Anda di halaman 1dari 17

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium pada Anak

Ni Wayan Mirah Wilayadi


Kelompok: A-5
NIM: 102011392
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510
No. Telp (021) 5694-2061, e-mail : miwakary.mw@gmail.com
Pendahuluan
Defisiensi yodium merupakan salah satu masalah gizi kurang yang masih dihadapi oleh
Penerintah Indonesia. Defisiensi gizi ini dapat diderita orang pada setiap tahap kehidupan,
mulai dari masa prenatal hingga lansia. Defisiensi yodium sebelumnya dikenal dengan istilah
gondok (pembesaran kelenjar tiroid) yang merupakan salah satu gejala yang timbul akibat
kekurangan gizi tersebut. Akibat kekurangan zat gizi ini diketahui tidak hanya pembesaran
kelenjar tiroid, tetapi jauh lebih luas.1
Spektrum akibat defisiensi sangat luas, mulai dari keguguran, lahir mati, cacat
bawaan, kretin dan hipotirois. Kretin merupakan akibat yang paling berbahaya karena tidak
hanya fisik saja yang terkena, tetapi yang paling penting adalah gangguan pada
perkembangan otak. Karena luasanya akibat dari defisiensi ini, defisiensi yodium dikenal
dengan istilah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). Gangguan akibat kekurangan
yodium (GAKY) merupakan masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian dan
penanganan yang serius. Data WHO tahun 2005, tercatat ada 130 negara di dunia mengalami
masalah GAKY, sebanyak 48 % tinggal di Afrika dan 41 % di Asia Tenggara dan sisanya di
Eropa dan Pasifik Barat.
Pada makalah Problem Based Learning ini saya membahas kasus skenario 9 yang
berhubungan dengan masalah GAKY, dimana Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun dibawa
oleh ibunya ke Rumah Sakit. Ibunya merasa pertumbuhan anaknya tersebut lamabat. Dari
hasil pemeriksaan fisik didapatkan wajah tampak seperti orang tua, kulit kasar, perut
membuncit. Anak tersebut sulit untuk diajak berkomunikasi oleh dokter.
Anamnesis
Anamnesis adalah pengumpulan data status pasien yang didapat dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan keadaan pasien. Tujuan dari anamnesis
antara lain: mendapatkan keterangan sebanyak mungkin mengenai penyakit pasien,
1

membantu menegakkan diagnosa sementara dan diagnosa banding, serta membantu


menentukan penatalaksanaan selanjutnya. Wawancara yang baik seringkali sudah dapat
mengarah masalah pasien dengan diagnosa penyakit tertentu. Adapun anamnesis meliputi:
pencatatan identitas pasien, keluhan utama pasien, riwayat penyakit pasien serta riwayat
penyakit.
1. Identitas
- Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir , alamat, pendidikan,
pekerjaan, suku bangsa dan agama.
2. Keluhan utama
- Keluhan utama perlu diketahui, yaitu keluhan yang menyebabkan pasien datang ke
klinik untuk berobat. Berdasarkan kasus, keluhannya adalah seorang ibu datang ke
Rumah Sakit dengan keluhan anak laki-lakinya mengalami keterlambatan
pertumbuhan.
3. Riwayat penyakit sekarang
- Riwayat perjalanan penyakit merupakan cerita yang kronologis, terperinci dan jelas
mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien
-

datang berobat.
Berikut ini beberapa pertanyaan untuk mendapatkan data riwayat kesehatan dari
proses penyakit:
o Riwayat makanan : - jangka pendek : sebelum sakit
- jangka panjang: sejak bayi
o Nafsu makan : baik / kurang / buruk ?
o Masukan makanan : jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi, dapat untuk

menilai / kesan tentang kwalitas : baik / kurang, berdasarkan :


jenis makanan
komposisi nutrien
distribusi kalori
kwantitas : cukup / kurang / lebih --.> terhadap RDA
energi / protein / vitamin / mineral dll.
o Riwayat kehamilan ibu
4. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat penyakit dahulu bertujuan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan
adanya hubungan antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakit sekarang.
5. Riwayat Penyakit Dalam Keluarga
- Penting untuk mencari kemungkinan penyakit yang sama pada orang tua, keluarga
dan lingkungan tempat tinggal.2
Pemeriksaan Fisik
1. Menentukan status gizi secara antropometri
Tujuan dari pengukuran kesehatan adalah untuk mengetahui kondisi pertumbuhan dan gizi
anak. Penilaian pertumbuhan pada anak sebaiknya dilakukan dengan jarak yang teratur
2

disertai dengan pemeriksaan serta pengamatan fisik. Status gizi adalah ekspresi dari
keseimbangan dalam bentuk variabel-variabel tertentu.

Status gizi juga

merupakan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi
dan penggunaan zat-zat gizi tersebut atau keadaan fisiologik akibat dari
tersedianya zat gizi dalam seluruh tubuh.

Antropometri adalah ilmu yang mempelajari berbagai ukuran tubuh manusia.Dalam


bidang ilmu gizi digunakan untuk menilai status gizi. Ukuran yang sering digunakan adalah
berat badan dan tinggi badan. Selain itu juga ukuran tubuh lainnya seperti lingkar lengan atas,
lapisan lemak bawah kulit, tinggi lutut,lingkaran perut, lingkaran pinggul.
Pengukuran IMT dapat dilakukan pada anak-anak, remaja maupun orang dewasa.
Pada anak-anak dan remaja pengukuran IMT sangat terkait dengan umurnya, karena dengan
perubahan umur terjadi perubahan komposisi tubuh dan densitas tubuh. Karena itu, pada
anak-anak dan remaja digunakan indikator IMT menurut umur, biasa disimbolkan dengan
IMT/U. IMT adalah perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan kuadrat. Cara
pengukurannya adalah pertama-tama ukur berat badan dan tinggi badannya.2,3
Selanjutnya dihitung IMT-nya, yaitu :
Berat badan (kg)
IMT = ---------------------------------------------Tinggi badan 2 (meter)
Dalam kasus 9 ini anak laki-laki 7 tahun memiliki berat badan 17 kg, tinggi badan 97 cm.
Kemudian dilakukan pengukuran dengan klasifikasi status gizi pada IMT yang dihitung
dengan menggunakan Z-skor di dapatkan hasil BMI/age sebesar 1,55 menunjukkan hasil
anak tersebut gemuk, weight/age sebesar -4,68 menujukkan hasil sangat kurus dan hight/age
sebesar -2,31 menunjukkan hasil anak tersebut kurus. Dari data yang di dapat menunjukkan
bahwa anak tersebut mengalami gangguan pada proses pertumbuhan.

Hasil Pengukuran

Klasifikasi IMT menurut Kemenkes RI 2010 untuk anak usia 5-18 tahun
Nilai Z-skor
z-skor +2
+1 < z-skor < +2
-2 < z-skor < +1
-3 < z-skor < -2
z-skor < -3

Klasifikasi
Obesitas
Gemuk
Normal
Kurus
Sangat kurus

2. Pemeriksaan Kelenjar Tiroid


a. Inspeksi
Dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang berada pada posisi duduk
dengan kepala sedikit fleksi atau leher sedikit terbuka. Jika terdapat pembengkakan atau
nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi, ukuran, jumlah nodul, bentuk
(diffus atau noduler kecil), gerakan pada saat pasien diminta untuk menelan dan palpasi pada
permukaan pembengkakan.
b. Palpasi
Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi
fleksi. Pemeriksan berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari
kedua tangan pada tengkuk penderita.4
Pemeriksaan Penunjang
Pengukuran status yodium dapat dilakukan dengan metode biokimia dan tanda-tanda klinis.
Metode biokimia dapat dilakukan dengan teknik radioimmuno assay, pengukuran protein
binding iodine (PBI), Thyroid Stimulated Hormones (TSH), Urine Iodine Excretion (UIE)
dan kadar kreatinin dalam darah. Sementara itu, tanda-tanda klinis dilakukan dengan melihat
pembesaran kelenjar thyroid. Untuk mengetahui tingkat defisiensi awal, metode biokimia
merupakan cara yang paling tepat.
Pengukuran status yodium dibedakan pula antara keperluan individu dan masyarakat.
4

Untuk mengetahui status yodium individu, pengukuran kadar kretinin, thyroxsin merupakan
metode yang harus dipergunakan. Pengukuran kadar yodium dalam urine dan pembesaran
kelenjar thyroid merupakan pengukuran yang dapat dipergunakan untuk melihat status
yodium di masyarakat.
Hasil pengukuran kreatinin dalam urine dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu,
tahap-1 atau normal (>50g I2/g kreatinin) tahap-2 atau hipotiroid (25-50g I2/g kreatinin),
dan tahap-3 kretin (<25 g I2/g kreatinin).
Pembesaran kelenjar thyroid dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang kasat mata
(golongan II) yang dalam posisi normal sudah terlihat dan tersembunyi (golongan I) yang
dalam posisi normal tidak terlihat, tetapi dalam posisi tengadah penuh terlihat. Apabila
kelenjar tiroid anak yang diukur lebih besar dari kuku ibu jari anak tersebut, makan telah
terjadi pembesaran kelenjar thyroid.
Klasifikasi
1. Grade 0 : Normal
Dengan inspeksi tidak terlihat, baik datar maupun tengadah maksimal, dan dengan palpasi
tidak teraba.
2. Grade IA
Kelenjar Gondok tidak terlihat, baik datar maupun penderita tengadah maksimal, dan
palpasi teraba lebih besar dari ruas terakhir ibu jari penderita.
3. Grade IB
Kelenjar Gondok dengan inspeksi datar tidak terlihat, tetapi terlihat dengan tengadah
maksimal dan dengan palpasi teraba lebih besar dari Grade IA.
4. Grade II
Kelenjar Gondok dengan inspeksi terlihat dalam posisi datar dan dengan palpasi teraba
lebih besar dari Grade IB.
5. Grade III
Kelenjar Gondok cukup besar, dapat terlihat pada jarak 6 meter atau lebih.
Pengukuran prevalensi pembesaran kelenjar thyroid menggunakan idikator Total
Goiter rate (TGR) dan Visible Goiter Rate (VGR). TGR merupakan semua pembesaran
kelenjar thyroid baik tampak maupun tidak tampak, sedangkan VGR merupakan pembesaran
kelenjar thyroid yang tampak.1
Etiologi
Penyebab masalah gizi secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu penyebab
primer dan penyebab sekunder. Penyebab primer disebabkan oleh ketidak seimbangan
anatara asupan dan kebutuhan. Apabila asupan lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan
kebutuhan maka akan terjadi kelebihan gizi, hal yang sebaliknya terjadi dengan defisiensi zat
5

gizi. Sedangkan penyebab sekunder disebabkan karena ketidakmampuan tubuh untuk


menggunakan zat gizi yang ada, antara lain dapat disebabkan oleh inborn defect
metabolisme.
Berdasarkan konsep UNICEF penyebab langsung GAKY adalah defisensi zat gizi
yang lain, misalnya anemia kurang energi protein dan kurang vitamin A, yang melibatkan
penyakit infeksi sebagai salah satu penyebab langsung. Dengan demikian, maka jelas
defisiensi yodium disebabkan oleh ketidak cukupan asupan yodium saja, seperti terdapat
pada gambar berikut:

Ketidak cukupan asupan yodium disebabkan oleh kandungan yodium dalam makanan
yang rendah dan atau konsumsi garam beryodium yang rendah. Masih banyak masyarakat
yang kurang mengetahui manfaat dari garam beryodium merupakan salah satu penyebab
rendahnya konsumsi garam yang beryodium. Berbagai alasan dikemukakan sehubungan
dengan hal tersebut, antara lain garam yang tidak beryodium. Apabila yodium dalam bahan
makanan rendah, konsumsi garam beryodium 30 ppm, sebanyak 10 gram per hari dapat
mencukupi kebutuhan yodium. Hal yang mendasar dari penyebab GAKY adalah kandungan
6

yodium dalam tanah yang rendah dan kondisi ini bersifat menetap. Semua tumbuhan yang
berasal dari daerah endemis GAKY akan mengandung yodium yang rendah sehingga sangat
diperlukan adanya garam beryodium atau bahan makanan dari luar daerah yang
nonendemis.1,4
Epidemiologi
Tidak semua negara mempunyai sumber mineral yodium. Indonesia merupakan salah satu
dari sedikit wilayah yang beruntung mempunyai sumber yodium tersebut. Sebagian besar
yodium di alam terdapat di laut di samping terdapat lapisan dalam tanah (sumur minyak dan
gas alam).
Yodium dalam tanah berupa I sedangkan dari laut berupa I 2. Konsentrasi yodium di
alam berbeda-beda tergantung dari sumbernya. Yodium di air laut 50-60 g/L, udara
0,7g/m3, dan air hujan 1,8-8,5 g/L. Yodium bersifat mudah menguap dan peka terhadap
cahaya meskipun garam berasal dari air laut secara alamiah tidak lagi mengandung yodium.
Siklus yodium dapat digambarkan sebagai suatu siklus. Yodium dalam air laut akan
menguap ke udara, kemudian akan dikembalikan ke bumi melalui hujan dan salju. Apabila
hujan atau salju terdapat diwilayah yang tidak mampu menahan air, air hujan akan masuk ke
sungai dan akhirnya kembali ke laut. Setiap tahun sekitar 400.000 ton/tahun yodium hilang
dari bumi. Kemampuan tanah menahan air berkaitan dengan tingkat endemisitas GAKY. Pada
daerah endemis GAKY kandungan yodium dalam air tanah rendah (<10 g/L), sedangkan
daerah non endemis GAKY kandungan yodium dalam air tanah tinggi (>1 mg/L).
Tahun 2003 dilakukan lagi survei nasional, yang dibiayai melalui Proyek IP-GAKY,
untuk mengetahui dampak dari intervensi program penanggulangan GAKY. Dari hasil survei ini
diketahui secara umum bahwa TGR pada anak sekolah masih berkisar 11,1%. Survei nasional
evaluasi IP GAKY ini menunjukkan bahwa 35,8% kabupaten adalah endemik ringan, 13,1%
kabupaten endemik sedang, dan 8,2% kabupaten endemik berat.1

Hasil Survei Nasional tahun 2003 dapat dilihat pada peta berikut:

Berdasarkan status yodium dalam urin (Urinary Iodine Exrection atau UIE), hasil
survei tahun 2003 menunjukkan bahwa nilai rata-rata nasional UIE adalah 229 g/l.
Berdasarkan nilai median UIE ini tidak ada provinsi yang tergolong kekurangan yodium
(suatu daerah dinyatakan kurang yodium jika rata-rata UIE < 100g/l 3). Nilai median UIE
terendah (rata-rata 110 g/l) adalah provinsi NTB dan tertinggi (rata-rata 337 g/l) adalah
Provinsi Bangka-Belitung.4
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian GAKY
Intake dan Bioavailabilitas Yodium
Hampir semua bahan mengandung yodium. Yodium dapat diperoleh dari berbagai jenis
makanan baik yang berasal nabati maupun hewani. Kandungan yodium dalam bahan
makanan sangat bervariasi, tetapi sumber bahan makanan yang berasal dari laut merupakan
sumber yodium yang terbaik. Ikan yang berasal dari laut mengandung yodium hampir 30 kali
lipat dibandingkan ikan air tawar. Sumber yodium yang berasal dari tanaman lebih banyak
terdapat pada sayuran daun dibandingkan dengan bagian umbi. Selain bahan makanan,
yodium dapat diperoleh dari garam yang telah difortifikasi dengan yodium.
Yodium merupakan salah satu dari mineral yang bersifat sensitif terharap panas dan
cahaya. Yodium yang terdapat dalam bahan makanan tidak 100 persen masuk dalam sistem
pencernaan kita. Proses pengelolaan bahan makana akan mengurangi ketersediaan yodium
dari makanan kita. Kehilangn yodium selama pengolahan berbanding lurus suhu dan waktu
pengolahan. Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu yang dipergunakan untuk
8

mengolah bahan makanan, maka semakin tinggi jumlah yodium yang hilang. Proses
penggorengan akan mengurangi kandungan yodium sebesar 20 persen, pemanggangan
sebesar 23 persen dan perebusan sebesar 58 persen.
Jumlah kebutuhan yodium setiap hari untuk mencegah terjadinya defisiensi
tergantung dari umur dan kondisi fisiologis, tetapi tidak dipengengaruhi jenis kelamin. Ibu
hamil dan menyusui memerlukan jumlah yang lebih banyak dibandingkan kelompok umur
lain. Angka kecukupan yodium setiap harinya sangat kecil, yaitu antara 90 g-200 g/ hari
tergantung dari kelompok umur dan kondisi fisiologisnya. Untuk lebih jelas dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel. Asupan normal yodium
Kisaran umur atau kondisi
0-59 bulan
6-12 tahun
12 tahun ke atas
Ibu hamil dan menyusui

Asupan (g/hari)
90
120
150
200

Pada masyakarat yang mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung bahan makanan
yang mengandung goitrogenik seperti singkong, jagung, rebung, ubi jalar, kebutuhan yodium
menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat tidak mengkonsumsi bahan makanan
tersebut. Kecukupan yodium meningkat menjadi 200-300 g/hari.1,4,5
Patofisiologi
Defisiensi yodium merupakan sebab pokok terjadinya masalah GAKY. Hal ini disebabkan
karena kelenjar tiroid melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur
iodium dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinya.
Yodium dalam tubuh terdapat sekitar 5-20 mg. Sebagian besar yodium sekitar 70-80
persen terdapat pada kelenjar tiroid (berat 15-25 gr). Di dalam tubuh, yodium terdapat dalam
beberapa bentuk Iodide, Iodin, Mono Yodo Thyronin (MIT); Di Iodo Thyronin (DIT; Tri Iodo
Thyronin (T3) dan Tetra Iodo Thyronin (T4) atau Tyroxine.
Di dalam kelenjar thyroid, Iodium berupa I2; MIT; DIT; T4; T3; tiroksin-polipeptida
dan tiroglobulin (glikoprotein yang mengandung asam aminio-iodium, merupakan tempat
penyimpanan T4 dan sekitar 90 persen iodium berada di kelenjar). Sementara itu di dalam
darah iodium berbentuk I2; T4; T3.
Yodium dalam makanan berupa Iodine, Iodide dan kompleks yodium; diubah
menjadi iodide sebelum diserap oleh usus halus. Setelah diabsorpsi iodine akan masuk ke
9

aliran darah dan diserap oleh kelenjar tiroid sebanyak 1/3 dan sisanya diekskresikan melalui
ginjal, pernapsan dan feses.
Penyerapan Iodide oleh kelenjar tiroid melalui suatu sistem trasportasi aktif, yaitu
suatu sistem penyerapan yang membutuhkan energi dan disebut iodine pump. Proses
penyerapan ini diatur oleh hormen Thyroid Stimulating Hormon (TSH). Yodium yang
terdapat di kelenjar thyroid dan kemudian dilepas di koloid yang terdapat antara sel-sel
thyroid dan dioksidasi oleh hidrogen peroksidase yang berasal dari thyroid peroksidase
sistem. Kemudian bergabung dengan tyrosin dan throglobulin dan membentuk MIT dan DIT.
Thyroglobulin dan asam amino yang mengikat yodium akan diserap sel thryroid melalui
proses yang disebut pinocytosis. Enzim proteolitik akan melepaskan T4 dan T3 ke darah,
sedangkan iodotyrosin yang tidak terpakai akan dikembalikan ke thyroglobulin.

Gambar. Absorpsi dan metabolisme yodium


Peraturan hormon thyroid (tyroksin) melibatkan thyroid, pituitary, otak dan jaringan
periperal. Sekresi tiroksin diatur oleh TSH (glukoprotein dengan BM=28.000 dengan 2
subunit. Subunit-X struktur sama dengan pituitary tetapi subunit-B spesifik TSH). Bila kadar
tiroksin darah menurun, hipotalamus akan mengeluarkan thyroxin releasing faktor (TRF) ke
10

plasma yang nantinya akan menstimulasi pengeluaran TSH dari kelenjar pituatary. TSH di
kelenjar gondok akan melepaskan residu Iodine-tirosin dari protein. Residu iodine kemudian
diubah menjadi T4 dan T3 yang dalam darah berada dengan perbandingan 4:1. Di antara dua
bentuk hormon tersebut T3 lebih aktif. T4 dapat diubah menjadi T3 dengan melepaskan satu
yodium. Proses perubahan T4 menjadi T3 memerlukan bantuan selenium.
Saat dimana jumlah produksi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid tidak mencukupi
akan terjadi hipotiroidisme yang merupakan proses primer. Hipotiroidisme merupakan suatu
sindromaklinis akibat penurunan produksi dan sekresi hormon tiroid. Hal tersebut akan
mengakibatkan penurunan laju metabolisme tubuh dan penurunan glukosaminoglikan di
interstisial terutama dikulit dan otot, adpun manifestasi klinis dapat dibaca di bawah ini.1,6
Gejala Klinis
Kretin merupakan akibat kekurangan yodium yang berbahaya. Kretin merupakan akibat
defisiensi yang bersifat irreversible. Penderita kretin mempunyai IQ yang di bawah rata-rata
sehingga hal ini akan menjadikan beban selama hidupnya. Kretin pada umumnya terjadi
apabila saat organogenesis terjadi defisiensi yodium. Kretinin akan tampak jelas pada bayi
setelah 12 bulan prevalensi pada bayi dengan ASI lebih kecil dibandingkan degan bayi yang
diberi PASI.
Diagnosis kretin ditegakkan berdasarkan kerusakan Susunan Saraf Pusat (SSP)
dengan gejala-gejala retardasi mental, tuli perseptif biasanya bilateral dan gangguan
neuromotorik (kelemahan pada otot pangkal lengan dan paha). Sementara itu, kondisi
hypothyroid mempunyai tanda-tanda hambatan pertumbuhan tinggi dan berat badan. Pada
hypothyroid tingkat berat terdapat kondisi tingkat berat terdapat kondisi myxoedema (gejala
oedema pada tungkai dan muka tampak sembab, bersifat non-pitting) dan pada tingkat ringan
terjadi hambatan ossifikasi.
Untuk mendiagnosis apakah bayi yang baru dilahirkan kretin atau normal, berikut
adalah beberapa indikator tanda-tanda awal kretin yang dapat dipergunakan, antara lain:
1. Sifat lethargia (lemas dan mengantuk terus)
2. Hambatan pertumbuhan
3. Konstipasi
4. Muka sembab dan ekspresi bodoh
5. Mata sipit dengan celah mata horizontal
6. Lidah tebal/besar (tampak menjulur ke luar)
7. Rambut kasar dan kering
8. Timbunan lemak di daerah fossa supraclavicularis dan pangkal leher
9. Perut buncit dengan hernia umbilikalis
10. Ekstrem pendek dan gemuk
11

11. Kulit kering dan suhu badan rendah


12. Non-pitting oedema.
Mc Carrison dalam Djaeni (1987) membagi menjadi dua tipe berikut.
a. Neurologik: hambatan mental (mental retardation); ekspresi muka bodoh, pendek
(cebol; spastic displegia (kelumpuhan menjelang ekstermitas ats bilateral simetris);
kaku otot lain; kadang terdapat struma yang berbonjol-bonjol. Organ yang
dipengaruhi adalah telinga (labirin dan rumah siput) dan otak. Terjadi karena
defisiensi yodium pada trimester ke-1 dan ke-2 kehamilan
b. Myxoedema: hambatan metabolisme tingkat tinggi; hipotiroid; mental retardasion;
tubuh lebih pendek dari neurological kretin; tidak selalu: bisu tulim spastic, goitre.
Terjadi karena defisiensi yodium pada akhir kehamilan dianjurkan pada tahun
pertama.1
Penatalaksanaan GAKY
Beberapa indikator yang dipergunakan untuk menentukan apakah GAKY merupakan masalah
kesehatan masyarakat atau bukan. Indikator yang dipergunakan antara lain pembesaran
kelenjar thyroid, baik dengan palpasi atau USG, kadar yodium dalam urine dan TSH.
Masing-masing indikator mempunyai batas tersendiri. Indikator yang paling banyak
digunakan adalah pembesaran kelenjar thyroid dengan metode palpasi karena ini merupakan
metode yang paling murah dan cukup sensitif.
Tabel 1. Indikator dan kriteria sebagai masalah kesehatan masyarakat
Indikator

Target
populasi
Goiter
Anak
Volume kelenjar thyroid >97 th
Anak
Median urinary iodine level (g/l) Anak
TSH >5mlU/l whole blood
Neonatal
Median
thyroglobulin
(ng/ml Anak/
serum
dewasa

Tingkat
masalah
kesehatan
masyarakat (prevalensi) %
Ringan
Sedang
Berat
5,0-18,9
20,0- 29,9 >30
5,0-19,9
20,0-29,9 >30
50-99
20-49
<20
3,0-19,9
20-39,9
>40
10,0-19,9 20,0-39,9 >40

Prevalensi GAKY suatu wilayah menggambarkan pula tingkat keparahan masalah


yang dihadapi. Secara umum GAKY dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu ringan, sedang
dan berat, semakin beasr prevalensi semakin tinggi masalahnya. Dengan menggunakan
idikator TGR, bila hasil suatu pengukuran menunjukkan hasil >5persen, maka maslah yang
dihadapi tergolong ringan.
Penanggulangan masalah GAKY dapat dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa
12

cara yang telah dilakukan antara lain, fortifikas yodium pada garam, fortifikasi yodium pada
air minum, suplementasi yodium pada hewan, suntikan minyak yodium dan suplementasi
kapsul yodium. Penggunaan masing-masing metode sangat tergantung dari tingkat masalah
yang ada. Pada daerah dengan masalah GAKY yang ringan, iodisasi garam dan perbaikan
ekonomi sudah mencukupi. Sementara itu pada wilayah dengan masalah GAKY berat maka
harus dilakukan suplementasi kapsul yodium.
1. Garam Yodium
Garam yodium pertama kali digunakan di gunakan di Switzerland tahun 1920.
Penggunaan garam beryodium di Indonesia dilakukan tahun 1927 di daerah gunung
Tengger dan Dieng. Wilayah tengger dan Dieng merupakan daerah penggunungan
endemis GAKY.
Tingkat masalah kesehatan Indikator
masyarakat
GAKY Ringan
TGR (5,0 -19,9%)
UIE (50-99 g/l)
GAKY Sedang
TGR (20,0 - 29,9%)
UIE (20-49 g/l)
GAKY Berat
TGR (>30%)
UIE (<20 g/l)
Kretinin

Metode penanggulangan
Iodinisasi garam
Perbaikan ekonomi
Garam beryodium20-40 ppm
Kapsul minyak beryodium
Kapsul minyak beryodium

Dibandingkan dengan model penanggulangan GAKY yang lain, penanggulangan


garam beryodium paling murah biayanya. Hal ini disebabkan garam merupakan
kebutuhan sehari-hari, tidak ada pengolahan makanan yang tidak menggunakan
garam. Meskipun merupakan cara yang paling mudah, tidak berarti tanpa kendala.
Berbagai kendala dihadapi oleh pemerintah dalam mengontrol ketersediaan garam
beryodium di lapangan. Kendala-kendala tersebut adalah sebagai berikut.
1. Produksi garam tidak tersentralisasi sehingga menyulitkan dlam monitoring. Dari
1 juta ton garam yang diproduksi hanya 30 persen yang diproduksi oleh PN
Garam, sisanya tesebar di berbagai daerah. Kebutuhan garam yang dikonsumsi
setiap taun sekitar 600 ribu ton, sedangkan produksi terpasang untuk garam
beryodium 1,1 juta ton. Kadar yodium ternyata sangat rendah, hanya 58 persen
dari garam beryodium yang dikonsumsi oleh RT yang memenuhi pesyaratan
(SKRT 96). Eveluasi oleh Departemen Perindustrian pada tahun 1991 pada tingkat
produsen menunjukkan:
Kadar (ppm)
0
<30

Jumlah (persen)
6
37
13

30-39
40-50
>50

27
19
12

2. Cara pengolahan garam beryodium sebaiknya ditamahkan pada saat akan disantap
untuk mengurangi kehilangan. Pada umumnya masyarakat menambahkan garam
saat menyiapkan bumbu, terutama bumbu yang perlu dihaluskan. Masakan yang
pedas dan asam ternyata akan menghilangan yodium.
3. Penerimaan masyarakat, masyarakat belum semua mengkonsumsi garam biasa.
Hasil SKRT 1996, rumah tangga yang mengkonsumsi si garam beryodium baru
85%. Yang memenuhi persyaratan hanya 58%, kurang 27 % dan tidak beryodium
15%. Sebagian masyarakat beranggapan garam beryodium kurang asin
dibandingkan dengan garam biasa. Selain itu, ada yang beranggapan garam
beryodium rasanya pahit.
2. Suplemen Yodium pada Hewan
Suplemntasi pada sapi dana babi di Jerman Timur menunjukkan adanaya peningkatan
kadar yodium dalam daging tersebut. Dengan demikian, akan meningkatkan konsumsi
yodium.
3. Suntikan Minyak Yodium
Pertama kali dilakukan di Papua Nugini. Metode ini tepat digunakan di daerah
endemik yang terisolasi. Suntikan diberikan sebanyak 1ml yang mengandung 480 mg
Iodin dan diulang setiap tiga tahun (tergantung kondisi). Diberikan pada wanita
berusia di bawah 40 tahun. Di Indonesia pertama kali dilakukan pada tahun 1976 di
daerah endemis pada bebrapa provinsi. Program ini tidak berhasil dengan baik karena
kesulitan dalam administrasi sehingga tidak dapat mencapi sasaran.
4. Kapsul Minyak Yodium
Studi di China dan India menunjukkan cara ini mempunyai efektivitas 50 persen di
bandingkan dengan cara injeksi minyak yodium. Dilihat dari segi penanganannya cara
ini merupakan cara yang lebih mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja.
Di Indonesia pemberian kapsul yodium (Yodiol) dilakuakan sejak tahun 1992.
Sasaran adalah murid SD di daerah endemik. Saat ini sasaran pemberian kapsul
Yodiol adalah wanita hamil dan WUS, dengan harapan akan mencegah lahirnya kretin
baru.1
N
o

Indikator

14

Pa

1
2

Yodisasi garam
Proporsi rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium
Yodium dalam urine
Proporsi <100 g/l
Proporsi <50 g/l
Besar kelenjar thyroid
Anak sekolah berusia 6-12 tahun, propors yang membesar
kelenjar thyroid dengan palpasi/USG
Thyroid stimulating hormon (TSH) pada neonatal
Proporsi dengan kadar >5mU/l whole blood

>90%

<50%
<20%
<5%

<3%

Penanggulangan GAKY
Seperti halnya penanggulangan masalah gizi lainnya, dalam menanggulangi masalah GAKY
diperlukan suatu langkah yang sistematis agar dapat diperoleh hasil yang optimal. Langkahlangkah tersebut sebagi berikut:
1. Analisis situasi GAKY (survei GAKY, kadar goitre survey, yodium dalam air,
kandungan yodium dalam urine dan kadar T4).
2. Mengkomunikasikan data yang diperoleh pada kelompok profesional kesehatan dan
kesehatan masyarakat melalui bantuan media komunikasi dengan pendekatan
pemasaran sosial.
3. Perencanaan kegiatan oleh Departemen kesehatan dengan bantuan komisi
penanggulanga GAKY.
4. Adanya kebijakan yang mendukung poin 1-3. Sosialisai konsep GAKY dalam bahasa
yang mudah dimengerti dan merupakan hal yang penting. Adanya otoritas penuh
politis dan hukum bagi Bdan Penanggulangan GAKY untuk menjalankan program
tersebut.
5. Pembentukan organisasi dalam sumber daya, pelatihan dan kerja sama dengan
wilayah.
6. Monitoring dan pengukuran efek pelaksanaan langkah 1-6 denga melihat kadar UIE
dan T4.1
Kesimpulan
Penyebab utama keluahan ibu terhadap anak laki-lakinya yang mengalami gangguan
pertumbuhan adalah GAKY, di mana asupan yodium yang btidak mencukupi kebutuhan.
Kejadian ini dapat terjadi pada semua tahap kehidupan, dampak yang paling berbahaya
adalah kretin. Bahan makana yang banyak mengandung yodium dan bahan makanan yang
berasal dari laut, kebutuhan yodium sehari tergantung dari umu dan kondisi fisiologis,
berkisar 150-200 g/hari. Penanggulangan GAKY dapat dilakukan dengan berbagai cara
15

antara lain fortifikasi garam dengan yodium, suplementasi yodium pada hewan suntikan
minyak beryodium dan pemberian kapsul minyak yodium.

Daftar Pustaka
1.
2.
3.
4. Almatsier S. 2004. Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
5. Depkes. 2008. Diskusi Pakar Penanggulangan Masalah GAKY. Diakses pada 26 Desember
2011 dari http://gizi.depkes.go.id/artikel/diskusi-pakar-penanggulangan-masalah-gaky/
6.

Soewondo P, Cahyanur R. Hipotiroi

disme dan gangguan akibat kekurangan yodium.


16

Dalam : Penatalaksanaan penyakit


penyakit tiroid bagi dokter. Departemen ilmu
penyakit dalam FKUI/RSUPNCM. Jakarta. Interna publishing. 2008.
14
21

17