Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
I.A. Latar Belakang
Makhluk hidup tersusun atas sekumpulan sel-sel yang kemudian menjadi
sebuah kesatuan yang sangat unik dan berperan penting dalam kelangsungan
hidupnya. Sebagai contoh, organ lambung dan usus yang merupakan kumpulan
dari sejumlah sel dan sebagai alat untuk menyimpan cadangan makanan dan
pencernaan bagi manusia. Semua makanan dicairkan dan dicampurkan
dengan asam hidroklorida. Dan dengan cara ini disiapkan untuk
dicernakan oleh usus maka dari itu peranan lambung dan usus sangat

penting sekali dalam kelangsungan hidup suatu makhluk hidup.


Sangatlah penting bagi seorang dokter untuk mengetahui bagaimana
system pencernaan dalam tubuh manusia. Untuk itu, referat ini akan membahas
mengenai sirkulasi darah dan system pencernaan khususnya pada lambung dan
usus.
I.B. Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diambil beberapa tujuan dan
manfaat yang sesuai dengan topik yang akan dibahas. Tujuan dan manfaat yang
didapat diantaranya :
Tujuan :
a. Bisa menjelaskan bagaimana sirkulasi darah pada bagian organ
dalam khususnya lambung dan usus.
b. Mengetahui sirkulasi pencernaan pada bagian abdomen.
Manfaat :
a. Mengetahui bagaimana jalanya darah pada organ dalam khususnya
lambung dan usus.
b. Tahu pembuluh darah apa saja yang terdapat pada lambung dan

usus.
BAB II
PEMBAHASAN

II.A. Lambung
II.A.1 Definisi lambung
Lambung merupakan bagian saluran pencernaan yang berdilatasi di
antara oesophagus dan usus halus. Lambung terletak di daerah kuadran kiri
atas, epigastrium dan region umbilikalis dan sebagian besar ditutupi oleh
costae. Sumbu panjang lambung berjalan ke bawah dan depan kanan dan
kemudian berjalan kebelakang dan sedikit ke atas. ( Snell, 2006 )
Fungsi lambung :
a. Menyimpan makanan pada orang dewasa lambung mempunyai
kapasitas sekitar 1500 ml.
b. Mencampur makanan dengan getah lambung untung membentuk
chymus yang setengah cair.
c. Mengatur kecepatan pengiriman chymus ke usus halus sehingga
pencernaan dan absorpsi yang efesien dapat berlangsung. ( Snell,
2006 )
II.A.2 Letak lambung
Lambung terletak di bagian atas abdomen, terbentang dari permukaan
bawah arcus costalis sinistra sampai regio epigastrika dan umbilikalis.
Sebagian besar lambung terletak di bawah costa bagian bawah. Secara kasar
lambung berbentuk huruf J dan mempunyai dua lubang ostium kardiakum dan
ostium pyloricum dua curvature, curvature major dan curvature minor dan dua
dinding paries anterior dan paries posterior. ( Snell, 2006 )
Lambung relatif terfiksasi pada kedua ujungnya,tetapi di antara ujung
ujung tersebut lambung sangat mudah bergerak. Lambung cenderung
terletak tinggi dan transversal pada orang pendek dan gemuk ( gaster steer
horn ) dan memanjang vertikal pada orang yang tinggi dan kurus ( gaster

berbentuk huruf J ). Bentuk gaster sangat berbeda pada orang yang sama dan
tergantung pada isi, posisi tubuh dan fase pernapasan. ( Snell, 2006 )

II.A.3 Pembagian lambung


Lambung di bagi menjadi bagian bagian berikut :
a. Fundus gastricum berbentuk kubah, menonjol ke atas dan terletak di sebelah
kiri ostium cardiacum. Biasanya fundus berisi penuh udara. Corpus gastricum
terbentang dari ostium cardiacum sampai incisura angularis, suatu lekukan
yang selalu ada pada bagian bawah curvature minor. Anthrum pyloricum
terbentang dari incisura angularis sampai pylorus. Pylorus merupakan bagian
lambung yang berbentuk tubular. Dinding otot pylorus yang tebal membentuk
musculus sphincter pyloricus. Rongga pylorus dinamakan canalis pyloricus.
b. Curvatura minor membentuk pinggir kanan gaster dan
terbentang dari ostium cardiacum sampai pylorus. Curvature
minor digantung pada hepar oleh omentum minus. Curvature
major jauh lebih panjang dibandingkan curvature minor dan
terbentang dari sisi kiri ostium cardiacum, melalui kubah
fundus dan sepanjang pinggir kiri gaster sampai ke pyloricus.
Ligamentum
curvautra

gastrolianale

major

sampai

terbentang
ke

lien

dari

dan

bagian

omentum

atas
majus

terbentang dari bagian bawah curvature major sampai ke


colon transversum.
c. Ostium cardiacum merupakan tempat oesophagus masuk
kelambung. Walaupun secara anatomis tidak ada sphincter,
tetapi terdapat mekanisme fisiologis yang mencegah regulasi
isi lambung ke dalam oesophagus.
d. Ostium pyloricum dibentuk oleh

canalis

pyloricus

yang

panjangnya sekitar 1 inci ( 2,5 cm ). Tunica muscularis stratum


circulare yang meliputi gaster jauh lebih tebal di daerah ini
dan membentuk musculus sphincter pyloricus secara anatomis
dan fisiologis. Pylorus terletak pada planum transpyloricum

dan posisinya dapat dikenali dengan adanya sedikit kontriksi


pada permukaan lambung, musculus sphincter pyloricus
mengatur kecepatan pengeluaran isi gaster ke duodenum.
( Snell, 2006 )
II.A.4 Histologi lambung

Dinding

lambung

tersusun

yakni mukosa, submukosa, muskularis,

menjadi

empat

dan serosa. Mucosa ialah

lapisan,
lapisan

dimana sel-sel mengeluarkan berbagai jenis cairan, seperti enzim, asam


lambung, dan hormon. Lapisan ini berbentuk seperti palung untuk
memperbesar perbandingan antara luas dan volume sehingga memperbanyak
volume getah lambung yang dapat dikeluarkan. Submukosa ialah lapisan
dimana pembuluh darah arteri dan vena dapat ditemukan untuk menyalurkan
nutrisi dan oksigen ke sel - sel perut sekaligus untuk membawa nutrisi yang
diserap, urea, dan karbon dioksida dari sel-sel tersebut. Muskularis adalah
lapisan otot yang membantu perut dalam pencernaan mekanis. ( Wikipedia )
Lapisan ini dibagi menjadi 3 lapisan otot, yakni otot melingkar,
memanjang, dan menyerong. Kontraksi dan ketiga macam lapisan otot
tersebut mengakibatkan gerak peristaltik (gerak menggelombang). Gerak
peristaltik menyebabkan makanan di dalam lambung diaduk-aduk. Lapisan
terluar yaitu serosa berfungsi sebagai lapisan pelindung perut. Sel-sel di
lapisan ini mengeluarkan sejenis cairan untuk mengurangi gaya gesekan yang
terjadi antara perut dengan anggota tubuh lainnya. ( Wikipedia )

Tunica mukosa lambung tebal, mengandung banyak pembuluh darah


dan terdiri atas banyak lipatan ( plica gastricae ) atau rugae yang arahnya
terutama longitudinal. Plica gastrica menjadi licin bila lambung teregang.
Tunica muscularis gaster mengandung stratum longitudinale, stratum
cirulare dan tunicamuscularis fibrae obliquae. Stratum longitudinal terletak
paling superficial dan paling banyak di sepanjang curvatura. Stratum circulare
yang letaknya di sepanjang curvature. Stratum circulare yang letaknya lebih
dalam mengelilingi corpus gastricum dan menjadi sangat tebal pada pylorus
utnuk membentuk muskulus sphincter pylorus. Tunica muscularis stratum
circulare sangat jarang ditemukan pada daerah fundus. Fibrae obliquae
membentk lapisan tunica muskularis yang paling dalam. Fibrae obliquae
membentuk lapisan tunica muskularis yang paling dalam. Fibrae obliquae
melingkari fundus dan berjalan turun sepanjang paries anterior dan posterior,
berjalan paralel dengan curvature minor. ( Snell 2006 )
II.A.5 Pendarahan
Arteri berasal dari cabang truncus coeliacus.

a. Arteri gastric sinistra bersal dari truncus coeliacus. Arteri ini berjalan
ke atas dan kiri untuk mencapai oesophagus dan kemudian berjalan
turun sepanjang curvatura minor gaster. Arteri gastrik sinistra
mendarahi sepertiga bawah oesophagus dan bagian kanan atas
lambung.
b. Arteri gastrika dextra berasal dari arteri hepatika communis pada
hilum lienale dan berjalan ke depan di dalam ligamentum
gastrosplenikum untuk mendarahi fundus.
c. Arteria gastricae brevis berasal dari arteri lienalis pada hilum lienale
dan berjalan ke depan di dalam ligamentum gastrospenicum untuk
mendarahi fundus.
d. Arteria gastroomentalis sinistra berasal dari arteria splenika pada
hilum lienale dan berjalan ke depan di dalam ligamentum gastrolienale
untuk mendarahi lambung sepanjang bagian atas cuvatura major.
e. Arteri gastroomentalis dextra berasal dari arteri gastroduodenalis.
Arteria ini berjalan ke kiri dan mendarahi lambung sepanjang bagian
bawah curvature major. ( Snell 2006 )
II.A.6 Vena
Vena vena ini mengalirkan darah ke dalam sirkulasi portal. Vena
gastrik sinistra dan dextra bermuara langsung ke vena portae hepatis. Vena
gastrica breves dan vena gastroomentalis sinistra bermuara ke dalam vena
lienalis. Vena gastroomentalis dextra bermuara ke dalam vena mesentrika
superior.

II.A.7 Aliran limfe


Pembuluh pembuluh limfe mengikuti perjalanan arteria menuju ke
nodi gastric sinistra dan dextra, nodi gastroomentalis sinistra dan dextra dan
nodi gastrik breves. Seluruh cairan limfe dari lambung akhirnya berjalan
melalui nodi koeliaki yang terdapat di sekitar pangkal trunkus koeliakus pada
dinding posterior abdomen.
II.B. Usus
II.B.1 Duodenum
Duodenum merupakan saluran berbentuk huruf C dengan panjang
sekitar 10 inci ( 25 cm ) yang merupakan organ penghubung gaster dengan
jejunum. Duodenum adalah organ penghubungan gaster dengan jejunum.
Duodenum adalah organ penting karena merupakan tempat muara dari ductus

choledochus dan ductus pancreaticus. Duodenum melengkung di sekitar caput


pancreatis. Satu inci (2,5 cm ) pertama duodenum menyerupai lambung, yang
permukaan anterior dan posteriornya diliputi oleh peritoneum dan mempunyai
omentum majus yang melekat pada pinggir atasnya dan omentum majus yang
melekat pada pinggir bawahnya. Bursa omentalis terletak di belakang segmen
yang pendek ini. Sisa duodenum yang lain terletak retroperitoneal, hanya saja
yang diliputi oleh peritoneum.

II.B.2 Pendarahan
arteriae setengah bagian atas duodenum diperdarahi oleh arteri
panceaticoduodenalis superior, cabang arteri gastroduodenalis. Setengah
bagian bawah di perdarahi oleh arteri pancreaticoduodenalis inferior, cabang
arteri mesenterica superior.
II.B.3 Vena
vena pancreaticoduodenalis superior bermuara ke vena portae hepatic
vena pancreaticoduodenalis inferior bermuara ke vena meseterica superior.

II.B.4 Aliran limfe


Pembuluh limfe mengikuti arteri dan bermuara ke :
Ke atas melalui nodi pancreaticoduodenales ke nodi gastroduodenales
dan kemudian ke nodi coeliaci Ke bawah melalui nodi pancreaticoduodenales
ke nodi mesenterici superior di sekitar pangkal arteri mesenterica superior.
II.B.5 Persarafan
Saraf saraf berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis ( vagus ) dari
plexus coeliacus dan plexus mesentericus superior.

II.C.1 Intestinum ( Usus halus )


Intestinum tenue merupakan bagian yang terpanjang dari saluran
pencernaan dan terbentang dari pylorus pada lambung sampai junkture
ileocaecallis. Sebagian besar pencernaan dan absorpsi makanan berlangsung
di dalam intestinum tenue.
Intestinum tenue dibagi menjadi tiga bagian : duodenum, jejunum dan
ileum. Duodenum merupakan bagian pertama instinum tenue dan sebagian
besar terletak dalam pada dinding posterior abdomen. Duodenum terletak
pada region epigastrica dan umbilicalis. Duodenum berbentuk seperti huruf C
yang terbentang dari lambung di sekitar kaput pankreas sampai ke jejunum.
Kira kira di pertengahan panjang duodenum bermuara duktus kholedokhus
dan duktus pankreatikus.
Panjang keseluruhan jejunum dan ileum sekitar 20 kaki ( 6 meter ) dua
per lima bagian atas adalah jejunum. Jejunum mulai dari junkture
duodenojejunalis dan berakhir pada junkture ileocaecalis lengkungan
lengkungan jejunum menempati bagian kiri atas cavitas abdominalis,
sedangkan ileum cendrung menempati bagian kanan bawah cavitas
abdominalis dan cavitas pelvis.
II.D.1 Intestinum crassum ( usus besar )
Intestinum crassum dibagi menjadi caecum, appendix vemiformis,
colon ascendens, colon transversum, colon descendens, colon sigmoidemum,
rectum dan canalis analis. Intestinum crassum melengkung dan meliputi
lengkung lengkung instestinum tenue dan cendrung lebih terfiksasi
dibandingkan intestinum tenue.

II.D.2 Pembagian usus besar


Usus besar di bagi menjadi :
a. caecum merupakan kantong dengan ujung buntu yang menonjol ke
bawah pada regio iliaca kanan dibawah junkture ileokaekalis.
Appendix vermiformis berbentuk seperti cacing dan berasal dari sisi
medial caecum.
b. Colon ascendens berjalan ke atas dari caecum ke permukaan inferior
lobus hepatis dextra, menempati regio kanan bawah dan kuadran atas
dan pada waktu mencapai hepar, colon ascendens membelok ke kiri
membentuk flexura coli dextra.
c. Colon transversum menyilang abdomen di regio umbilicalis dari
flexura coli dextra sampai flexura coli sinistra. Colon transversum
membentuk lengkungan berbentuk huruf U besar. Pada posisi berdiri,
bagian bawah U dapat turun sampai ke pelvis. Colon transversum,
pada waktu mencapai daerah lien melengkung ke bawah membentuk
flexura coli sinistra untuk menjadi colon descendens.
d. Colon descendens terbentang dari flexura coli sinistra sampai aperture
pelvis superior. Colon descendens menempati kuadran kiri atas dan
bawah.
e. Colon sigmoideum mulai pada aperture pelvis superior dan merupakan
lanjutan colon descendens. Colon ini tergantung ke bawah ke
dalam cavitas pelvis dalam bentuk sebuah lengkungan .colon
sigmoideum beralih menjadi rectum di depan os sacrum.
f. Rectum menempati bagian posterior cavitas pelvis. Ke atas merupakan
lanjutan colon sigmoideum dan berjalan ke bawah turun di depan os
sacrum, meninggalkan pelvis dengan menembus diaphragm pelvis. Di
sini rectum melanjutkan diri sebagai canalis analis di dalam perineum.

II.D.3 Intestinum crassum

Intestinum crassum dapat dibedakan dari intestinum tenue karena adanya :


a. Tiga pita otot yang menebal, dikenal sebagai taenia coli.
b. Sakulasi dinding intestinum crassum antara taenia coli, dikenal sebagai
haustra.
c. Kantong omentum yang kecil, berisi lemak, disebut appendices
epiploicae (omentale). ( moore 2002 )

II.E Peritoneum
II.E.1 Susunan umum peritoneum
Peritoneum merupakan membrane, serosa tipis yang melapisi dinding
cavitas abdominis dan cavitas pelvis serta meliputi visera abdomen dan pelvis.
Peritoneum dapat di anggap sebagai sebuah balon yang ke dalamnya organ
organ didorong ke dalam dari luar. Peritoneum parietale melapisi dinding
cavitas abdominis dan cavitas pelvis, sedangkan peritoneum visceral meliputi

organ organ. Rongga potensial di antara peritoneum parietale dan peritoneum


visceral yang berfungsi sebagai bagian dalam dari balon di namakan cavitas
peritonealis. Pada laki laki cavitas peritonealis merupakan ruang tertutup,
tetapi pada perempuan terdapat hubungan dengan dunia luar melalui tuba
uterine, uterus dan vagina.
Di antara peritoneum pariatale dan fascia yang melapisi dinding
abdomen dan pelvis terdapat selapis jaringan ikat yang disebut jaringan
extraperitoneal. Jumlah jaringan ini berbeda beda pada berbagai regio, dan
di daerah ren mengandung banyak lemak. Peritoneum visceral berhubungan
erat dengan viscera di bawahnya hanya melalui sedikit jaringan ikat.
Cavitas peritonealis ( rongga peritoneum ) dapat dibagi dalam dua
bagian : cavitas peritonealis ( kantong besar ) merupakan ruang utama cavitas
peritonealis yang terbentang dari diaphragm ke bawah sampai pelvis dan
bursa omentalis ( kantong kecil ) yang berukuran lebih kecil dan terletak di
belakang gaster. Kantong besar dan kantong kecil berhubungan bebas satu
dengan yang lain melalui sebuah jendela oval yang dinamakan foramen
omentale atau foramen epiploicum. Secret peritoneum berbentuk cairan serosa
dalam

jumlah

kecil

yang

membasahi

permukaan

peritoneum

dan

memungkinkan pergerakan diantara visera. ( Snell, 2006 )


II.E.2 Hubungan intraperitoneal dan retroperitoneal
Istilah interaperioneal dan retroperitoneal dipergunakan untuk
melukiskan hubungan berbagai organ dengan peritoneum yang meliputinya.
Sebuah organ dikatakan intraperitoneal kala hampir seluruh organ tersebut di
liputi oleh peritoneum visceral. Gaster, jejunum, ileum dan lien merupakan
contoh organ organ intraperitonea. Organ organ retroperitoneal terletak di
belakang peritoneum dan hanya sebagain diliputi oleh peritoneum visceral.
Pancreas, colon ascendens dan colon descendens merupakan contoh organ
retroperitoneal. Namun demikian, tidak ada organ yang seluruhnya terletak di

dalam cavitas peritonealis. Sebuah organ intraperitoneal, seperti gasterr,


tampaknya terletak di dalam cavitas peritonealis, tetapi gaster diliputi oleh
peritoneum visceral dan diletakan ke organ lain oleh omenta. ( Snell,
2006 )
II.E.3 Ligamentum peritonealia, omenta dan meseteria
Ligamentum peritonealia merupakan lipatan peritoneum berlapis
ganda yang menghubungkan viscera padat ke dinding abdomen. ( ligament
peritonealia tidak mempunyai jaringan fibrosa padat seperti yang dimiliki oleh
ligamentum yang terdapat pada tulang ). Oleh ligamentum falciforme,
ligamentum coromarium dan ligamentum triangulare dextra dan ligamentum
triangulare sinistra. ( Snell, 2006 )
Omenta

adalah

lipatan

peritoneum

berlapis

ganda

yang

menghubungkan gaster dengan organ organ berongga lainnya. Omentum


majus menghubungkan curvature major gaster dengan colon transversum
omentum majus tergantung seperti tirai di depan lengkungan intestinum tenue
dan melipat ke belakang untuk melekat pada colon transversum. Omentum
minus menggantungkan curvature minor gaster dari fissura ligamentum
venosi dan porta hepatis pada permukaan bawah hepar. Omentum
gastrosplenicum menghubungkan gaster dengan hilum lineale. ( Snell,
2006 )

Mesenteria merupakan lipatan peritoneum berlapis dua yang


menghubungkan bagian bagian usus ke dinding posterior abdomen,
misalnya mesenterium, mesocolon transversum dan mesocolon sigmoideum.
Ligamenta peritonealia, omenta dan mesenteria memungkinkan
pembuluh darah, pembuluh limfatik dan saraf mencapai viscera.
Untuk memahami perlekatan ligamentum peritonealia, mesenteria dan
sebagiannya dianjurkan untuk mengikuti jejak peritoneum di sekililing cavitas

abdominalis, mula mula pada arah transversal dan kemudian pada arah
vertikal. ( Snell, 2006 )
II.E.4 Peritoneum dilihat pada penampang transversal abdomen
Setinggi Vertebra Lumbalis IV
Peritoneum parietale yang melapisi dinding abdomen di bawah
umbilicus sangat halus permukaannya dan pinggir bawahnya di bentuk oleh
ligamentum umbilikalis medianum ( urachus, yang merupakan sisa alantois
janin, berjalan dari apex visica urinaria ke umbilicus ) dan ligamentum
umbilicale laterale (arteria umbilicalis yang berobliterasi, berjalan dari arteria
iliaca interna ke umbilicus).
Peritoneum parietale berjalan masuk ke dinding posterior abdomen
dan melanjutkan diri sebagai peritoneum visceral yang meliputi pinggir dan
permukaan anterior colon ascendens dan colon descendens. Pada daerah aorta
dan vena cava inferior, peritoneum parietale melanjutkan diri sebagai
mesenterium. Perhatikan adanya sulci paracolici sinistra yang terletak lateral
dan medial terhadap colon descendens. Perhatikan juga bahwa peritoneum
membentuk lapisan berkesinambungan yang dapat ditelusuri di sekitar cavitas
abdominalis tanpa terputus. ( Snell, 2006 )
II.E.5 Setinggi Vertebra Thoracica XII
Peritoneum parietale membatasi dinding anterior abdomen dan
membentuk lipatan berbentuk bulan sabit yang dinamakan ligamentum
falciforme, ligamentum ini menghubungkan facies anterior hepar dengan
dinding anterior abdomen di atas umbilicus dan diaphragma. Pada pinggir
bebas ligamentum, tempat kedua lapisan peritoneum bertemu terdapat
ligamentum teres hepatis. Ligamentum teres hepatis ini merupakan vena
umbilicalis janin yang berobliterasi, yang berjalan ke atas dan masuk ke

dalam alur di antara lobus quadrates dan lobus hepatis sinistra. ( Snell,
2006 )

Bila peritoneum parietale diikuti sepanjang dinding abdomen sisi kiri,


peritoneum ini mencapai pinggir lateral ren sinistra. Di sini, perioneum
parietale melanjutkan diri menjadi peritoneum viscerale yang meliputi pinggir
lateral dan sebagian facies anterior ren sinistra. Peritoneum ini kemudian
meninggalkan ren dan berjalan ke hilum lienale sebagai lapisan posterior
ligamentum lienorenale. Peritoneum visceral meliputi lien dan waktu
mencapai hilum lagi, peritoneum meliputi ke curvatura gastrica major sebagai
lapisan anterior omentum ( ligamentum ) gastrolienalis. ( Snell, 2006 )
Peritoneum visceral menutupi permukaan anterior gaster dan
meninggalkan curvature minor untuk membentuk lapisan anterior omentum
minus. Di kanan, omentum minus mempunyai pinggir bebas dan di sini
peritoneum melipat di sekitar ductus choledochus, arteria hepatica dan vena
portae hepatis. Pinggir bebas omentum minus membentuk pinggir anterior
foramen epiploicum ( foramen winslow ). ( Snell, 2006 )
Peritoneum membentuk lapisan posterior omentum minus dan
melanjut sebagai peritoneum visceral yang meliputi dinding posterior gaster.
Pada curvature gastric major, peritoneum meninggalkan gaster membentuk
lapisan posterior ligamentum gastrolienale dan mencapai hilum lineale. Di
sini peritoneum melipat ke belakang, ke dinding posterior abdomen,
membentuk lapisan anterior ligamentum lienorenale. Sekarang peritoneum
meliputi permukaan anterior pancreas, aorta dan vena cava inferior,
membentuk dinding posterior bursa omentalis peritoneum berjalan ke
permukaan anterior ren dextra dan berjalan di sekitar dinding lateral abdomen
untuk mencapai dinding anterior abdomen. Peritoneum membuat lapisan
kesinambungan di sekitar abdomen. ( Snell, 2006 )
II.E.6 Persyarafan peritoneum

Peritoneum parietale peka terhadap rasa nyeri, suhu, raba dan tekanan.
Peritoneum parietale yang membatasi dinding anterior abdomen di persyarafi
oleh enam nervi thoracici bagian bawah dan nervus lumbalis I ( L 1 ) yaitu
syaraf yang mensyarafi kulit dan otot otot yang ada di atasnya. Bagian
sentral peritoneum diaprhagmatika di persyarafi oleh nervus phrenicus, di
perifer, peritoneum diaprhragmatika dipersarafi oleh enam nervi thoracici
bagian bawah. Peritoneum parietale di dalam pelvis terutama dipersarafi oleh
nervus obturatorius, sebuah cabang plexus lumbalis. ( Snell, 2006 )
Peritoneum viscerale di persyarafi oleh saraf aferen otonom yang
menyarafi visera atau yang berjalan melalui mesenterium. Peregangan yang
berlebihan dari organ berongga menimbulkan rasa nyeri. Mesenterium dan
mesocolon peka terhadap regangan mekanik. ( Snell, 2006 )
II.E.7 Fungsi peritoneum
Cairan peritoneal yang berwarna kuning pucat dan sedikit kental,
mengandung leukosit. Cairan ini disekresi oleh peritoneum dan menjamin
viscera abdomen dapat bergerak dengan mudah satu dengan yang lain.
Sebagai akibat pergerakan peristaltik saluran pencernaan, cairan peritoneal
tidak statis. Bukti- bukti penelitian menunjukkan bahwa suatu senyawa
tertentu yang dimasukkan kedalam bagian bawah cavitas peritonealis akan
segera sampai ke recessus subphrenicus, tidak tergantung pada posisi tubuh,
tampaknya terdapat pergerakan cairan intraperitoneal yang terus menerus
menuju ke diaphragma dan cairan ini dengan cepat diabsorpsi ke dalam
kapiler limfatik subperitoneal. ( Snell, 2006 )
Keadaan ini dapat dijelaskan berdasarkan pada daerah peritoneum
yang luas di daerah diaphragma dan pergerakan pernafasan diphragma yang
membantu aliran cairan limfe di dalam pembuluh limfe.
Peritoneum yang meliputi usus cenderung saling melekat bila terdapat
infeksi. Omentum majus yang terus menerus bergerak akibat gerakan

peristaltic saluran pencernaan yang ada di dekatnya, dapat melekat pada


permukaan peritoneum lainnya di sekitar focus infeksi. Dengan cara ini,
banyak infeksi peritoneal di tutup dan tetap terlokalisir.
Lipatan

peritoneum

memegang

peranan

penting

untuk

menggantungkan berbagai organ di dalam cavitas peritonealis dan berperan


sebagai tempat jalannya pembulluh darah, pembuluh limfe dan saraf saraf
ke organ organ tersebut.
a. Sejumlah besar lemak di simpan dalam ligametum perineale dan

mesenteria dan khususnya pada omentum majus mungkin dapat di


temukan lemak dalam jumlah yang cukup besar. ( Snell, 2006 )

DAFTAR PUSTAKA
1. Snell, Richard. S. 2006. Anatomi Klinis untuk Mahasiswa Edisi 6. EGC.
Jakarta.
2. Moore, Keith. L, Anne M. R. Agur. 2002.

Anatomi Klinik Dasar.

Hiopokrates. Jakarta.
3. Faiz, Omar, david moffat. At a Glance Series. Erlangga. 2003.
4. Eroschenko, Victor. P 2003. Atlas Histologi di Fiore. EGC. Jakarta.
5. Google, Wikipedia. Search , Histologi Lambung.