Anda di halaman 1dari 21

TUGAS ILMU LINGKUNGAN

Amdal Pembangunan Pabrik Penyulingan Minyak Bumi


di Daerah Lampung

Semester Genap 2010/2011

Disusun Oleh :
1. Vinsensius Viktor Limas
2. Jessica Santoso
3. Sandy Sasmita
4. Wiratama Darmawan
5. Michael Hendry S.
6. Sharon S.
7. Andre Asianto
8. M. Sarwono
9. Nidya Surya
10.Ghaisani

(2010410009)
(2010410025)
(2010410033)
(2010410041)
(2010410044)
(2010410092)
(2010410093)
(2010410104)
(2010410148)
(2010410174)

Kelas : D

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN


JALAN CIUMBULEUIT 94
BANDUNG
2011

Kata Pengantar
Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat-Nya selama pembuatan tugas ini
sehingga dapat selesai tepat pada waktunya. Adapun mata pelajaran yang menjadi dasar
penulisan ini adalah Ilmu Lingkungan. Dalam makalah ini, kami membahas seputar tentang
Amdal Pembangunan Pabrik Penyulingan Minyak Bumi di Daerah Lampung.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada bapak guru yang telah memberikan
kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan tugas ini. Kami mengerjakan tugas ini dengan
sebaik-baiknya, meskipun masih terdapat beberapa kekurangan karena keterbatasan kemampuan
kami dan juga terbatasnya waktu yang bapak berikan. Atas keterbatasan kami inilah, kritik dan
saran yang membangun akan sangat kami harapkan, guna menyempurnakan tugas-tugas lainnya
kelak.
Terakhir, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu
kami dalam proses pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermutu,
serta dapat menjadi salah satu bekal atau pengalaman bagi kami untuk menjadi lebih baik lagi.
Bandung, April 2011
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ..
DAFTAR ISI ....
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ........
1.2. Tujuan Studi ............
2

i
ii
iii
1
3

1.3. Ruang Lingkup Studi ........


3
1.4. Metodologi ...
3
BAB II RENCANA KEGIATAN
2.1. Maksud dan Tujuan .. 4
2.2. Kegunaan Amdal .. 4
2.3. Rencana Kegiatan .. 5
BAB III RONA LINGKUNGAN
3.1. Rona Lingkungan Hidup di Lokasi .................. 5
3.2. Data Komponen Lingkungan .......................... 9
BAB IV MATRIKS AMDAL ...... 13
BAB V EVALUASI DAMPAK PENTING. 14
BAB VI DAFTAR PUSTAKA .... 17
BAB VII LAMPIRAN ..... 18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam era globalisasi, minyak bumi sangat dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari.
Mengingat keterbatasan SDA minyak bumi ini dan kebutuhan masyarakat yang variatif,
maka perlu diadakan pembangunan pabrik penyulingan minyak bumi. Pembangunan pabrik
penyulingan minyak bumi banyak dilakukan di daerah perairan. Pemanfaatan sumber daya
alam harus diusahakan secara cermat dan bijaksana agar tidak merusak kelestarian fungsi
lingkungan hidup.
Upaya pencegahan kerusakan lingkungan hidup harus senantiasa dilakukan dengan
prediksi dan antispasi terhadap berbagai potensi dampak penting yang akan terjadi akibat
adanya kegiatan pembangunan tersebut, sejak tahap perencanaan, tahap konstruksi, tahap
operasi hingga tahap pasca operasi. Selanjutnya berbagai alternatif solusi untuk mencegah
dan menanggulangi dampak, harus dirumuskan sejak awal yakni pada tahap perencanaan
kegiatan serta dievaluasi secara terus menerus pada tahapan kegiatan selanjutnya.
Secara ekonomi kegiatan kilang minyak memberikan pengaruh yang besar terutama
dalam peningkatan pendapatan penduduk karena dapat menyerap peluang tenaga kerja dari
masyarakat setempat. Dengan demikian kegiatan kilang minyak tersebut menjadi salah satu
sumber perekonomian bagi masyarakat yang berada di sekitarnya. Namun bila dilihat secara
ekologis dan kesehatan lingkungan, keberadaan kilang minyak tersebut dapat berpotensi
menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat di sekitar lokasi. Permasalahan lingkungan
yang terjadi di lokasi kegiatan kilang minyak diantaranya berupa peningkatan kadar debu,
kebisingan, bau, dan gangguan kenyamanan. Mirisnya pabrik-pabrik tersebut seringkali
menambah kerusakan lingkungan dengan tidak memperhatikan keadaan lingkungannya,
misalnya membuang limbah beracun ke sungai yang membahayakan makhluk hidup karena
tidak memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan.
Salah satu upaya pengelolaan lingkungan yang dapat dilakukan dalam mencegah
terjadinya kerusakan lingkungan adalah dengan melakukan studi AMDAL. Dalam PP No.27
tahun 1999 tentang AMDAL dinyatakan bahwa AMDAL adalah kajian mengenai dampak
besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup
yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan atau
kegiatan. AMDAL berfungsi sebagai upaya preventif dalam menjaga dan mempertahankan
1

kualitas lingkungan serta menekan pencemaran sehingga dampak negatifnya menjadi


serendah mungkin. Oleh karena itu, dokumen AMDAL bersifat mengikat berbagai pihak
yang terlibat di dalamnya serta mempunyai konsekuensi bagi status perijinan dari usaha dan
atau kegiatan.
DESKRIPSI PROYEK
Pemilik

: Kelompok 1

Pelaksana

: PT Indonesia Cemerlang Jaya

Maksud dan tujuan proyek

Pemanfaatan secara maksimal Sumber Daya Alam yang tersedia, sehingga memiliki nilai
jual ekonomis.
membuka lapangan pekerjaan baru bagi penduduk sekitar sehingga pabrik tersebut dapat
memanfaatkan Sumber Daya Manusia dari penduduk sekitar, dan dapat mengurangi
tingkat pengangguran di daerah tersebut.
Dapat meningkatkan perekonomian penduduk sekitar, sehingga kesejahteraan dalam
bidang ekonomi bagi para penduduk sekitar pun terpenuhi.
Timbulnya aktifitas perekonomian lain,sehingga dapat menambah sumber-sumber
pekerjaan baru. Misalnya: warung, transportasi umum.
Bagi para penduduk sekitar yang berhubungan dengan pabrik tersebut, penduduk tersebut
akan memperoleh ilmu pengetahuan baru yang berkaitan dengan proses pengolahan
minyak bumi tersebut, sehingga mereka dapat menerapkan ilmu yang mereka dapat
dalam kehidupan sehari-hari, dan apabila mereka memiliki modal lebih, mereka dapat
membuat suatu usaha baru yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang mereka
dapatkan.
Saat ini, Kebutuhan konsumsi akan bahan bakar hasil pengolahan minyak bumi
meningkat, sehingga dengan ada pabrik ini secara langsung dapat membantu untuk
memenuhi bahan bakar yang diperlukan.

Lama pengerjaan

: 3 Tahun

Biaya

: 1.5 Triliun

1.2. Tujuan Studi


1.2.1. Tujuan penelitian adalah merumuskan kebijakan AMDAL yang efektif dan efisien
dalam mencegah kerusakan lingkungan pada kegiatan usaha kilang minyak.
1.2.2. Menilai ketepatan prediksi dalam mengevaluasi setiap tahapan kegiatan pembangunan
pabrik kilang minyak
2

1.2.3. Menilai ketepatan prediksi dalam mengevalusi rona lingkungan awal untuk setiap
kegiatan pembangunan pabrik kilang minyak
1.2.4. Mendapatkan hasil yg optimal dalam meminimalkan dampak lingkungan & menjaga
daya dukung lingkungan
1.2.5. Mendapatkan hasil yang optimal dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan
1.3. Ruang Lingkup Studi
Dalam penelitian ini, kami membatasi ruang lingkup studi pada dampak yang terjadi
pada lingkungan (alam dan masyarakat) sekitar proyek mulai dari pra pembangunan, fase
pembangunan, hingga pasca pembangunan.
1.4. Metodologi
Metode pengumpulan data yang kami gunakan adalah metode studi kepustakaan.

BAB II
RENCANA KEGIATAN
2.1. Maksud dan Tujuan AMDAL
AMDAL atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak
besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup
yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan suatu usaha
dan/atau kegiatan.
Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha dan kegiatan
pembangunan atau proyek agar dapat berjalan secara sinambung tanpa merusak lingkungan
hidup. Kegiatan AMDAL ini dibuat saat mulai perencanaan proyek.
2.2. Kegunaan AMDAL

Secara umum, keguanaan AMDAL sebagai berikut :


1. Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah
2. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari
rencana usaha dan/atau kegiatan.
3. Memberi masukan untuk penyusun desain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau
kegiatan.
4. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup.
5. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana
usaha dan/atau kegiatan
6. Sbg informasi pembanding dlm melaksanakan hasil pemantauan
7. Sbg informasi yg berharga bagi proyek lain yg akan dibangun di dekat lokasinya.
8. Merupakan dokumen penting yg dpt digunakan di pengadilan dlm menghadapi tuntutan
pihak lain.

Kegunaan AMDAL bagi berbagai pihak :


1.

Kegunaan bagi pemerintah


Dpt membantu dlm menentukan kebijaksanaan yg tepat dlm perencanaan dan
pengambilan keputusan serta peningkatan pelaksanaan pengel. Lingkungan hidup.

2.

Kegunaan bagi pemilik proyek


Untuk melindungi proyek dari tuduhan pelanggaran
Untuk melindungi proyek yg melanggar UU atau PP yg berlaku
4

Untuk melihat dan memecahkan masalah-masalah lingkungan yg akan dihadapi di masa


akan datang
Sebagai sbr informasi lingkungan di sekitar lokasi proyek
3.

Kegunaan bagi pemilik modal


Bank sbg pemilik modal selalu menyertakan AMDAL setiap pengajuan permintaan
pinjaman
Tujuan: agar dapat menjamin keberhasilan dan keamanan modal yg disalurkan

4.

Kegunaan bagi masyarakat

Dpt mengetahui rencana pembangunan di daerahnya

Mengetahui perubahan lingkungan dimasa sesudah proyek berjalan

Mengetahui hak dan kewajiban di dlm hubungan dg proyek


5.

Kegunaan lainnya

Kegunaan dlm analisis dan kemajuan IPTEK

Kegunaan dalam penelitian

Timbulnya konsultan AMDAL yg baik


2.3. Rencana Kegiatan
Pembangunan pabrik penyulingan minyak di daerah Nila, Teluk Betung, dan fasilitas
penunjangnya terletak kurang lebih 1 km dari garis pantai terdekat. Secara administratif
terletak pada wilayah Kec. Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung.
Lahan yang dipergunakan kurang lebih 8 hektar dengan fasilitas penunjang yang akan
dibuat berupa asrama pekerja dan kantor. Di lahan tersebut terdapat 70 rumah penduduk,
sekolah, masjid, dan kantor pemerintah yang perlu untuk pindah. Direncanakan total
5

kapasitas produksi maksimum per hari sekitar 2000 barel yang diperoleh dari sebanyak
sumber minyak di laut.
Rincian Kegiatan
Pra Pembangunan :
1.
2.
3.
4.

Survey lapangan
13 Okt. 2011- 27 Okt. 2011
Sosisialisasi proyek dengan seluruh masyarakat
27 Okt. 2011 27 Des.2011
Perijinan
27 Des. 2011 27 Mei 2012
Pengumpulan surat-surat dari warga + pengecekan
sah-nya surat
27 Mei 2012 27 Agustus 2012
5. Penglegalisasian surat-surat tanah yang tidak sah 27 Agustus 2012 27 Okt. 2012
6. Perundingan harga (harta milik) dengan warga sekitar
27 Okt. 2012 27 Des.2012
7. Pembayaran serta pembebasan tanah
27 Des. 2012 10 Januari 2013
8. Pemindahan sebagian bangunan milik warga yang 10 Januari 2013 24 Januari 2013
menyetujui
9. Sosialisasi dengan warga yang belum mau pindah 24 Januari 2013 31 Januari 2013
10. Pemindahan sisa bangunan milik warga yang
baru menyetujui
31 Januari 2013 13 Februari 2013
11. Pemagaran proyek
13 Februari 2013 27 Februari 2013
12. Perataan tanah (cut and fill)
27 Februari 2013 27 Maret 2013
13. Pembuatan sumber air artetis
27 Maret 2013 27 April 2013
Fase Pembangunan :
14. Pemesanan pipa dan alat pengolahan ke PT. X
15. Pengiriman bahan2 proyek tahap I + alat berat
16. Pengecekan apabila barang mengalami kerusakan
17. Pembuatan kantor dan asrama pekerja
18. Pengiriman bahan proyek tahap 2 + alat berat
19. Pengecekan apabila barang mengalami kerusakan
20. Pengeboran tanah dengan alat berat
21. Penanaman pondasi dasar pabrik pengolahan
22. Pembuatan sistem drainase
23. Pemasangan pipa saluran air
24. Pemasangan saluran pembuangan limbah
25. Pembuatan lt.1 pabrik
26. Pengecoran lt. 1 pabrik
27. Pengiriman bahan proyek tahap 3 + alat berat
28. Pengecekan apabila barang mengalami kerusakan
29. Pembuatan lt.2 pabrik + cerobong asap
30. Pengecoran lt. 2 pabrik
31. Pengecatan, finishing, dan pemindahan mesin

27 April 2013 4 Mei 2013


4 Mei 2013 11 Mei 2013
11 Mei 2013 18 Mei 2013
18 Mei 2013 1 Juni 2013
1 Juni 2013 8 Juni 2013
8 Juni 2013 15 Juni 2013
15 Juni 2013 15 Juli 2013
15 Juli 2013 9 Sept. 2013
9 Sept. 2013 4 Okt. 2013
4 Okt. 2013 4 Nov. 2013
4 Nov. 2013 18 Nov. 2013
18 Nov. 2013 17 Maret 2014
17 Maret 2014 31 Maret 2014
31 Maret 2014 7 April 2014
7 April 2014 14 April 2014
14 April 2014 8 Sept. 2014
8 Sept. 2014 22 Sept. 2014
22 Sept. 2014 21 Nov. 2014

Pasca Pembangunan :
32. Pengecekan kinerja dan sistem mesin pabrik

21 Nov. 2014 5 Des. 2014


6

33. Seleksi penerimaan pekerja local di pabrik


34. Pelatihan pekerja mengenai system pabrik
35. Peresmian oleh pemilik proyek
36. Pengoperasian awal pabrik dan kantor

5 Des. 2014 12 Des. 2014


12 Des. 2014 19 Des. 2014
19 Des. 2014
20 Des. 2014

BAB III
RONA LINGKUNGAN
3.1. Rona Lingkungan Hidup di Lokasi

3.2. Data Komponen Lingkungan


3.2.1. Iklim
Iklim Lampung umumnya sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia.
Lampung yang terletak di bawah khatulistiwa 5 LS mempunyai iklim tropis humid.
Mempunyai Kelembaban udara sekitar 80-88%. Suhu udara Lampung pada daerah dataran
dengan ketinggian 30-60m berkisar antara 26-28C dengan suhu maksimum 33C dan suhu
minimum 22C.
Kualitas Udara
Kualitas udara di Bandar Lampung secara umum masih baik. Hal ini dapat dilihat dari
kualitas udara di Kota Bandar Lampung. Hasil penelitian Manik dkk. (2008) menunjukkan
kualitas udara di beberapa titik di Kota Bandar Lampung secara umum masih baik dan
nilainya berada di bawah baku mutu lingkungan sesuai dengan Kep.Men.LH No.
Kep13/MENLH/3/1995, tentang Baku Mutu Emisi Sumber Bergerak, kecuali kebisingan
yang disebabkan oleh kendaraan bermotor. Di hampir semua titik pengamatan, kebisingan
sudah melebihi nilai batas Baku Mutu Lingkungan (BML) yang berlaku.
3.2.2. Fisiografi
Geografis
Kota Bandar Lampung merupakan pintu gerbang Pulau Sumatera yang menjadi pertemuan
antara lintas tengah dan timur Sumatera, berada antara 5020-5030 LS dan 1052810537 BT dengan luas wilayah sekitar 192.96 km. Di sebelah utara berbatasan dengan
Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Selatan , di sebelah selatan berbatasan dengan
Selat Sunda, di sebelah barat dengan Samudera Hindia, di sebelah timur berbatasan dengan
Laut Jawa. Kota yang terletak di sebelah Barat Daya Pulau Sumatera ini memiliki posisi
geografis yang sangat menguntungkan karena letaknya di ujung Sumatera berdekatan
dengan DKI Jakarta yang menjadi pusat perekonomian Negara.
Topografis
Bentuk wilayah Kota Bandar Lampung bervariasi,mulai dari daerah datar di sebelah barat
hingga daerah pegunungan di sebelah timur. Secara fisiologis daerah ini dibedakan menjadi
8

3 bagian, yaitu daerah pesisir di bagian barat dengan kemiringan 0-15%, daerah
pegunungan dengan kemiringan 15->40%, dan daerah bergelombang di bagian timur
dengan kemiringan lahan 2-40%.
3.2.3. Hidrologi
Kualitas Air Sungai
Sungai di kota Bandar Lampung sudah sering tercemar. Sungai telah mengalami
penyempitan, pendangkalan, air kotor dan berwarna hitam, serta banyak terdapat limbah
rumah tangga. Sebagian sungai yang bermuara di pesisir Kota Bandar Lampung telah
mengalami pencemaran bahan organik yang cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan
sebagian sungai tidak mendukung untuk kehidupan ikan dan biota air lainnya.
Kualitas Air Laut
Kualitas air di wilayah pesisir dan laut di Lampung sangat bervariasi. Perairan di Kota
Bandar Lampung sendiri telah mengalami pencemaran yang berasal dari limbah rumah
tangga, pengolahan ikan, dan limbah industri lainnya. Kondisi yang sama juga dapat
diamati pada kandungan sulfida yang telah melebihi baku mutunya, baik di pelabuhan,
wisata bahari, maupun untuk kehidupan biota air. Tingginya kandungan sulfida diduga
berasal dari sedimen anaerob yang banyak mengandung bahan organik di sekitar lokasi
pengukuran.
3.2.4. Hidrooceanografi
Kedalaman rata-rata perairan di Teluk Semangka adalah sekitar 60 m. Akan tetapi
pada jarak 15 km dari kepala teluk, kedalaman sudah mencapai 200 m. Kedalaman
perairan makin besar dengan menuju kearah selatan, dimana kedalaman hingga 360 m
ditemui di tengah mulut Teluk Semangka. Arus pasut di Teluk Semangka diduga akan
serupa dengan yang ditemui di Teluk Lampung yakni 60 cm/s. Di daerah kepala Teluk
Semangka ditemukan terjadinya proses abrasi sehingga menumbangkan pohon secara
perlahan-lahan.
3.2.5. Ruang Lahan
Dalam kurun waktu satu decade, luas kawasan hutan di Lampung hanya tinggal
30%dari luas daratan Povinsi Lampung. Berdasarkan penafsiran yang dilakukan oleh
Departemen Kehutanan diketahui bahwa luas daratan yang masih berupa hutan adalah
9

sebesar 7,1% dan yang bukan berupa hutan adalah sebesar 91,4%. Luas lahan kritis di
Provinsi Lampung pada tahun 2008 mencapai 3.332.028.30 ha yang tersebar di 10
kabupaten. Kabupaten Tulang Bawang memiliki lahan kritis yang cukup luas bila
dibandingkan dengan kabupaten lainnya, yaitu 656.391,50 ha.
3.2.6. Tanah
Penggunaan tanah di Lampung masih bercorak agraris yang dapat digolongkan atas :
Sawah
Mayoritas terdapat di Kecamatan Sumber Jaya, Pesisir Selatan, Pesisir Tengah dan Pesisir
Utara, Lemong, Bengkunat , dan Suoh.
Perkebunan
Mayoritas terdapat di Kecamatan Pesisir Selatan, Belalau, Balik Bukit dan Pesisir Utara,
Way Tenong, Batu Brak, Sukau, Suoh.
Kebun, Tegalan, dan Ladang
Mayoritas terdapat di Kecamatan Pesisir Utara, Sumber Jaya, dan Belalau, Sukau, Balik
Bukit.
Akan tetapi, jika dilihat dari perkembangan perkecamatan, maka ada kecenderungan bahwa
wilayah Kecamatan Sumber Jaya dan Pesisir Tengah berkembang lebih cepat.
3.2.7. Flora
Jumlah jenis flora tidak banyak, diantaranya seperti jenis pohon berkayu, yaitu kersen,
petai cina, jarak cina, dan kedondong. Ada pula papaya dan pisang yang merupakan jenis
yang dominan karena sebagian wilayah ditanami dengan jenis tanaman tersebut. Sedangkan
jenis yang hampir menutupi permukaan sebagian wilayah adalah semak, seperti rumput,
alang-alang, dan putri malu.
3.2.8. Ekonomi
Lampung adalah penghasil utama kopi. Lampung juga penghasil buah-buahan tropis,
seperti mangga, rambutan, durian, pisang, nanas, dan jeruk dan budidaya perikanan..
3.2.9. Riwayat Bencana Alam
Banjir
10

Banjir yang melanda Kota Bandar Lampung pada 18 Desember 2008 merupakan banjir
terbesar dalam 23 tahun terakhir ini. Banjir ini merendam permukiman dan rumah sakit,
serta melumpuhkan transportasi dalam kota. Luapan air merendam permukiman di
Tanjung Karang Pusat, Tanjung Karang Timur, Teluk Betung Selatan, Kota Karang
Panjang, Teluk Betung Barat, dan Kedaton. Walaupun banjir tidak terlalu lama, namun
memakan korban jiwa 1 orang meninggal dunia.
Kekeringan
Bencana kekeringan mulai dirasakaan sejak bulan April 2001, terutama di Kabupaten
Lampung Selatan dan selanjutnya meluas ke kabupaten lainnya dan mencapai puncaknya
pada bulan Juli-Agustus 2008. Luas lahan pertanian yang mengalami kekeringan paling
banyak terdapat di Kabupaten Lampung Timiur, selanjutnya di Lampung Selatan. Kedua
kabupaten tersebut memang memiliki lahan pertanian yang cukup luas, namun sebagian
besar lahan pertaniannya merupakan lahan yang rawan kekeringan.
Tanah longsor
Hampir di setiap musim hujan terjadi tanah longsor disertai dengan banjir bandang, seperti
yang melanda Kabupaten Tanggamus pada 2009. Zona kerentanan tanah longsor terdapat
di Provinsi Lampung terutama di Kabupaten Lampung Barat, Tanggamus, Lampung
Selatan, dan Pesawaran.
Gempa bumi
Provinsi Lampung secara geografis dilalui oleh sistem sesar Sumatera. Kondisi ini
mengakibatkan zona yang dilalui sistem sesar ini merupakan daerah yang rawan terjadi
kerusakan bila terjadi gempa yang signifikan seperti di daerah Kabupaten Lampung Barat.
Di daerah anak gunung Krakatau sering terjadi gempa bumi berkisar antara 5 SR- 6,8 SR
akibat meletusnya anak gunung Krakatau.

BAB IV
MATRIKS AMDAL
11

Proyek
Masa pekerjaan
Pemilik proyek
Pelaksanaan proyek

: Pembangunan Pabrik Penyulingan Minyak Bumi


: 3 tahun
: Kelompok 1
: PT Indonesia Cemerlang Jaya

(LINK) TO MATRIKS EXCEL

12

BAB V
EVALUASI DAMPAK PENTING
Kebisingan
Dalam pembangunan proyek ini, akan terjadi kebisingan yang disebabkan oleh proses
pengeboran untuk pondasi, mobil angkutan yang melintas, dll. Tidak semua bunyi
menimbulkan gangguan pada pendengar. Hal ini tergantung dari tingkat tinggi rendahnya
ukuran kebisingan yang dihasilkan dan diukur dalam desibel. Semakin tinggi desibelnya
semakin banyak pengaruh yang ditimbulkan. Beberapa catatan pengukuran tingkat desibel
yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Roket dan sejenisnya menghasilkan kebisingan : 170 desibel.
2. Sirine menghasilkan kebisingan: 150 desibel.
Keduanya berada dalam batas limit ekstrim toleransi pendengaran manusia yang berukuran :
140 desibel.
Batas tekanan suara yang menyulitkan telinga: 120 desibel.
1. Sepeda motor : 110 desibel.
2. K. A. dan stasiun Kereta api bawah tanah: 90 desibel
Semuanya masih dalam pertimbangan intensitas range yang bisa membahayakan
pendengaran manusia. Pada tingkat dibawahnya adalah tingkat kebisingan yang dihasilkan di
dalam rumah seperti:
Bunyi bel jam dinding kira-kira: 80 desibel, bel tilpon: 70 desibel, suara pembicaraan /
kelakar yang keras: 60 desibel, seperti dipasar-pasar, super market, tempat-tempat umum.
Suara sonometer penghantar tidur tidak lebih dari: 30 desibel.

13

Sedangkan, intensitas suara bor listrik adalah 96 dB sehingga kebisingan ini dapat
menimbulkan banyak dampak seperti masalah pendengaran dan kejiwaan. Oleh sebab itu,
untuk meminimalisasikan dampak tersebut, dapat dilakukan modifikasi terhadap mesin bor
dengan memasang peredam, sosialisasi kepada semua masyarakat sekitar untuk memaklumi
polusi suara yang terjadi sekaligus menghimbau agar menanam pohon di sekitar nya untuk
mengurangi kebisingan dan memasang bahan-bahan peredam seperti busa atau ijuk,
memasang sekat di daerah proyek, dan memberikan tutup telinga bagi warga yang
memerlukan.
Polusi Udara
Dalam pembangunan proyek ini, akan terjadi polusi udara yang disebabkan oleh proses
pembangunan proyek dan akan terjadi juga polusi udara pasca proyek.
Polusi udara adalah penyusutan kualitas udara sampai pada yang mengganggu kehidupan
karena masuknya polutan kedalam udara. Polusi udara terjadi jika ada penambahan
komponen udara atau bahan kimia yang kehadirannya membahayakan organisme. Polusi
terjadi disebabkan oleh polutan. Polutan adalah suatu zat / substan yang menyebabkan
terjadinya polusi.
Polutan-polutan yang berpotensi ditimbulkan oleh proyek
1. Karbondioksida beasal dari pembakaran bahan bakar dan hutan serta asap kendaraan
bermotor mengakibatkan perubahan iklim dan menimbulkan Efek rumah kaca yang
ditandai dengan naiknya suhu udara
2. Klorofuosokarbon (CFC) berasal dari kebocoran gas lemari pendingin, bahan pelarut dan
bahan pengembang pada plastik busa mengakibatkan terjadinya penipisan lapisan ozon
yang juga dapat menyebabkan naiknya suhu udara bumi
3. Nitrogen oksida berasal dari proses pembakaran dan pembentukan asap kabut fito kimia
mengakibatkan hujan asam karena dapat melarutkan asam pada benda benda dan dapat
merontokan daun daun pohon
4. Hydrogen karbon berasal dari mesin mobil dan penyedot udara mengakibatkan
pembentukan asap kabut fitokimia
5. Pengoksida berasal dari nitrogen oksida dan hidrokarbon dari mobil. Contoh pengoksida
adalah pereaksi asetit nitrat mengakibatkan rusaknya hasil pertanian dan kesehatan manusia

14

Dampak ini dapat dihindari dengan memasang cerobong asap yang tinggi,
sampah sampah didaur ulang, merawat mesin mesin pabrik dan kendaraan pengangkut,
dan menanam tanaman dan pohon-pohon.

Peningkatan Suhu di daerah sekitar proyek


Pasca pembangunan proyek diperkirakan terjadi peningkatan suhu sekitar 3 C.
Peningkatan suhu 3 C ini tidak bisa diabaikan karena suhu awal maksimum di Kota
Lampung adalah 33 C, jika penaikan suhu terjadi, maka suhu akan menjadi 36 C yang
cukup panas. Kenaikan suhu ini dapat disebabkan oleh pencemaran udara akibat asap pabrik,
limbah, dan minimnya pohon-pohon untuk menyaring cemaran-cemaran tersebut. Suhu
sebesar ini dapat menimbulkan berbagai gangguan kulit yg disebabkan oleh radiasi
ultraviolet. Untuk menghindari hal ini maka perlu dilakukan upaya mitigasi seperti
menyaring asap pada cerobong pabrik semaksimal mungkin, tidak membakar sampahsampah pabrik karena dapat menghasilkan gas metana yang mengakibatkan efek rumah kaca,
menanam pohon-pohon dan tanaman.

15

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Pengembangan Kebijakan AMDAL dalam Mencegah Kerusakan Lingkungan pada Kegiatan
UsahaMigas,http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/40826/2008yye.pdf?
sequence=11, diakses tanggal 25 Maret 2011 pada pukul 14.05 WIB
Anonim. Kelayakan Lingkungan (AMDAL), dan UKL/UPL Ketenagalistrikan,
http://www.djlpe.esdm.go.id/modules/_website/files/48/File/SOSIALISASI%20DTL
%20%20%202007(1).pdf, diakses tanggal 25 Maret 2011 pada pukul 15.47 WIB
Projo. Modul IPA SMK Kelas XII, http://pertanian03.webs.com/modulipasmkkelasxii.htm, diakses
tanggal 27 Maret 2011 pada pukul 18.36 WIB
Handoko, Sungging. Kebisingan dan Pengaruhnya pada Lingkungan Hidup, http://educare.efkipunla.net/index.php?option=com_content&task=view&id=56&Itemid=4, diakses tanggal 28 Maret
2011 pada pukul 19.57 WIB
Santoso. Polusi dan Polutan, http://www.the-az.com/makalah-biologi-tentang-pengertian-polusi-danpolutan/, diakses tanggal 30 Maret 2011 pada pukul 17.52 WIB
PUSTEKKOM. Pemanasan Global, http://idkf.bogor.net/yuesbi/eDU.KU/edukasi.net/Fenomena.Alam/Pemanasan.Global/hal03.htm, diakses tanggal 3 April 2011
pada pukul 21.53 WIB

BAB VII
16

LAMPIRAN
Pertanyaan

Mengapa pada matriks AMDAL terdapat intensitas yang besar angkanya tetapi dana yang
digunakan untuk mitigasinya kecil, atau sebaliknya intensitasnya kecil tapi dana yang

digunakan untuk upaya mitigasinya kecil?


Bagaimana anda menangani isu mengenai aktifnya gunung Krakatau? Bukankah di

daerah tempat anda membangun cukup dekat dengan Gunung Krakatau?


Menurut matriks yang anda buat dana yang anda gunakan untuk upaya mitigasi itu terlalu
besar. Adakah dana yang bias anda potong agar dana yang dikeluarkan tidak terlalu

besar?
Jika proyek yang anda kerjakan udah selesai apa efeknya terhadap jalur lalu lintas darat

maupun jalur lalu lintas perairan?


Pada grafik kualitas lingkungan apakah kualitas lingkungannya akan tetap seperti itu?
Pada grafik kualitas lingkungan pada saat fase pembangunan mengapa grafiknya
menurun padahal anda sudah melakukan upaya mitigasi? Mengapa anda tidak melakukan

upaya mitigasi yang lain lagi agar grafiknya menjadi naik?


Pada saat pembangunan proyek anda menyewa alat berat bukan? Apakah tidak
merugikan jika alat berat tersebut digunakan terus menerus ? Bukankah sebaiknya anda
membagi jam kerja penggunaan alat berat tersebut agar penggunaanya lebih efisien dan

tidak membuat kebisingan? Jadi bagaimana pembagian jam kerjanya?


Mengapa grafik kualitas lingkungan mengalami penurunan pada tahun 2011-2012? Tidak

adakah usaha untuk menaikan grafik tersebut?


Mengapa anda memilih lokasi pembangunan di daerah yang padat oleh pemukiman tidak
di tempat yang sepi? Selain itu anda menyebutkan tempat yang anda pilih adalah tempat
yang strategis, strategis dari segi apa yang anda maksudkan?

Peta lokasi proyek dengan anak gunung Krakatau yang berpotensi meletus dan riwayat gempa di
sekitarnya

17

75 km

6.2 SR

18