Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kekayaan hayati di dunia tidak tersebar seragam, daerah tropis umumnya
merupakan tempat hidup berbagai jenis spesies dalam jumlah yang besar
dibandingkan daerah lain. Secara efisien dan efektif diperlukan target dalam usaha
konservasi dengan mengetahui di mana pusat keanekaragaman hayati yang
dijadikan tingkatan prioritas secara nasional maupun internasional. Dalam skala
global, secara sederhana dapat diidentifikasi daerah target yang dimaksud dengan
membuat penilaian (scoring) antar negara yang memiliki kekayaan spesies yang
tinggi.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan
keanekaragaman hayati yang tinggi dan merupakan aset bangsa yang tak ternilai
dan

perlu

dilestarikan

melalui

perlindungan

dan

pemanfaatan

secara

berkelanjutan, seperti diamanatkan dalam UU Nomor 5 Tahun 1994 Tentang


Keanekaragaman Hayati, yang meliputi konservasi, pemanfaatan berkelanjutan
atas komponen keanekaragaman hayati, serta akses dan pembagian keuntungan
yang adil.
Sebagai kader bangsa, mahasiswa perlu dibekali dengan pengetahuan
tentang keanekaragaman hayati dan nilai pentingnya bagi kehidupan manusia.
Dengan demikian mahasiswa akan memiliki kepekaan untuk menjaga,
melestarikan, dan memanfaatkan keanekaragaman hayati Indonesia secara
berkelanjutan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud keanekaragaman hayati ?
2. Hubungan air bagi kelangsungan keanekaragaman hayati

C. TUJUAN

1. Mengetahui pengertian keanekaragaman hayati.


2. Mengetahui hubungan air bagi kelangsungan keanekaragaman hayati

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI
Keanekaragaman hayati atau biodiversity, adalah semua kehidupan di atas
bumi ini baik tumbuhan, hewan, jamur dan mikroorganisme, serta berbagai materi
genetik yang dikandungnya dan keanekaragaman sistem ekologi di mana mereka
hidup. Termasuk didalamnya kelimpahan dan keanekaragaman genetik relatif dari
organisme-organisme yang berasal dari semua habitat baik yang ada di darat, laut
maupun sistem-sistem perairan lainnya.
B. MACAM-MACAM KEANEKARAGAMAN HAYATI
Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan,
mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Berikut
macam-macam keanekaragaman hayati, yaitu:
1. Keanekaragaman Hayati Tingkat Gen
Keanekaragaman warna bunga pada tanaman mawar. Bentuk, rasa, warna
pada buah mangga, serta keanekaragaman sifat, warna bulu dan bentuk pial pada
ayam, ini semua disebabkan oleh pengaruh perangkat pembawa sifat yang disebut
dengan gen. Semua makhluk hidup dalam satu spesies/jenis memiliki perangkat
dasar penyusun gen yang serupa. Gen merupakan bagian kromosom yang
mengendalikan ciri atau sifat suatu organisme yang bersifat diturunkan dari
induk/orang tua kepada keturunannya. Gen pada setiap individu, walaupun
perangkat dasar penyusunnya sama, tetapi susunannya berbeda-beda bergantung
pada masing-masing induknya. Susunan perangkat gen inilah yang menentukan
ciri atau sifat suatu individu dalam satu spesies.
Apa yang menyebabkan terjadinya keanekaragaman gen?. Perkawinan
antara dua individu makhluk hidup sejenis merupakan salah satu penyebabnya.
Keturunan dari hasil perkawinan memiliki susunan perangkat gen yang berasal
dari kedua induk/orang tuanya. Kombinasi susunan perangkat gen dari dua induk
tersebut akan menyebabkan keanekaragaman individu dalam satu spesies berupa
varietas yang terjadi secara alami atau secara buatan. Keanekaragaman yang

terjadi secara alami adalah akibat adaptasi atau penyesuaian diri setiap individu
dengan lingkungan, seperti pada buah rambutan. Faktor lingkungan juga turut
mempengaruhi sifat yang tampak (fenotipe) suatu individu di samping ditentukan
oleh faktor genetiknya (genotipe). Sedangkan keanekaragaman buatan dapat
terjadi antara lain melalui perkawinan silang (hibridisasi).
Pada manusia juga terdapat keanekaragaman gen yang menunjukkan sifatsifat berbeda, antara lain ukuran tubuh (besar, kecil, sedang); warna kulit (hitam,
putih, sawo matang, kuning); warna mata (biru, hitam, coklat), serta bentuk
rambut (ikal, lurus, keriting).
2. Keanekaragaman hayati tingkat jenis
Untuk mengetahui keanekaragaman hayati tingkat jenis pada tumbuhan
atau hewan, dapat diamati, antara lain ciri-ciri fisiknya. Misalnya bentuk dan
ukuran tubuh, warna, kebiasaan hidup dan lain-lain.
Sebagai contoh dalam suku kacang-kacangan, antara lain; kacang tanah,
kacang kapri, kacang hijau dan kacang buncis. Di antara jenis kacang-kacangan
tersebut dapat dengan mudah dibedakan, karena diantara jenis tersebut ditemukan
ciri-ciri yang berbeda antara ciri satu dengan yang lainnya. Misalkan ukuran tubuh
atau batang (ada yang tinggi dan pendek); kebiasaan hidup (tumbuh tegak, ada
yang merambat), bentuk buah dan biji, warna biji, jumlah biji, serta rasanya yang
berbeda.
Sebagai contoh hewan adalah suku Felidae. Walaupun hewan-hewan
tersebut termasuk dalam satu familia/suku Felidae, tetapi diantara mereka terdapat
perbedaan-perbedaan sifat yang mencolok. Misalnya, perbedaan warna bulu, tipe
lorengnya, ukuran tubuh, tingkah laku, serta lingkungan hidupnya.
3. Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem
Apa yang menyebabkan terjadinya keanekaragaman tingkat ekosistem?
Keanekaragaman ekosistem dapat terjadi karena perbedaan letak geografis.
Perbedaan

letak

geografis

antara

lain

merupakan

faktor

yang menimbulkan berbagai bentuk ekosistem.

Perbedaan letak geografis menyebabkan perbedaan iklim. Perbedaan iklim


menyebabkan

terjadinya

intensitas cahaya matahari,

perbedaan
dan

lamanya

temperatur,
penyinaran.

curah
Keadaan

hujan,
ini

akan

berpengaruh terhadap jenis-jenis flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) yang


menempati suatu daerah. Di daerah dingin terdapat bioma Tundra. Di tempat ini
tidak ada pohon, yang tumbuh hanya jenis lumut. Hewan yang dapat hidup, antara
lain rusa kutub dan beruang kutub. Di daerah beriklim sedang terdapat bioma
Taiga. Jenis tumbuhan yang paling sesuai untuk daerah ini adalah tumbuhan
conifer, dan fauna/hewannya antara lain anjing hutan, dan rusa kutub. Pada iklim
tropis terdapat hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis memiliki flora (tumbuhan)
dan fauna (hewan) yang sangat kaya dan beraneka ragam. Keanekaragaman jenisjenis flora dan fauna yang menempati suatu daerah akan membentuk ekosistem
yang berbeda. Maka terbentuklah keanekaragaman tingkat ekosistem.
1.Susunan Ekosistem
Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem tersusun atas komponen
sebagai berikut.
a.

Komponen autotrof (Auto = sendiri dan trophikos = menyediakan makan).


Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan
sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi
seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen,
contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.

b.

Komponen heterotrof (Heteros = berbeda, trophikos = makanan).


Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik
sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang
tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.

c.

Bahan tak hidup (abiotik)


Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air,
udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat
berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.

d.

Pengurai (dekomposer)

Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang


berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai
menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang
sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Termasuk pengurai ini
adalah bakteri dan jamur.
2.

Macam-macam Ekosistem
Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem
perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air
Laut.
a. Ekosistem darat
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan.
Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan
menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.

1)

Bioma gurun
Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang
berbatasan dengan padang rumput. Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan
curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu slang hari tinggi (bisa mendapai 45C)
sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa
mencapai 0C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan
semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai
pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun
dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air.
Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan
kalajengking.

2)

Bioma padang rumput


Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciricirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak
teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan
yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya

tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing
liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular
3)

Bioma Hutan Basah


Bioma

Hutan

Basah

terdapat

di

daerah

tropika

dan

subtropik.

Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif
banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak
geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi
dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi
perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme).
Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan
tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25C. Dalam hutan basah tropika sering
terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit.
Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung
hantu.
4)

Bioma hutan gugur


Bioma

hutan

gugur

terdapat

di

daerah

beriklim

sedang,

Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang
mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10
s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing,
burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).
5)

Bioma taiga
Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah
tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga
merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap
sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain
moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada
musim gugur.

6)

Bioma tundra
Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub
utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di
daerah

ini

hanya

60

hari.

Contoh

tumbuhan

yang

dominan

adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek,
dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan
yang dingin. Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang
datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap
memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang
kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.
b.

Ekosistem Air Tawar


Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok,

penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan
yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir
semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar
pada umumnya telah beradaptasi.
Adaptasi organisme air tawar adalah sebagai berikut.
1)

Adaptasi tumbuhan
Tumbuhan yang hidup di air tawar biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat
seperti beberapa alga biru dan alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga
maksimum dan akan berhenti sendiri. Tumbuhan tingkat tinggi, seperti
teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar jangkar (akar sulur). Hewan dan
tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan
tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.

2)

Adaptasi hewan
Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak
aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di
ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis
melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya
melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan. Habitat air tawar merupakan
perantara habitat laut dan habitat darat.
Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan
kebiasaan hidup.

1.

Berdasarkan aliran energi, organisme dibagi menjadi autotrof (tumbuhan),


dan fagotrof (makrokonsumen), yaitu karnivora predator, parasit, dan saprotrof
atau organisme yang hidup pada substrat sisa-sisa organisme.

2.

Berdasarkan kebiasaan hidup, organisme dibedakan sebagai berikut.

a. Plankton; terdiri alas fitoplankton dan zooplankton, biasanya melayang-layang


(bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air.
b.
c.

Nekton; hewan yang aktif berenang dalam air, misalnya ikan.


Neuston; organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau
bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air.

d.

Perifiton; merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada


tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.

e.

Bentos; hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada endapan.
Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan remis.
Lihat Gambar.
Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan air mengalir.
Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk ekosistem air
mengalir adalah sungai.

1.

Danau
Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari
beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi.

Gambar 12. Berbagai organisme air tawar berdasarkan cara hidupnya.


Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya
matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi
fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari
disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan temperatur yang
drastis atau termoklin.Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan
daerah dingin di dasar.
Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan
kedalaman dan jaraknya dari tepi. Berdasarkan hal tersebut danau dibagi menjadi
4 daerah sebagai berikut.
a)

Daerah litoral
Daerah ini merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari menembus dengan
optimal. Air yang hangat berdekatan dengan tepi. Tumbuhannya merupakan
tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air.
Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang
melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga, krustacea, ikan,
amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular, itik dan angsa, dan
beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.

b)

Daerah limnetik
Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih dapat
ditembus sinar matahari. Daerah ini dihuni oleh berbagai fitoplankton, termasuk
ganggang dan sianobakteri. Ganggang berfotosintesis dan bereproduksi dengan
kecepatan tinggi selama musim panas dan musim semi. Zooplankton yang
sebagian besar termasuk Rotifera dan udang-udangan kecil memangsa
fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan-ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh
ikan yang lebih besar, kemudian ikan besar dimangsa ular, kura-kura, dan burung
pemakan ikan.

c)

Daerah profundal
Daerah ini merupakan daerah yang dalam, yaitu daerah afotik danau. Mikroba dan
organisme

lain

menggunakan

oksigen

untuk

respirasi

seluler

setelah

10

mendekomposisi detritus yang jatuh dari daerah limnetik. Daerah ini dihuni oleh
cacing dan mikroba.
d)

Daerah bentik
Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos
dan sisa-sisa organisme mati.

Gambar 13. Empat Daerah Utama Pada Danau Air Tawar


Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organiknya, yaitu sebagai berikut :
a.

Danau Oligotropik
Oligotropik
kekurangan

merupakan
makanan,

sebutan
karena

untuk

fitoplankton

danau
di

yang

daerah

dalam

dan

limnetik

tidak

produktif. Ciricirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme,


dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.
b.

Danau Eutropik
Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan
kandungan

makanan,

karena

fitoplankton

sangat

produktif.

Ciri-cirinya

11

adalah

airnya

keruh,

terdapat

bermacam-macam

organisme,

dan

oksigen terdapat di daerah profundal.


Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya
materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat
dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian
dan timbunan sampah kota yang memperkaya danau dengan buangan sejumlah
nitrogen

dan

fosfor.

Akibatnya

terjadi

peledakan

populasi

ganggang

atau blooming,sehingga terjadi produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya


menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut.
Pengkayaan danau seperti ini disebut "eutrofikasi". Eutrofikasi membuat
air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau.
2.

Sungai
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai
dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan
gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi
sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.
Komunitas yang berada di sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang
mengalir deras tidak mendukung keberadaan komunitas plankton untuk berdiam
diri, karena akan terbawa arus. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang
yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.
c.

Ekosistem air laut

Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang.
1.

Laut
Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi
dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya
tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25C. Perbedaan
suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian
atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termoklin.

12

Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, maka
daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plankton serta ikan. Gerakan air
dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun ke bawah dan sebaliknya,
sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung balk.
Habitat

laut

dapat

dibedakan

berdasarkan

kedalamannya

dan

wilayah

permukaannya secara horizontal.


1. Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi sebagai berikut.
a.

Litoral merupakan daerah yang berbatasan dengan darat.

b. Neretik merupakan daerah yang masih dapat ditembus cahaya matahari sampai
bagian dasar dalamnya 300 meter.
c.

Batial merupakan daerah yang dalamnya berkisar antara 200-2500 m

d. Abisal merupakan daerah yang lebih jauh dan lebih dalam dari pantai (1.50010.000 m).
2. Menurut wilayah permukaannya secara horizontal, berturut-turut dari tepi laut
semakin ke tengah, laut dibedakan sebagai berikut.
a.

Epipelagik merupakan

daerah

antara

permukaan

dengan

kedalaman

air sekitar 200 m.


b.

Mesopelagik merupakan

daerah

dibawah

epipelagik

dengan

kedalam

an 200-1000 m. Hewannya misalnya ikan hiu.


c.

Batiopelagik merupakan

daerah

lereng

benua

dengan

kedalaman

200-2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini misalnya gurita.


d.

Abisalpelagik merupakan
4.000m;

tidak

terdapat

daerah
tumbuhan

dengan
tetapi

kedalaman

hewan

mencapai

masih

ada.

Sinar

matahari tidak mampu menembus daerah ini.


e.

Hadal

pelagik merupakan

bagian

laut

terdalam

(dasar).

Kedalaman

lebih dari 6.000 m. Di bagian ini biasanya terdapat lele laut dan
ikan

Taut

tempat

ini

yang

dapat

adalah

mengeluarkan
bakteri

yang

cahaya.

Sebagai

bersimbiosis

produsen

dengan

di

karang

tertentu.
Di laut, hewan dan tumbuhan tingkat rendah memiliki tekanan osmosis sel
yang hampir sama dengan tekanan osmosis air laut. Hewan tingkat tinggi

13

beradaptasi dengan cara banyak minum air, pengeluaran urin sedikit, dan
pengeluaran air dengan cara osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan
diekskresikan melalui insang secara aktif.
2.

Ekosistem pantai
Ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan

daerah pasang surut. Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut
laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi struktural sehingga dapat
melekat erat di substrat keras. Daerah paling atas pantai hanya terendam saat
pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa jenis ganggang, moluska, dan
remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan burung pantai.
Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah.
Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput
herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil.
Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni
oleh beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut.
Komunitas tumbuhan berturut-turut dari daerah pasang surut ke arah darat
dibedakan sebagai berikut.
1.

Formasi pes caprae


Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir
adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang
dan angin; tumbuhan ini menjalar dan berdaun tebal. Tumbuhan lainnya
adalah Spinifex littorius(rumput angin), Vigna, Euphorbia atoto, dan Canaualia
martina. Lebih ke arah darat lagi ditumbuhi Crinum asiaticum (bakung),Pandanus
tectorius (pandan), dan Scaeuola Fruescens (babakoan).

2.

Formasi baringtonia
Daerah ini didominasi tumbuhan baringtonia, termasuk di dalamnya Wedelia,
Thespesia, Terminalia, Guettarda, dan Erythrina.
Bila tanah di daerah pasang surut berlumpur, maka kawasan ini berupa
hutan bakau yang memiliki akar napas. Akar napas merupakan adaptasi tumbuhan
di daerah berlumpur yang kurang oksigen. Selain berfungsi untuk mengambil

14

oksigen, akar ini juga dapat digunakan sebagai penahan dari pasang surut
gelombang. Yang termasuk tumbuhan di hutan bakau antara lain Nypa, Acathus,
Rhizophora, dan Cerbera.
Jika tanah pasang surut tidak terlalu basah, pohon yang sering tumbuh
adalah: Heriticra, Lumnitzera, Acgicras, dan Cylocarpus.
3.

Estuari
Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuari

sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam.
Salinitas air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas
ini juga dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut aimya. Nutrien dari
sungai memperkaya estuari. Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara
lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara
lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada beberapa invertebrata
laut dan ikan laut yang menjadikan estuari sebagai tempat kawin atau bermigrasi
untuk menuju habitat air tawar. Estuari juga merupakan tempat mencari makan
bagi vertebrata semi air, yaitu unggas air.
4.

Terumbu karang
Di laut tropis, pada daerah neritik, terdapat suatu komunitas yang khusus

yang terdiri dari karang batu dan organisme-organisme lainnya. Komunitas ini
disebut terumbu karang. Daerah komunitas ini masih dapat ditembus cahaya
matahari sehingga fotosintesis dapat berlangsung.
Terumbu karang didominasi oleh karang (koral) yang merupakan kelompok
Cnidaria yang mensekresikan kalsium karbonat. Rangka dari kalsium karbonat ini
bermacammacam bentuknya dan menyusun substrat tempat hidup karang lain dan
ganggang. Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis
dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di
antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi
mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora
C. AIR

15

Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan


makhluk hidup di bumi ini. Fungsi air bagi kehidupan tidak dapat digantikan oleh
senyawa lain. Penggunaan air yang utama dan sangat vital bagi kehidupan adalah
sebagai airminum. Hal ini terutama untuk mencukupi kebutuhan air di dalam
tubuh manusia itu sendiri. Kehilangan air untuk 15% dari berat badan dapat
mengakibatkan kematian yang diakibatkan oleh dehidrasi. Karenanya orang
dewasa perlu meminum minimal sebanyak 1,5 2 liter air sehari untuk
keseimbangan dalam tubuh dan membantu proses metabolisme. Di dalam tubuh
manusia, air diperlukan untuk transportasi zat zat makanan dalam bentuk
larutan dan melarutkan berbagai jenis zat yang diperlukan tubuh. Misalnya untuk
melarutkan oksigen sebelum memasuki pembuluh-pembuluh darah yang ada
disekitar alveoli.
Definisi Air menurut para ahli:
Sitanala Arsyad
Air adalah senyawa gabungan antara dua atom hidrogen dan satu atom
oksigen menjadi H2O
Hefni Effendi
Air adalah salah satu sumber energi gerak
Robert J. Kodoatie
Air merupakan material yang membuat kehidupan terjadi di bumi
Roestam Sjarief
Air merupakan zat yang paling esensial dibutuhkan oleh makhluk hidup
Ilmu Kimia
Air ialah H2O dan jawaban itu dibenarkan secara empiris berdasarkan
observasi

16

Sayyid Quthb
Air adalah dasar dari suatu kehidupan dan merupakan satu unsur yang
dibutuhkan dalam kehidupan hingga manusia pun sangat menantikan
kedatangannya
Eko Budi Kuncoro
Air merupakan suatu senyawa kimia sederhana yang terdiri atas 2 atom
hidrogen (H) dan 1 atom Oksigen (O). Air mempunyai ikatan Hidrogen
yang cenderung bersatu padu untuk menentang kekuatan dari luar yang
akan memecahkan ikatan-ikatan ini.
Bambang Agus Murtidjo
Air merupakan substansi yang mempunyai keistimewaan sebagai
penghantar panas yang sangat baik, sehingga air di dalam tubuh lebih
penting dari makanan
D. KEANEKARAGAMAN HAYATI LAUT

Keanekaragaman hayati sekarang sering didefinisikan sebagai berbagai


kehidupan dalam gen, spesies dan habitat. [Menurut definisi Konvensi
Keanekaragaman Hayati, keanekaragaman hayati adalah variabilitas di antara
organisme hidup dari semua sumber, termasuk antara lain, darat, laut dan
ekosistem air lainnya dan kompleks ekologi yang mereka adalah bagian;
mencakup keanekaragaman di dalam spesies, antara spesies dan ekosistem.
Tiga domain kehidupan, bakteri, archaea dan eukariot yang hadir di
lingkungan laut. Selain itu ada virus. Sekitar 230.000 spesies tumbuhan laut dan
hewan telah dijelaskan secara ilmiah dan beberapa ribu bakteri dan archaea.
Keanekaragaman hayati yang dikenal ini hanya mewakili sebagian kecil dari
jumlah spesies yang ada, kecuali untuk tumbuhan dan lamun yang hidup di
lingkungan pesisir dan, secara umum, untuk lingkungan pelagis.

17

Keragaman spesies dalam lingkungan pelagis laut sangat rendah. Jumlah


spesies di atas 200 meter (m) dari lingkungan laut pelagis terkenal dengan empat
kelompok hewan, Euphausicacea, Chaetognatha, Pteropoda dan Copepoda, yang
mendominasi biomassa di mana-mana. Hanya ada 80 spesies euphausiida, 50 dari
chaetognaths, sekitar 40 dari pteropods dan kurang dari 2000 untuk kelompok
yang paling beragam, copepoda calanoid. Data ini didasarkan pada lebih dari
20.000 TOWS bersih dan, meskipun spesies baru tentu akan terus ditemukan, jelas
bahwa pelagis keanekaragaman hayati adalah perintah lain dari kedua
keanekaragaman bentik darat dan laut.
Ini rendahnya jumlah (hewan) spesies ini berbeda mencolok dengan
keanekaragaman hewan dalam sedimen. Sekitar 200.000 spesies saat ini diketahui
dari lingkungan bentik. Sebagian besar dari mereka telah dijelaskan dari terumbu
karang, dan hanya sekitar 60.000 yang diketahui dari habitat bawah lembut yang
menutupi sebagian besar permukaan bumi. Spesies bentik dari perairan dangkal
beriklim Eropa cukup terkenal, terutama di makro yang lebih besar dan
megafauna. Para meiofauna kecil (hewan-mm ukuran) digambarkan kurang baik
dan, sebagai contoh, survei dari benthos di Laut Utara pada tahun 1986
menghasilkan sekitar 40% dari spesies copepoda bentik baru bagi ilmu
pengetahuan.
Untuk kedua hewan dan mikroba, eksplorasi lingkungan yang sulit
diakses, seperti lantai laut dalam atau gua laut, dan penerapan teknologi baru,
terus menghasilkan spesies baru dan kategori taksonomi yang lebih tinggi, bahkan
sampai ke tingkat filum. Terutama ketersediaan teknologi sequencing cepat
menunjukkan bahwa variabilitas dalam domain mikroba, termasuk eukariota
kecil, sangat tinggi dan bahwa puluhan ribu spesies mungkin co-terjadi dalam
satu liter tunggal air laut.
Kehidupan berasal di laut dan jauh lebih tua di laut daripada di darat.
Sebagai konsekuensi, hewan dan keanekaragaman tumbuhan pada tingkat
taksonomi yang lebih tinggi jauh lebih besar di laut di mana ada 14 endemik

18

(unik) filum hewan sedangkan hanya 1 filum endemik tanah. Untuk tanaman
situasi tampaknya berbeda-hampir semua kelompok alga memiliki perwakilan di
kedua perairan tawar dan laut dan tanaman yang lebih tinggi hampir secara
eksklusif terestrial. Ada juga keragaman yang luar biasa dari strategi riwayat
hidup dalam organisme laut. Jumlah total sumber daya genetik dan keragaman
fisiologis di laut karena itu diharapkan akan jauh lebih beragam daripada di darat.
Keanekaragaman habitat dan jumlah habitat laut sulit untuk menentukan. Studi
zonasi telah biasanya menunjukkan adanya zona yang sangat sempit di daerah
intertidal, di mana pengamatan langsung mungkin, dan zona yang lebih luas dan
lebih luas sebagai salah satu pergi lebih dalam. Namun, diakui bahwa hal ini
disebabkan kemungkinan kita terbatas pengamatan dan dengan meningkatnya
kemampuan teknologi, diskontinuitas halus yang terungkap bahkan dalam kolom
air. Selain band zonasi, sejumlah habitat yang sangat spesifik sering dikaitkan
dengan aktivitas tektonik telah ditemukan selama dekade terakhir, dimulai dengan
ventilasi hidrotermal pada tahun 1977 dan diikuti tahun kemudian oleh rembesan
dingin gas dan cairan, gundukan karbonat, gunung lumpur, dll . sonar Multibeam
telah memungkinkan jauh lebih rinci analisis dasar laut menunjukkan fitur halus
dalam sedimen yang sebelumnya dianggap lebih seragam, atau topologi sangat
kompleks ngarai laut di lereng benua. Dengan meningkatnya potensi pengamatan,
jumlah habitat laut di berbagai skala yang berbeda tentu akan meningkat, dan,
sebagai habitat ini sering mengandung spesies yang secara khusus disesuaikan
dengan kondisi lingkungan mereka, sehingga akan keanekaragaman spesies.

Organisme Keragaman Hayati


Organisme laut memainkan peran penting dalam hampir semua proses
biogeokimia yang menopang biosfer, dan menyediakan berbagai produk (barang)
dan fungsi (layanan) yang penting untuk manusia kesejahteraan. Barang meliputi
produksi pangan (sekitar 100 juta ton per tahun) dan bahan alami, bahan-bahan

19

untuk bioteknologi dan farmasi, dan bahkan tanah (misalnya, platform karbonat
yang membentuk Bahama). Barang-barang ini terutama disampaikan oleh
organisme makroskopis.
Selain barang, ekosistem laut memberikan serangkaian layanan yang penting
untuk berfungsinya bumi. Ini termasuk produksi dan mineralisasi bahan organik,
penyimpanan karbon, penyimpanan polusi dan produk limbah dari tanah,
buffering iklim dan perubahan iklim, perlindungan pantai (mangrove, sistem
gundukan-pantai, terumbu karang). Sebagian besar dari layanan ini disampaikan
oleh organisme mikroskopis.
Tingkat dan efisiensi dari setiap proses yang organisme laut menengahi, serta
berbagai barang dan jasa yang mereka berikan, ditentukan oleh interaksi antara
organisme, dan antara organisme dan lingkungannya, dan karena itu dengan
keanekaragaman hayati. Hubungan ini belum dihitung, dan kami saat ini tidak
dapat memprediksi konsekuensi dari hilangnya keanekaragaman hayati akibat
perubahan lingkungan dalam hal ekologi, ekonomi atau sosial.
Penilaian ekonomi barang dan jasa telah menjadi subyek banyak penelitian dan
perdebatan baru-baru ini. Meskipun mungkin untuk atribut nilai moneter untuk
berbagai barang dan jasa (dan untuk menunjukkan bahwa nilai ini bisa sangat
tinggi) juga penting untuk menyadari bahwa nilai-nilai non-penggunaan seperti
bunga intelektual, kesenangan estetika dan pengertian umum tentang pengelolaan
terhadap kehidupan non-manusia planet kita merupakan prasyarat penting bagi
dukungan publik konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan lingkungan laut

Perubahan Lingkungan Global


Keragaman stabilitas hipotesis menunjukkan bahwa keragaman menyediakan
polis asuransi umum yang meminimalkan kemungkinan perubahan ekosistem
besar dalam menanggapi perubahan lingkungan global. Percobaan mikrokosmos

20

mikroba menunjukkan variabilitas kurang dalam proses ekosistem di masyarakat


dengan lebih kekayaan spesies, mungkin karena setiap spesies memiliki respon
yang sedikit berbeda dengan lingkungan fisik dan biotik nya. Semakin besar
jumlah spesies fungsional serupa dalam masyarakat, semakin besar probabilitas
bahwa setidaknya beberapa dari spesies ini akan bertahan stokastik atau pengarah
perubahan lingkungan dan menjaga sifat saat ekosistem.
Bahkan hilangnya spesies langka dapat membahayakan ketahanan ekosistem.
Dalam lingkungan laut ini sangat relevan untuk spesies di bagian atas jaring
makanan, seperti tuna dan hiu, paus, singa laut dan berang-berang laut dan
mungkin beberapa burung. Keanekaragaman jenis juga mengurangi kemungkinan
wabah oleh spesies hama dengan cara pengenceran ketersediaan tuan rumah
mereka.

Resistensi terhadap Invasi


Keanekaragaman hayati dapat mempengaruhi kemampuan spesies eksotik untuk
menyerang masyarakat baik melalui pengaruh ciri-ciri spesies penduduk atau
beberapa efek kumulatif kekayaan spesies. Model teoritis awal dan pengamatan
invasi di pulau-pulau menunjukkan bahwa masyarakat spesies-miskin lebih rentan
terhadap invasi karena mereka menawarkan ceruk yang lebih kosong. Namun,
penelitian ekosistem utuh menemukan korelasi negatif dan positif antara kekayaan
spesies dan invasi.

Produsen Utama Laut


Para produsen utama utama laut sangat kecil dan sering mobile. Dalam
lautan cyanobacteria adalah produsen utama utama: spesies dari genus
Synechococcus dan Prochlorococcus, sekitar 1-2 m dengan diameter, bertanggung

21

jawab untuk sekitar dua pertiga dari produksi primer laut, yaitu sepertiga dari total
produksi primer bahan organik pada Bumi.
Produksi primer samudera dibatasi oleh nutrisi, termasuk zat besi di
daerah besar lautan. Sebagian besar bahan organik yang dihasilkan secara internal
didaur ulang. Jaring makanan mikroba, berdasarkan bahan organik terlarut,
termasuk bakteri photoheterotrophic, menggunakan sinar matahari sebagai sumber
energi tetapi tanpa produksi oksigen, dan virus yang bertanggung jawab untuk
mengendalikan populasi bakteri. Para picoeukaryotes sangat kecil, baik autotrof
dan heterotrof, banyak yang grazers pada bakteri, sangat beragam tapi sangat
kurang dikenal. Jaring makanan laut yang sangat panjang di sebagian besar
wilayah dan termasuk banyak spesies.
berdiri stok grazers lebih tinggi dari produsen utama di laut, yang
merupakan kebalikan dari situasi di darat. Produktivitas laut adalah rata-rata jauh
lebih rendah dari produktivitas lahan. Di bagian terbesar dari laut, di bawah
lapisan permukaan yang dangkal, tidak ada fotosintesis terjadi sama sekali dan
bagian terbesar dari biosfer bumi karena itu tergantung pada subsidi eksternal
bahan organik.
Karnivora tingkat tinggi sering memainkan peran kunci dalam penataan
keanekaragaman hayati laut dan belum dieksploitasi berat dengan efek
unquantified tetapi Cascading terhadap keanekaragaman hayati dan fungsi
ekosistem. Ini tidak terjadi di darat, di mana ekosistem didominasi oleh herbivora
besar dan, tentu saja, semakin oleh manusia yang memonopoli sekitar 40% dari
total produksi primer dunia. Top down kontrol jaring makanan laut menunjukkan
bahwa perikanan predator puncak harus dipertimbangkan sebagai mekanisme
potensial secara langsung tergantung pada manusia yang dapat mengubah ekologi
seluruh laut.

E. USAHA PELESTARIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI


22

Agar keanekaragaman makhluk hidup dapat terus lestari dan mampu


memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada manusia, pemanfaatannya harus
secara bijaksana. Beberapa usaha penyelamatan dan pelestarian keanekaragaman
makhluk hidup sebagai berikut.
1. Sistem tebang pilih dengan cara memilih tanaman yang bila ditebang tidak
sangat berpengaruh terhadap ekosistem.
2. Peremajaan tanaman dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan
hasil dengan mempersiapkan tanaman pengganti.
3. Penangkapan musiman yang dilakukan pada saat populasi hewan paling
banyak dan tidak pada saat kondisi yang dapat mengakibatkan kepunahan.
Contohnya tidak berburu pada saat musim berkembang biak.
4. Pembuatan cagar alam dan tempat perlindungan bagi tumbuhan dan hewan
langka seperti suaka margasatwa dan taman nasional. Tempat-tempat tersebut
melindungi flora atau fauna yang sudah terancam punah.
Perlindungan (konservasi) keanekaragaman hayati bertujuan untuk
melindungi flora dan fauna dari ancaman kepunahan. Konservasi dibagi dua
macam, yaitu:
1. In Situ
In situ adalah konservasi flora dan fauna yang dilakukan pada habitat asli.
Misalnya memelihara ikan yang terdapat di suatu danau yang dilakukan di danau
tersebut, tidak dibawa ke danau lain atau sungai. Ini dilakukan agar
lingkungannya tetap sesuai dengan lingkungan alaminya. Meliputi 7 kategori,
yaitu cagar alam, suaka margasatwa, taman laut, taman buru, hutan, atau taman
wisata, taman provinsi, dan taman nasional.
2. Ex Situ
Ex situ adalah konservasi flora dan fauna yang dilakukan di luar habitat asli,
namun kondisinya diupayakan sama dengan habitat aslinya. Perkembangbiakan
hewan di kebun binatang merupakan upaya pemeliharaan ex situ. Jika berhasil
dikembangbiakan, sering kali organisme tersebut dikembalikan ke habitat aslinya.
Contohnya, setelah berhasil ditangkar secara ex situ, jalak Bali dilepaskan ke

23

habitat aslinya di Bali. Misalnya: konservasi flora di Kebun Raya Bogor dan
konservasi fauna di suaka margasatwa Way Kambas, Lampung.
Upaya melestarikannya juga meliputi ekosistem di suatu wilayah.
Perlindungan tersebut di antaranya:
1. Cagar Alam
Cagar alam adalah membiarkan ekosistem dalam suatu wilayah apa adanya.
Perkembangannya terjadi secara proses alami. Manusia dilarang memasukinya
tanpa izin khusus. Cagar alam bertujuan untuk:
a. melindungi ciri khas tumbuhan, hewan, dan ekosistem alami
b. mempertahankan keanekaragaman gen
c. menjamin pemanfaatan ekosistem secara berkesinambunga
d. memelihara proses ekologi
Contohnya Cagar Alam Pangandaran (Jawa Barat).
2. Suaka Margasatwa
Merupakan pelestarian satwa langka. Perburuan dibuatkan peraturan tertentu.
Satwa

langka

dilindungi

oleh

undang-undang

konservasi,

sehingga

kepemilikannya harus memiliki izin khusus.


3. Taman Nasional
Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem
asli. Taman nasional dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan,
pendidikan, penunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman nasional juga
berfungsi melindungi ekosistem, melestarikan keanekaragam flora dan fauna, dan
melestarikan pemanfaatan sumber daya alam hayati.
Beberapa taman nasional tersebut misalnya Taman Nasional (TN) Gunung
Leuseur (Aceh dan Sumatera Utara), TN Kerinci Seblat (Sumatera Selatan dan
Bengkulu), TN Bukit Barisan Selatan (Bengkulu dan Lampung), TN Ujung Kulon
(Banten), TN Gunung Gede Pangrango (Bogor dan Sukabumi, Jawa Barat), TN
Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), TN Bromo Tengger (Jawa Timur), TN Meru

24

Betiri (Jawa Timur), TN Baluran (Banyuwangi, Jawa Timur), TN Bali Barat, TN


Komodo (Nusa Tenggara Barat) dan TN Tanjung Puting (Kalimantan Tengah).
4. Taman Laut
Taman laut adalah wilayah lautan yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna
yang tinggi dan indah. Kawasan ini dijadikan sebagai konservasi alam, misalnya
Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara.
Konservasi alam adalah upaya pengelolaan sumber daya alam untuk menjamin
kelangsungan hidup manusia di masa kini dan masa mendatang. Konservasi alam
meliputi tiga hal, yaitu:
a. perlindungan, melindungi proses ekologis dan sistem penyangga kehidupan.
Misalnya, perlindungan siklus udara dan air.
b. pelestarian, melestarikan sumber daya alam dan keanekaragam hayati
c. pemanfaatan, memanfaatkan secara bijaksana sumber daya alam dan
lingkungannya.

5. Hutan Lindung
Hutan lindung biasanya terletak di daerah pegunungan. Hutan tersebut berfungsi
sebagai resapan air. Hal ini untuk mengatur tata air dan menjaga agar tidak terjadi
erosi.
6. Kebun Raya
Kebun raya adalah kebun buatan yan berguna untuk menghimpun tumbuhan dari
berbagai tempat untuk dilestarikan. Selain itu, kebun raya ialah Kebun rata Bogor
dan Kebun Raya Ppurwodadi (Jawa Timur)
Masyarakat awam hendaknya tidak memelihara hewan atau tumbuhan
langka yang rawan punah. Memelihara burung, kera, atau orang utan di rumah
akan menyebabkan hewan hewan tersebut semakin cepat punah. Sebaiknya,
hewan tersebut dibiarkan hidup secara alami atau diserahkan pemeliharaannya
kepada orang yang ahli agar ditangkarkan dan kemudian dilepaskan kembali ke
habitat aslinya. Kita dapat berperan serta untuk melestarikannya dengan

25

memelihara hewan atau tumbuhan hasil penangkaran atau budi daya, misalnya
burung kenari, ikan hias, tanaman hias, kucing dan anjing.
Kita dapat membantu melestarikan keanekaragaman makhluk hidup
dengan cara:
a.

tidak membunuh hewan dan tumbuhan liar

b. tidak mempermainkan hewan liar dan memetik tumbuhan langka


c.

sewaktu bertamasya atau berkemah, tetaplah memelihara kelestarian

lingkungan, tidak membawa pulang hewan dan tumbuhan langka


d. tidak membuang sampah di sembarang tempat, karena dapat mengganggu
kesehatan hewan jika termakan hewan tersebut
e.

tidak membuang limbah ke lingkungan, misal limbah rumah tangga atau

pestisida, karena dapat membahayakan kehidupan hewan dan tumbuhan yang ada
di lingkungan tersebut.

F. DAMPAK PENCEMARAN AIR


Pada akhir abad XX ini, limbah kegiatan industri dikatakan telah mengancam
seluruh.negeri. Hal ini disebabkan karena melalui mekanisme alam seperti tiupan
angin, aliran air sungai, daya rambat di tanah melalui difusi limbah tersebut dapat
menyebar ke mana-mana.
Buangan di perairan menyebabkan masalah kehidupan biota dalam bentuk
keracunan

bahkan

kematian.

Gangguan

terhadap

biota

perairan

telah

menimbulkan dampak penurunan kualitas dan kuantitas biota perairan (ikan dan
udang). Kelebihan pupuk yang dialirkan ke rawa atau ke danau dapat
menimbulkan suburnya enceng gondok. Selain itu, erosi lumpur yang terbawa ke
laut kemudian diendapkan mengakibatkan tertutupnya permukaan karang yang
pada akhirnya menyebabkan kematian karang.
Akibat pencemaran itu kehidupan dalam air dapat terganggu dengan mematikan
binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan dalam air karena oksigen yang terlarut

26

dalam air akan habis dipakai untuk dekomposisi aerobik dari zat-zat organik yang
banyak terkandung dalam air buangan.
Pencemaran yang tidak disebabkan oleh sifat racun dari bahan-bahan pencemar
adalah :
1. Kandungan lumpur yang meningkat di dalam air mengurangi jumlah
cahaya yang masuk yang diperlukan untuk berfotosintesis. Unsur hara
yang masuk berlebihan ke ekosistem perairan dapat menyebabkan
pertumbuhan yang sangat cepat dari algae atau tanaman air, sehingga
menyebabkan berkurangnya bentuk kehidupan lainnya seperti ikan dan
kerang-kerangan.
2. Buangan air panas meskipun tidak langsung membunuh biota air, dapat
merubah kondisi dari lingkungan hidupnya. Akibatnya, satu jenis akan
tumbuh dan berkembang lebih cepat sedang yang lain justru dapat
terhambat. Kelakuan ikan yang selalu berpindah (migration) dapat
berubah disebabkan adanya perubahan suhu yang relatif cepat pada jarak
yang pendek.
3. Lumpur erosi sebagai akibat pengelolaan tanah yang kurang baik dapat
diendapkan di pantai-pantai dan mematikan kehidupan karang atau
merusak tempat berpijak biota perairan.
4. Senyawa organik di dalam proses penguraiannya dapat mengambil zat
asam dari air terlalu banyak, sehingga membahayakan kehidupan di
tempat itu.
5. Air sungai yang mengalir berlebihan ke perairan pantai dapat membentuk
lapisan yang menghalangi pertukaran massa air dengan lapisan air yang
lebih subur dari bawah.
Pencemaran limbah ke lingkungan perlu diperhatikan dan diantisipasi dengan
baik, lebih-lebih terhadap air sungai, karena air sungai dipakai penduduk untuk
berbagai keperluan. Pencemaran sungai oleh air buangan ditinjau dari sudut
mikrobiologi antara lain : pencemaran bakteri patogen dan non patogen serta
bahan organik. Banyaknya bahan organik akan merangsang pertumbuhan
mikroorganisme menjadi pesat. Hal ini mengakibatkan pemakaian oksigen akan

27

cepat dan meningkat, akibatnya kadar oksigen terlarut dalam air akan menipis dan
menjadi sedikit sekali, yang akhirya mengakibatkan mikroorganisme dan
organisme air lainnya yang memerlukan oksigen mati. Ekologi air akan berubah
drastis. Keadaan menjadi anaerobik, sehingga air sungai busuk, dan tidak sehat
bagi pertumbuhan mikroorganisme flora dan fauna air itu. Lingkungan hidup yang
demikian ini sudah rusak dan tidak layak lagi bagi kebutuhan hidup kita.
Penanggulangan Pencemaran Air
Penanggulangan dan usaha pemecahan masing-masing masalah tentu harus
berbeda. Sebagai contoh misalnya:
1. Usaha reboisasi atau penghijauan serta pengelolaan daerah air sungai
(DAS) untuk mengurangi intensitas dan volume erosi.
2. Pembatasan penangkapan dengan berbagai cara (musim penangkapan,
mata jaring, jenis alat-alat penangkapan tertentu dan lain-lain).
3. Pengaturan dan pembatasan bahan-bahan pembuangan industri dengan
segala sanksinya bagi masalah pencemaran laut dan wilayah pesisir pantai.
4. Memonitor segala perubahan komposisi biotik dan abiotik dan ekosistem
laut yang menunjukkan telah terjadinya pencemaran, kerusakan, dan
gangguan.
Selain cara penanggulangan yang telah disebutkan di atas, kita juga dapat
melakukan penanggulangan lain seperti di bawah ini:
1. Menjaga kelangsungan ketersediaan air dengan tidak merusak atau
mengeksploitasi sumber mata air agar tidak tercemar.
2. Tidak membuang sampah ke sungai. Hal ini dapat dikarenakan tidak
adanya fasilitas pembuangan sampah yang layak dan mencukupi terutama
di kota-kota besar. Sering kita melihat penumpukan sampah di daerahdaerah yang bukan merupakan tempat pembuangan sampah.
3. Menciptakan tempat pembuangan sampah yang cukup dan memadai. Hal
ini mutlak dilakukan agar sistem pembuangan sampah dapat berjalan
dengan baik dan lancar. Sampah menjadi kontribusi tertinggi dalam
pencemaran air. Jika masalah sampah dapat segera teratasi maka
pencemaran air pun juga akan teratasi dengan cepat.

28

4. Mengurangi intensitas limbah rumah tangga.


5. Melakukan penyaringan limbah pabrik sehingga yang nantinya bersatu
dengan air sungai bukanlah limbah jahat perusak ekosistem. Hal ini telah
diregulasi oleh pemerintah. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam
mengatasi pencemaran ini. namun komitmen seluruh perusahaan
penyumbang limbah ini juga sangat dibutuhkan agar semua pihak dapat
turut menjaga kelestarian lingkungan yang ada.
6. Pembuatan sanitasi yang benar dan bersih agar sumber-sumber air bersih
lainnya tidak tercemar.
Sedangkan untuk menyikapi pencemaran air, dapat dilakukan beberapa cara
sebagai berikut:
1. Program pengendalian pencemaran dan pengrusakan lingkungan
2. Mengurangi beban pencemaran badan air oleh indutri dan domestik.
3. Mengurangi beban emisi dari kendaraan bermotor dan industri.
Program rehabilitasi dan konservasi SDA dan lingkungan hidup
1. Mengoptimalkan pelaksanaan rehabilitasi lahan kritis.
2. Menanggulangi kerusakan lahan bekas pertambangan, TPA, dan bencana.
3. Meningkatkan konservasi air bawah tanah.
4. Rehabilitasi dan konservasi keanekaragaman hayati.
Untuk menekan dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran air ini kita dapat
melakukan usaha pencegahan pencemaran air. usaha pencegahan pencemaran air
ini bukan merupakan proses yang sederhana, tetapi melibatkan berbagai faktor
sebagai berikut:
1. Air limbah yang akan dibuang ke perairan harus diolah lebih dahulu
sehingga memenuhi standar air limbah yang telah ditetapkan pemerintah.
2. Menggunakan bahan yang dapat mencegah dan menyerap minyak yang
tumpah di perairan.
3. Tidak membuang air limbah rumah tangga langsung ke dalam perairan.
Hal ini untuk mencegah pencemaran air oleh bakteri.
4. Limbah radioaktif harus diproses dahulu agar tidak mengandung bahaya
radiasi dan barulah dibuang di perairan.

29

5. Mengeluarkan atau menguraikan deterjen atau bahan kimia lain dengan


menggunakan aktifitas mikroba tertentu sebelum dibuang ke dalam
perairan umum.
6. Semua ketentuan di atas bila tidak dapat dipenuhi dapat dikenakan sanksi.
Banyak cara yang dilakukan pemerintah untuk menangani pencemaran air bersih
ini. namun semua itu tidak ada artinya bila kita sendiri sebagai masyarakat tidak
mendukung teciptanya lingkungan yang bersih dan nyaman. Semua itu tergantung
pada kesadaran kita masing-masing untuk menjaga lingkungan. Kita dapat
menanamkan sikap cinta lingkungan sejak dini di lingkungan keluarga. misalnya
saja melakukan kerja bakti membersihkan rumah sebulan sekali, mencontohkan
langsung kepada anak bahwa kita harus membuang sampah di tempatnya, jangan
menggunakan air lebih dari kebutuhan, mengajarkan kepada anak untuk menanam
tanaman di sekitar rumah.
Selain itu kita juga dapat membuat daerah resapan air di sekitar rumah dengan
cara membuat lubang-lubang kecil di sekitar rumah yang kemudian di isi dengan
sampah organik seperti daun-daun kering sehingga nantinya akan menjadi kompos
dan dapat menambah unsur hara di dalam tanah. Selain itu juga dapat
meningkatkan aktivitas organisme yang ada di dalam tanah seperti cacing untuk
membuat ruang resapan air. Dengan begitu air yang tertampung akan semakin
banyak dan diharapkan kualitas air akan bertambah. Tindakan yang nyata akan
lebih berguna daripada hanya ceramah tanpa diimbangi dengan perbuatan.

30

BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Keanekaragamn hayati atau biodiversity, adalah semua kehidupan di atas
bumi ini baik tumbuhan, hewan, jamur dan mikroorganisme, serta berbagai materi
genetik yang dikandungnya dan keanekaragaman sistem ekologi di mana mereka
hidup. Termasuk didalamnya kelimpahan dan keanekaragaman genetik relatif dari
organisme-organisme yang berasal dari semua habitat baik yang ada di darat, laut
maupun sistem-sistem perairan lainnya. Keanekaragaman hayati dapat terjadi
pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai
organisme

tingkat

tinggi,

yaitu

keanekaragaman

hayati

tingkat

gen,

keanearagaman hayati tingkat jenis, dan keanekaragaman hayati tingkat


ekosistem.
Dalam berbagai wujudnya, air membentuk dan memelihara kehidupan di
bumi. Semua manusia dan keunikan keanekaragaman hayati di dunia ini
bergantung pada sumber air bersih dan menyehatkan. Namun , hanya kurang dari
satu persen air segar yang mengalir di bumi ini, dan perrtambahan jumlah
manusia meningkatkan permintaan yang melampaui ambang keberlanjutan
sumber daya vital ini. Kebutuhan akan air bersih melebihi pasokan di banyak
kawasan di seluruh dunia.
Keanekaragaman hayati dan komunitas manusia dalam keadaan terancam:
diperkirakan satu dari enam orang di bumi tidak punyai akses mendapatkan air
bersih; dua dari enam orang tidak memiliki sanitasi yang memadai; dan empat
dari enam orang terkena penyakit yang berhubungan dengan kekurangan air
bersih.
Degradasi dan penyurutan sumber daya air segar saat ini tidak bisa
diabaikan. Dengan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai hampir 9 milyar
pada tahun 2050, dan semakin meningkatnya pertumbuhan di negara-negara
berkembang, krisis air bersih akan semakin buruk.
Air bukan hanya penting untuk kesehatan manusia: ia juga menopang ekosistem,
yang pada gilirannya menyediakan makanan dan mata pencaharian bagi jutaan

31

manusia. Jasa ingkungan yang diberikan oleh sistem air tawar, termasuk
perikanan, penyaringan dan pengendalian banjir, memiliki nilai ekonomi yang
diperkirakan mencapai triliunan dolar per tahun.
Hampir 70 persen dari air tawar digunakan masyarakat untuk pertanian.
Kita juga semakin bergantung kepada arus air yang stabil untuk menghasilkan
jumlah energi yang cukup signifikan di dunia. Peningkatan prasarana,
pengembangan pertanian dan kebutuhan akan air minum dan sistem sanitasi
menguras air bawah tanah kita, mencemari sumber daya air bersih kita, dan
mengalihkan air jauh dari tempat yang membutuhkan air tawar dan ekosistem air
tawar sehat.
Perubahan iklim merupakan ancaman lain yang berat. Ia menimbulkan
kelebihan air di beberapa tempat, tapi kekurangan di tempat-tempat lain. Sistem
Air Tawar memiliki nilai estetika dan rekreasi juga.
B. SARAN
Sebagai kader bangsa, mahasiswa perlu dibekali dengan pengetahuan
tentang keanekaragaman hayati dan nilai pentingnya bagi kehidupan manusia.
Dengan demikian mahasiswa akan memiliki kepekaan untuk menjaga,
melestarikan, dan memanfaatkan keanekaragaman hayati Indonesia secara
berkelanjutan. Kita seharusnya dapat menghemat penggunaan air sehingga secara
tidak langsung dapat membantu pelestarian keanekaragaman hayati di lingkungan
kita.

32

DAFTAR PUSTAKA
IUCN-UNEP, WWF, Bumi Wahana, Strategi Menuju Kehidupan yang
Berkelanjutan. Jakarta: PT. Gramedia.
Salim, E. 1986. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Jakarta: LP3ES.
Soemarwoto, O. 1994. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Bandung:
Penerbit Djambatan.
Soerjani, M., Rofiq, M. Dan M. Rozy, M. 1987. Lingkungan Sumberdaya Alam
dan Kependudukan dalam Pembangunan. Jakarta: UI Press.
Tim Penyusun Bahan Ajar PLH. 2009. Pendidikan Lingkungan Hidup. Semarang:
UNNES Press.

33