Anda di halaman 1dari 8

Borang Portofolio

Nama Peserta : dr. Kristanti Andarini


Nama Wahana : RS Bhayangkara Balikpapan
Topik : Appendisitis Akut
Tanggal (kasus) : 2 Desember 2015
Nama Pasien : Nn.S
No.RM :
Tanggal Presentasi : 26 Januari 2016
Nama Pendamping : dr. Ami Noviana P.
Tempat Presentasi :
Ruang Presentasi RS Bhayangkara Baikpapan
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi Anak
Remaja Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi :
Perempuan, nyeri perut kanan bawah.
Tujuan :
Penegakkan diagnosa dan pengobatan yang tepat dan tuntas.
Bahan
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Bahasan :
Cara
Diskusi Presentasi dan Diskusi E-mail
Pos
Membahas :
Data Pasien : Nama : Nn. S, 26 tahun
No. Registrasi :
Nama Unit Pelayanan : IGD RS
Telp :
Terdaftar sejak :
Bhayangkara
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Apendisitis Akut / Nyeri perut kanan bawah sejak 4 jam
sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien merasakan nyeri di perut bagian tengah sejak
2 hari SMRS, kemudian nyeri berpindah ke perut kanan bawah. Pasien juga merasakan
demam, mual dan muntah sebanyak 2 kali sejak 4 jam SMRS. BAB (-) 2 hari. BAK dalam
batas normal. Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan dan nyeri lepas di titik
McBurney, Rovsing sign (+), Obturator sign (+), Psoas sign (+).
2. Riwayat Pengobatan : Riwayat alergi (-), Riwayat operasi sebelumnya (-)
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit:. BAB pasien tidak lancar (3-4 hari sekali). Pasien tidak
pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya. Riwayat hipertensi disangkal. Riwayat
DM disangkal. Gangguan haid (-).
4. Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan seperti pasien.
5. Riwayat Pekerjaan : Pasien seorang perawat.
6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Tidak ada yang berhubungan.
7. Lain-lain : Leukosit 10.300 / mm3, CT : 10,BT : 3 GDS 96 mg/dl
Daftar Pustaka :
1. De Jong, Wim. 2004. Apendisitis Akut, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi II. Hal 6401

645. Jakarta: EGC.


2. Mansjoer, Arif dkk. 2000. Apendisitis, dalam Kapita Selekta Kedokteran, edisi III, jilid
II. Hal 307-313. Jakarta: Media Aesculapius.
3. Schwartz S, Shires G, Spencer F. Prinsip-prinsip Ilmu Bedah (Principles of Surgery.
Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008
4. Modul Kepaniteraan Klinik Bedah. Apendisitis Akut. Bagian Ilmu Bedah FK Unand.
2002.
Hasil Pembelajaran :
1. Apendisitis Akut
2. Penegakan diagnosa apendisitis
3. Tatalaksana apendisitis

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


1. SUBJEKTIF
Keluhan Utama: Nyeri perut kanan bawah sejak 4 jam SMRS.
Awalnya pasien merasakan nyeri di perut bagian tengah sejak 2 hari SMRS, kemudian
nyeri berpindah ke perut kanan bawah.
Pasien juga merasakan demam, mual dan muntah sebanyak 2 kali sejak 4 jam SMRS.
BAB pasien tidak lancar (3-4 hari sekali).
2. OBJEKTIF
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
Kesadaran
Tekanan Darah

: tampak sakit sedang


: Composmentis, GCS : E4V5M6
: 110/70 mmHg
2

Nadi
Pernapasan
Suhu

: 88x/menit, kuat angkat


: 22 x/ menit, reguler
: 38,50 C per aksiler

Status Internus
Kepala
Mata
Kulit
Thoraks
Paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

: Tidak ada kelainan


: Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/: Turgor kulit baik
:
:
:
:
:

Gerakan nafas simetris kiri dan kanan


Fremitus kiri sama dengan kanan
Sonor di kedua lapangan paru
Vesikuler, rhonki ---/---, wheezing ---/---

:
:
:
:

Iktus cordis tidak terlihat


Iktus cordis teraba di linea midclavicula sinistra ICS V
Batas jantung normal
S1 S2 reguler, suara jantung tambahan tidak ada

:
:
:
:

Datar
Bising usus (+) normal
Timpani
Hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-) epigastrium, nyeri
tekan (+) di titik McBurney, rovsing (+), Psoas sign (+),
obturator sign (+), defans muskuler (-), Tidak teraba massa di
perut kanan bawah

Ekstremitas

: Akral hangat, edema -/-

Laboratorium (2 Desember 2015) :

Hb
Leukosit
Trombosit
Hematokrit
Neutrofil
Lymphosit
Monosit
Eosinofil
Basofil
CT
BT

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

11,5 gr/dl
10.300/mm3
306.000/mm3
37%
75%
17%
6%
1%
0
10
3
3

GDS

USG Abdomen

: 96 mg/dl
: Appendisitis Akut

3. ASSESMENT (Penalaran Klinis)


Definisi
Apendisitis disebabkan karena adanya obstruksi pada lumen appendiks vermiformis,
penyebab sumbatan lumen yang paling sering adalah fecolit, diikuti hiperplasia jaringan limfoid
submukosa yang dikenal dengan gut associate limphoid tissue (GALT), tumor, parasit usus atau
benda asing seperti biji buah-buahan atau bubur barium dari pemeriksaan radiologi sebelumnya.
Faktor lain yang sangat berperan dalam perjalanan penyakit apendisitis akut adalah kuman dalam
lumen appendiks. Kuman yang ada dalam lumen apendiks sama dengan kuman yang ada di
dalam kolon, seperti kuman E.coli, Klebsiella, Pseudomonas, Peptostrepcoccus, dll.
Setelah terjadi obstruksi lumen, apendiks akan menyerupai suatu kantong tertutup yang
disebut closed loop, di dalam lumen akan terjadi penumpukan sekret apendiks dan pada saat
bersamaan terjadi perkembangbiakan kuman-kuman dalam lumen, yang mengakibatkan
terjadinya reaksi peradangan dan distensi apendiks. Distensi ini mengakibatkan bendungan aliran
limfe, aliran vena dan arteri, yang pada akhir proses peradangan ini akan mengenai seluruh
dinding apendiks.
Patogenesis
Pada tahap awal terjadinya reaksi peradangan apendiks, yang mengalami iritasi baru
mukosa dari apendiks sehingga pada saat ini keluhan nyeri semata hanya akibat distensi dari
apendiks atau akibat kontraksi otot polos appendiks dalam usaha menghilangkan sumbatan
lumen tadi. Secara patologi stadium ini disebut stadium kataral atau akut fokal. Jika reaksi
peradangan telah sampai ke serosa disertai adanya proses supuratif akibat ekspansi kuman ke
dinding disebut apendisitis supurativa. Stadium selanjutnya bila telah terdapat daerah yang
mengalami gangren makan disebut apendisitis akut stadium gangrenosa, yang jika tidak
dilakukan pertolongan akan menjadi apendisitis perforasi.
Perjalanan penyakit appendisitis akut bisa terhenti pada stadium akut fokal, namun mukosa
yang telah mengalami iritasi akan menyisakan jaringan parut dalam proses penyembuhannya,
4

sehingga hal ini akan mengakibatkan keluhan nyeri sekitar pusar berulang, secara patologi
stadium ini disebut apendisitis kronis. Pada stadium supuratif gangrenosa atau mikroperforasi
akibat adanya daya tahan tubuh yang baik yang salah satu tandanya adanya proses pendindingan
dari appendiks yang meradang oleh omentum (walling off) makan akan terbentuk suatu infiltrasi
di kanan bawah yang disebut apendisitis infiltrat.
Manifestasi Klinis
Gejala utama pada apendisitis akut adalah nyeri abdomen. Pada mulanya terjadi nyeri
visceral, yaitu nyeri yang sifatnya hilang timbul seperti kolik yang dirasakan di daerah umbilikus
dengan sifat nyeri ringan sampai berat. Hal tersebut timbul oleh karena apendiks dan usus halus
mempunyai persarafan yang sama, maka nyeri visceral itu akan dirasakan mula-mula di daerah
epigastrium dan periumbilikal. Secara klasik, nyeri di daerah epigastrium akan terjadi beberapa
jam (4-6 jam) seterusnya akan menetap di kuadran kanan bawah dan pada keadaan tersebut
sudah terjadi nyeri somatik yang berarti sudah terjadi rangsangan pada peritoneum parietale
dengan sifat nyeri yang lebih tajam, terlokalisir serta nyeri akan lebih hebat bila batuk ataupun
berjalan kaki.
Hampir tujuh puluh lima persen penderita disertai dengan vomitus akibat aktivasi N.vagus,
namun jarang berlanjut menjadi berat dan kebanyakan vomitus hanya sekali atau dua kali.
Penderita apendisitis juga mengeluh obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri dan beberapa
penderita mengalami diare, hal tersebut timbul biasanya pada letak apendiks pelvikal yang
merangsang daerah rektum. Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, yaitu suhu antara
37,50 38,50C tetapi bila suhu lebih tinggi, diduga telah terjadi perforasi.
Pemeriksaan Fisik
Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan bawah atau titik Mc Burney. Nyeri
lepas muncul karena rangsangan peritoneum, sementara rebound tenderness (nyeri lepas tekan)
adalah rasa nyeri yang hebat (dapat dengan melihat mimik wajah) di abdomen kanan bawah saat
tekanan secara tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan yang perlahan dan
dalam di titik Mc Burney. Pada apendisitis retrosekal diperlukan palpasi dalam untuk
menentukan adanya rasa nyeri. Dengan pemeriksaan Rectal Toucher akan ditemukan nyeri tekan
pada arah jam 11. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih
ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Rigiditas psoas dapat ditemukan bila appendiks letak
retrosekal, terutama bila apendiks melekat pada otot psoas.

Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menegakkan diagnosis apendisitis akut. Pada


kebannyakan kasus terdapat leukositosis, terlebih pada kasus dengan komplikasi.
Diagnosis
Gejala dan pemeriksaan fisik apendisitis bisa dinilai untuk menegakkan diagnosa
appendisitis dengan menggunakan Alvarado Score.
Skor Alvarado
Semua penderita dengan suspek Appendicitis acuta dibuat skor Alvarado dan
diklasifikasikan

menjadi 2 kelompok yaitu: skor <6 dan >6. Selanjutnya dilakukan

Appendectomy, setelah operasi dilakukan pemeriksaan PA terhadap jaringan Appendix dan


hasilnya diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu: radang akut dan bukan radang akut.
Characteristic
M = Migration of pain to the RLQ
A = Anorexia
N = Nausea and vomiting
T = Tenderness in RLQ
R = Rebound pain
E = Elevated temperature
L = Leukocytosis
S = Shift of WBC to the left
Total

Score
1
1
1
2
1
1
2
1
10

Keterangan:
0-4 : kemungkinan bukan Apendisitis
5-6 : mungkin Apendisitis
7-8 : kemungkinan besar Apendisitis
9-10 : pasti Apendisitis
Bila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit, bila skor >6 maka tindakan bedah
sebaiknya dilakukan.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien pada kasus ini, dapat dilakukan penilaian
Alvarado score:
Migration of pain
Anorexia
Nausea/vomiting
RLQ tenderness
Rebound
Elevated temperatur
Leukocytosis
Left shift
Total points

:1
:1
:1
:2
:1
:1
:2
::9

Dari penilaian Alvarado score dapat ditarik kesimpulan bahwa pasien menderita
Apendisitis akut.
Penatalaksanaan
Bila diagnosis apendisitis telah ditegakkan, maka tindakan yang paling tepat adalah
apendiktomi dan merupakan pilihan terbaik. Penundaan tindakan bedah sambil pemberian
antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pada apendisitis yang diagnosisnya tidak
jelas sebaiknya dilakukan observasi, maka dianjurkan melakukan pemeriksaan laboratorium dan
ultrasonografi
Penatalaksanaan pasien yang dicurigai Apendisitis :
-

Puasakan
Berikan analgetik dan antiemetik jika diperlukan untuk mengurangi gejala.
Penelitian menunjukkan bahwa pemberian analgetik tidak akan menyamarkan gejala saat
pemeriksaan fisik.
Pertimbangkan KET terutama pada wanita usia reproduksi.
Berikan antibiotika IV pada pasien dengan gejala sepsis dan yang membutuhkan Laparotomi
Rujuk ke dokter spesialis bedah.
Antibiotika preoperatif
Pemberian antibiotika preoperatif efektif untuk menurunkan terjadinya infeksi post operasi.
Diberikan antibiotika broadspektrum dan juga untuk gram negatif dan anaerob. Antibiotika
preoperatif diberikan dengan order dari ahli bedah. Antibiotik profilaksis harus diberikan
sebelum operasi dimulai. Biasanya digunakan antibiotik kombinasi, seperti Cefotaxime dan
Clindamycin, atau Cefepime dan Metronidazole. Kombinasi ini dipilih karena frekuensi
bakteri yang terlibat, termasuk Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Enterococcus,

Streptococcus viridans, Klebsiella, dan Bacteroides.


Perawatan appendisitis tanpa operasi
Penelitian menunjukkan pemberian antibiotika intravena dapat berguna untuk Appendisitis
akut bagi mereka yang sulit mendapat intervensi operasi (misalnya untuk pekerja di laut
lepas), atau bagi mereka yang memilki resiko tinggi untuk dilakukan operasi.

Prognosis
Kematian dari apendisitis di Amerika Serikat telah terus menurun dari tingkat 2,9 per
100.000 pada awal tahun 90 an, dengan 0,2 per 100.000 pada tahun 2000. Diantara faktor-faktor
yang bertanggung jawab adalah kemajuan dalam anestesi, antibiotik, cairan intravena, dan

produk darah. Faktor utama dalam kematian adalah apakah apendiks perforasi sebelum bedah
dan usia pasien.
4. PLAN :
DIAGNOSIS KERJA
Apendisitis Akut
PENATALAKSANAAN
Appendictomy
FOLLOW UP
Selesai dilakukan apendiktomy tanggal 2 Desember 2015 Anjuran post op sbb:
-

Immobilisasi

Awasi tanda tanda vital

Jika BU(+) boleh minum

Pendidikan :
Kepada pasien dan keluarganya dijelaskan penyebab timbulnya penyakit yang dideritanya dan
menjelaskan tindakan yang seharusnya diambil jika anggota keluarga yang lain mengalami
gejala-gejala awal appendisitis akut.
Kontrol :
Hasil yang Diharapkan
Hasil operasi sesuai
diharapkan

dan

tidak

Periode
Hasil yang Diharapkan
yang Satu minggu setelah Kondisi anak semakin membaik
ada dipulangkan

komplikasi yang timbul


Kualitas hidup pasien membaik

Setiap kali kunjungan

dan tidak terdapat keluhan


Kualitas hidup pasien membaik