kecepatan aliran pada pipa 1a(v1)=
Tinggi kecepatan(hkecepatan)=

Hasil perhitungan tinggi kecepatan untuk seluruh pipa adalah


sebagai berikut:
Nomo
r Pipa

Luas Penampang(A)
mm2

Kecepatan Aliran
mm/detik

1a
2a
3a
4a
5a
6a
7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
6b
Tabel 2-4
10

Tinggi Kecepatan
(mm)

2.8.4 Tinggi Energi Praktis dan Kehilangan Energi Praktis


Tinggi energy praktis diperoleh dari penjumlahan tinggi tekan dan
tinggi kecepatan disetiap titik dalam pipa.Tinggi energi disepanjang pipa
dapat ditentukan berdasarkan perhitungan berikut:

Tinggi tekan berdasarkan tinggi air di manometer setelah

terkoreksi pada titik ke 1 adalah


Tinggi ke 1 dan ke 2 memiliki kecepatan yang sama yaitu=
Tinggi energi di titik 1(H1)=
Tinggi energi di titik 2(H2)=
Kehilangan energi antara titik 1-2 ( H)=
Hasil perhitungan titik lainnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Nomor

Tinggi
Tekan

Tinggi
Kecepatan

Pipa
(cm)

(cm)

Tinggi Energi

Kehilangan

Total
(cm)

Energi
(cm)

1a
2a
3a
4a
5a
6a
7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
6b
Tabel 2-5
2.8.5 Jenis Kekasaran Pipa
Jenis pipa yang digunakan adalah galvanized iron yang
memiliki nilai kekasaran absolute(e) 0.15 mm.Untuk dapat

11

menentukan jenis kekasaran pipa, perlu diketahui terlebih dahulu


tebal lapis laminair berdasarkan perhitungan berikut:

Kemiringan pipa(I)=
Diameter pipa:0.014 m;Luas penampang=0.00015386 m2 dan

keliling basah=0.04396 m
Jari-jari hidraulik(R)=
Tebal lapis batas laminair berdasarkan rumus Prandtl =
Jenis kekasaran pipa ditentukan dengan membandingkan
Karena

Tabel lapis batas laminair dan Jenis Kekasaran Pipa


Nomor

Kemiringan

Jari-jari

Kekentala
n

Pipa

Pipa

Hidraulik
( R)
cm

Kinematik
()
cm

Tabel lapis
batas laminair
( )
mm

Jenis
Kekasara
n
Pipa

1a
2a
3a
4a
5a
6a
7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
6b
Tabel 2-6
2.8.6 Jenis Aliran dalam Pipa
Jenis aliran di dalam pipa ditentukan berdasarkan nilai Bilangan
Reynolds yang dihitung sebagai berikut:

12

Diameter pipa(D)=
Kecepatan aliran (v)=

Bilangan Reynolds(Re)=
Berdasarkan teori pada sub bab sebelumnya, nilai Re > 400 sehingga
menunjukan aliran turbulen.

Jenis aliran dalam pipa


Nomor

Diamete
r

Pipa
1a
2a
3a
4a
5a
6a
7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
6b

Kecepata
n
(cm/detik
)

Bilanga
n
Reynold
s

Jenis
Aliran

Tabel 2-7
2.8.7 Kehilangan Energi Teoritis
Secara terori,kehilangan energi yang terjadi di sepanjang aliran pipa
terdiri

dari

dua

jenis

yaitu

kehilangan

energi

primer

dan

sekunder.Kehilangan energi primer dapat ditentukan berdasarkan


perhitungan berikut

Berdasarkan bilangan Reynolds serta e/D dan menggunakan


diagram Moody diperoleh koefisien kekasaran pipa (f)=

13

Kehilangan energi primer ditentukan berdasarkan perhitungan:


Kehilangan Energi Primer secara Teoritis
Nomo
r
Pipa

Panjan Diamet
g
er
Pipa(L
)
Pipa(D)

Kecepat
an
Aliran
(V)

Koefisien
Kekasaran(
f)

cm/detik

Kehilanga
n
Energi
Primer
Terotitis(h
f)
cm

1a
2a
3a
4a
5a
6a
7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
6b
Tabel 2-8
Kehilangan energi sekunder pada aliran di dalam pipa pada
percobaan ini terjadi akibat penyempitan, pelebaran dan tikungan
yang ditentukan sebagai berikut:
Perbandingan diameter pipa pada penyempitan(kontraksi)=
14

Kehilangan energi pada penyempitan diperoleh dari


Kehilangan energi pada pelebaran diperoleh dari
Kehilangan energi pada tikungan diperoleh dari

Kehilangan Energi Sekunder Secara Teoritis


Nomo
r
Pipa

Kecepata
n
Aliran (V)

cm/detik

Kehilangan
Energi akibat
Penyempitan
(he)
m

Kehilangan
Energi akibat
Pelebaran
(he)
m

Kehilangan
Energi akibat
Tikungan
(hL)
m

1a
2a
3a
4a
5a
6a
7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
6b
Tabel 2-9
2.8.8 Perbandingan Kehilangan Energi Teoritis dan Praktis
Kehilangan energi disepanjang pipa hasil pengamatan dan
perhitungan

menghasilkan

suatu

perbedaan.Perbedaan

tersebut

dinyatakan dalam suatu nilai presentase yang ditentukan sebagai berikut:

15

HteoritisHpraktis
% beda=
X 100 %= %
Hpraktis

Perbandingan kehilangan Energi Teoritis dan Praktis


Nomor
Pipa
1a
2a
3a
4a
5a
6a
7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
6b

Hpraktis(m)

Hteoritis(m)

Tabel 2-10
Nilai persen beda antara Hpraktis dan

%Beda(
%)

Hteoritis terutama

kehilangan energi primer relatif cukup besar.Salah satu penyebab


perbedaan nilai ini adalah berubahnya nilai kekasaran pipa absolut
(e) pada pipa dikarenakan umur pipa.Untuk memeriksa hal ini,maka
dilakukan perhitungan untuk mencari nilai kekasaran pipa absolut
yang sesuai dengan kondisi pipa saat ini.Pemeriksaan dilakukan
dengan melakukan perhitungan berikut:
Hpraktis diasumsikan sebagai hf=
Nilai f berdasarkan nilai hf(f)=
Dengan menggunakan persamaan Colebrook & White,dapat
ditentukan nilai e/D=

dan diperoleh nilai kekasaran pipa

absolut (e) untuk pipa adalah=

16

Kekasaran Pipa Absolut pada Kondisi Ekisisting


Nomor
Pipa

Hpraktis
(m)

e/D

Diameter
Dalam Pipa
(m)

Kekasaran
Pipa Absolut
Pada Nomor
Pipa

1a
2a
3a
4a
5a
6a
7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
6b
Tabel 2-11
Dengan nilai kekasaran pipa absolut yang diperoleh pada setiap ruas
pipa,dilakukan kembali perhitungan
perbedaan antara Hpraktis dan

Hteoritis dan diperoleh

Hteoritis sebagai berikut:

Kehilangan Energi Sesuai Kekasaran Pipa Absolut Eksisting


Nomor
Pipa
1a
2a
3a
4a
5a
6a
17

E(m)

Hpraktis
(m)

Hpraktis
(m)

% Beda

7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
6b
Tabel 2-12
Selain mempengaruhi besarnya kehilangan energi, perubahan nilai
kekasaran pipa absolut juga akan mempengaruhi jenis kekasaran
pipa.Dengan nilai kekasaran pipa absolut tersebut, maka kekasaran
pipa pada percobaan ini sebagai berikut:
Jenis Kekasaran Pipa berdasarkan Kekasaran Pipa Absolut Ekisisting
Nomor
Pipa
1a
2a
3a
4a
5a
6a
7a
8a
9a
10a
1b
2b
3b
4b
5b
6b

4e
(m)

1/6e
(m)

(m)

Tabel 2-13

18

Jenis
Kekasaran Pipa