Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya,


dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan atau perintah
dari kehidupan. Banyak agama memiliki narasi, simbol, dan sejarah suci yang
dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan menjelaskan asal usul kehidupan
atau alam semesta. Dari keyakinan mereka tentang kosmos dan sifat manusia, orang
memperoleh moralitas, etika, hukum agama atau gaya hidup yang disukai. Menurut
beberapa perkiraan, ada sekitar 4.200 agama di dunia.
Banyak agama yang mungkin telah mengorganisir perilaku, kependetaan,
definisi tentang apa yang merupakan kepatuhan atau keanggotaan, tempat-tempat
suci, dan kitab suci. Praktek agama juga dapat mencakup ritual, khotbah, peringatan
atau pemujaan tuhan, dewa atau dewi, pengorbanan, festival, pesta, inisiasi, jasa
penguburan, layanan pernikahan, meditasi, doa, musik, seni, tari, masyarakat layanan
atau aspek lain dari budaya manusia. Agama juga mungkin mengandung mitologi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama adalah sistem yang
mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang
Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan
manusia serta lingkungannya. Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, gama
yang berarti "tradisi".Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang
berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti
"mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya
kepada Tuhan.
Menurut filolog Max Mller, akar kata bahasa Inggris "religion", yang dalam
bahasa Latin religio, awalnya digunakan untuk yang berarti hanya "takut akan Tuhan
atau dewa-dewa, merenungkan hati-hati tentang hal-hal ilahi, kesalehan" ( kemudian
selanjutnya Cicero menurunkan menjadi berarti " ketekunan " ). Pada kesempatan ini

kelompok kami mengangkat salah satu sejarah keagamaan atau pranata agama yang
berada pada salah satu negara yaitu Inggris, yang kita ketahui memiliki sejarah
panjang dalam hal agama khususnya.
1.2.
1.
2.
3.
4.

RUMUSAN MASALAH
Apa yang dimaksud dengan pranata agama ?
Bagaimanakah sejarah agama di Inggris ?
Adakah hubungan agama pada bidang-bidang lain di Inggris?
Bagaimanakah perkembangan agama di Inggris dengan agama sekarang?

BAB II ISI
2.1. PENGERTIAN PRANATA AGAMA
Agama adalah ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan
(kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta
mencakup pula tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan antar
manusia dan antara manusia dengan lingkungannya. Peran atau fungsi
ajaran atau aturan pranata agama,memberi tujuan atau orientasi sehingga
timbul rasa saling hormat antar sesama manusia.

2.2. SEJARAH AGAMA DI INGGRIS.


1. Awal munculnya agama Kristen di Inggris
Tidak jelas kapan atau bagaimana agama Kristen datang ke Britania. Sebuah "kata
persegi" dari abad ke-2 telah ditemukan di Mamucium, permukiman Romawi
Manchester. Persegi terdiri dari anagram PATER NOSTER yang diukir di atas sebuah
amfora. Di antara kalangan akademis ada diskusi mengenai "kata persegi" ini, apakah
ia memang benar-benar merupakan sebuah artefak Kristen, jika iya, benda ini adalah
salah satu contoh Kekristenan awal di Britania.[9] Sementara bukti tertulis paling awal
agama Kristen di Britania yang bisa dijamin adalah pernyataan oleh Tertullian,
kurang lebih dari tahun 200, di mana ia menulis tentang "semua perbatasan Spanyol,
dan berbagai negara di Galia, dan hantu orang Britania, tidak dapat dicapai oleh
Roma, tapi semua takluk kepada Kristus"."[10] Bukti arkeologi untuk masyarakat
Kristen mulai muncul pada abad ke-3 dan ke-4. Ada dugaan ditemukan gereja-gereja
kayu kecil di Lincoln dan Silchester. Sementara itu kolam pembaptisan telah
ditemukan di Icklingham dan Saxon Shore Fort di Richborough. Harta karun Water
Newton adalah harta karun berupa piring-piring perak Kristen dari awal abad
keempat dan vila-vila Romawi di Lullingstone dan di Hinton St Mary memuat
banyak lukisan dinding dan mosaik Kristen. Besar abad ke-4 kuburan di Poundbury
dengan berorientasi timur-barat penguburan dan kuburan barang kurangnya telah
ditafsirkan sebagai pekuburan Kristen awal, meskipun upacara permakaman itu juga
semakin sering terjadi pada konteks kafir pada masa itu. Sebuah kuburan besar dari
abad ke-4 di Pundbury dengan cara penguburan berorientasi timur-barat dan tidak
adanya barang-barang yang ikut dikubur, diinterpretasikan sebagai sebuah kuburan
Kristen awal, meski ritus-ritus penguburan secara demikian juga menjadi semakin
umum di antara kalangan pagan pada masa tersebut.
Gereja di Britania tampaknya telah mengembangkan sistem keuskupan resmi
sebagaimana dibuktikan dari catatan Konsili Galia di Arles pada tahun 314. Pada
Konsili ini terwakili uskup-uskup dari tiga puluh lima tahta dari Eropa dan Afrika
Utara, termasuk tiga uskup dari Britania: Eborius dari York, Restitutus dari London,
dan Adelphius. Agama Kristen diperbolehkan di Kekaisaran Romawi oleh
Konstantinus I pada tahun 313. Theodosius I menjadikan Kekristenan sebagai agama
negara pada tahun 391, dan pada abad ke-5 agama ini menjadi mapan.

Santo Alban, martir Kristen Britania pertama, diyakini telah meninggal pada awal
abad ke-4 (walaupun beberapa pakar mentarikhnya sebagai pertengahan abad ke-3),
diikuti oleh Santo Aaron dan Julius dari Isca Augusta. Sebuah ajaran bidah,
Pelagianisme, berasal dari seorang biarawan Britania yang mengajar di Roma:
Pelagius hidup antara kira-kira tahun 354 sampai 420/440.
Sepucuk surat yang ditemukan pada sebuah tablet timbal di Bath, Somerset, yang
dapat ditarikh berasal dari sekitar tahun 363 telah diterbitkan dan diasumsikan
sebagai bukti dokumentasi mengenai adanya agama Kristen di Britania pada masa
Romawi. Menurut penerjemah pertamanya, surat itu ditulis di Wroxeter oleh seorang
pria Kristen bernama Vinisius dan dialamatkan kepada seorang wanita Kristen
bernama Nigra. Namun terjemahan surat ini ternyata berdasarkan kesalahan parah
paleografis dan teks ini ternyata tidak ada hubungannya dengan Kekristenan dan
sejatinya mengenai ritus-ritus pagan.[11]
Puritanisme di Inggris. A. Pengertian Kaum Puritan
Kaum Puritan merupakan sebutan bagi sekelompok orang di Inggris yang
menganut paham Puritanisme. Puritanisme berkaitan dengan upaya untuk
memurnikan (purify) Gereja Anglikan yang dianggap masih belum menunjukkan
tanda-tanda reformasi yang sejati. Puritanisme adalah sebuah gerakan, bukan
organisasi. Dari semangat yang kuat untuk mereformasi gereja, gerakan ini
selanjutnya memfokuskan diri juga pada reformasi individu dan politik.
B. Karakeristik Gerakan Puritan
(1) Penekanan pada reformasi yang holistik, baik dalam hal kegerejaan (liturgi dan sistem
pemerintahan), teologi, kehidupan rohani secara pribadi maupun politik.
(2) Pengakuan terhadap kedaulatan Allah yang mutlak atas segala sesuatu. Reformasi
holistik yang diraih berasal dari keyakinan terhadap kedaulatan Allah yang benar.
(3) Pengakuan dan penekanan pada otoritas Alkitab. Kaum Puritan hanya melakukan apa
yang diajarkan Alkitab, sedangkan penganut Anglikan bersikap lebih lunak (apa yang
tidak dilarang oleh Alkitab boleh dilakukan).

(4) Keyakinan bahwa keselamatan adalah mutlak anugerah Allah. Orang berdosa tidak
mungkin bisa meresponi panggilan injil apabila Allah tidak melahirbarukan mereka
melalui pekerjaan Roh Kudus.
(5) Perlunya pertumbuhan rohani secara pribadi. Disiplin rohani merupakan hal yang
penting yang seharusnya mengikuti pertobatan.
Upaya yang dilakukan kaum Puritan untuk mereformasi Gereja Anglikan,
diantaranya adalah melakukan protes terhadap:
1. Sistem pemerintahan gereja. Golongan Puritan berusaha mengubah sistem
pemerintahan gereja yang episcopal state (pimpinan tertinggi adalah bishop
dan raja) menjadi presbyterian (pemimpin tertinggi adalah para penatua) atau
congregational (pemimpin tertinggi adalah jemaat). Konsep tentang raja
Inggris sebagai pemimpin gereja dipandang sebagai bentuk lain dari kepausan
yang berusaha menggabungkan kekuasaan gereja dan politis.
2. Liturgi. Kaum Puritan melancarkan protes terhadap pelaksanaan hari raya
Kristiani untuk memperingati orang-orang kudus, pemakaian berbagai
ornamen yang tidak diajarkan dalam Alkitab, misalnya tanda salib maupun
jubah kependetaan. Mereka menolak penghormatan yang berlebihan terhadap
materi Perjamuan Kudus yang diindikasikan dengan sikap berlutut pada
waktu menerima roti dan anggur. Mereka menentang penggunaan organ
dalam ibadah. Pelaksanaan baptisan darurat bagi orang yang baru bertobat
dalam keadaan sakit parah juga berusaha ditiadakan. Mereka juga menyoroti
sikap para penganut Anglikan yang tidak terlalu menekankan penghormatan
Hari Sabat.

B. Perkembangan Gerakan Puritan di Inggris


a. Masa Pemerintahan Elizabet I (1558-1603)
Pada masa awal pemerintahan Elizabet, para penganut reformasi yang
dianiaya pada jaman Mary (1553-1558) kembali lagi ke Inggris setelah sebelumnya

meninggalkan Inggris untuk menghindari penyiksaan. Bersama dengan para penganut


reformasi yang lain yang tetap tinggal di Inggris, mereka sempat menikmati suasana
aman. Situasi ini tidak belangsung lama. Mereka mendapati bahwa reformasi yang
terjadi belum sampai pada tingkat yang sesungguhnya. Mereka lalu berusaha untuk
mereformasi Gereja Anglikan. Gerakan yang selanjutnya pada tahun 1560 disebut
Puritan ini menganggap Gereja Anglikan masih mewarisi banyak aspek kegerejaan
yang masih bernuansa Katholik.
Gerakan Puritan mendapat dukungan semakin banyak dari masyarakat dan hal
ini lambat laun menimbulkan keresahan bagi pemerintah Inggris. Setelah Elizabet I
berhasil mengamankan negara dari serangan kepausan, maka ia mulai memberikan
perhatian serius terhadap Puritanisme. Pada tahun 1593 dia mengeluarkan peraturan
yang memberikan kuasa kepada pemerintah setempat untuk memenjarakan kaum
Puritan apabila mereka menolak menghadiri ibadah di Gereja Anglikan. Langkah ini
terutama ditujukan pada salah satu aliran dalam Puritanisme yang dengan tegas
memisahkan diri dari gereja-negara. Mereka biasa disebut sebagai Kaum Separatis.
Penganut Puritanisme yang lain tetap berada di dalam Gereja Anglikan dan berusaha
mengubah dari dalam.
Respon lain dari pihak Anglikan terhadap popularitas gerakan Puritan dapat
dilihat dari penerbitan buku Treatise of the Laws of Ecclesiastical Polity yang
dikarang oleh Thomas Hooker (1554-1600). Buku ini merupakan tulisan filosofisteologis untuk membela konsep episcopal state. Menurut Hooker, hukum yang
diberikan oleh Allah dan dipahami melalui rasio adalah hal yang mendasar. Karena
pemerintah mengatur rakyat berdasarkan hukum, maka rakyat sekaligus menjadi
bagian dari negara dan gereja. Dengan demikian, baik penduduk maupun anggota
gereja sama-sama di bawah kekuasaan gereja-negara.
b. Masa Pemerintahan Raja James I
Pada waktu James VI dari Skotlandia akan menggantikan Elizabet sebagai
raja Inggris (di Inggris dia disebut James I), kaum Puritan sangat berharap banyak
kepadanya, karena dia sudah dipengaruhi oleh reformasi Reformed di Skotlandia

yang dipelopori John Knox, salah satu murid Calvin di Geneva. Kaum Puritan
memaparkan permohonan yang ditandatangani oleh hampir 1000 rohaniwan Puritan.
Permohonan yang terkenal dengan sebutan The Millenary Petition (1603) ini
merupakan upaya untuk mengubah liturgi dan sistem pemerintahan gereja yang ada.
Akhirnya diadakanlah Hampton Court Conference pada tahun 1604 untuk
membicarakan hal tersebut. James I ternyata sangat menentang usulan tersebut.
Menurut dia, presbyterian tidak mungkin sejalan dengan sistem monarki. Dia bahkan
mengancam akan mengeluarkan mereka dari Kerajaan Inggris apabila mereka
bersikukuh pada usulan itu. Satu-satunya hasil positif dari pertemuan ini hanyalah ijin
untuk membuat terjemahan Inggris yang baru sebagai pengganti dari versi Geneva
yang sebelumnya dikerjakan oleh para penganut reformasi yang dianiaya selama
pemerintahan Maria. Terjemahan ini akhirnya selesai pada tahun 1611 dan dikenal
dengan nama Authorized atau King James Version.
Perbedaan pendapat antara James I dan Puritan mencakup hal-hal lain di luar
sistem pemerintahan gereja. Dalam bidang politik, muncul perdebatan seputar
hakekat kekuasaan raja. Apakah raja diangkat langsung oleh Allah dan dan dengan
demikian hanya perlu bertanggungjawab pada Allah dan bukan pada parlemen?
Siapakah yang lebih berkuasa: raja atau parlemen? Dalam bidang ekonomi,
perdebatan muncul seputar masalah pajak. Apakah pajak menjadi hak raja atau
parlemen? Perbedaan pendapat antara Raja James I dengan kaum Puritan ini terus
berlangsung hingga Inggris diperintah oleh Charles I.
c. Masa Pemerintahan Charles I (1625-1649)
Pada masa pemerintahan Charles I, hubungan antara kaum Puritan dengan
pemerintah semakin memburuk. Oleh karena itu, tahun 1629-1640 Chales I
memutuskan untuk memerintah tanpa parlemen. Tindakan ini memicu emigrasi besarbesaran dari kaum Puritan ke Amerika. Sedikitnya 20 ribu orang meninggalkan
Inggris. Kesalahan lain yang dilakukan Charles I adalah memilih William Laud
sebagai bishop Canterbury. Dia memaksakan kesamaan liturgi, sistem pemerintahan
dan iman antara Gereja Anglikan dan Gereja Skotlandia. Tindakan ini direspon

dengan keras oleh orang-orang Skotlandia. Di samping itu, Laud juga memegang
teologi Armenian yang sangat bertentangan dengan keyakinan kaum Puritan maupun
orang Kristen Skotlandia.
Semua ketegangan ini akhirnya memaksa Charles I memanggil kembali
parlemen (1640). Parlemen sepakat memberikan kontribusi dalam pemulihan
keadaan. Secara ekonomi dan politik semua anggota parlemen berhasil mendapatkan
kesepakatan, namun dari sisi keagamaan tetap ada perdebatan. Sebagian tetap
memegang sistem gereja yang lama (disebut kaum Royalis), sedangkan yang lain
cenderung pada sistem yang diusulkan kaum Puritan (disebut kaum Roundhead).
Tiga tahun setelah Charles I memanggil kembali parlemen, parlemen berhasil
meniadakan sistem episkopasi (1643). Sebagai gantinya mereka memilih 151 kaum
Puritan untuk duduk di Westminster Assembly. Komite ini menyertakan delapan
penatua Gereja Skotlandia untuk memberikan masukan tentang sistem pemerintahan
gereja dan teologi. Upaya ini sebetulnya lebih didasari pada motivasi untuk
mempertahankan kemitraan dengan orang-orang Skotlandia dalam melawan Charles
I. Westminster Assembly melakukan banyak pertemuan intensif untuk menciptakan
reformasi yang sejati di Inggris. Setelah mengadakan ribuan sesi pertemuan, komite
ini akhirnya berhasil merumuskan dan menetapkan beberapa hal penting:

Directory of Worship (1644).

Form of Government (1645), disahkan parlemen tahun 1648.

Westminster Confession of Faith (1646); diterima di Skotlandia tahun 1647


dan di Inggris tahun 1648.

Longer and Shorter Westminster Catachism (1647).


Semua keberhasilan di atas merupakan pencapaian yang luar biasa, terutama

apabila kita kaitkan dengan sejarah panjang yang penuh duka yang dialami kaum
Puritan pada masa sebelumnya. Tahun 1648 merupakan titik awal reformasi yang

sejati di Inggris. Pada masa ini gereja di Inggris telah mengadopsi teologi, liturgi dan
sistem pemerintahan gereja yang Reformed.
Upaya kaum Royalis dan Charles I untuk mendominasi kekuasaan mengalami
kegagalan. Kaum Royalis keluar dari parlemen. Charles I dieksekusi tahun 1649.
Dengan demikian kaum Puritan di bawah kepemimpinan Oliver Cromwell dengan
kekuataan militer yang solid dan tentara yang saleh semakin berkuasa. Sisa-sisa
kekuasaan raja sudah tidak ada lagi. Parlemen yang didominasi oleh kaum Puritan
benar-benar memegang kendali penuh.
C. Dampak dari Gerakan Puritan
Gerakan ini memang berawal dan berkembang di Inggris, namun pengaruh
yang ditimbulkan melampaui batasan waktu dan tempat, diantaranya yaitu:
1. Gerakan Puritan memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan
kekristenan di Amerika. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, ribuan orang
Puritan meninggalkan Inggris dan menetap di Amerika. Di sana mereka telah
memberikan pengaruh yang sangat menentukan bagi peradaban Amerika
untuk jangka waktu yang lama. Kebudayaan, politik, pendidikan, sosial,
ekonomi maupun politik Amerika sangat ditentukan oleh warisan kaum
Puritan.
2. Tradisi Reformed di seluruh dunia. rumusan yang dihasilkan oleh Westminster
Assembly, tulisan Owen, Baxter, Aime dan tokoh lain telah mempengaruhi
para pemikir Reformed yang lain. Semua karya tulis ini tetap menjadi patokan
dalam tradisi Reformed.
3. Pengaruh dalam bidang literatur. Para tokoh Puritan bukan hanya handal
dalam menghasilkan karya tulis teologi yang hebat. Tulisan mereka juga
berjumlah sangat banyak. Sebagian dari tulisan ini tetap menjadi acuan dalam
studi literatur, misalnya Pilgrims Progress dan Paradise Lost.

4. Hasil maksimal dari pemerintahan teokratis di dunia. Apa yang telah


diupayakan oleh kaum Puritan di Inggris maupun di Amerika memberikan
gambaran tentang keindahan dunia yang dipengaruhi oleh prinsip Kristiani.
Mereka telah mengupaykan integrasi yang konkrit antara teologi dan bidangbidang kehidupan yang lain. Pencapaian yang diraih menjadi cermin bagi kita
untuk melihat dua hal: (1) bahwa dunia ini bisa menjadi lebih baik jika
dinafasi oleh prinsip Alkitab; (2) bahwa dunia ini tidak akan pernah sempurna,
karena telah rusak oleh dosa.
5. Edukasi di Inggris. Kaum Puritan adalah pelopor dunia pendidikan di Inggris.
Ketika banyak orang berfokus pada pekerjaan, mereka mulai menekankan
pentingnya pendidikan. Mereka mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak
dan universitas. Mereka membuat pusat penerbitan dan menghasilkan ratusan
buku yang sangat mempengaruhi Inggris.

3. Protestan di Inggris
Negara

Jerman

adalah

pusat

perkembangan

dari

reformasi

Prostestan. Babak reformasi ini dipelopori oleh Martin Luther. Luther


sukses menggerakan reformasi ini, karena berhasil menentang
peraktek penjualan indulgensi yang dilakukan oleh pihak Gereja
Katolik. Ia menentang dengan berani memaparkan 95 dalilnya di
pintu gerbang Gereja Universitas Wittenberg. Ia berbicara atas
nama kebenaran injili. Revolusi keagamaan ini berkembang dengan
cepat hingga meluas ke sebagian Jerman Tengah dan Utara, Negara
Skandanavia, Denmark, Semenanjung Baltik, dan wilayah Swis
yang
Meluasnya

berbahasa
ekspansi

Jerman
gerakan

dan

reformasi

Perancis.
ini,

banyak

daerah

menyambut baik ide-ide yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh


Protestan, tetapi ada juga yang menolak karena tidak sesuai
dengan tradisi gereja. Gerakan Reformasi ini melahirkan tiga aliran
penting dalam gereja, yaitu aliran Luther, Calvin, dan Anglikan.
Diantara keempat aliran ini, penulis membatasi dengan hanya
mendalami latar belakang dan sejarah Gereja Anglikan di Inggris.
Sejarah dan latar belakang gereja ini dipenuhi pelbagai konflik dan
peristiwa. Konflik dan peristiwa itu melibatkan beberapa tokoh
penting. Tokoh yang sangat sentral adalah Raja Hennry VIII.
Melihat kenyataan ini, maka penulis memilih gerakan dari aliran ini
untuk diuraikan. Tujuan dari uraian ini adalah untuk memenuhi
tugas Sejarah Gereja Reformasi Semester II, dan memperkaya
pengetahuan penulis. Metode yang digunakan penulis adalah
mengumpulkan data dari bebagai buku, membaca, dan menyusun
berdasarkan
II

tema

Latar

yang

Belakang

disiapkan.
dan

Sejarah

Diantara gereja-gereja yang tergolong reformatoris, mungkin gereja


Anglikan yang sejarahnya paling rumit. Begitu rumit sehingga, D.L.
Hormes (seorang serjana gereja Protestan) berkata, Revolusi di
dalam Gereja Anglikan belum selesai dan takan pernah selesai
Tetapi sebenarnya seluruh gereja tidak pernah selesai mengalami
reformasi.

Gereja

harus

terus-menerus

diperbarui.

Untuk

memahami kerumitan, sejarah, keberadaan, dan keunikan dalam


Gereja Anglikan, ada baiknya kita meninjau sejenak kehadiran dan

perkembangan
Gereja

Di

gereja
Inggris

di

Inggris

Hingga

sejak

Awal

abad

Abad

ke-3.

Ke-16

Tidak bisa ditetapkan dengan pasti kapan Injil Kristus tersebar di


Inggris. Tetapi Tertullianus seorang Bapa Gereja dari awal abad ke-3
mencatat bahwa pada zamannya gereja telah hadir di Inggris.
Aliran

kekristenan

pertama

yang

berdiri

di

Inggris

adalah

kekristenan yang berciri Romano-Britania. Aliran kekristenan kedua


adalah aliran yang dikenal dengan istilah Kekristenan Celtic yang
biaranya di desa-desa. Aliran kekristenan yang ketiga adalah aliran
Katolik Roma, sejak Paus Gregorius mengutus misionaris Agustinus
dan kawan-kawan ke Canterbury pada tahun 1597. Masing-masing
gereja ini mengklaim hak untuk mempertahankan tradisinya
sendiri. Meskipun sejak abad ke-2 Gereja Roma mengkelaim
keutamaan dan statusnya sebagai satu-satunya gereja yang sah di
dunia.
Demikianlah gereja di Inggris berkembang dari abad ke-6 hingga
abad ke-16. Pada masa itu uskup dari Gereja Katolik Roma sangat
menekankan persatuan dengan Roma dan otonomi gereja Inggris.
Sikap uskup yang kedua ini biasanya sangat erat dengan gereja
Inggris. Uskup juga terkadang taat pada raja, misalnya Uskup
Lanfranc

(1005-1089).

Sementara gereja di Ingris tetap memilihara kesatuan dengan


Gereja Katolik Roma, terutama dalam hal ajaran dan praktek seharihari. Sejak abad ke-14 mulai muncul pikiran kritis yang menggugat

berbagai segi ajaran maupun peraktek dalam gereja. Misalya, John


Wycliffe, sebagai salah seorang perintis reformasi. Cita-citanya
adalah memulikan kedudukan Alkitab sebagai otoritas tunggal bagi
kehidupan

dan

terjemahan

ajaran

Alkitab

terjemahannya

ke

gereja.

Untuk

dalam

bahasa

dinilai

itu,

Ia

memprakarsai

Inggris,

jauh

kendati

dari

hasil

cermat.

Gagasan Wycliffe ini dilengkapi dengan gagasan-gagasan teologis


lainnya. Semua ini mendorong lahirnya gerakan reformasi di
lingkungan gereja Inggris. Faktor-faktor lain lahirnya reformasi
gereja Inggris adalah, faktor politis (misalnya, kasus Hennry VIII,
maupun

semangat

nasionalisme

yang

muncul

dalam

gereja

Anglikan), faktor sosial ekonomi (bangkitnya kekuatan pedagang


dan industri), faktor teknologi (penemuan mesin cetak yang
mempercepat pendapat dan ajaran baru). Faktor yang paling kuat
adalah

yang

Kasus

Raja

bersifat
Hennry

religius.
VIII

Meskipun kekuatan religius menjadi faktor utama, namun yang


selalu diacu sebagai pemicu lahirnya Gereja Anglikan adalah
serangkaian peristiwa yang terpumpun pada Raja Hennry VIII
(1509-1547).

Ia

mengalami

konflik

dengan

Paus

Clemens

sehubungan dengan masalah perkawinannya dan secara resmi


memutuskan

hubungan

dengan

Roma

tahun

1534.

Sebenarnya di bidang ajaran gereja pada mulanya Raja Hennry VIII


tidak memiliki masalah dengan Gereja Katolik Roma, bahkan

sebelumnya Ia dipuji sebagai Raja yang sangat setia kepada Roma.


Berkat salah satu tulisannya, Ia diberi gelar oleh Paus sebagai
pembela iman Tetapi dalam perkawinannya Ia memiliki masalah,
dan menurutnya Paus tidak berkenan menolongnya. Pada tahun
1509, menjelang naik takhta Ia menikah dengan Catharina dari
Aragon,

puteri

Spanyol,

janda

almahrum

abangnya

Arthur.

Catharina sebenarnya melahirkan banyak anak, tetapi hampir


semuanya meninggal pada waktu banyi, yang tersisa hanya satu
anak perempuan yaitu, Mary. Pada tahun 1527 (bahkan sudah sejak
tahum 1514) Hennry mengajukan permintaan kepada Paus agar
membatalkan

perkawinannya

dengan

Catharina,

sekaligus

meresmikan perkawinannya dengan salah seorang gundiknya, Anna


Boleyn. Alasannya adalah Catharina tidak memberinya anak lakilaki dan Ia kuatir bahwa rakyatnya tidak menerima wanita sebagai
pewaris takhta kerajaan. Ia menunggu sampai enam tahun tetapi
persetujuan dari Paus tak kunjung datang. Sementara Anna Boleyn
telah mengandung. Karena itu, pada bulan Januari 1533 Raja
Hennry mengambil keputusan untuk menikah Anna Boleyn secara
rahasia. Beberapa bulan kemudian, Mei 1533, Thomas Cranmer,
Unkup Agung Canterbury (konseptor utama reformasi Inggris)
mengumumkan

pembatalan

perkawinan

Raja

Hennry

dengan

Catharina dan pengakuan perkawinannya dengan Anna Boleyn.


Tindakan ini kemudian disusul oleh Paus dengan mengeluarkan
makhlumat pengucilan (ekskomunikasi) kepada Raja Hennry VIII

dan Cranmer, serta pernyataan bahwa anak yang dilahirkan dari


perkawinan

Henrry

dengan

Anne

Boleyn

adalah

tidak

sah.

Pembatalan perkawinan dengan Catharina tidak sama dengan


perceraian. Menurut sejumlah sejarahwan, permintaan pembatalan
oleh Raja Hennry ada benarnya karena, perkawinannya dengan
Catharina sebenarnya tidak sah dan masuk kategori perkawinan
terlarang sebagaimana dikatakan dalam Kitab Imamat 20:21 (yang
mengawini isteri saudara ). Kematian beruntun dari anak yang
dilahirkan oleh Catharina dipahami Hennry sebagai hukuman dari
Allah atas perkawinan terlarang tadi. Sementara itu dicatat juga
bahwa pada masa lalu Paus pernah membatalkan perkawinan
seperti itu, sehingga patut dipersoalkan dan diguguat. Tetapi
sebagian ahli melihat bahwa pemintaan Raja Hennry ini hanyalah
dalil untuk menutupi nafsu besarnya (memiliki enam isteri)
Sementara menantikan pembatalan perkawinan itu. Raja Henry
yang didukung oleh Uskup Cranmer menyadari bahwa Gereja
Inggris tidak perlu terikat pada Paus dan berwenang mengatur
dirinya sendiri. Raja tidak perlu tunduk kepada Gereja, sebaliknya
berwenang mengatur gereja. Pada masa yang bersamaan Raja
melihat bahwa Gereja, terutama biarah-biarah memiliki banyak
kekayaan yang dapat menjadi sumber dana untuk membiayai
kehidupan pemerintah dan perang. Maka, Raja Hennry mengambil
alih

semua

Gereja

kekayaan
Anglikan

ini

di

bawah

Menempuh

pengelolaan

negara.

Jalan

Sendiri

Sejak tahun 1533 Gereja Anglikan berpisah dengan Gereja Katolik


Roma, namun gereja ini tetap mempertahankan struktur yang ada,
ada uskup, rohaniwan, gedung-gedung gereja, dan jemaat-jemaat
dibawa kendali Uskup Agung Canterbury. Jadi, tak ada lagi dibawah
Paus. Sementara dalam hal ajaran, tata ibadah, dan pola organisasi
Gereja Anglikan cukup banyak mempertahankan dan memilihara
warisan dan tradisi Gereja Katolik Roma . Selain itu gereja Anglikan
tetap mengajarkan kebenaran oleh iman dan pokok perselisihan
dogmatik sesuai dengan injili. Perwarisan jabatan rasuli diakui dan
dijunjung

tinggi.

Ajaran dan susunan dari gereja ini mirip dengan Gereja Katolik
Roma, karena dasarnya adalah Book of common Prayer dan 39
Articles (1553), yang dipersiapkan oleh Uskup Agung Thomas
Cranmer, yang dihukum mati oleh ratu Mary (1554). Dalam
dokumen itu dibuang setiap ungkapan yang menyatakan ekaristi
sebagai kurban. Ajaran tentang ekaristi, gereja ini menganut paham
Calvin. Berkat ajaran ini liturgi dan ajaran Gereja Anglikan
tercampur

antara

unsur-unsur

Katolik

dan

Protestan.

Campuran antara unsur Katolik dan Protestan dalam Gereja


Anglikan melahirkan tiga aliran yang merupakan kebijakan Ratu
Elisabeth I. Ketiga aliran itu adalah sebagai berikut: pertama, aliran
High church ( Angola -Katolik ). Aliran ini memberi tekanan kuat
pada pembenaran jabatan rasuli, pelayanan rohani, sakramen, dan
bentuk- bentuk lahiriah dari ibadah serta menegaskan bahwa

Gereja Anglikan adalah perwujudan yang benar dari kekristenan.


Kedua, aliran Low Church. Aliran ini berpegang teguh pada jabatan
uskup (Suksesi apostolik) dengan Kitab Suci sebagai norma
tertinggi. Oleh karena itu, Gereja Anglikan menganggap diri sebagai
jalan tengah antara Gereja Katolik dan Protestan. Ketiga, aliran
Broad Church. Aliran ini kurang memperhatikan ajaran, tetapi
sangat

menekankan

karya

sosial.

Aliran

ini

juga

banyak

menekankan tradisi yang dibangun sejak zaman Elisabeth I, yang


menyatakan bahwa Gereja Anglikan merupakan gabungan hal-hal
terbaik

dari

Gereja

Katolik

Roma

dan

Protestan.

III

Penutup

Gereja Anglikan adalah wujud gereja yang berasal dari gerakan


Reformasi

Protestan.

Berdasarkan

penjelasan-penjelasan

yang

dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa ada tiga faktor terbentuknya


Gereja Anglikan di Inggris. Pertama, hasrat Raja Hennry VIII untuk
mendapatkan

anak

laki-laki.

Kedua,

tumbuhnya

perasaan

nasionalisme dan anti klerikalisme. Ketiga, meluasnya gagasangagasan

Luther.

Gereja ini tetap mempertahankan tradisi katolik yang jemaatnya di


bawah Uskup Agung Canterbury. Tradisi ini tetap di pertahankan,
karena dasarnya adalah dokuman Book of Common Prayer dan 39
Articles yang disiapkan oleh Thomas Cranmer. Berkat dokumen ini,
Gereja Anglikan menggunakan ajaran Gereja Katolik Roma dan
Protestan

Melihat sejumlah aliran dan ajaran dalam Gereja Anglikan dapat


disimpulkan bahwa gereja ini bersifat kompromistis. Di sisi lain,
justru disinilah letak kekuatan gereja ini untuk menjalin hubungan
dan kerja sama dengan banyak gereja, meskipun didalamnya
terdapat pelbagai perbedaan aliran.

2.3. Perkembangan agama di Inggris


Kristen adalah agama yang paling banyak dianut di Inggris sejak Abad
Pertengahan, namun agama ini sudah diperkenalkan pertama kalinya pada masa

Romawi dan Gaelik. Saat ini, sekitar 72% dari penduduk Inggris teridentifikasi
sebagai Kristiani. Denominasi terbesar yang dianut adalah Anglikan. Anglikan ini
berasal dari periode Reformasi Inggris pada abad ke-6 saat Raja Henry VIII
memisahkan negara dari Gereja Katolik Roma karena tidak diizinkan bercerai dengan
istrinya, Catharina dari Aragon, serta kebutuhan akan Alkitab berbahasa Inggris.
Dalam pandangan agama, Henry VIII ini dianggap sebagai penganut Katolik dan
Anglikan.
Di Inggris, terdapat tradisi Gereja Tinggi dan Gereja Rendah, dan beberapa
penganut Anglikan menganggap dirinya sebagai "Anglo-Katolik" setelah adanya
Gerakan Traktarian. Raja atau Ratu Britania Raya adalah pemimpin tituler Gereja
yang bertindak sebagai Gubernur Agung. Anglikan merupakan agama resmi di
Inggris. Ada sekitar 26 juta penganut agama ini yang tergabung menjadi Komuni
Anglikan, dan Uskup Agung Canterbury bertindak sebagai kepala simbolis komuni di
seluruh dunia. Banyak katedral dan gereja-gereja paroki yang merupakan bangunan
dan arsitektur bersejarah yang terkemuka di Inggris. Bangunan-bangunan ini antara
lain: Westminster Abbey, York Minster, Katedral Durham, Katedral Santo Paulus dan
Katedral Salisbury.
Penganut Kristen terbesar kedua adalah denominasi Ritus Latin dari Gereja
Katolik. Kepercayaan ini memasuki Inggris pada abad ke-6 melalui misi Agustinus
dan menjadi agama utama di seluruh pulau selama seribu tahun. Sejak munculnya
Emansipasi Katolik, Gereja ini dijalankan secara eklesiologikal di Inggris dan Wales.
Terdapat kurang lebih 4,5 juta penganut Gereja ini (sebagian besarnya penduduk
Inggris). Sampai saat ini, tercatat ada seorang Paus yang berasal dari Inggris, yaitu
Adrian IV. Sedangkan santo Beda dan Anselm dianggap sebagai Doktor Gereja.
Denominasi Protestan yang dikenal dengan Methodisme adalah praktik Kristen
terbesar ketiga dan tumbuh dari Anglikanisme melalui John Wesley. Ajaran ini
mencapai popularitas di kota-kota pabrik seperti Lancashire, Yorkshire, dan
Cornwall. Terdapat juga penganut non-konformis minoritas lainnya seperti Gereja
Baptis, Quaker, Unitarianisme, Kongregasionalisme, dan Bala Keselamatan. Santo
pelindung Inggris adalah Santo George. Simbol salibnya disertakan dalam bendera
Inggris, juga dalam Union Flag sebagai bagian dari kombinasi Britania Raya. Selain

itu, terdapat banyak santo Inggris lainnya. Beberapa yang paling terkenal di
antaranya: Cuthbert, Alban, Wilfrid, Aidan, Edward sang Pengaku, John Fisher,
Thomas More, Petroc, Piran, Margaret Clitherow, dan Thomas Becket. Disamping
Kristen, Inggris juga memiliki penganut agama lainnya. Yahudi telah memiliki
penganut minoritas di Pulau Britania sejak tahun 1070. Penganut Yahudi diusir dari
Inggris pada tahun 1290 menyusul diberlakukannya Edict of Expulsion, dan baru
diizinkan kembali memasuki Inggris pada tahun 1656.
Sejak tahun 1950-an, agama-agama Timur yang berasal dari bekas koloni
Britania mulai masuk ke Inggris akibat imigrasi. Islam adalah yang paling menonjol,
sekitar 3,1% dari total populasi Inggris adalah Muslim. Penganut Islam terbanyak
terdapat di London. Hindu, Sikh, dan Budha adalah urutan berikutnya; kombinasi
total dari penganut ketiga agama ini mencapai 2% dari total penduduk Inggris.
Agama-agama ini terutama sekali dibawa oleh para imigran dari India dan Asia
Tenggara. Selebihnya, sekitar 14,6% penduduk Inggris adalah Atheis.