Anda di halaman 1dari 32

BAB I

LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. R

Umur

: 3 bulan

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat

Tanggal Masuk RS

: 5 Juni 2014

B. IDENTITAS ORANG TUA


Nama Ayah : Tn. Am.

Nama Ibu

: Ny. Sb.

Umur

: 29

Umur

: 25

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: S1

Pendidikan

: SMA

Perkawinan

: Pertama

Perkawinan

: Pertama

Pekerjaan

: Pegawai Swasta

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

II.

ANAMNESA

Anamnesa dilakukan secara Allo-Anamnesa pada tanggal 05 Juni 2014 dengan ibu os.
A. KELUHAN UTAMA
Kulit seperti terbakar
B. KELUHAN TAMBAHAN
Bengkak pada mata, Batuk
C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Os datang dibawa kedua orangtua nya ke IGD RSUD Kota Bekasi dengan
keluhan kulit seperti terbakar sejak 1 hari SMRS. Kulit awalnya seperti kemerahan
pada leher, sekitar alat kelamin dan sekitar wajah lalu muncul gelembung berisi cairan
dan tidak beberapa lama kemudian kulit seperti mengelupas. keluhan ini diikuti
bengkak pada kedua mata pasien. Ibu pasien mengatakan juga mengatakan pasien
menjadi sering batuk dan menangis sejak muncul keluhan ini. Riwayat kontak dengan
api maupun zat-zat kimia disangkal oleh ibu pasien.
D. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
4 hari sebelumnya pasien sempat demam dan batuk lalu berobat ke puskesmas
dan diberikan obat antibiotik tetapi ibu pasien tidak dapat mengingat nama obat
tersebut. Sekitar 3 hari setelah diberi obat keluhan tersebut muncul.
E. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Tidak ada anggota keluarga os yang memiliki keluhan atau kelainan yang
sama dengan yang dialami os. Ibu pasien mengaku mempunyai alergi terhadap debu.
F. RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN
Selama kehamilan, ibu memeriksakan kehamilan pada seorang bidan. Selama
kehamilan ibu os tidak ada keluhan yang berarti dan tidak menggunakan obat-obatan
tertentu. Os dikandung cukup bulan, lahir spontan, dengan berat lahir 3300 gram dan
panjang badan + 51 cm.
G. SUSUNAN KELUARGA
Os adalah anak pertama.
2

H. RIWAYAT PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Motorik Kasar.
Mulai berbalilk dan mengangkat kepala pada usia sekitar 2 bulan

Motorik halus.
Ibu os tidak tahu kapan os mulai memegang benda-benda disekitarnya.

Bahasa.
Os belum dapat berbicara

Sosial.
Os masih bersosialisasi hanya dengan orang tua dan lingkungan sekitarnya.
Kesan : Riwayat pertumbuhan dan perkembangan baik.

I. RIWAYAT GIZI DAN MAKANAN.


Os mendapat ASI hingga saat ini.
Kesan : Riwayat Gizi Baik.
J. RIWAYAT IMUNISASI
Ibu os mengaku bahwa os sudah mendapatkan imunisasi hepatitis saat lahir.
K. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI
Ayah os merupakan seorang karyawan swasta dengan penghasilan yang
mencukupi kebutuhan sehari- hari dan Ibu os merupakan ibu rumah tangga tanpa
penghasilan tetap.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum

: Sakit sedang.

Kesadaran

: Composmentis

Tanda Vital

Tek. Darah

: 90/60 mmHg

Nadi

: 130kali/menit

Suhu

: 38.6 C
3

Laju Nafas

: 40 kali/menit

Berat Badan

: 6 kg

Tinggi Badan

: 60.5 cm

STATUS GIZI
1. BB / U
= (6/6.2) x 100%=96.7%
Kesan = Gizi normal
2. TB / U
= (60.5/61.5)x100%= 98.3%
Kesan = Gizi normal
3. BB / TB
= (6/6.1)x100%=98.3%
Kesan = Gizi normal
Kesan : Keadaan gizi anak baik.

STATUS GENERALIS
Kepala

: Normocephali, rambut hitam, distribusi merata, tidak mudah


dicabut

Mata

: Pupil bulat isokor, Reflek Cahaya Langsung +/+,


Reflek Cahaya Tidak Langsung +/+, edema palpebra minimal
Conjungtiva Anemis -/-, Sclera Icterik -/-. Mata cekung (-)

Telinga

: Normotia, Sekret -/-, Serumen -/-.

Hidung

: Septum Deviasi (-), Sekret -/-,Nafas cuping hidung (-)

Mulut

: Caries(-), edema (-)

Tenggorokan

: Faring : hiperemis (-)

Leher

: KGB dan thyroid tidak teraba, kaku kuduk (-)

Thorak

Jantung
6

Inspeksi

: Ictus Cordis tidak terlihat.

Palpasi

: Ictus Cordis teraba di ICS IV

Perkusi

: Batas Jantung normal.

Auskultasi : S1 dan S2 reguler, Murmur (-), Gallop (-).


Pulmo
Inspeksi

: Simetris pada kedua hemithorak.

Palpasi

: Vocal Fremitus kanan = kiri.

Perkusi

: Sonor di kedua lapang paru.

Auskultasi : Suara Nafas Vesikuler, Wheezing -/-, Ronchi +/+.


Abdomen

: Datar, Supel, Bising Usus (+) N,


Nyeri Tekan (-), Nyeri Lepas (-), Defans Muskuler (-).
Hepatomegali (-), Splenomegali (-)

Ekstrimitas Atas

: Akral hangat, Oedem -/-, Deformitas (-)


Tonus otot baik, wasting (-), atrofi(-)

Ekstrimitas Bawah

: Akral hangat, Oedem -/-, Deformitas (-)


Tonus otot baik, wasting (-), atrofi (-)

Genitalia (Pria)

: Tak tampak pembesaran pada scrotum, nyeri (-)

Status Neurologis

Pemeriksaan nervi cranialis

NI
: Tidak dilakukan
N II
: Tidak dilakukan
N III
: Tidak dilakukan
N IV
: Tidak dilakukan
NV
: Tidak dilakukan
N VI
: Tidak dilakukan
Refleks fisiologis (+)

N VII
N VIII
N IX
NX
N XI
N XII

: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan

Refleks Patologis (-)


Tanda rangsang meningeal (-)

STATUS DERMATOLOGIS

IV.

Lokasi
Distribusi
Efloresensi

: muka, leher, genitalia eksterna, fleksor siku


: universal, simetris bilateral
: eritema, krusta, hiperpigmentasi, skuama, epidermolisis, erosi

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium: 5 Juni 2014

Darah Periksa Lengkap

Unit

Nilai Normal

Leukosit*

10.8

/mm3

5000 - 10.000

Hemoglobin (Hb)

11.1

/dl

11-16

Hematokrit (Ht)

33.2

40-48

Thrombosit*

305

x109/l

150-400

Unit

Nilai Normal

Kimia Darah
Natrium

137

mmol

135 145

Kalium

4.5

mmol

3.5 5

Chlorida

95

mmol

94 110

GDS

108

mg/dl

V.

/l
/l
/l

PEMERIKSAAN ANJURAN

Pemeriksaan anjuran yang disarankan adalah :

VI.

Pinprick test, patch test


Konsultasi dengan Sp.KK
DIAGNOSIS KERJA
Erupsi Obat Alergik tipe eritema multiforme

VII.

VIII.

DIAGNOSIS BANDING
Erupsi obat alergik tipe sindroma steven johnson
PENATALAKSANAAN

Medikamentosa
o Dextrose 5% 25tpm mikro
o Sanmol drip 3x60mg iv
o Metil prednisolon 0.5-1mg/kgBB 6mg 4x6mg sehari
o Kompres dengan asam salisil 1%.
Non-medikamentosa
o Rawat inap dan tirah baring
IX.

PROGNOSIS

Ad Vitam

: Ad bonam

Ad Fungsionam

: Ad bonam

Ad Sanationam

: dubia ad bonam

X.

FOLLOW UP

06/06/2014
S (-)
O TD: 90/60mmHg

07/06/2014
(-)
TD: 90/60mmHg

N:126 x/menit

N: 130x/menit

RR: 36x/menit

RR: 38x/menit

S: 37.70C

S: 37.40C

Status generalis dalam batas normal

Status generalis dalam batas normal

Ruam pada kulit berkurang


A EOA
P
Medikamentosa
o dextrose 25tpm mikro
o Metilprednisolon

Ruam pada kulit berkurang


EOA
Medikamentosa
o dextrose 25tpm mikro
o Metilprednisolon

2x6mg IV
o Kompres as.salisil

1%
Non-medikamentosa

1x6mg IV
o Kompres as.salisil

1%
Non-medikamentosa
9

o Rawat inap dan tirah

o Rawat inap dan tirah

baring
o Rawat ruam

baring
o Rawat ruam

08/06/2014
S (-)
O TD: 100/60mmHg

09/06/2014
(-)
TD: 90/60mmHg

N:128 x/menit

N: 132x/menit

RR: 36x/menit

RR: 38x/menit

S: 37.00C

S: 36.90C

Status generalis dalam batas normal

Status generalis dalam batas normal

Ruam pada kulit berkurang


A EOA
P
Medikamentosa
o dextrose 25tpm mikro
o Metilprednisolon

Ruam pada kulit berkurang


EOA
Medikamentosa
o Metilprednisolon
6mg 1x1 peroral
o Kompres as.salisil

1x6mg IV
o Kompres as.salisil

1%
Non-medikamentosa
o Rawat inap dan tirah
baring
o Rawat ruam

1%
Non-medikamentosa
o Pasien diperbolehkan
pulang dengan
edukasi

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Epidemiologi
Belum didapatkan angka kejadian yang tepat terhadap kasus erupsi alergi obat, tetapi
berdasarkan data yang berasal dari rumah sakit, studi epidemiologi, uji klinis terapeutik obat
dan laporan dari dokter, diperkirakan kejadian alergi obat adalah 2% dari total pemakaian
obat-obatan atau sebesar 15-20% dari keseluruhan efek samping pemakaian obat-obatan.

1,4,6

Hasil survei prospektif sistematik yang dilakukan oleh Boston Collaborative Drug
Surveillance Program menunjukkan bahwa reaksi kulit yang timbul terhadap pemberian obat
adalah sekitar 2,7% dari 48.000 pasien yang dirawat pada bagian penyakit dalam dari tahun
1974 sampai 1993. Sekitar 3% seluruh pasien yang dirawat di rumah sakit ternyata
mengalami erupsi kulit setelah mengkonsumsi obat-obatan. Selain itu, data di Amerika
Serikat menunjukkan lebih dari 100.000 jiwa meninggal setiap tahunnya disebabkan erupsi
obat yang serius. Beberapa jenis erupsi obat yang sering timbul adalah:

1,5

eksantem makulopapuler sebanyak 91,2%,


urtikaria sebanyak 5,9%, dan
vaskulitis sebanyak 1,4%
Faktor-faktor yang memperbesar risiko timbulnya erupsi obat adalah:
1. Jenis kelamin

1,4

Wanita mempunyai risiko untuk mengalami gangguan ini jauh lebih tinggi jika
dibandingkan dengan pria. Walaupun demikian, belum ada satupun ahli yang mampu
menjelaskan mekanisme ini.
2. Sistem imunitas

1,4

Erupsi alergi obat lebih mudah terjadi pada seseorang yang mengalami penurunan sistem
imun. Pada penderita AIDS misalnya, penggunaan obat sulfametoksazol justru meningkatkan
risiko timbulnya erupsi eksantematosa 10 sampai 50 kali dibandingkan dengan populasi
normal.
3. Usia1,4,6

11

Alergi obat dapat terjadi pada semua golongan umur terutama pada anak-anak dan orang
dewasa. Pada anak-anak mungkin disebabkan karena perkembangan sistim immunologi yang
belum sempurna. Sebaliknya, pada orang dewasa disebabkan karena lebih seringnya orang
dewasa berkontak dengan bahan antigenik. Umur yang lebih tua akan memperlambat
munculnya onset erupsi obat tetapi menimbulkan mortalitas yang lebih tinggi bila terkena
reaksi yang berat.
4. Dosis

4,6

Pemberian obat yang intermitten dengan dosis tinggi akan memudahkan timbulnya
sensitisasi. Tetapi jika sudah melalui fase induksi, dosis yang sangat kecil sekalipun sudah
dapat menimbulkan reaksi alergi. Semakin sering obat digunakan, Semakin besar pula
kemungkinan timbulnya reaksi alergi pada penderita yang peka.
5. Infeksi dan keganasan

Mortalitas tinggi lainnya juga ditemukan pada penderita erupsi obat berat yang disertai
dengan keganasan. Reaktivasi dari infeksi virus laten dengan human herpes virus (HHV)umumnya ditemukan pada mereka yang mengalami sindrom hipersensitifitas obat.
6. Atopik

Faktor risiko yang bersifat atopi ini masih dalam perdebatan. Walaupun demikian,
berdasarkan studi komprehensif terhadap pasien yang dirawat di rumah sakit menunjukkan
bahwa timbulnya reaksi obat ini ternyata tidak menunjukkan angka yang signifikan bila
dihubungkan dengan umur, penyakit penyebab, atau kadar urea nitrogen dalam darah saat
menyelesaikan perawatannya.

3,6

2.2. Patogenesis
Ada dua macam mekanisme yang dikenal disini. Pertama adalah mekanisme imunologis
dan kedua adalah mekanisme non imunologis. Umumnya erupsi obat timbul karena reaksi
hipersensitivitas berdasarkan mekanisme imunologis. Obat dan metabolit obat berfungsi
sebagai hapten, yang menginduksi antibodi humoral. Reaksi ini juga dapat terjadi melalui
mekanisme non imunologis yang disebabkan karena toksisitas obat, over dosis, interaksi
antar obat dan perubahan dalam metabolisme.

12

Tabel 2.1. Reaksi imunologis dan non imunologis

Riedl MA, Casillas AM, Adverse Drug Reactions; Types and Treatment Options. In:
American Family Physician. Volume 68, Number 9. 2003. Access on: June 3, 2007.
Available at: www.aafp.org/afp

13

2.2.1. Mekanisme Imunologis


Tipe I (Reaksi anafilaksis)
Mekanisme ini paling banyak ditemukan.

Yang berperan ialah Ig E yang mempunyai

afinitas yang tinggi terhadap mastosit dan basofil. Pajanan pertama dari obat tidak
menimbulkan reaksi. Tetapi bila dilakukan pemberian kembali obat yang sama, maka obat
tersebut akan dianggap sebagai antigen yang akan merangsang pelepasan bermacam-macam
mediator seperti histamin, serotonin, bradikinin, heparin dan SRSA. Mediator yang
dilepaskan ini akan menimbulkan bermacam-macam efek, misalnya urtikaria. Reaksi
anafilaksis yang paling ditakutkan adalah timbulnya syok.

2,4

Tipe II (Reaksi Autotoksis)


Adanya ikatan antara Ig G dan Ig M dengan antigen yang melekat pada sel. Aktivasi
sistem komplemen ini

akan memacu sejumlah reaksi yang berakhir dengan lisis.

2,4

Tipe III (Reaksi Kompleks Imun)


Antibodi yang berikatan dengan antigen

akan membentuk kompleks antigen antibodi.

Kompleks antigen antibodi ini mengendap pada salah satu tempat dalam jaringan tubuh
mengakibatkan reaksi radang. Aktivasi sistem komplemen merangsang pelepasan berbagai
mediator oleh mastosit. Sebagai akibatnya, akan terjadi kerusakan jaringan.

2,4

Tipe IV (Reaksi Alergi Seluler Tipe Lambat)


Reaksi ini melibatkan limfosit.

Limfosit T yang tersensitasi mengadakan reaksi dengan

antigen. Reaksi ini disebut reaksi tipe lambat karena baru timbul 12-48 jam setelah pajanan
terhadap antigen.

2,4

2.2.2. Mekanisme Non Imunologis


Reaksi "Pseudo-allergic" menstimulasi reaksi alergi yang bersifat antibody-dependent.
Salah satu obat yang dapat menimbulkannya adalah aspirin dan kontras media. Teori yang
ada menyatakan bahwa ada satu atau lebih mekanisme yang terlibat; pelepasan mediator sel

14

mast dengan cara langsung, aktivasi langsung dari sistem komplemen, atau pengaruh
langsung pada metabolisme enzim asam arachidonat sel.

Efek kedua, diakibatkan proses farmakologis obat terhadap tubuh yang dapat
menimbulkan gangguan seperti alopesia yang timbul karena penggunaan kemoterapi anti
kanker. Penggunaan obat-obatan tertentu secara progresif ditimbun di bawah kulit, dalam
jangka waktu yang lama
generalisata diffuse.

akan mengakibatkan gangguan lain seperti hiperpigmentasi

2.2.3. Unknown Mechanisms


Selain dua mekanisme diatas, masih terdapat mekanisme lain yang belum dapat
dijelaskan.3

2.3 Manifestasi Klinis


2.3.1. Morfologi dan Distribusi
Perlu diketahui bahwa erupsi alergi obat yang timbul akan mempunyai kemiripan
dengan gangguan kulit lain pada umumnya, gangguan itu diantaranya;
a. Urtikaria
Kelainan kulit terdiri atas urtika yang tampak eritem disertai edema akibat
tertimbunnya
serum

dan disertai rasa gatal. Bila dermis bagian dalam dan jaringan subkutan mengalami

edema, maka timbul reaksi yang disebut angioedema. Angioedema ini biasanya unilateral dan
nonpruritus, dapat hilang dalam jangka waktu 1-2 jam. Tetapi kadang dapat bertahan selama
dua sampai lima hari. Pelepasan mediator inflamasi dari suatu aktifasi yang bersifat non
imunologis juga dapat menimbulkan reaksi urtikaria. Urtikaria dan angioedema sangat
berhubungan dengan Ig-E sebagai suatu respon cepat terhadap penisilin maupun antibiotik
lainnya. Obat lain misalnya angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dalam jangka
waktu satu jam juga dapat menimbulkan urtikaria.

2,7

15

Gambar 2.1 Urtikaria yang disebabkan oleh penggunaan penisilin

Sumber: Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology. Volume
One. 2nd edition. Elserve limited, Philadelphia. United States of America. 2003. p:
333-352
b. Eritema
Kemerahan pada kulit akibat melebarnya pembuluh darah.

Warna merah akan hilang pada

penekanan. Ukuran eritema dapat bermacam-macam. Jika besarnya lentikuler maka disebut
eritema morbiliformis, dan bila besarnya numular disebut eritema skarlatiniformis.

c. Dermatitis medikamentosa
Gambaran klinisnya memberikan gambaran serupa dermatitis akut, yaitu efloresensi
yang polimorf, membasah, berbatas tegas.

Kelainan kulit menyeluruh dan simetris.

2
16

d. Purpura
Purpura ialah perdarahan di dalam kulit berupa kemerahan pada kulit yang tidak
hilang bila ditekan. Purpura dapat timbul bersama-sama dengan eritem dan biasanya
disebabkan oleh permeabilitas kapiler yang meningkat..

e. Erupsi eksantematosa
Lebih dari 90% erupsi obat yang ditemukan berbentuk erupsi eksantematosa. Erupsi
yang muncul dapat berbentuk morbiliformis atau makulopapuler. Pada mulanya akan terjadi
perubahan yang bersifat eksantematosa pada kulit tanpa didahului blister ataupun pustulasi.
Erupsi bermula pada daerah leher dan menyebar ke bagian perifer tubuh secara simetris dan
hampir selalu disertai pruritus. Erupsi baru muncul sekitar satu minggu setelah pemakaian
obat dan dapat sembuh sendiri dalam jangka waktu 7 sampai 14 hari. Pemulihan ini ditandai
dengan perubahan warna kullit dari merah terang ke warna coklat kemerahan, yang disertai
dengan adanya deskuamasi kulit.

2,7

Erupsi eksantematosa dapat disebabkan oleh banyak

obat termasuk penisilin, sulfonamid, dan obat antiepiletikum. Dari hasil data laboratorium
diketahui bahwa T sel juga ikut terlibat dalam reaksi ini karena sel T dapat menangkap jenis
7
obat tanpa perlu memodifikasi protein dari hapten. Jika kelainan ini timbul berkali-kali
ditempat yang sama maka disebut eksantema fikstum.

Tabel 2.2 Beberapa obat yang dapat menimbulkan erupsi eksantematosa

17

Sumber: Lee A, Thomson J. Drug-induced skin. In: Adverse Drug Reactions, 2nd ed.
Pharmaceutical

Press.

2006.

Access

on:

June

3,

2007.

Available

at:

http://drugsafety.adisonline.com/pt/re/drs/pdf
Tempat predileksi disekitar mulut, terutama di daerah bibir dan daerah penis pada lakilaki, sehingga sering disangka penyakit kelamin.
maka disebut dengan eksantema fikstum.

Apabila adanya residif di tempat yang sama

Gambar 2.2. Sejumlah papul berwarna pink pada daerah dada disebabkan oleh
penggunaan obat golongan sefalosporin.

Sumber: Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology. Volume
One. 2nd edition. Elserve limited, Philadelphia. United States of America. 2003. p:
333-352
f. Eritema nodosum

18

Kelainan kulit berupa eritema dan nodus-nodus yang nyeri disertai gejala umum
berupa demam, dan malaise. Tempat perdileksi ialah di regio ekstensor tungkai bawah.

g. Eritroderma
Eritroderma pada penderita alergi obat berbeda dengan eritroderma pada umumnya
yang biasanya disertai eritem dan skuama.

Pada penderita alergi obat terlihat adanya eritema

tanpa skuama, skuama justru baru akan timbul pada stadium penyembuhan.

h. Erupsi pustuler
Ada jenis erupsi, pertama erupsi akneiformis dan kedua Pustulosis Eksantematosa
Generalisata Akut (PEGA).
1. Erupsi Akneiformis dihubungkan dengan penggunaan obat seperti iodida,
bromida, ACTH, glukokortikoid, isoniazid, androgen, litium dan actinomisin.
Erupsi timbul pada daerah-daerah yang atipikal seperti lengan dan kaki berbentuk
monomorf berbentuk akne tanpa disertai komedo.

2. Penyakit Pustulosis Eksantema Generalisata Akut (PEGA) memberikan gambaran


pustul miliar non folikular yang eritematosa disertai purpura dan lesi menyerupai
lesi target. Kelainan kulit timbul bila seseorang mengalami demam tinggi
0
(>38 C). Pustul tersebut cepat menghilang dalam jangka waktu kurang dari 7 hari
kemudian diikuti oleh deskuamasi kulit. Pada pemeriksaan histopatologis didapat
pustul intraepidermal atau subcorneal yang dapat disertai edema dermis,
vaskulitis, infiltrat polimorfonuklear perivaskuler dengan eosinofil atau nekrosis
fokal sel-sel keratinosit. Walaupun demikian, penyakit ini sangat jarang terjadi.

i. Erupsi bulosa
Erupsi bulosa ini ditemukan pada; pemphigus foliaceus, fixed drug eruption (FDE),
erythema multiforme major (EM-major), SSJ dan TEN

19

i. Pemphigus. Obat yang dapat menyebabkannya adalah golongan penisilin


dan golongan thiol. Drug-induced bullous pemphigoid dapat terlihat dalam
beberapa bentuk. Dimulai dari urtikaria hingga terbentuk bulla yang luas
dengan melibatkan kavitas mukosa mulut, dapat juga berupa beberapa
bulla dalam ukuran sedang atau berupa plak dan nodul yang disertai skar
dan bulla. Gangguan ini dapat muncul kembali pada 35-50 persen kasus
sebagai pemphigus foliaceus.

4,7

ii. Fixed Drug Eruption (FDE). Lesi baru akan timbul satu minggu sampai
dua minggu setelah paparan pertama kali dan akan diikuti timbul lesi
berikutnya dalam jangka waktu 24 jam. FDE ini akan terlihat sebagai
makula yang soliter, eritematosa dan berwarna merah terang dan dapat
berakhir menjadi suatu plak edematosa. Lesi biasanya akan muncul di
daerah bibir, wajah, tangan, kaki dan genitalia. Apabila penderita
memakan obat yang sama, maka FDE akan muncul kembali ditempat yang
sama. Histologisnya, FDE serupa dengan erythema multiformis yang
ditandai dengan adanya limfosit di dermal-epidermal junction dan
perubahan degeneratif dari epitel yang disertai diskeratosis. FDE kronis
memberikan gambaran acanthosis, hiperkeratosis, dan hipergranulosis dan
dapat ditemukan eosinofil dan neutrofil. Terdapat peningkatan jumlah sel T
helper dan sel T supresor pada tempat lesi.

2,4,8

Gambar 2.3. Makula erimatosa yang berbatas tegas di daerah lengan pada penderita
FDE

20

Sumber: Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology. Volume
One. 2nd edition. Elserve limited, Philadelphia. United States of America. 2003. p:
333-352
iii. Eritema multiformis merupakan erupsi mendadak dan rekuren pada kulit
dan/atau selaput lendir dengan tanda khas berupa lesi iris (target lesion).

Gambar 2.4. Eritema Multiformis

Sumber: Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Erupsi Alergi Obat.


In: Kapita Selekta Kedokteran. Volume 2. 3rd edition. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Media Aesculapius. Jakarta. 2002. p:133-139
iv. Sindrom Stevens-Johnson (ektodermosis erosiva pluriorifisialis, sindrom
mukokutaneaokular, eritema multiformis tipe Hebra, eritema multiforme
mayor, eritema bulosa maligna) adalah sindrom kelainan kulit berupa
eritema, vesikel/bula, dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput

21

lendir orifisium, dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari baik
sampai buruk.

4,9

v. Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) adalah penyakit kulit akut dan berat
dengan gejala khas berupa epidermolisis yang menyeluruh, disertai
kelainan pada selaput lendir di orifisium genitalia eksterna dan mata.
Kelainan pada kulit dimulai dengan eritema generalisata kemudian timbul
banyak vesikel dan disertai purpura di wajah, ekstremitas, dan badan.
Kelainan pada kulit dapat disertai kelainan pada bibir dan selaput lendir
mulut berupa erosi dan ekskoriasi. Lesi kulit dimulai dengan makula dan
papul eritematosa kecil (morbiliformis) disertai bula lunak (flaccid) yang
dengan cepat meluas dan bergabung. Pada NET yang penting ialah
terjadinya epidermolisis, yaitu epidermis terlepas dari dasarnya dengan
9
gambaran klinisnya menyerupai luka bakar. Adanya epidermolisis
menyebabkan tanda Nikolsky positif pada kulit yang eritematosa, yaitu
jika kulit ditekan dan digeser maka kulit akan terkelupas. Epidermolisis
mudah dilihat pada tempat yang sering terkena tekanan, yakni punggung,
aksila, dan bokong. Pada sebagian pasien kelainan kulit hanya berupa
epidermolisis dan purpura tanpa disertai erosi, vesikel, dan bula. Pada
NET, kuku dapat terlepas dan dapat terjadi bronkopneumonia. Kadangkadang dapat terjadi perdarahan di traktus gastrointestinal. Umumnya NET
terjadi pada orang dewasa. NET merupakan penyakit berat dan sering
menyebabkan kematian karena gangguan keseimbangan cairan/elektrolit
atau sepsis.

2.3.2. Perjalanan Penyakit


Penggolongan alergi obat dapat didasarkan pada selang waktu timbulnya gejala-gejala
alergik sesudah pemberian obat sebagai berikut:
Tabel 2.3. Pengelompokan erupsi yang timbul berdasarkan waktu

22

Sumber: Purwanto SL. Alergi Obat. In: Cermin Dunia Kedokteran. Volume 6. 1976.
Accessed

on:

June

3,

2007.

Available

from:

www-portalkalbe-files-cdk-files-

07AlergiObat006_pdf-07AlergiObat006.mht
Reaksi alergik yang segera (

immediate), terjadi dalam beberapa menit dan ditandai

dengan urtikaria, hipotensi dan shok. Bila reaksi itu membahayakan jiwa maka disebut syok
anafilaksis. Reaksi yang cepat (accelerated) timbul dari 1 sampai 72 jam sesudah pernberian
obat dan kebanyakan bermanifestasi sebagai urtikaria. Kadang-kadang berupa rash
morbilliform atau edema laring. Reaksi yang lambat (late) timbul lebih dari 3 hari.
Diperkirakan reaksi jenis cepat dan lambat ini ditimbulkan oleh antibodi IgG, tetapi beberapa
reaksi hemolitik dan exanthem dihubungkan dengan antibodi IgM.

4,6

2.3.3. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilaksanakan untuk memastikan penyebab erupsi
obat alergi adalah:

1. Pemeriksaan in vivo
o Uji tempel (patch test)
o Uji tusuk (prick/scratch test)
o Uji provokasi (exposure test)
2. Pemeriksaan in vitro
a. Yang diperantarai antibodi:
o Hemaglutinasi pasif
o Radio immunoassay
23

o Degranulasi basofil
o Tes fiksasi komplemen
b. Yang diperantarai sel:
o Tes transformasi limfosit
o Leucocyte migration inhibition test
Pemilihan pemeriksaan penunjang didasarkan atas mekanisme imunologis yang
mendasari erupsi obat.
Uji tempel (patch test) memberikan hasil yang masih belum dapat dipercaya. Uji
provokasi (exposure test) dengan melakukan pemaparan kembali obat yang dicurigai adalah
yang paling membantu untuk saat ini. Tetapi, risiko dari timbulnya reaksi yang lebih berat
membuat cara ini harus dilakukan dengan cara hati-hati dan harus sesuai dengan etika
maupun alasan mediko legalnya.

1,4

Sejumlah tes yang dilakukan dengan teknik invitro

didesain untuk membantu membedakan apakah reaksi kulit yang terjadi pada individu
tersebut disebabkan karena obat atau bukan. Belum ditemukan uji fisik maupun laboratorium
in-vitro yang cukup reliabel untuk digunakan secara rutin. Derajat sensitifitas maupun
spesifitasnya cara ini masih dalam tahap penelitian. Oleh sebab itu, pemeriksaan ini hanya
sedikit sekali membantu dalam penegakkan diagnosis klinis.

1,3

Biopsi kulit boleh dilakukan pada penderita yang ditakutkan dapat mengalami reaksi
obat yang serius seperti pada penderita yang memiliki gejala awal seperti eritroderma, blister,
purpura dan pustulasi karena kasus SSJ baru akan timbul beberapa setelah penggunaan obat.
Perlu diketahui pula bahwa lebih dari 50% kasus SSJ dan hampir 90% penderita TEN terkait
dengan penggunaan obat.

7,10

2.4 Diagnosis
Dasar diagnosis erupsi obat alergi adalah:

1. Anamnesis yang teliti mengenai:


a. Obat-obatan yang dipakai
b. Kelainan kulit yang timbul akut atau dapat juga beberapa hari sesudah masuknya
obat
c. Rasa gatal yang dapat pula disertai demam yang biasanya subfebris.

24

2. Kelainan kulit yang ditemukan:


a. Distribusi : menyeluruh dan simetris
b. Bentuk kelainan yang timbul
Penegakkan diagnosis harus dimulai dari pendeskripsian yang akurat dari jenis lesi dan
distribusinya serta tanda ataupun gejala lain yang menyertainya. Data mengenai semua jenis
obat yang pernah dimakan pasien, dosisnya, data kronologis mengenai cara pemberian obat
serta jangka waktu antara pemakaian obat dengan onset timbulnya erupsi harus ikut
dikumpulkan. Tetapi ada kalanya hal ini sulit untuk dievaluasi, terutama pada penderita yang
mengkonsumsi obat yang mempunyai waktu paruh yang lama atau mengalami erupsi reaksi
obat yang bersifat persisten.

Tabel 2.4. Rangkuman penilaian yang harus dilakukan


Karakteristik klinis

Tipe lesi primer


Distribusi dan jumlah lesi
Keterlibatan membran mukosa
Tanda dan gejala yang timbul: demam,

Faktor kronologis

pruritus, perbesaran limfonodus


Catat semua obat yang dipakai pasien
dan waktu pertama pemakaiannya
Waktu ketika timbulnya erupsi
Interval waktu saat pemberian obat
dengan munculnya erupsi kulit
Respon terhadap penghentian agen yang
dicurigai menjadi penyebab
Respon

Literatur

saat

dilakukan

kembali
Data
yang

pemaparan

dikumpulkan

oleh

perusahaan obat
Daftar

pemakaian

obat

peringatan
Bibliografi obat
Sumber: Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology. Volume One. 2nd
edition. Elserve limited, Philadelphia. United States of America. 2003. p: 333-352
25

dengan

2.5 Penatalaksanaan
Seperti pada penyakit immunologis lainnya, pengobatan alergi obat adalah dengan
menetralkan atau mengeluarkan obat tersebut dari dalam

tubuh., epinephrine adalah drug of

choice pada reaksi anafilaksis. Untuk alergi obat jenis lainnya, dapat digunakan pengobatan
simptomatik dengan antihistamin dan kortikosteroid. Penghentian obat yang dicurigai
menjadi penyebab harus dihentikan secepat mungkin. Tetapi, pada beberapa kasus
adakalanya pemeriksa dihadapkan dua pilihan antara risiko erupsi obat dengan manfaat dari
obat tersebut.

1,6

2.5.1. Penatalaksanaan Umum


Melindungi kulit. Pemberian obat yang diduga menjadi penyebab erupsi kulit harus
dihentikan segera.

1,4

Menjaga kondisi pasien dengan selalu melakukan pengawasan untuk mendeteksi


kemungkinan timbulnya erupsi yang lebih parah atau relaps setelah berada pada fase
pemulihan.

1,4

Menjaga kondisi fisik pasien termasuk asupan nutrisi dan cairan tubuhnya. Berikan
cairan via infus bila perlu. Pengaturan keseimbangan cairan/elektrolit dan nutrisi
penting karena pasien sukar atau tidak dapat menelan akibat lesi di mulut dan
tenggorok serta kesadaran dapat menurun. Untuk itu dapat diberikan infus, misalnya
1,9
berupa glukosa 5% dan larutan Darrow.
Transfusi darah bila terapi tidak memberi perbaikan dalam 2-3 hari; khususnya pada
kasus yang disertai purpura yang luas. Pada kasus dengan purpura yang luas dapat
pula
ditambahkan vitamin C 500 mg atau 1000 mg intravena sehari dan hemostatik

.9

2.5.2. Penatalaksanaan Khusus


1. Sistemik
a. Kortikosteroid.

Pemberian kortikosteroid sangat penting pada alergi obat

sistemik. Obat kortikosteroid yang sering digunakan adalah prednison.


26

Pada kelainan urtikaria, eritema, dermatitis medikamentosa, purpura,


eritema nodosum, eksantema fikstum, dan PEGA karena erupsi obat alergi.
Dosis standar untuk orang dewasa adalah 3 x 10 mg sampai 4 x 10 mg
sehari. Pengobatan eryhema multiforme major, SSJ dan TEN pertama kali
adalah menghentikan obat yang diduga penyebab dan pemberian terapi
yang bersifat suportif seperti perawatan luka dan perawatan gizi penderita.
Penggunaan glukortikoid untuk pengobatan SSJ dan TEN masih
kontroversial.

Pertama

kali

dilakukan

pemberian

intravenous

immunoglobulin (IVIG) terbukti dapat menurunkan progresifitas penyakit


ini dalam jangka waktu 48 jam. Untuk selanjutnya IVIG diberikan
sebanyak 0.2-0.75 g/kg selama 4 hari pertama.
b. Antihistamin.

2,7

Antihistamin yang bersifat sedatif dapat juga diberikan, jika

terdapat rasa gatal. Kecuali pada urtikaria, efeknya kurang jika


dibandingkan dengan kortikosteroid.

2. Topikal
Pengobatan topikal tergantung pada keadaan kelainan kulit, apakah kering atau
basah. Jika dalam keadaan kering dapat diberikan bedak salisilat 2% ditambah
dengan obat antipruritus seperti mentol -1% untuk mengurangi rasa gatal. Jika
dalam keadaan basah perlu digunakan kompres, misalnya larutan asam salisilat
1%.

2,9

Pada bentuk purpura dan eritema nodosum tidak diperlukan pengobatan topikal.
Pada eksantema fikstum, jika kelainan membasah dapat diberikan krim
kortikosteroid, misalnya hidrokortison 1% sampai 2 %.

2,9

Pada eritroderma dengan kelainan berupa eritema yang menyeluruh dan


mengalami skuamasi dapat diberikan salep lanolin 10% yang dioleskan
sebagian-sebagian.

Terapi topikal untuk lesi di mulut dapat berupa kenalog in orabase. Untuk lesi di
kulit yang erosif dapat diberikan sofratulle atau krim sulfadiazin perak.

27

2.6 Prognosis
Pada dasarnya erupsi kulit karena obat

akan menyembuh bila obat penyebabnya dapat

diketahui dan segera disingkirkan. Akan tetapi pada beberapa bentuk, misalnya eritroderma
dan kelainan berupa sindrom Lyell dan sindrom Steven Johnson, prognosis sangat tergantung
pada luas kulit yang terkena. Prognosis buruk bila kelainan meliputi 50-70% permukaan
kulit.

2,4,9

Tabel 5. Algotritme dalam mendiagnosis dan menatalaksana erupsi alergi obat.

28

Riedl MA, Casillas AM, Adverse Drug Reactions; Types and Treatment Options. In:
American Family Physician. Volume 68, Number 9. 2003. Access on: June 3, 2007. Available
at: www.aafp.org/afp

BAB III
29

KESIMPULAN
1. Erupsi obat alergi atau allergic drug eruption ialah reaksi alergi pada kulit atau daerah
mukokutan yang terjadi sebagai akibat pemberian obat dengan cara sistemik.
2. Belum didapatkan angka kejadian yang tepat dari erupsi alergi obat.
3. Faktor-faktor yang memperbesar risiko timbulnya erupsi obat adalah jenis kelamin,
orang dengan sistem imunitas, usia, dosis obat, infeksi dan keganasan.
4. Ada dua macam mekanisme yang dikenal disini. Pertama adalah mekanisme
imunologis dan kedua adalah mekanisme non imunologis.
5. Mekanisme imunologis sesuai dengan konsep imunologis yang dikemukakan oleh
Commbs dan Gell yaitu; Tipe I (Reaksi anafilaksis), Tipe II (Reaksi Autotoksis), Tipe
III (Reaksi Kompleks Imun), Tipe IV (Reaksi Alergi Seluler Tipe Lambat).
6. Mekanisme Non Imunologis dapat disebabkan pelepasan mediator sel mast secara
langsung, aktivasi langsung dari sistem komplemen, atau pengaruh langsung pada
metabolisme enzim asam arachidonat sel. Penggunaan obat-obatan tertentu yang
secara progresif ditimbun di bawah kulit, dalam jangka waktu yang lama akan
mengakibatkan hiperpigmentasi generalisata diffuse.
7. Morfologi erupsi obat mempunyai kemiripan dengan gangguan kulit lain pada
umumnya, gangguan itu diantaranya; urtikaria, eritema, dermatitis medikamentosa,
purpura, erupsi eksantematosa, eritroderma, erupsi pustuler, dan erupsi bulosa.
8. Pemeriksaan penunjang erupsi obat ini dapat dilakukan dengan teknik in vivo. Belum
ditemukan uji fisik maupun laboratorium maupun teknik in-vitro yang cukup reliabel
untuk digunakan secara rutin.
9. Penatalaksanaan penyakit ini terdiri dari penatalaksanaan umum dan penatalaksanaan
khusus. Penatalaksanaan umum dilakukan pemberian terapi yang bersifat suportif
sedangkan penatalaksanaan khusus diberikan terapi sesuai gejala yang timbul
terutama pemberian obat golongan kortikosteroid dan antihistamin.
10. Prognosis erupsi alergi obat sangat tergantung pada luas kulit yang terkena.

DAFTAR PUSTAKA
30

1. Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology. Volume One. 2nd
edition. Elserve limited, Philadelphia. United States of America. 2003. p: 333-352
2. Hamzah M. Erupsi Obat Alergik. In: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 3rd edition. Bagian
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2002. p:139-142
3. Andrew J.M, Sun. Cutaneous Drugs Eruption.In: Hong Kong Practitioner. Volume 15.
Department of Dermatology University of Wales College of Medicine. Cardiff CF4 4XN.
U.K..

1993.

Access

on:

June

3,

2007.

Available

at:

http://sunzi1.lib.hku.hk/hkjo/view/23/2301319.pdf

4. Lee A, Thomson J. Drug-induced skin. In: Adverse Drug Reactions, 2


Pharmaceutical

Press.

2006.

Access

on:

June

3,

2007.

nd

Available

ed.
at:

http://drugsafety.adisonline.com/pt/re/drs/pdf
5. Riedl MA, Casillas AM, Adverse Drug Reactions; Types and Treatment Options. In:
American Family Physician. Volume 68, Number 9. 2003. Access on: June 3, 2007.
Available at: www.aafp.org/afp
6. Purwanto SL. Alergi Obat. In: Cermin Dunia Kedokteran. Volume 6. 1976. Accessed on:
June 3, 2007. Available from: www-portalkalbe-files-cdk-files-07AlergiObat006_pdf07AlergiObat006.mht
7. Shear NH, Knowles SR, Sullivan JR, Shapiro L. Cutaneus Reactions to Drugs. In:
Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. 6

th

ed. USA: The Mc Graw Hill

Companies, Inc. 2003. p: 1330-1337


8. Docrat ME. Fixed Drug Eruption.In: Current Allergy & Clinical Immunology. No.1.
Volume 18. Wale Street Chambers. Cape Town. 2005. Access on : June 3, 2007. Available
at: www.allergysa.org/journals/2005/march/skin_focus.pdf

31

9. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Erupsi Alergi Obat. In: Kapita
Selekta Kedokteran. Volume 2. 3rd edition. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Media Aesculapius. Jakarta. 2002. p:133-139
10. Adithan C. Stevens-Johnson Syndrome. In: Drug Alert. Volume 2. Issue 1. Departement of
Pharmacology. JIPMER. India. 2006. Access on: June 3, 2007. Available at:
www.jipmer.edu

32