Anda di halaman 1dari 28

Eklamsia

Dipresentasikan oleh :
Maria Nainggolan

Identitas Pasien
Nama
: Ny. SL
Umur
: 34 tahun
Jenis kelamin : perempuan
No CM
: 17.12.18
Status
: Jampersal
Alamat : Mutihan
Agama : Islam
Suku
: Jawa
Tgl masuk
: 16-6-2012 jam 17.47 WIB

Keluhan Utama
Pasien ibu hamil dibawa ke RSU
Muntilan dengan keluhan Kejang

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien G4P3A0 usia kehamilan 28+5 minggu HPHT
28/11/11, HPL 5/8/2012
Pasien kejang 1 kali di rumah, langsung dirujuk oleh
bidan ke RS, kejang tonik-klonik selama 20 menit,
pasien tidak sadar, dari aloanamnesis pasien tidak
mengeluh nyeri kepala, penglihatan kabur, mual, dan
sesak nafas sebelumnya.
Saat datang di IGD RS (jam 15.47 WIB) pasien kejang
selama 10 menit, tonik klonik, tidak sadar, muntah (-).
Air ketuban dan lendir darah belum keluar.
Pasien rutin ANC di bidan satu bulan sekali.
Tekanan darah meningkat sejak usia kehamilan 18
minggu, usia 24 minggu TD mencapai 210/110 mmHg,
kejang (-).

Riwayat penyakit dahulu:


Riwayat penyakit serupa pada
kehamilan sebelumya (-),
riwayat hipertensi (-),
riwayat asma (-),
riwayat diabetes (-),
riwayat epilepsi (-)
Riwayat keluarga : riwayat kejang saat
kehamilan (-), riwayat hipertensi (-)

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : tidak sadar, kejang
Primary survey
A : snoring (+), gurgling (-),
B : Spontan, frekuensi nafas 20x/menit,
reguler, kedalaman cukup
C : Akral dingin (+), CRT < 2, TD 190/130
mmHg, frekuensi nadi 90x/menit, suhu
afebris
D : GCS E2M2V2 , Pupil Isokor (3 mm/3mm),
reflek cahaya (+/+)

Tanda vital : TD:190/130 mmHg, Nadi:90x/ menit, RR :


20x/menit , t : 36,7 C
Kepala : Mesocephal, kesan kulit wajah pucat (-), sianosis (-)
Mata : CA (-/-), SI (-/-),
Leher : JVP tidak meningkat, kaku kuduk (-)
Thoraks :
Inspeksi
: Simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi (-)
Palpasi
: P/ taktil fremitus sulit dinilai
C/ ictus cordis di SIC IV linea midclavicula
sinistra
Perkusi
: P/ Sonor
C/ Cardiomegali (-)
Auskultasi
: P/ vesikular (+/+) normal, wheezing (-), ronkhi
(-)
C/ S1-2 murni, reguler, bising (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi
:Auskultasi : peristaltik (+) normal
Perkusi
:Palpasi
: janin tunggal, presentasi kepala,
punggung kiri,
HIS (-), DJJ 120 x/mnt, TFU 25 cm
Ekstremitas
Ektrimitas superior : edem -/- , tonus (+/+), clonus (+/+)
Ekstrimitas inferior : edem -/-, tonus (+/+), clonus (+/+)
Pemeriksaan Dalam: serviks lunak, pembukaan: (-),
selaput ketuban (+), presentasi kepala, sarung tangan
lendir darah (-), air ketuban (-)

Pemerikasaan Penunjang :
Darah rutin : 16 Juni 2012 pukul 17.48 WIB

WBC
: 15,93 x 103/L
( 3-10 x103/L)
RBC
: 4,72 x 106/L
( 4-5 x 106/L)
Hb : 14,1 g/dL
( 12-15 g/dL)
HCT
: 41,0 %
( 37-43 % )
PLT
: 303 x 103/L ( 150-400 x 103/L )
MCV
: 86,9
( 79-99 )
MCH
: 29,9
( 27-31)
MCHC
: 34,4
( 33-37 )

Kimia darah : 16 Juni 2012


GDS
: 99 gr/dl
SGOT
: 19
SGPT
: 13
Ureum
: 18
Creatinin : 0,8
HbsAg
: (-)

Urin rutin 16 Juni 2012 pukul 18.00


Warna
: kuning
Kekeruhan
: jernih
Glukosa
: negatif
Protein
: negatif
Bilirubin
: negatif
Urobilinogen : negatif
PH
:7
BJ
: 1,015
Blood
: negatif
Keton
: negatif
Nitrit
: negatif
Leukosit
: negatif
Sendimen
: Epitel squamos : 0-2
Leukosit
: 0-1
Eritrosit, silinder, kristal:
negative
Trikomonas vaginalis (+)

Urin rutin 16
18.00
Warna
Kekeruhan
Glukosa
Protein
Bilirubin
Urobilinogen
PH
BJ
Blood
Keton
Nitrit
Leukosit

Juni 2012 pukul


: kuning
: jernih
: negatif
: negatif
: negatif
: negatif
:7
: 1,015
: negatif
: negatif
: negatif
: negatif

Diagnosis
Eklamsia, multigravida, preterm
( 28+5 minggu), belum dalam
persalinan.

Terapi
O2 8-10 L/m (nasal), pemasangan
mayo
Infus RL 20 tpm
Injeksi MgSO4 4 gr intravena 20 % = 20
cc, dilanjutkan 1 gr/jam (8 gr dalam
500 RL habis dalam 8 jam = 20 tpm)
Pemasangan DC dan NGT
Nifedipin 3x30 mg peroral

Hipertensi dalam kehamilan


Hipertensi gestasional:
Didapatkan tekanan darah sistolik 140 atau
diastolik 90 mm Hg untuk pertama kalinya
pada kehamilan di atas 20 minggu
Tidak ada proteinuria
Tekanan darah kembali normal sebelum 12
minggu postpartum
Diagnosis hanya dibuat pada postpartum
Mungkin memiliki tanda-tanda atau gejala
preeklampsia, misalnya, tidak nyaman atau
trombositopenia epigastrika

Preeklampsia
Kriteria minimum
Didapatkan tekanan darah lebih atau sama dengan 140/90 mmHg
setelah kehamilan 20 minggu
Proteinuria 300 mg/24 jam atau 1 + Dipstick
Gejala menghilang setelah 12 minggu post partum.

Gejala yang menambah ketepatan diagnosis


Didapatkan peningkatan tekanan darah sampai 160/110 mm Hg
atau lebih
Proteinuria 2.0 g/24 dijam atau urine dipstick 2+
Peningkatan kreatinin serum >1.2 mg/dL kecuali kalau
sebelumnya sudah memiliki riwayat gangguan ginjal.
Trombosit < 100,000/L
Adanya anemia mikroangiopqti hemolisispeningkatan LDH
Peningkatam serum transaminaseALT or AST
Nyeri kepala yang hebat dan atau gangguan visus
Nyeri epigastrik persisten

Eklampsia
Adanya kejang yang timbul pada
penderita preeklampsia,
Atau didapatkan kejang pada usia
kehamilan di atas 20 minggu.

Superimposed preeklampsia
- Timbulnya proteinuria 300 mg/24 jam pada wanita
yang telah memiliki hipertensi kronik pada usia
kehamilan di atas 20 minggu
- Terjadi peningkatan mendadak dalam proteinuria
atau tekanan darah atau trombosit <100,000 / L pada
wanita dengan hipertensi dan proteinuria sebelum
gestasi 20 minggu
Hipertensi kronik
- TD sebelum kehamilan 140/90 mm Hg atau
terdiagnosis sebelum kehamilan 20 minggu , tidak
timbul penyakit trofoblas gestasional o
- Gejala menetap setelah 12 minggu postpartum

Eiologi hipertensi gangguan kehamilan lebih


mungkin untuk terjadi pada wanita yang:
Terkena villi korionik untuk pertama
kalinya
Terpapar villi korionik yang berlebihan,
seperti kembar atau mola hidatidosa
Sudah ada penyakit ginjal atau jantung
Secara genetik memang cenderung
menjadi hipertensi selama kehamilan.

Tahap 1 adalah praklinis


dan ditandai dengan
terjadinya faulty
plasentasi trofobalstik
dengan arteri spiralis yang
menyebabkan hipoksia
plasenta.
Tahap 2 ini disebabkan
oleh pelepasan faktor
plasenta ke sirkulasi ibu
menyebabkan respon
inflamasi sistemik dan
aktivasi endotel.

Etiologi
Implantasi plasenta dengan invasi trofoblas
abnormal pembuluh rahim.
Imunologi maladaptive toleransi antara ibu,
ayah (plasenta), dan jaringan janin
Ibu maladaptative pada perubahan
kardiovaskular atau peradangan dari
kehamilan normal
Faktor genetik termasuk warisan predisposisi
gen serta pengaruh epigenetik

PATOGENESIS PREEKLAMPSIA
Vasospasme
Penyempitan pembuluh darah menyebabkan peningkatan resistensi
dan hipertensi.
Aktivasi sel endotel
Faktor yang tidak diketahui - kemungkinan berasal dalam plasenta
- juga dikeluarkan ke sirkulasi ibu dan memprovokasi aktivasi dan
disfungsi vaskular endotelium. Sel endotel yang rusak atau
teraktivasi dapat memproduksi oksida nitrat dan mengeluarkan zat
yang mempromosikan koagulasi dan meningkatkan kepekaan
terhadap vasopressors
Eklampsia dipandang sebagai bentuk ensefalopati hipertensi dalam
konteks peristiwa-peristiwa patologis yang menyebabkan
preeklampsia.
Fungsi abnormal dari endothelium, ini dapat menyebabkan edema
serebral.

Eklamsia
Merupakan preeklamsia yang di sertai dengan
kejang tonik-klonik disusul dengan koma
Dasar-dasar pengelolaan eklampsia
a.Terapi suportif untuk stabilisasi pada ibu
b.Selalu di ingat ABC (Airway, Breathing,
Circulation)
c.Pastikan jalan nafas tetap terbuka
d.Mengatasi dan mencegah kejang
e.Koreksi hipoksemia dan acidemia
f.Mengatasi dan mencegah penyulit khususnya
hipertensi krisis
g.Melahirkan janin pada saat yang tepat dengan
cara persalinan yang tepat

Perawatan kejang
Tempatkan penderita diruang isolasi atau ruang khusus
dengan lampu terang (tidak diperkenankan ditempatkan
diruang gelap, sebab bila terjadi sianosis tidak dapat
diketahui)
Tempat tidur penderita harus cukup lebar, dapat diubah
dalam posisi Trendelenburg, dan posisi kepala lebih tinggi
Rendahkan kepala kebawah : diaspirasi lendir dalam
orofaring guna mencegah aspirasi pneumonia
Sisipkan penyekat-lidah antara lidah dan gigi rahang atas
Fiksasi badan harus kendor agar waktu kejang tidak terjadi
faktur
Rail tempat tidur harus dipasang dan terkunci dengan kuat

Diferensial diagnosis:
epilepsy( anamnesa epilepsi + ),
ensefalitis dan meningitis( pungsi lumbal ),
Tetanus ( kejang tonik/kaku kuduk ),
Febrile convulsion ( panas + ) dantumor
otak serta pecahnya aneurisma otak
memberikan gambaran serupa dengan
eklampsia.
Prinsip : setiap wanita hamil yang mengalami
kejang harus didiagnosis sebagai eklampsia
sampai terbukti bukan.

Loading Dose 4 g IV over 10-15 minutes


Add 8 ml of 50% MgSO4 to 12 ml N Saline
= 4 g in 20 ml = 20% solution
Maintenance 1 g per hour
Add 25 g MgSO4 (50 ml) to 250 ml N Saline
1 g MgSO4 = 12 ml per hour IV
1 g/hour is infused for 24 hours after delivery or
after last
seizure, whichever is later, provided that:
Respiratory rate > 16 breaths/minute
Urine output > 25 ml/hour, and
Patellar reflexes are present

If seizure continues, or if
seizures recur, give a second
bolus of magnesium sulphate:
2-4 g depending on weight of patient,
over 5-10 minutes
(2 g if < 70 kg and 4 g if > 70 kg)
ONE STAT DOSE ONLY

Magnesium Urine output <100 ml in 4 hours: If no clinical


signs of
Toxicity magnesium toxicity, decrease rate to 0.5 g/hour
Absent patellar reflexes: Stop MgSO4 infusion until
reflexes return
Respiratory Depressions: Stop MgSO4 infusion
Give oxygen via facemask and place in recovery position
because of impaired level of consciousness
Monitor closely
Respiratory Arrest: Stop MgSO4 infusion
Give IV Calcium Gluconate
Intubate and ventilate immediately
Cardiac Arrest: Commence CPR
Stop MgSO4 infusion
Give IV Calcium Gluconate
Intubate and ventilate immediately
If antenatal, immediate delivery
Antidote 10% Calcium Gluconate 10 ml IV over 10 minutes

Daftar Pustaka
Pedoman pengelolaan hipertensi
dalam kehamilan di Indonesia, edisi
kedua, Himpunan Kedokteran Feto
Maternal FOGI 2005.
Management of Severe Pre-Eclampsia
and Eclampsia, Guidelines and Audit
Implementation Network, Maret 2012.
Williams Obstetrics 21st Ed