Anda di halaman 1dari 11

BAB II

Tinjauan Teoritis
A. Praktek Mandiri
1. Praktik Mandiri Kesehatan
Dewasa ini, telah banyak sarana kesehatan yang dibangun untuk
melayani dan mensejahterakan masyarakat di masing-masing daerah.
Pemerintah memberikan kewenangan kepada Profesi Kesehatan untuk
bisa memberikan pelayanan yang baik dan bermutu kepada masyarakat
terkait kesehatan. Ada banyak sarana pelayanan kesehatan yang di bangun
di tanah Indonesia ini diantaranya adalah praktik mandiri kedokteran,
praktik mandiri keperawatan atau juga kolaborasi diantara keduanya. Hal
tersebut merupakan wujud kepedulian profesi kesehatan dalam ikut
membangun kesejahteraan masyarakat Indonesia guna menuju kehidupan
yang lebih baik.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 512
tahun 2007 pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa praktik kedokteran adalah
rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi terhadap
pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan. Dimana dinyatakan bahwa
dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dokter
gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di
dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik
Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Permenkes RI,
2007).
2. Pengertian Praktek Keperawatan Mandiri
Praktik keperawatan dilaksanakan pada

fasilitas

pelayanan

kesehatan tingkat pertama, tingkat kedua dan tingkat ketiga yang


ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Praktik
keperawatan sebagaimana yang telah disebutkan dilaksanakan melalui
kegiatan pelaksanaan asuhan keperawatan, pelaksanaan dengan upaya

promotif, preventif, pemulihan dan pemberdayaan masyarakat, serta


tindakan keperawatan komplementer (Permenkes RI, 2010).
Praktek keperawatan adalah suatu tindakan yang dilakukan secara
mandiri oleh perawat profesional atau ners melalui kerjasama yang
bersifat kolaboratif baik dengan klien maupun dengan tenaga kesehatan
lain dalam upaya memberikan asuhan keperawatan yang holistik sesuai
dengan kewewenangan dan tanggungjawabnya. Sementara pengetahuan
teoritis yang telah dikuasai dan mantap serta tindakan mandiri perawat
yang profesional akan menciptakan proses keperawatan sebagai
pendekatan dalam melakukan asuhan keperawatan yang mantap dan juga
kokoh (Pojok Keperawatan, 2002).
Menurut American Nursing Association (ANA) menyatakan bahwa
praktik keperawatan mandiri adalah perlakuan terhadap kompensasi
pelayanan profesional yang memerlukan pengetahuan khusus tentang ilmu
biologi, fisika/ilmu alam, perilaku, psikologi, psikososial, sosiologi, dan
teori keperawatan sebagai dasar untuk mengkaji, menegakkan diagnosa,
melakukan intervensi, dan evaluasi dalam upaya meningkatan dan
mempertahankan status kesehatan.
Pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional
yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan
pada ilmu dan standar operasional keperawatan. Pelayanan keperawatan
itu sendiri diterapkan dalam bentuk pelayanan bio-pisiko-sosio-spiritual
yang komprehensif, ditunjukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat
baik yang sakit maupun sehat serta mencakup seluruh proses kehidupan
manusia menuju taraf hidup yang lebih baik. Pelayanan keperawatan yang
diberikan berupa bantuan pengobatan serta perawatan karena adanya
kelemahan fisik atau mental, keterbatasan pengetahuan dan kurangnya
kemauan untuk melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri.
3. Lingkup Praktik Keperawatan

Dalam buku Irawaty (2012) menyatakan bahwa tindakan praktik


keperawatan

mandiri

meliputi

observasi

keperawatan,

intervensi

keperawatan, tindakan keperawatan komplementer, tindakan keperawatan


modalitas, penyuluhan kesehatan, advokasi, edukasi dan konseling dalam
wahana praktek yang berbeda diantaranya adalah rumah sakit umum atau
khusus, Puskesmas, home care, nursing home, klinik bersama,
keperawatan perorangan dan fasilitas pelayanan kesehatan bergerak
(amulatory).
4. Tujuan Praktek Keperawatan Mandiri
Tujuan praktek keperawatan mandiri sesuai yang diungkapkan oleh
WHO (1985) harus diupayakannya terhadap pencegahan primer,
peningkatan kesehatan pasien, keluarga dan masyarakat, personal hygene,
dan peningkatan keperawatan diri. Praktik keperawatan meliputi empat
area yang terkait dengan kesehatan (Cozier & Erb, 1999), yaitu :
a. Pengikatan Kesehatan
Peningkatan kesehatan adalah kerangka aktivitas keperawatan.
Kesadaran diri klien terhadap kesadaran kesehatan, keterampilan
kesehatan dalam menggunakan semua sumber yang dipertimbangkan
sebagai perawatan yang diberikan oleh perawat. Peningkatan
kesehatan membantu masyarakat dalam mengembangkan sumber
untuk memelihara atau meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan
mereka. Tujuan kesehatan tenaga kesehatan yang ingin diwujudkan
adalah mencapai derajat kesehatan yang optimal. Fokus meningkatan
kesehatan diarahkan untuk memelihara atau meningkatan kesehatan
umum baik individu keluaraga dan kelompok.
b. Pencegahan Penyakit
Aktivitas pencegahan penyakit secara

objektif

untuk

mengurangi resiko penyakit, untuk meningkatkan kebiasaan kesehatan


yang baik dan untuk mempertahankan fungsi individu secara optimal.
c. Pemeliharaan Kesehatan

Kegiatan keperawatan dan pemeliharaan kesehatan merupakan


kegiatan yang membantu pasien dalam memelihara status kesehatan
mereka. Baik perawat maupun tenaga medis lain melakukan aktivitas
untuk membantu masyarakat dalam mempertahankan status kesehatan
menuju hidup yang nyaman dan sejahtera.
d. Pemulihan Kesehatan
Pemulihan kesehatan memiliki arti bahwa perawat memberikan
bantuan pada pasien dalam meningkatkan status kesehatannya setelah
pasien memiliki masalah kesehatan atau penyakit dalam masa
penyembuhan.
5. Unsur-unsur Praktek Keperawatan Mandiri
Praktik keperawatan bersifat kompleks dan juga dinamis, yaitu selalu
merespon terhadap perubahan kebutuhan kesehatan pasien, dan terhadap
kebutuhan-kebutuhan perubahan sistemik pelayanan kesehatan. Menurut
WHO (1996), unsur-unsur inti keperawatan dijabarkan dalam kegiatankegiatan sebagai berikut :
a. Mengelola kesehatan fisik dan mental, kegiatanya meliputi pengkajian,
monitoring, koordinasi dan mengelola status kesehatan setiap saat
bekerjasama

dengan

individu,

keluarga,

maupun

masyarakat.

Melakukan pengkajian kesehatan klien, mendeteksi penyakit yang


akut atau kronis, melakukan penelitian dan menginterpretasikannya,
memilih dan memonitor interpretasi terapeutik yang cocok, dan
melakukan semua ini dalam hubungan yang suportif dan caring.
Perawat harus bisa memutuskan kapan klien dikelola sendiri dan
kapan harus dirujuk ke profesi lain atau ke tempat yang lebih lengkap.
b. Melakukan monitoring dan menjamin kualitas praktik pelayanan
kesehatan. Tanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan praktik
profesional, seperti memonitor kemampuan sendiri, memonitor efekefek intervensi medis, menyurvei pekerjaan-pekerjaan personal yang
kurang trampil dan berkonsultasi dengan orang yang tepat.

c. Memberikan bantuan dan kepedulian. Caring adalah bagian yang


terpenting dalam praktik keperawatan. Bantuan termasuk menciptakan
suasana

penyembuhan,

memberikan

kenyamanan,

membangun

hubungan dengan klien melalui asuhan keperawatan. Peranan perawat


seharusnya menjamin partisipasi penuh klien dalam perencanaan
asuhan,

pencegahan,

dalam

asuhan

yang

diberikan.

Perawat

memberikan informasi penting mengenai proses penyakit, gejalagejalanya dan efek samping pengobatan.
d. Penyuluhan-penyuluhan kepada individu,

keluarga

maupun

masyarakat mengenai masalah-masalah kesehatan adalah fungsi


penting dalam keperawatan.
e. Mengkoordinasikan dan mengelola sistem pelayanan kesehatan.
Perawat berpartisipasi dalam membentuk dan mengelola sistem
pelayanan kesehatan, hal ini termasuk menjamin kebutuhan klien agar
terpenuhi, membangun dan memelihara tim medis dan paramedis yang
terapeutik serta profesional, dan mendapatkan asuhan spesialis untuk
pasien. Perawat bekerja di lintas sektor seperti rumah sakit,
puskesmas, institusi pelayanan kesehatan lain, dan sekolah. Profesi
keperawatan harus mempengaruhi strategi kebijaksanaan kesehatan,
baik di tingkat lokal, regional maupun internasional, aktif terlibat
dalam program perencanaan, pengalokasian dana, mengumpulkan,
menganalisis dan memberikan informasi kepada semua level.
B. Undang-Undang, Peraturan dan Kebijakan Pelaksanaan Praktik
Mandiri Kesehatan
1. Dasar hukum UU tentang Kesehatan:
Berdasarkan UU Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 yang mengatur
tentang Kesehatan.
Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 1: dimana kesehatan adalah
keadaan sehat, baik secara fisik, ental, spiritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis.

Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 6: Tenaga Kesehatan adalah setiap


orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang
kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan.
Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 7: Fasilitas pelayanan kesehatan
adalah

suatu

alat

dan

atau

tempat

yang

digunakan

untuk

menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif,


kuratif

maupun

rehabilitatif

yang

dilakukan

oleh

pemerintah,

pemerintahan daerah, dan atau masyarakat.


Bab I Ketentuan Umum Pasal ayat 8, 9, 10, dan 11: Obat adalah bahan
atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang dignakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi
dalam

rangka

penetapan

diagnosis,

pencegahan,

penyembuhan,

pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia. Obat


tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan dari
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian, atau campuran
dari bahan tersebut secara turun temurun telah digunakan untuk
pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku
dimasyarakat. Teknologi kesehatan adalah segala bentuk alat dan atau
metode yang ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosa,
pencegahan, dan penanganan permasalahan kesehatan manusia. Upaya
kesehatan adalah setiap kegiatan yang dan atau serangkaian kegiatan yang
dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk
pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan
pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 12, 13, 14, 15, dan 16 tentang
Pelayanan Kesehatan: Pelayanan kesehatan promotif adalah suatu
kegiatan dan atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih

mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan. Preventif adalah


suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan atau
penyakit. Kuratif adalah suatu kegiatan dan atau serangkaian kegiatan
pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan
penderitaan akibat penyakit, pengendalian penyakit, atau pengendalian
kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin.
Rehabilitatif adalah kegiatan dan atau serangkaian kegiatan untuk
mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga dapat
berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan
masyarakat

semaksimal

mungkin

sesuai

dengan

kemampuannya.

Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan


dengan cara pemberian obat yang mengacu pada pengalaman dan
keterampilan

turun

temurun

secara

empiris

yang

dapat

dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku


di masyarakat.
Bab V Bagian Kesatu tentang Tenaga Kesehatan Pasal 22 ayat 1:
tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum.
Bab V Bagian Kesatu Pasal 23 ayat 1: tenaga kesehatan berwenang
untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
Bab V Bagian Kesatu Pasal 24 ayat 1: tenaga kesehatan harus
memenuhi ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan
kesehatan, standar pelayanan dan standar prosedur operasional.
Bab V Bagian Kesatu Pasal 27 ayat 1 dan 2: tenaga kesehatan berhak
mendapatkan imbalan dan perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas sesuai dengan profesinya. Tenaga kesehatan dalam melaksanakan
tugasnya berkewajiban mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan yang dimiliki.
Bab V Bagian Kesatu Pasal 28 ayat 1: tenaga kesehatan wajib
melakukan pemeriksaan kesehatan atas permintaan penegak hukum
dengan biaya ditanggung oleh negara.

Bab V Bagian Kedua tentang Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pasal 30


ayat 1, 2, 3, 4 dan 5: fasilitas pelayanan kesehatan menurut jenis
pelayanannya terdiri atas pelayanan kesehatan perseorangan dan
pelayanan kesehatan masyarakat. Fasilitas pelayanan kesehatan meliputi
pelayanan kesehatan tingkat pertama, kedua dan ketiga. Pelayanan
kesehatan dilaksanakan oleh pihak pemerintah, pemerintah daerah dan
swasta. Ketentuan persyaratan fasilitas pelayanan kesehatan ditetapkan
oleh pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku. Ketentuan perizinan
fasilitas

pelayanan

kesehatan

ditetapkan

oleh

pemerintah

dan

pemerintahan daerah.
Bab VI tentang Upaya Kesehatan Bagian Kesatu Umum Pasal 46 dan
47: untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setingi-tingginya bagi
masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan
menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya
kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk
kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan.
2. Peraturan dan Kebijakan Pelaksanaan Praktik Mandiri Kesehatan dan
Keperawatan.
Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

02/02/Menkes/148/I/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktek


keperawatan. Bab I Pasal I ayat 1, 2 dan 3. Dimana dinyatakan bahwa
perawat adalah seorang yang telah lulus pendidikan perawat lulus baik di
dalam maupun luar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan secara promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif.
Bab I Pasal 1 tentang Ketentuan Umum: mengatur dengan jelas
definisi-definisi tentang perawat, fasilitas pelayanan kesehatan, standar,
surat registrasi, obat bebas, obat bebas terbatas dan organisasi profesi.

Bab II Pasal 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 tentang Perizininan Praktik Perawat:


tujuannya mengatur izin siapa, dimana dan bagaimana perawat dapat
menjalankan praktik keperawatan. Pasal-pasal tersebut telah menjelaskan
dengan jelas. Ketentuan ini perlu ditambahkan mengingat kualifikasi
perawat Diploma III bukan perawat profesional, jadi perlu ditambahkan
dalam pasal tersebut bahwa minimal perawat yang dapat melaksanakan
praktik mandiri perlu disertakan kualifikasi tertentu misalnya dengan
sertifikat-sertifikat pelatihan, atau dengan pengalaman kerja minimal 5
tahun.
Bab III Pasal 8, 9, 10, 11, dan 12 tentang Penyelenggaraan Praktik:
dijelaskan secara jelas tentang pelaksanaan praktik perawat, yang meliputi
tempat dimana praktik dilaksanakan, bagaimana pelaksanaan praktik
tersebut, peran perawat dalam praktik, serta hak dan kewajiban perawat.
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
No
512/Menkes/Per/IV/2007 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan
Praktik Kedokteran
Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 1, 3, 6, 8, 9, 10, dan 11: dalam
pasal tersebut tertulis dengan jelas memaparkan terkait pengertian praktik
kedokteran, surat izin praktik kedokteran, sarana pelayanan kesehatan,
standar

pelayanan,

standar

profesi

kedokteran,

standar

prosedur

operasional, dan organisasi profesi.


Bab II tentang Izin Praktik Pasal 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 dan
13 : dimana dalam pasal ini menjelaskan tentang permohonan dalam
memperoleh SIP.
Bab III tentang Pelaksanaan Praktik Pasal 14, 15, 16 dan 18: dimana
dijelaskan dalam pasal tersebut tentang pelaksanaan praktik kedokteran,
pelimpahan wewenang kepada tenaga kesehatan lain, membuat daftar
dokter praktik, dan kewenangan dokter dalam pelaksanaan praktik sesuai
dengan kompetensi yang dimilikinya.

C. Issue Legal dalam Keperawatan berkaitan dengan Hak Pasien


Kesadaran masyarakat terhadap hak-hak dalam memperoleh
pelayanan kesehatan dan tindakan keperawatan baik secara medis
maupun non medis semakin meningkat. Sehingga pemberi pelayanan
kesehatan dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada pasien, melalui program pelatihan perawat
seperti seminar, pelatihan gawat darurat dan lain sebagainya.
Pasien memiliki hak legal yang sudah terakui secara hukum untuk
mendapatkan pelayanan yang aman dan optimal. Kebijakan yang ada
berada dalam sebuah institusi menetapkan prosedur yang tepat untuk
mendapatkan persetujuan pasien dalam melakukan tindakan keperawatan
ataupun pengobatan yang akan dilakukan. Institusi telah membentuk
berbagai komite etik untuk meninjau praktik profesional dan memberi
pedoman bila hak-hak klien terancam. Perhatian lebih juga diberikan pada
advokasi

klien

sehingga

pemberi

pelayanan

kesehatan

semakin

bersungguh-sungguh untuk tetap memberikan informasi kepada klien dan


keluarganya bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan.
Pasien berhak memberikan tuntutan hukum atas tindakan yang
dilakukan oleh tenaga medis dan atau paramedis apabila tidak sesuai
dengan standar prosedur operasional terhadap tindakan yang dilakukan
kepada pasien. Selain itu juga pasien berhak melaporkan kepada pihak
yang berwenang apabila institusi penyedia pelayanan kesehatan
memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan kode etik yang telah
ditetapkan dalam undang-undang, seperti mal praktek dan lain
sebagainya.
D. Tren dan Isu Kontemporer Keperawatan dan Praktik mandiri
Pada dasarnya, keperawatan sebagai profesi senantiasa mengabdi
kepada dasar-dasar kemanusiaan, yakni mendahulukan kepentingan
kesehatan pasien di atas kepentingan sendiri, bentuk pelayanan bersifat
humanistic dan holistik, dengan dilaksanakan berdasarkan ilmu

keperawatan serta menggunakan kode etik sebagai pedoman utama


dalam melaksankan asuhan keperawatan.
Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang
merupakan bagian inti dalam pelayanan kesehatan yang berdasar pada
ilmu keperawatan individu keluarga, kelompok dan masyarakat baik
itu dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit yang mencakup
seluruh proses kehidupan manusia sampai mempersiapkan pasien
terminal.

Anda mungkin juga menyukai