Anda di halaman 1dari 10

Kecanduan Mendengarkan Musik bisa Mengganggu

Kesehatan Pendengaran
Posted on January 10, 2009 by Alhamsyah Blog

Saya baru saja membaca sebuah artikel di salah satu majalah yang mengatakan bahwa
diperkirakan terdapat 5-10 persen dari penggila musik yang mendengarkan musik mp3 dari mp3 player mereka
selama lebih dari satu jam setiap hari berpotensi mengalami masalah atau gangguan pendengaransecara
permanen. Gawat!!! Apalagi kira-kira lima belas menit yang lalu saya mendengarkan musik mp3 dari laptop dengan
menggunakan earphone. Sebenarnya hal ini bukan info baru. Jaman kuliah dulu kami pernah diajarkan baik di THT
(Ilmu Penyakit Hidung, Telinga dan Tenggorokan) maupun IKM (ilmu Kesehatan Masyarakat)-khususnya tentang
kesehatan kerja- bahwa ada yang disebut dengan tuli saraf atau istilah kedokterannya tuli sensori-neural. Suatu
jenis tuli yang berbeda dengan tuli jenis lainnya -tuli konduktif atau tuli kongenital- dimana kerusakannya ada pada
saraf dan sifatnya permanen. Pada seseorang yang menderita jenis tuli/gangguan pendengaran ini tidak akan bisa
mendengarkan

suara

pada

frekuensi

tertentu.

Nah apa yang bisa kita lakukan agar kita tidak mengalami gangguan pendegaran jenis ini. Mungkin hal ini akan
menjadi hal yang sulit bagi kita terutama pencandu musik yang sudah menjadi kebiasaan menempel headset,
headphone atau apapun namanya di telinga kita, apalagi hal ini bukan hal luar biasa lagi, cobalah lihat di bis, busway,
halte, pesawat dll, begitu banyak yang menggunakannya. Yeah ini sudah jaman iPod, bukan jamannya lagi membawa
tape kompo besar di pundak. Lagipula, dengan menggunakan heaset kita bisa menikmati musik yang kita senangi
tanpa

perlu

mengganggu

orang

lain

di

sekitar

kita.

Hal berikut ini mungkin akan berguna bagi saya dan anda tanpa perlu meninggalkan kebiasaan ini:
1. Tentu saja pertama adalah atur volume mp3 player kamu pada tingkat yang tidak terlalu tinggi. Di mp3
player seperti Creative kamu bisa mengaktifkan mode smart volume selain suara keluaran di headset tidak berisik
hasilnya juga lebih enak didengar.
2. Aktifkan atau setting di mp3 player kamu untuk mati secara otomatis setelah waktu tertentu, yang
penting tidak lebih dari satu jam! Bisa kamu set 45 menit atau setengah jam. Semua handset sekarang pada
umumnya telah memiliki fasilitas ini, di handphone Sony Ericsson Walkman ada, di Creative seperti Zen Vision:
M juga

ada,

namanya

idle

shut

down.

Hal ini berlaku pula bagi anda yang bekerja di tempat yang bising seperti pabrik, petugas parkir pesawatheheheapa ya istilahnya?- dll, gunakan alat peredam suara dan hindari berada di ruangan sumber suara tersebut
lebih dari sejam.
3. Saya pikir lebih bijak bila menggunakan headset yang biasa daripada yang in ear,-tahu kan?- selain harga
headset in-ear jauh lebih mahal, juga akan lebih baik bagi kesehatan pendengaran kita. Kalaupun terpaksa
menggunakannya, gunakan yang memiliki lubang udara di luar jadi kelebihan suara tidak akan membebani telinga
kamu. Bahkan merek tertentu seperti Sennheiser memiliki fasilitas tertentu dengan menekan tombol
tertentu kamu akan bisa mendengarkan suara di luar tanpa melepas headsetnya dari telinga anda.

4. Hindari penggunaannya pada saat akan mendarat atau take-off, percayalah saya pernah ditegur oleh
chief pramugari karena hal ini, meskipun dengan cara yang amat sangat halus tapi saya tetap merasa malu karena
seisi pesawat memperhatikan saya. Percayalah anda tidak mau melakukan ini. Setelah berada di atas anda boleh
kembali menggunakannya.

Sadarkah Anda Wahai Para Perokok?


Posted on October 9, 2008 by Alhamsyah Blog

Tahukah anda bahwa kebiasaan merokok setelah makan dapat menambah daftar buruk penyakit yang akan anda
derita? Merokok setelah makan sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi para perokok. Dan tanpa disadari telah
menjadi ketergantungan psikologis. Ternyata kebiasaan merokok setelah makan dapat mengakibatkan gangguan
percernaan. Hal ini diakibatkan oleh tertelannya udara sewaktu merokok sehingga udara/gas dalam saluran cerna
akan berlebih. Gejala dan keluhan yang sering ditemukan antara lain: rasa mual/muntah, perut kembung, rasa penuh
setelah makan, bloating (begah) dan terkadang pula disertai dengan keseringan bersendawa. Tentu keluhan itu akan
sangat menggangu dan sayangnya keluhan tersebut kadang dianggap sebagai penyakit maag (gastritis). Oleh dokter
sekalipun keluhan ini sering didiagnosa sebagai maag karena kurangnya menanyakan riwayat penyakit (anamnesa).
Dengan demikian pemberian obat-obatan untuk mengatasi maag tidak akan mengatasi masalah ini. Begitupula
pemberian suplemen enzim pencernaan tidak akan banyak membantu karena pemberian suplemen enzim
pencernaan hanya terutama untuk mengatasi keluhan percernaan seperti di atas akibat makan terlalu cepat, makan
terlalu

banyak

karbohidrat

dan

makan

makanan

yang

tinggi

lemak.

Tampaknya memang merokok akan lebih banyak menimbulkan dampak negatif bagi pecandunya daripada positifnya,
belum kita sebutkan berbagai dampak buruk rokok lainnya bagi kesehatan kita yang bahkan dapat mengancam jiwa.
Akan sangat sulit memang meninggalkan kebiasaan merokok apalagi kalau rokok telah menimbulkan ketergantungan
fisik dan psikis. Ada seseorang misalnya yang sulit untuk bekerja apabila tidak merokok. Tapi itu tidak bisa menjadi
alasan (excuse) untuk tetap merokok. Sudah banyak orang yang berhasil berhenti merokok dan mendapatkan
kehidupan yang sangat sehat sekarang ini. Tidak hanya itu, orang-orang yang berada disekitarnya juga menjadi
semakin nyaman dengan tidak adanya asap rokok.

Kanker Payudara: Penyebab, Gejala dan Pengobatannya


Posted on January 11, 2009 by Alhamsyah Blog

Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak terkontrol dari sel-sel pada payudara. Munculnya sel kanker
tersebut terjadi sebagai hasil dari mutasi atau perubahan yang tidak normal pada gen yang bertanggungjawab
menjaga pertumbuhan sel dan menjaganya tetap normal (sehat). Gen di dalam setiap inti sel, yang bertindak sebagai
ruang kontrol dari masing-masing sel. Biasanya, sel dalam tubuh kita berganti sendiri secara teratur. Proses
pertumbuhan sel: sel sehat baru mengambil alih sel lama. Tapi seiring waktu, mutasi bisa menghidupkan beberapa
gen dan mematikan bagian lain dalam sel. Sel yang berubah tersebut memiliki kemampuan untuk berpisah dan

tanpa

kontrol

memproduksi

lebih

banyak

sel-sel

seperti

itu

dan

membentuk

tumor.

Tumor bisa jinak (tidak berbahaya untuk kesehatan) atau ganas (memiliki potensi untuk menjadi berbahaya). Tumor
jinak bukan kanker: memiliki kemiripan dengan sel normal , tumbuh perlahan, dan tidak menyebar ke jaringan atau
bagian lain dari tubuh. Tumor ganas (malignan) disebut kanker. Sel-sel ganas tersebut dapat menyebar di luar tumor
asal

ke

bagian

atau

jaringan

lain

dari

tubuh.

Istilah kanker payudara merujuk kepada suatu tumor ganas (malignan) yang berkembang dari sel-sel di
payudara. Kangker payudara biasanya dimulai pada sel di lobules, kelenjar yang memproduksi susu, atau pada
duktus saluran kelenjar susu, saluran yang menghubungkan lobulus ke puting susu. Jarang terjadi, kanker payudara
mulai

pada

jaringan

stromal,

termasuk

jaringan

lemak

dan

jaringan

ikat

dari

payudara.

Seiring dengan waktu, sel-sel kanker dapat menyebar ke jaringan payudara sehat membuat jalan masuk ke kelenjar
getah bening di ketiak, suatu organ kecil yang menyaring benda asing dalam tubuh. Jika sel kanker telah meluas ke
kelenjar

getah

bening,

maka

ini

menjadi

jalan

ke

bagian

lain

dari

tubuh.

Kanker payudara selalu disebabkan oleh abnormalitas/gangguan pada gen(suatu kesalahan dalam bahan genetik).
Hanya 5-10% dari kanker diwarisi dari ibu atau ayah. Kira-kira 90% dari kanker payudara adalah karena abnormalitas
genetik

yang

terjadi

sebagai

hasil

dari

proses

ketuaan

dan

lainnya.

Meskipun ada langkah-langkah yang dapat dilakukan setiap orang untuk membantu tubuh tetap sehat seperti makan
diet seimbang, tidak merokok dan alkohol, serta latihan secara teratur, kita tidak akan pernah bisa menjamin bahwa
kita akan terhindar dari penyakit ini.
Statistik (Insidens) Kanker Payudara
Insidens kanker payudara pada perempuan di Amerika Serikat adalah 1 banding 8 (sekitar 13%).
* Pada 2008, sekitar 182.460 kasus baru kanker payudara invasif diharapkan dapat didiagnosis pada perempuan di
Amerika

Serikat,

bersama

dengan

67.770

kasus

baru

kanker

payudara

non-invasif

(in

situ).

* Kira-kira 1.990 kasus baru kanker payudara invasif akan didiagnosis pada pria pada 2008. Kurang dari 1% dari
semua

kasus

baru

kanker

payudara

terjadi

pada

laki-laki.

* Dari 2001 hingga 2004, tingkat insiden kanker payudara di AS turun 3,5% per tahun. Satu teori adalah bahwa
penurunan ini disebabkan karena berkurangnya penggunaanterapi penggantian hormon/terapi sulih
hormon (HRT/ Hormone

Replacement

Therapy).

* Kira-kira 40.480 perempuan di AS diperkirakan meninggal pada 2008 akibat kanker payudara, meskipun angka
kematian telah turun sejak tahun 1990. Ini merupakan hasil dari kemajuan pengobatan, deteksi dini, dan
meningkatnya

kesadaran.

* Untuk perempuan di Amerika Serikat, angka kematian akibat kanker payudara lebih tinggi daripada kanker paruparu.
* Selain kanker kulit, kanker payudara adalah yang paling sering didiagnosis kanker pada perempuan di AS. Lebih
dari

dalam

penderita

kanker

adalah

kanker

payudara.

* Dibandingkan dengan perempuan Amerika keturunan afrika, perempuan kulit putih sedikit lebih besar untuk menjadi
kanker payudara, tapi kemungkinan akan mati lebih kurang. Salah satu alasan adalah bahwa perempuan keturunan
afrika cenderung memiliki tumor yang lebih agresif. Perempuan dari latar belakang etnis lainnya -Asia, Hispanic, dan
lainnya- memiliki risiko lebih rendah dalam perkembangan kematian akibat kanker payudara dibandingkan dengan

kulit

putih

dan

Afro-american.

* Pada 2008, terdapat sekitar 2,5 juta perempuan di AS yang selamat dari kanker payudara.
* Resiko kanker payudara dari seorang perempuan kira-kira dua kali lipat jika dia memiliki turunan pertama (ibu,
saudara perempuan, anak perempuan) yang telah didiagnosis dengan kanker payudara. Sekitar 20-30% perempuan
dengan

diagnosis

kanker

payudara

memiliki

keluarga

dengan

riwayat

kanker

payudara.

* Kira-kira 5-10% dari kanker payudara disebabkan oleh mutasi gen yang diwariskan dari satu ibu atau ayah. Mutasi
dari gen BRCA1 dan BRCA2 adalah yang paling sering. Perempuan dengan mutasi ini memiliki resiko terkena kanker
payudara sampai 80%, dan mereka sering didiagnosis pada usia muda (sebelum usia 50). Meningkatkanresiko
kanker ovarium juga dikaitkan dengan mutasi gen ini. Laki-laki dengan mutasi BRCA1 memiliki 1% risiko
perkembangan menjadi kanker payudara pada usia 70 dan 6% apabila mereka memiliki mutasi BRCA2.
* Kira-kira 90% dari kanker payudara adalah bukan herediter, tetapi abnormalitas genetik yang terjadi sebagai proses
aging/penuaan

dan

gaya

hidup

pada

umumnya.

* Yang paling penting, faktor risiko untuk kanker payudara adalah jenis kelamin(perempuan) dan usia (semakin tua).
Penyebab terjadinya Kanker Payudara
Seperti penyakit kanker lainnya, penyebab pasti kanker payudara belum diketahui. Yang bisa dijelaskan adalah faktor
resiko dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi perkembangan terjadinya kanker payudara.
Resiko terjadinya Kanker Payudara
Risiko

Absolut/Mutlak

Resiko mutlak digunakan untuk menjelaskan seorang individu dari kemungkinan menderita kanker payudara. Ini
didasarkan pada jumlah orang yang akan berkembang menjadi kanker payudara dalam jangka waktu tertentu. Resiko
mutlak juga dapat dinyatakan sebagai persentase.
Apabila kita mengatakan bahwa 1 dari 8 wanita di Amerika Serikat, atau 13%, akan berkembang menjadi kanker
payudara selama seumur hidup, kita berbicara tentang risiko absolut. Rata-rata setiap wanita memiliki 1-dari-8
kesempatan mendapat kanker payudara lebih selama 80 tahun masa hidup.
Risiko mutlak kanker payudara berkembang selama dekade tertentu kehidupan lebih rendah dari 1 dari 8. Anda yang
lebih muda, semakin rendah risiko. Sebagai contoh:
* Dari usia 30 sampai 39, adalah resiko mutlak 1 dalam 233, atau 0,43%. Ini berarti bahwa 1 dari 233 perempuan
dalam

kelompok

usia

ini

dapat

diharapkan

untuk

mendapatkan

kanker

payudara.

Dari

usia

40

sampai

49,

resiko

mutlak

dari

69,

atau

1,4%.

Dari

usia

50

sampai

59,

resiko

mutlak

dari

38,

atau

2,6%.

* Dari usia 60-69, resiko mutlak 1 dalam 27, atau 3,7%.


Seperti yang dapat Anda lihat, semakin tua anda, semakin tinggi resiko mutlak terkena kanker payudara. Perlu
diketahui bahwa jumlah dan persentase rata-rata untuk seluruh penduduk tergantung pada sejumlah faktor, termasuk
riwayat keluarga, riwayat reproduksi (seperti haid dan riwayat anak), ras / etnis, dan faktor lainnya.

Riwayat keluarga, misalnya. Resiko mutlak kanker payudara lebih tinggi bagi perempuan yang telah diwariskan
mutasi gen BRCA1 atau BRCA2. Faktor risiko mutlak mereka selama masa hidup berkisar antara 40-85%. Ini berarti
bahwa dari setiap 100 perempuan yang memiliki gen ini, di mana ada 40-85 bisa berkembang menjadi kanker
payudara.
Risiko

Relatif

Risiko relatif merupakan angka atau persentase yang membandingkan satu kelompok risiko kanker payudara dengan
kelompok lain. Ini adalah jenis risiko yang sering dilaporkan oleh penelitian, yang sering membandingkan kelompok
perempuan dengan perilaku atau karakteristik yang berbeda untuk menentukan apakah satu kelompok yang lebih
tinggi atau lebih rendah dari risiko kanker payudara daripada yang lain (baik pertama kali didiagnosa atau ulangan).
Faktor-faktor Resiko Kanker Payudara
Faktor resiko adalah sesuatu yang meningkatkan risiko menderita kanker payudara. Banyak faktor risiko terpenting
untuk kanker payudara berada diluar kendali kita, seperti usia, riwayat keluarga, dan riwayat medis. Namun, ada
beberapa faktor risiko yang dapat dikontrol, seperti berat badan, aktivitas fisik dan konsumsi alkohol.
Faktor

risiko

yang

dapat

dikendalikan:

Bobot/berat badan. Kegemukan yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara, terutama bagi
perempuan setelah tidak haid (menopause). Jaringan lemak tubuh adalah sumber utama estrogen setelah ovarium
berhenti menghasilkan hormon. Memiliki jaringan lemak lebih banyak berarti memiliki estrogen yang lebih tinggi, yang
dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Diet. Diet diduga merupakan faktor risiko untuk berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara, tetapi belum ada
studi mengenai jenis makanan yang meningkatkan risiko tersebut. Adalah ide baik untuk membatasi sumber daging
merah (termasuk lemak dalam keju, susu, dan es krim) karena mungkin saja berisi hormon, faktor pertumbuhan
lainnya, antibiotik dan pestisida yang membayakan kesehatan. Beberapa peneliti percaya bahwa makan terlalu
banyak kolesterol dan lemak lainnya adalah faktor risiko untuk kanker, dan studi menunjukkan bahwa makan banyak
daging merah atau daging yang diproses dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap kanker payudara. Diet
rendah lemak misal buah-buahan dan sayuran umumnya dianjurkan.
Latihan/Olahraga. Bukti yang berkembang bahwa latihan dapat mengurangi resiko kanker payudara. American
Cancer Society merekomendasikan melakukan olahraga selama 45-60 menit 5 hari atau lebih dalam seminggu.
Konsumsi alkohol. Studi menunjukkan bahwa risiko kanker payudara meningkat seiring dengan banyaknya jumlah
konsumsi alkohol. Alkohol dapat membatasi kemampuan hati untuk mengendalikan tingkat hormon estrogen darah
yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko.
Merokok. Merokok dikaitkan dengan sedikit peningkatan resiko kanker payudara.
Terpapar estrogen. Karena hormon estrogen perempuan merangsang pertumbuhan sel payudara, terpapar dengan
estrogen dalam waktu yang lama, tanpa terputus dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Beberapa

faktor

resiko

tersebut

yang

dapat

kita

kontrol,

seperti:

* Menggunakan gabungan terapi hormon pengganti (estrogen dan progesterone; HRT) untuk beberapa tahun atau
lebih,

atau

menggunakan

estrogen

sendiri

selama

lebih

dari

10

tahun

Kegemukan

* Kebiasaan minum alkohol


Nampaknya penggunaaan kontrasepsi oral/pil sedikit meningkatkan risiko untuk kanker payudara, tetapi hanya
terbatas untuk jangka waktu tertentu. Wanita yang berhenti menggunakan kontrasepsi oral lebih dari 10 tahun yang
lalu tidak mempunyai peningkatan risiko kanker payudara.
Stres dan kegelisahan. Tidak ada bukti jelas bahwa stres dan kegelisahan dapat meningkatkan risiko kanker
payudara. Namun, apapun yang bisa kita lakukan untuk mengurangi stres dan untuk meningkatkan kenyamanan,
bersenang-senang dan bahagia dapat memiliki efek yang besar pada kualitas hidup. Jadi sebutlah kegiatan seperti:
meditasi dan doa/ibadah dapat berharga buat kualitas hidup kita. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa praktek ini
dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Faktor

risiko

yang

tidak

dapat

dikendalikan:

Gender/Jenis Kelamin. Wanita adalah faktor risiko kanker payudara. Meskipun laki-laki bisa mendapatkan kanker
payudara, sel payudara perempuan terus berubah dan berkembang, terutama akibat kegiatan hormon estrogen dan
progesterone. Kegiatan ini menempatkan mereka pada risiko lebih besar untuk kanker payudara dibandingkan pria.
Usia. Dari usia 30 sampai 39, risikonya adalah 1 dalam 233, atau 0,43%. Yang menjadi 1 dari 27 atau hampir 4%
pada saat seseorang berada di usia 60 tahun.
Riwayat kanker payudara dalam keluarga. Jika seseorang memiliki garis keturunan pertama (ibu, anak perempuan,
saudara perempuan) yang memiliki kanker payudara atau ada beberapa keluarga yang terkena kanker payudara atau
ovarium (terutama sebelum mereka berumur 50), berarti seseorang tersebut memiliki resiko lebih tinggi mendapatkan
kanker payudara.
Riwayat pribadi kanker payudara. Jika seseorang telah didiagnosa dengan kanker payudara, maka risiko
berkembang lagi, baik di payudara yang sama atau payudara lainnya, lebih tinggi daripada jika tidak pernah memiliki
penyakit ini sebelumnya.
Ras. Perempuan kulit putih sedikit lebih tinggi untuk mendapat kanker payudara selain perempuan afro amerika.
Orang asia, Hispanic dan non amerika memiliki resiko lebih rendah kanker payudara.
Terapi radiasi pada dada. Setelah terapi radiasi pada daerah dada saat masih anak-anak atau dewasa muda untuk
pengobatan kanker lain secara signifikan meningkatkan resiko kanker payudara. Peningkatan risiko kelihatannya
meningkat jika radiasi diberikan saat payudara masih berkembang (selama masih remaja).
Perubahan seluler payudara. Perubahan sel payudara yang tidak biasanya ditemukan saat biopsi payudara dapat
menjadi faktor risiko untuk kanker payudara. Perubahan ini meliputi pertumbuhan yg terlalu cepat dari sel (disebut
hyperplasia) atau penampakan yang abnormal (atipikal).
Terpapar estrogen. Karena hormon estrogen perempuan merangsang pertumbuhan sel payudara, terpapar estrogen
lebih lama, tanpa jeda, dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Beberapa
*
*

faktor

Mulainya
Saat

risiko
haid

menopause/haid

yang

(menarke)
brehenti

tidak
pada

(akhir

siklus

di
usia
bulanan)

bawah
muda
pada

kontrol,
(sebelum

akhir

usia

seperti:
usia

12)

(setelah

55)

* Terpapar estrogen lingkungan (seperti hormon dalam daging atau pestisida seperti DDT, yang memproduksi
substansi mirip estrogen.
Kehamilan dan menyusui. Kehamilan dan menyusui mengurangi jumlah keseluruhan siklus haid perempuan dalam
hidup dan mengurangi resiko kanker payudara. Perempuan yang tidak pernah hamil atau kehamilan yang pertama
setelah usia 30 memiliki peningkatan risiko kanker payudara. Bagi wanita yang memiliki anak, menyusui mungkin
sedikit menurunkan risiko kanker payudara, terutama jika mereka terus menyusui selama 1 1 / 2 sampai 2 tahun. Bagi
banyak perempuan menyusui sepanjang ini adalah tidak praktis dan merepotkan.
Terpapar DES. Perempuan yang mengonsumsi obat-obatan yang disebutdiethylstilbesterol (DES), digunakan untuk
mencegah keguguran dari tahun 1940-an sampai tahun 1960-an, memiliki peningkatan sedikit resiko kanker
payudara. Perempuan yang ibunya mengonsumsi DES selama kehamilan mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi
juga terkena kanker payudara.
Tanda- tanda atau Gejala Kanker Payudara
Pada awalnya, kanker payudara mungkin tidak menimbulkan gejala apapun. Benjolan mungkin terlalu kecil bagi anda
untuk sadar atau menyebabkan perubahan apapun yang tidak biasa anda lihat sendiri. Seringkali daerah abnormal
tersebut ditemukan pada screening mammogram (x-ray/foto rontgen pada payudara), yang mengarah ke pemeriksaan
lebih lanjut.
Dalam beberapa kasus, tanda pertama kanker payudara adalah berupa benjolanatau massa di payudara anda
atau yang ditemukan pada pemeriksaan dokter. Benjolan yang terasa sakit, keras, dan tidak rata lebih cenderung
menjadi kanker. Tetapi kadang-kadang kanker dapat tidak keras dan bulat. Sehingga penting diperiksa oleh dokter.
Pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) harus menjadi bagian dari kesehatan rutin bulanan anda dan anda harus ke
dokter jika anda mengalami perubahan pada payudara. Jika anda lebih dari 40 tahun atau memiliki resiko tinggi untuk
penyakit ini, anda juga harus melakukan pemeriksaan mammografi tahunan dan pemeriksaan fisik oleh dokter.
Semakin dini kanker payudara ditemukan dan didiagnosis semakin baik kesempatan kita untuk mengobatinya.
Proses diagnosa dapat berminggu-minggu dan melibatkan berbagai jenis tes.
Menurut American Cancer Society, perubahan di luar biasanya pada payudara bisa menjadi gejala dari kanker
payudara:
*

Bengkak

semua

atau

Iritasi

kulit

dari

payudara,

atau

dimpling,

Payudara

Puting

Kemerahan

sebagian

Nipple

susu

sakit

atau

penebalan

discharge

atau

sakit,
atau

puting
cairan

susu
puting

masuk
atau
selain

kedalam,
kulit

payudara,
air

susu,

* Benjolan di daerah ketiak.


Perubahan ini dapat juga menjadi tanda untuk kondisi yang tidak bersifat kanker, seperti infeksi
(inflamasi/peradangan) atau kista. Penting bahwa perubahan pada payudara segera diperiksakan pada dokter!

Pemeriksaan Kanker Payudara: Skrining, Diagnosis dan Monitoring


Kanker payudara dan pemeriksaan medis saling mendukung baik anda belum pernah sebelumnya menderita kanker
payudara dan ingin melakukan pemeriksaan dini, anda baru saja didiagnosa ataupun sementara pengobatan dan
tindak lanjut.
Pemeriksaan yang paling sering dilakukan sehubungan dengan kanker payudara adalah:
* Skrining tes: Skrining tes seperti mammografi tahunan-hasilnya disebutmammogram- diberikan secara rutin untuk
orang-orang yang sehat dan tidak diduga mengalami kanker payudara. Tujuannya adalah untuk menemukan kanker
payudara sedini mungkin sebelum gejala kanker berkembang dan biasanya lebih mudah untuk ditangani.
* Tes Diagnostik: tes Diagnostik seperti biopsi diberikan kepada orang-orang yang diduga memiliki kanker payudara,
baik karena gejala yang ditemukan atau dari hasil pemeriksaan. Tes ini digunakan untuk menentukan apakah kanker
payudara atau bukan, dan jika demikian, ditentukan juga apakah kankernya sudah menyebar di luar payudara. Tes
diagnostik juga digunakan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang kanker untuk menentukan pengobatan
apa

yang

sesuai

dengan

kanker

payudaranya.

* Pemantauan/monitoring: Setelah diagnosis kanker payudara, banyak tes dilakukan selama dan setelah perawatan
untuk memantau seberapa baik terapi yang diberikan. Pemantauan tes juga dapat digunakan untuk memeriksa tandatanda kekambuhan (rekurensi).
Secara

lengkap

pemeriksaan

yang

dilakukan

adalah:
Biopsi

Hitung

sel

darah

Kimia

darah

Scan

tulang

MRI

payudara

Pemeriksaan
Pemeriksaan

fisis

payudara

sendiri

payudara

(Breast

self

CT

exam)
scan

Foto

rontgen

dada

Tomosintesis

digital

Ductal

lavage

FISH

(Fluorescence

in

situ

Immunohistokimia

Hybridization)
(IHC)

- Mammogram
-

Molecular

Breast

Imaging

Oncotype

DX

PET

scan

SPoT-Light

- Ultrasound (USG)
Stage atau Stadium/Tahap Kanker Payudara

HER2

CISH
Termografi

- Stage 0: tahap sel Kanker payudara tetap di dalam kelenjar payudara, tanpa invasi ke dalam jaringan payudara
normal
- Stage

yang
I: adalah 2 cm

atau kurang

berdekatan.

dan batas yang

jelas (Kelenjar

getah

bening normal).

- Stage IIA: tumor tidak ditemukan pada payudara tapi sel-sel kanker ditemukan di Kelenjar getah bening ketiak,
ATAU tumor dengan ukuran 2 cm atau kurang dan telah menyebar ke Kelenjar getah bening ketiak/aksiller, ATAU
tumor yang lebih besar dari 2 tapi tidak lebih besar dari 5 cm dan belum menyebar ke Kelenjar getah bening ketiak.
- Stage IIB: tumor yang lebih besar dari 2 cm, namun tidak ada yang lebih besar dari 5 cm dan telah menyebar ke
Kelenjar getah bening yg berhubungan dgn ketiak, ATAU tumor yang lebih besar dari 5 cm tapi belum menyebar ke
Kelenjar

getah

bening

ketiak.

- Stage IIIA: tidak ditemukan tumor di payudara. Kanker ditemukan di Kelenjar getah bening ketiak yang melekat
bersama atau dengan struktur lainnya, atau kanker ditemukan di Kelenjar getah bening di dekat tulang dada, ATAU
tumor dengan ukuran berapapun dimana kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak, terjadi pelekatan
dengan struktur lainnya, atau kanker ditemukan di Kelenjar getah bening di dekat tulang dada.
- Stage IIIB: tumor dengan ukuran tertentu dan telah menyebar ke dinding dada dan/atau kulit payudara dan mngkin
telah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak yang berlengketan dengan struktur lainnya, atau kanker mungkin
telah

menyebar

Kanker

payudara

ke
inflamatori

kelenjar

getah

(berinflamasi)

bening

dipertimbangkan

di

dekat

paling

tidak

tulang
pada

dada.

tahap

IIIB.

- Stage IIIC: ada atau tidak tanda kanker di payudara atau mugkin telah menyebar ke dinding dada dan/atau kulit
payudara dan kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening baik di atas atau di bawah tulang belakang dan kanker
mungkin telah menyebar ke Kelenjar getah bening ketiak atau ke Kelenjar getah bening di dekat tulang dada.
- Stage IV: kanker telah menyebar atau metastase ke bagian lain dari tubuh.
Tipe atau Jenis-jenis Kanker payudara
Kanker payudara dapat mulai di berbagai daerah pada payudara duktus, lobulus, atau dalam beberapa kasus, di
antara jaringan payudara. Namun secara garis besar kanker payudara dapat dibagi atas:

Karsinoma

in

situ

Duktal

(DCIS),

Karsinoma

in

situ

Lobular

(LCIS),

Karsinoma
Karsinoma

Duktal
Duktal

Invasif

Karsinoma

Invasif

Kanker

Subtipe

Lobular

Kanker

(IDC),

Invasif

Jarang,
(ILC),

Payudara

Inflamatori,

Payudara

Pria

dan

Kanker Payudara Rekuren dan Metastatik.


Terapi

atau

Pengobatan

kanker

payudara

dan

Efek

Samping-nya

Dalam beberapa tahun terakhir, terlihat kemajuan terhadap perawatan kanker payudara, ini membawa harapan dan
kebahagiaan. Bukan hanya satu atau dua pilihan, saat ini terdapat banyak pilihan terapi melawan kanker payudara.

Keputusan untuk melakukan operasi lalu mungkin radiasi, terapi hormonal (anti-estrogen), dan/atau kemoterapi bisa
sangat membantu.
Tindakan tersebut akan bergantung dari stadium kanker-nya. Untuk itu dilakukan perencanaan jenis pengobatan atau
terapi yang tersedia dan yang mungkin cocok bagi penderita.
Tindakan yang

mungkin

akan

dilakukan

adalah:

- Bedah
Lumpectomy atau Breast conserving surgery (Bedah dengan seminimal mungkin menjaga payudara tetap utuh),
mastektomi (pengangkatan payudara, bisa sebagian atau seluruhnya) dan/atau diseksi kelenjar getah bening.
- Kemoterapi
- Terapi
- Therapi

radiasi
hormonal

- Kedokteran Holistik dan Komplementer, seperti akupunktur, meditasi, dan yoga yang dapat membantu anda
selain perawatan medis.
Efek samping yang bisa dialami penderita kanker payudara setelah menjalani terapi bisa mermacam-macam
tergantung jenis terapi yang didapatkannya antara lain: nyeri perut, adiksi, reaksi alergi, anemia, ansietas (cemas),
perubahan selera, rasa tidak enak pada ketiak, nyeri punggung, masalah perdarahan pembekuan darah dan flebitis
(phlebitis), nyeri tulang dan sendi, nyeri dada, gejala flu, konstipasi, batuk, dehidrasi, penyembuhan luka yang lambat,
depresi, diare, mulut kering, pusing, kulit kering, ketidakseimbangan elektrolit, endometriosis, lemah, pingsan,
masalah fertilitas, demam, kentut, (flatus), perubahan rambut, hand-foot syndrome (HFS) atau palmar-plantar
erythrodysesthesi (PPE), sakit kepala, masalah pendengaran, masalah jantung, refluks gastro-esofagal (GERD),
hematoma, hipertensi, kolesterol tinggi, hot flashes (serangan panas), infeksi, reaksi pada tempat suntikan, insomnia
(susah tidur), gatal, masalah ginjal, kram kaki, hepatotoksisitas (masalah hati), hilangnya libido, hipotensi, penurunan
jumlah sel darah putih, masalah paru-paru, limfedema, hilang ingatan, gejala menopause, mual, neuropati,
perdarahan dari hidung, hilang rasa, osteoporosis, gangguan stres pasca trauma, infeksi saluran kemih, perubahan
kulit, perubahan berat badan, muntah, masalah penglihatan dan mata, perubahan pada kuku dan lain-lain.