Anda di halaman 1dari 60

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Masa remaja merupakan suatu periode transisi antara masa kanak-

kanak dan masa dewasa yang merupakan waktu kematangan fisik,


kognitif, sosial, dan emosional. Pada masa ini remaja sudah meninggalkan
dunia anak-anak akan tetapi belum bisa disebut dewasa. Pada remaja
terjadi perubahan psikis atau mental emosional. Remaja ingin lebih
mandiri dan mengurangi ketergantungan pada orang lain. Masa remaja
sering dianggap sebagai masa pencarian jati diri. Namun, secara mental
remaja masih labil dan berpendirian goyah.
Remaja

merupakan

masa

di

mana

seseorang

mengalami

perkembangan untuk mencapai kematangan mental, emosional, sosial


dan

fisik.

Fenomena

pertumbuhan

pada

masa

remaja

menuntut

kebutuhan nutrisi yang tinggi agar tercapai potensi pertumbuhan secara


maksimal karena nutrisi dan pertumbuhan merupakan hubungan integral.
Tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi pada masa ini dapat berakibat
terlambatnya pematangan seksual dan hambatan pertumbuhan linear.
Banyak persoalan yang di hadapi para remaja yang berkaitan dengan
masalah gizi. Masalah-masalah gizi dan kesehatan yang di hadapi remaja
tersebut

saling

berkaitan

satu

dengan

yang

lain

dan

diperlukan

penanganan yang terpadu dan menyeluruh


Disamping itu, pada masa remaja terjadi pembentukan karakter
seseorang termasuk karakter bangsa pada umumnya. Remaja sering
dianggap

sehat-sehat

saja.

Akan

tetapi

sesungguhnya

banyak

permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan khususnya yang


mengancam remaja. Masalah remaja (usia >10-19 tahun) merupakan
masalah yang perlu diperhatikan dalam pembangunan nasional di
Indonesia. Masalah remaja terjadi karena mereka tidak dipersiapkan
mengenai

pengetahuan

tentang

aspek

yang

berhubungan

dengan

masalah peralihan dari masa anak ke dewasa. Masalah kesehatan remaja


mencakup aspek fisik biologis dan mental sosial.
1

Masa remaja adalah masa-masa yang rawan terhadap penyakit dan


masalah

kesehatan

perkembangan

yang

remaja,

berkaitan

gangguan

dengan

makan/status

pertumbuhan
gizi,

dan

reproduksi,

seksualitas/kehamilan remaja, serta gangguan perilaku dengan segala


konsekuensinya. Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat
yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki
remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas dari
penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental
serta sosial. Kegiatan seksual menempatkan remaja pada tantangan
resiko terhadap berbagai masalah kesehatan reproduksi. Setiap tahun
kira-kira 15 juta remaja berusia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan
aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS)
yang dapat disembuhkan. Secara global 40% dari semua kasus infeksi HIV
terjadi pada kaum muda yang berusia 15-24 tahun. Perkiraan terakhir
adalah, setiap hari ada 7.000 remaja terinfeksi HIV (PATH, 1998). Oleh
karena itu penyebaran informasi kesehatan dikalangan remaja, perlu
diupayakan secara tepat guna agar dapat memberi informasi yang benar
dan tidak terjerumus terutama di institusi pendidikan sekolah. Remaja
perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang
benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada
disekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki
sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses
reproduksi. Perubahan fisik yang pesat dan perubahan endokrin/hormonal
yang sangat dramatik merupakan pemicu masalah kesehatan remaja
serius karena timbuhnya dorongan motivasi seksual yang menjadikan
remaja rawan terhadap penyakit dan masalah kesehatan reproduksi.
Permasalahan remaja seringkali berakar dari kurangnya informasi
dan pemahaman serta kesadaran untuk mencapai sehat secara fisik dan
psikis. Di sisi lain, remaja sendiri mengalami perubahan fisik yang cepat.
Akses untuk mendapatkan informasi bagi remaja banyak yang tertutup.
Dengan memperluas akses informasi tentang kesehatan masa remaja
yang benar akan membuat remaja makin sadar terhadap perilaku
tanggung jawab dalam menjaga kesehatan dirinya. Dengan makin
2

banyaknya persoalan kesehatan pada masa remaja, maka pemberian


informasi, layanan dan pendidikan kesehatan reproduksi remaja menjadi
sangat penting. Melihat kondisi seperti diatas penulis ingin membahas
tentang pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja serta apa
saja masalah kesehatan yang rentan dan sering terjadi selama masa
remaja serta bagaimana solusi dalam mengatasinya.
.
1.2
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Apakah yang dimaksud dengan masa remaja?
Bagaimanakah karakteristik dari masa remaja?
Apa saja tugas perkembangan pada masa remaja?
Bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan

pada

masa

remaja?
5. Apa saja imunisasi serta kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh
anak remaja?
6. Masalah kesehatan apa yang sering terjadi selama masa remaja?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas pada mata kuliah keperawatan anak
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan masa remaja
2. Untuk mengetahui karakteristik dari masa remaja
3. Untuk memahami tugas perkembangan pada masa remaja
4. Untuk mengetahui dan memahami pertumbuhan dan
perkembangan yang terjadi pada masa remaja
5. Untuk mengetahui jenis imunisasi serta kebutuhan nutrisi yang
diperlukan oleh anak remaja
6. Untuk memahami masalah kesehatan yang sering terjadi
selama masa remaja

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Remaja
Menurut Sujanto (1986) remaja adalah masa peralihan dari masa
remaja atau masa pemuda ke masa dewasa. Masa ini tidak berlangsung
lama oleh karena dengan tercapainya masa ini, seseorang dalam waktu
yang relatif singkat sekali telah sampai ke masa dewasa. Bahkan
gejalanya atau sifat-sifatnya yang nampak dalam sikapnya menyerupai
sifat dan sikap orang dewasa. Menurut Papalia dan Olds (2001) dalam
rumahbelajarpsikologi.com, 2007, masa remaja adalah masa transisi
perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada
umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia
akhir belasan tahun atau awal dua puluh tahun.
Coleman, 1980 mengungkapkan bahwa remaja adalah masa kritis di
dalam perkembangan manusia, peralihan antara masa kanak-kanak
menjadi masa dewasa. Usia remaja menurut Thornburg (1982) rata 11
sampai 22 tahun. Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa
remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16
atau 17 tahun hingga 18 tahun).
4

Periode remaja menurut Krummel and Penny (1996) dibagi menjadi


3 (tiga) tahap, yaitu sebagai berikut :
1. Remaja Awal (Early Adolescence) usia antara 11-13 tahun
Remaja awal merupakan remaja dengan cepatnya pertumbuhan
fisiknya. Tidak mengherankan bahwa masa remaja awal ini sudah
dimulainya

perubahan

fisik

secra

cepat.

Selama

periode

ini,

pembentukan dan penetapan struktur dari masinh-masing bagian


tubuh remaja wanita tersebut muncul. Secar keseluruhan, remaja
awal ini mengalami perubahan menuju kedewasaan. Terdapat banyak
perbandingan diantara teman-teman sebaya merekadan terkadang
membuat ketakutan tersendiri apabila diantara mereka merasa
berbeda atau tidak normal dalam pertumbuhannya. Remaja awal
juga mengalami perubahan yang mengarah menjadi mandiri dan
memulai untuk mempelajari banyak hal dari lingkungan luar rumah.
Pada

waktu

yang

bersamaan,

penerimaan

dan

penyesuaian

(pengaruh) dari teman sebaya menjadi semakin meningkat. Dalam


tahap ini masih terdapat keterbatasan dalam hal hanya pemikiran
saja, walaupun pemikiran abstrak yang juga mulai berkembang.
2. Remaja Pertengahan (Middle Adolescence) usia antara 14-16 tahun
Remaja pertengahan pada wanita, biasanya lebih menekankan pada
pertumbuhan fisik mereka dan mulai menciptakan bentuk tubuh yang
baru. Masa ini menekankan pada penilaian sosial terhadap bentuk
tubuh kurus (langsing) dan hal ini adalah sebuah tugas sulit untuk
mereka menyesuaikannya. Pada remaja pertengahan ini mulai
berkembangnya perasaan untuk mengetahui identitas diri dan
meningkatnya

perasaan

berkuasa.

Masa

ini

lebih

sedikit

menyediakan waktu luang mereka terhadap keluarga dan mereka


menganggap pentingnya menghabiskan waktu luangnya bersama
teman-teman sebaya dan kelompok mereka. Dengan berkembangnya
pemikiran-pemikiran abstrak pada remaja pertengahan ini akan
menambahkan pada diri mereka bahwa mereka mampu untuk
mengatasi masalah, memikirkan pemikiran masa depan, mengerti
mengenai permasalahan yang kompleks dan penyebabnya, dan bisa
5

menghargai pandangan dari orang lain. Banyak juga remaja yang


menjadi tertarik dengan masalah lingkungan

dan sosial dan

mengembangkan rasa ingin membantu untuk menolong orang lain.


Waktu remaja pertengahan ini juga dinamakan sebagai waktunya
bereksperimen. Walaupun hal ini perkembangan yang bertujuan
positif, hal ini juga dapat menimbulkan peningkatan perilaku yang
berisiko, potensi negatif yang dapat ditimbulkan seperti tidak
diperdulikan oleh orang dewasa.
3. Remaja Akhir (Late Adolescence) usia antara 17-19 tahun
Remaja akhir ditandai dengan persiapan menuju tahap kedewasaan
dan fokus terhadap masa depan baik tentang hal pendidikan maupun
pekerjaan, seks, dan hal pribadi. Pertanyaan yang ada pada tahap
remaja akhir ini adalah siapa saya ini yang dapat berhubungan
dengan orang laindan masa depan?. Pada tahap remaja akhir ini
wanita biasanya secara penilaian karakteristik lebih nyaman terhadap
nilai-nilai yang ada pada diri mereka sendiri dan perasaan terhadap
identitas diri dan teman sebaya menjadi tidak begitu penting.
Perkembangan tugas yang terpenting, untuk membangun identitas
diri dan tanggung jawab secara dewasa perlu diselesaikan selama
tahap remaja ini.
2.2 Karakteristik Pada Masa Remaja
Sebagai periode yang paling penting, masa remaja ini memiliki
karakteristik

yang

khas

jika

dibanding

dengan

periode-periode

perkembangan lainnya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :


a. Masa remaja adalah periode yang penting
Periode ini dianggap sebagai masa penting karena memiliki dampak
langsung dan dampak jangka panjang dari apa yang terjadi pada
masa ini. Selain itu, periode ini pun memiliki dampak penting
terhadap perkembangan fisik dan psikologis individu, dimana tejadi
perkembangan fisik dan psikologis yang cepat dan penting. Kondisi
inilah yang menuntut individu untuk bisa menyesuaikan diri secara
6

mental dan melihat pentingnya menetapkan suatu sikap, nilai-nilai


dan minat yang baru.
b. Masa remaja adalah masa peralihan
Periode ini menuntut seorang anak untuk meninggalkan sifat-sifat
kekanak-kanakannya dan harus mempelajari pola-pola perilaku dan
sikap-sikap baru untuk menggantikan dan meninggalkan pola-pola
perilaku sebelumnya. Selama peralihan dalam periode ini, seringkali
seseorang merasa bingung dan tidak jelas menangani peran yang
dituntut oleh lingkungan. Misalnya, pada saat individu menampilkan
perilaku anak-anak maka mereka akan diminta untuk berperilaku
sesuai dengan usianya, namun pada kebalikannya jika individu
mencoba untuk berperilaku seperti orang dewasa sering dikatakan
bahwa mereka berperilaku terlalu dewasa untuk usianya.
c. Masa remaja adalah periode perubahan
Perubahan yang terjadi pada periode ini berlangsung secara cepat,
perubahan

fisik

yang

cepat

membawa

konsekuensi

terjadinya

perubahan sikap dan perilaku yang juga cepat. Terdapat lima


karakteristik perubahan yang khas dalam periode ini yaitu, (1)
peningkatan

emosional,

(2)

perubahan

cepat

yang

menyertai

kematangan seksual, (3) perubahan tubuh, minat, dan peran yang


dituntut oleh lingkungan yang menimbulkan masalah baru, (4) karena
perubahan minat dan pola perilaku maka terjadi pula perubahan nilai,
dan (5) kebanyakan remaja merasa ambivalent terhadap perubahan
yang terjadi.
d. Masa remaja adalah usia bermasalah
Pada periode ini membawa masalah yang sulit untuk ditangani baik
bagi anak laki-laki maupun perempuan. Hal ini disebabkan oleh dua
alasan yaitu : pertama, pada saat anak-anak paling tidak sebagian
masalah diselesaikan oleh orang tua atau guru, sedangkan sekarang
individu dituntut untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Kedua, karena mereka dituntut untuk mandiri maka seringkali
menolak

untuk

dibantu

oleh

orang

tua

atau

guru,

sehingga
7

menimbulkan kegagalan-kegagalan dalam menyelesaikan persoalan


tersebut.
e. Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri
Pada periode ini, konformitas terhadap kelompok sebaya memiliki
peran penting bagi remaja. Mereka mencoba mencari identitas diri
dengan berpakaian, berbicara dan berperilaku sebisa mungkin sama
dengan kelompoknya. Salah satu cara remaja untuk meyakinkan
dirinya yaitu dengan menggunakan simbol status, seperti mobil,
pakaian dan benda-benda lainnya yang dapat dilihat oleh orang lain.
f. Masa remaja adalah usia yang ditakutkan
Masa remaja ini sering kali ditakuti oleh individu itu sendiri dan
lingkungan.

Gambaran-gambaran

negatif

yang

ada

dibenak

masyarakat mengenai perilaku remaja mempengaruhi cara mereka


berinteraksi dengan remaja. Hal ini membuat para remaja itu sendiri
merasa takut untuk menjalankan perannya dan enggan meminta
bantuan orang tua atau pun guru untuk memecahkan masalahnya.
g. Masa remaja adalah masa yang tidak realistis
Remaja memiliki kecenderungan untuk melihat hidup secara kurang
realistis, mereka memandang dirinya dan orang lain sebagaimana
mereka inginkan dan bukannya sebagai dia sendiri. Hal ini terutama
terlihat pada aspirasinya, aspirasi yang tidak realistis ini tidak
sekedar untuk dirinya sendiri namun bagi keluarga, teman. Semakin
tidak realistis aspirasi mereka maka akan semakin marah dan kecewa
apabila aspirasi tersebut tidak dapat mereka capai.
h. Masa remaja adalah ambang dari masa dewasa
Pada saat remaja mendekati masa dimana mereka dianggap dewasa
secara hukum mereka merasa cemas dengan stereotype remaja dan
menciptakan impresi bahwa mendekati dewasa. Mereka merasa
bahwa berpakaian dan berperilaku seperti orang dewasa seringkali
tidak cukup, sehingga mereka mulai untuk memperhatikan perilaku
atau simbol yang berhubungan dengan status orang dewasa seperti
merokok, minum, menggunakan obat-obatan bahkan melakukan
hubungan seksual.
8

2.3 Tugas Perkembangan Remaja


Dalam hal ini, semua tugas-tugas perkembangan masa remaja
terfokus pada bagaimana melalui sikap dan pola perilaku kanak-kanak dan
mempersiapkan sikap dan perilaku orang dewasa. Rincian tugas-tugas
pada masa remaja ini adalah sebagai berikut :
1. Mencapai relasi yang lebih matang dengan teman seusia dari kedua
jenis kelamin
2. Mencapai peran sosial feminin atau maskulin
3. Menerima fisik dan menggunakan tubuhnya secara efektif
4. Meminta, menerima, dan mencapai perilaku bertanggung jawab
secara sosial
5. Mencapai kemandirian secara emosional dari orang tua dan orang
dewasa lainnya
6. Mempersiapkan untuk karir ekonomi
7. Mempersiapkan untuk menikah dan berkeluarga
8. Memperoleh suatu set nilai dan sistem etis untuk mengarahkan
perilaku
2.4 Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Remaja
Masa remaja adalah masa peralihan antara anak-anak dengan
dewasa. Pada masa ini terjadi beberapa perubahan dalam diri remaja
diantaranya perubahan fisik yaitu perubahan yang bisa dilihat dari luar
maupun yang tidak kelihatan, perubahan emosional atau psikososial yang
kemudian tercermin dalam sikap dan tingkah laku, selain itu terjadi pula
perubahan

hormon

yang

dapat

mempengaruhi

pertumbuhan

dan

perkembangan sistem reproduksi.


2.4.1 Pertumbuhan Pada Anak Remaja (Perkembangan Biologis)
Masa remaja adalah masa dimana adanya kesempatan kedua untuk
mencapai pertumbuhan yang maksimal jika adanya dukungan dari
lingkungan dan asupan nutrisi yang memadai (Gopalan 1989). Pada masa
remaja proses pertumbuhan dan perkembangan ditunjukkan terjadi
kematangan dalam beberapa fungsi seperti endokrin, kematangan fungsi
seksual

hingga

tampak

sekali

masa

remaja

sudah

menunjukkan
9

kedewasaan dalam hidup bermasyarakat, peristiwa tersebut dapat terjadi


oleh karena peristiwa lingkungan sosial.
Pada masa ini terjadi peristiwa yang sangat penting dan perlu
perhatian yaitu peristiwa pubertas. Peristiwa tersebut akan dialami pada
anak baik laki-laki maupun perempuan akan tetapi dalam perkembangan
mempunyai ciri yang menonjol dari masing-masing jenis kelamin. Pada
anak laki-laki ditandai adanya tumbuhnya rambut pubis, ukuran penis dan
testis mulai membesar, dan pada perempuan dapat dilihat dari perubahan
ukuran buah dada dan adanya rambut pada pubis.
Perubahan fisik pada pubertas, terutama merupakan ahsil aktivitas
hormonal di bawah pengaruh sistem saraf pusat, walaupun semua aspek
fungsi fisiologis berinteraksi secara bersama-sama. Perubahan fisik yang
sangat jelas tampak pada pertumbuhan peningkatan fisik dan pada
penampakan serta perkembangan karakteristik seks sekunder, perubahan
yang tidak tampak jelas adalah perubahan fisiologis dan kematangan
neurogonad yang disertai dengan kemampuan untuk bereproduksi.
Perbedaan fisik pada kedua jenis kelamin ditentukan berdasarkan
karakteristik pembeda. Karakteristik seks primer merupakan organ
eksternal dan internal yang melaksanakan fungsi reproduktif (mis.,
ovarium, uterus, payudara, penis), karakteristik seks sekunder merupakan
perubahan yang terjadi di seluruh tubuh sebagai hasil dari perubahan
hormonal (mis., perubahan suara, munculnya rambut pubertas dan bulu
pada wajah, penumpukan lemak) tetapi tidak berperan langsung dalam
reproduksi.
2.4.1.1 Perubahan Hormonal Pada Remaja
Secara umum diterima bahwa peristiwa pubertas disebabkan oleh
pengaruh hormon dan dikendalikan oleh kelenjar hipofisis anterior
(adenohipofisis) sebagai respons terhadap stimulus dari hipotalamus.
Stimulus gonad memiliki fungsi ganda, yaitu (1) produksi dan pelepasan
gametproduksi sperma pada pria dan kematangan serta pelepasan
ovum pada wanitadan (2) sekresi hormon seks yang sesuai, yaitu

10

estrogen dan progesteron dari ovarium (wanita) dan testosteron dari


testis (pria).
Hormon Seks. Hormon seks disekresi oleh ovarium, testis, dan
adrenal, hormon seks diproduksi dalam jumlah bervariasi oleh kedua jenis
kelamin sepanjang rentang kehidupan. Korteks adrenal bertanggung
jawab untuk sejumlah sekresi sebelum mas pubertas,tetapi produksi
hormon seks yang menyertai kematangan gonad bertanggung jawab
terhadap terjadinya berbagai perubahan biologis yang dipantau selama
pubertas.
Estrogen. Merupakan ormon kewanitaan, ditemukan dalam jumlah
sedikit selama masa kanak-kanak, sekresi estogen meningkat secara
perlahan-lahan samapi sekitar usia 11 tahun. Pada pria, peningkatan
secara bertahap ini berlanjut hingga mencapai kematangan seksual. Pada
wanita, awitan produksi estrogen di dalam ovarium menyebabkan
peningkatan yang jelas dan berlanjut sampai sekitar 3 tahun setelah
awitan menstruasi, yaitu saat estrogen mencapai tingkat maksimal yang
berlanjut sepanjang kehidupan reproduksi wanita.
Androgen. Hormon pria, juga disekresi dalam jumlah sedikit dan
jumlahnya meningkat secara bertahap samapi usia sekitar 7 sampai 9
tahun, saat usia tersebut peningkatan sekresi androgen terjadi lebih cepat
pada kedua jenis kelamin, terutama pada remaja putra, sampai sekitar
usia

15

tahun.

Hormon

ini

bertanggung

jawab

atas

perubahan

pertumbuhan yang paling cepat di masa remaja awal. Dengan awitan


fungsi testikular, tingkat androgen (terutama testosteron) pada pria
lebih meningkat daripada wanita, dan peningkatan berlanjut hingga
maksimal saat kematangan tercapai.
2.4.1.2 Perubahan Fisiologis
Sejumlah fungsi fisiologis

berubah sebagai respons

terhadap

beberapa perubahan selama pubertas. Ukuran dan kekuatan jantung,


volume drah, dan tekanan darah sistolik meningkat, sementara frekuensi
nadi dan produksi panas tubuh terus-menerus menurun. Volume darah,
yang meningkat dengan pasti selama masa kanak-kanak, mencapai nilai
11

yang lebih tinggi pada remaja putra dariada remaja putri, yang dapat
dikaitkan dengan peningkatan massa otot pada remaja putra setelah
pubertas. Nilai semua elemen pembentuk darah telah mencapai nilai yang
sama dengan orang dewasa. Frekuensi pernafasan dan laju metabolik
basal tubuh menurun secara terus-menerus selama masa kanak-kanak,
mencapai frekuensi yang sama seperti orang dewasa pada saat remaja.
Volume pernafasan dan kapasitas vital meningkat, dan peningkatannya
jauh lebih besar pada pria daripada wanita. Selama periode ini, respons
fisiologis terhadap latihan fisik berubah secara drastis : aktivitas
meningkat, terutama pada remaja putra, dan tubuh mampu membuat
penyesuaiaan fisiologis yang dibutuhkan untuk berfungsi mormal setelah
latihan fisik selesai. Kemampuan ini merupakan akibat peningkatan
ukuran dan kekuatan otot serta peningkatan tingkat fungsi jantung,
pernapasan, dan metabolik.
2.4.1.3 Pertumbuhan Fisik Pada Remaja
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi
dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan
perubahan

ini

meliputi perubahan

ukuran

tubuh;

proporsi

tubuh,

munculnya ciri-ciri kelamin yang utama (primer) dan ciri-ciri kelamin


kedua (sekunder).
Pada masa remaja terjadi peralihan karakteristik seksual primer dan
sekunder. Pertumbuhan yang cepat dipengaruhi oleh waktu, intensitas,
dan lamanya pertumbuhan ini berbeda pada masing-masing individu.
Timbulnya ciri-ciri seks sekunder merupakan manifestasi somatik dari
aktivitas gonad dan dibagi dalam beberapa tahap yang berurutan.
Tahapan tersebut disebut sebagai Sexual Maturity Rating (SMR) atau
Tingkat Kematangan Seksual (TKS). Terdapat lima tahap pertumbuhan
fisik dari prapubertas (SMR 1) ke dewasa (SMR 2) yang disebut sebagai
Tanner Stage. (Krummel and Penny, 1996). SMR 1 adalah masa
prapubertas

sebelum

munculnya

tanda-tanda

perkembangan

seks

sekunder dan SMR 5 sendiri adalah tahap menuju dewasa.

12

Pada masa pubertas terjadi diferensiasi sel reproduksi secara besarbesaran. Pada tahapan ini terdapat perubahan organ reproduksi dan
perubahan karakter seks yang kedua, bentuk tubuh dan ukuran,
perubahan proporsi otot, lemak tubuh dan tulang. Menurut Imran (1998)
dalam Retnowati, perubahan fsik yang terjadi pada masa pubertas ini
merupkan peristiwa yang paling penting, berlansung cepat, drastis, tidak
beraturan dan terjadi pada sistem reproduksi. Hormon-hormon mulai
diproduksi dan mempengaruhi organ reproduksi untuk memulai siklus
reproduksi serta mempengaruhi terjadinya perubahan tubuh. Perubahan
tubuh ini disertai dengan perkembangan bertahap dari karaktersitik
seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. Karakteristik seksual
primer mencakup perkembangan organ-organ reproduksi, sedangkan
karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam bentuk tubuh
sesuai dengan jenis kelamin misalnya, pada remaja putri ditandai dengan
menarche

(menstruasi

pertama),

tumbuhnya

rambut-rambut

pubis,

pembesaran buah dada dan pinggul.


Menarche yang terjadi saat pubertas ini adalah suatu indikator
tanda-tanda kematangan organ seksualitas pada remaja (Deluzio, 2003).
Oleh karena itu remaja mengalami dorongan seks dalam dirinya yang
dipengaruhi oleh perubahan hormonal. Pada mas pubertas, hormonhormon yang mulai berfungsi selain menyebabkan perubahan fisik/tubuh
juga mempengaruhi dorongan seks remaja. Menurut Bourgeois and
Wolfish (1994) dalam Retnowati, remaja mulai merasakan dengan jelas
meningkatnya dorongan seks dalam dirinya, misalnya muncul ketertarikan
dengan orang lain dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual.
Menurut

Muss

(Sarlito,

1991)

yang

menjadi

ukuran

dalam

perubahan fisik adalah sebagai berikut :


a. Pada anak perempuan
1. Pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota-anggota
badan menjadi panjang).
2. Pertumbuhan payudara.
3. Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di kemaluan.

13

4. Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum setiap


tahunnya.
5. Bulu kemaluan menjadi keriting.
6. Menstruasi atau haid.
7. Tumbuh bulu-bulu ketiak.
b. Pada anak laki-laki
1. Pertumbuhan tulang-tulang.
2. Testis (buah pelir) membesar.
3. Tumbuh bulu kemaluan yang halus dan berwarna gelap.
4. Awal perubahan suara.
5. Ejakulasi (keluarnya air mani).
6. Bulu kemaluan menjadi keriting.
7. Pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimum setiap
tahunnya.
8. Tumbuh rambut-rambut halus di wajah (kumis, jenggot).
9. Tumbuh bulu ketiak.
10.
Akhir perubahan suara.
11.
Rambut-rambut di wajah bertambah tebal dan gelap.
12.
Tumbuh bulu dada.
Perubahan fisik sepanjang masa remaja meliputi dua hal, yaitu:
a. Percepatan pertumbuhan
Masa dan proses pertumbuhan tidak sama bagi semua remaja.
Banyak faktor individual mempengaruhi jalanya pertumbuhan ini
sehingga baik walaupun akhir prosesnya terjadi secara berbeda .
Pada

titik

awal

pertumbuhan

biasanya

tidak

terdapat

banyak berbeda, akan tetapi kecepatan pertumbuahan setiap individu


menjadi sangat berbeda sesuai dengan iramanya masing-masing jadi
perbebaan individual tentang pertumbuhan tampak dalam perbedaan
awal percepatan dan cepatnya pertumbuhan.
Percepatan
berkisar antara

bagi
10,5

remaja
tahun

laki-laki

dan

16

umumnya
tahun,

berbeda

sedangkan

dan

remaja

perempuan antara 7,5 tahun 11,5 tahun dengan umur rata-rata 10,5
tahun. Puncak pertambahan ukuaran fisik dicapai pada usia 12 tahun,
yakni kurang lebih bertambah 6-11 cm setahun.
b. Proses kematangan seksual
14

Meskipun kematangan seksual berlangsung dalam batas-batas


tertentu dan urutan tertentu dalam perkembangan ciri-ciri kelamin
sekundernya, namun kematangan seksual anak-anak remaja berjalan
secara individual sehingga hanya mungkin untuk memberikan ukuran
rata-rata.
Ada tiga kriteria yang membedakan anak laki-laki daripada
anak perempuan, yaitu dalam hal berikut:
1. Kriteria kematangan seksual nampak, lebih jelas pada anak
perempuan daripada anak laki-laki. Kriterianya adalah menstruasi
pertama

sebagai

tanda

permulaan pubertas.

Setelah

itu

dibutuhkan satu tahun lagi baru anak wanita betul-betul matang


untuk reproduksi. Kriteria sejelas ini tidak terdapat pada anak lakilaki. Sehubungan dengan ejakulasi (pelepasan air mani) pada lakilaki permulaannya sangat sedikit sehingga tidak jelas.
2. Permulaan kematangan seksual pada anak perempuan 2 tahun
lebih cepatnya daripada laki-laki .
3. Untuk gejala-gejala kematangan seksual pada wanita dimulai
dengan tumbuhnya buah dada (8-13 tahun). Menjelang haid,
jaringan pengikat disekitarnya mulai tumbuh hingga payudara
mulai memperoleh bentuk yang lebih dewasa. Kelenjar payudara
baru mengadakan reaksi pada masa kehamilan dengan suatu
pembengkakan sedangkan produksi air susu terjadi pada akhir
kehamilan. Hal ini merupakan akibat reaksi-reaksi fisiologi yang
menyebabkan

perubahan-perubahan pada organ-organ kelamin

internal dalam hipofise lobusfrontalis.


Pada

anak

laki-laki

kematangan

seksual

dimulai

dengan

pertumbuhan testes yang dimulai antara umur 9,5 dan 13,5 tahun dan
berakhir antara umur 13,5 dan 17 tahun. Pada usia kurang lebih 15-17
tahun, anak laki-laki dan perempuan pangkal tenggorokan (jakun)
mulai membesar yang menyebabkan pita suara menjadi lebih panjang.
Menstruasi merupakan ukuran yang baik karena hal ini menentukan
salah satu ciri kematangan seksual yang pokok, yaitu suatu disposisi

15

untuk konsepsi (hamil) dan melahirkan, juga merupakan manifestasi


yang jelas meskipun pada awalnya masih terjadi pendarahan sedikit.
Perubahan- perubahan fisik yang penting dan yang terjadi pada
masa remaja, yaitu:
a. Perubahan ukuran tubuh
Irama pertumbuhan mendadak menjadi cepat sekitar 2 tahun
sebelum

anak mencapai

taraf

pematangan

kelaminnya,

setahun

sebelumnya, anak akan bertambah tinggi 10 sampai 15 cm dam


bertambah berat 5-10 kg setelah terjadi pematangan kelamin ini.
Pertumbuhhan fisik selanjutnya masih terus terjadi namun dalam
tempoyang sedikit lebih lambat. Selama 4 tahun perutumbuhan tinggi
badan akan bertambah25 persen dan berat badannya hampir mencapi
dua kali lipat. Anak laki-laki tumbuhterus lebih cepat dari pada anak
perempuan. Pertumbuhan anak laki-laki akan mencapai bentuk tubuh
dewasa pada usia 19 sampai 20 tahun sedang pada perempuan pada
usia 18 tahun.
b. Perubahan proporsi tubuh
Ciri tubuh yang kurang proporsional pada masa remaja ini tidak
sama untuk seluruh tubuh, ada bagian tubuh yang semakin tidak
proporsianal dan ada pula bagian tubuh yang semakin proposional.
Proporsi yang tidak seimbang ini akan berkembang terus sampai
seluruh masa puber selesai dilalui sepenuhnya sehingga sehingga
akhrinya proporsi tubuhnya mulai tampak seimbang menjadi proporsi
dewasa. Perubahan ini terjadi baik di dalam maupun di bagian luar
tubuh anak. Perubahan proporsi tubuh menunjukkan keanekaragaman
antara laki-laki dan perempuan. Remaja laki-laki cenderung menuju
bentuk tubuh mesomorf (cenderung menjadi lebih kekar, berat dan
segi tiga) sedangkan anak perempuan cenderung menjadi gemuk dan
berat (endomorf) akan memperlihatkan ciri ektomorf (cendrung kurus
dan bertulang panjang).
c. Ciri kelamin yang utama

16

Pada masa kanak-kanak, alat kelamin yang utama masih belum


berkembang dengan sempurna. Ketika memasuki masa remaja alat
kelamin mulai berfungsi pada saat ia berumur 14 tahun, yaitu saat
pertama kali anak laki-laki mengalami mimpi basah, sedangkan anak
perempuan indung telurnya mulai berfungsi pada usia 13tahun, yaitu
pada saat pertama kali mengalami haid atau menstruasi. Bagian lain
dari alat perkembangbiakan pada anak pperempuan pada saat ini
masih belum berkembangdengan sempurna sehingga belum mampu
untuk mengandung anak atau beberapa bulan atau setahun lebih. Masa
interval ini disebut sebagai masa steril.
d. Ciri kelamin kedua
Ciri kelamin kedua pada anak perempuan adalah membesarnya
buah dada dan munculnya putting susu, pinggul melebar lebih lebar
daripada lebar bahu, tumbuh rambut disekitar alat kemaluan/kelamin,
tumbuh rambut diketiak, suara bertambah nyaring. Sedangkan anak
laki-laki ditandai oleh tumuhnya kumis dan jenggot, otot-otot mulai
tampak, bahu melebar lebih lebar daripada pinggul, nada suara
membesar, tumbuh jakun, tumbuh bulu ketiak, bulu dada, bulu di
sekitar alat kelamin, serta perubahan jaringan kulit menjadi lebih kasar
dan pori-pori membesar.
Ciri-ciri kelamin kedua inilah yang membedakan bentuk fisik antara
laki-laki dan perempuan. Ciri ini pula yang seringkali merupakan daya
tarik antara jenis kelamin. Pertumbuhan disebut berjalan seiring dengan
perkembangan ciri kelamin yang utama dan keduanya akan mencapai
taraf kematangan pada tahun pertama atautahun kedua masa remaja.
Beberapa kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan fisik anak
diantaranya adalah :
a. Pengaruh keluarga meliputi faktor keturunan dan lingkungan, terutama
terhadap tinggi dan berat badan.
b. Pengaruh gizi bagi anak, terutama terhadap tinggi dan berat badan.
c. Gangguan emosional yang sering menyebabkan terbentuknya steroid
adrenal yang berlebihan, dan akan membawa akibat berkurangnya
pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar pituitry.
17

d. Jenis kelamin, dimana anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih
berat daripada anak perempuan, kecuali pada usia 12 dan 15 tahun
anak perempuan biasanya sedikit lebih tinggi dan lebih berat daripada
anak laki-laki. Perbedaan ini karena bentuk tulang dan otot anak lakilaki memang berbeda dengan anak perempuan .
e. Status sosial ekonomi keluarga yang berbeda juga berpengaruh
terhadap tinggi dan berat badan anak.
f. Kesehatan jelas berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik (tinggi dan
berat badan).
g. Bentuk tubuh (mesomorf, ektomorf dan endomorf ) akan berpengaruh
terhadap besar kecilnya tubuh anak. Anak yang bentuk tubuhnya
mesomorf akan lebih besar daripada yang endomorf atau ektomorf.
2.4.1.4 Penyebab Perubahan Fisik Pada Anak Remaja
Penyebab perubahan pada masa remaja adalah adanya dua kelenjar
yang menjadi aktif bekerja dalam sistem endoktrin. Kelenjar pituitri yang
terletak didasar otak mengeluarkan dua macam hormon yang diduga erat
hubungannya dengan perubahan pada masa remaja. Kedua hormon itu
adalah hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan
ukuran tubuh dan hormon ganadotropik atau hormon yang merangsang
gonad agar mulai aktif bekerja. Tidak berapa lama sebelum saat remaja
dimulai, kedua hormon ini sudah mulai diproduksi dan semakin banyak
dihasilkan. Seluruh proses ini dikendalikan oleh perubahan yang terjadi
dalam kelenjar endoktrin. Kelenjar ini diaktifkan oleh rangsangan yang
dilakukan kelenjar hypothalmus, yaitu kelenjar yang dikenal sebagai
kelenjar untuk merangsang pertumbuhan pada saat remaja berkembang.
Meskipun kelenjar gonad atau kelenjar kelamin sudah ada dan aktif
sejak seseorang dilahirkan, namun kelenjar ini seolah-olah tidur dan baru
akan aktif setelah diaktifkan oleh hormon gonadotropik dari kelenjar
pituitry pada saat akan memasuki masa remaja. Setelah tercapai
kematangan alat kelamin, maka hormon gonad akan menghentikan
aktivitas hormon pertumbuhan. Dengan demikian pertumbuhan fisik akan
terhenti. Keseimbangan yang tepat antara kelenjar pituitry dan gonad
menimbukan pertumbuhann fisik yang tepat pula. Sebaliknya apabila
18

terjadi

gangguan

penyimpangan

dalam

keseimbangan

pertumbuhan

selama

ini,

masa

maka

remaja,

akan

timbul

seluruh

tubuh

mengalami perubahan baik bagian luar maupun bagian dalam tubuh,


baik perubahan struktur maupun fungsinya.
2.4.1.5 Pengaruh Pertumbuhan Fisik Terhadap Perilaku
Perubahan-perubahan

psikologis

yang

muncul

sebagai

akibat

dari perubahan fisik, yaitu rasa kecanggungan bagi remaja karena ia


harus menyesuaikan diridengan perubahan-perubahan yang terjadi pada
dirinya sendiri. Pertumbuhan badan yang mencolok misalnya, perbesaran
payudara/buah dada yang cepat membuat remaja tersisih dari temantemannya. Demikian pula dalam menghadapi haid dan mimpi basah,
anak -anak remaja perlu mengadakan penyesuaian tingkah laku yang
tidak ada dukungan dari orang tua.
Perubahan fisik hampir selalu dibarengi dengan perubahan perilaku
dan sikap. Dalam masa remaja perubahan yang terjadi sangat mencolok
sehingga dapat menggangu keseimbangan yang sebelumnya sudah
terbentuk. Perilaku mereka mendadak menjadi sulit diduga dan sering kali
agak melawan norma sosial yang berlaku. Oleh karena itu, masa ini
seringkali

dinamakan

sebagai

masa

negatif.

Pada

saat

irama

pertumbuhan sudah sedikit lambat dan perubahan tubuhnya telah


sempurna akan terjadikeseimbangan kembali.
Meskipun pengaruh pubertas terhadap anak-anak berbeda-beda,
cara mereka melampiaskan gangguan keseimbangan tampaknya sama,
seperti mudah tersinggung, tidak dapat diikuti jalan pikirannya ataupun
perasaannya, ada kecenderungan untuk menarik diri dari keluarga atau
teman dan lebih senang menyendiri, menentang kewenangan (orang tua
dan guru), sangat mendambakan kemandirian, dan sangat kritis terhadap
orang lain, tidak suka melakukan tugas dirumah atupun disekolah dan
sangat tampak bahwa dirinya tidak bahagia.
Akibat perubahan pada beberapa kelenjar pertumbuhan yang
menyebabkan terjadinya perubahan dalam bentuk dan ukuran tubuhnya,
anak-anak remaja secara fisik seringkali merasa tidak nyaman, misalnya
19

ada keluhan, gelisah, nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan,


sakit kepala dan sebagainya. Gangguan ini lebih banyak menghinggapi
anak perempuan daripada anak laki- laki.
Umumnya tanggapan anak remaja terhadap perubahan dirinya
dapat

digolongkan

menjadi

dua,

yaitu

mereka

yang

terlalu

memperhatikan normal tidaknya dirinya, dan mereka yang terlalu


memperhatikan/memikirkan tepat tidaknya kehidupan kelaminnya. Bila
mereka

memperhatikan

teman

sebayanya,

kemudian

ternyata

dirinya berbeda dari mereka, maka akan segera muncul pikirannya


tentang normal tidaknya dirinya. Misalnya, hanya berbeda dalam hal
kecepatan pertumbuhan sudah dapat menimbulkan rasa kekhawatiran
dalam dirinya. Anak-anak tergolong cepat dan lebih awal tumbuh, sering
kali merasa khawatir bahwa pada masa dewasanya nanti, tubuhnya akan
terlalu tinggi, dan juga sebaliknya.
Terlalu

memperhatikan

keadaan

kehidupan

kelaminnya,

juga

merupakan hal yang biasa terjadi dalam tahap ini. Pada saat seseorang
mencapai masa remaja, dalam pikirannya telah terbentuk konsep tertentu
mengenai

wajar

tidaknya

kehidupan

kelamin

dalam

penampilan

seseorang. Konsep ini terbentuk melalui pengalaman anak sehari-hari,


misalnya dari televisi, bioskop, buku cerita, komik dan atau orang-orang
disekelilingnya yang dikagumi. Bila mereka berpendapat bahwa dirinya
kurang memenuhi persyaratan maka segera menentukan bahwa dirinya
tidak wajar. Sayangnya konsep yang telah terbentuk itu sukar dihilangkan
bahkan mungkin dapat menetap seumur hidupnya.
Salah satu dari beberapa konsekuensi masa remaja yang paling
penting adalah pengaruh jangka panjangnya terhadap sikap, perilaku
sosial, minat dan kepribadian. Kalau sikap dan perilaku remaja kurang
dapat diterima, maka keadaan ini cukup parah. Sejumlah studi telah
menemukan bahwa ciri kepribadian dan sikap tertentu yang sudah
terbentuk

ini

biasanya

sulit

dihilangkan,

terutama

dalam

kasus

penyimpangan usia kematangan kelaminnya.


2.4.2 Perkembangan Pada Anak Remaja
20

2.4.2.1 Perkembangan Kognitif Anak Remaja (Piaget)


Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental
seperti belajar, memori, menalar, berpikir dan bahasa. Perkembangan
kognitif pada anak menurut Piaget terbagi ke dalam empat tahap,
diantaranya tahap sensori motor, tahap praoperasional, tahap konkret,
dan tahap formal operasional. Berdasarkan teori Piaget, perkembangan
kognitif anak remaja berada pada tahap formal operasional (lebih dari 11
tahun). Pada tahap ini perkembangan kognitif anak sudah terjadi dalam
perkembangan pikiran dengan membentuk gambaran mental dan mampu
menyelesaikan

aktivitas

dalam

pikiran,

mampu

menduga

dan

memperkirakan dengan pikiran yang abstrak.


Menurut Piaget seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia
karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan
Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, dimana
informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam
skema kognitif mereka. Remaja telah ammpu membedakan antara hal-hal
atau

ide-ide

yang

lebih

penting

dibandingkan

ide

lainnya,

lalu

menghubungkan ide-ide ini. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan


apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja ammpu mengolah cara
berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Piaget

mengemukakan

bahwa

pada

masa

remaja

terjadi

kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah


sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi
sehingga memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut
tahap perkembangan ini sebagai tahap Operasional Formal. Tahap
operasional formal adalah suatu tahap dimana seseorang telah mampu
berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal
yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi.
Ditinjau dari perspektif teori kognitif Piaget, maka pemikiran masa
remaja telah mencapai tahap pemikiran operasional formal yakni suatu
tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia 11 atau 12 tahun
dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa.
Pada tahap ini anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotesis.
21

Pada masa ini anak sudah mampu memikirkan sesuatu yang akan atau
mungkin terjadi, sesuatu yang abstrak. Disamping itu, pada tahap ini
remaja juga sudah ammpu berpikir secara sistematis, ammpu memikirkan
semua kemungkinan secara sistematis untuk memecahkan permasalahan.
Menurut Piaget remaja yang berada pada tahap Operasional Formal,
memiliki ciri-ciri yang meliputi :
a. Mampu mengoperasikan kaidah logika secara formal
b. Sudah tidak terikat dengan objek yang sifatnya konkrit
c. Ditandai dengan kemampuan berpikir abstrak, deduktif-induktifhipotetik
d. Dapat berpikir kombinatoris dan berdasarkan alternatif
e. Kemampuan mengembangkan suatu proporsi
f. Kemampuan menarik generalisasi dan inferensi dari berbagai objek
kategori yang beragam.
2.4.2.2 Perkembangan Psikoseksual Anak Remaja (Freud)
Perkembangn psikoseksual anak pertama kali dikemukakan oleh
Sigmund Freud yang merupakan proses dalam perkembangan anak
dengan pertambahan pematangan fungsi struktur serta kejiwaan yang
dapat menimbulkan dorongan untuk mencari rangsangan dan kesenangan
secara umum untuk menjadikan diri anak menjadi orang dewasa.
Berdasarkan teori perkembangan psikoseksual yang dikemukakan
Freud, anak remaja berada pada tahap genital yang terjadi pada umur
lebih dari 12 tahun. Tahap genital adalah penghubung antara masa kanakkanak dengan dewasa. Ada tiga tahapan yang terjadi pada tahap genital,
yaitu sebagai berikut :
a. Tahap Prapuber, ditandai dengan meningkatnya kembali dorongan
libido.
b. Tahap Puber, ditandai dengan pertumbuhan fisik, khususnya
tanda-tanda seksual sekunder (misalkan haid) dan kemampuan
organik (misalnya ereksi). Pada tahap ini masturbasi paling sering
terjadi. Remaja yang bersangkutan cenderung mencintai dan
mengagumi diri sendiri (narsistik). Ciri-ciri psikologi lain adalah : (1)
Hasrat untuk mandiri, (2) Lebih menghargai aturan-aturan dari

22

teman sebaya, (3) Pemberontakan melawan orang tua, (4) Pikiranpikiran bingung dan lain-lain.
c. Tahap Adaptasi, dimana remaja bersangkutan menyesuaikan diri
terhadap dorongan-dorongan seksual dan perubahan-perubahan
fisik yang tiba-tiba. Sikap yang narsistik diganti dengan cinta
kepada orang lain (altruistik), mula-mula kepada sejenis kelamin,
kemudian kepada lawan jenis kelamin. Biasanya tahap ini diakhiri
jika remaja yang bersangkutan telah menjadi orang dewasa yang
tersosisalisasi.
Implikasi

percepatan

pertumbuhan

pada

perkembangan

psikoseksual remaja antara lain :


a. Remaja lebih dekat dengan teman sebaya
b. Remaja diharapkan memenuhi tanggung jawab seperti orang
dewasa tetapi sering gagal, maka timbullah masalah, frustasi, dan
konflik
c. Menimbulkan kegusaran hati yang paling dalam karena perhatian
yang besar pada diri terutama jika ada penyimpangan
d. Bagi remaja yang cacat sering menghambat kepribadian
2.4.2.3 Perkembangan Psikososial Anak Remaja (Erikson)
Perkembangan psikososial anak merupakan perkembangan anak
yang ditinjau dari aspek psikososial, perkembangan ini dikemukakan oleh
Erikson bahwa anak dalam perkembangannya selalu dipengaruhi oleh
lingkungan sosial. Dalam bukunya Childhood and Society (1963),
Erikson membuat sebuah bagan untuk mengurutkan delapan tahap
secara terpisah mengenai perkembangan ego dalam dalam psikososial,
yang

biasa

dikenal

dengan

istilah

Delapan

Tahap

Perkembangan

Manusia. Perkembangan kepribadian manusia terjadi sepanjang rentang


kehidupan,
interaksi

perkembangan

sosial

kepribadian

dan

manusia

kepribadian

hubungan
ditentukan

manusia

dengan
oleh

orang

dipengaruhi

lain.

keberhasilan

oleh

Perkembangan
atau

kegagalan

seseorang mengatasi krisis yang terjadi pada setiap tahapan sepanjang


rentang kehidupan. Menurut Erikson, remaja termasuk pada tahap kelima
dalam teori perkembangan psikososial yang dikemukakannya yaitu
23

pencarian identitas vs kebingungan identitas. Tahap ini merupakan tahap


adolescence (remaja), dimulai pada saat mas puber dan berakhir pada
usia 12-18 tahun. Di dalam tahap ini, linkup lingkungan semakin luas,
tidak hanya di lingkungan keluarga atau sekolah, namun juga di
masyarakat. Pencarian jati diri mulai berlangsung pada tahap ini. Remaja
pada tahap ini dihadapakan pada pencarian pengetahuan tentang dirinya,
apa dan diman serta bagaimana tentang dirinya. Perkembangan yang
terjadi pada tahap pencarian identitas dan kebingungan identitas yaitu
perubahan dalam diri anak khususnya dalam fisik dan kematangan usia,
perubahan hormonal. Remaja akan menunjukkan identitas dirinya seperti
siapa saya kemudian apabila kondisi tidak sesuai dengan suasana hati
maka kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya kebingungan dalam
peran. Apabila seorang remaja dalam mencari jati dirinya bergaul dengan
lingkungan yang baik maka akan tercipta identitas yang bai pula. Namun
sebaliknya, ika remaja bergaul dalam lingkungan yang kurang baik maka
akan timbul kekacauan identitas pada diri remaja tersebut.
2.4.2.4 Perkembangan Psikomoral Anak Remaja (Kohlberg)
Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral berdasar teori
Piaget,

yaitu

dengan

pendekatan

organismik

(melalui

tahap-tahap

perkembangan yang memiliki urutan pasti dan berlaku secara universal).


Selain itu Kohlberg juga menyelidiki struktur proses berpikir yang
mendasari perilaku moral (moral behavior). Tahapan perkembangan
moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan
perkembangan

penalaran

moralnya

seperti

yang

diungkapkan

oleh Lawrence Kohlberg. Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral,


yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan
perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan
dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget,
yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui
tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini,
dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya
berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama
24

kehidupan, walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis


dari penelitiannya. Kohlberg menggunakan cerita-cerita tentang dilema
moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang
akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam
persoalan moral yang sama.
Dalam penelitiannya Lawrence Kohlberg berhasil memperlihatkan 6
tahap dalam seluruh proses berkembangnya pertimbangan moral anak
dan orang muda. Keenam tipe ideal itu diperoleh dengan mengubah tiga
tahap Piaget/Dewey dan menjadikannya tiga tingkat yang masingmasing

dibagi

lagi

atas

tahap.

Ketiga

tingkat

itu

adalah

tingkat prakonvensional, konvensional dan pasca konvensional.


Tahap prakonvensional sering kali berperilaku baik dan tanggap
terhadap label-label budaya mengenai baik dan buruk, namun ia
menafsirkan semua label ini dari segi fisiknya (hukuman, ganjaran
kebaikan) atau dari segi kekuatan fisik mereka yang mengadakan
peraturan dan menyebut label tentang yang baik dan yang buruk. Tingkat
ini

biasanya

ada

pada

anak-anak

yang

berusia empat hingga sepuluh tahun.


Tingkat

kedua

atau

tingkat konvensional juga

dapat

digambarkan sebagai tingkat konformis, meskipun istilah itu mungkin


terlalu sempit. Pada tingkat ini, anak hanya menuruti harapan keluarga,
kelompok atau bangsa, dan dipandangnya sebagai hal yang bernilai
dalam dirinya, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata.
Individu tidak hanya berupaya menyesuaikan diri dengan tatanan
sosialnya,

tetapi

juga

untuk

mempertahankan,

mendukung

dan

membenarkan tatanan sosial itu.


Tingkat pasca-konvensional dicirikan

oleh

dorongan

utama

menuju ke prinsip-prinsip moral otonom, mandiri, yang memiliki validitas


dan penerapan, terlepas dari otoritas kelompok-kelompok atau pribadipribadi yang memegangnya dan terlepas pula dari identifikasi si individu
dengan pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok tersebut. Pada tingkat ini
terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral

25

yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan terlepas dari otoritas


kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu.
a. Tingkat prakonvensional
1. Tahap I : Orientasi hukuman dan kepatuhan
Orientasi pada hukuman dan rasa hormat yang tak dipersoalkan
terhadap kekuasan yang lebih tinggi. Akibat fisik tindakan, terlepas
arti atau nilai manusiawinya, menentukan sifat baik dan sifat buruk
dari tindakan ini.
2. Tahap 2 : Orientasi relativis-intrumental
Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang secara instrumental
memuaskan

kebutuhan

individu

sendiri

dan

kadang-kadang

kebutuhan orang lain. Hubungan antarmanusia dipandang seperti


hubungan di tempat umum. Terdapat unsur-unsur kewajaran, timbalbalik, dan persamaan pembagian, akan tetapi semuanya itu selalu
ditafsirkan secara fisis pragmatis, timbal-balik adalah soal Jika anda
menggaruk punggungku, nanti aku akan menggaruk punggungmu,
dan ini bukan soal kesetiaan, rasa terima kasih atau keadilan.
b. Tingkat konvensional
1. Tahap 3 : Orientasi kesepakatan antara pribadi atau Orientasi Anak
manis
Orientasi anak manis. Perilaku yang baik adalah perilaku yang
menyenangkan atau membantu orang lain, dan yang disetujui oleh
mereka. Terdapat banyak konformitas dengan gambaran-gambaran
stereotip mengenai apa yang diangap tingkah laku mayoritas atau
tingkah laku yang wajar. Perilaku kerap kali dinilai menurut niat,
ungkapan ia bermaksud baik untuk pertama kalinya menjadi
penting dan digunakan secara berlebih-lebihan. Orang mencari
persetujuan dengan berperilaku baik.
2. Tahap 4 : Orientasi hukum dan ketertiban
Orientasi kepada otoritas, peraturan yang pasti dan pemeliharaan
tata aturan sosial. Perbuatan yang benar adalah menjalankan tugas,
memperlihatkan rasa hormat terhadap otoritas, dan pemeliharaan
tata aturan sosial tertentu demi tata aturan itu sendiri. Orang
mendapatan rasa hormat dengan berperilaku menurut kewajibannya.

26

c. Tingkat pasca-konvensional kita melihat:


1. Tahap 5 : Orientasi kontrak sosial legalistis
Suatu orientasi kontrak sosial, umumnya bernada dasar legalistis dan
utilitarian. Perbuatan yang benar cenderung didefinisikan dari segi
hak-hak bersama dan ukuran-ukuran yang telah diuji secara kritis dan
disepakati oleh seluruh masyarakat. Terdapat suatu kesadaran yang
jelas mengenai relativisme nilai-nilai dan pendapat-pedapat pribadi
serta suatu tekanan pada prosedur yang sesuai untuk mencapai
kesepakatan. terlepas dari apa yang disepakati secara konstitusional
dan demokratis, yang benar dan yang salah merupakan soal nilai
dan pendapat pribadi. hasilnya adalah suatu tekanan atas sudut
pandangan

legal,

tetapi

dengan

menggarisbawahi

kemungkinan perubahan hukum berdasarkan pertimbangan rasional


mengenai kegunaan sodial dan bukan membuatnya beku dalam
kerangka hukum dan ketertiban seperti pada gaya tahap 4. Di luar
bidang legal, persetujuan dan kontrak bebas merupakan unsur-unsur
pengikat

unsur-unsur

kewajiban.

Inilah

moralitas

resmi

pemerintahan Amerika Serikat dan mendapatkan dasar alasannya


dalam pemikiran para penyusun Undang-Undang.
2. Tahap 6 : Orientasi Prinsip Etika Universal
Orientasi pada keputusan suara hati dan pada prinsip-prinsip etis
yang

dipilih

sendiri,

yang

mengacu

pada

pemaham

logis,

menyeluruh, universalitas dan konsistensi. Prinsip-prinsip ini bersifat


abstrak dan etis (kaidah emas, kategoris imperatif). Prinsip-prinsip itu
adalah prinsip-prinsip universal mengenai keadilan, timbal-balik, dan
persamaan hak asasi manusia, serta rasa hormat terhadap martabat
manusia sebai person individual.
2.4.2.5 Perkembangan Spiritual Anak Remaja
Pada saat remaja mulia mandiri dari orang tua atau otoritas yang
lain, beberapa diantaranya mulai mempertanyakan nilai dan ideal
keluarga mereka. Sementara itu, remaja lain tetap berpegang teguh pada
nilai-nilai ini sebagai elemen yang stabil dalam hidupnya seperti ketika
mereka berjuang melawan konflik pada periode pergolakan ini. Remaja
27

perlu menyelesaikan konflik ini sendiri, tetapi mereka juga memerlukan


dukungan dari figur-figur yang memiliki wewenang dan/atau teman
sebaya untuk membantu penyelesaian masalahnya. Sering kali kelompok
teman sebaya lebih berpengaruh daripada orang tua, walaupun nilai-nilai
yang diperoleh selama masa pertumbuhan biasanya dipertahankan.
Remaja mampu memahami konsep abstrak dan menginterpretasi
analogi serta simbol-simbol. Mereka mampu berempati, berfilosofi dan
berpikir secara logis. Sebagian besar remaja melakukan pencarian
terhadap ideal dan memikirkan mengenai pernyataan yang tidak logis dan
ideologis yang bertentangan. Kecenderungan remaja terhadap introspeksi
dan intensitas emosional pada usia ini sering kali membuat orang lain
kesulitan untuk mengetahui apa yang mereka pikirkan. Mereka cenderung
merahasiakan pikiran mereka sendiri, takut tidak ada seorang pun yang
akan memahami perasaan yang mereka anggap sebagai sesuatu yang
unik dan istimewa tersebut. Namun demikian mereka dapat menunjukkan
perhatian terhadap spiritual yang dalam. Mereka memerlukan dukungan
dan penguatan dalam perjuangan untuk memperoleh pengertian dan
kebebasan bertanya tanpa merasa dikecam.
Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah yang formal tetapi
melakukan ibadah secara individual dengan privasi dalam kamar mereka
sendiri.

Mereka

mungkin

memerlukan

eksplorasi

terhadap

konsep

keberadaanTuhan. Membandingkan agama mereka dengan orang lain


dapat menyebabkan mereka mempertanyakan kepercayaan mereka
sendiri tetapi pada akhirnya menghasilkan perumusan dan penguatan
spiritualitas mereka.
2.4.2.6 Perkembangan Sosial Anak Remaja
Untuk

memperoleh

kematangan

penuh,

remaja

harus

membebaskan diri mereka dari dominasi keluarga dan menetapkan


sebuah identitas yang mandiri dari wewenang orang tua. Perasaan
imortalitas dan pengecualian dari konsekuensi perilaku yang berisiko,
walaupun

dipandang

negatif,

tetai

dapat

memberikan

fungsi

perkembangan yang sangt penting pada saat ini. Perasaan ini dapat
28

memberi penguatan pada remaja untuk berpisah dari orang tua dan
menjadi mandiri. Bagian dari kebebasan ini memerlukan perkembangan
hubungan sosial di luar keluarga yang membantu remaja mengidetifikasi
peran mereka di masyarakat. Masa remaja adalah masa denagn
kemampuan bersosalisasi yang kuat dan sering kali merupakan suatu
masa kesepian yang sama-sama kuat. Penerimaan oleh teman sebaya,
beberapa teman dekat dan jaminan rasa cinta dari keluarga yang
mendukung

merupaan

syarat-syarat

untuk

proses

kematangan

interpersonal.
a. Hubungan dengan Orang Tua
Selama masa remaja, hubungan orang tua-anak berubah dari
hubungan

perlindungan-ketergantungan

ke

hubungan

saling

menyayangi dan persamaan hak. Proses mencapai kemandirian


sering kali melibatkan kekacauan dan ambiguitas karena baik orang tua
maupun remaja belajar untuk menampilkan peran yang baru dan
menjalankannya sampai selesai, sementara pada saat bersamaan,
penyelesaian sering kali merupakan rangakaian kerenggangan yang
menyakitkan, yang penting untuk menetapkan hubungan akhir.
Pada saat remaja menuntut hak mereka untuk mengembangkan
hak-hak istimewanya, mererka sering kali menciptakan ketegangan di
dalam rumah. Mereka mentang kendali orang tua, dan konflik dapat
muncul pada hampir semua situasi atau masalah.
b. Hubungan dengan Teman Sebaya
Walaupun orang tua tetap memberi pengaruh utama dalam
sebagian besar kehidupan, bagi sebagian besar remaja, teman sebaya
dianggap lebih berperan penting ketika masa remaja dibandingkan
masa kanak-kanak. Kelompok teman sebaya memberikan dukungan
yang kuat pada remaja, secara individu dan secara berkelompok
memberikan remaja perasaan memiliki dan perasaan kekuatan dan
kekuasaan.

Masa

tersebut

membentuk

masa

transisi

antara

ketergantungan dan autonomi.


29

Kelompok Teman Sebaya. Remaja biasanya berpikiran sosial,


suka berteman, dan suka berkelompok. Denagn demikian kelompok
teman sebaya memiliki pengaruh yang kuat pada evaluasi diri dan
perilaku remaja. Untuk memperoleh penerimaan kelompok, remaja awal
berusaha untuk menyesuaikan diri secara total dalam berbagai hal
seperti model berpakaian, gaya rambut, selera musik, dan tata bahasa,
sering kali mengorbankan individualitas dan tuntutan diri. Segala
sesuatu pada remaja diukur oleh reaksi teman sebayanya.
Sahabat. Hubungan personal antara satu orang dengan orang lain
yang berbeda biasanya terbentuk antar remaja sesama jenis. Hubungan
ini lebih dekat dan lebih stabil daripada hubungan yang dibentuk pada
masa kanak-kanak pertengahan, dan penting untuk pencarian identitas.
Seorang sahabat meruakan pendengar terbaik, yaitu tempat remaja
mencoba

kemungkinan

peran-peran

dan

identitas

yang

ingin

dicobanya. Sahabat mungkin mencoba suatu peran secara bersamaan,


mereka saling memberikan dukungan satu sama lain. Setiap individu
memerhatikan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh sahabatnya.
c. Hubungan Heteroseksual
Selama masa remaja, hubungan dengan anggota lawan jenis
merupakan hal baru yang penting. Jenis dan tingkat keseriusan
hubungan heteroseksual bervariasi. Tahap awal hubungan biasanya
tidak memiliki komitmen, sangat bebas bergerak, dan jarang dicirikan
dengan kedekatan romantis yang dalam. Perasaan tertarik dengan
lawan jenis, merupakan perasaan pelekatan yang kuat terhadap
seorang dewasa yang penting atau yang tampaknya baik, yaitu
seseorang

yang

memperlihatkan

kualitas

yang

sangat

berharga

menurut remaja, biasa terjadi pada remaja awal dan merupakan salah
satu

bentuk

keterikatan

cinta

yang

pertama.

Masa

remaja

pertengahan adalah waktu ketika remaja mulai mengembangkan


hubungan romantis dan ketika kebanyakan remaja memulai percobaan
seksual.

Remaja

awal

dan

pertengahan

memilih

pasangannya

berdasarkan karakteristik fisik dan kepribadian yang diterima oleh


kelompok teman sebaya. Seiring dengan perkembangan remaja ke

30

remaja

akhir,

pilihan

pasangan

kemungkinan

lebih

berdasarkan

karakteristik dan ketertarikan pribadi.


Aktivitas Seksual. Seksualitas dan aktivitas seksual merupakan
suatu arean yang harus dibicarakan dengan setiap remaja secara
rahasia. Insidensi aktivitas seksual pada remaja tinggi dan meningkat
sesuai dengan pertambahan usia. Diantara remaja terdapat rentang
yang

penuh

individual,

dengan

bercumbu,

eksplorasi
dan

seksual,

masturbasi

mulai

mutual

dari

masturbasi

sampai

hubungan

seksual.
Remaja terlibat dalam hubungan seksual karena berbagai alasan,
diantaranya yaitu : untuk memperoleh sensasi menyenangkan, untuk
memuaskan dorongan seksual, untuk memuaskan rasa keingintahuan,
sebagai tanda penaklukan, sebagai ekspresi rasa sayang, atau karena
mereka tidak mampu untuk menahan tekanan untuk menyesuaikan diri.
Seringkali keinginan yang sangat mendsak untuk menjadi milik
seseorang dan memperoleh

ketenangan dari kelompok dan harapan

untuk benar-benar ingin dimilikinoleh seseorang memicu meningkatnya


serangkaian kontak fisik yang intim.
d. Homoseksualitas Pada Remaja
Selama masa remaja terjadi pengembangan identitas seksual.
Proses ini menjadi sangat rumit jika identitas seksual tidak mengarah
pada heteroseksual. Penelitian sebelumnya mengenai lelalki gay dan
lesbian pada masa remaja menunjukkan bahwa perilaku ini terjadi
apabila individu menyadari ketertarikan terhadap sesama jenis. Lakilaki gay menyadari ketertarikan terhadap sesama jenis ini pada usia
yang rata-rata lebih muda daripada wanita. Remaja yang homoseksual
dan heteroseksual menghadapi tantangan yang sangat besar untuk
tumbuh dan menjadi sehat secara fisik dan mental jika menghadapi
perilaku dan nilai yang antihomosesual. Remaja dengan perilaku ini
berisiko tinggi untuk melakukan perilaku yang merusak kesehatan,
bukan karena perilaku seksualnya tetapi karena reaksi masyarakat
terhadap perilaku tersebut (Saewyc dkk, 1998).
e. Minat dan Aktivitas
31

Remaja menghabiskan sebagian besar waktunya dalam aktivitas


mengisi waktu luang. Seiring dengan perkembangan kemajuan tahap
perkembangan remaja, aktivitas mengisi waktu luang yang sebelumnya
dilakukan bersama keluarga menjadi terpusat pada teman sebaya.
Selain memberi remaja keasyikan dan kesenangan, aktivitas mengisi
waktu luang membantu perkembangan keterampilan sosial, fisik, dan
kognitif.

Aktivitas

mengisi

waktu

luang

juga

memberi

remaja

kesempatan untuk belajar menetapkan prioritas dan mengatur waktu.


Dewasa ini bayak remaja harus belajar membagi waktu antara
waktu sekolah, aktivitas waktu senggang, dan tanggung jawab kerja.
Pengalaman kerja remaja memberi banyak keuntungan, termasuk
manajemen waktu, keterampilan bekerja dalam tim, dan menambah
penghasilan.
2.5 Peningkatan Kesehatan Optimal Pada Masa Remaja
2.5.1 Imunisasi Anak Remaja
Pembaharuan imunisasi merupakan bagian yang sangat penting
dalam asuhan preventif pada remaja. Memperoleh catatan tentang
riwayat imunisasi remaja sebelumnya merupakan tindakan yang sangat
penting. Remaja harus telah mendapatkan vaksin tetanus-difteri (Td) pada
usia 11-12 tahun dan tidak lebih dari 16 tahun jika periode waktu minimal
5 tahun telah berlalu sejak pemberian dosis terakhir vaksindifteri-pertusistatanus atau pertusis aseluler, atau difteri-tetanus (DPT, DTaP, atau DT).
Pemberian booster Td secara berturut-turut setiap 10 tahun dianjurkan.
Semua remaja, kecuali remaja yang sedang hamil, harus menerima vaksin
campak-parotitis-rubela (MMR, measles-mumps-rubella) kedua, kecuali
mereka memiliki catatan yang menerangkan bahwa mereka telah
mendapat vaksinasi MMR sebanyak dua kali selama masa kanak-kanak,
sebelum

usia

12

bulan.

Semua

remaja

yang

sebelumnya

tidak

mendapatkan tiga dosis vaksin hepatitis, harus divaksinasi untuk melawan


virus hepatitis B. Semua remaja juga harus dikaji riwayat infeksi atau
vaksinasi

varisela

sebelumnya.

Vaksinasi

dengan

vaksin

varisela

dianjurkan untuk individu dengan riwayat infeksi atau belum mendapat


32

vaksinasi varisela. Untuk remaja di atas usia 13 tahun, vaksinasi varisela


diberikan dalam dua dosis dengan jarak 4 minggu atau lebih. Vaksin
hepatitis A harus diberikan kepada remaja yang tinggal dalam komunitas
yang tingkat penderita hepatitis A nya tinggi atau remaja yang memiliki
faktor risiko terinfeksi hepatitis A seperti pemakai obat-obtan terlarang
yang disuntikkan atau pada remaja yang memiliki aktivtas seksual
berisiko tinggi (American Academy of Pediatric, 2000).
2.5.2 Nutrisi Anak Remaja
Pada masa remaja kebutuhan kalori makin meningkat karena
perubahan menjadi pubertas dan aktivitas. Pada masa remaja sangat
menyadari akan gambaran diri sehingga perlu pemantauan diit dalam
makanan, seperti takut akan obesitas dan takut timbulnya akne atau
jerawat akibat makanan. Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang cepat
baik tinggi maupun berat badan sehingga kebutuhan gizi pun meningkat.
(Behrman, RE dkk, 1996)
Fenomena pertumbuhan pada masa remaja menuntut kebutuhan
nutrisi yang tinggi agar tercapai potensi pertumbuhan secara maksimal
karena nutrisi dan pertumbuhan merupakan hubungan integral. Tidak
terpenuhinya

kebutuhan

nutrisi

pada

masa

ini

dapat

berakibat

terlambatnya pematangan seksual dan hambatan pertumbuhan linear.


Pada masa ini pula nutrisi penting untuk mencegah terjadinya penyakit
kronik yang terkait nutrisi pada masa dewasa kelak, seperti penyakit
kardiovaskular, diabetes, kanker dan osteoporosis.
Sebelum masa remaja, kebutuhan nutrisi anak lelaki dan anak
perempuan tidak dibedakan, tetapi pada masa remaja terjadi perubahan
biologik dan fisiologik tubuh yang spesifik sesuai gender (gender specific)
sehingga kebutuhan nutrien pun menjadi berlainan. Sebagai contoh,
remaja

perempuan

membutuhkan

zat

besi

lebih

banyak

karena

mengalami menstruasi setiap bulan.

33

Selain perubahan biologik dan fisiologik, remaja juga mengalami


perubahan psikologik dan sosial. Terdapat variasi waktu dan lamanya
berlangsung masa transisi dari anak menjadi manusia dewasa yang
dipengaruhi oleh faktor sosio-kultural dan ekonomi. Selain itu, remaja
bukanlah kelompok yang homogen walaupun berada dalam lingkungan
sosio-kultural yang sama dengan variasi lebar dalam hal perkembangan,
maturitas dan gaya hidup. Penelitian Blum (1991) pada remaja 15-18
tahun, didapatkan bahwa remaja lelaki lebih percaya diri, merasa lebih
bahagia dan sehat serta lebih tidak rentan dibandingkan remaja
perempuan yang cenderung merasa kurang puas akan keadaan tubuhnya,
kepribadian serta kesehatannya.
Tingginya kebutuhan energi dan nutrien pada remaja dikarenakan
perubahan dan pertambahan berbagai dimensi tubuh (berat badan, tinggi
badan), massa tubuh serta komposisi tubuh sebagai berikut:
a. Tinggi badan
Sekitar 15 20% tinggi badan dewasa dicapai pada masa remaja.
Percepatan tumbuh anak lelaki terjadi lebih belakangan serta puncak
ypercepatan lebih tinggi dibanding anak perempuan. Pertumbuhan
linear dapat melambat atau terhambat bila kecukupan makanan /
energi sangat kurang atau energy expenditure meningkat misal pada
atlet.
b. Berat badan
Sekitar 25 50% final berat badan ideal dewasa dicapai pada masa
remaja. Waktu pencapaian dan jumlah penambahan berat badan
sangat dipengaruhi asupan makanan/energi dan energy expenditure.
c. Komposisi tubuh
Pada masa pra-pubertas proporsi jaringan lemak dan otot maupun
massa tubuh tanpa lemak (lean body mass) pada anak lelaki dan
34

perempuan

sama.

Anak

lelaki

yang

sedang

tumbuh

pesat,

penambahan jaringan otot lebih ybanyak daripada jaringan lemak


secara proporsional, demikian pula massa tubuh tanpa lemak
dibanding anak perempuan. Jumlah jaringan lemak tubuh pada orang
dewasa normal adalah 23% pada perempuan dan 15% pada lelaki.
Sekitar 45% tambahan massa tulang terjadi pada masa remaja dan
pada yakhir dekade ke-dua kehidupan 90% massa tulang tercapai.
Terjadi kegagalan penambahan massa tulang pada perempuan
dengan ypubertas terlambat sehingga kepadatan tulang lebih rendah
pada masa dewasa. Nutrisi merupakan salah satu faktor lingkungan
yang turut menentukan awitan pubertas. Pemantauan pertumbuhan
selama pubertas dapat menggunakan indeks TB/U, BB/TB dan IMT/U
(indeks massa tubuh menurut umur). Rumus IMT = BB/TB.

Nutrisi pada masa remaja hendaknya dapat memenuhi beberapa hal


di bawah ini:
1.

Mengandung nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik dan


perkembangan kognitif serta maturasi seksual.

2.

Memberikan cukup cadangan bila sakit atau hamil.

3.

Mencegah

awitan

penyakit

terkait

makanan

seperti

penyakit

kardiovaskular, diabetes, osteoporosis dan kanker.


4.

Mendorong kebiasaan makan dan gaya hidup sehat.

2.5.2.1 Kebutuhan Nutrisi Remaja


Pada remaja yang sedang mengalami pertumbuhan fisik pesat serta
perkembangan dan maturasi seksual, pemenuhan kebutuhan nutrisi
merupakan hal yang mutlak dan hakiki. Defisiensi energi dan nutrien yang
terjadi pada masa ini dapat berdampak negatif yang dapat melanjut
sampai dewasa. Kebutuhan nutrisi remaja dibahas berikut ini:
35

a. Energi
Kebutuhan energi remaja dipengaruhi oleh aktivitas, metabolisme
basal

dan

peningkatan

tumbuh-kembang

masa

kebutuhan
remaja.

untuk

menunjang

Metabolisme

basal

percepatan

(MB)

sangat

berhubungan erat dengan jumlah massa tubuh tanpa lemak (lean body
mass) sehingga MB pada lelaki lebih tinggi daripada perempuan yang
komposisi tubuhnya mengandung lemak lebih banyak. Karena usia saat
terjadinya percepatan tumbuh sangat bervariasi, maka perhitungan
kebutuhan energi berdasarkan tinggi badan (TB) akan lebih sesuai.
Percepatan

tumbuh

pada

remaja

sangat

rentan

terhadap

kekurangan energi dan nutrien sehingga kekurangan energi dan nutrien


kronik pada masa ini dapat berakibat terjadinya keterlambatan
pubertas dan atau hambatan pertumbuhan.

b. Protein
Kebutuhan protein pada remaja ditentukan oleh jumlah protein
untuk rumatan masa tubuh tanpa lemak dan jumlah protein yang
dibutuhkan untuk peningkatan massa tubuh tanpa lemak selama
percepatan tumbuh. Kebutuhan protein tertinggi pada saat puncak
percepatan tinggi terjadi (perempuan 11-14 tahun, lelaki 15-18 tahun)
dan kekurangan asupan protein secara konsisten pada masa ini dapat
berakibat pertumbuhan linear berkurang, keterlambatan maturasi
seksual serta berkurangnya akumulasi massa tubuh tanpa lemak.

c. Karbohidrat

36

Karbohidrat merupakan sumber energi utama dalam makanan,


selain juga sebagai sumber serat makanan. Jumlah yang dianjurkan
adalah 50% atau lebih dari energi total serta tidak lebih dari 10-25%
berasal dari karbohidrat sederhana seperti sukrosa atau fruktosa.
Di Amerika Serikat, konsumsi minuman ringan (soft drinks)
memasok lebih dari 12% kalori yang berasal dari karbohidrat dan
konsumsinya meningkat 3 kali lipat pada dua dekade terakhir ini.
Penelitian Josep di Jakarta (2010) pada remaja siswa SMP didapatkan
bahwa siswa yang mengonsumsi minuman bersoda 3-4 kali per minggu
berisiko untuk terjadi gizi lebih.

d. Lemak
Tubuh manusia memerlukan lemak dan asam lemak esensial
untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. Pedoman makanan di
berbagai negara termasuk Indonesia (gizi seimbang), menganjurkan
konsumsi lemak tidak lebih dari 30% dari energi total dan tidak lebih
dari 10% berasal dari lemak jenuh. Sumber utama lemak dan lemak
jenuh adalah susu, daging (berlemak), keju, mentega / margarin, dan
makanan seperti cake, donat, kue sejenis dan es krim, dan lain-lain.

e. Mineral
1. Kalsium (Ca)
Kebutuhan kalsium pada masa remaja merupakan yang tertinggi
dalam

kurun

waktu

kehidupan

karena

remaja

mengalami

pertumbuhan skeletal yang dramatis. Sekitar 45% dari puncak


pembentukan

massa

tulang

berlangsung

pada

masa

remaja,

sehingga kecukupan asupan kalsium menjadi sangat penting untuk


kepadatan

masa

tulang

serta

mencegah

risiko

fraktur

dan
37

osteoporosis. Pada usia 17 tahun, remaja telah mencapai hampir 90%


dari masa tulang dewasa, sehingga masa remaja merupakan peluang
(window of opportunity) untuk perkembangan optimal tulang dan
kesehatan masa depan. Angka kecukupan asupan kalsium yang
dianjurkan untuk kelompok remaja adalah 1.300 mg per hari. Susu
merupakan sumber kalsium terbaik, disusul keju, es krim, yogurt. Kini
banyak makanan dan minuman yang difortifikasi dengan kalsium
yang setara dengan kandungan kalsium pada susu (300mg per saji).
Terdapat pula kalsium dalam bentuk sediaan farmasi (dalam bentuk
karbonat, sitrat, laktat atau fosfat) dengan absorpsi sekitar 25-35%.
Preparat kalsium akan diabsorpsi lebih efisien bila dikonsumsi
bersama makanan dengan dosis tidak lebih dari 500 mg.
2. Zat besi (Fe)
Seperti halnya kalsium, kebutuhan zat besi pada remaja baik
perempuan maupun lelaki meningkat sejalan dengan cepatnya
pertumbuhan dan bertambahnya massa otot dan volume darah. Pada
remaja

perempuan

kebutuhan

lebih

banyak

dengan

adanya

menstruasi. Kebutuhan pada remaja lelaki 10-12 mg/hari dan


perempuan 15 mg/hari. Besi dalam bentuk heme yang terdapat
pada sumber hewani lebih mudah diserap dibanding besi non-heme
yang terdapat pada biji-bijian atau sayuran.
3. Seng (Zn)
Seng

berperan

sebagai

metalo-enzyme

pada

proses

metabolisme serta penting pada pembentukan protein dan ekspresi


gen. Konsumsi seng yang adekuat penting untuk proses percepatan
tumbuh dan maturasi seksual. Seperti halnya dengan kekurangan
energi dan protein, kekurangan seng dapat mengakibatkan hambatan
pada pertumbuhan dan kematangan seksual. Daging merah, kerang
dan biji-bijian utuh merupakan sumber seng yang baik.

38

f. Vitamin
1. Vitamin A
Selain

penting

untuk

fungsi

penglihatan,

vitamin

juga

diperlukan untuk pertumbuhan, reproduksi dan fungsi imunologik.


Kekurangan vitamin A awal ditandai dengan adanya buta senja.
Sumber vitamin A utama : serealia siap saji, susu, wortel, margarin
dan keju. Sumber - karoten sebagai pro-vitamin A yang sering
dikonsumsi remaja berupa wortel, tomat, bayam dan sayuran hijau
lain, ubi jalar merah dan susu.

2. Vitamin E
Vitamin E dikenal sebagai antioksidan yang penting pada remaja
karena pesatnya pertumbuhan. Meningkatnya konsumsi makanan
yang mengandung vitamin E merupakan tantangan karena makanan
sumber vitamin E umumnya mengandung lemak tinggi.
3. Vitamin C
Keterlibatannya dalam pembentukan kolagen dan jaringan ikat
menyebabkan vitamin ini menjadi penting pada masa percepatan
pertumbuhan dan perkembangan. Status vitamin C pada remaja
perokok lebih rendah walaupun telah mengonsumsinya dalam jumlah
cukup dikarenakan stres oksidatif sehingga mereka memerlukan
tambahan vitamin C hingga 35 mg per hari.

g. Folat

39

Folat berperan pada sintesis DNA, RNA dan protein sehingga


kebutuhan folat meningkat pada masa remaja. Kekurangan folat
menyebabkan terjadinya anemia megaloblastik dan kecukupan folat
pada masa sebelum dan selama kehamilan dapat mengurangi kejadian
spina bifida pada bayi.

h. Lain-lain
Serat (fiber). Serat makanan penting untuk menjaga fungsi
normal usus dan mungkin berperan dalam pencegahan penyakit kronik
seperti kanker, penyakit jantung koroner dan diabetes mellitus tipe-2.
Asupan serat yang cukup juga diduga dapat menurunkan kadar
kolesterol darah, menjaga kadar gula darah dan mengurangi risiko
terjadinya obesitas. Kebutuhan serat per hari dapat dihitung dengan
rumus : ( umur + 5 ) gram dengan batas atas sebesar ( umur + 10 )
gram

2.5.2.2 Masalah Nutrisi Pada Remaja


Masalah nutrisi utama pada remaja adalah defisiensi mikronutrien, khususnya anemia
defisiensi zat besi, serta masalah malnutrisi, baik gizi kurang dan perawakan pendek maupun
gizi lebih sampai obesitas dengan ko-morbiditasnya yang keduanya seringkali berkaitan
dengan perilaku makan salah dan gaya hidup.
Laporan hasil beberapa penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa
kebanyakan remaja kekurangan vitamin dan mineral dalam makanannya antara lain folat,
vitamin A dan E, Fe, Zn, Mg, kalsium dan serat. Hal ini lebih nyata pada perempuan
dibanding lelaki, tetapi sebaliknya tentang asupan makanan yang berlebih (lemak total, lemak
jenuh, kolesterol, garam dan gula) terjadi lebih banyak pada lelaki daripada perempuan.
2.5.2.3 Isu Masalah Nutrisi Pada Remaja
1. Defisiensi besi, anemia defisiensi besi dan defisiensi mikronutrien lain.
Anemia merupakan masalah nutrisi utama pada remaja dan umumnya pola makan
salah sebagai penyebabnya di samping infeksi dan menstruasi. Prevalensi anemia pada
40

remaja cukup tinggi. Sukarjo dkk di Jawa Timur (2001) mendapatkan prevalensi sebesar
25.8% pada remaja perempuan dan 12.1% pada remaja lelaki usia 12-15 tahun, sedangkan
laporan Sunarno dan Untoro (2002) pada SKRT 1995 menunjukkan angka 45.8% dan
57.1% masing-masing pada anak sekolah lelaki dan perempuan usia 10-14 tahun.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan defisiensi besi dengan gangguan
proses kognitif yang membaik setelah mendapat suplementasi zat besi.
2. Gizi Kurang dan Perawakan Pendek
Perawakan pendek pada remaja seringkali ditemukan pada populasi dengan
kejadian malnutrisi tinggi, prevalensi berkisar antara 27-65% pada 11 studi oleh ICRW
(International Centre for Research on Women). Gizi kurang kronik yang mengakibatkan
perawakan pendek merupakan penyebab terjadinya hambatan pertumbuhan dan maturasi,
memperbesar risiko obstetrik, dan berkurangnya kapasitas kerja.
3. Obesitas
Obesitas pada masa remaja cenderung menetap hingga dewasa dan makin lama
obesitas berlangsung makin besar korelasinya dengan mortalitas dan morbiditas. Obesitas
sentral (rasio lingkar pinggang dengan panggul) terbukti berkorelasi terbalik dengan profil
lipid padal penelitian longitudinal Bogalusa. Obesitas juga menimbulkan masalah besar
kesehatan dan sosial, dan pengobatan tidak saja memerlukan biaya tinggi tetapi seringkali
juga tidak efektif. Karenanya pencegahan obesitas menjadi sangat penting dan remaja
merupakan target utama.
4. Perilaku dan Pola Makan Remaja
Pola makan remaja seringkali tidak menentu yang merupakan risiko terjadinya
masalah nutrisi. Bila tidak ada masalah ekonomi ataupun keterbatasan pangan, maka
faktor psiko-sosial merupakan penentu dalam memilih makanan. Gambaran khas pada
remaja yaitu : pencarian identitas, upaya untuk ketidaktergantungan dan diterima
lingkungannya, kepedulian akan penampilan, rentan terhadap masalah komersial dan
tekanan dari teman sekelompok (peer group) serta kurang peduli akan masalah kesehatan,
akan mendorong remaja kepada pola makan yang tidak menentu tersebut. Kebiasaan
makan yang sering terlihat pada remaja antara lain ngemil (biasanya makanan padat
kalori), melewatkan waktu makan terutama sarapan pagi, waktu makan tidak teratur,
sering makan fast foods, jarang mengonsumsi sayur dan buah ataupun produk peternakan
(dairy foods) serta diet yang salah pada remaja perempuan. Hal tersebut dapt
41

mengakibatkan asupan makanan tidak sesuai kebutuhan dan gizi seimbang dengan
akibatnya terjadi gizi kurang atau malahan sebaliknya asupan makanan berlebihan menjadi
obesitas. Remaja perempuan cenderung pada asupan makanan yang kurang, terlebih bila
terjadi kehamilan.
Di negara berkembang, sering terjadi gangguan perilaku makan seperti anoreksia
nervosa dan bulimia terutama pada perempuan yang berkorelasi dengan body image yang
negatif. Karenanya penting membangun body image dan self esteem yang positif pada
remaja dalam upaya promosi kesehatan dan gizi serta pencegahan obesitas.
2.6 Masalah Pada Masa Remaja
Masa remaja ini akan banyak kita jumpai berbagai permasalahan
yang ada karena masa ini merupakan proses menuju kedewasaan dan
anak ingin mencoba bahwa dirinya sudah mampu sendiri. Masalah yang
dapat dijumpai adalah perubahan bentuk tubuh, adanya jerawat atau
akne yang dapat menunjukkan gangguan emosional, gangguan miopi,
adanya kelainan kifosis atau skoliosis, penyakit infeksi, defisiensi besi
khususnya pada remaja perempuan, obesitas, kenakalan remaja, dan lainlain. Perkembangan secara khusus pada masa ini adalah kematangan
identitas

seksual

dengan

perkembangnya

organ

reproduksinya,

merupakan masa krisis identitas di masa anak memasuki perkembangan


dewasa yang akan meninggalkan masa kanak-kanak dalam pencapaian
tugas perkembangannya membutuhkan fasilitas bantuan pada orang tua.
2.6.1 Masalah Kesehatan Umum Remaja
a. Infeksi Mononukleosis
Infeksi mononukleosis merupakan penyakit infeksi akut dan dapat
sembuh sendiri yang umum terjadi pada kelompok usia muda dibawah
usia 25 tahun. Penyakit ini dicirikan dengan peningkatan elemen
mononuklear dalam darah dengan gejala umum proses infeksi. Proses
penyakit biasanya ringan tetapi pada akhirnya dapat menjadi berat
atau yang jarang terjadi disertai dengan komplikasi serius. Penyebab
utama terjadinya infeksi mononukleosis adalah virus Epstein-Barr yang
mirip dengan virus herpes. Virus tersebut dapat muncul baik dalam
bentuk sporadik atau epidemik, kasus sporadik merupakan bentuk yang
42

paling

sering

terjadi.

Mekanisme

penyebarannya

belum

dapat

dibuktikan, walaupun virus tersebut dipercaya ditularkan melalui kontak


intim langsung dengan sekresi oral. Penyakit ini sangat menular dan
periode penularannnya tidak diketahui. Periode inkubasisetelah terpajan
virus ini adalah 4-6 minggu.
Awitan gejala dapat akut atau insidental. Gejala pada umumnya
tampak sangat beragam jenis, keparahan, dan durasinya. Hitung
leukosit

dapat

normal

atau

rendah,

tetapi

biasanya

terbentuk

leukositosis limfositik. Selain itu terjadi peningkatan leukosit atipikal


pada apusan darah perifer. Tidak ada terapi khusus untuk infeksi
mononukleosis. Gejala umum biasanya dapat diredakan dengan obatobatan sederhana. Analgesik ringan biasanya cukup untuk meredakan
gejala sakit kepala, demam, dan malaise yang mengganggu. Tirah
baring dianjurkan untuk keletihan tetapi periode waktu khusus tidak
ditetapkan. Orang muda yang terkena infeksi ini dianjurkan untuk
mengatur aktivitasnya sesuai dengan toleransi kecuali terdapat faktorfaktor

komplikasi.

Apabila

limpa

membesar,

aktivitas

yang

kemungkinan dapat menyebabkan terpukulnya abdomen atau dada


harus dihindari. Terapi penisilin oral jangka pendek kadang-kadang
diresepkan

untuk

streptokokus

sakit

tenggorokan,

hemolitikus-.

Pemberian

terutama
ampisilin

jika

terdapat

sering

memicu

terjadinya ruam makulopapuler pada individu yang terinfeksi, sehingga


pemakaian ampisilin dikontraindkasikan. Sakit tenggorokan yang berat,
dapat diredakan dengan berkumur-kumur, meminum minuman panas,
troches

anastetik,

kortikostreroid
distress

atau

telah

pernafasan

analgesik,

menunjukkan
akibat

termasuk

opioid.

Penggunaan

keefektifan

dalam

mengurangi

hipertrofi

tonsilar,

anemia

hemolitik,

trombositopenia, dan komplikasi neurogenik. Namun pemakaian steroid


secara rutin tidak dianjurkan.
Perjalanan penyakit infeksi mononukleosis dapat sembuh sendiri
dan biasanya tidak menimbulkan komplikasi. Gejala akut biasanya
menghilang dalam 7 sampai 10 hari, dan keletihan yang resisten
mereda dalam 2 sampai 4 minggu. Anak remaja yang terinfeksi ini
43

mungki memerlukan pembatasan aktivitas selama 2 samapai 3 minggu,


penakit jarang memanjang sampai periode yang lama.komplikasi jarang
terjadi tetap dapat menjadi serius dan memerlukan penatalaksanaan
yang tepat.

b. Merokok
Perilaku merokok dewasa ini meningkat menjadi 80% pada pelajar
kulit hitam, 34% pada pelajar Hispanik, dan 28% pada pelajar kulit putih
(Center for Disease and Prevention, 1998). Remaja mulai merokok
karena berbagai alasan, seperti meniru perilaku orang dewasa, tekanan
dari teman sebaya, dan meniru sifat orang yang terkenal yang biasanya
merokok. Remaja yang kemungkinan merokoknya rendah adalah remaja
yang keluarga dan teman-temannya tidak merokok, tertarik dalam
kegiatan akademik atau olah raga (terutama olahrag yang memerlukan
performa tinggi seperti bola basket, renang, dan lari) dan mereka yang
berencana akan masuk pergurua tinggi.
Bahaya merokok pada setiap tngkat usia tidak diragukan lagi,
namun demikian pendekatan pencegahan terhadap remaja yang
merokok terutama dan sangat penting. Merokok dapat menyebabkan
pengurangan fungsi paru, batuk perokok, dan gangguan pernafasan
lain. Pencegahan merokok yang rutin pada remaja adalah cara paling
efektif untuk mengurangi insiden merokok. Berbagai metode telah
dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Program pencegahan merokok
yang berfokus pada efek negatif jangka panjang terhadap kesehatan
akibat merokok tidak lagi efektif. Program paling efekti adalah program
komunitas luas yang melibatkan orang tua, teman sebaya, media cetak,
dan oeganisasi masyarakat. Karena merokok dan fungsi perilaku yang
berhubungan dengan merokok sebagai kunci simbol sosial, kampanye
anti merokok harus ditujukan pada norma-norma para calon perokok
tanpa menghina atau mengancam norma sosial kelompok.

44

2.6.2 Masalah Kesehatan Terkait Perubahan Pertumbuhan dan


Kematangan
a. Postur Tubuh Tinggi atau Pendek
1. Postur Tinggi
Selain fakta bahwa rata-rata tinggi badan remaja putra dan putri
terus-menerus meningkat, terdapat sekelompok kecil anak-anak yang
karena beberapa gangguan organik atau kecenderungan keluarga,
menjadi sangat tinggi jika dibandingkan dengan teman sebayanya.
Pada beberapa remaja terutama putra, hal ini merupakan sumber
kecemasan yang intens dan rintangan sosial yang berat
Apabila laju pertambahan tinggi badan berubah sebelum masa
pubertas dan memberi kemungkinan tinggi badan dewasa yang
terlalu tinggi, terapi hormon mungkin dapat dipertimbangkan,
walaupun terdapat kontroversi besar dalam penggunaan hormon
untuk tujuan terapi ini. Pemakaian estrogen telah terbukti efektif
dalam mengontrol tinggi badan jika

terapi dimulai sebelum

menarche dan sebelum akhir proses pertumbuhan remaja yang


normalnya mengawali menarche. Penyeleksian anak-anak untuk
terapi hormonal dibuat berdasarkan evaluasi faktor fsisik, psikologis
dan sosial yang diteliti.
2. Postur Pendek
Postur tubuh pendek merupakan temuan nonspesifik yang
mungkin merupakan manifestasi awal adanya gangguan serius, atau
mungkin tidak memiliki akibat secara medis. Dari sudut pandanga
yang luas, penyebab tinggi badan pendek dan/atau keterlambatan
perkembangan kemungkinan adalah nutrisis yang tidak adekuat,
namun

ganguan

utama

yang

mengakibatkan

keterlambatan

perkembangan adalah penyakit kronis, disfungsi endokrin, dan


sindrom kegagalan gonad primer.
Penyakit kronis dapat mengganggu pertumbuhan, tetapi jika
penyakitvterlalu lama, pertumbuhan akan terjadi. Penyakit dan
gangguan

yang

biasanya

menyebabkan

beberapa

tingkat
45

keterlambatan pertumbuhan adalah asma, kistik fibrosis, penyakit


gastrointestinal

(seperti

infeksi

parasit),

sindrom

malabsorbsi,

anomali jantung, dan gangguan ginjal kronis. Durasi penyakit lebih


signifikan

dibandingkan

intensitas

dalam

memengaruhi

pertumbuhan, walaupun lamanya waktu yang diperlukan untuk


memengaruhi

pertumbuhan

secara

permanen

belum

dapat

ditentukan.
Gangguan skeletal yang memmengaruhi pertumbuhan postur
tubuh secara prinsip sama seperti yang digambarkan pada dwarfisme
(orang kerdil). Kebanyakan gangguan ini disebabkan oleh berbagai
defek dan gangguan kongenital, seperti arkondoplasia, dan berbagai
kesalahan metabolisme yang terdapat seak lahir, seperti sindrom
Hurler atau Hunter.
b. Abnormalitas Kromosom Seks
1. Sindrom Turner
Sindrom Turner disebabkan oleh tidak adanya kromosom X,
akibatnya jumlah kromososm pada remaja putri ini adalah 45-44
pasang autososm dan 1 kromososm X (45,X). Insidensi kondisi seperti
ini di masyarakat diperkirakan terjadi pada 1 dari 2500 kelahiran
wanita. Walaupun gangguan ini sering kali dikenali pada saat lahir
dengan tanda-tanda yang terdiri atas leher berselaput, garis batas
rambut posterior rendah, daerah puting lebar, dan edema pada
tangan dan kaki. Sindrom turner paling sering didiagnosis pada saat
pubertas karena terdiri atas tiga ciri, yaitu postur tubuh pendek,
infantilisme seksual, dan amenore.
Remaja putri yang menderita Sindrom Turner akan selalu steril.
Telah

terbukti

bahwa

mereka

mengalami

kesulitan

dalam

berhubungan dengan teman sebaya dan dalam memahami stimulus


sosial. Mereka memperlihatkan lebih banyak masalah perilaku,
terutama yang berhubungan dengan perilaku yang tidak matang dan
terisolasi secara sosial.diagnosis pasti dikonfirmasi berdasarkan uji
kromatin seks negatif, analisis kromososm jarang diperlukan.
46

Terapi selalu bersifat individual pada remaja putri ini, dan


terutana terdiri atas terapi hormon dan konseling psikologis baik
untuk anak maupun orang tua. Pertumbuhan linear sering kali dapat
ditingkatkan

dengan

pemberian

hormon

pertumbuhan

yang

diberikan sejak dini. Terapi estrogen diawali selama masa pubertas


normal

untuk

meningkatkan

perkembangan

karakteristik

seks

sekunder. Respon terhadap terapi estrogen beragam pada setiap


remaja putri, tetapi sift kewanitaan secara bertahap akan dicapai
sampai beberapatingkat pada sebagian besar individu.
2. Sindrom Klinefelter
Abnormalitas kromosom yang paling sering ditemukan yaitu
Sindrom Klinefelter, disebabkan karena adanya satu atau beberapa
kromosom X tambahan. Mayoritas pria dengan sindrom ini memiliki
kromosom

pelengkap yaitu 47, XXY. Pada pria muda penyakit ini

jarang terlihat sebelum pubertas, yaitu ketika berbagai derajat


kegagalan virilisme remaja terjadi. Beberapa pria yidak terdeteksi
samapi mereka melakukan pemeriksaan infertilitas. Semua laki-laki
Klinefelter tidak memiliki sperma dalam semen (azoospermia), testis
kecil,

dan

perkembangan

karakteristik

seks

sekunder

defektif.

Terjadinya Sindrom Klinefelter diperkiran sekitar 1 dalam 850


kelahiran laki-laki yang hidup. Pada 80% laki-laki ini terdapat swab
bukal kromatin-positif, dan kromosom ekstra terlihat pada analisis
kromosom.
Kerusakan kognitif dalam berbagai derajat sering ditemukan dan
tampak memilki hubungan langsung dengan jumlah kromosom X
dalam sel. Remaja putra yang menderita Sindrom Klinefelter juga
dapat mengalami kesulitan besar dalam memperoleh keterampilan
motorik, perkembangan bahasa lambat, keterampilan verbal buruk,
dan memori auditori berkurang. Rasa malu, perilaku pasif, masalah
perilaku dan kesulitan sekolah sering menyertai gangguan ini, tetapi
keadaan ini mungkin berhubungan dengan perbedaan potur tubuh
dan perkembangan yang lambat.
47

Upaya utama dalam terapi medis diarahkan pada peningkatan


karakteristik maskulin melalui pemberian hormon pria, terutama
testosteron. Pembedahan kosmetik akan menghilangkan rasa malu
pada remaja putra yang mengalami ginekomastia.
2.6.3 Masalah Kesehatan yang Berhubungan dengan Sistem
Reproduksi
a. Amenore
Menarche

atau

periode

menstruasi

pertama

terjadi

relatif

terlambat pada perkembangan pubertas wanita.


1. Amenore Primer adalah tidak adanya karakteristik seks sekunder
dan tidak adanya perdarahan uteri pada saat usia 14 sampai 15
tahun, atau tidak adanya perdarahan uteri dengan karakteristik seks
sekunder pada usia 16 sampai 16,5 tahun. Tidak adanya perdaraham
uteri setelah tingkat kematangan seksual 5 (sexual maturity rating,
SMR 5) dalam 1 tahun, atau perkembangan payudara selama 4
tahun, juga dipertimbangkan sebagai amenore primer (Neinstein,
1996). Etiologi amenore primer dapat berupa anatomik, hormonal,
genetik, atau idiopatik. Pengajian riwayat yang menyeluruh dan
pemeriksaan fisik akan memberikan petunjuk terhadap etiologi.
2. Amenore Sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 6
bulan atau minimal tiga siklus setelah menstruasi awal. Siklus
menstruasi yang tidak teratur sering terjad dalam satu atau dua
tahun pertama setelah menarche. Remaja putri yang mengalami
awitan menarche lambat akan lebih lama mendapatkan siklus
ovulatori yang teratur. Kehamlan merupakan penyebab amenore
sekunder yang paling sering dan harus dihilangkan dari kedua tipe
amenore, bahkan jika remaja menyangkal telah melakukan aktivitas
seksual.

Apabila

kehamilan

telah

dihilangkan,

riwayat

harus

dievaluasi untuk mengetahui adanya stress, perubahan lingkungan,


perubahan berat badan, dan gangguan makan karena hal ini
merupakan penyebab kedua paling sering yang menyebabkan
hilangnya periode menstruasi pada remaja.
b. Dismenore
48

Sejumlah ketidaknyamanan tertentu selama hari-hari pertama


atau kedua mestruasi sangat umum terjadi. Sebagian besar remaja
putri mengalami kram, nyeri abdomen, sakit punggung dan pegal pada
kaki, tetapi pada beberapa wanita sakit tersebut tidak dapat ditoleransi
dan tidak ammpu dikendalikan. Dismenore primer adalah menstruasi
yang sangat menyakitkan dan tidak berhubungan dengan penyakit
pelvis. Apabila ketidaknyamanan menyertai endometriosis, infeksi,
adhesi

akibat

peritonitis,

atau

penyakit

pelvis

lainnya,

disebut

dismenore sekunder.
Dismenore primer secara langsung berkaitan dengan awal
terjadinya ovulasi. Terdapat juga hubungan antara kontraktilitas uterus
dan sekresi prostaglandin. Faktor-faktor psikogenik seperti pelecehan
seksual, keadaan keluarga, kebingungan peran ses, dan menghindari
sekolah juga dapat menyebabkan dismenore.
Pemeriksaan
ginekologis
menyeluruh
menyingkirkan
pengkajian

adanya

teliti

kemungkinan

dilakukan

dilakukan

abnormalitas

berdasarkan

tipe

dan

untuk

pelvis,
durasi

dan
nyeri,

hubungannya dengan aliran darah menstruasi, dan semua gejala yang


menyertainya. Pertanyaan ini tidak hanya memberikan informasi
kepada pemeriksa, tetapi juga memberi bukti pada remaja putri bahwa
masalahnya sedang ditangani dengan serius. Penjelasan mengenai
fisiologi menstruasi akan menenangkan remaja putri.
c. Vaginitis
Vaginitis dapat disebabkan oleh agens fisik, kimia, atau agens
infeksi. Penyebab fisik dapat terdiri atas tampon atau spons kontrasepsi
yang

tertinggal.

Iritan

kimia

terdiri

atas

busa

sabun

mandi,

peyemprotan, bantalan deodoran, dan tampon. Pengeluaran bahanbahan tersebut atau penghentian penggunaan bahan-bahan yang
mengiritasi biasanya merupakan hal yang sangat penting untuk
menangani vaginitis fisik atau kimia. Infeksi vaginitis dapat disebabkan
oleh jamur Candida (ragi), parasit protozoa Trichomonas,Trichomonas,
atau bakteri. Diagnosis ditegakkan dengan evaluasi sekresi vagina
secara mikroskopik. Terapi bervariasi tergantung pada agens infeksi.

49

Pendidikan kesehatan penting dalam upaya pencegahan dan


penatalaksanaan semua jenis vaginitis. Remaja putri perlu diyakinkan
bahwa peningkatan mukus vagina dapat terjadi pada saat ovulasi,
sebelum menstruasi, atau karena rangsangan seksual. Banyak remaja
putri

yang

salah

paham

mengenai

keberagaman

ini

dan

menganggapnya sebagai tanda infeksi. Remaja putri harus diajarkan


untuk mengusap dari depan ke belakang setelah buang air dan untuk
menyadari bahwa vaginitis dapat terjadi akibat iritasi, benda-benda
asing, dan aktivitas seksual. Perawat perlu menekankan tentang
pentingnya evaluasi untuk menentukan penyebab pasti vaginitis.
d. Gangguan Sistem Reproduksi Pria
Anomali yang paling banyak terlihat seperti hipospadia, hidrokel,
fimosis, dan kriptorkidisme, telah teridentifikasi, dan tindakan korektif
telah dilakukan selama masa kanak-kanak awal. Masalah yang paling
sering berkaitan dengan organ reproduksi pada masa kanak-kanak akhir
adalah (1) infeksi seperti uretritis, (2) hematuria, (3) masalah penis,
seperti kulit kulup yang tidak dapat diretraksikan pada pria yang tidak
disirkumsisi, karsinoma, dan trauma, (4) kondisi skrotum, seperti
varikokel (elongasi, dilatasi, dan pelintiran vena superior ke testis), dan
(5) torsi testikular (suatu kondisi yang testisnya tergantung bebas dari
struktur vaskuler, yang dapat menyebabkan oklusi vena sebagian atau
total dengan rotasi). Tumor testis tidak biasa, tetapi jika terjadi pada
masa remaja, secara umum tumor testis merupakan tumor ganas dan
membutuhkan evaluasi segera.
Gejala kanker testis yang biasa muncul adalah massa berat yang
keras namun tidak menyebabkan nyeri (baik yang lunak maupun
berbentuk nodul), dapat dipalpasi pada testis. Terapi pembedahan
melibatkan

pengangkatan

testis

yang

sakit

(orkiektomi)

dan

kemungkinan kemoterapi serta radiasi jika metastasis telah terjadi.


e. Ginekomastia
Dada pria, walaupun tidak menjadi bagian dari sitem reproduksi
pria, berespons terhadap perubahan hormonal. Beberapa derajat
pembesaran dada bilateral atau unilateral sering terjadi pada remaja
50

pria selam pubertas. Pengkajian tahap pubertas yang teliti pada awitan
ginekomastia, riwayat pengobatan termasuk steroid anabolik, dan tidak
adanya ganguan atau disfungsi ginjal, hati, tiroid, dan endokrin,
memungkinkan pemeriksa untuk menjelaskan pada remaja bahwa
perubahan tersebut merupakan ginekomastia pubertas.
Jika kondisi menetap atau cukup besar sehingga menyebabkan
rasa malu atau keraguan terhadap identitas gender pada remaja pria,
bedah plastik dapat diindikasikan sebagai pertimbangan kosmetik dan
psikologis.

Pemberian

perkembangan

atau

testosteron
kemunduran

tidak

memberikan

pertumbuhan

dada

efek

pada

dan

dapat

memperburuk kondisi tersebut.


2.6.4 Masalah Kesehatan Remaja Terkait Seksualitas
a. Hamil yang Tidak Dikehendaki (Unwanted Pregnancy)
Kehamilan

yang

tidak

dikehendaki

(Unwanted

pregnancy)

merupakan salah satu akibat dari kurangnya pengetahuan remaja


mengenai perilaku seksual remaja. Faktor lain penyebab semakin
banyaknya terjadi kasus kehamilan yang tidak dikehendaki (unwanted
pregnancy) yaitu anggapan-anggapan remaja yang keliru seperti
kehamilan tidak akan terjadi apabila melakukan hubungan seks baru
pertama kali, atau pada hubungan seks yang jarang dilakukan, atau
hubungan seks dilakukan oleh perempuan masih muda usianya, atau
bila hubungan seks dilakukan sebelum atau sesudah menstruasi, atau
hubungan

seks

dilakukan

dengan

menggunakan

teknik

coitus

interuptus (senggama terputus) (Notoadmodjo, 2007).


Dalam penelitian yang dilakukan oleh Khisbiyah (1995) terdapat
responden yang mengatakan untuk menghindari kehamilan maka
hubungan seks dilakukan di antara dua waktu menstruasi. Informasi itu
melakukan hubungan seks diantara dua menstruasi ini tentu saja
bertentangan dengan kenyataan bahwa sebenarnya masa anatara dua
siklus

menstruasi

merupakan

(Notoatmodjo, 2007).
Kehamilan yang

tidak

masa

subur

dikehendaki

bagi

seorang

(unwanted

wanita

pregnancy)

membawa remaja pada dua pilihan yaitu melanjutkan kehamilan


51

kemudian melahirkan dalam usia remaja (early childbearing) atau


menggugurkan kandungan merupakan pilihan yang harus remaja itu
jalani. Banyak remaja putri yang mengalami kehamilan yang tidak
diinginkan (unwanted pregnancy) terus melanjutkan kehamilannya.
Menurut Affandi (1995) cit Notoatmodjo (2007) konsekuensi dari
keputusan untuk melanjutkan kehamilan adalah melahirkan anak yang
dikandungnya dalam usia yang relatif muda. Hamil dan melahirkan
dalam usia remaja merupakan salah satu faktor resiko kehamilan yang
tidak jarang membawa kematian ibu. Kematian ibu yang hamil dan
melahirkan pada usia kurang dari 20 tahun lebih besar 3-4 kali dari
kematian ibu yang hamil dan melahirkan pada usia 20-35 tahun. Dari
sudut kesehatan obstetri, hamil pada usia remaja dapat mengakibatkan
resiko komplikasi pada ibu dan bayi antara lain yaitu terjadi perdarahan
pada trimester pertama dan ketiga, anemia, preeklamsia, eklamsia,
abortus, partus prematurus, kematian perinatal, berat bayi lahir rendah
(BBLR)

dan

tindakan

operatif

obstetri

(Sugiharta,

2004)

cit

(Soetjiningsih, 2004).
b. Aborsi
Aborsi (pengguguran) berbeda dengan keguguran. Aborsi atau
pengguguran kandungan adalah terminasi (penghentian) kehamilan
yang

disengaja

(abortus

provokatus).

Abortus

provocatus

yaitu

kehamilan yang diprovokasi dengan berbagai macam cara sehingga


terjadi pengguguran. Sedangkan keguguran adalah kehamilan berhenti
karena faktor-faktor alamiah (abortus spontaneus) (Hawari, 2006). Data
yang tersedia dari 1.000.000 aborsi sekitar 60,0% dilakukan oleh wanita
yang tidak menikah, termasuk para remaja. Sekitar 70,0- 80,0%
merupakan aborsi yang tidak aman (unsafe abortion). Aborsi tidak
aman (unsafe abortion) merupakan salah satu faktor menyebabkan
kematian ibu.
Menurut

Hawari

(2006),

aborsi

yang

disengaja

(abortus

provocatus) ada dua macam yaitu pertama, abortus provocatus


medicalis yakni penghentian kehamilan (terminasi) yang disengaja
karena alasan medik. Praktek ini dapat dipertimbangkan, dapat
52

dipertanggungjawabkan dan dibenarkan oleh hukum. Kedua, abortus


provocatus criminalis, yaitu penghentian kehamilan (terminasi) atau
pengguguran yang melanggar kode etik kedokteran, melanggar hukum
agama, haram menurut syariat Islam dan melanggar Undang-Undang
(kriminal).
c. Penyakit Menular Seksual (PMS)
Menurut

Notoatmodjo

(2007),

penyakit

menular

seksual

merupakan suatu penyakit yang mengganggu kesehatan reproduksi


yang muncul akibat dari prilaku seksual yang tidak aman. Penyakit
Menular Seksual (PMS) merupakan penyakit anak muda atau remaja,
karena remaja atau anak muda adalah kelompok terbanyak yang
menderita penyakit menular seksual (PMS) dibandingkan kelompok
umur

yang

lain. PMS

adalah golongan penyakit

yang

terbesar

jumlahnya (Duarsa, 2004) cit (Soetjiningsih, 2004) Remaja sering kali


melakukan hubungan seks yang tidak aman, adanya kebiasaan
berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks menyebabkan
remaja semakin rentan untuk tertular Penyakit Menular Seksual (PMS),
seperti Sifilis, Gonore, Herpes, Klamidia. Cara melakukan hubungan
kelamin pada remaja tidak hanya sebatas pada genital-genital saja bisa
juga orogenital menyebabkan penyakit kelamin tidak saja terbatas pada
daerah

genital,

tetapi

juga

pada

daerah-daerah

ekstra

genital

(Notoatmodjo, 2007).
Faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya resiko penularan
penyakit menular seksual (PMS) pada remaja adalah faktor biologi,
faktor psikologis dan perkembangan kognitif, perilaku seksual, faktor
legal dan etika dan pelayanan kesehatan khusus remaja.
d. HIV/AIDS

(Human

Immunodeficiency

Virus

and

Acquired

Immunodeficiency Syndrome)
AIDS

(Acquired

Immunodeficiency

Syndrome)

adalah

suatu

sindrom atau kumpulan gejala penyakit dengan karakteristik defisiensi


kekebalan tubuh yang berat dan merupakan manifestasi stadium akhir
53

infeksi virus HIV (Tuti Parwati, 1996) cit (Notoatmodjo, 2007). HIV
(Human Immunodeficiency Virus) adalah retrovirus RNA tunggal yang
menyebabkan AIDS (Limantara, dkk, 2004) cit (Soetjiningsih, 2004).
Menurut Limantara (2004) cit Soetjiningsih (2004) faktor yang beresiko
menyebabkan HIV pada remaja adalah perubahan fisiologis, aktifitas
sosial, infeksi menular seksual, prilaku penggunaan obat terlarang dan
anak jalanan dan remaja yang lari dari rumah. Perubahan fisiologis yang
dapat menjadi resiko penyebab infeksi dan perjalanan alamiah HIV
meliputi perbedaan perkembangan sistem imun yang berhubungan
dengan jumlah limfosit dan makrofag pada stadium pubertas yang
berbeda dan perubahan pada sistem reproduksi.
Aktifitas seksual tanpa proteksi merupakan resiko perilaku yang
paling

banyak

pada

remaja.

Hubungan

seksual

dengan

banyak

pasangan juga meningkatkan resiko kontak dengan virus HIV. Ada tiga
tipe hubungan seksual yang berhubungan dengan transmisi HIV yaitu
vaginal, oral, dan anal.
2.6.5 Masalah Kesehatan Remaja Terkait Gangguan Makan
a. Obesitas
Beberapa masalah kesehatan pada masa remaja tampak sangat
jelas bagi orang lain, sangat sulit diatasi, dan memilki efek jangka
panjang terhada status kesehatan psikologis dan fisik sebagaimana
obesitas. Obesitas didefinisikan sebagai suatu penambahan berat
badan akibat akumulasi berlebihan lemak tubuh relatif terhadap masa
tubuh tanpa lemak. Kelebihan berat badan merupkan keadaan berat
badan lebih dari nilai rata-rata tinggi badan dan bangunan tubuh.
Obesitas merupakan suatu konfisi yang kompleks dan mungkin
melibatkan

berbagai

pengaruh,

termasuk

faktor

metabolik,

hipotalamus, hereditas, sosial, budaya, dan psikologis. Hereditas


merupakan faktor penting dalam perkembangan obesitas. Obesitas
dapat berkembang pada masa bayi, selama masa kank-kanak, pada
awitan pubertas, atau selama masa remaja. Merupakan hal yang tidak
mungkin untuk membedakan antara faktor hereditas dan faktor
54

lingkungan, karena keduanya mungkin berperan dalam setiap keadaan


saat anggota keluarga lainnya mengalami obesitas.
Faktor-faktor sosiokultural juga berperan dalam perolehan berat
badan. Pola makan didasarkan secara budaya dan sosial, serta pilihan
makan dalam budaya ikut andil dalam perkembangan obesitas. Banyak
nuday yang menganggap bahwa gemuk merupakan tanda sehat,
penampilan

obesitas

sebagai

mendorong

pertambahan

bagian

berta

badan

dari

kesejahteraan,

seperti

gambaran

dan
yang

diharapkan. Obesitas adalah rintangan serius bagi kehidupan sosial


anak, dan bagi remaja, obesitas dapat menyebabkan perasaan putus
asa. Akibat emosional yang biasa terjadi pada obesitas masa remaja
meliputi citra tubuh yang buruk, harga diri rendah, isolasi sosial, dan
merasa ditolak serta depresi.
b. Anoreksia Nervosa
Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang dicirikan oleh
penolakan untuk mempertahankan berat badan minimal normal dan
oleh penurunan berat badan yang parah tanpa adanya penyebab fisik
yang jelas. Anoreksia nervosa terutama terjadi pada remaja atau wanita
dewasa

muda,

dan

insidennya

mengalami

peningkatan.

Awitan

anoreksia nervosa umumnya terjadi pada usia hampir mencapai


menarche. Usi rata-rata awitan adalah 13,75 tahun, tetapi rentang
usianya adalah 10-25 tahun (Mackenzie dan Nenstein, 1996). Individu
usia muda yang mengalami gangguan ini paling sering berasal dari
kelompok sosial ekonomi atas atau menengah, sering digambarkan
sebagai anak baik, memiliki prestasi pendidikan, penyesuaian dan
ketelitian akademik yang tinggi, serta memiliki tingkat energi yang
tinggi, walaupun sangat kurus. Remaja ini biasanya sangat bergantung
pada orang tua mereka, sering kali hubungan ibu-anak perempuan yang
ambivalen

muncul

pada

wanita.

Penganiayaan

seksual

mungkin

merupakan faktor dalam beberapa kasus anoreksia nervosa.


Etiologi gangguan tetap tidak jelas. Terdapat komponen psikologis
yang jelas, dan diagnosis terutama didasarkan pada kriteria psikologis
55

dan perilaku. Namun demikian, manifestasi fisik anoreksia dapat


mengarah pada kemungkinan faktor-faktor organik pada etiologi. Aspek
psikologis anoreksia nervosa yang mendominasi adalah keinginan yang
kuat untuk menguruskan berat badan dan takut gemuk, biasanya
didahului oleh periode satu atau dua tahun gangguan mood dan
perubahan perilaku. Penurunan berat badan biasanya dipicu oleh krisis
yang khas pada remaja seperti awitan menstruasi atau kecelakaan
interpersonal traumatik yang memicu perilaku diet yang serius dan
berlanjut sampai tidak terkontrol.
c. Bulimia
Bulimia adalah gangguan makan yang dicirikan oleh makan yang
berlebihan. Perilaku makan yang berlebihan (binge) terdiri atas
konsumsi sejumlah besar makanan berkalori tinggi secara diam-diam
dan tidak terkontrol (atau terlarang) selama periode waktu singkat
(biasanya kurang dari dua jam). Sifat makan berlebihan dinetralkan
dengan berbagai metode pengendalian berat badan (pengurasan),
termasuk merangsang muntah sendiri, penyalahgunaan diuretik dan
laksatif, serta olah raga yang berlebihan. Frekuensi makn berlebihan ini
dapat beragam dari satu kali seminggu sampa tujuh atau delapan kali
sehari. Siklus perilaku makan berlebihan/pengurasan ini diikuti oleh
pikiran yang mencela diri sendiri, mood depresi dan kesadaran bahwa
pola makan adalah abnormal
2.6.6 Masalah Kesehatan Remaja Terkait Gangguan Komponen
Perilaku dan Masalah Kesehatan Serius Pada Masa Remaja
a. Gangguan Hiperaktivitas Defisit Perhatian (ADHD, Attention Deficit Hyperactivity
Disorder) dan Ketidakmampuan Belajar
ADHD adalah derajat kurang perhatian, impulsif, dan hiperaktivitas yang tidak
sesuai dengan perkembangan. Untuk menegakkan diagnosis ADHD, gejala harus sudah
muncul sebelum berusia 7 tahun dan harus ada minimal dalam dua keadaan. Selain itu,
adanya ciri-ciri defisit perhatian yang tidak sesuai perkembangan bukanlah merupakan
gejala dari penyakit lain. (American Psychiatric Association, 1994). Ketidakmampuan
56

belajar merupakan sekelompok gangguan yang dicirikan dengan kesulitan yang signifikan
dalam menerima dan menggunakan pendengaran, pembicaraan, membaca, menulis,
mengemukakan alasan, kemampuan matematik, atau keterampilan sosial.
Kondisi ADHD dan ketidakmampuan belajar memengaruhi setiap aspek dalam
kehidupan anak tetapi paling jelas memngaruhi kemampuan di dalam kelas. Identifikasi
awal anak yang menderita penyakit ini dibutuhkan, karena karakteristik gangguan
memengaruhi perkembangan emosional dan dan psikologis normal secara signifikan.
Banyak anak mengembangkan pola perilaku maladaptif yang mengganggu penyesuaian
psikososial ketika mereka mencoba untuk mengatasi disfungsi kognitif.
b. Penyalahgunaan Zat
Pemakaian zat, terutama obat-obatan oleh anak-anak dan remaja
untuk mengakibatkan perubahan status kesadaran diyakini dapat
mereflesikan perubahan yang terjadi dalam hidup mereka dan stress
yang ditimbulkan oleh perubahan-perubahan tersebut. Penyalahgunaan
obat adalah pemakaian teratur obat-obatan selain untuk tujuan
pengobatan dan sampai tingkat penyalahgunaan yang menyebabkan
cedera

fisik

atau

psikologik

pada

pengguna

dan/atau

merusak

masyarakat. Penyalahgunaan obat obat, penggunasalahan obat, adiksi


(ketagihan) didefinisikan secara budaya dan merupakan perilaku yang
disadari . toleransi obat dan kebergantungan fisik adalah respons
fisiologik

terhadap karakteristik farmakologik obat. Pada akhirnay

individu dapat menjadi ketagihan terhadap nakotik dengan atau tanpa


kebergantungan secara fisik, dan seseorang mungkin secara fisik
bergantung pada narkotik tanpa merasa ketagihan (mis., pasien yang
menggunakan opioid untuk mengontrol nyeri).
Kebanyakan obat-obatan yang dikonsumsi anak-anak muda dapat
menginduksi

perubahan

persepsi,

perasaan

sejahtera,

sensasi

kedekatan, dan perasaan bahagia. Pada sebagaian besar kasus,


pemakaian obat dimlai dengan coba-coba. Individu mungkin mencoba
hanya sekali, mungkin menggunakannya kadang-kadang, atau mungkin
memasukkan konsumsi obat-obatan tersebut ke dalam kehidupan nya
sebagai bagian dari gaya hidup berpusat pada obat.

57

Semua obat dapat disalahgunakan, dan kebanyakan dari obatobatan tersebut berpotensi membahayakan remaja yang sedang
mengalami perkembangan. Walaupun jarang dianggap sebagai obatobatan

dalam

masyarakat,

zat

kimia

aktif

yang

paling

sering

disalahgunakan adalah kafein dan teobromin yang terkandung dalam


coklat, teh, kopi, dan cola. Etil alkohol dan nikotin adalah zat lain yang
walaupun dikenal sebagai obat, zat tersebut juga diterima dalam
masyarakat. Obat-obatan ini dapat menciptakan euforia ringan sampai
sedang dan/atau efek stimulan serta dapat memicu kebergantungan
fisik dan psikis. Banyak bahaya yang menyertai penggunaan obat yang
juga terkait dengan perilaku remaja mengemudikan mobil pada saat di
bawah pengaruh obat. Obat-obatan yang mampu mngubah pikiran
yang tersedia di pasar gelap dan yang memang mendapat perhatian
medis

secara

hukum

adalah

obat-obatan

halusinogen,

narkotik,

hipnotik, dan stimulan.


c. Bunuh Diri
Bunuh diri adalah penyebab utama kematian ketiga masa remaja,
setelah kematian akibat cedera dan pembunuhan. Sebagian besar para
ahli membedakan antara ide bunuh diri, upaya bunuh diri (atau
parasuicide), dan bunuh diri. Ide bunuh diri melibatkan perhatian
terhadap

pikiran

tentang

melakukan

bunuh

diri

dan

mungkin

merupakan pemicu untuk bunuh diri. Walaupun bukan hal yang luar
biasa bagi remaja untuk kadang-kadang mengalami pikiran tentang
bunuh diri, pernyataan kesenangan dengan bunuh diri harus ditanggapi
dengan serius, dan pengkajian harus dilakukan untuk rujukan yang
tepat. Upaya bunuh diri bertujuan menyebabkan cedera atau kematian.
Istilah parasuicide digunkaan untuk menunjukkan semua perilaku
berkisar dari sikap tubuh sampai usaha serius untuk membunuh dirinya
sendiri, istilah tersebut tidak termasuk niat atau motivasi. Bagi banyak
remaja motivasi untuk sikap atau upaya bunuh diri mungkin tidak jelas,
kompleks, dan sulit diartikulasikan. Namun, semua aktivitas bunuh diri
harus ditangani dengan serius.
BAB III
PENUTUP
58

3.1 Kesimpulan
Remaja adalah masa peralihan dari masa remaja atau masa pemuda
ke masa dewasa. Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara
masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada
usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau
awal dua puluh tahun. Usia remaja rata-rata 11 sampai 22 tahun. Masa
remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16
atau 17 tahun hingga 18 tahun).
Pada masa remaja terjadi beberapa perubahan dalam diri remaja
diantaranya perubahan fisik yaitu perubahan yang bisa dilihat dari luar
maupun yang tidak kelihatan, perubahan emosional atau psikososial yang
kemudian tercermin dalam sikap dan tingkah laku, selain itu terjadi pula
perubahan

hormon

yang

dapat

mempengaruhi

pertumbuhan

dan

perkembangan sistem reproduksi.


Pada masa remaja kebutuhan kalori makin meningkat karena
perubahan menjadi pubertas dan aktivitas. Fenomena pertumbuhan pada
masa remaja menuntut kebutuhan nutrisi yang tinggi agar tercapai
potensi pertumbuhan secara maksimal karena nutrisi dan pertumbuhan
merupakan hubungan integral. Tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi pada
masa

ini

dapat

berakibat

terlambatnya

pematangan

seksual

dan

hambatan pertumbuhan linear. Pada masa ini pula nutrisi penting untuk
mencegah terjadinya penyakit kronik yang terkait nutrisi pada masa
dewasa kelak, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker dan
osteoporosis.
Masalah

yang

dapat

dijumpai

pada

remaja

adalah

masalah

kesehatan umum yang terjadi pada remaja, masalah terkait perubahan


pertumbuhan dan kematangan, maasalah yang berhubungan dengan
sistem reproduksi,

masalah terkait seksualitas, gangguan makan,

gangguan komponen perilaku, dan masalah keseahatan serius seperti


penyalahgunaan zat, bunuh diri. dan lain-lain.

59

3.2 Saran
Berdasarkan

kesimpulan

di

atas

penulis

dapat

memberikan

beberapa saran baik kepada orang tua maupun petugas kesehatan agar
dapat lebih memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak
remaja yang sedang berada pada masa kritis dalam perkembangan
manusia dimana terjadi peralihan dari masa kanak-kanak menuju
kedewasaan. Selain itu, petugas kesehatan diharapkan lebih peka
terhadap masalah kesehatan yang rentan dan sering terjadi selama masa
remaja.

60