Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

world health organization (WHO, 2013), setiap tahun, ratusan juta pasien
di seluruh dunia terjangkit infeksi terkait perawatan kesehatan. Hal ini signifikan
mengarah pada fisik dan psikologis dan kadang-kadang mengakibatkan kematian
pada pasien dan kerugian keuangan bagi sistem kesehatan. Lebih dari setengah
infeksi ini dapat dicegah dengan perawat benar-benar membersihkan tangan
mereka pada saat-saat penting dalam perawatan pasien. Infeksi terkait perawatan
kesehatan biasanya terjadi ketika kuman yang di transfer oleh tangan penyedia
layanan kesehatan menyentuh pasien.
Menurut world healt organization (WHO 2014), infeksi nosokomial dapat
dicegah dengan selalu menjaga kebersihan tangan melalui mencuci tangan dengan
sabun

antikuman,

mencuci tangan yang baik oleh petugas kesehatan dapat

melindungi pasien dari resiko infeksi penyakit. Ada 5 momen penting harus
mencuci tangan yaitu pada saat sebelum menyentuh pasien, sebelum melakukan
prosedur aseptik misalnya pemasangan kateter, setelah kontak langsung dengan
cairan tubuh, setelah menyentuh pasien, dan setelah menyentuh daerah sekitar
pasien.
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh atau terjadi di rumah
sakit, Infeksi nosokomial dikenal pertama kali pada tahun 1847 oleh Samwelweis
dan hingga saat ini merupakan salah satu penyebab meningkatnya angka

kesakitan (morbidity) dan angka kematian (mortality) di rumah sakit, sehingga


dapat menjadi masalah kesehatan baru, baik di Negara berkembang maupun di
Negara maju. Beberapa kejadian infeksi nosokomial mungkin tidak menyebabkan
kematian pada pasien, akan tetapi ini menjadi penyebab penting pasien dirawat
lebih lama di Rumah Sakit (Darmadi, 2008).
Cara paling efektif untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial adalah
dengan menjalankan Univeersal precaution yang salah satunya adalah dengan
melakukan hand hygiene pada setiap penanganan pasien di rumah sakit. Hand
hygiene menjadi salah satu langkah yang efektif untuk memutuskan rantain
transmisi infeksi, sehinga insidensi nosokomial dapat berkurang. Pencegahan dan
pengendalian infeksi mutlak harus dilakukan oleh perawat, dokter dan seluruh
orang yang terlibat dalam perawatan pasien (Duerink, 2006).
(kementrian kesehatan dalam penuntun hidup sehat, 2010), mengatakan
Cuci tangan memakai sabun wajib dilakukan petugas medis sebelum dan sesudah
menangani pasien., kebiasaan

mencuci tangan dengan sabun dan air dapat

menghindari penyakit diare, mengurangi resiko infeksi saluran pernafasan seperti


pneumonia dan penyakit lainnya, termasuk infeksi mata, utamanya trachoma.
Cuci tangan merupakan tindakan utama dalam pengendalian infeksi
nosokomial. Infeksi nosokomial memiliki dampak yang luas, mulai dari pasien itu
sendiri, keluarga dan masyarakat, hingga pelayanan kesehatan. Misalnya bagi
pasien, infeksi nosokomial menambah tekanan emosional, menurut fungsi organ,
dan pada beberapa kasus dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian (Rohani
& hingawati setio,2010).

Kementrian kesehatan Republik Indonesia Cuci Tangan Pakai Sabun


(CTPS) merupakan cara yang sederhana, mudah, murah, dan bermanfaat untuk
mencegah berbagai penyakit, karena ada beberapa penyakit penyebab kematian
yang dapat dicegah dengan mencuci tangan yang benar, seperti penyakit diare dan
ISPA yang sering menjadi penyebab kematian anak-anak, demikian juga hepatitis,
typhus dan flu burung. Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukan bahwa proporsi
penduduk umur 10 tahun keatas yang berprilaku mencuci tangan dengan benar di
Indonesia meningkat dari 23,2% pada tahun 2007 menjadi 47,0% pada tahun
2013 (Depkes 2015).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat terhadap tindakan
pencegahan infeksi adalah faktor karakterristik individu (jenis kelamin, umur,
jenis pekerjaan, masa kerja, tingkat pendidikan), faktor psikososial (sikap
terhadap penyakit, ketegangan kerja, rasa takut dan presepsi terhadap resiko),
faktor organisasi manajemen, faktor pengetahuan, faktor fasilitas, faktor motivasi
dan kesadaran, faktor tempat tugas, dan faktor bahan cuci tangan terhadap kulit,
(Tohamik, 2003).
(Melisa Rispasindo yulanda, 2013). Berdasarkan hasil penelitian
terdahulu, tentang hubungan pelaksanaan cuci Tangan (Hand Hygiene) oleh
perawat

dengan kejadian infeksi nosokomial di ruang rawat inap bedah

rumahsakit umum pemerintah DR. Mohammad Hoesin Palembang, didapatkan


hasil yaitu. Sebagian besar perawat berumur 20-30 tahun sebanyak (55,6%), jenis

kelamin perempuan (66,7%), tingkat pendidikan DIII keperawatan (70,4%), lama


kerja <10 tahun (63,0%), status kepegawaian PNS (63,0%), perawat yang
melaksanakan cuci tangan tidak sesuai prosedur (37%), sebanyak (25,9%) pasien
terjadi infeksi nosokomial. Hasil uji statistik chi-square didapatkan dengan nilai
p=0,029(p<0,05).

(Eti Nuryanti, 2013). Berdasarkan hasil penelitian terdahulu tentang,


hubungan kepatuhan perawat melakukan cuci tangan dan kejadian infeksi
nosokomial di ruangan ICU dan NICU RS Awal Bros Tangerang. Ditemukan
hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kepatuhan cuci tangan pada katagori
tidak patuh (40%), dan variabel kejadian infeksi sebesar (20%). Hasil uji chi
squaere (p=0,068, alpha < 0,1). Membuktikan ada trend hubungan kepatuhan
perawat melakukan cuci tangan dan kejadian infeksi nosokomial.
(Neila Fauzia, dan Ahsan, 2014). Berdasarkan hasil penelitian terdahulu
tentang, pengaruh faktor individu, organisasi dan perilaku terhadap kepatuhan
perawat dalam melaksanakan hand hygiene di ruang rawat inap rumah sakit Tk. II
Dr.Soepraoen malang, mendapatkan hasil dari 71 responden yang di teliti,
sebagian besar responden (90%) yang memberikan peryataan setuju dan sangat
setuju pada variabel individu. Mean dari variabel individu adalah 4,33 yang
berarti sebagian responden mempunyai pengetahuan, sikap, beban kerja dan
motivasi yang sangat baik di RST Dr. Soepraoen malang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka peneliti ingin
mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perawat terhadap

perilaku cuci tangan dengan infeksi nosokomial di Rs. Sumber Waras Grogol
Jakarta Barat
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian adalah: mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi perawat terhadap perilaku cuci tangan dengan infeksi
nosokomial di Rs. Sumber Waras Grogol Jakarta Barat
2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi gambaran karakteristik responden (usia, jenis kelamin,
pendidikan, dan lama bekerja).
b. Mengetahui gambaran pengetahuan responden tenteng cuci tangan.
c. Mengetahui gambaran pengetahuan responden tentang infeksi
nosokomial.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi institusi pendidikan
Penelitian ini diharapkan menjadi tambahan pengetahuan bagi institusi
pendidikan khususnya mata ajar ilmu keperawatan dasar dalam hal infeksi
nosokomial terhadap perilaku cuci tangan.
2. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan penelitian ini dapat neningkatkan pelayanan rumah sakit dalam
mencegah infeksi nosokomial dari perawat ke pasien.
3. Bagi perawat
Diharapkan penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran perawat akan
penting nya mencuci tangan dalam melakukan, maupun setelah melakukan
tindakan pada pasien untuk mengurangi resiko terinfeksi.
4. Bagi peneliti

Bagi peneliti, penelitian ini dilakukan untuk sebagai syarat dalam medapatkan
gelar sarjana.