Anda di halaman 1dari 3

Ijtihad (Rayu) Sebagai Sumber Ajaran Islam

Muhammad Nugraha Putra Yuri


1506671474
Asal Mula Ijtihad
Syariah islam yang disampaikan dalam Al-Quran dan Sunnah secara
komprehensif, memerlukan penelaahan dan pengkajian ilmiah yang sungguhsungguh serta berkesinambungan. Di dalam keduanya terdapat lafadz yang amkhash, mutlaq-muqayyad, nasikh munsukh, dan muhkam-mutasyabih, yang
memerlukan penjelasan. Sementara itu , nash AL-Quran dan Sunnah telah
berhenti, padahal waktu terus berjalam dengan sejumlah peristiwa dan
persoalan yang datang silih berganti (Al-wahyu qad intaha wa Al-Waqaila
yantahi). Oleh karena itu, diperlukan usaha penyelesaian secara sungguhsungguh atas ijtihad menjadi sangat penting.
Ada dua sumber utama terkait mendasari serta melegalkan tentang berIjtihad, yaitu:
a. Al-Qur`an

:]

[
Artinya: Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu
(Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia
dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau
menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang
yang berkhianat. (Q.S. An-Nisa: 105).[11]
b.

As-Sunnah - Hadits yang diriwayatkan oleh Umar:

Artinya:
Apabila
seorang
hakim
menetapkan
hukum
dengan
berijtihad,kemudian dia benar maka ia mendapatkan dua pahala. Akan tetapi,
jika ia menetapkan hukum dalam ijtihad itu salah maka ia mendapatkan satu
pahala.

Pengertian Ijtihad
Secara etimologi berasal dari kata jahada yang berarti mencurahkan
tenaga, memeras pikiran, berusaha bersungguh-sungguh, bekerja semaksimal
mungkin guna mendapatkan sesuatu. Sedangkan secara terminologi ijtihad
merupakan usaha yang sungguh-sungguh oleh seseorang ulama yang memiliki
syarat-syarat tertentu, untuk merumuskan kepastian hukum tentang sesuatu
( beberapa ) perkara tertentu yang belum ditetapkan hukumnya secara explisit di
dalam al-Quran dan as-Sunnah. Menurut Mahmud Syaltut, Ijtihad atau al-Rayu
mencakup 2 pengertian, yaitu :

1. Penggunaan pikiran untuk menentukan suatu hukum yang tidak ditentukan


secara eksplisit oleh al-Quran dan as-Sunnah
2. Penggunaan pikiran dalam mengartikan, menafsirkan dan mengambil
kesimpulan dari suatu ayat atau Hadits.

Kedudukan Ijtihad
Berbeda dengan al-Quran dan as-Sunnah, Ijtihad sebagai sumber ajaran
Islam yang ketiga terikat dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Yang ditetapkan oleh Ijtihad tidak melahirkan keputusan yang absolut,
sebab Ijtihad merupakan aktivitas akal pikiran manusia yang relatif.
Sebagai produk pikiran manusia yang relatif, maka keputusan Ijtihad pun
relatif
2. Keputusan yang diterapkan oleh Ijtihad mungkin berlaku bagi seseorang,
tetapi tidak berlaku bagi orang lain. Berlaku untuk satu masa / tempat,
tetapi tidak berlaku pada masa / tempat yang lain
3. Keputusan Ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-Quran dan asSunnah
4. Berijtihad mempertimbangkan faktor motivasi, kemaslahatan umum,
kemanfaatan bersama dan nilai-nilai yang menjadi ciri dan jiwa ajaran
Islam
5. Ijtihad tidak berlaku dalam urusan Ibadah Makhdah.
Dalam ijtihad, akan muncul sumber hukum lain yang merupakan
penerapan
dari
ijtihad,
yaitu: ijma (konsensus
ulama), qiyas (analogi
berdasarkan sebab atau illat mursalah),urf (adat kebiasaan setempat), maslahah
mursalah (kepentingan umum), dan istihsan.

Lapangan Ijtihad
Secara ringkas, lapangan Ijtihad dapat dibagi menjadi 3 perkara, yaitu :
1. Perkara yang sama sekali tidak ada nashnya di dalam al-Quran dan asSunnah
2. Perkara yang ada nashnya, tetapi tidak Qathi ( mutlak ) wurud ( sampai /
muncul ) dan dhalala ( kesesatan ) nya
3. Perkara hukum yang baru tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

Peranan Ijtihad dalam Perkembangan Masyarakat Islam


Ijtihad memiliki peranan penting dalam pembianaan hokum islam,
diantaranya :
1. Agar hukum islam dapat ditetapkan secara fleksibel sehingga tidak kaku
2. Dapat menyesesuaikan dengan perkembangan zaman

3. Dapat memudahkan penerapan ajaran islam sesuai dengan kondisi yang


ada
4. Dapat

mengembangkan

intelektualitas

umat

islam

sejalan

dengan

perkembangan zaman.

Referensi :
http://dokumen.tips/documents/ijtihad-sebagai-sumber-ajaran-islamdoc.html
Mubarak, Zakky. 2010. Menjadi Cendekiawan Muslim. Jakarta: Yayasan Ukhuwah
Insaniyah
Prof. Dr. Abdul Wahhab Khalaf diterjemah oleh FaiznEl Muttaqin S.Ag.Ilmu usul fiqih
,kaidah hukum islam (pustaka amani ,cet I Jakarta ,april 2003 )