Anda di halaman 1dari 4

Sejarah Perkerasan Jalan

Sejarah jalan pada hakekatnya dimulai bersama dengan sejarah manusia. Pada saat pertama manusia
mendiami bumi kita ini, usaha mereka pertama-tama ialah mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup
mereka terutama makan dan minum. Dalam mencari cara tersebut, mereka dan juga binatang-binatang
mencari tempat-tempat paling sedikit rintangannya. Karena pada waktu itu mereka masih merupakan
penggembara-penggembara, maka yang dapat kita lihat sekarang hanyalah jejaknya saja. Karena manusia
dan binatang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu minum, maka jejak-jejak yang menuju ke danaudanau atau sungai-sungai lebih banyak ditemukan.
JALAN SETAPAK
Setelah manusia berkembang biak dan hidup berkelompok, maka mereka membutuhkan termpat berdiam
meskipun hanya sementara. Umumnya mereka berpindah-pindah tempat secara musiman, bila tempattempat di sekitarnya sudah tidak ada bahan makanan yang mereka butuhkan. Pada waktu itu jejak-jejak
tersebut menjadi jalan setapak atau bila di hutan terkadang disebut lorong-lorong tikus. Jalan ini
merupakan jalan musiman (seasonal-road). Orang-orang nomaden mempergunakan jalan ini untuk berburu
pada musim berburu dan untuk mencari ikan.

JALAN SEBAGAI PRASARANA SOSIAL, EKONOMI, POLITIK, MILITER, DAN KEBUDAYAAN


Kira-kira pada 5000 tahun yang lalu manusia mulai hidup berkelompok di suatu tempat membentuk suku-suku
atau bangsa-bangsa. Pada saat ini manusia mulai mempergunakan jalan yang tetap untuk mengadakan
hubungan dan tukar-menukar barang (barter) antara suku-suku atau bangsa-bangsa tersebut. Pada saat inilah
sejarah transportasi yang sesungguhnya dimulai yang berfungsi sebagai prasarana sosial dan ekonomi.
Bangsa Persia (6 abad sebelum Masehi) dan bangsa Romawi (4 abad sebelum Masehi) mulai menaruh
perhatian yang besar kepada pembuatan jalan-jalan untuk mempertahankan persatuan bangsanya dan untuk
keperluan gerakan tentaranya dalam memperluas imperiumnya. Dengan demikian fungsi jalan bertambah
dengan politik dan militer. Karena selama mereka menaklukkan bangsa-bangsa lain, mereka juga membawa
kebudayaan, maka jalan juga mempunyai fungsi kebudayaan.
Bangsa Persia mulai abad 6 SM membuat jalan sepanjang kurang lebih 1.755 mil lewat Asia kecil, Asia Barat
Daya sampai teluk Persia. Sedangkan bangsa Romawi yang terkenal itu, selama abad ke 4 SM dan abad ke 4 M
membuat jalan kurang lebih 50.000 mil di Italia, Perancis, Spanyol, Inggris, bagian barat Asia kecil dan
bagian Utara Afrika, sehingga bangsa Romawi terkenal sebagai pembuat jalan yang terbesar pada zaman itu.

Para ahli sejarah berpendapat, bahwa kesuksesan bangsa romawi ini disebabkan oleh tiga faktor:

a. Bangsa Romawi memiliki ahli-ahli negara yang tahu arti pentingnya jalan sebagai prasarana perhubungan
untuk mempertahankan dan memperluas imperiumnya.
b. Bangsa Romawi lebih mengenal tentang teknik pembuatan jalan dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain
pada zamannya. Mereka mulai mengerti tentang:
Tebal lapisan perkerasan jalan.
Mempergunakan material untuk jalan yang tidak lembek karena air hujan.
Mengembangkan metode pengembangan jalan melalui berbagai Survey (pengamatan-pengamatan)
c. Mempunyai armada tenaga kerja yang sangat besar, yang terdiri dari :
Budak-budak dari bangsa-bangsa jajahannya yang bisa dipekerjakan sebagai pembuatan jalan.
Bila tidak ada perang bala tentaranya yang sangat besar itu bisa dikerahkan sebagai penasehat, pemimpin
dan sekaligus sebagai pekerja-pekerja pembuat jalan.
Hanya yang sulit dimengerti ialah mengapa mereka membuat perkerasan jalan sampai setebal 3 5 feet (1
1,7 m), sedangkan lalu lintas pada waktu itu hanya terdiri dari para pejalan kaki, kuda-kuda dan hewanhewan lainnya, gerobak-gerobak, dan kereta-kereta perang. Para ahli menduga bahwa hal itu mungkin,
disebabkan karena mereka menguasai armada tenaga kerja yang amat besar dan kecuali itu mungkin karena
sikap ambisius bangsa Romawi yang ingin meninggalkan monumen-monumen kebesarannya kepada anak
cucunya serta bangsa-bangsa lain.
TRANSPORTASI DARAT MEMPUNYAI ARTI STRATEGI
a. Setelah kerajaan Romawi mulai runtuh pada pertengahan abad ke 4 M, maka jalan-jalan yang dibuatnya
menjadi rusak karena kurang mendapat perhatian pemeliharaan. Pada abad ke 5 M orang-orang Barbar
merusak seluruh jalan ini karena takut mendapat serangan mendadak dari bangsa Romawi yang mungkin
bangkit kembali ataupun dari bangsa lainnya. Tindakan ini diikuti oleh bangsa-bangsa lain, sehingga angkutan
darat pada waktu itu menjadi merosot kembali, angkutan barang kembali diangkut langsung dengan hewan,
sedangkan gerobak-gerobak hampir hilang.
b. Pada abad ke-19 Daendels (Gubernur Belanda di Indonesia) membuat jalan sepanjang pulau Jawa dari

Merak Jakarta Bandung Cirebon Purwokerto Yogyakarta Solo Surabaya sampai Banyuwangi
sepanjang kurang lebih 1500 km yang melewati kota-kota penting dan pusat kerajaan. Sehingga Belanda bisa
menguasai ekonomi dan menjinakkan kerajaan-kerajaan di Jawa melalui transportasi darat.
c. Bangsa Jerman dalam membuat persiapan untuk Perang Dunia II, membangun jalan-jalan raya (auto bahn)
dari Berlin menuju ke segala penjuru untuk mensukseskan blitz kriegnya.
d. Dalam perang kemerdekaan melawan tentara Belanda yang unggul dalam persenjataan dan teknik militer,
bangsa Indonesia mengadakan tindakan yang sangat penting dalam arti strategi dan militer ekonomi yaitu
menghancurkan jalan-jalan darat dan rel kereta api sebagai sarana transportasi darat. Sehingga meskipun
awalnya kita kalah hampir pada setiap pertempuran, tetapi akhirnya menang dalam peperangan karena kita
menang dalam srategi dan mental.
Mengingat hal-hal tersebut maka transportasi darat tidak hanya mempunyai arti teknik dan taktik militer
saja, tetapi juga mempunyai arti strategi yang sangat penting. Sebagai kesimpulan maka jalan mempunyai
peranan yang penting dalam bidang sosial, ekonomi, politik, strategi/militer dan kebudayaan. Sehingga
keadaan jalan dan jaringan-jaringan jalan bisa dijadikan barometer tentang tingginya kebudayaan dan
kemajuan ekonomi suatu bangsa. Sebuah pepatah mengatakan: Bagaimana jalannya demikian pula
bangsanya, dan hanya bangsa yang ingin maju saja mengerti akan arti pentingnya jalan pada khususnya dan
perhubungan pada umumnya.
SETELAH MENGENAL KENDARAAN BERODA
Bangsa Romawi mulai abad ke-4 SM sampai abad ke-4 M telah membuat jalan dengan perekerasan ukuran
tebal 3- 5 feet (1- 1,7 m) dan lebarnya 35 feet (kurang lebih 12 m). Perkerasan tersebut dibuat berlapis-lapis
seperti gambar di bawah ini:
PADA AKHIR ABAD KE 18
A. Seorang bangsa Inggris bernama Thomas Telford (1757 1834) ahli jembatan lengkung dari batu,
menciptakan konstruksi perkerasan jalan yang prinsipnya seperti jembatan lengkung. Prinsip ini
menggunakan desakan-desakan dengan menggunakan batu-batu belah yang dipasang berdiri dengan tangan.
Konstruksi ini kemudian sangat berkembang dan dikenal dengan sebutan sistem Telford.
B. Pada waktu itu pula Scotsman John London Mc. Adam (1756 1836) memperkenalkan konstruksi
perekerasan jalan dengan prinsip tumpang tindih dengan menggunakan batu-batu pecah dengan ukuran
terbesar 3. Perkerasan sistem ini sangat berhasil dan merupakan prinsip pembuatan jalan secara masinal
(dengan mesin). Selanjutnya sistem ini disebut sistem Macadam. Sampai sekarang kedua sistem tersebut
masih lazim dipergunakan di daerah-daerah di Indonesia dengan menggabungkannya menjadi sistem Telford-

Macadam. Dengan begitu perkerasan jalan untuk bagian bawah menggunakan sistem Telford kemudian untuk
perkerasan atas dengan sistem Macadam.
PADA ABAD KE-19 SETELAH DITEMUKAN KERETA API
Setelah kereta api ditemukan mulai tahun 1830 jaring-jaring rel K.A dibuat di mana-mana, maka angkutan
lewat jalan darat mulai terdesak, dengan sendirinya teknik pembuatan jalan tidak berkembang. Akan tetapi
pada akhir abad ke-19 jumlah kendaraan berangsur-angsur mulai banyak, sehingga menuntut jalan darat
yang lebih baik dan lancar. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 teknik pembuatan jalan yang baik mulai
tumbuh dan berkembang lagi.
PADA ABAD KE-20
Sesudah perang dunia I kira-kira pada tahun 1920 banyak negara-negara mulai memperhatikan pembangunan
jalan raya. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya angkutan yang beroperasi khususnya kendaraan bermotor.
Persaingan antara kereta api dan kendaraan bermotor mulai ramai, karena masing-masing mempunyai
keunggulannya sendiri-sendiri. Untuk angkutan secara massal jarak jauh kereta api bisa dikatakan lebih
efektif. Namun sebaliknya untuk angkutan jarak dekat kendaraan bermotor lebih bisa melayani dari pintu ke
pintu (door to door), sehingga handling cost lebih rendah daripada kereta api.
Disamping itu, orang mulai membuat alat-alat besar yang khusus untuk membuat jalan (road building
equipment), sehingga pembuatan jalan menjadi lebih cepat dan relatif murah dengan kualitas yang lebih
baik. Selama perang dunia II untuk keperluan militer yang mendesak telah dibuat beribu-ribu kilometer jalan
secara masinal dengan sistem modern di banyak negara. Hal itulah yang mendorong berkembangnya ilmu
pengetahuan mengenai konstruksi jalan raya.