Anda di halaman 1dari 12

DIALISIS

A.

DEFENISI

Dialisis merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan
produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut.
Tujuan dialisis adalah untuk mempertahankan kehidupan dan kesejahteraan pasien
sampai fungsi ginjal pulih kembali. Pada dialisis, moliekul solut berdiusi lewat membran
semipermeabel dengan cara mengalir dari sisi cairan yang lebih pekat (konsentrasi solut lebih
tinggi) ke cairan yang lebih encer (konsentrasi solu lebih rendah). Pada hemodialisis,
membran merupakan bagian dari dialiser atau ginjal artifisial. Pada peritoneal dialisis,
permukaan peritonium atau lapisan dinding abdomen berfungsi sebagai membran
semipermeabel.
Dialisis akut diperlukan bila terdapat kadar kalium yang tinggi atau yang meningkat,
kelebihan muatan cairan atau edema pulmoner yang mengancam, asidosis yang meningkat,
perikarditis dan konfusi yang berat.
Dialisis kronis atau pemulihan dibutuhkan pada gagal ginjal kronis dalam keadaan :
tarjadinya tanda-tanda dan gejala uremia yang mengenai seluruh sistem tubuh (mual, muntah,
anoreksia berat, peningkatan letargi, konfusi mental ), kadar kalium serum meningkat
B. JENIS-JENIS DIALISIS
1. Hemodialisis (HD)
Merupakan suatu poses yang digunakan pada pasien dalam keadaan sakit akut
dan memerlukan terapi dialisis jangka pendek (beberapa hari hingga beberapa
minggu) atau pasien dengan penyakit ginjal stadium terminal (ERSD; end-stage renal
disease) yang membutuhkan terapi jangka panjang atau terapi permanen.
Bagi penderita gagal ginjal kronis, hemodialisis akan mencegah kematian. Namun
demikian, hemodialisis tidak menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal dan
tidak mampu mengimbangi hilangnya aktivitas metabolik atau endokrin yang
dilaksanakan ginjal dan dan dampak dari gagal ginjal serta terapinya terhadap kualitas
hidup pasien. Pasien-pasien ini harus menjalaninterapi dialisis sepanjang hidupnya
(biasanya tiga kali seminggu selama paling sedikit 3 atau 4 jam per kali terapi).

Prinsip-prinsip hemodialisis
Ada 3 prinsip yang mendasari kerja hemodialisis , yaitu :
a. Difusi
Toksin dan zat limbah didalam darah dikeluarkan melalui proses difusi
dengan cara bergerak dari darah yang berkonsentrasi tinggi ke cairan dialisat
dengan konsentrasi yang lebih rendah.
b. Osmosis
Air yang berlebihan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses osmosis.
Pengeluaran air dapat dikendalikan dengan menciptakan gradien tekanan
yaitu air

bergerak dari daerah dengan tekanan yang lebih tinggi (tubuh

pasien) ke tekanan yang lebih rendah (cairan dialisat)


c. Ultrafiltrasi
Gradien ini dapat ditingkatkan melalui penambahan tekanan negatif yang
dikenal sebagai ultrasonografi pada mesin dialisis. Tekanan negatif
diterapkan pada alat ini sebagai kekuatan pengisap pada membran dan
memfasilitasi pengeluaran air. Karena pasien tidak dapat mengesekresikan air,
kekuatan ini diperlukan untuk mengeluarkan cairan hingga tercapai
isovolemia (keseimbangan cairan).
Akses pada sirkulasi darah pasien
1. Kateter subklavia dan femoralis
Akses segera pada sirkulasi darah pasien pada hemodialisis darurat dicapai melalui
kateterisasi subklavia untuk pemakaian sementara. Kateter dwi-lumen atau multi-lumen
dimasukkan ke dalam vena subklavia. Kateter femoralis dapat dimasukkan ke dalam
pembuluh darah femoralis untuk pemakaian segera dan sementara.
2. Fistula
Fistula yang lebih permanen dibuat melalui pembedahan

(biasanya pada lengan

bawah) dengan cara menghubungkan atau menyambung (anastomosis) pembuluh arteri


dengan vena secara side-to-side (dihubungkan antar sisi) atau end-to-side (dihubungkan
antara ujung dan sisi pembuluh darah). Fistula tersebut memerlukan waktu 4-6 minggu
untuk menjadi matang sebelum siap digunakan.
Jarum ditusukkan kedalam pembuluh darah agar cukup banyak aliran darah yang akan
mengalir melalui dialiser.
3. Tandur

Dalam menyediakan lumen sebagai tempat penusukan jarum dialisis, sebuah tandur
dapat dibuat dengan cara menjahit sepotong pembuluh arteri atau vena dari sapi, material
Gore-Tex (heterograft) atau tandur vena safena dari pasien sendiri. Tandur biasanya
dipasang pada lengan bawah , lengan atas atau paha bagian atas.
Penatalaksanaan pasien yang menjalani hemodialisis jangka panjang
a. Diet dan masalah cairan
Diet merupakan fakktor penting mengingat masalah adanya efek uremia.
Apabila ginjal yang rusak tidak mampu mengeskresikan produk akhir metabolisme,
substansi yang bersifat asam akan menumpuk dalam serum pasien

dan bekerja

sebagai racun atau toksin. Gejala yang terjadi akibat penumpukan tersebut secara
kolektif dikenal sebagai gejala uremik dan akan memepengaruhi setiap sistem tubuh.
Diet rendah protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen dan akan
meminimalkan gejala. Pembatasan cairan juga merupakan bagian dari resep diet
untuk pasien ini.
Contoh protein : telur, daging, susu dan ikan.
b. Pertimbangan medikasi
Pasien yang memerlukan obat-obatan (preparat glikosida jantung, antiaritma,
antihipertensi) harus dipantau dengan ketat untuk memastikan agar kadar obat-obat ini
dalam darah dan jaringan dapat dipertahankan tanpa menimbulkan akumulasi toksik.

Komplikasi
Komplikasi terapi dialisis mencakup hal-hal berikut :
a. Hipotensi dapat terjadi selama terapi dialisis ketika cairan
dikeluarkan.
b. Emboli udara merupakan komplikasi yang jarang tetapi
dapat saja terjadi jika udara memasuki sistem vaskuler
pasien.
c. nyeri dada dapat terjadi karena pCO2 menurun bersamaan
dengan terjadinya sirkulasi darah diluar tubuh.
d. Pruritus dapat terjadi selama terapi dialisis ketika produk
akhir metabolisme meninggalkan kulit.
e. Gangguan keseimbangan dialisis

terjadi

karena

perpindahan cairan serebral dan muncul sebagai serangan

kejang. Komplikasi ini kemungkinan terjadinya lebih besar


jika terdapatbgejala uremia yang berat.
f. Kram otot yang nyeri terjadi ketika cairan dan elektrolit
dengan cepat meninggalkan ruang eksternal.
g. Mual dan muntah merupakan peristiwa yang sering terjadi.
Pendidikan pasien
Pasien yang akan memulai terapi dialisis memerlukan pengajaran tentang
topik-topik berikut : tujuan terapi dialisis, obat-obatan, efek samping terapi,
perawatan tempat akses vaskuler, diet dan pembatasan cairan, muatan cairan berlebih,
pencegahan dan penanganan komplikasi, masalah psikososial serta keuanganan.
Hal-hal yang perlu diajarkan kepada pasien yang akan menjalani terapi :
Rasional dan tujuan terapi dialisis
Hubungan antara obat-obat yang diresepkan dan dialisis
a) Efek samping obat dan pedoman kapan harus memberikan dokter mengenai efek
samping tersebut
b) Perawat akses vaskuler; pencegahan, pendeteksian dan penatalaksanaan komplikasi
yang berkaitan dengan akses vaskuler
c) Dasar pemikiran untuk diet dan pembatasan cairan; konsekuensi akibat kegagalan
dalam mematuhi pembatasan ini
d) Pedoman pencegahan dan pendeteksian kelebihan muatan cairan
e) Strategi untuk pendeteksian, penatalaksanaa dan pengurangan gejala pruritus,
neuropati serta gejala-gejala lainnya
f) Penatalaksanaan komplikasi dialisis yang lain dan efek samping terapi (dialisis, diet
yang membai, obat-obatan)
g) Strategi untuk menangani atau mengurangi kecemasan serta ketergantungan pasien
sendiri dan anggota keluarga mereka
h) Pilihan lain yang tersedia bagi pasien
i) Pengaturan finansial untuk pasien ; strategi untuk mengidentifikasi dan mendapatkan
sumber-sumber finansial
j) Strategi untuk mempertahankan kemandirian dan mengatasi kecemasan keluarga
Pertimbangan psikososial
Pasien harus diberi kesempatan untuk mengungkapkan setiap perasaan marah dan
keprihatinan terhadap berbagai pembatasa yang harus dipatuhi akibat penyakit serta
terapinya disamping masalah keuangan, ketidakpastian pekerjaan, rasa sakit dan
gangguan rasa nyaman yang mungkin timbul. Perasaan kehilangan yang dihadapi pasien

jangan diabaikan karena setiap aspek dari kehidupan normal yang pernah dimiliki pasien
telah terganggu. Pasien memerlukan hubungan yang erat dengan seseorang yang bisa
dijadikan tempat menumphakan perasaannya pada saat stres dan kehilangan semangat.
Dialisis di rumah
Pasien yang akan menjalani dialisis dirumah dan anggota keluarganya sebagai calon
asisten harus mengikuti program penelitian untuk belajar cara mempersiapkan ,
mengoperasikan serta melepas bagian-bagian dari mesin dialisis, mempertahankan dan
membersihkan peralatan tersebut, memberikan obat (heparin) ke dalam pipa saluran pada
mesin dialisis, dan menangani berbagai masalah darurat (ruptur dialiser hemodialisis,
masalah elektris atau mekanis, hipoensi, syok dan kejang). Rumah pasien disurvei untuk
melihat pengadaan listrik dan air bersih memadai. Pasien bertanggung jawab atas terapi
hemodialisis tersebut.
Dialisis di unit perawatan minimum
Untuk menghindari biaya yang tinggi , ditekan dialisis yang dilakukan sendiri
sehingga perbandingan staf dibanding penderita menjadi rendah. Kebijakan seperti ini
tetap mempertahankan kelebihan dialisis dirumah dengan memberikan tanggung jawab
perawatan kepada penderita sendiri, sehingga tingkat bertahan hidup dan rehabilitasipun
menjadi lebih baik.
Metode hemodialisis lainnya
a) High-flux dialisis
Dialisis aliran tinggi ini mengacu kepada cara dialisis dengan menggunakan
membran baru yang meningkatkan klirens molekul kecil dan sedang. Membran ini
digunakan bersama dengan laju aliran darah keluar masuk dialiseryang lebih tinggi
ketimbnag pada dialiser tradisional (500-800 ml/menit), dan aliran cairan dialisat
yang cepat (800 ml).
b) Continuous Arteriovenus Hemofiltration (CAVH)
Merupakan metode untuk menggantikan sementara fungsi ginjal. Metode ini
dilakukan ditempat tidur dalam ruang perawatan intensif untuk pasien muatan cairan
berlebihan akibat gagal ginjal oligurik (keluaran urin yang rendah) atau pasien gagal
ginjal. Darah dialirkan oleh tekanan darah pasien sendiri melewati sebuah filter
dengan volume kecil serta resistensi rendah. Darah mengalir dari arteri ke dalam

hemofilter.disisni cairan, elektrolit dan produk limbah nitrogen yang berlebihan


dikeluarkan melalui ultrafiltrasi. Kemudian darah tersebut dikembalikan ke dalam
sirkulasi darah pasien melewati pirau arteriovenosa vena lengan atau kateter vena.
c) Continuous Arteriovenous Hemodialysis (CAVHD)
CAVHD dilaksanakan dengan mengalirkan cairan dialisat pada salah satu sis
membran semipermeabel.
Kelebihan utama CAVH dan CAVHD adalah bahwa kedua metode ini tidak
menimbulkan perpindahan cairan yang cepat sehingga tidak membutuhkan mesin
dialisis atau petugas dialisis untuk melaksanakan prosedur tersebut.
2. Peritoneal Dialisis (PD)
a. Continous Ambulatory Peritoneal Dialisis (CAPD)
Merupakan suatu bentuk dialisis yang dilakukan pada banyak pasien penyakit
renal stadium terminal. CAPD bersifat kontiniu dan dan biasanya dapat dilakukan
sendiri. Keberhasilan CAPd tergantung pada pemeliharaan kateter peritoneal
permanen.
Prinsip-prinsip CAPD
CAPD bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yang sama seperti pada bentuk dialisis
lainnya yaitu difusi dan osmosis. Namun, karena CAPd merupakan terapi dialisis
yang kontiniu, kadar produk limbah nitrogen dalam serum berada dalam keadaan
yang stabil. Nilainya bergantung pada fungsi ginjal yang masih tersisa, volume
dialisat setiap hari, dan kecepatan produk limbah tersebut diproduksi.
Semakin lama waktu retensi, klirens molekul yang berukuran sedang semakin baik.
Dengan CAPD klirens molekul ini akan meningkat.
Pengeluaran cairan yang berlebihan pada saat dialisis peritoneal dicapai dengan
menggunakan laruran dialisat hiperyonik yang memiliki konsentrasi glukosa yang
tinggi sehingga tercipta gradien osmotik. Larutan glukosa 1,5%, 2,5%, dan 4,25%
harus tersedia dengan beberapa ukuran volume, yaitu dari 500 ml hingga 3000 ml,
sehingga memungkinkan pemilihan dialisat yang sesuai dengan toleransi, ukuran
tubuh dan kebutuhan fisioligik pasien.
Pertukaran biasanya dilakukan 4 kali sehari. Teknik ini berlangsung secara
kontiniu selama 24 jam per hari dan dilakukan 7 hari dalam seminggu. Pasien
melaksanakan pertukaran dengan dengan interval yang didistribusikan di sepanjang
hari dan dapat tidur pada malam harinya. Setiap pertukaran memerlukan waktu 30

hingga 60 menit atau lebih, lamanya proses ini tergantung pada lamanya waktu retensi
yang ditentukan oleh dokter. Lama waktu penukaran terdiri atas 5 menit atau 10 menit
infus (pemasukan cairan dialisat), 20 menit periode drainase (pengeluaran cairan
dialisat) dan waktu retensi selama 10 menit, 30 menit atau lebih.
Indikasi
Indikasi CAPD adalah pasien-pasien yang menjalani hemodialisis rumatan
(maintenance) atau hemodialisis kronis yang mempunyai masalah dengan cara terapi
yang sekarang, seperti gangguan fungsi atau kegagalan alat untuk akses vaskuler, rasa
haus yang berlebihan , hipertensi berat, sakit kepala pasca dialisis dan anemia berat
yang memerlukan transfusi.
Pasien memilih CAPD agar bebas ari ketergantungannya pada mesin, mengontrol
sendiri aktivitasnya sehari-hari, menghindari pembatasan makanan, meningkatkan
asupan cairan, menaikkan nilai hematokrit serum, memperbaiki kontrol tekanan
darah, bebas dari keharusan pemasangan jarum infus (venifunture), dan merasa sehat
secara umum.
Kontraindikasi
Kontraindikasi untuk CAPD mencakup perlekatan akibat pembedahan atau
penyakit inflamasi sistemik yang dialami sebelumnya. Kontraindikasi lannya adalah
nyeri punggung kronis yang terjadi rekuren disertai riwayat kelainan pada siklus
intervetebralis yang dapat diperburuk dengan adanya tekanan cairan dialisisat dalam
abdomen yang kontiniu.
Diverkulitis juga merupakan kontraindikasi mengingat CAPD pernah disertai dengan
ruptur divertikulum.

Komplikasi
1. Peritonitis
merupakan komplikasi yang paling sering dijumpai dan paling serius , komplikasi
ini terjadi pada 60% hingga 80% pasien yang menjalani dialisis peritoneal.
Sebagian besar kejadian peritonitis disebabkan oleh kontaminasi Stapylococcus
epidermidis yang bersifat aksidental. Kejadian ini mengakibatkan gejala ringan

dan prognosisnya baik, meskipun demikian peritonitis akibat Stapylococcus


aureus menghasilkan angka morbiditas yang lebih tinggi, mempunyai prognosis
yang lebih serius dan berjalan lebih lama.
2. Kebocoran
Kebocoran cairan dialisat melalui luka insisi atau luka pada pemasangan kateter
dapat segera diketahui sesudah kateter dipasang. Kebocoran sering dapat dihindari
dengan memulai infus cairan dialisat dengan volume kecil (100-200 ml) dan
kemudian secara bertahap meningkatkan volume tersebut hingga mencapai 2000
ml.
3. Perdarahan
Kejadian ini sering dijumpai selama beberapa kali pertukaran pertama mengingat
sebagian darah akibat prosedur tersebut tetap berada dalam rongga abdomen.
Pergeseran kateter dari pelvis kadang-kadang disertai dengan perdarahan.
Perdarahan selalu berhenti setelah satu atau dua hari sehingga tidak memerlukan
intervensi yang khusus.
4. Komplikasi lain
Komplikasi lain mencakup hernia abdomen yang mungkin terjadi akibat
peningkatan tekanan intra abdomen yang terus menerus. Tipe hernia yang pernah
terjadi adalah tipe insisional, inguinal, diafragmatik dan umbilikal.
Hipertrigliseridemia sering dijumpai pada pasien-pasien yang menjalani CAPD
sehingga timbul kesan bahwa terapi ini dapat mempermudah aterogenesis.
5. Gangguan citra tubuh dan seksualitas
Pasien sering mengalami perubahan citra tubuh dengan adanya kateter abdomen
dan kantong penampung serta selang dibadannya.citra tubuh akan sangta
mengganggu sehingga pasien tidak ingin lagi melihat atau merawat kateter selama
berhari-hari atau berminggu-minggu.

Pendidikan pasien
a) Program latihan
Selama periode latihan, pasien diajarkan tentang materi anatomi dan fisiologi
dasar ginjal, proses penyakitnya, prosedur terapi terapi pertukaran, komplikasi
yang mngkin terjadi serta respon yang tepat terhadap komplikasi tersebut,
pemeriksaan tanda-tanda vital, perawatan kateter, teknik membasuh tangan yang
baik, dan yang paling penting siapa yang harus dihubungi jika timbul suatu
masalah serta kapan menghubunginya.
b) Terapi diet

Diet pada pasien denga terapi CAPD merupakan diet yang bebas, ada beberapa
rekomendasi yang perlu disampaikan. Karena protein akan hilan pada dialisis
peritoneal kontiniu, maka pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang
tinggi protein dengan gizi yang baik dan seimbang. Mereka dianjurkan untuk
meningkatkan asupan serat setiap hari untuk membatuh mencegah konstipasi yang
dapat menghambat aliran cairan dialisat kedalam atau keluar kavum peritoneal.
c) Asupan cairan
Pasien biasanya kehilangan 2L cairan lebih atau diatas cairan yang di infuskan
kedalam rongga abdomen selama periode 24 jam, keadaan ini memungkinkan
asupan cairan yang normal bahkan pada pasien yang anefrik (pasien tanpa ginjal).
d) Perawatan tindak lanjut
Pasien diajari menurut kemampuannya sendiri dan tingkat pengetahuannya untuk
belajar, banyaknya materi yang diberikan harus dapat dipahami pasien tanpa
merasa terganggu atau terlalu dijejalkan informasi yang berlebihan.
Pasien mungkin akan dikunjungi oleh tim CAPD dalam klinik raat-jalan sekali
dalam sebulan atau lebih jika diperlukan.
Pertimbangan psikososial
Jika pasien ingin melaksanakan pertukaran seperti yang diajarkan dan mampu
menyesuaikan terapi tersebut dengan kegiatan rutinnya, maka ia dapat menjalani
kehidupan relatf normal dan merasakan menfaatserta keberhasilan terapi CAPD.
Pasien harus dibantu untuk menemukan terapi yang paling sesuai dengan cara
hidupnya, dengan terapiyang tepat, pasien dapat mencapai kondisi kesehatan yang
optimal.
b. Continuos Cycling Peritoneal Dialisis (CCPD)
Merupakan kombinasi antara dialisis peritoneal intermitten ynag dilakukan sepanjang
malam dengan waktu retensi yang lama di siang hari.
Kateter peritoneal dihubungkan dengan mesin pengatur siklus pada sore harinya dan
pasien mendapatkan 3 hingga 5 kali pertukaran dengan volume cairan dialisat masingmasing sebanyak 2L disepanjang malam harinya. Pada pagi harinya, pasien melepaskan
sambungan dengan kateter sesudah menginfuskan 1 hingga 2L cairan yang baru. Cairan
dialisat ini dibiarkan didalam rongga abdomen sampai selang tersebut dihubungkan
kembali dengan mesin pengatur siklus pada saat akan tidur.

Perawatan pasien yang menjalani dialisis di rumah sakit


1. Melindungi akses vaskuler
Jika pasien menjalani hemodialisis harus dirawat di ruah sakit untuk alasan
apa saja, akses vaskuler yang dibuat untuk keperluan terapi dialisis harus dirawat
untuk melindungi terhadap kemungknan terjadinya kerusakan. Oleh karena itu,
pemeriksaan akses vaskuler harus dilakukan untuk mengkaji patensinya sementara
tindakan penjagaan diperlakukan untuk memastikan agar ekstremitas dengan akses
vaskuler tersebut tidak digunakan untuk engukuran tekanan darah atau untuk
pengambilan spesimen darah.
Apabila alira darah yang melewati akses itu berkurang karena sebab apa pun
(hipotensi, pemasangan manset tensimeter atau torniket), darah akan mengalami
bendungan dan bekuan darah akan terbentuk dalam akses vaskuler.
2. Penjagaan terhadap terapi IV
Apabila terapi intravena atau infus diperlukan, kecepatan tetesannya harus
lambat dan dikontrol ketat dengan pompa infus volumetrik. Karena pasien tidak
mensekresikan air, maka penggunaan infus yang tidak hati-hati dapat mengakibatkan
edema paru.
3. Gejala uremia
Dengan bertumpuknya produk akhur metabolisme, gejala uremia akan
bertambah parah. Pasien-pasien ini akan cepat mengalami komplikasi.
4. Komplikasi jantung dan pernafasan
Pemeriksaan jantung dan pernafasan harus sering dilakukan. Bertumpuknya
cairan akan menyebabkan gagal jantung kongestif dan edema paru.
5. Perikarditis
Dapat terjadi akibat akumulasi toksin uremia. Jika tidak dideteksi dan segera
diatasi, komplikasi yang serius ini dapat berlanjut menjadi efusi perikardial dan
tamponade jantung.
Mengingat makna kliniknya yang penting, pemeriksaan pasien untuk mengkaji
risiko terjadinya komplikasi antung merupakan prioritas.

6. Masalah elektrolit dan diet


Perubahan elektrolit sering terjadi dan perubahan kadar kalium merupakan
peristiwa yang paling fatal. Semua laritan infus yang diberikan harus dievaluasi
kandungan elektrolitnya sementara hasil pemeriksaan laboratorium darah dikaji setiap
hari. Asupan makanan pasien harus dipantau agar tidak melebihi ketentuan diet.
7. Gangguan rasa nyaman dan nyeri
Komplikasi seperti pruritus dan rasa nyeri yang sering terjadi sekunder akibat
neuropati harus diatasi. Preparat antihistamin dan analgesik dapat diberikan menurut
resep dokter.
8. Hipertensi
Hipertensi pada gagal ginjal umumnya dijumpai dan sebagian terjadi akibat
sekresi renin yang berlebihan. Cara pendekatan coba-coba yang mingkin diperlukan
untuk mengidentifikasi preparat antihipertensi yang paling efektif dan menentukan
besar takarannya yang membingungkan serta membuat pasien khawatir bila tidak
dijelaskan terlebih dahulu. Pemberian preparat antihipertensi harus dihentikan pada
saat dialisis untuk menghindari hipotensi yang disebabkan oleh kombinasi efek
dialisis dan obat.

9.

Resiko infeksi
Pengendalian infeksi merupakan tindakan yang paling penting mengingat
insidens infeksi yang tinggi. Infeksi pada lokasi akses vaskuler dan pneumonia sering
terjadi.

10. Perawatan tempat pemasangan kateter


Pasien yang menjalani terapi CAPD biasanya sudah memahami cara merawat
tempat tempat pemasangan kateter, namun selama pasien masih dirawat di rumah
sakit maka hal ini merupakan kesempatan untuk mengkaji kepatuhan pasien dalam

mengikuti perawatan kateter yang dianjurkan dan memperbaiki setiap kesalah


pahaman atau penyimpangan dari teknik perawatan yang benar.
11. Pertimbangan medikasi
Obat-obatan yang diresepkan dokter untuk setiap pasien dialisis harus
dipantau dengan ketat agar obat-obatan yang toksik bagi ginjal dan mengancam
fungsi ginjal yang masih tersisa dapat dihindari.
12. Pertimbangan psikologis
Kita harus memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan
perasaan dan menggali pilihan yang mungkin ada.