Anda di halaman 1dari 58

1

BAB I
SISTEM TENAGA LISTRIK
Sistem tenaga listrik adalah suatu sistem yang berfungsi untuk membangkitkan,
mentransmisikan dan mendistribusikan energi listrik dari pusat pembangkit sampai
konsumen. Gambaran umum suatu sistem tenaga listrik seperti gambar 1.1

Gambar 1.1 Sistem Tenaga Listrik


Keterangan:
SKTM = Saluran Konduktor Tegangan Menengah
SKTT = Saluran Konduktor Tegangan Tinggi
Tiga komponen utama dari sistem tenaga listrik, yaitu:
A. Pembangkit
B. Transmisi
C. Distribusi

2
Tabel Level Tegangan di PT. PLN
No.

Tegangan (kV)

Kelompok Tegangan

1.

500

Tegangan Ekstra Tinggi

2.

150

Tegangan Tinggi

3.

70

Tegangan Tinggi

4.

30

Tegangan Tinggi

5.

20

Tegangan Menengah

6.

12

Tegangan Menengah

7.

Tegangan Menengah

8.

0,22/0,38

Tegangan Rendah

Penyaluran energi listrik dari pusat pembangkit sampai ke konsumen dapat


digambarkan seperti gambar 1.2, pada gambar di bawah ini sudah mencakup ketiga
unsur dari tiga komponen utama sistem tenaga listrik.

Turbin

Generator
STTT
GISU

Pusat Pembangkit

STTM
GISD

SDTR
GD

Transmisi

Konsumen

Distribusi

Gambar 1.2. Diagram satu garis sistem tenaga listrik


Apabila saluran transmisi menyalurkan tenaga listrik bertegangan tinggi ke pusatpusat beban dalam jumlah besar, maka saluran distribusi berfungsi membagikan
tenaga listrik tersebut kepada pihak pemakai melalui saluran tegangan rendah.
Generator sinkron di pusat pembangkit biasanya menghasilkan tenaga listrik dengan
tegangan antara 6-20 kV yang kemudian, dengan bantuan transformator, tegangan
tersebut dinaikkan menjadi 150-500 kV. Saluran Tegangan Tinggi (STT) menyalurkan
tenaga listrik menuju pusat penerima; disini tegangan diturunkan menjadi tegangan
subtransmisi 70 kV. Pada Gardu Induk (GI), tenaga listrik yang diterima kemudian
dilepaskan menuju Trafo Distribusi (TD) dalam bentuk tegangan menengah 20 kV.

3
Melalui trafo distribusi yang terbesar di berbagai pusat beban, tegangan distribusi
primer ini diturunkan menjadi tegangan rendah 220/380 V yang akhirnya diterima
pihak pemakai/konsumen listrik.

BAB II
PEMBANGKIT LISTRIK

4
Pembangkit adalah tempat dibangkitkannya energi listrik peralatan utama pada
pembangkit (turbin dan generator). Pembangkit berfungsi untuk mengkonversikan
sumber daya energi primer menjadi energi listrik. Pusat pembangkit listrik
konversional mencakup:
-

Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU)

Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA)

Pusat Listrik Tenga Gas (Gas)

Pusat Listrik Tenga Diesel (PLTD)

Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB)

Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU)

Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

OTEC (Ocean Thermal Energy Convertion)

Disamping pembangkit listrik konversional tersebut diatas, masih ada pembangkit


listrik non konversional yang tidak pernah habis di bumi ini, seperti:
-

Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Pembangkit Listrik Tenaga Matahari

Gangguan pada pusat-pusat listrik secara garis besar dapat dibagi atas 4 (empat)
kelompok, yaitu:
a. Gangguan pada sirkit listrik generator
b. Gangguan pada mesin penggerak mula
c. Gangguan pada instalasi yang berhubungan dengan lingkungan seperti instalasi air
pendingin dan saluran air terbuka pada PLTA.
d. Gangguan pada sirkit kontrol.
Dalam instalasi yang dijaga oleh operator seperti Pusat Listrik dan Gardu
Induk ada gangguan yang tidak atau belum dilihat oleh Relai, tapi dilihat oleh
operator yang kemudian berinisiatif men-trip Pemutus Tenaga (PMT) demi
keselamatan instalasi, maka dalam hal ini operator bertindak sebagai relai. Gangguan
Pada Sirkit Listrik Generator yang menyebabkan tripnya PMT, pada umumnya
disebabkan oleh:
a. Gangguan diluar seksi generator tetapi PMT generator ikut trip sebagai akibat
kurang selektifnya relai generator
b. Ada gangguan dalam seksi generator yang disebabkan karena : kerusakan generator
atau alat bantu generator, binatang yang menimbulkan arus hubung singkat, kontakkontak listrik yang belum sempurna.

5
c. Ada gangguan dalam sistem eksitasi generator, biasanya menyangkut pengatur
tegangan otomatis.
d. Ada gangguan pada sistem arus searah khususnya yang diperlukan untuk
mentripkan PMT. Gangguan pada sirkit listrik tersebut di atas berlaku untuk semua
macam Pusat Listrik.
Gangguan Pada Mesin Penggerak Generator (prime mover) merupakan
gangguan yang paling sering terjadi pada semua Pusat Listrik. Hal-hal yang
menyebabkan gangguan mesin penggerak generator secara singkat adalah :
a. Kerusakan pada bagian-bagian yang berputar atau bergeser, seperti bantalan,
batang penggerak, katup-katup khususnya yang jarang bergerak pada waktu
diperlukan malah macet.
b. Kerusakan pada bagian-bagian dimana terdapat pertemuan antara zat-zat yang
berbeda suhunya seperti kondensor PLTU, pemanas udara PLTU. Hal serupa bisa
pula terjadi pada alat-alat pendingin di PLTA atau PLTD.
c. Kerusakan pada pengabut yang bertugas mengubah bahan bakar minyak menjadi
kabut gas. Pengabut semacam ini terdapat pada PLTU, PLTG dan PLTD dan
seringkali merupakan sumber gangguan karena tersumbat.
d. Kebocoran pada perapat dari bagian yang mengandung zat cair atau gas yang
bertekanan tinggi. Kebocoran semacam ini dapat menyebabkan gangguan operasi
dari Pusat Listrik yang bersangkutan. Gangguan pada instalasi yang berhubungan
dengan lingkungan. Pada PLTU gangguan ini misalnya karena air laut yang
berfungsi sebagai pendingin mengandung binatang laut dan kotoran yang
menyumbat instalasi air pendingin atau menyumbat kondensor.
Pada PLTA sering kali terjadi air sungai banyak mengandung kotoran, sehingga
saringan air masuk tersumbat dan mengganggu operasi Pusat Listrik yang
bersangkutan. Masalah kotoran yang dibawa sungai dapat menimbulkan gangguan
pada PLTD yaitu apabila kotoran tersebut menyumbat instalasi air pendingin.
Gangguan pada sirkit kontrol dalam setiap Pusat Listrik selalu terdapat sirkit kontrol
yang mengatur baik sirkit listrik generator, mesin penggerak generator maupun alatalat bantu. Sirkit kontrol dapat berupa sirkit listrik, sirkit mekanik, sirkit pneumatik
ataupun sirkit hidrolik. Dapat pula merupakan kombinasi dari beberapa macam sirkit
kontrol. Seringkali gangguan timbul karena adanya bagian dari sirkit kontrol yang
tidak berfungsi dengan baik. Sebagai contoh kegagalan start dari unit PLTG sering
disebabkan oleh adanya bagian dari sirkit kontrol yang kurang baik kerjanya.

6
Pengamanan Sistem Tenaga Listrik dalam sistem tenaga listrik banyak sekali terjadi
gangguan yang dapat merusak peralatan pembangkit listrik. Untuk melindungi
peralatan listrik terhadap gangguan yang terjadi dalam sistem diperlukan alat-alat
pengaman.
Khusus alat pengaman yang berbentuk relai mempunyai 2 fungsi, yaitu :
a. Melindungi peralatan terhadap gangguan yang terjadi dalam sistem, jangan sampai
mengalami kerusakan
b. Melokalisir akibat gangguan, jangan sampai meluas dalam sistem.
Untuk memenuhi fungsi butir a. alat pengaman harus bekerja cepat agar pengaruh
gangguan dapat segera dihilangkan sehingga pemanasan berlebihan akibat hubung
singkat dapat segera dihentikan. Untuk memenuhi fungsi butir b. alat pengaman
dalam sistem harus dapat dikoordinir satu sama lain, sehingga hanya alat-alat
pengaman yang terdekat dengan tempat gangguan saja yang bekerja.
Ditinjau dari letaknya dalam sistem ketenagalistrikan ada 5 kategori pengamanan,
yaitu :
a. Pengaman generator
b. Pengaman saluran transmisi
c. Pengaman transformator dalam GI
d. Pengaman sistem distribusi.
e. Pengaman penggerak mula (PLTA,PLTD,PLTP,PLTG,PLTU)
Pengaman Generator Generator sebagai sumber energi listrik dalam sistem
ketenagalistrikan, perlu diamankan jangan sampai mengalami kerusakan, karena
kerusakan generator akan sangat mengganggu jalannya operasi sistem tenaga listrik.
Oleh karenanya generator perlu dilindungi terhadap semua gangguan yang dapat
merusak generator.
Pengaman generator secara garis besar terdiri dari :
a. Pengaman terhadap gangguan diluar generator, yaitu gangguan dalam sistem yang
dihubungkan dengan generator. Gangguan diluar generator yang belum diamankan
adalah gangguan di rel, pengamanan yang dibutuhkan bersifat back-up. Oleh karena
itu untuk gangguan di rel yang langsung berhubungan dengan generator pengamanan
yang terpenting adalah relai arus lebih. Untuk generator yang besar perlu ditambah
relai arus urutan negatip
b. Pengamanan terhadap gangguan yang terjadi didalam generator

7
Gangguan dalam generator secara garis besar ada 5 macam, yaitu : hubung singkat
antara fasa atau hubung singkat fasa ke tanah, suhu tinggi, penguatan hilang, hubung
singkat dalam sirkit rotor.
c. Pengamanan terhadap gangguan dalam mesin penggerak yang memerlukan
pelepasan PMT generator. Gangguan dalam mesin penggerak ada kalanya
memerlukan trip dari PMT generator, misalnya apabila tekanan minyak terlalu rendah
maka mesin penggerak perlu segera dihentikan karena tekanan minyak terlalu rendah
dapat menimbulkan kerusakan bantalan. Untuk menghindarkan tetap berputarnya
generator sebagai akibat daya balik yang merubah generator menjadi motor, maka
PMT generator perlu ditripkan. Begitu pula apabila suhu air pendingin pada mesin
PLTD atau PLTU menjadi terlalu tinggi maka mesin PLTD atau PLTU tersebut perlu
segera dihentikan dan PMT generator harus juga di trip-kan. Trip dari PMT generator
karena tekanan minyak pelumas terlalu rendah, atau karena suhu air pendingin terlalu
tinggi dilakukan oleh relai mekanik. Pengaman Saluran Transmisi adalah bagian dari
sistem ketenagalistrikan yang paling sering mengalami gangguan. Oleh karena itu
pengamanan saluran transmisi ini merupakan masalah paling sulit dalam pengamanan
sistem tenaga listrik. Pengaman Transformator terdiri dari:
a. Pengaman terhadap gangguan diluar transformator
b. Pengaman terhadap gangguan di dalam transformator
Untuk pengaman transformator terhadap gangguan luar dipakai relai arus lebih atau
relai hubung tanah. Untuk pengaman transformator terhadap gangguan didalam trafo,
seperti halnya pada generator dipakai relai differensial. Sedangkan untuk gangguan
hubung tanah dipakai Restricted Earth Fault Relay. Disamping itu untuk
transformator tegangan tinggi umumnya ada Relai Bucholz yang bekerja atas dasar
timbulnya gelembung-gelembung gas dari minyak trafo. Transformator distribusi
yang daya terpasangnya relatif kecil, sering hanya diamankan dengan sekering lebur
atau memakai Load Break Switch. Pengaman sistem distribusi dan pengaman jaringan
distribusi, untuk mengamankan feeder distribusi yang keluar dari GI yang terpenting
adalah :
a. Relai arus lebih
b. Relai arus hubung tanah.
Pada kondisi diujung penyulang (feeder) distribusi ada Pusat Listrik, maka relai arus
lebih dan relai arus hubung tanah tersebut harus bersifat power directional. Karena
jumlah gangguan per km jaringan per tahun pada jaringan tegangan menengah adalah

8
tinggi, maka untuk dapat melokalisir gangguan secepat mungkin sering kali jaringan
tegangan menengah dibagi atas beberapa seksi, gangguan tidak akan merembet pada
seksi didepannya. Pengaman Penggerak Mula Peralatan pengaman untuk mesin
penggerak mula (PLTD, PLTA, PLTG, PLTU, dll) berbeda antara satu dengan yang
lain. Oleh karena banyaknya variasi, dan masih berkaitan dengan Komisioning Pusat
Listrik maka sengaja tidak dibahas disini. Komisioning pusat listrik sebelum pusatpusat listrik dioperasikan masuk ke dalam Jaringan Sistem Tenaga Listrik, peralatan
pengaman yang dipasang perlu di uji untuk membuktikan telah sesuai dengan
perencanaannya. Pada masa-masa pengujian peralatan pengaman Unit Pembangkit
Listrik yang baru, dilakukan juga uji unjuk kerja Unit Pembangkit Listrik dan uji
unjuk kerja alat-alat bantunya. Serangkaian uji-uji dari uji peralatan pengaman Pusat
Listrik sampai uji unjuk kerja Unit Pembangkit Tenaga Listrik biasa disebut
Komisioning. Jadi jelas bahwa Komisioning Pusat Listrik merupakan inti dari
Keamanan Peralatan Ketenagalistrikan. Seperti sudah sering dilaksanakan di PT. PLN
(Persero), Komisioning Pusat Listrik sudah dijadikan syarat kelaikan operasi unit
Pembangkit Listrik yang baru untuk memasuki jaringan Sistem Tenaga Listrik. Untuk
dapat dinyatakan laik operasi Unit Pembangkit Listrik yang baru setelah di uji
hasilnya harus memenuhi syarat-syarat/kriteria tertentu.

BAB III
SALURAN TRANSMISI DAN GARDU INDUK

9
I. Saluran Transmisi
Saluran transmisi
adalah
sistem

bagian
tenaga

dari
listrik

yang berfungsi untuk mengirim atau mentransmisikan energi listrik (tegangan tinggi
dan menengah) dari pusat pembangkit sampai pada gardu distribusi. Saluran
transmisi dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Saluran transmisi tegangan tinggi
2) Saluran transmisi tegangan menengah
komponen-komponen utama dari saluran transmisi udara, terdiri dari:
1. MENARA TRANSMISI atau tiang transmisi, beserta pondasinya. Menara atau
tiang transmisi adalah suatu bangunan penopang saluran transmisi yang bisa berupa
menara baja, tiang baja, tiang beton bertulang dan tiang kayu. Menurut penggunannya
diklasifikasikan menjadi:
a. Tiang baja, tiang beton bertulang dan tiang kayu, umumnya digunakan untuk
saluran-saluran transmisi dengan tegangan kerja yang relatif rendah (dibawah 70 kV).
b. Menara baja, digunakan untuk saluran transmisi yang tegangan kerjanya tinggi
(SUTT) dan tegangan ekstra tinggi (SUTET).
Menara baja itu sendiri diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, menjadi:
a. menara dukung.
b. menara sudut.
c. menara ujung.
d. menara percabangan.
e. menara transposisi.

Gambar 3.1 Menara Transmisi

10
2. ISOLATOR, jenis isolator yang digunakan pada saluran transmisi adalah jenis
porselin atau gelas.
Menurut penggunaan dan konstruksinya, isolator diklasifikasikan menjadi:
a. Isolator jenis pasak.
b. Isolator jenis pos-saluran.
c. Isolator gantung.
Isolator jenis pasak dan isolator jenis pos-saluran digunakan pada saluran transmisi
dengan tegangan kerja relatif rendah (kurang dari 22-33 kV), sedangkan isolator
gantung dapat digandeng menjadi rentengan/rangkaian isolator yang jumlahnya dapat
disesuaikan dengan kebutuhan.

Gambar 3.2 Isolator


3. KAWAT PENGHANTAR (KONDUKTOR)
Jenis-jenis kawat penghantar yang biasa digunakan pada saluran transmisi adalah:
a. Tembaga dengan konduktivitas 100% (Cu 100%)
b. Tembaga dengan konduktivitas 97,5% (Cu 97,5%)
c. Aluminium dengan konduktivitas 61% (Al 61%)
Kawat penghantar tembaga mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan
kawat penghantar aluminium, karena konduktivitas dan kuat tariknya yang lebih
tinggi. Tetapi juga memiliki kelemahan, yaitu untuk besar tahanan yang sama,
tembaga lebih berat dan lebih mahal dari aluminium, oleh karena itu dewasa ini kawat
penghantar aluminium telah mulai menggantikan kedudukan kawat penghantar
tembaga.
Untuk memperbesar kuat tarik dari kawat aluminium, digunakan campuran
aluminum (aluminium alloy). Untuk saluran-saluran transmisi tegangan tinggi,

11
dimana jarak antara menara/tiang berjauhan, mencapai ratusan meter, maka
dibutuhkan kuat tarik yang lebih tinggi, untuk itu digunakan kawat penghantar
ACSR.
Kawat penghantar aluminium, terdiri dari berbagai jenis, dengan lambang
sebagai berikut:
a. AAC (All-Aluminium Conductor), yaitu kawat penghantar yang seluruhnya terbuat
dari aluminium.
b. AAAC (All-Aluminium-Alloy Conductor), yaitu kawat penghantar yang
seluruhnya terbuat dari campuran aluminium.
c. ACSR (Aluminium Conductor, Steel-Reinforced), yaitu kawat penghantar
aluminium berinti kawat baja.
d. ACAR (Aluminium Conductor, Alloy-Reinforced), yaitu kawat penghantar
aluminium yang diperkuat dengan logam campuran.
ACSR

XLPE

Gambar 3.3 Penghantar Transmisi


4. KAWAT TANAH.
Kawat tanah atau "ground wires" juga disebut kawat pelindung (shield wires),
gunanya untuk melindungi kawat-kawat penghantar atau kawat-kawat fasa terhadap
sambaran petir. Jadi kawat tanah itu dipasang diatas kawat fasa, sebagai kawat tanah
umumnya digunakan kawat baja (steel wires) yang lebih murah, tetapi tidak jarang
digunakan ACSR.

12
Gambar 3.4 Penghantar Pentanahan

II. Pengertian Gardu Induk


Gardu Induk adalah suatu instalasi yang terdiri dari peralatan listrik yang
berfungsi untuk :
1. Menaikkan dan menurunkan tegangan sistem.
2. Pengukuran, pengawasan operasi serta pengaturan pengamanan dari sistem
tenaga listrik.
3. Mengatur penyaluran daya ke Gardu lain melalui jaringan transmisi.
A. Jenis Gardu Induk
1. Berdasarkan pemasangan peralatan dibagi menjadi :
1.1. Gardu Induk Pasangan Dalam
Adalah gardu listrik dimana semua peralatannya (switch gear, isolator dan
lain sebagainya ) dipasang di dalam gedung / ruang tertutup.
1.2. Gardu Induk Pasangan Luar
Adalah Gardu Listrik dimana semua / sebagian besar peralatannya
ditempatkan diluar gedung kecuali peralatan kontrol, proteksi dan sistem
kendali serta alat bantu lainnya.
1.3. Gardu Induk Kombinasi Pasangan Dalam dan Pasangan Dalam
Adalah Gardu Induk yang peralatan switch gear nya berada didalam gedung
dan sebagian dari switch gear ada diluar gedung seperti gantri (tie line) dari
SUTT sebelum masuk kedalam switch gear dan transformator berada diluar
gedung.
2. Berdasarkan fungsi Gardu Induk dibedakan menjadi :
2.1. Gardu Induk Distribusi
Gardu Induk yang menyalurkan tenaga listrik dari tegangan sistem ke sistem
tegangan distribusi.
2.2. Gardu Induk Pengatur Beban
Adalah Gardu Induk yang berfungsi untuk mengatur beban dimana pada
gardu induk tersebut terpasang beban motor yang pada saat tertentu menjadi

13
pembangkit tenaga listrik motor berubah menjadi generator dan suatu saat
generator menjadi motor atau menjadi beban dengan generator berubah funsi
menjadi motor yang memompakan air kembali ke kolam utama.
3. Gardu Induk Pengatur Tegangan
Gardu Induk jenis ini biasanya terletak jauh dari pusat pembangkit sehingga
tegangan jatuh (voltage drop) transmisi sangat besar sehingga diperlukan alat
penaik tegangan seperti bank capasitor sehingga tegangan menjadi lebih baik.
4. Gardu Induk Penurun Tegangan
Adalah gardu induk yang berfungsi menurunkan tegangan seperti tegangan sistem
primer menjadi tegangan yang lebih rendah yaitu tegangan distribusi.
5. Gardu Induk Penaik Tegangan
Gardu induk penaik tegangan adalah gardu induk yang mempunyai fasilitas untuk
menaikkan tegangan yaitu tegangan pembangkit (generator) dinaikkan menjadi
tegangan sistem untuk efisiensi sehingga dapat dihubungkan dengan pusat beban
yang lokasinya sangat jauh.
6. Berdasarkan isolasi yang digunakan, Gardu Induk dibedakan menjadi:
6.1. Gardu Induk SF 6
Gardu induk seperti ini sangat hemat tempat sebab menggunakan gas SF 6
sebagai isolasi antara bagian yang bertegangan dan ditempatkan didalam
suatu selubung besi. Sering disebut Gardu Induk SF 6 atau disingkat GIS.

Gambar 3.5. Switch Gear Gardu Induk SF6

14

6.2. Gardu Induk Konvensional


Gardu Induk yang menggunakan udara menjadi isolasi antara bagian yang
bertegangan dan dengan demikian memerlukan tempat yang cukup luas.

Gambar 3.6. Switch Yard Gardu Induk Konvensional

7. Berdasarkan Sistem Busbar (Rel)


Busbar atau rel adalah titik pertemuan/hubungan trafo-trafo tenaga, SUTT, SKTT
dan peralatan listrik lainnya untuk menerima dan menyalurkan tenaga listrik/daya
listrik. Berdasarkan busbar gardu induk dibagi menjadi:
7.1. Gardu Induk dengan sistem ring busbar
Adalah gardu induk yang busbar berbentuk ring yaitu semua rel/busbar yang
ada tersambung satu sama lain dan membentuk seperti ring/cincin.
7.2. Gardu Induk dengan single busbar
Adalah gardu induk yang mempunyai satu/ single busbar, pada umumnya
gardu dengan sistem ini adalah gardu induk diujung atau akhir dari suatu
transmisi.

15

PMS
SEKSI

Rel A

Rel B

PMS Rel B

PMS Rel A
PMT PHT
CT

PT

LA
TRAFO

Gambar 3.7. Gardu Induk Single Busbar

7.3. Gardu Induk dengan double busbar


Adalah gardu induk yang mempunyai dua/double busbar. Sistem ini sangat
umum, hampir semua gardu induk menggunakan sistem ini karena sangat
efektif untuk mengurangi pemadaman beban pada saat melakukan perubahan
sistem (manuver sistem).
Rel I
Rel II
PMS Rel
PMT KOPPEL

PMT PHT
CT
PMS Line
LA

PT

CT

CT
PT

LA

PT

LA

Gambar 3.8. Gardu Induk Double Busbar

16

7.4. Gardu Induk dengan satu setengah / one half busbar


Adalah gardu induk yang mempunyai satu setengah / one half busbar. Gardu
Induk Pembangkitan dan gardu induk yang sangat besar menggunakan sistem
ini karena sangat efektif dalam segi operasional dan dapat mengurangi
pemadaman beban pada saat melakukan perubahan sistem (maneuver
system). Sistem ini menggunakan 3 buah PMT didalam satu diagonal yang
terpasang secara seri.
REL A

PMT A1

PMT A2

CT
LA
PT
PMT AB1

PMT B1

PMT AB2

PMT B2

REL B

Gambar 3.9. Gardu Induk Satu Setengah Busbar

17
B. Bagian-Bagian Gardu Induk dan Peralatannya
1. Switch Yard
Adalah suatu tempat yang luas dimana peralatan utama instalasi tenaga listrik
terpasang. Jika terpasang dilapangan maka disebut dengan switch yard sedangkan
bila peralatan utama terpasang didalam ruangan sering disebut sebagai switch
gear. Padahal switch gear artinya adalah peralatan yang ada di switch yard.
1.1. Peralatan (switch gear) di switch yard
a. Transformator/Trafo Tenaga
Berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik dari tegangan sistem menjadi
tenaga listrik dengan sistem tegangan yang lain, disamping untuk
pengaturan tegangan.

GARDU INDUK GANDUL 150 KV


IBT-1 500 MVA
500/150 kV

IBT-2 500 MVA


500/150 kV

PETUKANGAN
I

II

CAWANG
I

II
T-2 60 MVA T-1 60 MVA
150/20 kV 150/20 kV

LA

PT
CT
PMT
SEKSI

I
PMS

II
BSUBAR / REL

II

CIMANGGIS

II
KEMANG

Gambar 3.10. Bagan kutub tunggal gardu induk

18

Gambar 3.11. Transformator Daya

b. NGR (Neutral Grounding Resistance)


Adalah tahanan yang dipasang antara titik neutral trafo dengan pentanahan
dimana berfungsi untuk memperkecil arus gangguan yang terjadi sehingga
diperlukan proteksi yang praktis dan tidak terlalu mahal karena
karakteristik rele dipengaruhi oleh sistem pentanahan titik netral.

Gambar 3.11. Neutral Grounding Resistor (liquid)

19
c. PMT / Pemutus Tenaga
Saklar yang dapat digunakan untuk menghubungkan atau memutuskan
arus sesuai ratingnya maupun gangguan dan dilengkapi dengan pemadam
busur api (minyak, udara dan gas).

Gambar 3.12. Pemutus Tenaga Media SF6

d. PMS / Pemisah
Alat untuk memisahkan tegangan pada instalasi tenaga listrik.

Gambar 3.13. Pemisah (Disconcting Switch)

20
e. BUSBAR / REL
Titik pertemuan / hubungan trafo-trafo tenaga, SUTT, SKTT dan peralatan
listrik lainnya untuk menerima dan menyalurkan tenaga/daya listrik.
f. LIGHTNING ARRESTER / LA :
Alat pengaman peralatan listrik pada instalasi dari gangguan tegangan
lebih akibat sambaran petir (lightning surge) maupun oleh surja hubung
(Switching Surge).

Gambar 3.14. Lightning Arrester (LA)


g. TRAFO ARUS / CT ( Current Transformer ) :
1.

Memperkecil besaran arus listrik pada sistem tenaga listrik


menjadi besaran arus untuk sistem pengukuran dan proteksi.

2.

Mengisolasi rangkaian sekunder terhadap rangkaian primer,


yaitu memisahkan instalasi pengukuran dan proteksi tegangan tinggi.

Gambar 3.15. Current Transformer

21
h. TRAFO TEGANGAN/PT (Potential Transformer)
1. Memperkecil besaran tegangan listrik pada sistem tenaga listrik
menjadi besaran tegangan untuk sistem pengukuran dan proteksi.
2. Mengisolasi rangkaian sekunder terhadap rangkaian primer, yaitu
memisahkan instalasi pengukuran dan proteksi tegangan tinggi.
i. GEDUNG KONTROL
Pusat Aktivitas pengoperasian Gardu Induk, dimana operator bekerja
mengontrol dan mengoperasikan peralatan-peralatan yang berada di Gardu
Induk.

Gambar 3.16. Gedung Kontrol Gardu Induk /GIS

Dalam Gedung Kontrol terdapat beberapa peralatan antara lain:

PANEL KONTROL
PANEL PROTEKSI
BATERRY & RECTIFIER
PEMBAGI CATU AC/DC
PLC & SCADATEL
SEL 20 KV
SARANA PENDUKUNG
* Fire Alarm / Apar
* Emergency Lamp
* Pendingain udara

22
1. PANEL KONTROL
Tempat tombol-tombol komando operasional PMT, PMS dan
alat ukur besaran listrik dan announciator, satu ruangan dengan tempat
operator bekerja.
2. PANEL PROTEKSI
Tempat almari relai-relai pengaman yang dikelompokan dalam
bay sehingga mudah dalam pengontrolan dan operasionalnya. Alat
pendingin sangat diperlukan untuk mempertahankan karakteristik
relay tersebut. Setiap relai yang terpasang dalam panel proteksi
diberi nama sesuai dengan fungsinya.

Gambar 3.17. Panel Kontrol

Gambar 3.18. Panel Proteksi

3. SUMBER DC GARDU INDUK

BATTERY
o Alat yang menghasilkan sumber tenaga listrik arus searah
dari hasil proses kimia.
o Sumber DC untuk menggerakan peralatan kontrol, relai
pengaman, motor penggerak PMT, PMS, dll.
o Selalu terhubung dengan rectifier serta selalu diperiksa
kondisi air, kebersihan dan berat jenisnya.

RECTIFIER
o Alat listrik yang mengubah arus bolak-balik menjadi searah
sesuai

dengan

(kapasitas batere).

sesuai

kapasitas

yang

dikehendaki.

23
o Selalu terhubung dengan batere dan selalu diperiksa
kondisi baterenya secara periodik.

Gambar 3.19. Unit batere sumber arus DC


4. TRAFO PEMAKAIAN SENDIRI ( PS )
Sebagai sumber tegangan AC 3 phasa 220/380 Volt untuk
kebutuhan penerangan, Air Conditioner Rectifier dan peralatan lain
yang memerlukan tenaga listrik.
5. PANEL AC / DC
Alat listrik berupa lemari pembagi, didalamnya terpasang
saklar kecil (mini circuit breaker) atau fuse-fuse sebagai pembagi
beban dan pengaman dari instalasi terpasang di gardu induk.
6. HV CELL 20 KV
Alat listrik tegangan menengah berbentuk cubicle, didalamnya
terpasang Circuit Breaker (PMT), Current Transformer (CT), yang
telah dilengkapi alat kontrol, proteksi dan pengukuran yang berguna
untuk menyalurkan tenaga listrik ke pusat beban melalui SUTM atau
SKTM.

24

Gambar 3.20. Kubikel tegangan menengah (20 kV)


2. PROTEKSI
Proteksi adalah suatu sistem pengaman peralatan listrik terhadap gangguan
yang terjadi baik oleh alam, teknis dan penyebab yang lainnya.
Peralatan listrik yang perlu diamankan adalah:
1. TRAFO TENAGA
2. BUSBAR / REL
3. PENGHANTAR ( SUTET, SUTT, SKTT )
4. PENYULANG 20 KV
2.1. PROTEKSI TRAFO TENAGA DAN FUNGSINYA
1.

Relai Arus Lebih


Berfungsi mengamankan trafo dari gangguan hubung singkat antar fasa didalam

maupun diluar daerah pengaman trafo.

Gambar 3.21. Proteksi Relay Over Current

25
+

CT

OCR
Tripping coil
PMT
beban
Gambar 3.22 Bagan / Rangkaian Proteksi Relay Over
Current
RELAY DIFFERENTIAL

2.

Berfungsi mengamankan trafo dari gangguan hubung singkat yang terjadi didalam
daerah pengaman trafo.

Gambar 3.23 Rele Differensial

Gambar 3.24 Rele Gangguan Tanah


Terbatas
RELAY GANGGUAN TANAH TERBATAS

3.
Berfungsi

untuk

mengamankan

trafo

terhadap

tanah

didalam

daerah pengaman trafo khususnya untuk gangguan didekat titik netral yg tidak dapat
dirasakan oleh relay Differential.
4.

RELAY ARUS LEBIH BERARAH


Berfungsi mengamankan trafo dari gangguan antara fasa, dan tiga fasa, serta

bekerja pada arah tertentu.

26

5.

RELAY GANGGUAN TANAH


Berfungsi mengamankan trafo dari gangguan hubung tanah, didalam dan diluar

daerah pengaman trafo.


6.

RELAY TANGKI TANAH


Berfungsi untuk mengamankan trafo terhadap hubung singkat antara fasa dengan

tangki trafo dan trafo yang titik netralnya ditanahkan.


7.

RELAY SUHU
Berfungsi untuk mendeteksi suhu minyak dan kumparan secara langsung yang

akan membunyikan alarm serta mentripkan PMT.

Gambar 3.25 Rele suhu minyak trafo


8.

Gambar 3.26 Rele suhu kumparan sekunder

RELAY JANSEN
Berfungsi untuk mengamankan pengubah tap ( Tap Changer ) dari trafo.

9.

RELAY BUCHOLZ
Berfungsi mendeteksi adanya gas yang ditimbulkan oleh loncatan bunga api dan

pemanasan setempat dalam minyak trafo

27

Gambar 3.27 Pengaman Internal Trafo BUCHHOLZ


10.

RELAY TEKANAN LEBIH


Berfungsi mengamankan trafo dari tekanan lebih bagi trafo tanpa konservator

dipasang relay tekanan mendadak yang dipasang pada tangki dan bekerja dengan
pertolongan membrane.

Gambar 3.28 Pengaman Internal Trafo SUDDEN PRESURE


2.2 PROTEKSI BUSBAR / REL
Untuk mengamankan busbar terhadap gangguan yang terjadi digunakan rele
differential .
2.3 PROTEKSI PENGHANTAR DAN FUNGSINYA
1. RELAY JARAK
Berfungsi mengamankan SUTT dari gangguan antar fasa maupun gangguan
hubung tanah.
2. RELAY DIFFERENSIAL PILOT KABEL
Berfungsi mengamankan SKTT dan juga SUTT yang pendek, dari gangguan antar
fasa maupun gangguan hubung singkat.

Gambar 3.29 Rele differensial pilot kabel.

28
3. RELAY ARUS LEBIH BERARAH
Berfungsi mengamankan SUTT dari gangguan antar fasa, dan hanya bekerja pada
satu arah, rele ini dapat membedakan arah arus gangguan.
4. RELAY ARUS LEBIH
Berfungsi mengamankan sutt dari gangguan antar fasa maupun gangguan hubung
tanah.
5. RELAY TEGANGAN LEBIH
Berfungsi memproteksi SUTT atau SKTT terhadap tegangan lebih.
6. RELAY GANGGUAN TANAH
Berfungsi memproteksi SUTT terhadap gangguan hubung tanah.
7. RELAY PENUTUP BALIK
Berfungsi menormalkan kembali SUTT akibat gangguan hubung singkat temporer.

2.4 PROTEKSI DI PENYULANG 20 KV


1. RELAY ARUS LEBIH
2. RELAY ARUS LEBIH BERARAH
3. RELAY HUBUNG TANAH

Gambar 3.30 PMT Reclose dengan Rele Recloser dan Controll


Untuk menjaga mutu dan keandalannya, maka harus dilaksanakan pemeliharaan,
adapun jenis pemeliharaan Gardu Induk:
1. Pemeliharaan Preventive :

29
Pemeliharaan yang dilaksanakan untuk mencegah terjadinya kerusakan
peralatan secara tiba-tiba dan untuk mempertahankan unjuk kerja peralatan
yang optimum sesuai umur teknisnya.
2. Pemeliharaan Predictive :
Pemeliharaan yang dilakukan dengan cara memprediksi kondisi suatu
peralatan, apakah dan kapan kemungkinannya peralatan listrik tersebut
menuju kegagalan. Dengan memprediksi kondisi tersebut dapat diketahui
gejala kerusakan sedini mungkin.
3. Pemeliharaan Corrective :
Pemeliharaan yang dilakukan dengan berencana pada waktu-waktu
tertentu ketika peralatan listrik mengalami kalainan atau unjuk kerja yang
rendah

pada

saat

menjalankan

fungsinya,

dengan

tujuan

untuk

mengembalikan pada kondisi semula disertai perbaikan dan penyempurnaan


instalasi.
4. Breakdown Maintenance
Pemeliharaan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan mendadak yang
waktunya tidak tertentu dan sifatnya darurat.

30

BAB IV
SISTEM DISTRIBUSI DAN GARDU DISTRIBUSI

Saluran distribusi berfungsi untuk mendistribusikan energi listrik dari gardu distribusi
ke konsumen dengan menggunakan tegangan rendah. Sistem distribusi di
kelompokkan dalam dua tingkat yaitu:
1. Jaringan Distribusi Primer (Jaringan Distribusi Tegangan Menengah/JDTM)
2. Jaringan Distribusi Sekunder (Jaringan Distribusi Tegangan Rendah/JDTR)
Jaringan Distribusi Primer (JDTM) merupakan suatu jaringan yang letaknya sebelum
gardu distribusi dan berfungsi menyalurkan tenaga listrik tegangan menengah (6 kV
atau 20 kV). Hantaran dapat berupa listrik bertegangan rendah (220 V/380 V).
Hantara berupa kabel tanah atau kawat udara dari gardu distribusi (sisi sekunder trafo
distribusi) ke konsumen atau pemakai (industri atau rumah tinggal). Sedangkan gardu
distribusi sendiri adalah suatu tempat/sarana, dimana terdapat transformator step
down yaitu transformator yang menurunkan tegangan dari tegangan menengah
menjadi tegangan rendah (sesuai kebutuhan konsumen).
Jaringan Distribusi Primer atau JTM dapat berupa fasa-tiga; fasa-tunggal atau
Single Wire Earth Return (SWER). Jaringan Distribusi Sekunder atau Jaringan
Tegangan Rendah (JTR) dapat berupa fasa-tunggal ; fasa-tiga dengan empat kawat
atau fasa-tunggal tiga kawat dari sistem JTM SWER.

31
A.

Sistem Distribusi
Merupakan sistem listrik tenaga yang diawali dari sisi tegangan menengah

pada GI (GI - sisi sekunder) sampai dengan tiang akhir jaringan distribusi tegangan
rendah yang berfungsi untuk mendistribusikan tenaga listrik pada pemanfaat tenaga
listrik.

BB-GI
PMT

GD
JTM

GD
JTM

GD
JTM

JTM

PBO
JTR

JTR

JTR

GI - SISI SEKUNDER

Keterangan :
BB-GI
PBO
PMT
JTM
GD
JTR

: Bus Bar Tegangan Menengah pada Gardu Induk


: Pemutus Balik Otomatis
: Pemutus Tenaga
: Jaringan distribusi Tegangan Menengah
: Gardu Distribusi
: Jaringan distribusi Tegangan Rendah.

B. Tegangan Distribusi
Tegangan distribusi yang digunakan di Indonesia :
-

20 KV

: tegangan antar fasa pada JTM

380 V

: tegangan antar fasa pada JTR

220 V

: tegangan antar fasa ke Nol pada JTR

C. Jaringan Distribusi
Jaringan distribusi diklasifikiasikan atas :
1.

Jaringan Distribusi Tegangan Menengah


- Sistem Saluran Udara (SUTM)
- Sistem Kabel (SKTM)

2. Jaringan Distribusi Tegangan Rendah


- Pada umumnya digunakan sistem saluran udara (SUTR)
D. Pengaman Distribusi
a. Pengaman Lebur :
-

Pengaman Tegangan Rendah ( NH- Fuse )

Pengaman Tegangan Menengah ( Fuse Cut Out )

32
b. Pengaman Tegangan Lebih :
-

Lightning Aresster

c. Pengaman Trafo (Gardu Induk) :


-

Relay Bucholz

E. Gangguan Pada Sistem Distribusi


Macam-macam gangguan (Fault) pada sistem distribusi SUTM adalah sebagai
berikut :
1. Gangguan yang ber sifat temporer dimana dapat hilang dengan sendirinya
atau dengan memutuskan sesaat bagian yang terganggu dari sumber
tegangannya.
2. Gangguan yang bersifat permanent dimana untuk membebaskannya
diperlukan tindakan perbaikan dan atau menyingkirkan penyebab gangguan
tersebut.
70% sampai dengan 90% dari seluruh gangguan yang mengenai SUTM adalah
bersifat temporer (sementara).
Ditinjau secara umum jenis gangguan dibagi dua yaitu :
a. Gangguan hubung singkat (Short Circuit) meliputi hubung singkat
antar fasa.
b. Gangguan fasa ke tanah (Ground Fault) meliputi gangguan satu fasa
ke tanah, gangguan dua fasa ke tanah dan gangguan tiga fasa ke tanah.
F. Keandalan Sistem Distribusi
Untuk menjamin keandalan sistem kelistrikan digunakan Sistem Proteksi yaitu:
a. Sistem Proteksi pada GI-sisi sekunder :
- CB (Circuit Break) / PMT
- DS (Disconection Switch)
- PBO / Recloser :
- CC (Closing Coil)
- CT (Current Tranformator) :
- DGR

33
- OCR (Over Current Relay)
- FR (Frequensi Relay)
- TC (Triping Coil)
- Storage Batery

SISTEM PROTEKSI PADA GI - SISI SEKUNDER


BB-GI
CT
PMT

OVR
DGR
FR

TC

+
Storage Batery
PBO
CC

(ROCLOSING
SWITCH)

b. Sistem Proteksi pada Jaringan Tegangan Menengah (JTM) :


- AVS (Automatic Vacum Swicth)
- ALS (Automatic Line Swicth)
- AVR (Automatic Voltage Relay)
- LBS (Load Break Swicth)
- FCO (Fuse Cut Out)
- Arrester
G. Sistem Operasi Jaringan 20 KV Dengan Memakai AVS & ALS PLN

JTM

34
Distribusi Jawa Timur Cabang Banyuwangi
Automatic Vacuum Switch (AVS) atau disebut juga sectionalizer
merupakan sakelar seksi otomatis (SSO) yang berfungsi sebagai alat pemutus
secara otomatis untuk membebaskan seksi-seksi yang terganggu dari suatu
sistem distribusi atau dengan kata lain dapat melokalisir gangguan pada seksi
yang terganggu sehingga seksi yang sehat tetap mendapatkan catu daya listrik.
AVS atau SSO di pasang di PLN distribusi Jawa Timur merupakan AVS
dengan prinsip deteksi tegangan. AVS juga dilengkapi dengan pengaturan
waktu (Timer) dengan seting t-1 = 0,5 detik, t-2 = 5 detik dan t-3 = 10 detik.
AVS terdiri dari dari dua jenis yaitu AVS tree type dan AVS loop type.
Pemasangan AVS Pada Jaringan Menggunakan Sistem Radial Murni :

BB-GI
PMT

Seksi A

PENYULANG
PBO

AVS 1

Seksi B

AVS 2

Seksi C

AVS 3

t-1 = 10 detik
t-2 = 5 detik
t- 3 = 0,5 detik

Cara Kerja :
Titik B kita anggap terjadi gangguan, sehingga PMT trip dan seksi A,
seksi B, seksi C, seksi D tidak bertegangan. AVS 1, AVS 2, AVS 3 akan membuka
setelah selang waktu t-3 = 0,5 detik. PBO 1 bekerja dan setelah mencapai waktu 60
detik, PMT Penyulang masuk kembali (Reclose 1), kemudian selang waktu t-1 = 10
detik setelah AVS 1 merasakan tegangan maka AVS 1 akan menutup. Karena di seksi
B masih ada gangguan maka PMT Penyulang trip lagi. AVS 1 & AVS 2 langsung
mengunci karena waktu merasakan tegangan cepat sekali (lebih kecil dari waktu t-2 =
5 detik). PBO 2 bekerja dan setelah mencapai waktu 180 detik , PMT Penyulang
masuk kembali (Reclose 2) dan seksi A bertegangan. Seksi B, seksi C dan seksi D
tidak bertegangan / padam. Aliran daya dari Penyulang hanya pada seksi A saja.

Seksi D

35
Selain dipasang AVS yang dioperasikan secara otomatis

juga banyak

digunakan LBS yang dioperasikan secara manual dan mempunyai fungsi yang sama
yaitu sebagai alat pemutus yang dapat melokalisir seksi jaringan yang terganggu
sehingga tidak mempengaruhi seksi jaringan yang lain.

H. Diagram Line Trafo dan Komponen Utama

36

JTM 20 KV
CO Fuse

ARRESTER

Cara Pemasangan
Pembumian Arrester

TRAFO

LV Panel

MCB

NH Fuse
Kabel
Flexible
Line 1

Line 2

Pembumian Titik Netral


Sekunder Trafo

Pembumian Arrester &


Badan LV Panel

Fungsi masing-masing komponen :


a. Trafo Distribusi berfungsi untuk menurunkan tegangan 20 KV menjadi
tegangan rendah yaitu 380/220 Volt sesuai tegangan JTR.
b. Fuse Cut Out berfungsi sebagai pengaman utama trafo dan merupakan
pengaman cadangan bila terjadi beban berlebihan atau gangguan
hubung singkat pada LV dan JTR.
c. NH Fuse berfungsi sebagai pengaman utama bila terjadi beban lebih
atau terjadi hubung singkat antar fasa atau fasa kebumi pada JTR.

37
d. Arrester berfungsi sebagai pengaman tegangan surja/petir atau
tegangan switching.
e. Pembumian Arrester berfungsi untuk menyalurkan arus ke bumi akibat
tegangan surja atau switching.
f. Pembumian titik netral trafo berfungsi membatasi kenaikan tegangan
fasa yang tidak terganggu saat terjadi gangguan satu fasa ke bumi
akibat beban tidak seimbang.
g. Pembumian badan trafo dan LV Panel berfungsi :

Untuk membatasi tegangan antara bagian peralatan


yang dialiri arus dengan peralatan ke bumi pada suatu harga
yang aman (tidak membahayakan) pada kondisi operasi normal
dan gangguan.

Untuk memperoleh impedansi yang kecil dari jalan


balik arus hubung singkat ke bumi sehingga bila terjadi satu
fasa ke badan peralatan, arus yang terjadi mengikuti sifat pada
pembumian netral.
Pembumian Tiang JTM

38

BOOM
Tanpa Pembumian
Tiang JTM

Pembumian Tiang
JTM

Pembumian sempurna
(Pembuangan arus ke bumi).
Keuntungannya :
mengurangi flash over
voltage pada arrester

Tidak terjadi pembuangan arus ke bumi.


Akibatnya :
ketahanan isolasi isolator menurun.
Tahanan busur terjadi dan menimbulkan
arus hubung singkat antar fasa.

I. Komponen-Komponen Sistem Distribusi


Pada sistem distribusi terdapat beberapa komponen pendukung dalam sistem
operasionalnya. Komponen-komponen tersebut merupakan satu kesatuan dalam
sistem distribusi.
1. Circuit Breaker (CB)
Peralatan untuk memutuskan atau menghubungkan rangkaian dalam keadaan
normal atau terjadi gangguan, disebut Circuit Breaker. Fungsi utama yang harus
dipenuhi Circuit Breaker adalah:
a. Memutuskan dan menghubungkan sistem dalam masa pemeliharaan, untuk
operasinya dilakukan secara manual.
b. Memutuskan atau menghubungkan kembali sistem dalam keadaan terjadi
gangguan, yang operasinya dilakukan secara otomatis.
Agar dapat beroperasi secara otomatis, maka circuit breaker dikontrol oleh sejumlah
rele pengaman sebagai pendeteksi terhadap berbagai gangguan. Pengoperasian circuit
breaker dilakukan oleh kumparan pemutus/tripping coil yang mendapat supply/sinyal
dari rele pengaman.
2. Overhead Lines
Overhead Lines adalah penghantar kawat yang dipakai untuk menyalurkan daya
listrik yang melewati saluran udara dari pembangkit ke gardu induk, dari gardu induk

39
ke gardu induk atau dari gardu induk ke beban. Kawat ini ditarik antara tower ke
tower tanpa pelindung, sehingga overhead lines terbuka secara langsung, baik
terhadap lingkungan maupun cuaca. Pada overhead lines ini konduktor yang biasa
dipakai umumnya adalah Allumunium Conductor Steel Reinforced (ACSR), tetapi
karena mahalnya harga baja, sekarang dipakai All Allumunium Alloy Conductor
(AAAC).
3. Sectionalizer/Keypoint
Sakelar seksi otomatis/Sectionalizer/Keypoint berfungsi untuk memisahkan
saluran utama menjadi beberapa seksi-seksi, sehingga apabila terjadi gangguan pada
salah satu seksi, luas daerah gangguan hanya terjadi pada seksi yang terganggu.
Pengoperasian dari keypoint selalu bersama-sama dengan penutup balik otomatis
recloser. Keypoint selalu melakukan deteksi tegangan pada seksi kerjanya. Ketika
tidak ada tegangan maka keypoint akan membuka, dan jika mendeteksi adanya
tegangan, maka keypoint akan menutup. Keypoint mempunyai tiga macam waktu
yaitu : waktu pembukaan (opening time), waktu penutupan (closing time) dan waktu
pendeteksian (detecting time). Jika keypoint mendeteksi adanya tegangan dalam
jangka waktu yang lebih kecil daripada waktu pendeteksiannya (detecting time), maka
keypoint akan mengunci secara otomatis.
4. Recloser
Penutup balik (recloser) adalah alat pengaman arus lebih yang diatur waktu
memutus dan menutup kembali secara otomatis, terutama untuk membebaskan dari
gangguan yang bersifat temporer (sementara). Recloser dilengkapi dengan sarana
indikasi arus lebih, pengatur waktu operasi, serta penutupan kembali secara otomatis.
Desain dari recloser memungkinkan untuk dapat membuka kontak-kontaknya secara
tetap dan terkunci/lock out, sesuai pemrogramannya setelah melalui beberapa kali
operasi buka-tutup. Pada gangguan yang bersifat sementara, recloser akan membuka
dan menutup kembali bila gangguan telah hilang. Jika gangguannya bersifat tetap/
permanen, maka recloser akan membuka kontak-kontaknya secara tetap dan terkunci
/lock out . Apabila gangguan telah dihilangkan, maka recloser dapat ditutup kembali
Recloser dioperasikan pada pangkal penyulang di Gardu Induk yang akan melakukan
penutupan sebanyak dua kali dimana recloser akan beroperasi bersamaan dengan
bekerjanya Circuit Breaker dalam memutus beban secara otomatis (trip ke I) yang
disebabkan oleh gangguan hubung tanah atau hubung singkat.
5. Fault Section Indicator

40
Fault Section Indicator (FSI) ini dalam pengoperasiannya ditempatkan pada
pangkal penyulang pada Gardu Induk yang dikoordinasikan dengan waktu operasi
Automatic Vaccum Switch / Saklar Seksi Otomatis pada jaringan distribusi. FSI
digunakan untuk menunjukkan seksi yang terganggu pada jaringan distribusi. FSI
mulai bekerja untuk menunjukkan seksi-I pada saat Circuit Breaker menutup (recloseI), kemudian dengan selang waktu T1 (selang waktu AVS merasakan bertegangan
kemudian menutup), FSI akan menunjukkan seksi berikutnya dan kembali ke posisi
semula ( menunjukkan angka nol ) apabila setelah CB reclose-I penyaluran daya
listrik kembali normal oleh karena gangguan sementara. FSI akan berhenti dan tetap
menunjukkan seksi yang terganggu pada saat CB mengalami trip-II atau membuka
setelah reclose-I, karena terjadi gangguan permanen. Dengan digunakannya FSI
tersebut, seksi yang terganggu akan segera diketahui sehingga perbaikan dari
gangguan yang bersifat tetap tersebut akan lebih cepat dilaksanakan.

J. Gangguan Sistem Distribusi


Gangguan pada sistem distribusi adalah terganggunya sistem tenaga listrik
yang menyebabkan bekerjanya rele pengaman penyulang untuk membuka circuit
breaker di gardu induk yang menyebabkan terputusnya suplai tenaga listrik. Hal ini
untuk mengamankan peralatan yang dilalui arus gangguan tersebut dari kerusakan.
Sehingga fungsi dari peralatan pengaman adalah untuk mencegah kerusakan peralatan
dan tidak menghilangkan gangguan. Sumber gangguan pada jaringan distribusi dapat
berasal dari dalam sistem maupun dari luar sistem distribusi. Gangguan dari dalam
sistem antara lain:
a) Tegangan lebih atau arus lebih
b) Pemasangan yang kurang rapat
c) Usia pemakaian
d) Beban lebih
Sedangkan gangguan yang sering terjadi dari luar sistem antara lain:
a) Dahan/ranting pepohonan yang mengenai SUTM terutama pohon bambu
b) Surja petir
c) Hujan atau cuaca
d) Kerusakan pada peralatan
e) Binatang ataupun benang layang-layang

41
Berdasarkan sifat gangguan pada SUTM dibagi menjadi:
a) Gangguan temporer, yaitu gangguan yang bersifat sementara karena dapat hilang
dengan sendirinya dengan cara memutuskan bagian yang terganggu sesaat, kemudian
menutup balik kembali ( Recloser ). Bila terjadi berulang-ulang dapat menyebabkan
gangguan permanen.
b) Gangguan permanen, yaitu gangguan yang bersifat tetap, sehingga untuk
membebaskannya perlu tindakan perbaikan atau penghilangan penyebab gangguan.
Gangguan yang sering terjadi pada sistem distribusi dapat dibagi menjadi tiga
kategori, antara lain:
1. Gangguan shunt, karena hubung singkat ataupun beban shunt tidak simetris
2. Gangguan seri, karena kawat putus atau fuse putus
3. Gangguan tegangan surja.

1. Gangguan Shunt
Gangguan shunt bila ditinjau dari fasa yang terganggu dapat dibedakan menjadi
4 (empat) kategori, yaitu:
1. Gangguan satu fasa ke tanah, antara lain disebabkan oleh:
a) Satu isolator pecah
b) Satu kawat fasa terkena ranting/dahan pohon
c) Terkena benang layang-layang
2. Gangguan dua fasa ke tanah, antara lain disebabkan oleh:
a) Sambaran petir pada kedua kawat fasa
b) Dua kawat fasa terkena ranting/dahan pohon
3. Gangguan antar fasa, antara lain disebabkan oleh:
a) Sambaran petir pada kedua kawat fasa
b) Kedua kawat fasa terkena ranting/dahan pohon
4. Gangguan tiga fasa simetri, antara lain disebabkan loeh:
a) Sambaran petir pada ketiga kawat
b) Ketiga kawat fasa terkena ranting/dahan pohon
2. Gangguan Seri
Gangguan seri yang dapat terjadi antara lain:

42
1. Satu fasa terbuka karena satu kawat/fuse terputus
2. Dua fasa terbuka karena dua kawat/fuse terputus
3. Gangguan Tegangan Lebih Surja
Gangguan terjadi karena tembusnya tingkat ketahanan isolasi yang menyebabkan
isolator tembus arus ( breakdown ). Penyebab gangguan tegangan lebih surja antara
lain:
1. Proses transient switching
2. Sambaran petir pada saluran
4. Kegagalan Koordinasi Relai Proteksi Distribusi
Pada sistem di PLN, ada jaringan distribusi 20 kV dipasok dari Gardu Induk 150
kV/20 kV dan ada yang lain dipasok dari PLTD. Tiap penyulang di Gardu Induk atau
di PLTD telah disiapkan Over Current Relay (OCR) dan Ground Fault Relay (GFR)
yang berfungsi sebagai pengaman gangguan hubung singkat dan gangguan tanah di
jaringan. Jaringan distribusi 20 kV bisa ditarik panjang melampaui batas ketentuan
teknis (20 Km) dan bercabang-cabang. Percabangan bisa dilakukan di Gardu Hubung
(GH) atau di tiang distribusi. Percabangan di tiang pada umumnya menggunakan Fuse
(istilah yang biasa dikenal di lingkungan distribusi dengan Fuse Cut Out).
Cabang jaringan distribusi PLN yang panjang bisa menjadi salah satu
penyumbang kemungkinan terjadinya gangguan hubung singkat. Dengan adanya
pengaman Fuse ini, diharapkan hanya cabang jaringan yang mengalami gangguan
hubung singkat saja yang mengalami pemadaman, sementara saluran utama distribusi
20 kV dan percabangan lainnya tetap teraliri listrik. Tetapi dalam praktek di lapangan,
sering terjadi relai pengaman (OCR) di Gardu Induk juga ikut bekerja men-trip-kan
PMT, walaupun fuse di jaringan juga putus, sehingga seluruh beban yang terdapat di
penyulang itu mengalami pemadaman. Pada kondisi ini terkesan koordinasi antara
fuse di jaringan dan relai proteksi di Gardu Induk tidak betul. Dengan cara sederhana,
berikut ini dicoba menelaah penyebab kegagalan koordinasi pengaman yang
berdampak pemadaman luas.
5. Kegagalan Koordinasi OCR dan Fuse
Pemadaman yang luas tidaklah diinginkan, mengingat kesempatan penyaluran
k-Wh menjadi berkurang dan PLN berusaha untuk mengurangi kemungkinannya.

43
Indikasi pengaman yang bekerja adalah OCR atau GFR di pangkal penyulang pada
Gardu Induk dan fuse di jaringan. Perhitungan koordinasi pengaman OCR/GFR dan
pilihan rating fuse yang dievaluasi selektif menjadi terkesan tidak selektif lagi.
Informasi dari lapangan diketahui bahwa fuse yang terpasang adalah fuse yang tidak
berisi pasir peredam arc. Rata-rata fuse yang terpasang memang tidak berisi pasir
peredam arc. Pada jaringan dengan fuse yang berisi pasir peredam arc sejak awalnya,
masalah ketidakselektifan akibat gangguan hubung singkat di percabangan tidak
terjadi, tetapi setelah penggantian fuse masalah ini baru muncul.
Panjang tabung fuse yang dipakai di instalasi 20 kV biasanya berkisar antara
20 s/d 25 Cm. Fuse yang putus/lebur karena arus listrik selalu terbentuk api arc mulai
dari titik yang lebur kemudian dengan cepat sekali menjalar sampai ke ujung-ujung
terminalnya. Pasir yang ada di dalam tabung fuse 20 kV sepanjang 20-25 Cm
dianggap cukup efektif memadamkan api arc yang terjadi dan selanjutnya
memutuskan arus yang mengalir di antara terminal fuse itu.
Kalau arus yang mengalir itu adalah arus gangguan hubung singkat, maka titik
gangguan di percabangan jaringan distribusi dapat dipisahkan dengan baik oleh fuse
terhadap jaringan utamanya yang masih sehat, sehingga pemadaman hanya terjadi di
percabangan yang terganggu saja. Tetapi bila pasir peredam arc itu tidak ada, artinya
hanya berisi udara, maka api arc akan terus bertahan didalam tabung diantara terminal
fuse, sampai jaringan utama distribusi (penyulang) dibebaskan dari tegangan di Gardu
Induk.
6. Konstruksi Fuse
Untuk memahami maksud dari uraian dalam masalah kegagalan koordinasi
OCR dan fuse yang disebabkan oleh pemakaian fuse tanpa peredam arc, berikut
diambil contoh tipikal satu penyulang distribusi 20 kV PLN dipasok dari suatu Gardu
Induk yang jaringan distribusinya mempunyai banyak cabang dan tiap cabang
diamankan dengan fuse. Oleh arus yang mengalir, arc di antara material fuse yang
putus tidak dapat padam sendiri, karena udara yang dialiri arc menjadi terionisasi.
Gangguan hubung singkat di cabang-cabang yang menggunakan fuse tanpa
peredam arc tidak dapat dipisahkan dari sistem yang masih sehat, karena arc yang
timbul akibat konduktor yang lebur di dalam tabung fuse tidak ada yang
memadamkan, dan melalui arc itu, arus dari sumbernya di Gardu Induk tetap
mengalir ke titik gangguan, sehingga OCR/GFR di penyulang di Gardu Induk bekerja

44
men-trip-kan PMT, akibatnya seluruh percabangan penyulang distribusi 20 kV ini
terpaksa mengalami pemutusan pasokan listrik (seluruh konsumen di penyulang itu
padam).
K. Kandalan Sistem Distribusi
Pada suatu sistem distribusi tenaga listrik, tingkat keandalan adalah hal yang
sangat penting dalam menentukan kinerja sistem tersebut. Hal ini dapat dilihat dari
sejauh mana suplai tenaga listrik dilaksanakan secara kontinyu dalam satu tahun ke
konsumen. Dengan tumbuhnya daerah kawasan yaitu: industri, bisnis dan pemukiman
berakibat makin tingginya permintaan. Suplai tenaga listrik yang kontinyu dan andal.
Tingkat keandalan pelayanan antara lain tergantung dari lamanya pemadaman atau
SAIDI (Sistem Average Interruption Duration Index) dan kerapnya/frekuensi
pemadaman atau SAIFI (Sistem Average Interruption Frequency Index) yang terjadi
setiap tahun.
Faktor-faktor yang mempengaruhi indeks keandalan
Beberapa definisi ini diberikan untuk memahami faktor-faktor yang
mempengaruhi indeks keandalan dalam suatu sistem distribusi sesuai antara lain :
Gangguan/Outage . Keadaan dimana suatu komponen tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya, diakibatkan karena terjadi sesuatu yang berhubungan
langsung dengan komponen tersebut. Suatu outage dapat atau tidak dapat
mengakibatkankan pemadaman, hal ini masih tergantung pada konfigurasi sistem.
Kegagalan/Failure. Keadaan dimana suatu komponen tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya, diakibatkan karena terjadi malfunction pada komponen
tersebut. Failure pada suatu komponen mengakibatkan outage pada komponen
tersebut, tetapi outage pada suatu komponen dapat terjadi tanpa terjadinya failure
pada komponen tersebut.
Rata-rata Gangguan/Outage Rate. Rata-rata jumlah outage per komponen selama
periode tertentu, untuk klasifikasi outage dan jenis komponen tertentu.
Lama Gangguan/Outage Duration. Periode dari saat suatu komponen mulai
mengalami outage sampai saat dapat dioperasikan kembali sesuai dengan
fungsinya.
Switching Time. Periode dari saat suatu operasi switching diperlukan akibat forced
outage sampai saat operasi switching tersebut dilakukan.

45
Pemadaman/Interruption of Supply. Terhentinya pelayanan pada satu atau lebih
konsumen, akibat dari satu atau lebih komponen mendapat gangguan.
Lama pemadaman/Interruption Duration. Waktu dari saat terjadinya pemadaman
sampai saat menyala kembali. Pemadaman diklasifikasikan berdasarkan lamanya
pemadaman: Momentary Interruption. Pemadaman yang lamanya dibatasi oleh
periode yang dibutuhkan untuk menyalakan kembali secara otomatis, atau melalui
operasi switching secara supervisory controlled/manual yang dilakukan oleh
operator dengan batas waktu tertentu misalnya 5 menit. Sustained Interruption.
Pemadaman diluar kriteria Momentary Interruption
Jumlah total komsumen terlayani/Total Number of Customer Served. Jumlah total
dari konsumen yang terlayani sesuai dengan periode laporan terakhir .
Periode laporan. Periode laporan diasumsikan sebagai satu tahun.

L. Definisi indeks keandalan


Untuk mengukur tingkat keandalan dari tiap-tiap titik beban/load point
digunakan indeks-indeks keandalan dasar antara lain :
= Frekuensi kegagalan tahunan rata-rata ( fault/year)
r = Lama terputusnya pasokan listrik rata-rata (hours/fault)
U = Lama/durasi terputusnya pasokan listrik tahunan rata-rata (hours/year)
ENS = Energy Not Supplied (kWh/year).
Berdasarkan indeks-indeks keandalan dasar ini, bisa diperoleh indeks keandalan untuk
sejumlah titik beban/load point, yang selanjutnya digunakan untuk menentukan
indeks keandalan sistem secara keseluruhan. Indeks-indeks keandalan sistem yang
penting antara lain:
1. SAIFI (Sistem Average Interruption Frequency Index)
Adalah

Indeks

Frekuensi

Gangguan

Sistem

Rata-rata

tiap

tahun,

menginformasikan tentang frekuensi gangguan permanen rata-rata tiap konsumen


dalam suatu area yang dievaluasi.
2. SAIDI (Sistem Average Interruption Duration Index)
Adalah Indeks Durasi Gangguan Sistem Rata-rata tiap tahun, menginformasikan
tentang lamanya gangguan rata-rata tiap konsumen dalam suatu area yang dievaluasi.

46
3. CAIDI (Customer Average Interruption Duration Index)
Adalah

Indeks

Durasi

Gangguan

Konsumen

Rata-rata

tiap

tahun,

menginformasikan tentang waktu rata-rata untuk penormalan kembali gangguan tiaptiap konsumen dalam satu tahun.
4. AENS (Average Energy Not Supplied)
Adalah jumlah rata-rata energi listrik yang tidak tersalurkan dalam suatu
sistem distribusi tiap tahun, menginformasikan tentang banyaknya energi yang hilang
karena gangguan pada sistem .
M. Otomasi Sistem Distribusi
Ada dua cara untuk memperbaiki keandalan sistem distribusi tenaga listrik.
Cara pertama adalah mengurangi frekuensi terjadinya gangguan, dan kedua adalah
dengan mengurangi durasi gangguan. Untuk mengurangi durasi gangguan disadari
pentingnya otomasi sistem distribusi untuk memastikan pemulihan pasokan tenaga
listrik secara cepat pada konsumen yang akan memperbaiki keandalan sistem secara
signifikan.
Untuk menunjang program peningkatan pelayanan pada pelanggan, mutu dan
keandalan yang tinggi dalam pendistribusian tenaga listrik, maka PT.PLN (Persero)
Distribusi telah menginvestasikan sejumlah peralatan keypoint untuk otomasi jaringan
distribusi. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan pada konsumen
dengan cara melokalisir lokasi gangguan dan mempercepat pencarian gangguan,
terutama daerah pelanggan VIP, Industri dan Bisnis.
1. Teori Dasar Keypoint
Keypoint atau Saklar Seksi Otomatis (SSO) adalah suatu peralatan switching
di jaringan distribusi tegangan menengah yang terpasang di sepanjang jaringan.
Umumnya jaringan yang digunakan adalah Overhead Line atau saluran udara
tegangan menengah.
1.1. Fungsi dan Tujuan Pemasangan Keypoint
Keypoint berfungsi untuk melokalisir area yang terganggu oleh hubung
singkat atau hubung tanah yang bersifat permanen/tetap. Peralatan tersebut bekerja
berdasarkan sensor tegangan dengan tujuan untuk melokalisir/memisahkan daerah
terputusnya aliran listrik/padam karena gangguan.
1.2. Jenis Keypoint

47
Keypoint yang dipasang oleh PT.PLN (Persero) Distribusi umumnya terdiri
dari AVS (Automatic Vaccum Switch) dan AGS (Automatic Gas Switch). Untuk
memudahkan penjelasan, diambil contoh dari AVS dengan cara kerja yang sama
dengan AGS. Ditinjau dari macamnya adalah :
AVS Tree Type (dengan 1 trafo dan 2 trafo)
AVS Loop Type
1.3. Cara Kerja
Fungsi keypoint untuk melokalisir gangguan baik pada penyulang Radial
maupun Open Loop adalah berbeda baik setting waktu maupun area yang dilokalisir.
Untuk menjamin keandalan sistem kelistrikan digunakan sistem proteksi pada GI-sisi
sekunder, yaitu:
- CB (Circuit Break) / PMT
- DS (Disconection Switch)
- PBO / Recloser :
CC (Closing Coil)
- CT (Current Tranformator) :
DGR
OCR (Over Current Relay)
FR (Frequensi Relay)
- TC (Triping Coil)
- Storage Batery
- FCO (Fuse Cut Out)
- Arrester

48

BAB V
SISTEM PROTEKSI DAN PENTANAHAN

A. Fungsi Sistem Proteksi dan Pentanahan


Pada dasarnya semua konstruksi jaringan distribusi tidak ada yang benar-benar
aman dari gangguan yang datangnya dari dalam sistem itu sendiri maupun dari dari
luar sistem. Gangguan tersebut merupakan potensi yang merugikan ditinjau dari
beberapa hal, maka perlunya dipasang sistem proteksi yang berfungsi sebagai berikut:

Mencegah atau membatasi kerusakan pada jaringan beserta peralatannya

Menjaga keselamatan umum

Meningkatkan kontinuitas pelayanan


Pada sistem distribusi 20 kV hal yang terpenting pada sistem proteksi selain alat

proteksi itu sendiri, sistem pentanahan juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dalam sistem proteksi itu sendiri. Misalnya ada gangguan fasa yang bocor ke tanah,
maka bila sistem pentanahan tidak sesuai dengan sistem distribusi yang diproteksi,
maka alat proteksi tidak akan bekerja dengan benar, sehingga dapat merusak peralatan
jaringan maupun membahayakan keselamatan manusia.

49
Sistem pentanahan pada kenyataan di PLN terdapat beberapa pola, sehingga
sistem proteksinya juga berbeda-beda.Pada perencanaan konstruksi jaringan distribusi
untuk menentukan komponen jaringan, misalnya penghantar, harus dipertimbangkan
besarnya arus gangguan hubung singkat ke tanah dan selanjutnya sistem proteksi yang
sesuai, sehingga tujuan membangun konstruksi jaringan distribusi yang aman dan
menguntungkan dapat tercapai.
A.1 Prinsip Kerja Sistem Proteksi
Secara umum, prinsip kerja dari sistem proteksi adalah:
- Melakukan koordinasi dengan tegangan sistem tegangan tinggi (GI, Transmisi,
Pembangkitan)
- Mengamankan peralatan dari kerusakan dan gangguan
- Menghindari kemungkinan terjadinya kecelakaan
- Melokalisir gangguan
- Secepatnya membebaskan pemadaman karena gangguan (manuver)
- Mengurangi frekwensi pemutusan
A.2 Syarat-Syarat Sistem Proteksi
Sistem proteksi sebagai sistem yang berfungsi melindungi dan mengamankan sistem
instalasi, harus memenuhi bebberapa syarat antara lain:

Peka (sensitif)

Cermat (selektivitas)

Andal (reliability)

Cepat

B. Penyebab Timbulnya Gangguan Pada Jaringan Tegangan Menengah


B.1 Pada SKTM (Saluran Konduktor Tegangan Menengah)
Pada SKTM, jenis gangguan yang dapat terjadi antara lain:

Gangguan dari dalam: pemasangan kurang baik, beban lebih

Gangguan dari luar: pekerjaan galian, kendaraan yang lewat diatasnya,


deformasi tanah, binatang

Sifat gangguan pada umumnya permanen

B.2 Pada SUTM (Saluran Utama Tegangan Menengah)

50
Pada SUTM (Saluran Utama Tegangan Menengah), jenis gangguan yang terjadi
antara lain:
Sebagian besar dari luar: angin dan pohon, kegagalan pengaman, peralatan

rusak, hujan dan cuaca, manusia, binatang benda-benda asing (benang layanglayang), sambaran petir
Sifat gangguan: gangguan sementara dan permanen

B.3 Macam-Macam Gangguan Pada JTM (Jaringan Tegangan Menengah)


Macam-macam gangguan yang dapat terjadi pada jaringan tegangan menengah antara
lain:

Gangguan hubung singkat 3 fasa

Gangguan hubung singkat 2 fasa

Gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah

Gangguan simpatik

Gangguan tegangan lebih sambaran petir (lightning surge)

Gangguan tegangan lebih pemutusan (switching surge)

C. Macam-Macam Alat Proteksi pada Saluran Distribusi Tegangan Menengah


1.

Proteksi arus lebih:


o

Pengaman: FCO (Fuse Cut Out) , arc fuse (Peredam Bunga Api)

Relai arus lebih dipasang pada PMT (Pemutus), PBO (Pemutus Balik
Otomatis), SSO (Switch Selektor Otomatis)

Relai hubung tanah

Relai arus lebih terarah

2.

Proteksi tegangan lebih:


o

Kawat tanah

Sela batang

Rod gap

Arrester

C.1 Proteksi Terhadap Gangguan Arus Lebih


Arus lebih terjadi disebabkan terjadinya hubung singkat antara konduktor fasa
dengan fasa, atau antara fasa dengan tanah. Faktor yang mempengaruhi besar arus
lebih adalah:

51

Tegangan

Impedansi

Jenis gangguan

Tahanan pentanahan

Saat mulai gangguan

Faktor daya

C.2 Hubungan sistem pentanahan dan pola proteksi arus lebih


Yang dimaksud dengan hubungan sistem pentanahan di atas adalah hubungan
antara titik netral sisi skunder trafo (20 kV) terhadap pentanahan. Pada saat ini di PLN
hubungan sistem pentanahan ada 3 (tiga) macam, yaitu: 1) Sistem pentanahan tahanan
rendah, 2) Sistem pentanahan tahanan tinggi, dan 3) Sistem pentanahan langsung,
dimana masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda terhadap besarnya arus
gangguan hubung tanah, sehingga pola pengamanan yang dilakukan berbeda juga.

C.2.1. Sistem pentanahan tahanan rendah


Sistem ini terdapat pada sistem distribusi yang ada di banyak tempat di Indonesia
kecuali Jatim dan Jateng. Besar tahanan yang dihubungkan seri dengan pentanahan
adalah 40 untuk SUTM dan 12 untuk SKTM atau gabungan SUTM dan SKTM.
Pengaruh dari sistem ini terhadap pola pengamanan arus lebih adalah sebagai berikut:
-

Arus gangguan hubung singkat antara fasa dan tanah cukup besar (max
:1000 A untuk SUTM dan 300 A untuk SKTM)

Karakteristik relai arus yang digunakan pada PMT utama adalah jenis
waktu tetap (definite time)

PMT saluran utama dilengkapi dengan relai gangguan tanah dan


penutup balik bagi saluran udara

- Pelebur boleh dipasang sebagai pengaman saluran percabangan atau pengamanan


trafo distribusi.
C.2.2. Sistem pentanahan tahanan tinggi

52
Sistem seperti ini terdapat pada sistem distribusi di Jatim. Besar tahanan yang
dihubungkan seri dengan pentanahan adalah 500 untuk SUTM maupun SKTM.
Pengaruh dari sistem ini terhadap pola pengamanan arus lebih adalah sebagai berikut:
-

Lebih kebal terhadap gangguan fasa dengan tanah yang sifatnya


sementara, karena arus gangguan kecil (< 25 A)

Pengaman arus lebih pada PMT harus dilengkapi relai gangguan tanah
terarah

- Pelebur dapat dipasang pada titik percabangan saluran utama, saluran cabang tanpa
SSO (Selektor Switch Otomatis) dan sisi primer trafo
C.2.3. Sistem pentanahan langsung
Sistem seperti ini terdapat pada sistem distribusi di Jateng. Pentanahan
dihubungkan langsung tanpa melalui tahanan. Pada jaringan terdapat hantaran netral
yang sekaligus merupakan hantaran netral sistem tegangan rendah (disebut multi
grounded). Pengaruh dari sistem ini terhadap pola pengamanan arus lebih adalah
sebagai berikut:
-

Arus gangguan hubung tanah relatif sangat besar, sehingga dapat


digunakan PMT + relai (berpengamanan sendiri yang bekerja cepat)

Pada saluran kabel tanah, PMT tidak dilengkapi penutup balik

Karakteristik relai arus yang digunakan adalah jenis waktu terbalik


(inverse time)

Dapat dilakukan koordinasi proteksi antara PMT + relai atau PBO


dengan fuse

Pengaman gangguan tanah dengan menggunakan PBO, SSO dan fuse

PBO dipasang pada saluran utama sebagai pengaman utama jaringan,


maupun sebagai alat memutus tetap atau sesaat

SSO dapat dipasang sepanjang saluran utama atau percabangan

- Pelebur dipakai sebagai pengaman saluran percabangan dan trafo


C.2.4. Koordinasi Proteksi
Yang dimaksud dengan koordinasi pengamanan adalah mengatur/menyetel
agar alat pengaman yang dipasang dengan tujuan mengamankan peralatan dapat

53
bekerja memutus arus gangguan sebelum peralatan yang diamankan mengalami
kerusakan (percepatan penuaan).

Kondisi yang aman, adalah bila selisih waktu antara bekerjanya alat pengaman
dengan alat yang diamankan adalah 25 %.
Batas ketahanan penghantar, menurut SPLN 64 : 1985:

Batas

ketahanan

penghantar

telanjang:

Kurva pelunakan untuk penghantar AAC (All Aluminium Conductor) dan AAAC
(All Aluminium Alloy Conductor) dengan persamaan:
( untuk penghantar AAC )
( untuk penghantar AAAC)
Kurva saat leleh untuk penghantar ACSR (Aluminium Conductor Steel Reinforced)
dimana:
A = luas penampang penghantar
I = arus hubung singkat (kA)
T = lamanya hubung singkat (detik)

Batas ketahanan penghantar berisolasi (kabel):

54

Batas ketahanan trafo distribusi:

C.2.5. Pemilihan alat proteksi


a.

Pelebur sebagai proteksi saluran cabang


Faktor untuk pemilihannya, antara lain:
o

Kemampuan pelebur terhadap arus beban maksimum, arus beban


normal, beban lebih dan perkiraan pertumbuhan beban

Koordinasi dengan alat pengaman yang lain

Kemampuan pemutusan

55
o

Batas ketahanan penghantar terhadap hubung singkat

KHA pelebur > arus beban terus-menerus

Arus beban terus-menerus maksimum < KHA penghantar

KHA pelebur

Tipe

dan

K:

1,5

In

(untuk

pelebur

6,3

s/d

100

A)

1,3

In

(untuk

pelebur

125

s/d

160

A)

1,0 x In (untuk pelebur 200 A)


o

Tipe H: 1,0 x In (Arus nominal)

Tipe pembatasan arus 1,0 x In (Arus nominal)

Syarat pemilihan pelebur sebagai pengaman penghantar adalah:


-

kurva pelebur harus berada di bawah kurva ketahanan penghantar


telanjang dan kabel maximum 75 % skala waktu).

b.

Pelebur bagi proteksi trafo distribusi


Garis batas ketahanan ditentukan oleh titik-titik sbb.:
o

2 x In (selama 100 detik - beban lebih)

3 x In (selama 10 detik)

6 x In (selama 1 detik)

25 x In (selama 0,2 detik)

C.2.6. Kegagalan proteksi gangguan arus lebih dan penyebabnya


Kegagalan yang terjadi pada sistem proteksi gangguan arus lebih, disebabkan
oleh:
a.

Kurva arus waktu ketahanan peralatan jaraknya kurang dari 25 % dari kurva
pengaman

b.

Kurva ketahanan peralatan tidak sesuai standar/data dari pabrik

c.

Terjadi perubahan kurva peralatan atau pengaman:


o

Relai: terlalu banyak beroperasi, tua, kotor atau rusak

Pelebur: tua, kotor atau rusak

PMT: banyak beroperasi, tua, tahanan isolasi turun

Trafo: pendinginan kurang baik, sambungan kumparan kurang baik

56
Sambungan terminal bushing kurang kencang, sering kena surja petir,

beban lebih, mutu inti/kumparan jelek, kotor


Penghantar: kotor karena polusi, perubahan penampang, sering kena

surja petir, arus lebih/hubung singkat, mutu penghantar kurang baik.


D. Proteksi terhadap Gangguan Tegangan Lebih
D.1. Timbulnya tegangan lebih
Ditinjau dari asal gangguan terhadap sistem:
Dari dalam sistem, dengan jenis gangguan surya hubung (switching surge)

a.

terjadi karena:
Transient: mempunyai frekwensi yang tidak ada hubungannya dengan

frekwensi sistem; penyebabnya:


- operasi PMT dengan beban induktif/kapasitif
- hubung singkat satu fasa
- bumi pada sistem
- pentanahan mengambang
Dinamis: mempunyai frekwensi yang sama dengan frekwensi sistem

berlangsung beberapa detik; penyebabnya: pelepasan/penambahan tiba-tiba


generator hingga terjadi putaran lebih
Statis: mempunyai frekwensi yang sama dengan frekwensi sistem

berlangsung sampai waktu yang lama dengan penyebabnya hubung singkat satu
fasa bumi.
Tegangan lebih hubung dapat terjadi karena:
Penutupan / penutupan kembali saklar pada hantaran panjang yang

terbuka
o

Penutupan saklar pada saluran dengan trafo hantaran dengan beban


atau tidak

Pelepasan beban tiba-tiba pada ujung hantaran yang diikuti dengan


pelepasan beban pada ujung pengirim

Pelepasan trafo tanpa beban

Pelepasan beban induktip trafo gangguan tersier

Pelepasan gardu antara

Gangguan satu fasa ke bumi.

57

Dari luar sistem dengan jenis gangguan surya petir (lightning surge):

b.

Terjadi karena adanya pelepasan muatan-muatan di atmosfer, contohnya adalah


sambaran petir ke konduktor SUTM.
D.2. Akibat dari terjadiya tegangan lebih
Peninggian tegangan yang melebihi tingkat ketahanan isolasi peralatan,
menyebabkan rusaknya isolasi dan akhirnya mengakibatkan terjadinya hubung
singkat.
D.3. Alat proteksi terhadap gangguan tegangan lebih
Alat-alat yang digunakan sebagai alat proteksi terhadap gangguan tegangan
lebih, antara lain:
Kawat tanah (over head statics): cara ini banyak digunakan pada saluran

transmisi dan sebagian di SUTM, tujuannya menghindari sambaran petir secara


langsung, dipasang diatas kawat fasa.
Sela batang (spark gap) atau Arcing Horn: dipasang pada bushing trafo sisi

tegangan menengah dan isolator gantung.


Lightning arrester: cara ini paling banyak digunakan baik saluran transmisi

dan SUTM yang dipasang seluruh fasa.


D.4. Pemasangan pengaman tegangan lebih
Pada sistem jaringan distribusi, pemasangan pengaman tegangan lebih antara
lain:

Arrester pada trafo GI sisi 20 kV

Arrester pada trafo Gardu Distribusi sisi 20 kV

Arrester pada kapasitor distribusi

Arrester pada SUTM pada titik percabangan SUTM

Arrester pada ujung saluran yang panjang

Arrester pada SKTM yang digabung dengan SUTM

D.5. Kegagalan proteksi tegangan lebih dan penyebab-penyebabnya

58
a. Kerusakan pada arrester:

Sambungan-sambungan kawat fasa, jaringan dengan terminal arrester serta


pentanahan

Sambungan kawat pentanahan dengan elektrode kurang baik

Tahanan pentanahan arrester terlalu tinggi (> 1 ohm)

Jarak arrester satu dengan yang lain terlalu jauh

Arrester tidak bekerja optimal.

b.Gangguan pada rod gap / spark gap:

Jarak antara rod gap / spark gap tidak tepat

Rod gap / spark gap kotor


Isolator:

c.

Kotor

Retak/pecah
Trafo:

d.

Sudah tua, isolasi kumparan turun

Minyak trafo kotor, mengandung endapan karbon, uap atau air


Kawat tanah:

e.

Jarak antara kawat tanah dan fasa terlalu besar

Tarikannya kendor, tiang miring.