Anda di halaman 1dari 20

-REFLEKSI KASUS

MIOMA UTERI
Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kandungan dan Kebidanan
Di RSISA Semarang

Disusun oleh:
Citta Arunika Risyudhanti
01.210.6112
Penguji :
dr. H. M. Taufiqy S., Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2014

MIOMA UTERI
A.

Definisi
Mioma uteri adalah tumor jinak miometrium uterus dengan konsistensi
padat kenyal, batas jelas, mempunyai pseudo kapsul, tidak nyeri, bisa soliter
atau multipel. Tumor ini juga dikenal dengan istilah fibromioma uteri,
leiomioma uteri, atau uterinefibroid. Mioma uteri bukanlah suatu keganasan
dan tidak juga berhubungan dengan keganasan (Prawirohardjo,2011)

B.

Angka Insidensi

Di Indonesia, Mioma Uteri ditemukan 2,3011,7% pada semua penderita ginekologi


yang dirawat. Mioma Uteri merupakan tumor pada pelvis yang paling sering dijumpai.
Diperkirakan 1 dibanding 4 atau 5 wanita yang berumur lebih dari 35 tahun terdapat
mioma uteri. Meskipun umumnya mioma tidak menunjukkan gejala, diperkirakan 60%
dari laparotomi pelvis pada wanita dikerjakan dengan alasan Mioma Uteri. Lesi ini sering
ditemukan pada dekade 4 atau 5. Umumnya Mioma Uteri tidak akan terdeteksi sebelum
masa pubertas dan tumbuh selama masa reproduksi. Jarang sekali Mioma Uteri
ditemukan pada wanita berumur 20 tahun atau kurang, paling banyak pada umur 35 45
tahun yaitu kurang dari 25 %. Dan setelah menopause banyak mioma menjadi lisut,
hanya 10% saja yang masih dapat tumbuh lebih lanjut. Mioma uteri lebih sering dijumpai
pada wanita nullipara atau yang kurang subur (Joedosaputra, 2005)
C. Etiologi
Penyebab dari

mioma pada rahim masih belum diketahui. Beberapa

penelitian mengatakan bahwa masing-masing mioma


neoplasma soliter (satu sel ganas)

muncul dari 1 sel

yang berada diantara otot polos

miometrium (otot polos di dalam rahim). Selain itu didapatkan juga adanya
faktor

keturunan

leiomioma

sebagai

berkaitan

penyebab

dengan

mioma

adanya

uteri.

hormon

Pertumbuhan

estrogen.

dari

Tumor

menunjukkan pertumbuhan maksimal selama masa reproduksi,

ini

ketika

pengeluaran estrogen maksimal. Mioma uteri memiliki kecenderungan untuk


membesar ketika hamil dan mengecil ketika menopause berkaitan dengan
produksi dari hormon estrogen. Pertumbuhan mioma

tidak membesar

dengan pemakaian pil kontrasepsi kombinasi karena preparat progestin pada


pil kombinasi memiliki efek antiestrogen pada pertumbuhannya. Perubahan
yang harus diawasi pada leiomioma adalah perubahan ke arah keganasan
yang berkisar sebesar 0,04% (Parker, 2007)
Terdapat 2 teori yang berpendapat:
1.

Teori Stimulasi

Berpendapatbahwa estrogen sebagaifaktoretiologi, mengingatbahwa :


a. Mioma uteri sering kali tumbuh lebih cepat pada masa hamil

b. Neoplasma ini tidak pernah ditemukan sebelum monarche


. Mioma uteri biasanya mengalami atrofi sesudah menopause
d. Hiperplasia endometriumsering ditemukan bersama dengan mioma uteri
2.

Teori Cellnest atau genitoblas


Terjadinya mioma uteri itu tergantung pada sel-sel otot imatur yang

terdapat
pada cell nest yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh
estrogen. (Prawirohardjo, 2011).

D. Patogenesis
Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell nest atau teori genitoblast. Percobaan
Lipschutz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan ternyata menimbulkan
tumor fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen. Efek
fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat progesteron atau testosteron.
Puukka dan kawan-kawan menyatakan bahwa reseptor estrogen pada mioma lebih
banyak didapati dari pada miometrium normal. Menurut Meyer asal mioma adalah sel
imatur,bukan dari selaput otot yang matur (Prawirohardjo, 2011)
E. Patologi Anatomi
Sarang mioma di uterus berasal dari korpus uterus dan serviks uterus. Menurut
letaknya, mioma dapat kita dapati sebagai:
1.

Mioma Submukosum
Mioma berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus.
Mioma Submukosum dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian
dilahirkan melalui saluran serviks (Mioma Geburt). Mioma geburt sering
mengalami nekrosis atau ulserasi.
Jenis mioma ini sering menyebabkan perdarahan yang banyak, sehingga
memerlukan histerektomi, walaupun ukurannya kecil. Adanya mioma submukosa
dapat dirasakan sebagai suatu curet bump yaitu benjolan saat kuret.
2. Mioma Intramural

Mioma terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium. Jika ukuran


besar atau multiple, dapat menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjolbenjol.
3. Mioma Subserosum
Mioma yang tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada
permukaan uterus, diliputi oleh serosa.
Mioma subserosum dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum
menjadi mioma intra ligamenter. Mioma subserosum dapat pula tumbuh
menempel pada jaringan lain misalnya ke ligamentum atau omentum dan
kemudian

membebaskan

diri

dari

uterus,

sehingga

disebut

wandering/parasitic fibroid. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma


saja dalam satu uterus. Mioma pada servik dapat menonjol ke dalam saluran
servik sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit. Apabila
mioma dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari berkas otot polos
dan jaringan ikat yang tersusun seperti konde/pusaran air (whorl like
pattern), dengan pseudocapsule yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang
terdesak karena pertumbuhan sarang mioma ini. Pernah ditemukan 200
sarang mioma dalam satu uterus, namun biasanya hanya 5-20 sarang saja.
Dengan pertumbuhan mioma dapat mencapai berat lebih dari 5 kg. jarang
sekali mioma ditemukan pada wanita berumur 20 tahun, paling banyak pada
umur 35-45 tahun (kurang lebih 25%). Pertumbuhan mioma diperkirakan
memerlukan waktu 3 tahun agar dapat mencapai ukuran sebesar tinju, akan
tetapi beberapa kasus ternyata tumbuh cepat. Setelah menopause banyak
mioma menjadi lisut, hanya 10% saja yang masih dapat tumbuh lebih lanjut.
Mioma uteri ini lebih sering didapati pada wanita nullipara atau yang kurang
subur. Faktor keturunan juga memegang peran. Perubahan sekunder pada
mioma uteri yang terjadi sebagian besar bersifat degenerasi. Hal ini oleh
karena berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma (Prawirohardjo,
2011)

F. Perubahan Sekunder
1. Atrofi
Sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi kecil.
2. Degenerasi hialin
Perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita berusia lanjut. Tumor kehilangan
struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya
sebagian kecil daripadanya, seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari
kelompok lainnya.
3. Degenerasi kistik
Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian dari mioma menjadi cair,
sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi seperti agar-agar, dapat
juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai
limfangioma.
Dengan konsistensi yang lunak ini, tumor sukar dibedakan dari kista ovarium dan
suatu kehamilan.
4. Degenerasi membatu (calcireous degeneration)
Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam
sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma
menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto Rontgen. Dalam bentuk ekstrem
dapat menjadi keras seperti batu, dikenal dengan sebutan wombstone
5. Degenerasi merah (carneous degeneration)
Perubahan ini biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis: diperkirakan
karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan
dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan oleh
pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi
pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada

uterus membesar dan nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran
tangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai.
6. Degenerasi lemak
jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin (Prawirohardjo, 2011)
G. Gejala dan Tanda
separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan ginekologik
karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung pada
tempat sarang mioma ini berada (servik, intramural, submukus, subserus), besarnya
tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi.
Gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut;
1.Perdarahan abnormal
Pada banyak kasus, perdarahan pervaginam yang abnormal sering menjadi keluhan
utama penderita mioma uteri. Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah
hipermenore, menoraghi dan dapat juga terjadi metroragia. Hal ini sering menyebabkan
penderita juga mengalami anemia. Mioma intramural juga dapat menyebabkan
perdarahan oleh karena ada gangguan kontraksi uterus. Jenis mioma subserosa tidak
menyebabkan perdarahan yang abnormal. Jika ada perdarahan yang abnormal, harus
diingat akan kemungkinan lain yang timbul bersamaan dengan mioma, yaitu
adenokarsinoma, polip dan faktor-faktor fungsionil beberapa faktor yang menyebabkan
perdarahan ini, antara lain:

Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium sampai


adeno karsinoma endometrium.

Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa.

Atrofi endometrium di atas mioma submukosum.

Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang


mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit
pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.

2.Nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi
darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan, atau

mungkin juga disebabkan oleh proses radang dengan perlengketan ke omentum usus.
Kadang-kadang pula rasa sakit disebabkan torsi pada mioma subserosa. Dalam hal ini
sifatnya akut disertai enek dan muntah-muntah. Pada mioma yang sangat besar, rasa
nyeri dapat disebabkan karena tekanan terhadap syaraf dan menjalar ke pinggang dan
tungkai bawah. Pada ngeluaran mioma submukosum yang akan dilahirkan , pula
pertumbuhannya yang menyempit kanalis servikalis dapat menyebabkan juga disminore
3.Efek penekanan
Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan oleh mioma
uteri pada vesiko urinaria menimbulkan keluhan-keluhan pada traktus urinarius,
seperti perubahan frekuensi miksi sampai dengan keluhan retensio urin hingga dapat
menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis. Konstipasi dan tenesmia juga
merupakan keluhan pada penderita mioma uteri yang menekan rektum. Dengan
ukuran yang besar berakibat penekanan pada vena-vena di regio pelvis yang bisa
menimbulkan edema tungkai.
4.

Massa dibawah perut


Seringkali penderita pergi ke dokter oleh karena adanya gejala ini
5.
Gejala-gejala sekunder
- Anemia
- Lemah
- Pusing-pusing
- Sesak nafas
- Fibroid heart, merupakan sejenis degenerasi miokard yang dulu disangka
berhubungan dengan adanya mioma uteri. Sekarang anggapan ini sudah disangkal.
- Eritrositosis pada mioma yang besar (Prawirohardjo, 2011)
H. Diagnosis
1. Anamnesis
Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya,
faktor resiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan status lokalis dengan palpasi abdomen. Mioma uteri dapat
diduga dengan pemeriksaan luar sebagai tumor yang keras, bentuk yang
tidak teratur, gerakan bebas, tidak sakit.
3. Pemeriksaan penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium
Akibat yang terjadi pada mioma uteri adalah anemia akibat
perdarahan

uterus

yang

berlebihan

dan

kekurangan

zat

besi.

Pemeriksaaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah Darah Lengkap


(DL) terutama untuk mencari kadar Hb. Pemeriksaaan lab lain disesuaikan
dengan keluhan pasien.
b. Imaging
1) Pemeriksaaan dengan USG akan didapat massa padat dan homogen
pada uterus. Mioma uteri berukuran besar terlihat sebagai massa pada
abdomen bawah dan pelvis dan kadang terlihat tumor dengan
kalsifikasi.
2) Histerosalfingografi digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang
tumbuh ke arah kavum uteri pada pasien infertil.
3) MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi, ukuran, jumlah mioma
uteri, namun biaya pemeriksaan lebih mahal. (Prawirohardjo,2011)

I. Diagnosis banding
Diagnosis banding yang perlu kita pikirkan tumor abdomen di bagian bawah atau
panggul ialah mioma subserosum dan kehamilan; mioma submukosumyang dilahirkan
harus dibedakan dengan inversio uteri; mioma intramural harus dibedakan dengan suatu
adenomiosis, khoriokarsinoma, karsinoma korporis uteri atau suatu sarkoma uteri. USG
abdominal dan transvaginal dapat membantu dan menegakkan dugaan klinis.
J. Komplikasi
1. Degenerasi ganas
Mioma uteri yang menjadi leimiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari seluruh kasus
mioma uteri serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya
baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Komplikasi ini
dicurigai jika ada keluhan nyeri atau ukuran tumor yang semakin bertambah besar
terutama jika dijumpai pada penderita yang sudah menopause.
2. Torsi
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian timbul sindroma abdomen akut, mual,

muntah dan shock. Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang
diperkirakan karena gangguan sirkulasi darah padanya. Misalnya terjadi pada mioma
yang dilahirkan hingga perdarahan berupa metroragia atau menoragia disertai leukore dan
gangguan-gangguan yang disebabkan oleh infeksi dari uterus sendiri. (Parker, 2007)
K. Infertilitas dan Abortus
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menuttup atau menekan pars intersisial tuba,
sedangkan mioma submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi
rongga uterus. Rubin (1998) menyatakan bahwa apabila penyebab lain infertilitas sudah
disingkirkan, dan mioma merupakan penyebab infertilitas tersebut, maka merupakan suatu
indikasi untuk dilakukan miomektomi.
L. Mioma Uteri dan Kehamilan
Mioma uteri dapat mempengaruhi fertilitas dan kehamilan, misalnya:
- Menyebabkan infertilitas
- Risiko terjadinya abortus bertambahkarena distorsi rongga uterus, khususnya pada
-

mioma submukosum
Menghalangi kemajuan persalinan karena letaknya pada serviks uteri
Menyebabkan inersia maupun atonia uteri sehingga menyebabkan perdarahan pasca

persalinan karena adanya gangguan mekanik dalam fungsi miometrium


Menyebabkan plasenta sukar lepas dari dasarnya.
Mengganggu proses involusi dalam nifas
Menyebabkan perdarahan postpartum

Memperhatikan hal-hal tersebut diatas adanya kehamilan pada mioma uteri memerlukan
pengamatan yang cermat dan ekspetatif
Kehamilan sendiri dapat menimbulkan perubahan pada mioma uteri, antara lain:
1. Tumor membesar terutama pada bulan-bulan pertama karena pengaruh estrogen yang
kadarnya meningkat.
2. Dapat terjadi degenerasi merah pada hamil maupun masa nifas disertai dengan
demam dan leukositosis, yang kadang-kadang memerlukan pembedahan segera guna
mengangkat sarang mioma. Anehnya pengangkatan sarang mioma demikian itu
jarang menyebabkan banyak perdarahan.
3. Meskipun jarang, mioma uteri bertangkai dapat juga mengalami torsi dengan gejala
dan tanda sindrom abdomen akut. (Parker, 2007)
Terapi mioma dengan kehamilan

Sedapat-dapatnya diambil sikap konservatif karena miomektomi pada kehamilan


sangat berbahaya . hal ini disebabkan kemungkinan perdarahan hebat dan juga dapat
menimbulkan abortus. Operasi terpaksa kita lakukan jika ada penyulit-penyulit yang
menimbulkan gejala akut atau karena mioma sangat besar. Jika mioma menghalangi jalan
lahir dilakukan seksio caesaria disusul dengan histerektomi. Tetapi kalau dilakukan
enukleasi lebih baik ditunda sampai sesudah nifas. (Parker, 2007)
M.

Pengobatan
Tidak semua mioma uteri memerlukan pengobatan bedah.
Penanganan mioma uteri tergantung pada umur, status fertilitas,
paritas, lokasi dan ukuran tumor, sehingga biasanya mioma yang
ditangani yaitu yang membesar secara cepat dan bergejala serta
mioma

yang

diduga

menyebabkan

fertilitas.

Secara

umum,

penanganan mioma uteri terbagi atas penanganan konservatif dan


operatif.
penanganan konservatif bila mioma berukuran kecil pada pra dan post
menopause tanpa gejala. Cara penanganan konservatif sebagai berikut
:
- Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodic setiap 3-6
bulan.
- Pemberian tablet Fe untuk mencegah anemia dan pemberian NSAID
untuk pengobatan nyeri.
Pengobatan operatif meliputi
Miomektomi

adalah

miomektomi

pengambilan

sarang

dan
mioma

histerektomi.
saja

tanpa

pengangkatan uterus. Tindakan ini dapat dikerjakan misalnya pada


mioma submukoum pada myom geburt dengan cara ekstirpasi lewat
vagina.

Pengambilan

sarang

mioma

subserosum

dapat

mudah

dilaksanakan apabila tumor bertangkai. Apabila miomektomi ini


dikerjakan karena keinginan memperoleh anak, maka kemungkinan
akan

terjadi

kehamilan

adalah

30-50%.

Histerektomi

adalah

pengangkatan uterus, yang umumnya tindakan terpilih. Histerektomi


dapat dilaksanakan perabdominan atau pervaginam. Yang akhir ini
jarang dilakukan karena uterus harus lebih kecil dari telor angsa dan
tidak ada perlekatan dengan sekitarnya. Adanya prolapsus uteri akan
mempermudah prosedur pembedahan. Histerektomi total umumnya

dilakukan dengan alasan mencegah akan timbulnya karsinoma servisis


uteri. Histerektomi supravaginal hanya dilakukan apabila terdapat
kesukaran teknis dalam mengangkat uterus. (Hadibroto, 2005)
Radioterapi
Tindakan ini bertujuan agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga
penderita mengalami menopause. Radioterapi ini umumnya hanya
dikerjakan kalau terdapat kontraindikasi untuk tindakan operatif.
Akhir-akhir ini kontraindikasi tersebut makin berkurang. Radioterapi
hendaknya hanya dikerjakan apabila tidak ada keganasan pada
uterus (Hadibroto,2005)

N.

Prognosis
1. Kebanyakan mioma asimtomatis dan tidak memerlukan pengobatan
2. Pada keadaan yang simtomatis, histerektomi merupakan pengobatan tuntas.
Miomektomi memberikan hasil yang baik pada mioma submukosa yang
simtomatis
3. Pengobatan menggunakan GnRH mengurangi kira-kira 40%-60% ukuran tumor
selepas 3 bulan pengobatan, namun setengah dari mioma tumbuh kembali
apabila pengobatan dihentika
4. Mioma seringnya berhenti tumbuh atau muncul setelah menopause

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2014

A.

B.

IDENTITAS
1.

Nama

: Ny. K

2.

Umur

: 43 tahun

3.

Jenis kelamin

: Perempuan

4.

No CM

: 1227666

5.

Agama

: Islam

6.

Pendidikan

: Tamat SMA

7.

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

8.

Status

: Menikah

9.

Nama Suami

: Tn. S

10. Tanggal Masuk

: 01/07/2014

11. Masuk Jam

: 15.00 WIB

12. Ruang

: Baitunnissa 2/ Rawat Inap

13. Kelas

: III

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 4 Juli 2014 pada pukul 12.00 WIB

1. Keluhan Utama :
Gangguan haid sejak 3 bulan yang lalu, disertai adanya benjolan di perut bawah, rasa
tidak nyaman ketika duduk
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien P2A0 usia 43 tahun datang dengan keluhan gangguan haid sejak 3 bulan yang
lalu. Dalam sebulan haid sebanyak 1 kali.. Setiap hari ganti pembalut 10 kali. Darah haid
berwarna merah segar disertai prongkolan. Sakit perut saat haid disangkal. Riwayat
keputihan tidak ada.
1 bulan ini pasien juga mengeluh terasa benjolan dan mengganjal di perut
bagian bawah disertai nyeri,kemeng dan rasa tidak enak saat duduk.
Gangguan BAK tidak ada. Sulit buang air besar dan nyeri saat BAB tidak ada.

3. Riwayat Haid Sebelum Terjadi Gangguan Haid


-

Menarche

: 13 tahun

Siklus haid

: 30 hari

Lama haid

: 7 hari

Dismenore

:-

4. Riwayat KB
Memakai kondom
5. Riwayat Obstetri
I : PI, hamil aterm, perempuan, BBL 2700 gram, spontan oleh bidan, 17 tahun,
sehat.
II : PII, hamil aterm, perempuan, BBL 2700 gram, spontan oleh bidan, 16 tahun,
sehat.
6. Riwayat Perkawinan
Pasien menikah yang pertama kali dengan suami sekarang
Usia pernikahan 20 tahun
7. Riwayat Sosial Ekonomi

Kesan ekonomi : kurang, untuk biaya kesehatan ditanggung jamkesmas


8. Riwayat Penyakit Dahulu
-

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal

Riwayat Penyakit Paru

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

9. Riwayat Penyakit Keluarga

C.

Riwayat Hipertensi

: Ada

Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal

Riwayat Penyakit Paru

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
1.

Status Present
Keadaan Umum : lemah
Kesadaran

: compos mentis

Vital Sign
Tensi : 130/90 mmHg
Nadi

: 80 x/menit

RR

: 22 x/menit

Suhu : 36,7 0C

2.

TB

: 155 cm

BB

: 65 kg

Status Internus
- Kepala

: Mesocephale

- Mata

: Conjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)

- Hidung

: Discharge (-), septum deviasi (-), nafas cuping hidung (-)

- Telinga

: Discharge (-),

- Mulut

: Bibir sianosis (-), bibir kering (-), lidah kotor (-)

- Tenggorokan : Faring hiperemesis (-), pembesaran tonsil (-)


- Leher

: Simetris, pembesaran kelenjar limfe (-)

- Kulit

: Turgor baik, ptekiae (-)

- Mamae

: Simetris, benjolan abnormal (-)

- Jantung

Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Redup

Batas atas jantung

: ICS II linea sternalis sinistra

Batas pinggang jantung

: ICS III linea parasternalis sinistra

Batas kanan bawah jantung : ICS V linea sternalis dextra


Batas kiri bawah jantung

: ICS V 2 cm medial linea midclavicularis


sinistra

Auskultasi
- Paru

: suara jantung I dan II murni, reguler, suara tambahan (-)

Inspeksi

: Hemithorax dextra dan sinistra simetris

Palpasi

: Stemfremitus dextra dan sinistra sama, nyeri tekan (-)

Perkusi

: sonor seluruh lapang paru

Auskultasi

: vesikuler

- Abdomen

Inspeksi

: cembung, striae gravidarum (-)

Palpasi

: nyeri tekan (+), teraba benjolan di daerah suprapubik

dengan konsistensi padat, permukaan rata tak berbenjol-benjol

Perkusi

: pekak di suprapubik

Auskultasi

: bising usus (+) normal

- Extremitas

3.

:
Superior

Inferior

Oedem

-/-

-/-

Varises

-/-

-/-

Reflek fisiologis

+/+

+/+

Reflek patologis

-/-

-/-

Status Ginekologi
- Abdomen

Inspeksi : cembung (+) striae gravidarum (-)

Palpasi

: teraba benjolan di suprapubik dengan konsistensi padat,

permukaan rata tak berbenjol-benjol, nyeri tekan (+).


- Genitalia:
A.PemeriksaanLuar
- Massatumor

: teraba massa konsistensi padat, permukaan rata tak

berbenjol-benjol pada daerah suprapubik


- Nyeri
- Fluksus

: ada
: darah (+)

B. Pemeriksaan Dalam Vagina


-

Vulva

tidak ada kelainan

Vagina

tidak ada kelainan

Portio

kenyal, tebal

OUE/OUI

terbuka, diameter 1 cm

Uterus

membesar seukuran tinju orang dewasa

Adneksa

tidak ada kelainan

Cavum Douglasi:

tidak ada kelainan

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Pemeriksaan Laboratorium Darah : (tgl 01 Juli 2014 Jam 23:55 WIB)


Hb : 10,1 g/dL
Hematokrit: 30,6 %
Eritrosit : 3.690.000 /uL
Lekosit : 15.200 /uL
Trombosit : 374.000 /uL
LED : jam 24 mm
1 jam 60 mm/jam
Lain-lain : Golongan darah O, Rhesus (+)
BT : 2`15``
CT : 4`
Glukosa sewaktu : 92 mg/dL
Calsium : 9,4 mg/dL
Magnesium : 2 mg/dL

2.

Pemeriksaan serologis : HbsAg (-)

3.

Pemeriksaan USG :

USG (01 Juli 2014) :


-Uterus jelas membesar, tampak nodul hiperekoik terukur 9,6 x 6,5 cm
-Endometrial line menebal
-Tak tampak fluid collection
Kesan : Cenderung Mioma Uteri Intramural

E. RESUME
Pasien P2A0 usia 43 tahun dengan keluhan gangguan haid sejak 3 bulan yang lalu. Dalam
sebulan haid sebanyak 1 kali. Setiap hari ganti pembalut 10 kali. Darah haid berwarna merah
segar disertai prongkolan.1 bulan ini pasien juga mengeluh terasa benjolan dan
ganjal di perut bagian bawah disertai nyeri dan kemeng serta nyeri saat duduk
dan mengganggu aktivitas.

1. Status Present

Keadaan Umum: lemah

Vital Sign : dalam batas normal

2. Status Internus

: Mata conjungtiva anemis (+/+)

3. Status Ginekologi :
- Abdomen

Inspeksi

: perut cembung

Palpasi : nyeri tekan (+), teraba benjolan di suprapubik dengan konsistensi padat,
permukaan rata tak berbenjol-benjol

- Genitalia
A.PemeriksaanLuar
Massatumor :teraba benjolan dengan konsistensi padat, permukaan rata tak berbenjol
benjol di daerah suprapubik
Nyeri tekan

: ada

Fluksus :

darah (+)

B. Pemeriksaan Dalam Vagina


-

Vulva

: tidak ada kelainan

Vagina

: tidak ada kelainan

Portio

: kenyal, tebal

OUE/OUI

: terbuka, diameter 1 cm

Uterus

: membesar seukuran tinju orang dewasa

Adneksa

Cavum Douglasi

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan

Pemeriksaan penunjang Hb : 10,1 g/dL


USG : Tampak uterus membesar dengan nodul hiperekoik
terukur 9,6 x 6,5.
Kesan : mioma uteri

F.

DIAGNOSA BANDING

1. Kehamilan
2. Tumor Solid Ovarium
3. Adenomiosis uteri
4. Endometriosis
5. Miosarkoma
6. Perdarahan uterus disfungsional

G. DIAGNOSA KERJA
Mioma uteri dengan menorraghia dan anemia

H. PROGNOSA
Dubia ad bonam

I.

TERAPI
Terapi Supportif

Rawat Inap dan tirah baring

Infus RL

Tranfusi

Terapi Konservatif

J.

Medicamentosa : Suplemen FE

Operatif

: Histerektomi subtotalis

SIKAP
1. Monitoring keadaan umum dan klinis penderita sebelum dan 1x24 jam post operasi
2. Usaha darah jika HB kurang dari normal
3. Observasi kadar HB post transfuse
4. Pemeriksaan PA

K. EDUKASI
1. Memberitahu tentang penyakit yang diderita
2. Memberitahu tujuan terapi yang diberikan.
3. memberitahu untuk kontrol setelah keluar dari rumah sakit