Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teori evolusi yang berkembang sekarang sudah sangat maju dan
tidak seperti yang dibayangkan orang. Banyak konsep yang sudah
berubah, tidak menandakan bahwa teori evolusi itu salah, tetapi konsepkonsep tersebut berbeda karena orang dahulu mempunyai interpretasi yang
berbeda atas dasar informasi yang minimum. Proses keminculan dan
kepunahan merupakan suatu proses alamiah seperi kehidupan dan
kematian. Adanya kematian merupakan kehilangan tetapi juga sekaligus
memberikan keuntungan bagi kelompok lain untuk dapat berkembang.
Proses evolusi yang menyangkut kehidupan di daratan pada dasarnya
melibatkan banyak sekali mekanisme, sehingga diperlukan proses yang
relatif lama. Setelah daratan berhasil dikuasai, maka sebagian besar
organisme yang ada sekarang adalah hasil dari perjuangan ini.
Proses kemunculan suatu kehidupan merupakan hal yang sangat
penting. Lamanya bumi ini kosong menunjukkan bahwa proses yang
terjadi untuk menghasilkan suatu kehidupan berlangsung sangat sulit.
Banyaknya organisme yang muncul tetapi kemudian punah juga
menunjukkan bahwa proses yang terjadi sangat sulit.
Kepunahan masal merupakan suatu bencana. Tetapi kepunahan
masal pun merupakan suatu anugerah bagi kelompok organisme lainnya.
Adanya kepunahan akan memberikan kesempatan pada kelompok
organisme yang sebelumnya tertekan perkembangannya dapat berevolusi.
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang di atas, maka dalam makalah ini
dirumuskan
beberapa
masalah
mengenai
Kemunculan
dan
Kepunahan yaitu :
1. Bagaimana terjadinya kemunculan kelompok organisme tertentu?
2. Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya kepunahan

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Kemunculan Kelompok Organisme Tertentu


Evolusi sudah berlangsung sejak asal mula adanya kehidupan. Kapan
kehidupan mulai ada, tidak dapat diketahui dengan pasti. Satu-satunya data
yang dapat diperoleh mengenai hal ini adalah adanya fosil. Dari data yang
dihimpun oleh ahli paleontologi diketahui bahwa fosil yang tertua yang
ditemukan berumur sekitar 490 juta tahun. Data inipun masih merupakan
dugaan,karena pada masa itu, tentu jumlah organisme masih sangat sedikit,
sehingga fosil tidak mungkin dijumpai pada lapisan tanah.
Pada waktu itu, habitat yang mungkin ada adalah air. Dengan demikian,
dapat diperkirakan bahwa muka bumi masih dihuni oleh prokariot dan
organisme bersel satu, terutama ganggang biru yang kemudian diikuti oleh
lumut kerak dan lumut yang menghuni sekitar pantai. Suhu permukaan bumi
pun diperkirakan masih jauh lebih panas dan oksigen mungkin meliputi hanya
sekitar 10% dari apa yang ada sekarang.
Lapisan yang mengandung fosil tertua (Stromatolites) berupa spora,
ditemukan di daerah pantai di Arabia dan Australia dan berumur sekitar 470
juta tahun yang lalu. Hal ini berarti bahwa ekosistem yang ada baru terdapat
sekitar 480 juta tahun yang lalu. Setelah periode itu baru ditemukan fosil yang
lebih muda di banyak daerah lain.
Pemahaman tentang urutan munculnya kehidupan di bumi lebih
didasarkan pada sisa-sisa makhluk hidup yang memfosil. Fosil terbentuk
dengan berbagai cara dan berbagai proses, meskipun perlu dipahami bahwa
semua makhluk hidup yang sudah mati tidak selalu menjadi fosil. Fosil
mungkin merupakan sisa-sisa bagian tubuh yang keras , atau setelah organisme
mati kemudian terkubur pasir-lumpur ataupun endapan lain kemudian
mengeras.
Menurut ahli geologi, sejarah bumi dapat dibedakan dalam banyak unit

waktu. Unit waktu terbesar disebut era, sedangkan era terbagi dalam periode dan
periode terbagi menjadi unit yang lebih kecil disebut zaman. Pengetahuan akan

kehidupan di bumi dikumpulkan dari bukti fosil terutama mulai dari era
paleozoik, mesozoik, dan cenozoik.

Era palezoik atau masa kehidupan kuno kira-kira 550 juta tahun sampai
300 juta tahun lalu. Era mesozoik atau era kehidupan pertama dikenal sebagai

masa reptilia, mulai 250 juta tahun sampai 150 juta tahun lalu, sedangkan era
cenozoik adalah era kehidupan kera atau masa mamalia dimulai kira-kira 65 juta
tahun lalu.
1. Kemunculan pertama metazoan
Pada abad ke-19, batasnya dipatok pada fosil pertama metazoa. Namun,
belakangan berhasil diidentifikasi beberapa ratus taksa metazoa Prekambium
melalui studi sistematik yang dimulai sejak 1950-an. Kebanyakan ahli geologi
dan paleontologi menetapkan batas antara Prekambium dan Fanerozoikum
pada beberapa titik: sewaktu trilobita dan arkaeociata pertama kali muncul;
sewaktu Trichophycus pedum, suatu organisme penggali kompleks, pertama
kali muncul; atau pada kemunculan pertama suatu kelompok organisme kecil
bercangkang yang dinamakan fauna kecil bercangkang. Tiga titik batas ini
memiliki perbedaan beberapa juta tahun satu dengan yang lainnya.
2. Kemunculan pertama chordate
Salah satu filum yang muncul tiba-tiba pada jaman Kambrium adalah
Chordata, makhluk yang memiliki sistem saraf pusat yang terlindung dalam
suatu tengkorak dan notochord atau tulang belakang.Vertebrata adalah satu
bagian dari chordata.Vertebrata dibagi lagi menjadi beberapa kelas dasar
seperti ikan, amfibia, reptilia, burung, dan mamalia.Mereka mungkin adalah
makluk yang paling dominan dalam dunia hewan.
Karena ahli paleontologi evolusi mencoba melihat setiap filum sebagai
kelanjutan evolusi dari filum yang lain, mereka menyatakan bahwa filum
Chordata berevolusi dari phylum yang lain, yaitu invertebrata.Tetapi,
kenyataannya adalah, seperti semua filum, anggota Chordata yang muncul di
jaman Kambrium menyangkal pernyataan ini sejak awal. Anggota tertua filum
Chordata yang dapat dikenali dari jaman Kambrium adalah makhluk laut yang
disebut

Pikaia,

yang

tubuh

panjangnya,

pada

pandangan

pertama,

mengingatkan kita pada cacing Pikaia muncul pada saat yang bersamaan

dengan spesies lain dalam filum tersebut yang diajukan sebagai nenek moyang
mereka, dan tanpa bentuk peralihan di antara mereka.
3. Kemunculan pertama ikan
Vertebrata pertama muncul pada akhir Zaman Ordovisium (420 juta
tahun yang lalu).Vertebrata ini tidak berahang, mirip ikan, dan disebut
ostrakodermata.Tulang belakangnya rawan dan tubuhnya terlindung
sisik.Bernafasnya melalui insang berkantung di kedua sisi kepala.Siripnya
belum seperti ikan sekarang. Vertebrata berahang pertama yakni
plakodermata, muncul pada Zaman Silur (1,5 juta tahun yang lalu)
Plakodermata dan ostrakodermata sering digolongkan sebagai ikan.
Ikan primitive ini mempunyai kerangka tulang mempunyai kerangka
tulang yang rawan dan badannya ditutupi tameng tulang.Waktu mereka
berevolusi, kerangka semakin keras dan tameng menghilang.Hilangnya
tameng ini menyebabkan ikan lebih aktif bergerak.Ikan bertulang keras dan
ikan bertulang rawan adalah evolusi dari plakodermata.Adapun ikan
berparu-paru merupakan evolusi dari ikan bertulang keras.Munculnya
hampir bersamaan pada jaman Devon (400 juta tahun lalu).Ikan bersirip
gelambir adalah kakeknya amfibi.

4.

Kemunculan pertama
amfibi
Devon,
Inggris,

tempat

kalinya batuan Exmor yang


periode ini dipelajari. Pada masa

pertama
berasal dari
Devonian,

antropoda dan vertebrata awal

melanjutkan

kolonisasi di daratan. Binatang-

binatang

memiliki problem yang sama

dengan

ini
tanaman

ketika pertama kali berkolonisasi di daratan, seperti mengurangi kehilangan


air dan memaksimalkan penghirupan oksigen. Kemajuan paling evolusioner
dari masalah ini tidak hanya memungkinkan binatang dapat menginvasi
daratan, tapi juga menyebar ke seluruh benua.
Zaman Devon merupakan zaman perkembangan secara besar-besaran
jenis ikan berahang dan hiu semakin aktif sebagai pemangsa di
lautan.Migrasi ke daratan terus berlanjut, hewan amfibi mulai berkembang
dan beranjak ke daratan.Tumbuhan darat semakin umum dan mulai muncul
serangga untuk pertama kalinya.Semasa periode Devon, ikan pertama kali
berevolusi dan memiliki kaki serta mulai berjalan di darat sebagai tetrapoda
sekitar 365 juta tahun yang lalu.Tumbuhan berbiji pertama tersebar di
daratan kering dan membentuk hutan yang luas.Di laut, hiu primitif
berkembang lebih banyak dibanding periode Silur dan Ordovisium
akhir.Ikan bersirip-cuping (lobe-finned, Sarcopterygii), ikan bertulang (bony
fish, Osteichthyes) serta moluska amonite muncul untuk pertama
kalinya.Trilobit, brachiopoda mirip moluska, dan terumbu karang besar juga
masih sering ditemukan.
5. Kemunculan pertama reptile

Karbon adalah suatu periode dalam skala waktu geologi yang


berlangsung sejak akhir periode Devon sekitar 359,2 2,5 juta tahun yang
lalu hingga awal periode Perm sekitar 299,0 0,8 juta tahun yang lalu.
Nama "karbon" diberikan karena adanya lapisan tebal kapur pada periode
ini yang ditemukan di Eropa Barat.Zaman ini merupakan zaman
perkembangan amfibi dan tumbuhan hutan.Reptilia dan serangga raksasa
muncul pertama kali.
Reptil pertama adalah mahkluk yang menyerupai kadal yang
berkembang sekitar 330 juta tahun yang lalu, mendekati akhir periode
Mississippian.Reptil adalah perkembang dari binatang amphibi dan
bentuknya menyerupai amphibi.Keuntungan penting sebagai reptil adalah
kemampuannya untuk bertelur di daratan.Telur reptil memiliki kulit keras
sehingga terlindung dari kekeringan, dan terutama adanya membran yang
memungkinkan bayi reptil dapat berkembang di dalam telur.Reptil tidak
terlalu bergantung pada air sehingga dapat bebas beraktivitas di daratan
Salah satu dari penemuan evolusioner terbesar dari periode
Karboniferus adalah amniotic egg di mana hal ini membuat reptil-reptil
awal dari habitat air dan mengolonisasi daratan.Amniotic egg membuat
leluhur burung, mamalia, dan reptil untuk bereproduksi di daratan dengan
jalan mencegah embrio kekeringan dengan adanya cangkang, sehingga pada
masa ini telur dapat disimpan jauh dari air.
Perm atau permian adalah periode dalam skala waktu geologi yang
berlangsung antara 299,0 0,8 hingga 251,0 0,4 juta tahun yang lalu.
Periode ini merupakan periode terakhir dalam era Paleozoikum. Pada zaman
ini perkembangan reptilia yang mirip mamalia mulai meningkat dan
munculnya serangga modern, begitu juga tumbuhan Konifer dan Ginkgoc
primitive.Zaman ini diakhiri dengan kepunahan massal.

Iklim di bumi tumbuh menjadi lebih hangat dan lebih kering selama
Periode Permian, yang dimulai sekitar 290 juta tahun yang lalu.Banyak
sekali dasar lautan yang menjadi kering, dan gurun membentang luas.Reptil
dapat beradaptasi pada kondisi yang baru, dan beberapa jenis mulai
berkembang.Amphibi

dalam

jumlah

besar

mulai

lenyap

secara

perlahan.Reptil menjadi binatang dominan pada Era Mesozoic yang mulai


sekitar 240 juta tahun yang lalu.Mereka mendominasi daratan, lautan dan
udara selama 177 juta tahun sepanjang Era dan disebut Abad Reptil.
Zaman Mesozoikum (Zaman Sekunder) diperkirakan berumur kurang
lebih 150 juta tahun yang lalu.Kemunculan makhluk hidup telah mulai
beraneka ragam, dan pada masa ini telah hidup binatang bertubuh besar
seperti halnya reptil besar (dinosaurus) seperti Tyrannosaurus, Spinosaurus,
Stegosaurus dan reptil besar lainnya pun mulai muncul, berkembang dan
menyebar hingga ke seluruh dunia.
Pada zaman Mesozoikum, keadaan alam mulai berubah dengan tanah
yang semakin kering.Ada beberapa binatang yang tetap bertahan hidup
walau ada juga yang punah.Kehidupan hewan seperti ikan banyak yang
berubah tetapi, ada jenis yang tetap bisa bertahan hidup walau berada di
tanah.Beberapa hewan amphibi menjelma menjadi besar, kulit telurnya
mengeras dan hewan ini sudah mulai berada di darat.Inilah permulaan
munculnya binatang reptil.Jenis reptil yang ada pada zaman Mesozoikum
bentuknya

besar-besar,

contohnya

dinosaurus,

brontosaurus.dan

tyrannosaurus.
Sejarah kemunculan Reptilia di daratan ditandai dengan :
a. Terbentuknya sel telur berdinding ganda (telur Amniota)
b. Kulit tubuh yang ditutupi perisai (misalnya kura-kura dan Dinosaurus)
atau sisik guna melindungi diri terhadap kekeringan.

c. Terbentuknya sistem eksresi yang terpisah kalau dibandingkan dengan


hewan Vertebrata lainnya yang telah ada sebelumnya (Ikan,
Amphibia).
d. Terbentuknya anggota gerak.
e. Terbentuknya alat indera pnglihatan, pendengaran, penciuman dan
pengecapan yang lebih baik.
Kapan terbentuknya telur Amniota tidak dapat ditelusuri dengan
baik, karena sedikitnya data fosil.Konsekuensi dari telur berdinding ganda
(kapur dan selaput amnion) mengharuskan fertilisasi internal sebagai
ssatu-satunya alternatif reproduksi. Dengan demikian alat kelamin
sekunder jantan merupakan struktur pertama yang muncul di kelompok
Vertebrata

pada

Reptilia

(dalam

bentuk

sepasang

Hemipenis).

Konsekuensi lain dari munculnya sel telur berdinding kapur memerlukan


suatu perubahan penting kalau dibandingkan dengan telur Amphibi atau
Pisces, karena kulit kapur tersebut harus dapat menghubungkan embrio
dengan dunia luar untuk pertukaran gas (Oksigen-Karbondioksida).
Telur Reptil ternyata ditunjang dengan terbentuknya membran
amnion. Membran ini berguna untuk menangkap Oksigen yang masuk
melalui dinding sel kapur tersebut. Hal ini memberikan konsekuensi
bahwa telur pertama tidak mungkin terlalu besar agar pertukaran gas dapat
berlangsung dengan baik.Konsekuensi lainnya adalah digsntikannya
insang dengan paru-paru (tahapan ini sudah dilalui oleh Amphibia).
Naiknya Reptilia ke daratan memberikan konsekuensi pula pada alat
indera.
Mata yang dilindung dengan membran nictitans digantikan dengan
mata yang berkelopak, juga untuk melindungi dari bahaya kekeringan.Alat
pendengaran yang sebelumnya terdapat pada rahang bawah (Pisces) mulai
berangsur digantikan dengan telinga dalam, karena juga menghadapi

tantangan

kekeringan.

Fungsi

telinga

lebih

diperlukan

apabila

dibandingkan dengan kehidupan di dalam air, untuk mencari mangsa dan


menghindar dari predator.
Di samping reptil berbentuk besar yang hidup di darat, beberapa
jenis burung juga sudah ada di zaman ini.Pada zaman itu ada corak
kehidupan yang unik yaitu jokken moddinger merupakan timbunan
sampah dapur yang terdapat di sepanjang pantai timur Sumatra berupa
sampah dari kulit siput dan kerang. Burung berkembang dari dinosaurus
sepanjang

Era

Mesozoic.

Burung

tertua

yang

dikenal

adalah

Archaeopteryx. Binatang ini hidup sekitar 140 juta tahun yang lalu,
sepanjang akhir Periode Jurassic. Burung ini berukuran sebesar burung
gagak dan dalam banyak hal menyerupai reptil. Memiliki gigi, ekor seperti
reptil, dan cakar di masing-masing sayapnya, tetapi binatang ini
terbungkus oleh bulu-bulu. Burung-burung ini banyak meninggalkan fosil
karena susunan tulangnya mengakibatkannya mudah bertabrakan.
Dinosaurus adalah reptil yang paling spektakuler.Ada banyak jenis
dan banyak variasi ukuran Dinosaurus. Beberapa Dinosaurus adalah
binatang terbesar yang pernah hidup di daratan, ukuran terkecil adalah
seukuran anak ayam. Ketika dinosaurus menguasai daratan reptil raksasa
lainnya juga menguasai lautan dan udara. Mereka semua punah pada akhir
Era Mesozoic, tetapi reptil kecil seperti buaya, kadal, ular, dan kura-kura
dapat bertahan hingga saat ini.
Pterosaur adalah reptil terbang pertama yang menguasai udara. Ada
yang berukuran lebih kecil dari burung pipit, dan ada juga yang berukuran
raksasa dengan lebar sayap 8 meter. Binatang ini tidak memiliki bulu,
tetapi bisa jadi mereka memiliki rambut di atas selaput kulit yang
membentuk sayap.

Invertebrata tetap terus berkembang pada masa Mesozoic.


Beberapa jenis moluska berkembang di lautan, mereka leluhur siput,
kerang, dan cumi-cumi. Lobster, udang, dan kepiting juga berkembang
pada lautan Mesozoic. Kelompok serangga yang ada di jaman sekarang ini
sudah muncul di akhir era Mesozoic.
Ikan berlimpah-limpah sepanjang abad Reptil.Ikan bertulang
modern pertama muncul sepanjang Periode Triassic, yang mulai sekitar
240 juta tahun yang lalu.Akhir Periode Triassic sekitar 205 juta tahun yang
lalu sebagian besar amphibi punah. Amphibi kecil dapat bertahan hidup
dan menjadi leluhur katak dan salamander modern.
6. Kemunculan manusia purba
Zaman Neozoikum diperkirakan berusia 60 juta tahun yang lalu.
Saat itu keadaan bumi sudah semakin memungkinkan untuk mendorong
munculnya makhluk hidup lainnya seperti binatang menyusui, sejenis kera
dan monyet.
Zaman ini terbagi menjadi dua zaman, yaitu zaman tersier dan zaman
kuarter.Zaman Tersier berlangsung sekitar 60 juta tahun yang ditandai
dengan munculnya beragam jenis binatang menyusui (mamalia). Zaman
tersier terbagi menjadi zaman Pliosen, Miosen, Oligosen. Eosen,
Paleosen.
Zaman Kuarter berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu, yang
ditandai dengan munculnya manusia purba. Zaman kuarter sendiri juga
terbagi menjadi zaman Holocen (Holosin) dan zaman pleistocen.Era
Pleitosen (deluvium) atau Zaman Es berlangsung kira-kira 600.000 tahun
yang ditandai dengan adanya manusia purba
B.

Kepunahan dan Penyebabnya

Kepunahan dalam biologi berarti hilangnya keberadaan dari sebuah


spesies atau sekelompok takson. Waktu kepunahan sebuah spesies ditandai
dengan matinya individu terakhir spesies tersebut, walaupun kemampuan untuk
berkembangbiak tidak adalagi sebelumnya.
Di dalam ilmu ekologi, istilah kepunahan dipakai untuk kepunahan di
suatu studi area. Namun, sepsies ini masih bias ditemukan di tempat lain.
Fenomena ini disebut juga ekstirpasi. Maka dari itu, menentukan waktu
kepunahan makhluk hidup sangat sulit, dikarenakan wilayah sebaran sebuah
spesies atau takson yang bias sangat luas. Kesulitan ini dapat berujung kepada
suatu fenomena yang dinamakan takson Lazarus, di mana sebuah spesies
dianggap telah punah tetapi muncul kembali.
Spesies akan punah bila mereka tidak bias bertahan saat ada perubahan
pada ekologi mereka ataupun ketika persaingan semakin ketat dengan makhluk
hidup lain yang lebih kuat. Umumnya, suatu spesies akan punah dalam waktu
10 juta tahun, dihitung dari permulaan kemunculannya. Beberapa spesies,
biasanya juga disebut fosil hidup, karena bias bertahan dan tidak banyak
berubah selama ratusan juta tahun. Salah satu contoh fosil hidup adalah buaya.
Suatu spesies juga disebut punah secara fungsional, bila beberapa anggotanya
masih hidup tetapi tidak mampu berkembangbiak, misalnya karena sudah tua,
atau hanya ada satu jenis kelamin.
Sebelum manusia memenuhi muka bumi, laju kepunahan makhluk hidup
cukup rendah, walaupun beberapa kepunahan massal telah terjadi sebelum
itu. Oleh sebab itu, salah satu aspek penting di tema kepunahan makhluk hidup
ialah usaha manusia untuk mengembangkan spesies yang terancam punah
(endangered species)
Benton & Harper (1997) mendefinisikan Kepunahan missal sebagai
berikut :

a. Banyaknya Spesies yang punah, bias dibilang lebihdari 30%


b. Bentuk kepunahannya melingkupi wilayah ekologi yang luas, biasanya
melibatkan lingkungan marindan non-marin; tumbuhan dan hewan; dan
mikroskopis dan makro.
c. Semua peristiwa kepunahan missal terja di dalam waktu yang relative
singkat (dalam skala waktu geologi tentunya), dan melibatkan suatu sebab
tunggal atau serangkaian sebab yang saling berhubungan.
Dalam perjalanan sejarahnya, bumi mengalami banyak peristiwa
kepunahan. Namun dari semua peristiwa kepunahan missal itu, para ilmuwan
menyepakati lima peristiwa kepunahan missal terbesar atau dikenal dengan
sebutan The Big Five.
1. OrdovisumAkhir | ~460 juta tahun lalu
Kepunahan missal pada periode ini menyebabkan musnahnya 70%
spesies. Utamanya adalah fauna lautan. Banyak karang yang menghilang,
dan banyak family dari brachipoda, echinodermata, ostrakoda, dan trilobite
menghilang.
Peristiwa kepunahan pada periode ini erat kaitannya dengan
peritiwa glasial di kutub selatan. Peristiwa glacial ini menyebabkan
surutnya air secara global. Fauna-fauna dari kutub bergerak menuju
wilayah tropis sementara fauna berdarah hangat mati akibat hilangnya
wilayah tropis
2. Devon Akhir | ~380 jutatahunlalu
Tiga perempat dariseluruh spesies di Bumi punah pada peristiwa
ini. Para ahli meyakini peristiwa Devon Akhir ini merupakan rangkaian
peristiwa kepunahan masal dan bukan suatu peristiwa tunggal.
Menurut Beton& Harper (1997) diperkirakan peristiwa kepunahan
Devon Akhir ini berlangsung selama 10 juta tahun. Penyebabnya
diperkirakan akibat peritiwa pendinginan akibat anoksia (hilangnya
oksigen secara cepat) di laut. Selain itu ada kemungkinan peran objek
ekstra terestial
3. Permo-Trias | ~260 s.d. 250 jutatahunlalu
Terkenal dengan sebutan The Great Dying karena 96% spesies
punah pada peristiwa kepunahan ini. Dipercaya sebagai peristiwa
kepunahan massal terbesar. Walupun begitu, Erwin (1993) dalam Benton
& Harper (1997) menyebutnya sebagai peristiwa kepunahan massal yang
paling sedikit diketahui. Peristiwa ini menandai batas antara Era

Paleozoikum dan Mesozoikum. Penyebabnya diperkirakan adalah erupsi


besar gunung api di Siberia yang sekarang dikenal sebagai Siberian
Trap. Erupsi amat besar ini menyebabkan pelepasan gas, pemanasan
global, dan juga anoksia.
4. TriasAkhir | ~236 s.d. 202 juta tahun lalu\
Peristiwa ini menjadi batas antaraTrias dan Jura. Walaupun
termasuk dalam peristiwa mayor namun peristiwaTrias Akhir ini tidak
terlalu ekstensif. Peristiwa ini ditandai dengan menghilangnya sebagian
besar ammonoid, sejumlahfamilia dari brachiopoda, bivalvia, gastropoda,
dan reptil-reptil laut. Peristiwa ini juga menyebabkan sejumlah amphibi
dan reptile menghilang. Penyebab kepunahan masal Trias Akhir ini
diperkirakan adalah perubahan iklim yang berasosiasi dengan terbelahnya
Pangea dan terbukanya Atlantik.
5. Kapur-Paleogen | ~65 juta tahun lalu
Perstiwa Kapur-Paleogen ini tampaknya merupakan kepunahan
massal yang paling banyak diketahui oleh masyarakat. Ini dikarenakan
menyebabkan punahnya tokoh pre-historis fenomenal, dinosaurus.
Peristiwa ini menandai batas antara Paleozoikum danKenozoium.
Sebelumnya peristiwa ini dikenal sebagaiKapur-Tersier, namun semenjak
Tersier dihapus dalam skala waktu geologi, namanya menjadi KapurPaleogen. Penyebab dari kepunahan massal ini diperkirakan adalah
perubahan cuaca dan juga tabrakan meteor. Penjelasan yang paling
diterima adalah jatuhnya meteor di Kawah Chixculub, Meksiko.
Faktor Penyebab Terjadinya Kepunahan :
1. Teori Pergerakan Benua dan Terbentuknya Pangea
Akibat bergeraknya benua, maka jumlah panjang pantai menjadi
sangat pendek dibandingkan dengan keadaan apabila bumi terdiri dari
banyak benua. Hal ini menyebabkan sejumlah besar organisme laut yang
hidup di air dangkal akan punah. Selain itu konsekuensi yang juga timbul
adalah adanya satu daratan menyebabkan timbulnya perubahan cuaca
yang drastis. Sebagai contoh, semua daratan diberbagai benua (Afrika,
Asia, dan Amerika Utara) akan memiliki daerah gurun. Daratan yang luas
dan datar menyebabkan daerah tengah tidak mendapat cukup air hujan,
karena hujan sudah turun di daerah yang tidak terlalu jauh dari pantai.
Akibat timbulnya gurun yang besar, maka sebagian besar ikan akan

menjadi berubah, kering. Sebagian besar organisme daratan dan air akan
punah.
2. Teori Vulkanisme
Mengingat contoh vulkanisme akan menimbulkan perubahan yang
besar untuk suatu daerah. Letusan suatu gunung berapi dapat berlangsung
berbulan-bulan dan akibatnya paling tidak mempengaruhi sebagian muka
bumi. Di indonesia kita mengenal beberapa kepunahan yang sangat besar
dan garis tengahnya lebih dari 20 km, misalnya Danau Toba, Danau
Tondano, dan Daerah Dieng.
Diperkirakan bahwa letusan gunung tersebut beberapa ratus kali
lebih dahsyat daripada letusan Gunung Krakatau. Akibat gunug krakatau
saja, banjir besar menimpa daerah Negri Belanda yang berjarak puluhan
ribu kilometer. Apabila ada sejumlah besar gunung berapi sebesar gunung
Krakatau atau Tambora meletus, maka akan timbul kegelapan selama
berbulan-bulan. Hal ini akan menyebabkan perubahan cuaca yang sangat
drastis.
Pengaruh letusan Gunung Galunggung saja telah hampir
memusnahkan beberapa spesies di Jawa Di Pangandaran, jumlah banteng
tinggal tiga ekor dari 35 ekor sebelumnya. Menurut hasil visum,
kebanyakan banteng mati karena ada deposit debu vulkanis di paru-paru,
dan sejumlah besar abu vulkanis di dalam lambung yang tidak dapat
dikeluarkan dengan feces, mungkin karena terlalu berat.
3. Teori Meteorit atau Supernova
Memorit berukuran sangat besar yang menabrak bumi akan
menyebabkan perubahan iklim global, selain menimbulkan gempa bumi,
akan memberikan akibat yang serupa dengan letusan gunung berapi, yang
berarti perubahan cuaca. Ledakan supernova (bintang raksasa) di luar
angkasa akan menyebarkan debu bintang yang mungkin menimbulkan
kegelapan. Debu bintang dapat pula mempengaruhi magnetik bumi.
Apabila kutub magnetik bumi berubah, maka akan terjadi gempa bumi,
karena poros bumi mengalami perubahan. Menurut penelitian, kutub
magnetik bumi memang sudah tidak tapat dari yang diperhitungkan
dahulu. Selain itu meteorit atau supernova dapat membawa suatu unsur
seperti lagam berat (misalnya iridium) yang beracun bagi kehidupan di
muka bumi.

4. Teori Glasiasi
Turunnya hujan salju selam 1 minggu di Kota Roma menjadi berita
utama di tahun 1987. Hal ini disebabkan karena Kota Roma tidak setiap
tahun kedatangan salju. Biasanya hujan salju yang turun disana hanya
sepuluh tahun sekali. Pada tahun 1987, salju menumpuk sampai hampir 2
meter, lalu lintas terputus, listrik mengalami banyak gangguan. Akibatnya
puluhan orang meninggal dunia karena kedinginan dan kelaparan.
Gambaran peristiwa diatas dapat terjadi lebih parah lagi di masa
lalu. Apabila hal itu terjadi di kota, bagaimana pula keadaannya di alam
terbuka. Banyak satwa yang mati, dan tanaman yang hancur. Adanya
zaman es menyebabkan cuaca bumi menurun secara drastis dan
menimbulkan kematian masal bagi organisme yang tidak teradaptasi.
Menurunnya suhu bumi sebanyak satu derajat saja sudah dapat
memperluas lingkaran kutub menjadi beberapa puluh ribu km2, dan hal
ini menyebabkan kematian organisme daerah tersebut.
5. Teori Adanya Air Bah
Air merupakan penyebab kepunahan yang paling umum dijumpai.
Hujan yang turun empat sam pai lima hari sudah menimbulkan banjir,
tanah longsor dan kerusakan tempat penghunian, ladang dan hewan
ternak. Akibat hujan beberapa hari saja sudah dapat menaikkan air sampai
beberapa meter dan di daerah muara dapat sampai belasan meter.
Akibatnya seperti yang dapat kita lihat di Bangladesh. Banyak ternak
yang mati, tanaman pangan rusak total. Apabila hal ini berlangsung
beberapa minggu saja, maka seluruh daerah akan mati, meninggalkan
pohon-pohon yang besar saja. Sesudah banjir biasanya penyakit
mewabah, sehingga apa yang tertinggal ikut mati pula apabila tidak
ditangani.
Akibat glasiasi berakhir, maka seluruh daratan Sunda dan daratan
Sahul terendam air, meninggalkan daerah dataran tinggi saja dan
menjadikan Indonesia berbentuk kepulauan. Banyaknya organisme yang
punah tidak dapat diperkirakan.
6. Teori Epidemi atau Pandemi
Kematian masal suatu organisme misalnya setelah glasiasi atau
banjir selain memusnahkan organisme yang terdapat di daerah tersebut,
juga akan menimbulkan penyakit lainnya. Ada proses pembusukan besar-

besaran, dan penyakit berkembang dengan pesat karena sanitasi yang


buruk. Akibatnya banyak organisme lain yang ikut mati karena jumlah
mikroba pembusukan meningkat dan menimbulkan infeksi pada
organisme yang hidup di sekitarnya.
7. Teori Naiknya Suhu Muka Bumi (Greenhouse Effect)
Adanya jumlah CO2 yang besar akan menyebabkan temperatur
muka bumi naik. Hal ini disebabkan oleh karena CO 2 akan membentuk
lapisan yang menghambat masuknya sinar matahari. Akibatnya setiap
pemanasan pada siang hari akan tetap tertahan pada malam hari, dan
dengan demikian, udara bertambah lama bertambah panas.
8. Teori Radiasi Ultra Violet dan Lubang Ozon
Lubang ozon menimbulkan mutasi pada organisme karena
kemampuannya menembus sel dan memotong-motong DNA. Rusaknya
DNA umumnya menyebabkan organisme yang dikenai sinar ultraviolet
mengalami mutasi yang kemungkinan besar merugikan sehingga punah.
Dengan adanya lubang ozon, maka suhu muka bumi akan naik dan contoh
pada masa kini adalah banyaknya organisme yang punah akibat naiknya
temperatur muka bumi.
9. Teori Berkembangnya Mamalia Kecil Setelah Perubahan Temperatur
Global
Mamalia kecil diperkirakan mulai berkembang di muka bumi tidak
lam setelah kemunculan Reptilia. Sebelumnya, Mamalia tertekan
perkembangannya karena bersaing dengan Dinosaurus. Namun pada
waktu terjadi perubahan muka bumi, keberadaan Mamalia tidak banyak
terpengaruh, sebaliknya sebagian besar Dinosaurus punah.
10. Teori Campur Tangannya Manusia
Hal ini terutama berlaku untuk buaya, penyu dan kura-kura besar.
Penyebabknya adalah karena over harvesting dan over exploiting untuk
kesenangan atau ketamakan sekelompok orang dan rasa sekuriti
kelompok yang lain.
Kesembilan penyebab utama yang disebutkan di atas, maka hanya
tiga penyebab utama (epidemi, Mamalia, dan Manusia)yang tidak
mempengaruhi perubahan temperatur muka bumi secara umum, kecuali
pada zaman modern. Mengapa naik turunnya temperatur muka bumi
berpengaruh pada kepunahan reptilia, terutama Dinosaurus ?

a.
b.

c.

d.

e.

f.

g.
h.

Kebanyakan Reptilia tidak mengerami telurnya, tetapi menguburnya


di dalam tanah.
Kebanyakan Reptilia mempunyai determinasi seks yang bergantung
kepada temperatur. Hal ini berarti bahwa suhu lingkungan akan
menentukan jenis kelainan organisme yang akan menetas dari telur.
Mengapa keberadaan Mamalia menjadi ancaman bagi Reptilia ? kalau
temperatur bumi turun, maka Reptilia memerlukan waktu yang lebih
lama untuk aktif, sedangkan Mamalia tidak demikian. Diperkirakan
sifat homoioterm merupakan kunci keberhasilan Mamalia. Karena
kemampuan termoregulasi, maka kenaikan suhu bumi, keberdaan
Mamalia tidak terpengaruh sebesar pengaruh yang terjadi pada
organisme poikiloterm
Kalau temperatur bumi naik, maka Reptilia harus bersembunyi kalau
tidak mereka dapat hiperaktif dan memerlukan energi tinggi,
disebabkan karena Reptilia tidak mempunyai kemampuan
termoregulasi yang baik. Mamalia memang ikut menderita pada
zaman glasiasi, tetapi dapat mengatur suhu tubuhnya secara lebih
mudah, sehingga tidak perlu menjadi hiperaktif.
Pada masa kepunahan, maka sebagian besar organisme punah, dan ini
berarti punahnya sebagian besar mangsa. Reftilia berukuran besar
akan lebih sulit mencari mangsa, tetapi tidak demikian bagi Reptilia
kecil dan Mamalia. Mereka bersaing tetapi Mamalia dapat aktif siang
atau malam, sedangkan Reptilia lebih terbatas jam operasinya karena
perlu penyesuaian diri terhadap lingkungan yang waktunya lebih
lambat dibandingkan Mamalia. Mamalia kecil yang lebih gesit
mempunyai kemampuan menyembunyikan diri dari Reptilia
berukuran besar.
Telur Reptilia merupakan mangsa bagi Reptilia dan Mamalia kecil,
sedangkan Mamalia tidak mempunyai telur yang bebas yang dapat di
mangsa organisme lain.
Mamalia menjaga anaknya sedangkan kebanyakan Reptilia tidak.
Konsekuensi dan determinasi seks yang bergantung kepada
temperatur. Reptilia mempunyai detyerminasi seks yang bergantung
kepada temperatur. Apabila kita kaji strategi reproduksi Reptilia,
diketahui bahwa proses pematangan telur ditentukan oleh penyinaran

mata hari. Di sini tidak ada masalah apakah temperatur muka bumi
naik atau turun. Adanya perubahan temperatur akan mengakibatkan
timbulnya salah satu jenis kelamin saja, jantan atau betina. Dengan
demikian, semua telur yang menetas akan menghasilkan salah satu
jenis kelamin saja.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pemahaman tentang urutan munculnya kehidupan di bumi lebih didasarkan
pada sisa-sisa makhluk hidup yang memfosil. Pada abad ke-19, batasnya
dipatok pada fosil pertama metazoa. Salah satu filum yang muncul tiba-tiba
pada jaman Kambrium adalah Chordata.Vertebrata pertama muncul pada
akhir Zaman Ordovisium (420 juta tahun yang lalu). Zaman Devon
merupakan zaman perkembangan secara besar-besaran jenis ikan berahang
dan hiu semakin aktif sebagai pemangsa di lautan.Migrasi ke daratan terus
berlanjut, hewan amfibi mulai berkembang dan beranjak ke daratan. Reptil
pertama adalah mahkluk yang menyerupai kadal yang berkembang sekitar
330 juta tahun yang lalu, mendekati akhir periode. Zaman Neozoikum
diperkirakan berusia 60 juta tahun yang lalu terbagi menjadi dua zaman,
yaitu zaman tersier dan zaman kuarter. Zaman Tersier berlangsung sekitar
60 juta tahun yang ditandai dengan munculnya beragam jenis binatang
menyusui (mamalia). Zaman Kuarter berlangsung sekitar 600.000 tahun
yang lalu, yang ditandai dengan munculnya manusia purba.
2. Beberapa teori Faktor penyebab terjadinya kepunahan diantaranya Teori
Pergerakan Benua dan Terbentuknya Pangea, Teori Vulkanisme, Teori
Meteorit atau Supernova, Teori Glasiasi, Teori Adanya Air Bah, Teori
Epidemi atau Pandemi, Teori Naiknya Suhu Muka Bumi (Greenhouse
Effect), Teori Radiasi Ultra Violet dan Lubang Ozon, Teori Berkembangnya
Mamalia Kecil Setelah Perubahan Temperatur Global, Teori Campur
Tangannya Manusia
B. Saran
1.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. http://www.satwa.net/136/mengenal-istilah-kepunahan-dan-statuskonservasi-iucn.html. DiaksesTanggal 9 Maret 2016.


Iskandar,DrDjoko T. 2001. CatatanKuliahEvolusi. Bandung : ITB
Harunyahya .2015. Sejarah-Alam-Yang-Sebenarnya.
http://m.id.harunyahya.com/tr/works/3015/DARWINISMETERBANTAHKAN/chapter/10470/Sejarah-Alam-Yang-Sebenarnya---(1/2)(Dari-Invertebrata-Hingga-Reptilia). html. DiaksesTanggal 9 Maret 2016
Sejarah Binatang.http://merbabu.com/fauna/sejarah_binatang.php DiaksesTanggal
9 Maret 2016
Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Malang : Universitas Negeri Malang.
http://dokumen.tips/documents/evolusi-avertebrata-menuju-chordata.html
http://nuzulularipin.blogspot.co.id/2012/06/evolusi-ikan.html