Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Lidah merupakan salah satu organ penting pada tubuh manusia yang
memiliki banyak fungsi. Lidah memiliki peran dalam proses pencernaan,
mengisap, menelan, persepsi rasa, bicara, respirasi dan perkembangan rahang.
Lidah dapat mencerminkan kondisi kesehatan seseorang sehingga digunakan
sebagai indikator untuk mengetahui kesehatan oral dan kesehatan umum pasien.1
Lidah dapat mengalami anomali berupa kelainan perkembangan, genetik,
dan enviromental. Penyakit-penyakit lokal dan sistemik juga mempengaruhi
kondisi lidah dan menimbulkan kesulitan pada lidah yang biasanya menyertai
keterbatasan fungsi organ ini. Lesi pada lidah memiliki diagnosa banding yang
sangat luas yang berkisar dari proses benigna yang idiopatik sampai infeksi,
kanker dan kelainan infiltratif. Bagaimanapun, lesi lidah yang terlokalisasi dan
non-sistemik lebih sering dijumpai.1
Lidah juga bisa menderita kelainan atau penyakit. Kelainan pada lidah
antara lain terdiri dari kelainan perkembangan, perubahan selaput dan warna
lidah, indentation markings, gangguan gerakan lidah, gangguan persarafan lidah,
pembesaran lidah dan peradangan.2
Penyakit lidah paling sering ditemui akibat kondisi sistemik glossitis
median rhomboid, glositis atrofi, lidah pecah-pecah dan lidah geografis,
sementara di antara kondisi lokal, ada papiloma, lidah berbulu dan leukoplakia
dengan evolusi ganas mereka mungkin . Glositis atrofi (AG) adalah penyakit
inflamasi dari mukosa lidah yang menunjukkan penampilan yang halus,
mengkilap dengan latar belakang merah atau pink.2
Glositis merupakan suatu kondisi yang terjadi pada lidah yang ditandai
dengan terjadinya deskuamasi papilla filiformis sehingga menghasilkan daerah
kemerahan yang mengkilat. Glositis dapat menyerang semua umur tapi biasanya
lebih banyak menyerang laki-laki dari pada perempuan. Dalam beberapa kasus,

glositis dapat mengakibatkan pembengkakan lidah parah yang menghalangi jalan


nafas. 3
Penyebab glositis antara lain Infeksi bakteri atau virus (termasuk mulut
herpes simpleks), mekanik iritasi atau cedera dari luka bakar, tepi kasar gigi atau
gigi peralatan, atau trauma lainnya. Paparan iritasi seperti tembakau, alkohol,
makanan panas atau rempah-rempah. Reaksi alergi terhadap obat kumur, pasta
gigi, penyegar napas, pewarna dalam permen, plastik gigi palsu atau pengikut,
atau obat tekanan darah tertentu (ACE inhibitor). Gangguan seperti anemia
defisiensi besi, anemia pernisiosa dan kekurangan vitamin B, lichen planus,
eritema multiformis, stomatitis, pemphigus vulgaris, sifilis, dan lain-lain.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi Lidah
Pancaindra adalah organ-organ akhir yang dikhususkan untuk menerima
jenis rangsangan tertentu pada manusia. Serabut syaraf yang melayaninya
merupakan alat perantara yang membawa kesan rasa (sensory impression) dari
organ indra menuju otak, dimana perasaan itu ditafsirkan. Beberapa kesan rasa
timbul dari luar, seperti sentuhan, pengecapan, penglihatan, penciuman dan suara.3
Dalam segala hal, serabut saraf-saraf sensorik dilengkapi dengan ujung
akhir khusus guna mengumpulkan rangsangan perasaan yang khas itu, dimana
setiap organ berhubungan.2
Lidah adalah kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang dapat
membantu pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan. Lidah dikenal
sebagai indera pengecap yang banyak memiliki struktur tunas pengecap. Lidah
juga turut membantu dalam tindakan bicara.Struktur lainnya yang berhubungan
dengan lidah sering disebut lingual, dari bahasa Latin lingua atau glossal dari
bahasa Yunani.2
Lidah merupakan bagian tubuh penting untuk indra pengecap yang terdapat
kemoreseptor untuk merasakan respon rasa asin, asam, pahit dan rasa manis. Tiap
rasa pada zat yang masuk ke dalam rongga mulut akan direspon oleh lidah di
tempat yang berbeda-beda.3
Pada hakikatnya, lidah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan indra
khusus pengecap, lidah tersusun atas otot rangka yang terlekat pada tulang
hyoideus, tulang rahang bawah dan processus styloideus di tulang pelipis.Lidah
sebagian besar terdiri dari dua kelompok otot yaitu otot intrinsik dan ektrinsik.
Otot intrinsik lidah melakukan semua gerakan halus, sementara otot ektrinsik
mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarnya serta melaksanakan gerakangerakan kasar yang sangat penting pada saat mengunyah dan menelan. Lidah

mengaduk-aduk makanan, menekannya pada langit-langit dan gigi dan akhirnya


mendorongnya masuk faring.2
Lidah terletak pada dasar mulut, sementara pembuluh darah dan urat saraf
masuk dan keluar pada akarnya. Ujung serta pinggiran lidah bersentuhan dengan
gigi-gigi bawah, sementara dorsum merupakan permukaan melengkung pada
bagian atas lidah. Bila lidah digulung kebelakang maka tampaklah permukaan
bawahnya yang disebut frenulum linguae, sebuah struktur ligament halus yang
mengaitkan bagian posterior lidah pada bagian dasar mulut. Bagian anterior lidah
bebas tidak terkait. Bila dijulurkan, maka ujung lidah meruncing, dan bila terletak
tenang didasar mulut maka ujung lidah berbentuk bulat.2
Lidah ini, juga dibangun oleh suatu struktur yang disebut kuncup pengecap
(taste buds). Pada lidah lebih kurang 10.000 kuncup pengecap yang tersebar
dipermukaan atas dan di sepanjang pinggir lidah. Kuncup pengecap tertanam
dibagian epitel lidah dan bergabung dengan tonjolan-tonjolan lidah yang disebut
papilla. 2
Bagian-Bagian Lidah
Sebagian besar, lidah tersusun atas otot rangka yang terlekat pada tulang
hyoideus, tulang rahang bawah dan processus styloideus di tulang pelipis.
Terdapat dua jenis otot pada lidah yaitu otot ekstrinsik dan intrinsik.
Lidah memiliki permukaan yang kasar karena adanya tonjolan yang disebut
papila. Terdapat tiga jenis papila yaitu:
a. papila filiformis (fili=benang); berbentuk seperti benang halus;
b. papila sirkumvalata (sirkum=bulat); berbentuk bulat, tersusun seperti huruf
V di belakang lidah;
c. papila fungiformis (fungi=jamur); berbentuk seperti jamur.
Terdapat satu jenis papila yang tidak terdapat pada manusia, yakni papila
folliata pada hewan pengerat. Tunas pengecap adalah bagian pengecap yang ada
di pinggir papila, terdiri dari dua sel yaitu sel penyokong dan sel pengecap. Sel
pengecap berfungsi sebagai reseptor, sedangkan sel penyokong berfungsi untuk
menopang.
Pada mamalia dan vertebrata yang lain, pada lidahnya terdapat reseptor untuk
rasa. Reseptor ini peka terhadap stimulus dari zat-zat kimia, sehingga disebut

kemoreseptor. Reseptor tersebut adalah kuncup-kuncup pengecap. Kuncup


tersebut berbentuk seperti bawang kecil atau piala dan terletak dipermukaan
epitelium pada permukaan atas lidah. Kadang juga dijumpai pada langit-langit
rongga mulut, faring dan laring, walaupun sedikit sekali. Kuncup-kuncup
pengecap ini ada yang tersebar dan ada pula yang berkelompok dalam tonjolantonjolan epitel yang disebut papilla.3
Terdapat empat jenis papilla:2
a.

Filiformis

b.

Fungiformis

c.

Foliatel

d.

Circumfalate

Setiap kuncup pengecap terdiri dari dua macam sel, yaitu sel pengecap dan sel
penunjang, pada sel pengecap terdapat silia (rambut gustatori) yang memanjang
ke lubang pengecap. Zat-zat kimia dari makanan yang kita makan, mencapai
kuncup pengecap2
Melalui lubang-lubang pengecap (taste pores). Kuncup-kuncup pengecap
dapat merespon empat rasa dasar, yaitu manis, masam, asin dan pahit. Letak
masing-masing rasa berbeda-beda yaitu :2
a.

Rasa Asin = Lidah Bagian Depan

b.

Rasa Manis = Lidah Bagian Tepi

c.

Rasa Asam / Asem = Lidah Bagian Samping

d.

Rasa Pahit / Pait = Lidah Bagian Belakang

Gbr.2.1 Bagian-baigian lidah


5

Fungsi Lidah 2
a.

Menunjukkan kondisi tubuh


Selaput lidah manusia dapat digunakan sebagai indikator metabolism
tubuh, terutama kesehatan tubuh manusia.

1.

Warna Lidah
Kuning menandakan adanya infeksi bakteri, jika warna kuning menuju
kehijauan adanya infeksi bakteri akut. Merah menandakan aktivitas panas tubuh,
jika hanya terdapat pada ujung lidah berarti adanya panas pada jantung, jika
terdapat pada sisi kanan kiri menandakan adanya ganguan ginjal dan kandung
empedu. Ungu berarti adanya aktivitas statis darah, darah tidak lancar dan ada
gangguan. Biru menandakan adanya aktivitas dingin yang menyebabkan statis
darah.2

2.

Bentuk Lidah
Tipis ,jika bentuk lidah tipis dan berwarna pucat menandakan defisiensi
(kekurangan ) darah yang berhubungan dengan hati semakin pucat semakin parah
gangguan hati, sirkulasi darah tidak normal menandakan gangguan ginjal dan
limpa.2

b.

Membasahi makanan di dalam mulut


Kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah dapat membantu dalam
melumasi dan membasahi makanan

c. Mengecap atau merasakan makanan


d. Membolak-balik makanan
e. Menelan makanan
f. Mengontrol suara dan dalam mengucapkan kata-kata
2.2 Definisi Glositis
Glositis merupakan suatu kondisi peradangan yang terjadi pada lidah yang
ditandai dengan terjadinya deskuamasi papila filiformis sehingga menghasilkan
daerah kemerahan yang mengkilat. Glositis adalah suatu keradangan pada lidah.
Glositis bisa bisa terjadi akut atau kronis. Penyakit ini juga merupakan kondisi murni
dari lidah itu sendiri atau merupakan cerminan dari penyakit tubuh yang

penampakannya ada pada lidah. Biasanya kondisi ini bisa menyerang pada semua
tingkatan usia.3

Gbr.2.2 Glossitis
2.3 Insidensi
Prevalensi glossitis pada populasi umum ialah antara 1-2,5% dengan
kategori umur yang bervariasi. Rasio perbandingan penderita glositis jinak
bermigrasi pada wanita lebih tinggi disbanding dengan pria yaitu 5:3. Sedangkan
tingkat prevalensi glositis jinak untuk kategori anak-anak hanya sebesar 1%
dengan tingkat perbandingan yang sama antara pria dengan wanita.3
2.4 Etiologi Glositis
Penyebab glositis bermacam-macam, bisa lokal dan sistemik. Penyebab
glositis bisa diuraikan sebagai berikut:3
a. Sistemik:
1. Malnutrisi (kurang asupan vitamin B12, niacin, riboflavin, asam folic)
2. Anemia (kekurangan Fe)
3. Penyakit kulit (lichenplanus, erythema multiforme, syphilis, lesi
apthous)
4. HIV (candiasis, HSV, kehilangan papillae)
5. Obat lanzoprazole, amoxicillin, metronidazole.
b. Lokal:
1. Infeksi (streptococcal, candiasis, Tb, HSV, EBV)

2. Trauma (luka bakar)


3. Irritant primer (alcohol,

tembakau,

makanan

pedas,

permen

berlebihan)
4. Kepekaan (irritant kimiawi, pasta gigi, obat sistemik)
5. Penyakit yang berbahaya
Faktor resiko:
1.
2.
3.
4.
5.

Nutrisi yang kurang bagus


Merokok
Mengkomsumsi alcohol
Usia meningkat
Stress, gelisah, depresi

2.5. Gejala dan Tanda


Tanda dan gejala dari glossitis bervariasi oleh karena penyebab yang
bervariasi pula dari kelainan ini, tanda dasar kelainan ini adalah bahwa lidah
menjadi berubah warnanya dan terasa nyeri. Warna yang dihasilkan bervariasi dari
gelap merah sampai dengan merah terang. Lidah yang terkena mungkin akan
terasa nyeri dan menyebabkan sulitnya untuk mengunyah, menelan atau untuk
berbicara. Lidah yang mempunyai kelainan ini permukaannya akan terlihat halus.
Terdapat beberapa ulserasi atau borok yang terlihat pada lidah ini. Perawatan dari
glosotis ini tergantung dari kasusnya. Selain itu, warna lidah menjadi pucat jika
oleh anemia pernisiosa dan merah berapi-api jika kekurangan vitamin B.4
2.6. Diagnosis
Penegakan diagnosis dimulai dari anamnesis. Dari anamnesis, dapat
ditemukan keluhan nyeri lidah, ada massa atau pembengkakan/ difus (massa
fokal, fibroma, lipoma, massa difus, sengatan tawon, kista mukosa, erythema).3
Pada pemeriksaan fisik, dilihat nodul pada permukaan atas lidah papilla tidak
kelihatan. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan tambahan seperti biopsy,
kikisan KOH, CBC, tes serologic untuk shyphillis, tes untuk defisiensi vitamin
B12, tes glukosa postprandial, profil kimiawi, lesi kultur dan smear bila
diindikasi.3
2.7. Jenis Glositis
8

a. Atrofi Glositis
Glositis atrofi juga dikenal sebagai hunter glossitis adalah suatu kondisi
yang ditandai oleh lidah mengkilap halus yang sering menyakitkan yang
disebabkan oleh atrofi lengkap papila lingual (depapillation). Permukaan
lidah dorsal mungkin akan terasa panas, nyeri dan / atau eritema. Atrophic
glossitis adalah temuan non -spesifik dan memiliki banyak penyebab yang
besar, biasanya terkait dengan berbagai kekurangan nutrisi atau faktor lain
seperti xerostomia (mulut kering) atau anemia. Meskipun istilah Mller dan
Hunter glositis pada awalnya digunakan untuk merujuk secara khusus
glossitis yang terjadi pada defisiensi vitamin B12 sekunder terhadap anemia
pernisiosa.3
b.. Benign Migratory Glossitis ( Geografis Lidah)
Lidah Geografis juga dikenal sebagai Benign Migratory Glossitis adalah
kondisi peradangan dari selaput lendir dari lidah , biasanya pada permukaan
lidah. Kondisi ini mempengaruhi sekitar 2-3% dari populasi umum. Hal ini
ditandai dengan daerah halus, depapillation merah (hilangnya papila lingual )
yang bermigrasi dari waktu ke waktu. Nama berasal dari penampilan peta
seperti lidah, dengan patch menyerupai pulau-pulau. Penyebabnya tidak
diketahui, tetapi kondisi ini sepenuhnya jinak (penting, tidak mewakili kanker
mulut ) dan tidak ada pengobatan kuratif. Jarang, lidah geografis dapat
menyebabkan sensasi terbakar pada lidah, yang berbagai perawatan telah
dijelaskan dengan bukti formal yang sedikit keberhasilan.
Lidah geografis dapat dianggap sebagai jenis glossitis . Biasanya pada 2/3
dorsal dan permukaan lateral lidah, tetapi kondisi ini kurang identik dan dapat
terjadi pada situs lain di mukosa mulut, seperti permukaan ventral
(undersurface) dari lidah, mukosa bukal, mukosa labial, langit-langit lunak
atau dasar mulut biasanya selain keterlibatan lidah. Dalam kasus tersebut,
istilah-istilah

seperti

migrans

erythema

stomatitis, lidah

geografis

ektopik, stomatitis geografis, atau stomatitis migrasi digunakan sebagai


pengganti lidah geografis. Selain perbedaan lokasi presentasi di dalam rongga

mulut dan prevalensi di kalangan populasi umum, dalam semua aspek lain
dari signifikansi klinis, gejala, pengobatan dan gambaran histopatologis,
kedua bentuk ini adalah identik. Kondisi ini kadang-kadang disebut (oral)
migrans erythema, tapi ini tidak ada hubungannya dengan penggunaan lebih
umum

istilah migrans

eritema (Migrans

Eritema

Chronicum),

untuk

menggambarkan munculnya lesi kulit pada penyakit Lyme .3


Munculnya lidah geografis adalah variabel dari satu orang ke orang lain
dan perubahan dari waktu ke waktu. Pada kedaan ini menunjukkan lidah
pecah-pecah dikombinasikan dengan lidah geografis. Adalah umum bagi
kedua kondisi ini untuk hidup berdampingan. Di bidang kesehatan,
permukaan dorsal lidah ditutupi seberkas seperti proyeksi yang disebut papila
lingual (beberapa

di

antaranya

berhubungan

dengan selera),

yang

memberikan lidah tekstur permukaan yang tidak teratur dan warna putihmerah muda. Lidah geografis ditandai dengan daerah atrofi dan depapillation
(hilangnya papila), meninggalkan eritematosa (merah gelap) dan permukaan
halus dari daerah tidak terpengaruh.3
Daerah yang depapillated biasanya juga ditandai, 4 dan berbatasan dengan
sedikit terangkat, putih, kuning atau abu-abu, serpiginous (mengular) zona
perifer. Sebuah lesi lidah geografis mungkin mulai sebagai patch putih
sebelum terjadi depapillation. Kadang-kadang mungkin ada hanya satu lesi,
tapi ini jarang terjadi dan biasanya lesi dapat berada di beberapa lokasi yang
berbeda di lidah, dan kemudian seiring waktu daerah menyatu untuk
membentuk khas peta-seperti penampilan. Lesi biasanya berubah bentuk,
ukuran dan bermigrasi ke daerah lain, kadang-kadang dalam hitungan jam.
Kondisi ini dapat mempengaruhi hanya sebagian dari lidah, dengan
kecenderungan pada ujung dan sisi lidah, atau seluruh punggung permukaan
pada satu waktu. Kondisi ini berjalan melalui periode remisi dan kambuh.
Kehilangan zona perifer putih diduga menandakan periode penyembuhan
mukosa. Biasanya tidak ada gejala, tetapi dalam beberapa kasus orang
mungkin mengalami rasa sakit atau terbakar misalnya ketika makan panas,
asam, pedas atau lainnya jenis makanan (misalnya keju, tomat, buah).

10

Dimana ada gejala terbakar penyebab lain dari rasa terbakar di lidah dianggap
seperti kandidiasis oral.3
Penyebabnya

tidak

diketahui,

lidah

geographic

biasanya

tidak

menimbulkan gejala apapun, dan dalam kasus-kasus di mana ada gejala,


oral kebiasaan parafunctional mungkin menjadi sebuah faktor penunjang.
Orang dengan kebiasaan parafunctional terkait lidah mungkin menunjukkan
scalloping di sisi lidah ( crenated lidah ). Beberapa penyebab lain adalah
faktor hormonal mungkin terlibat, karena salah satu kasus yang dilaporkan
pada wanita muncul bervariasi dalam tingkat keparahan dalam korelasi
dengan penggunaan kontrasepsi oral. Orang-orang dengan lidah geografis
sering mengklaim bahwa kondisi mereka memburuk selama periode stres
psikologis. Lidah Geografis berbanding terbalik dikaitkan dengan merokok
dan penggunaan tembakau.
Beberapa telah melaporkan hubungan dengan berbagai antigen leukosit
manusia , seperti peningkatan insiden HLA-DR5 , HLA-DRW6 dan HLACw6 dan

penurunan

kejadian

di HLA-B51.

Kekurangan

vitamin

B2 (ariboflavinosis) dapat menyebabkan beberapa tanda-tanda di mulut ,


mungkin

termasuk

lidah

geografis, meskipun

sumber-sumber

lain

menyatakan bahwa lidah geografis tidak berhubungan dengan kekurangan


gizi. Lidah pecah-pecah sering terjadi bersamaan dengan lidah geografis dan
beberapa menganggap lidah pecah-pecah menjadi tahap akhir geografis lidah.
Di masa lalu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa lidah geografis
dikaitkan dengan diabetes, dermatitis seboroik danatopi, penelitian namun
lebih modern tidak menguatkan temuan ini. Beberapa penelitian telah
melaporkan hubungan antara lidah geografis dan psoriasis, meskipun 90 %
anak

yang

didiagnosis

dengan

lidah

geografis

tidak

kontrak

psoriasis. Namun, studi penelitian modern tidak mendukung adanya


hubungan antara psoriasis dan lidah geografis. Lesi yang secara histologis
dapat dibedakan dari lidah geografis juga dapat didiagnosis pada sindrom
reiter ( atritis, uveitis, konjungtivitis, urethritis).3

11

Atrophic glossitis biasanya dibedakan dari Benign Migratory Glossitis


pada dasar pola migrasi dari lesi dan adanya perbatasan keputihan, fitur yang
tidak ada dalam glositis atrofi, yang justru menunjukkan lesi yang
memperbesar dari pada bermigrasi. Jarang, tes darah mungkin diperlukan
untuk

membedakan

dari

glossitis

berhubungan

dengan anemia atau

kekurangan nutrisi lainnya.3 Karena sebagian besar kasus tidak menimbulkan


gejala, meyakinkan orang yang terkena bahwa kondisi ini sepenuhnya jinak
biasanya

merupakan

satu-satunya

pengobatan.

Ketika

gejala

yang

hadir, anestesi topikal dapat digunakan untuk memberikan bantuan sementara.


Obat

lain

yang

telah

digunakan

untuk

mengelola

gejala

termasuk antihistamin , kortikosteroid atau anxiolytics , tetapi obat ini belum


secara resmi dinilai untuk keberhasilan dalam lidah geografis.3

Gbr.2.3 Geograpic tongue


c. Median Rhomboid Glositis
Median rhomboid glossitis (MRG) juga dikenal sebagai atrofi
papila sentral, atau yang berhubung dengan bahasa atrofi papiler pusat
adalah suatu kondisi yang ditandai oleh daerah kemerahan dan kehilangan
lingual papila, terletak didorsum lidah dalam garis tengah segera di
depan papila sirkumvalata. Median rhomboid glossitis diduga disebabkan
oleh infeksi jamur kronis dan biasanya adalah jenis kandidiasis oral.
Median rhomboid glositis pada anak, perhatikan penampilan atipikal lesi,
yang lebih umum suatu eritematosa, area atrofi dari depapillation.5

12

Rasa sakit jarang terdapat pada kondisi tersebut. Terlepas dari


penampilan

lesi,

biasanya

tidak

ada

tanda-tanda

atau

gejala

lainnya. Penampilan khas lesi adalah daerah berbentuk oval atau belah
ketupat yang terletak di garis tengah permukaan dorsal lidah, hanya
anterior (depan) dari terminalis sulkus . Lesi biasanya simetris, baik batasbatasnya, eritematosa dan depapillated, yang memiliki permukaan halus
dan

mengkilap. Biasanya,

lesinya

hiperplastik atau

lobulated

dan

exophytic. Mungkin ada lesi kandida di tempat lain di mulut, yang dapat
menyebabkan diagnosis kandidiasis oral multifocal kronis. Kadangkadang lesi eritematosa aproksimasi terdapat pada langit-langit.5
Faktor predisposisi mencakup merokok, penggunakan gigi tiruan,
penggunaan kortikosteroid inhalasi

dan

Virus (HIV). Spesies kandida bahkan

Human

pada

orang

Immunodeficiency
sehat

terutama

berkolonisasi lidah bagian dorsal posterior. Median rhombiod glossitis


dianggap sebuah jenis atrofi (eritematosa atau) kandidiasis kronis. Kultur
mikrobiologi dari lesi biasanya menunjukkan kandida dicampur dengan
bakteri. 5
Diagnosis

biasanya

jaringan biopsi biasanya

dibuat

tidak

pada

diperlukan.

penampilan
Pengobatan

klinis

dan

mungkin

melibatkan berhenti merokok dan resep topikal atau sistemik obat


antijamur . Biasanya perubahan mukosa ke normal dapat terjadi dengan
terapi antijamur, tapi kadang-kadang lesi tahan untuk menyelesaikan
resolusi. 5

13

d. Geometric Glositis
Glossitis geometris, juga disebut herpetic glossitis geometris adalah istilah
yang digunakan oleh beberapa orang untuk merujuk pada lesi kronis yang
berhubungan dengan virus herpes simpleks (HSV) tipe I infeksi, dimana ada
celah dalam di garis tengah lidah dan mengeluarkan beberapa cabang. Lesi
biasanya sangat menyakitkan, dan mungkin ada erosi hadir di kedalaman
celah. Lesi pecah-pecah sama yang tidak terkait dengan HSV, yang mungkin
terjadi pada lidah pecah-pecah, jangan cenderung menyakitkan. Nama ini
berasal dari pola geometris dari celah yang membujur atau bercabang. Hal ini
digambarkan sebagai terjadi pada orang immunocompromized, misalnya yang
memiliki leukemia . Namun, hubungan antara herpes simpleks dan glossitis
geometris ini dibantah oleh beberapa karena kurangnya teknik standar emas
untuk diagnosis lesi herpes intraoral dan tingginya prevalensi pelepasan virus
asimtomatik

pada

individu

immunocompromized. Pengobatan

dengan

sistemik asiklovir .3
2.8. Terapi Glositis
Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi peradangan. Perawatan
biasanya tidak memerlukan rawat inap kecuali lidah bengkak sangat parah.
Kebersihan mulut sangat perlu, termasuk menyikat gigi menyeluruh setidaknya
dua kali sehari dan flossing sedikitnya setiap hari. Kortikosteroid seperti
prednisone dapat diberikan untuk mengurangi peradangan glositis. Untuk kasus
ringan, aplikasi topical (seperti berkumur prednisone yang tidak ditelan) mungkin
disarankan untuk menghindari efek samping dari kortikosteroid ditelan atau
disuntik. Antibiotik, obat anti jamur atau anti mikroba lainnya mungkin diberikan
jika penyebab glositis adalah infeksi. Anemia dan kekurangan gizi harus
diperlukan, sering dengan perubahan pola makan atau suplemen lainnya. Hindari
iritasi (seperti makan panas atau pedas, alkohol dan tembakau) untuk
meminimalkan ketidaknyamanan.3

2.9. Komplikasi
14

Komplikasi pada glositis antara lain bisa terjadi kegelisahan pada


penderita, penyumbatan jalan nafas, kesulitan berbicara, kesulitan mengunyah
atau menelan, bahkan pada kondisi yang berat bisa terjadi peradangan lidah yang
kronis.3
2.10 Pencegahan
Pencegahan pada glossitis bisa dilakukan dengan cara;

Menjaga kesehatan mulut dengan baik (sikat gigi yang baik dan benar)
Flossing dan pembersihan professional regular dan pemeriksaan yang

rutin
Minimalkan iritasi atau cedera mulut bila memungkinkan
Hindari penggunaan berlebihan makanan atau zat yang mengganggu
mulut atau lidah

2.11. Prognosis
Dalam beberapa kasus, glositis bisa menyebabkan lidah bengkak yang
dapat menghambat jalan nafas. Dan umumnya jika penyebab yang mendasari bisa
teratasi prognosis pada glossitis cukup baik.

BAB III
15

PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Lidah merupakan salah satu organ penting pada tubuh manusia yang
memiliki banyak fungsi. Lidah memiliki peran dalam proses pencernaan,
menghisap, menelan, persepsi rasa, bicara, respirasi dan perkembangan rahang.
Glositis merupakan suatu peradangan yang terjadi pada lidah yang
ditandai dengan terjadinya deskuamasi papilla filiformis sehingga menghasilkan
daerah kemerahan yang mengkilat. Glositis biasanya dapat disebabkan oleh
defisiensi zat besi (Fe), vitamin B kompleks, infeksi, trauma, serta bisa karena
hal-hal lain.
Glositis dapat dibedakan menjadi empat antara lain Atrofi Glositis, Median
Rhomboid Glositis, Benign Migratory Glossitis dan Geometric Glositis.
Perawatan pada glositis ini tergantung dari kasusnya. Antibiotik
dipergunakan bila kelainan ini melibatkan bakteri. Bila penyebabnya adalah
defisiensi gizi, maka diperlukan supplement yang memadai yaitu harus diberikan
zat besi yang merupakan ciri defisiensi utama dari glositis.
3.2. SARAN
Menjaga kebersihan rongga mulut yaitu dengan sikat gigi dan penggunaan
dental foss atau benang gigi. Dan jangan lupa untuk membersihkan lidah setelah
makan. Kemudian kunjungi dokter gigi secara teratur. Jangan gunakan bahanbahan obat atau makanan yang merangsang lidah untuk terjadi iritasi atau agen
sensitisasi. Selain itu juga hentikan merokok dan hentikan penggunaan tembakau
dalam jenis apapun serta hindari alkohol.

DAFTAR PUSTAKA

16

1. http://www.buzzle.com/articles/glossitis.html. Diakses pada tanggal 27


Maret 2016.
2. Rahmadhan Ardyan Gilang. 2009. Glossitis. Available at http//www. Gigi
sehat badan sehat.com
3. Tim penyusun. 2008. Blog periodentistdrgDondy. Glossitis: keradangan
pada lidah.http//www. Blog periodentist drgDondy. Glossitis.
4. http://ic.steadyhealth.com/glossitis_symptoms. Diakses pada tanggal 27
Maret 2016.
5. http://www.thedoctor.com/disease/median_rhomboid_glossitis.html.
Diakses pada tanggal 27 Maret 2016.

17