Anda di halaman 1dari 8

UU No.

12/1967 dan Kriteria Keanggotaan


Koperasi pada dasarnya merupakan sebuah sistem nilai (Hatta, 1954,
hal. 190 dan Book, 1994, hal. 33). Sebagai sebuah sistem nilai, koperasi
sebenarnya

tidak

hanya

ingin

menampilkan

perbedaan

bentuknya

dibandingkan bentuk-bentuk perusahaan yang lain. Koperasi sesungguhnya


ingin menegakkan seperangkat nilai tertentu dalam bidang perekonomian.
Sistem nilai koperasi dapat dikenali melalui apa yang disebut sebagai
sendi dasar atau prinsip-prinsip koperasi. Sebagaimana antara lain dapat
ditemukan dalam pasal 5 UU Koperasi No. 25/1992, prinsip koperasi
Indonesia secara keseluruhan meliputi lima hal sebagai berikut: (a)
keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka; (b) pengelolaan dilakukan secara
demokratis; (c) pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding
dengan jasa usaha masing-masing anggota; (d) pemberian balas jasa yang
terbatas terhadap modal; dan (e) kemandirian.
Prinsip keanggotaan yang bersifat terbuka ini menempati kedudukan
yang sangat terhormat dalam sistem nilai koperasi. Tapi dalam UU Koperasi
No. 12/1967 yang disusun sebagai pengganti UU Koperasi No. 14/1965,
prinsip

keanggotaan

koperasi

yang

bersifat

terbuka

itu

cenderung

dimanipulasi. Hal itu antara lain dilakukan dengan mengubah kriteria


keanggotaan koperasi, yaitu dari yang mempunyai kepentingan dalam
lapangan usaha yang dilakukan koperasi (pasal 18 UU No. 14/1958), menjadi
berdasarkan kesamaan kepentingan dalam usaha koperasi (pasal 11 UU No.
12/1967).
Dengan berubahnya kriteria keanggotaan koperasi maka corak
koperasi yang berkembang di Indonesia turut berubah. Sebagaimana yang
telah disinggung di muka, jenis koperasi yang banyak berkembang di
Indonesia sebelum tahun 1967 adalah koperasi kredit dan koperasi produksi.
Tapi setelah tahun 1967, terutama setelah dikeluarkannya Inpres No. 4/1973
tentang BUUD/KUD, perkembangan koperasi di Indonesia cenderung terbagi
dua golongan: Koperasi Unit Desa (KUD) dam koperasi-koperasi non-KUD.
Yang menarik, selain KUD yang secara resmi didorong
perkembangannya oleh pemerintah, jenis koperasi yang sangat pesat
perkembangannya setelah tahun 1967 adalah koperasi golongan fungsional.
Dengan sangat pesatnya perkembangan koperasi golongan fungsional, maka
sifat keanggotaan koperasi cenderung menjadi sangat terbatas. Sebagaimana

yang dikemukakan tadi, keanggotaan koperasi dalam koperasi golongan


fungsional hanya terbuka bagi mereka yang memiliki profesi sejenis. Bahkan,
karena di belakan nama tiap-tiap koperasi golongan fungsional tercantum
nama suatu instansi tertentu, keanggotaan koperasi jenis ini hanya berlaku
bagi mereka yang bekerja pada instansi tersebut.
Pergeseran corak dan pembatasan

anggota

koperasi

yang

dilatarbelakangi oleh terjadinya perubahan kriteria keanggotaan itu, tentu tidak


dilakukan tanpa alasan. Menurut pasal 17 UU No. 12/1967, alasannya adalah
untuk tujuan efisiensi. Namun demikian, dengan menulusuri hakikat dan
sejarah perkembangan koperasi, serta arah perkembangan ekonomi-politik
Orde Baru, alasan tersebut tentu tidak cukup memuaskan. Alasan yang lebih
mendasar tampaknya justru bersumber pada karateristik koperasi sendiri.
Sesuai dengan nilai-nilai yang diembannya, koperasi pada dasarnya
adalah perkumpulan orang, bukan perkumpulan modal (Book, 1994, hal. 50).
Bahkan, sebagaimana dikemukakan pada pasal 1 UU No. 25/1992, koperasi
juga diakui sebagai gerakan ekonomi rakyat. Dengan karateristik seperti itu,
koperasi memiliki dimensi yang sangat berbeda dengan perusahaan lain.
Koperasi memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang dan atau
dikembangkan menjadi kekuatan politik (Soedjono dalam Hendrojogi, 1985
dan Baswir, 1993, Hal. 105).
Sebab itu tidak mengherankan bila koperasi hampir selalu menjadi
ajang rebutan partai-partai politik yang ada. Pada tahun 1950-an misalnya,
gerakan koperasi cenderung sangat dekat dengan Partai Nasional Indonesi
(PNI). Hal itu antara lain tampak pada kegigihan PNI dalam memperjuangkan
UU No.79/1958 tentang perkumpulan koperasi (Kamaralsyah dkk., 1987, hal.
18). Sedangkan dalam periode 1960-1965, yang dikenal sebagai era demokrasi
terpimpin, perkembangan koperasi cenderung sangat dipengaruhi oleh Partai
Komunis Indonesia (PKI). Hal itu tidak hanya tampak pada diterbitkannya UU
No. 14/1965, tapi juga pada terjadinya peningkatan jumlah koperasi secara
besar-besaran (Kamaral syah dkk., ibid., hal. 31).

Intervensi Pemerintah ke dalam Organisasi Gerakan Koperasi

Berdasarkan kenyataan itu, dapat disaksikan betapa cukup besarnya


peranan campur tangan pemerintahdalam mempengaruhi perkembangan
koperasi di Indonesia. Namun demikian, tentu terlalu naif bila peranan
pemerintah itu hanya dipahami dalam bentuk terjadinya pergantian undangundang atau diterbitkannya peraturan baru perkoperasian. Artinya, bila
dikaitkan dengan fenomena pergeseran corak koperasi tadi, alasan bahwa hal
itu semata-mata terjadi karena berubahnya kriteria keanggotaan koperasi,
rasanya terlalu menyederhanakan masalah.
Keterlibatan faktor-faktor politik dalam perkembangan koperasi di
Indonesia pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam dua cara. Cara
pertama adalah dengan melakukan intervensi tidak langsung. Melalui cara ini,
sepak terjang gerakan koperasi dicoba untuk dipengaruhi pemerintah dengan
mengganti undang-undang atau peraturan perkoperasian. Dalam era demokrasi
terpimpin hal itu antara lain dilakukan oleh pemerintahan Soekarno dengan
mengganti PP No. 60/1959 dengan UU No. 14/ 1965.
Sedangkan cara kedua adalah dengan melakukan intervensi langsung.
Melalui cara ini, baik pemerintah maupun pihak-pihak lain yang
berkepentingan terhadap perkembangan koperasi, berusaha mengendalikan
sepak terjang gerkan koperasi dengan dengan memasuki dan menguasai
berbagai organisasi gerakan koperasi nasional.
Bahkan, sesuai dengan hasil kesepakatan Musyawarah Nasional
Koperasi (Munaskop) II yang berlangsung pada bulan agustus 1965, yaitu
bahwa gerakan koperasi adalah bagian dari gerakan rakyat revolusioner yang
berporoskan Nasakom, Pemimpin Tertinggi Gerakan Koperasi ketika itu
dipangku oleh Ir. Soekarno

selaku bapak koperasi Indonesia. Sedangkan

jabatan Ketua KOKSI dipangku oleh Menteri Transmigrasi, Koperasi, dan


Pembangunan

Masyarakat

Desa

(Mentranskopemada)

M.

Achadi

(Kamaralsyah, op.cit., hal. 28 dan 66).


Pada awal tahun 1966, jabatan Deputi Menteri Perdagangan Urusan
Koperasi dipangku oleh Letjen TNI Achmad Tirtosudiro. Posisi itu
dilanjutkan oleh Ir. Ibnoe Sudjono, yang kemudian juga bertindak selaku
Ketua Panitia Penyusunan UU No. 12/1967. Sedangkan jabatan Menteri
Transmigrasi dan Koperasi dalam Kabinet Pembangunan I (1969-1973),
dipegang oleh Letjen TNI Sarbini (Kamarlsyah, ibid., hal. 36 dan 61)

Metode yang ditempuh oleh pemerintah Orde Baru dalam menguasai


berbagai organisasi gerakan koperasi nasional itu antara lain dapat ditelusuri
dengan mencermati berdirinya koperasi-koperasi golongan fungsional dalam
lingkungan Angkatan Bersenjata. Pada setiap angkatan misalnya, dibentuk
satu induk koperasi. Sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam penjelasan
Pasal 17 UU No.12/1967, yaitu bahwa koperasi angkatan bersenjata adalah
wadah kegiatan kekaryaan anggota Angkatan, hal itu memang dimungkinkan
(lihat pula Djohan, 1986, hal. 155)..
Tapi karena dalam lingkungan profesi yang lain pada umumnya hanya
terdapat satu induk koperasi, hal tersebut tentu mengundang tanda tanya.
Selain itu, dilihat dari segi koperasi primernya, jumlah koperasi primer dalam
lingkungan ABRI tergolong tidak banyak. Karena pada masing-masing
angkatan dan kepolisian dibentuk satu induk koperasi, ditambah dengan satu
induk koperasi khusus bagi Markas Besar ABRI, maka dalam lingkungan
ABRI secara otomatis terdapat lima induk koperasi.
Dengan dimiliknya beberapa induk koperasi oleh KBA, maka peranan
KBA dalam menentukan komposisi kepengurusan organisasi gerakan koperasi
nasional, baik dalam kaitanya dengan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin),
Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), Bank Koperasi Indonesia (Bukopin),
Koperasi Jasa Audit Nasional (KJAN), maupun Koperasi Asuransi Indonesia
(KAI), cenderung menjadi sangat dominan.
Tabel 21.1.
Jumlah Koperasi Primer, Pusat, Gabungan, dan Induk
Dalam Lingkungan Pegawai Negeri Sipil dan ABRI, 1977/1978
Koperasi
Primer
Pusat
Pegawai Negeri
4.375
199
Angkatan Darat
894
Angkatan Laut
98
Angkatan Udara
120
Kepolisian
430
Jumlah
5.917
199
Sumber: Soedjono dalam Hendrojogi, 1985, hal. 35

Gabungan
25
18
8
20
19
90

Induk
1
1
1
1
1
5

Jumlah
4.600
913
107
141
450
6.211

Dalam kepengurusan Gerakan Koperasi Indonesia (Gerkopin) periode


1966-1969 misalnya, jabatan Ketua dipangku oleh Brigjen TNI KHMS
Rahardjodikromo (Inkoppad). Sedangkan jabatan Sekjen dipangku oleh
Brigjenpol Taslan Karnadi SH (Inkoppol). Dari 12 posisi kepengurusan yang
ada, lima di antaranya diduduki oleh anggota KBA. Hal yang sama berlanjut
dalam kepengurusan Dekopin masa-masa berikutnya. Gambaran selengkapnya

mengenai tingkat keterlibatan anggota ABRI dan KBA dalam kepengurusan


organisasi gerakan koperasi nasional dapat dilihat pada Tabel 21.2.
Tabel 21.2.
Peranan Anggota ABRI dan KBA dalam Kepengurusan
Organisasi Gerakan Koperasi Nasional
Organisai
GERKOPIN

Periode
1966 1969

Kursi
5

Posisi Kunci yang Diduduki Anggota KBA


Ketua Umum dan Sekjen

DKI

1970 1973

Ketua Umum, Ketua II, Sekjen, Komis, Umum

DKI

1974 1977

Ketua I, Sekjen, Komisaris Umum

DEKOPIN

1977 - 1980

Ketua Umum, Ketua II, Ketua V, Ketua BP

DEKOPIN

1980 - 1983

Ketua I, Ketua IV, Sekjen, Ketua BP

DEKOPIN

1983 - 1988

Ketua I, Ketua III, Ketua V, Sekjen, Ketua BP

IKOPIN

1982 - 1983

Ketua Rektorium

KAI

1983 - 1988

WK. Ketua I, Sekretaris I dan II, Ketua BP

KJAN

1984 - 1989

Ketua Umum, Ketua I, Bendahara I, Ketua BP

BUKOPIN

1985 - 1989

Ketua II, Sekretaris, Ketua BP

DEKOPIN

1988 - 1993

13

Ketua I, Ketua IV, Ketua XI, Sekjen, Ketua BP

DEKOPIN

1993 - 1997

11

Ketua I, Ketua XI, Ketua XV, Sekjen, Ketua BP

DEKOPIN

1997 - 1998

Ketua Umum, Ketua II, Penasihat

Keterbelakangan Koperasi
Berdasarkan data Tabel 21.2 dapat disaksikan cukup besarnya tingkat
keterlibatan pemerintah yang antara lain diwakili oleh para anggota ABRI
dan KBA, dalam mempengaruhi arah perkembangan koperasi di Indonesia.
Hal itu tidak hanya membuktikan dilakukannya bentuk-bentuk intervensi
langsung dan tidak langsung dalam mengubah corak dan mengendalikan arah
perkembangan koperasi, tapi juga membuktikan cukup strategisnya posisi
koperasi dalam tatanan ekonomi-politik Orde Baru.
Setelah mengalami raasionalisasi secara besar-besaran pada tahun
1967, perkembangan koperasi dalam era Orde Baru sebenarnya tergolong
cukup pesat. Perkembangan yang cukup cepat itu tidak hanya tampak pada
perkembangan kelembangaan koperasi, tapi juga pada perkembangan
usahanya. Seiring dengan perkembangan kelembangaan koperasi tersebut,
usaha koperasi juga turut meningkat.

Walaupun demikian, dibandingkan dengan pelaku-pelaku ekonomi


yang lain BUMN dan konglomerat, posisi koperasi ternyata masih sangat
terbelakang. Niai aset koperasi pada tahun 1993 hanya berjumlah sebesar Rp.
4 triliun. Jumlah itu kurang dari 1 persen nilsi aset di berbagai sektor usaha di
Indonesia. Nilai aset terbesar dimiliki oleh BUMN dengan jumlah Rp. 269
triliun. Disusul oleh konglomerat dengan jumlah Rp. 227 triliun. Sedangkan
dalam nilai usaha keadaanya sedikit berbeda. Konglomerat berada di urutan
pertama dengan nilai usaha Rp. 80 triliun. Sedangkan koperasi, dengan nilai
usaha sebesar Rp. 9,5 triliun, kembali berada di urutan ketiga (Baswir, 1997).
Tabel 21.3.
Nilai Aset dan Nilai Usaha BUMN, Konglomerat, dan Koperasi
Tahun 1993 (dalam triliun rupiah)
Nilai Aset
%
Nilai Usaha
BUMN
Rp. 269,0
53,8
Rp. 80,0
Konglomerat*)
Rp. 227,0
45,4
Rp. 144,0
Koperasi
Rp. 4,0
0,8
Rp. 9,5
Jumlah
Rp. 500,0
100,0
Rp. 233,5
Sumber : Diolah dari berbagai sumber oleh Revrisond Baswir.

%
34,3
61,7
4,0
100,0

Catatan : (*) Tidak termasuk usaha swasta nonkonglomerat dan usaha perseorangan lainnya.

Memperhatikan

daftar-daftar

tersebut,

tampak

betapa

sangat

terbelakangnya posisi koperasi dibandingkan pelaku-pelaku usaha yang lain.


Selaiin disebabkan oleh keterbatasan internal koperasi, hal itu tentu tidak dapat
dipisahkan dari adanya kendala-kendala ekonomi-politik yang cenderung
menghambat perkembangan koperasi.
Namun demikian, dilihat dari sudut intervensi yang melanda gerakan
koperasi tadi, kondisi keterbelalangan koperasi itu sebenarnya mudah
dipahami. Dengan diubahnya kriteria keanggotaan dan penjenisan koperasi
berdasarkan kesamaan aktivitas/kepentingan ekonomi para anggotanya, maka
keberadaan koperasi secara tidak langsung cenderung diposisikan hanya
sebagai sebuah usaha sampingan. Bahkan, dengan lebih ditekankannya
pengembangan koperasi dalam lingkungan masyarakat pedesaan dan golongan
fungsional

(yang

secara

politik

bersifat

mengambang-terkendali),

pembangunan koperasi tampaknya memang telah dengan sengaja diarahkan


semata-mata sebagai usaha sampingan bagi warga masyarakat yang memiliki
keterampilan, modal, dan daya tawar politik terbatas.

Sebaliknya, dilihat dari sudut kepentingan strategi pembangunan


ekonomi-politik pemerintah, keterbelakangan koperasi itu rasanya lebih tepat
bila dipahami sebagai sebuah conditio sine qua non. Artinya, dengan
mengendalikan organisasi gerakan koperasi, pemerintah tidak hanya berhasil
mengarahkan orientasi ekonomi-politik koperasi, tapi sekaligusberhasil
mengintegrasikan gerakan koperasi sebagai bagian dari struktur kekuasaan.
Hal yang terakhir ini jelas sangat diperlukan oleh pemerintah, baik untuk
menjamin penyelenggaraan stabilitas nasional maupun untuk menjamin
kesinambungan strataegi pembangunan yang sedang dilaksanakannya. Pendek
kata, dengan cara itulah antara lain Orde Baru melestarikan kekuasaannya
selama lebih dari 30 tahun.
Implikasi Kebijakan
Berdasarkan uraian panjang lebar di muka dapat disaksikan betapa
sangat besarnya pengaruh faktor-faktor politik terhadap perikehidupan bangsa
Indonesia. Peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto ternyata tidak
hanya telah menyebabkan terjadinya pergeseran corakdan orientasi sosialpolitik Indonesia, tapi juga telah menyebabkan terjadinya pergeseran corak
dan orientasi perekonomian Indonesia secara cukup mendasar. Bahkan,
walaupun jarang mendapat perhatian, peristiwa itu juga telah menyebabkan
berubahnya cprak dan orientasi koperasi Indonesia.
Sejalan dengan perubahan tatanan sosial dan politik yang berlangsung
secara nasional, jabatan-jabatan teras dalam lingkungan Departemen Koperasi
cenderyn dipangku oleh para anggota ABRI dan KBA sebagai pimpinan
organisasi gerakan koperasi nasional juga tampak menonjol.
Dengan latar belakang seperti itu, keterbelakangan

koperasi

dibandingkan pelaku-pelaku usaha yang lain sebenarnya hanyalah sebuah


konsekuensi logis dari strategi pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah
Orde Baru. Sebab itu, guna meningkatkan perkembangan koperasi di masa
depan, upaya pembenahan yang hanya dibatasidalam lingkungan internal
koperasi tidak akan banyak artinya. Demikian pula hanlnya dengan tindakan
penyediaan fasilitas permodalan atau berbagai kemudahan lainnya bagi
koperasi. Tindakan-tindakan itu, selain akan semakin memperburuk tingkat
ketergantungan koperasi terhadap pemerintahan, juga akan menyebabkan
semakin merajalelanya praktik korupsi dan kolusi dalam tubuh koperasi.

Agar koperasi dapat berkembang secara kreatif dan kompetitif,


berbagai bentuk intervensi yang selama ini cenderung membelenggu
perkembangan koperasi perlu segera diakhiri. Penyusunan UU dan peraturan
perkoperasian misalnya, harus diusahakan secara maksimal agar tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip koperasiyang berlaku secara universal.
Sedangkan keberadaan Departemen Koperasi harus dibatasi sedemikian rupa
sehingga tidak bersifat menghalang-halangi dan membunuh kebebasan
berkoperasi. Tanpa itu, berlanjutnya pengkoperasian gerakan koperasi untuk
kepentingan golongan politik yang sedang berkuasa sulit dihindari.