Anda di halaman 1dari 34
PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN LAPORAN PRAKTIKUM Diajukan Guna Memenuhi Tugas Praktikum Pengantar Teknologi Pertanian Oleh :

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN

LAPORAN PRAKTIKUM

Diajukan Guna Memenuhi Tugas Praktikum Pengantar Teknologi Pertanian

Oleh :

Kelompok L2

Fitra Dea Wafa

(151510501167)

Bagus A.

(121510501133)

Gisa Alif Firmanda

(141510501173)

Muhammad Irham

(141510501269)

Nafia Dieta Deviyanti

(151510501046)

Ari Firnanda Pangestutik

(151510501105)

Syadin Sumartono

(151510501110)

Izzul Lubaba

(151510501114)

Ahmad Sya’bani

(151510501142)

Anggita Dwi Wulandari

(151510501145)

Nurelita Dewi Ayu Anggraeni

(151510501146)

Whiliyan Babat Arung S.

(151510501193)

Nanda Tiara

(151510501142)

LABORATORIUM AGROTEKOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

2016

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanaman padi merupakan tanaman pangan dan sumber utama sebagai bahan pangan bagi masyarakat Indonesia. Pertumbuhan penduduk semakin bertambah seiring berjalannya waktu, sehingga kebutuhan beras juga semakin bertambah dan dibutuhkan upaya peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan. Menurut Nizar (2011) dan Rosba dan Catri (2015) menyatakan bahwa setiap usaha peningkatan mendapatkan sebuah kendala, salah satu kendala dalam peningkatan produksi tanaman padi yaitu serangan hama serengga. Serangan hama salah satunya terjadi disebabkan oleh Leptocorisa acuta Thubn. atau lebih dikenal dengan seragga walang sangit. Hama walang sangit ini merupakan hama yang begitu penting bagi tanaman padi pada fase generatif. Serangan hama walang sangit ini terjadi sebelum proses matang susu akan menyebabkan gabah hampa, sedangkan serangan hama pada saat bulir telah berisi dan menjelang masak maka menyebabkan gabah akan berwarna buram dan memiliki kualitas rendah. Mekanisme serangan walang sangit ini pada bulir tanaman padi dengan

cara menghisap cairan tanaman dan mengakibatkan bulir padi hampa dan sangat mudah pecah pada saat proses penggilingan.

Hama lain yang menyerang tanaman padi adalah penggerek batang padi. Jenis penggerek batang padi yang berada di Indonesia terbagi menjadi empat jenis antara lain yaitu S. incertulas, S.innotata, C. suppressalis dan S. inferens. Hama penggerek batang padi ini mneyerang pada fase vegetatif, larva memotong bagian tengah anakan yang menyebabkan terjadinya dampak pucuk layu dan kering ataupun mati. Kerugian yang besar terjadi apabila serangan hama pada saat tanaman padi dalam fase tanaman padi mulai berisi (Hadi dkk., 2013). Jenis penggerek batang tanaman padi ini paling dominan dalam skala penyerangan tanaman padi pada beberapa daerah di Indonesia adalah jenis penggerek batang padi kuning dan kemudian diikuti dengan penggerek batang tanaman padi putih. intensitas penyerangan hama ini terjadi lebih tinggi pada musim penghujan bersamaan dengan tanaman padi yang melimpah (Hadi dkk., 2015).

Budidaya tanaman sangat sering mendapatkan sebuah masalah yang terjadi dengan sebab organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Organisme Penganggu Tanaman (OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak, menganggu kehidupan atau menyebabkan kematian tumbuhan antara lain penyakit, hama dan gulma. Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) menggunakan sistem pengendalian hama terpadu (PHT). Sistem pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan sebuah upaya pengendalian populasi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan menggunakan satu atau lebih berbagai teknis pengendalian dengan pengembangan dalam satu kesatuan dan bertujuan untuk mencegah kerugian ekonomis dan terjadinya kerusakan lingkunngan. Teknik pengendalian hama terdiri dari pengendalian secara kultur teknis atau bercocok tanam, fisik, mekanis, biologi atau hayati dan kimia (Nurwadani, 2008).

Pengendalian hama terpadu (PHT) harus dilakukan dengan penyesuaian kondisi tanaman yang akan di budidaya. Penyesuaian kondisi tanaman tersebut

dapat mempengaruhi kondisi tanaman yang akan dibudidayakan maupun masyarakat yang akan mengkonsumsi hasil produksi tersebut. Contoh kerugian yang terjadi apabila pengendalian hama terpadu (PHT) tanpa adanya penyesuaian kondisi antara lain penggunaan pestisida yang berlebihan. Kerugian yang akan terjadi adalah dampak negatif yang akan mengganggu kesehatan manusia, merusak kualitas lingkungan sekitar dan akan meningkatkan perkembangan populasi jasad pengganggu tanaman (Hanum, 2008). Teknik pemberantasan hama serangga yang lebih sering dilakukan pada lingkungan para petani yaitu penggunaan varietas tahan atau resisten, teknik budidaya, sanitasi, penggunaan insktisida, pengendalian secara biologi (Nurwadani, 2008).

Menurut Semangun (2000) dalam Gusnatawy dkk. (2014), teknik pengendalian hama terpadu (PHT) secara biologi atau hayati dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami, sebagai contoh menggunakan Trichoderma

sp ..

Trichoderma sp. dapat mengendalikan patogen pada tanaman. Patogen pada

tanaman padi diantaranya adalah Rhizoctonia oryzae. Patogen tersebut dapat menyebabkan rebahnya kecambah pada tanaman padi. Keuntungan pengendalian organisme pangganggu tumbuhan (OPT) menggunakan musuh alami sangat baik dalam pelestarian ekosistem di sekitar tanaman yang dibudidayakan. Penggunaan musuh alami ini memiliki persentase yang sangat kecil dalam penggunaan bahan- bahan kimiawi yang dapat merusak ekosistem apabila digunakan secara berlebih.

Teknik pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) secara hayati atau biologi ini selain menggunakan musuh alami, menurut Wonorahardjo (2013) dalam Wonohardjo dkk. (2015) menyatakan bahwa dengan menggunakan senyawa volatil. Senyawa volatil merupakan senyawa yang diproduksi oleh tanaman sebagai akibat dari proses infestasi serangga herbivora yang berguna untuk menarik musuh alami atau sering disebut dengan atraktan. Atraktan ini merupakan salah satu cara dalam pengendalian hama dan sebagai komponen utama dalam sistem pengendalian hama terpadu (PHT). Pengendalian hama juga dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara preventif dan kuratif. Cara preventif yaitu cara pencegahan adanya organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan

cara membuat pertumbuhan tanaman dalam kondisi sesehat mungkin, cara preventif ini sering dilakukan dengan memberi pupuk yang seimbang dan melakukan sanitasi pada lingkungan yang dibudidayakan. Cara kuratif merupakan cara dengan pemberantasan terhadap hama dan penyakit. Cara kuratif lebih sering menggunakan cara pemberian pestisida, gropyokan untuk pemberantasan tikus dan pencabutan kemudian pembuangan tanaman yang terserang (Nurwadani,

2008).

  • 1.2 Tujuan

  • 1. Mengetahui cara pemantauan, pengamatan dan pengendalian OPT di sawah. Mengetahui nilai ambang ekonomi beberapa serangga yang menyerang

2.

tanaman padi.

BAB 2. METODE PRAKTIKUM

  • 2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Pengantar Teknologi Pertanian Acara Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan dilaksanakan pada hari Kamis, 28 April pukul 15.00- selesai bertempat di Agrotechnopark Jubung.

2.2

Alat dan Bahan

2.2.1

Alat

  • 1. Tali rafia

  • 2. Ajir bambu

  • 3. Gelas air mineral, karet gelang, plantik kiloan, dan kresek besar

  • 4. Meteran

2.2.2

Bahan

1.

Tanaman Padi

2.3

Cara Kerja

  • 1. Menentukan petak contoh (sampel) dengan ukuran 2x2 m.

  • 2. Lakukan pengamatan OPT (hama dan penyakit) pada petak contoh dengan menggunakan jaring serangga.

  • 3. Serangga yang diperoleh kemudian dimasukkan pada gelas plastik.

  • 4. Tentukan antara serangga yang merugikan dan serangga yang menguntungkan.

  • 5. Hitung jumlah serangga yang merugikan dan menguntungkan berdasarkan spesiesnya, kemudian saudara rata-rata dengan kelompok lain dalam satu kelas.

  • 6. Berdasarkan hasil saudara, kemudian tentukan apakah lahan tersebut perlu dikendalikan atau tidak perlu dikendalikan berdasarkan ambang ekonomi serangga tersebut.

  • 7. Nilai ambang ekonomi beberapa seranggayang menyerang tanaman padi.

BAB 3. HASIL

3.1 Tabel Hasil Pengamatan Pengendalian Hama

PEKERJAAN PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN

Petak Contoh

Jenis OPT (Hama)

Jumlah

1.

Koeng Mas

3

Belalang

2

2.

Belalang

2

Laba-laba (Predator)

1

3.

 

1

Belalang

10

Wereng coklat

4.

Belalang

4

Laba-laba (Predator)

1

5.

 

1

Belalang hijau

Belalang coklat

4

Kutu putih

2

Laba-laba (Predator)

 

1

6.

Belalang

3

 

Kutu putih

1

Kutu hitam

1

   

0,125/m 2

Keong mas

Belalang

0,625/m 2

Rata-rata

Wereng coklat

0,450/m 2

Kutu putih

0,040/m 2

Kutu hitam

Laba-laba (Predator)

0,040/m 2

 

0,125/m 2

3.2 Hasil Pengamatan Pengendalian Penyakit

PEKERJAAN PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN

Petak Contoh

Jenis OPT (Penyakit)

Jumlah

1.

Hawar daun

1 %

Bercak coklat

5%

Blast

5%

2.

Hawar daun

4%

Blast

3%

Daun menguning

4%

3.

Hawar daun

12%

Bercak coklat

3%

4.

Hawar daun bakteri (5 rumpun)

4,13%

5.

Hawar (39 rumpun)

33,3%

Batang berjamur (50 rumpun)

42,7%

6.

Bercak coklat

5%

 

Kerdil

10%

Tungro

15%

 

Hawar daun

2,27%/ m 2

Bercak coklat

0,54%/m 2

Blast

0,33%/m 2

Rata-rata

Daun menguning

0,165%/m 2

Batang berjamur

Kerdil

1,77%/m 2

Tungro

0,415%/m 2 0,625/m 2

3.3 Hasil Pengamatan Pengendalian Gulma

PEKERJAAN PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN

Petak Contoh

Jenis OPT (Gulma)

Jumlah

1.

Keyumbang

4

Rumput teki

5

Rumput bede

13

Gratala Juncela

6

2.

Cyperus rontudu L.

3

Ipome reptaluspan

1

Oxalis caraicralat

2

3.

Rumput teki

3

4.

Rumput teki

2

Kangkung

2

5.

Daun sempit

65

Menjalur

2

Rumput

70

 

6.

Berdaun lebar

30%

Rumput teki

15%

Berdaun sempit

60%

   

1,16/m 2

Rumput teki

2,5/m 2

Daun sempit

Daun lebar

1,25/m 2

Rata-rata

Kangkung

0,125/m 2

Menjalar

2,5/m 2

Oxalis corniculata

Cyperus rontodus L.

0,07/m 2

0,125/m 2

BAB 4. PEMBAHASAN

Berdasarkan kegiatan praktikum acara “Pengendalian Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT) dengan pengamatan yang menggunakan petak sampel dengan ukuran 2x2 m. Hasil dari pengamatan tersebut diantara memiliki hasil yang sama dengan pengamatan dari kelompok satu sampai kelompok enam. Pengamatan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) ini meliputi hama, penyakit dan gulma. Hasil pengamatan pengendalian hama dari kelompok satu meliputi keong mas sejumlah 3 dan belalang sebanyak 2, sedangkan kelompok dua mendapatkan hasil yaitu hama berjumlah 2 ekor belalang dan seekor predator laba-laba. Kelompok tiga mendapatkan hama antara lain seekor belalang dan 10 ekor wereng coklat. Kelompok empat mendapatkan hasil hama belalang sebanyak 4 ekor dan seekor predator laba-laba, sedangkan kelompok lima mendapatkan hasil jenis hama belalang hijau dengan jumlah 1, belalang coklat sebanyak 4, 2 ekor kutu putih dan seekor predator laba-laba. Kelompok terakhir yaitu kelompok enam mendapatkan jenis hama belalang sebanyak 3, seekor kutu putih dan seekor kutu hitam.

Pengamatan kedua yaitu pengamatan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dalam bentuk penyakit. Hasil pengamatan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) ini menggunakan jumlah persentase. Perhitungan jumlah persentase penyakit dapat menggunakan rumus:

BAB 4. PEMBAHASAN Berdasarkan kegiatan praktikum acara “Pengendalian Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT) dengan pengamatan yang menggunakan

Jumlah rumpun mengidap penyakit / populasi tanaman satu petak sampel x 100%

Berdasarkan perhitungan mneggunakan rumus diatas dapat disimpulkan bahwa kelompok satu mendapatkan beberapa jenis penyakit antara lain hawar daun dengan persentase 1 %, bercak coklat sebesar 5 % dan blast dengan angka persentase 5%. Kelompok dua mendapatkan penyakit hawar daun sebesar 4%, blast dengan persentase 3% dan daun menguning berpersentase sebesar 4%. Kelompok tiga mendapatkan hawar daun dengan persentase 12% dan penyakit bercak coklat berpersentase sebesar 3%. Kelompok empat mendapatkan hasil yaitu hawar daun bakteri sebesar 4,13% dan kelompok lima mendapatkan hasil antara lain yaitu hawar dengan persentase 33,3% dan batang berjamur yang memiliki persentase lebih besar yaitu 42%. Kelompok enama mendapatkan bercak coklat dengan persentase 5%, penyakit kerdil memiliki persentase lebih besar yaitu 10% dan tungro yang mendominasi petak sampel kelompok enam dengan persentase 15%.

Pengamatan terakhir yaitu pengamatan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) berbentuk gulma. Kelompok satu mendapatkan gulma yang berbeda beda antara lain kiyumbuh dengan jumlah 4 buah, rumput teki sebanyak 5 buah, rumput bede dengan jumlah 13 buah dan Gratala juncela sebanyak 6 buah. kelompk dua mendapatkan tiga jenis gulma antara lain Cyperus rotundus L. dengan jumlah 3 buah, sebuah jenis Ipome reptaluspan dan Oxalis caraicralat sebanyak 2 buah. Kelompok tiga mendapatkan satu jenis gulma yaitu rumput teki dengan jumlah 3 buah, sedangkan kelompok empat menemukan dua jenis gulma antara lain rumput teki sebanyak 2 buah dan tanaman kangkung dengan jumlah 2 buah juga. Kelompok lima mendapatkan daun sempit sebanyak 65 buah, menjalar 2 buah dan rumput 70 buah. kelompok enam mendapatkan berdaun lebar 30%, rumput teki 15% dan berdaun sempit 60%.

Menurut Djojosumarto (2008), penentuan aplikasi pestisida didasarkan pada ambang ekonomi (AE) istilah lain dari ambang ekonomi adalah ambang pengendalian (AP). Cara penentuan ini merupakan salah satu cara aplikasi kuratif dan merupakan suatu cara tindakan pengendalian yang dianjurkan dalam pengendalian hama terpadu (PHT). Waktu penggunaan cara ini dilakukan pada

saat hama telah mencapai pada batasan tertentu. Batasan nilai tertentu tersebut disebut dengan ambang ekonomi atau ambang pengendalian. Contoh ambang ekonomi terhadap hama wereng. Ambang ekonomi hama wereng adalah 10 ekor nimfa wereng per rumpun padi. Berdasarkan penentuan ambang ekonomi menurut Novizan (2002) dapat dibedakan pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Contoh penetapan nilai ambang ekonomi beberapa jenis hama

Jenis Hama

Ambang Ekonomi

Penggerek batang padi

1 kelompok telur/m 2 atau

intensitas serangan rata- rata 10% > 1 ekor/tanaman

Wereng punggung putih pada padi

5 ekor/m 2 pada tahap

Walang sangit pada tanaman padi

tanaman setelah berbunga > 5 ekor/m 2

> 10 ekor nimfa/35 helai

Ulat grayak pada tanaman padi

daun > 5 ekor ulat setiap 10

Kutu daun (Myzus persicae) pada bawang

tanaman > 3 tongkol rusak/30

merah Ulat grayak pada tanaman kubis

tanaman > 2 ekor larva/tanaman

> 1 ekor pada 6 tanaman

Intensitas serangan >

Penggerek tongkol (Herbiothis sp.) pada

12,5%

jagung Ulat grayak pada cabai Thrips pada tomat Pengisap daun (Empoasca sp.) pada kacang tanah Lalat Agramyza sp. pada kacang panjang

Intensitas serangan > 1%

Pengendalian serangan hama tanaman padi, perlu diketahui jenis-jenis serangga hama serta kepadatan populasinya, sehingga para petani dapat melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian yang tepat agar populasi hama

tidak melewati batas ambang ekonomi yang diakibatkan oleh serangga hama (Umboh dkk., 2013). Ambang ekonomi pada hama wereng coklat adalah 4 ekor/rumpun pada fase vegetatif dan 7 ekor/rumpun pada fase generatif. Menurut Wijayanto dkk. (2013), penetapan ambang ekonomi untuk wereng coklat adalah rata-rata 10 ekor per rumpun pada saat umur padi kurang dari 40 hst dan rata-rata 20 ekor per rumpun untuk umur tanaman padi lebih dari 40 hst. Ambang ekonomi untuk hama keong mas harus dilakukan pengendalian pada 10 hari pertama pada padi tanam pindah dan sebelum tanaman padi berumur 21 hari pada sistem tabela.

Hama belalang kayu memiliki ambang ekonomi atau ambang pengendalian apabila intensitas serangan di atas 15%. Ambang kendali pada belalang hijau yaitu 50% rumpun rusak pada umur tanaman padi sebelum 20 hari, 15% tanaman rusak pada umur 20-85 hari. Hama belalang coklat merupakan nama lain yang dikenal oleh masyarakat dari nama hama belalang kayu, sehingga ambang ekonomi yang dimiliki hama belalang coklat sama dengan ambang ekonomi belalang kayu. Hama kutu putih dan hama kutu hitam merupakan hama kutu daun yang menyerang tanaman padi. Penyerangan tanaman padi ini bertuju pada bagian daun tanaman padi yang berumur muda. Ambang kendali untuk kutu daun ini berkisar 25-30 ekor.

Berdasarkan ulasan ambang ekonomi atau ambang pengendalian di atas, dapat disimpulkan bahwa pada praktikum acara “Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan” setiap OPT yang ada tidak membutuhkan pengendalian OPT secara menyeluruh. Pengendalian OPT yang diperlukan hanya pada garis besar dalam penanganan OPT yang berada pada areal tanaman padi. Penggunaan pestisida dapat dihindari karena penyesuaian yang tidak melebihi ambang batas OPT.

Manfaat pemahaman tentang ambang ekonomi (AE) ini adalah untuk mengerti waktu digunakannya pengendalian OPT dengan sistem menyeluruh. Pengendalian OPT yang melewati batas ambang ekonomi ini biasanya dilakukan dengan pemberian pestisida. Ambang ekonomi merupakan sebuah batas dimana

pihak petani dapat menggunakan pengendalian atau pencegahan adanya OPT yang akan terdapat pada areal tanaman. Harapan untuk penyeseuaian ambang ekonomi ini adalah dapat menekan adanya serangan OPT dan dapat mengurangi pengaruh kerugian terhadap ekonomi, namun menurut Jailanis dkk. (2014), para petani di negara Indonesia masih jarang menggunakan ambang ekonomi atau ambang pengendalian OPT yang menyerang tanaman yang dibudidayakan. Tanpa penggunaan AE dalam pengendalian OPT memiliki dampak yang dapat merugikan para petani dari penggunaan pestisida yang berlebihan dengan penyebab tingkat pemahaman petani yang kurang, dapatnya kerugian apabila tidak menjalankan pengendalian OPT semasa serangan OPT masih dapat dikendalikan.

Hama merupakan semua binatang yang merugikan dan mengganggu tanaman yang sedang dibudidayakan oleh pihak petani. Menurut Wiyono dkk. (2014), ledakan hama pada padi yang paling penting adalah wereng batang coklat (WBC). Hama lain yang dapat menyerang tanaman padi pada praktikum acara “Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan” antara lain yaitu keong mas, belalang kayu, kutu putih dan kutu hitam. Hama hama tersebut memiliki klasifikasi dan setiap hama memiliki morfologi yang berbeda-beda, morfologi tersebut harus diketuhi oleh petani agar dapat melakukan pengendalian OPT yang tepat.

a) Keong Mas

Klasifikasi keong mas sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum

: Moluska

Kelas

: Gastropoda

Ordo

: Pulmolata

Famili

: Ampullaridae

Genus

: Pomacea

Spesies

: Pomacea canaliculata L.

Morfologi keong mas sebagai berikut:

Bentuk cangkang keong mas memiliki kemiripan dengan siput sawah yang lebih dikenal dengan sebutan gondang. Perbedaan dari cangkang keong mas dengan gondang adalah cangkang keong mas berwarna kuning keemasn hingga berwarna coklat transparan dan cangkang keong mas lebih tipis. Daging yang dimiliki bertekstur lembut yang memiliki warna krem keputihan hingg merah keemasan atau warna oranye kekuningan. Ukuran keong mas biasanya ±10 cm dan diameter cangkang ±4-5 cm. Keong mas bertelur di tempat kering dengan memiliki ketinggian ±10-13 cm dari permukaan air. Bentuk kelompok telur keong memanjang dengan berwarna merah jambu dan memiliki panjang lebih > 3 cm dan lebar ±1-3 cm. Bobot kelompok telur keong mas ±4-7 mg.

Gejala serangan keong mas sebagai berikut:

Serangan keong mas pada tanaman padi dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya yang menyebabkan adanya bibit yang hilang pada pertanaman. Keong mas pada umumnya memakan tanaman muda yang baru ditanam dan bekas potongan daun atau batang yang diserang akan terlihat mengambang. Serangan keong mas yang memiliki intensitas tinggi akan mengakibatkan tanaman padi yang baru di tanam akan habis total (Wijayanto dkk., 2013).

b). Belalang Kayu

Klasifikasi belalang kayu sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Orthoptera

Famili

: Acricoidea

Genus

: Valanga

Spesies

: Valanga nigricornis

Morfologi belalang kayu sebagai berikut:

Belalang kayu memiliki tiga bagian yang utama yaitu kepala, thoraks dan abdomen. Belalang kayu memiliki 6 kaki yang bersendi, 2 pasang sayap dan 2 antena. Kegunaan kaki belakang yang lebih panjang adalah untuk melompat dan kaki bagian depan berfungsi untuk berjalan. Belalang kayu merupakan serangga yang bernafas menggunakan trakea dan masuk dalam hewan berkerangka luas. Ukuran belalang kayu betina lebih besar yang berkisar ±58-71 mm dan ukuran belalang jantan ±49-63 mm.

Gejala serangan belalang kayu sebagai berikut:

Belalang kayu merupakan tipe serangga pemakan daun. Bagian mulut dari belakang yang dimiliki oleh belalang kayu bertipe penggigit atau pengunyah. Akibat serangan belalang kayu ini adalah berlubangnya daun yang dimulai dari tipe tanaman dengan kerusakan daun yang lebar.

c). Wereng Coklat

Klasifikasi wereng coklat sebagai berikut:

Kerajaan

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Hemiptera

Famili

: Delphacidae

Genus

: Nilaparvata

Spesies

: Nilaparvata lugens

Morfologi wereng coklat sebagai berikut:

Wereng coklat memiliki dua tipe yaitu wereng coklat bersayap panjang dan wereng coklat bersayap pendek. Wereng coklat memiliki tipe mulut yaitu tipe mulut penghisap. Wereng coklat pada fase bertelur akan menempatkan telurnya pada pangkal pelepah daun. Tempat pangkal pelepah daun ini juga merupakan tempat hidup nimfa wereng coklat. Habibat wereng coklat berpindah-pindah, dapat hidup pada rerumputan ataupun gulma sebagai inang.

Gejala serangan wereng coklat sebagai berikut:

Tanaman padi yang terserang oleh wereng coklat akan menjadi layu dan daun akan menguning dimulai dari daun yang tua kemudian akan meluas ke seluruh bagian tanaman dan menyebabkan terjadinya kematian pada tanaman padi. Wereng coklat dengan populasi tinggi dapat mengakibatkan matinya tanaman padi di hamparan yang luas dapat menyebabkan terjadinya puso. Populasi wereng tinggi dan varietas yang ditanam rentan dengan serangan wereng coklat akan mengakibatkan tanaman seperti terbakar. Wereng coklat juga dapat menularkan penyakit virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput (Wijayanto dkk., 2013).

d). Belalang Hijau

Klasifikasi belalang hijau sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Orthoptera

Famili

: Acrididae

Genus

: Oxya

Spesies

: Oxya chinensis

Morfologi belalang hijau sebagai berikut:

Belalang hijau memiliki morfologi yang sama dengan belalang kayu. Belalang hijau memiliki tiga bagian utama yaitu kepala, thoraks dan abdomen. Belalang hiaju memiiki enam kaki, 2 pasang sayap dan 2 antena.

Gejala serangan belalang hijau sebagai berikut:

Serangan belalang hijau adalah terjadinya pembentukan lubang pada daun yang apabila serangan belalang hijau dengan intensitas tinggi akan menyebabkan kerusakan tanaman yang lebar. Pembentukan lubang pada daun disebabkan oleh tipe mulut yang dimiliki oleh belalang hijau. Tipe mulut belalang hijau adalah tipe penggigit atau pengunyah.

e). Kutu putih

Klasifikasi kutu putih sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthtopoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Hemiptera

Famili

: Pseudococcidae

Genus

: Pseudococcus

Spesies

: Pseudococcus sp.

Morfologi kutu putih sebagai berikut:

Kutu putih mempunyai kepala, thoraks, abdomen dan tungkai. Kutu putih memiliki alat mulut yang menusuk dan menghisap. Kutu putih terbagi menjadi dua tipe kutu putih bersayap dan kutu putih tidak bersayap. Nimfa dan imago kutu putih ini hidup bergerombol.

Gejala serangan kutu putih sebagai berikut:

Tanaman yang terserang oleh kutu putih ini akan gagal membentuk tunas baru, daun tua akan menguning kemudian layu dan akan rontok satu per satu. Bagian akar tanaman akan semakin kempis, permukaan akar cekung dan tampak kurus. Intensitas serangan kutu putih apabila tinggi akan menyebabkan tanaman mati.

f). Kutu Hitam

Klasifikasi kutu hitam sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insekta

Ordo

: Hemiptera

Famili

: Aphididae

Genus

: Toxopter

Spesies

: Toxoptera aurantii

Morfologi kutu hitam sebagai berikut:

Kutu daun hitam memiliki ukuran ±1-6 mm. Bertubuh lunak dan bentuk tubuh kutu daun hitam ini seperti buah per. Pergerakan kutu daun hitam ini dapat dikatakan rendah dan hidup kutu daun hitam secara berkoloni atau bergerombol kutu daun hitam memiliki pembuluh sayap bagian depan dengan warna hitam dan tidak bercabang.

Gejala serangan kutu hitam sebagai berikut:

Kutu hitam akan menyerang tunas dan daun muda dengan cara menghisap cairan tanaman yang ada, sehingga menyebabkan helai daun tanaman akan menggulung. Kutu daun hitam ini menghasilkan embun madu yang dapat melapisi permukaan daun sehingga merangsang pertumbuhan jamur. Kutu daun hitam ini juga dapat mengeluarkan toksin melalui air liurnya sehingga akan timbul gejala kerdil, deformasi dan terbentuknya puru pada helaian daun.

Menurut Moningka dkk. (2012), musuh-musuh alami dapat mengendalikan serangan hama secara alami manakala lingkungan sekitar memungkinkan untuk berkembangnya musuh alami tersebut. Jenis musuh alami di Indonesia memiliki berbagai macam jenis. Musuh alami yang didapat pada praktikum kali ini adalah laba-laba.

a). Laba-laba

Kerajaan

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Arachnida

Ordo

: Araneae

Genus

: Salcitus

Spesies

: Salcitus scenicus

Morfologi laba-laba sebagai berikut:

Laba-laba memiliki dua bagian tibuh antara lain segmen bagian depan dan segmen bagian belakang. Segmen bagian depan ini disebut cephalothorax yang merupakan gabungan dari kepala dan thoraks, sedangkan segmen bagian belakang disebut abdomen. Penghubung antara cephalothorax dan abdomen ialah penghubung tipis yang dinamakan dengan pedicle. Empat pasang kaki dan satu sampai empat pasang mata terdapat pada cephalothorax. Laba-laba tidak memiliki mulut atau gigi pengunyah, tipe mulut laba-laba adalah alat penghisap yang berfungsi untuk menghisap cairan tubuh mangsanya.

Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) salah satunya adalah penyakit. Penyakit dapat disebabkan oleh bakteri, virus, nematoda dan jamur. Penyakit yang menyerang tanaman padi di Indonesia salah satunya yang sering ditemukan adalah penyakit tungro (Thamrin dkk., 2012). Penyakit lain yang ditemukan pada praktikum ini yang dapat menyerang tanaman padi antara lain yaitu hawar daun, bercak coklat, blast, daun menguning, hawar daun bakteri dan kerdil. Hawar daun dan hawar daun bakteri ini adalah penyakit yang sama.

a). Hawar Daun atau Hawar Daun Bakteri

Penyebab penyakit hawar daun atau hawar daun bakteri sebagai berikut:

- Bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae

Gejala penyakit hawar daun atau hawar daun bakteri sebagai berikut:

Serangan bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae ini apabila pada awal pertumbuhan akan menyebabkan tanaman padi menjadi layu dan kemudian mati, gejala ini disebut dengan kresek. Gejala kresek memiliki kemiripan dengan gejala sundep yang timbul disebabkan oleh serangan penggerek batang pada fase tanaman vegetatif. Penyakit hawar daun bakteri pada tanaman dewasa ini dapat menimbulkan gejala hawa. Gejala kresek ataupun gejala hawar daun ini dimulai dari tepi daun, berwarna keabu-abuan dan kemudian daun akan menjadi kering.

Pengendalian penyakit hawar daun atau hawar daun bakteri sebagai berikut:

Menanam varietas tahan penyakit hawar daun. Varietas tahan penyakit ini antara lain adalah IR 46, IR 36, cipunegara dan cisadane. Pengendalian lain dapat dilakukan dengan melakukan sanitasi lingkungan, pengendalian dengan bakterisida dan menghindari luka mekanis.

b). Bercak Coklat

Penyebab penyakit bercak coklat sebagai berikut:

- Jamur Helmintosporium oryzae

Gejala penyakit bercak coklat sebagai berikut:

Gejala khas yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah terdapat bercak coklat pada daun dan berbentuk oval yang merata di permukaan daun dengan memiliki titik tengah yang berwarna abu-abu atau putih. bercak yang masih muda akan berwarna coklat gelap atau keunguan dan berbentuk bulat. Serangan berat akan menyebakan penginfeksian gabah dengan gejala bercak dengan warna hitam atau coklat gelap pada gabah. Jamur Helmintosporium oryzae ini menginfeksi daun melalui stomata maupun menembus langsung pada dinding sel epidermis setelah

membentuk apresoria. Jamus ini dapat bertahan sampau 3 tahun pada jaringan tanaman dan lamanya bertahan sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.

Pengendalian penyakit bercak coklat sebagai berikut:

Menggunakan jarak tanam yang tidak terlalu rapat terutama pada musim hujan, dapat menggunakan cara tanam dengan sistem jajar legowo, menghindari penggunaan pupuk urea yang berlebih dan mengimbangi pupuk urea dengan unsur K sebagai pencegahnya. Menggunakan fungisida sistemik seperti score, anvil, folicur, navito, opus, indar apabila telah terjadi penyerangan. Penanaman varietas tahan seperti ciherang dan membrano.

c). Blast

Penyebab penyakit blast sebagi berikut:

- Jamur Pyricularia grisea

Gejala penyakit blast sebagai berikut:

Jamur Pyricularia grisea dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi. Penginfeksian pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi terjadi pada bagian daun dan dapat menimbulkan sebuah gejala penyakit seperti bercak coklat dengan bentuk belah ketupat. Gejala penyakit blasr pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi yaitu gejala penyakit yang terjadi pada tangkai atau leher. Perkembangan yang lebih parah dapat menginfeksi bagian gabah dan patogennya juga dapat terbawa gabah sebagai seed borne.

Pengendalian penyakit blast sebagai berikut:

Penggunaan varietas tahan patogen penyakit blas. Menggunakan fungisida dalam proses penyemprotan. Menghindari pemupukan pupuk nitrogen yang berlebihan. Melakukan sanitasi lingkungan.

d). Penyakit kerdil

Penyebab penyakit kerdil sebagai berikut:

- Virus yang disebabkan oleh serangga Nilaparvata lugens (Wereng Coklat)

Gejala penyakit kerdil sebagai berikut:

Gejala utama penyakit kerdil ini adalah tanaman yang terserang menyerupai rumput. Daun yang dimiliki akan tampak sempit, pendek, kaku, berwarna hijau pucat dan terkadang memiliki bercak seperti karat. Tanaman yang terinfeksi biasanya bertahan sampai dewasa. Penginfeksian pada tanaman dewasa akan menyebabkan tidak akan berkembangnya tanaman hingga panen.

Pengendalian penyakit kerdil sebagai berikut:

Tanaman yang terserang wereng coklat ini dapat dilakukan dengan pengendalian hama wereng coklat tersebut.

e). Penyakit Tungro

Penyebab penyakit tungro sebagai berikut:

- Virus yang ditularkan oleh wereng Nephotettix impicticeps

Gejala penyakit tungro sebagai berikut:

Tanaman yang terdapat penyakit tungro ini akan terjadi pertumbuhan yang kurang sempurna. Daun yang dimiliki oleh tanaman akan berwarna daun kuning sampau kecoklatan. Proses pembungaan tanaman akan tertunda dan jumlah tunas yang dimiliki akan berkurang. Tanaman padi yang terdapat penyakit ini memiliki malai yang kecil dan tidak berisi.

Pengendalian penyakit tungro sebagai berikut:

Penanaman dengan menggunakan varietas tahan seperti inpari 13 dan bondoyodo.

Menurut Jamilah (2013), gulma merupakan tanaman inang untuk beberapa hama dan penyakit. Gulma juga dapat menyebabkan persaingan untuk mendapatkan unsur hara, air, ruang tempat tumbuh dan sinar matahari. Gulma yang didapat pada praktikum antara lain kiyambang, rumput teki, rumput bede, Gratala juncela, Cyperus rontudu L., Ipome reptaluspan dan Oxalis caraiclarat.

a) Kiyambang

Klasifikasi kiyambang sebagai berikut:

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Pteridophyta

Kelas

: Pteridopsida

Ordo

: Salviniales

Famili

: Salviniaceae

Genus

: Salvinia

Spesies

: Salvinia molesta Mitchell

Morfologi kiyambang sebagai berikut:

Tanaman kiyambang ini mempunyai rimpang horizontalyang terlentak di bawah permukaan air dan dua jenis daun pallem yaitu apung dan tenggelam. Tanaman kiyambang dewasa ini dapat menghasilkan sebuah kantung spora berbentuk telur dengan kansungan spora yang subur. Tanaman ini tidak memiliki akar sejati, dibagian atas permukaan terdapat baris papila silinder, setiap papila silinder memiliki empat rambut ujung pada ujung distal.

b). Rumput Teki

Klasifikasi rumput teki sebagai berikut:

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotuledoneae

Ordo

: Cyperales

Famili

: Cyperaceae

Genus

: Cyperus

Spesies

: Cyperus rotundus L.

Morfologi rumput teki sebagai berikut:

Rumput teki berupa rimpang di bawah tanah, rumput teki memiliki serabut teki. Bentuk batang rumput teki ini tegak dan memiliki bentuk segitiga, berongga kecil dan seidikit lunak. Tinggi tanaman rumput teki ini ±10-20 cm. Rumput teki memiliki helaian daun yang dapat membentuk tunas baru.

c) Kangkung

Klasifikasi sebagai beikut:

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Convolvulales

Famili

: Convolvulales

Genus

: Ipomoea

Spesies

: Ipomoea aquatica

Morfologi kangkung sebagai berikut:

Tanaman kangkung memiliki akar tunggang dan cabang akar tanaman tersebut menyebar ke semua arah. Batang tanaman kangkung ini berbentuk bulat, belubang, berbuku-buku dan mengandung banyak air. Tanaman kangkung juga memiliki percabangan yang banyak dan apabila umur tanaman semakin lama maka batang tanaman kangkung ini akan menjalar. Bentuk daun tanaman kangkung ini biasanya berbentuk seperti terompet dan daun mahkota bunga berwarna merah lembayung atau putih. Buah kangkung memiliki bentuk bulat telur dan didalamnya berisi tiga butir biji. Bentuk biji kangkung tegak bulat atau bersegi-segi dan berwarna coklat atau kehitam-hitaman.

d) Rumput Bede

Klasifikasi tanaman rumput bede sebagai berikut:

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledonae

Ordo

: Graminales

Famili

: Graminae

Genus

: Brachiaria

Spesies

: Brachiaria decumbens

Morfologi tanaman rumput bede sebagai berikut:

Pertumbuhan dan penyebaran tanaman ini menggunakan stolon. Tanaman rumput bede ini memiliki batang tegak dan panjang ±30-45 cm, daun yang dimiliki berwarna hijau gelap, lebar daun bekisar 7-20 cm dan panjang daun mencapai 5- 25cm. Tumbuhan rumput bede ini memiliki bungan dengan tandan 2-5 dan panjang berkisar 2-5 cm. Tanaman ini dapat hidup pada tanah kurang subur ataupun tanah mengandung asam.

e) Semanggi Gunung atau Oxalis corniculata Linn.

Klasifikasi tanaman semanggi gunung sebagai berikut:

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Geraniales

Famili

: Oxalidaceae

Genus

: Oxalis

Spesies

: Oxalis corniculata Linn.

Morfologi tanaman semanggi gunung sebagai berikut:

Tanaman semanggi gunung ini mempunyai batang merayap agak tegak dan bercabang, tinggi tanamn semanggi gunung ini berkisar 5-35 cm. Daun yang dimiliki yaitu majemuk menjari tiga dalam satu tangkai, panjang tangkai daun ±1,5-10 cm. Bunga tanaman semanggi daun ini keluar dari ketiak daun dan berwarna kuning dengan bentuk payung kecil-kecil.

Hubungan dari pemantauan, pengambilan keputusan dan tindakan aksi dalam agroekosistem merupakan suatu kesatuan untuk pengendalian OPT. Langkah awal sebelum melakukan pengendalian OPT ialah kegiatan pemantauan, kegiatan pemantauan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan keadaan suatu ekosistem. Hasil dari kegiatan pemantauan ini akan dilakukannya penentuan keputusan apakah ekosistem tersebut membetuhkan pengendalian OPT atau tidak. Tindakan aksi dalam pengendalian OPT ini harus berlandaskan pada ekologis dan tetap mempertimbangkan sebuah faktor ekonomis.

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pada praktikum acara “Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan” dapat disimpulkan bahwa:

  • 1. Organisme Penganggu Tanaman (OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak, menganggu kehidupan atau menyebabkan kematian tumbuhan antara lain penyakit, hama dan gulma.

  • 2. Sistem pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan sebuah upaya pengendalian populasi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan menggunakan satu atau lebih berbagai teknis pengendalian dengan pengembangan dalam satu kesatuan dan bertujuan untuk mencegah kerugian ekonomis dan terjadinya kerusakan lingkunngan.

  • 3. Pengendalian OPT menggunakan ambang ekonomi sebagai ambang batas toleransi OPT yang ada

5.2 Saran

Sebaiknya segala peralatan yang dibutuhkan dapat disediakan oleh pihak asisten laboratorium agar pelaksanaan praktikum dapat lebih lancar dibandingkan sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Djojosumarto, P. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka.

Gusnawaty, H. S., M. Taufik., L. Triana dan Asniah. 2014. Karakterisasi Morfologi Trichoderma spp. Indigenus Sulawesi Tenggara. Agroteknos, 4(2): 88-94.

Hadi, M., R. C. H. Soesilohadi., F. X. Wagiman dan Y. R. Suhardjono. 2013. Keragaman Jenis dan Kelimpahan Populasi Penggerek Batang Padi dan Serangga Lain Berpotensi Hama pada Ekosistem Sawah Organik. Bioma, 15(2): 58-63.

Hadi, M., R. C. H. Soesilohadi., F. X. Wagiman dan Y. R. Surhardjono. 2015. Populasi Penggerek Batang Padi pada Ekosistem Sawah Organik dan Sawah Anorganik. Bioma, 17(2): 106-117.

Hanum, C. 2008. Teknik Budidaya Tanaman Jilid 3 untuk SMK. Jakarta:

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

Jailanis, A., N, Kusrini dan J. Sudrajat. 2014. Tingkat Adopsi Teknologi Pengendalian Hama Terpadu Petani Padi (Studi Kasus di Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Social Economic of Agriculture, 3(1): 65-78.

Jamilah. 2013. Pengaruh Penyiangan Gulma dan Sistim Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman padi Sawah (Oryza Sativa L.). Agrista, 17(1): 28-35.

Moningka, M., D. Tarore dan J. Krisen. 2012. Keragaman Jenis Musuh Alami pada Serangga Hama Padi Sawah di Kabupaten Minahasa Selatan. Eugenia, 18(2): 89-97.

Novizan. 2002. Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. Depok: PT. AgroMedia Pustaka.

Nurwardani, P. 2008. Teknik Pembibitan Tanman dan Produksi Benih Jilid 1 untuk SMK. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

Rosba, E dan M. Catri. 2015. Pengaruh Ekstrak Biji Bengkuang terhadap Walang Sangit (Leptocorisa acuta Thunb.) pada Tanaman Padi. Penelitian Pendidikan IPA, 1(2): 76-82.

Thamrin, T., I. S. Marpaung dan Syahri. 2012. Produktivitas dan Ketahanan Galur Harapan Padi terhadap Penyakit Tungro di Sumatera Selatan. Lahan Suboptimal, 1(2): 130-137.

Umboh, T. N., B. A. N. Pinara., J. Manueke dan D. Tarore. 2013. Jenis dan Kepadatan Populasi Serangga pada Pertanaman Padi Sawah Fase Vegetatif di Desa Talawaan Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara. Eugenia, 19(3): 1-9.

Wijayanto, B., Kiswanto dan G. O. Manurung. 2013. Hama dan Penyakit Utama Tanaman Padi. Lampung: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian.

Wiyono, S., Widodo dan H. Triwidodo. 2014. Mengelola Ledakan Hama dan Penyakit Padi Sawah pada Agroekosistem yang Fragil dengan Pengendalian Hama Terpadu Biointensif. Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan, 1(2): 116-120.

Wonorahardjo, S., Nurindah., D. A. Sunarto., Sujak dan N. Zakia. 2015. Analisis Senyawa Volatil dari Ekstrak Tanaman yang Berpotensi sebagai Atraktan Parasitoid Telur Wereng Batang Coklat, Anagrus nilapravatae (Pang et Wang) (Hymenoptera: Mymaridae). Etomologi Indonesia, 12(1): 48-57.