Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH MATA KULIAH TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH

PRODUKSI BENIH TANAMAN GANDUM

DISUSUN OLEH:
NAMA : AFFRITA YOVINDA
NIM : 145040201111189
KELAS : P

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

I. PENDAHULUAN
Gandum merupakan bahan utama dalam pembuatan mie dan roti. Namun
sampai saat ini pemerintah masih mengimpor semua kebutuhan gandum di
Indonesia. Padahal banyak wilayah di Indonesia yang memenuhi syarat untuk
budidaya gandum. Sehingga perlu di budayakan menanam gandum di Indonesia
supaya Impor gandum bisa terkurangi. Prioritas pembangunan pertanian bagi
negara-negara di Asia Tenggara ( termasuk Indonesia ) adalah ketahanan pangan
(gizi) bagi populasi masyarakat yang terus meningkat. Serealia merupakan bahan
makanan utama yang sangat penting. Oleh karena itu gandum merupakan tanaman
yang kurang mendapat perhatian/dibudidayakan di Asia Tenggara. Di indonesia
sendiri gandum hanya di jumpai di daerah dataran tinggi, dan itupun sangat
terbatas penyebarannya. Di Indonesia, gandum sudah mulai di introduksi sejak
tahun 1784 di dataran tinggi di pulau jawa (Budiarti, 1989,- van Ginkel dan
Villareal, 1996) Pada tahun 1993 impor gandum dan tepung terigu di Indonesia
mencpai 2,6 juta ton (FAO, 1994) Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara
pengimpor gandum terbesar di Asia tenggara dan pada tahun 2011-2012 produksi
gandum menigkat 9% dari 5,5 juta ton naik menjadi 6 juta ton (APTINDO, 2012)

II. ISI
2.1 Produksi Gandum
Gandum di tanam dari benih, sehingga di perlukan benih yang baik,
bebas dari hama dan penyakit tanaman. Jarak tanam yang baik untuk pertanaman
gandum adalah 10 x 30 cm. Penanaman dapat dilakukan secara manual mapun
mesin penanaman . Irigasi yang baik sangat potensial untuk meningkatkan
produksi gandum, tetapi harus di jaga agar tidak terlalu banyak air. Cukup dengan
menggenangi jalur pada peletakan atau dengan menggunakan irigasi tetes
(sprinklers), kebutuhan air bagi pertanaman dapat terpenuhi. Jumlah benih yang
dapat digunakan adalah 10-15 kg/ha untuk 25-30 tanaman/m2.
Roguing merupakan tindakan untuk mengeliminasi tanaman-tanaman yang
tidak di inginkan dari lahan penanaman tersebut, karena tidak memenuhi standar
dari varietas yang di tanam yang bertujuan untuk menghindari pencampuran
secara genetik. Rouging sebaiknya di lakukan sebelum terjadinya ppolinasi. Bila
tanaman di eliminasi, dalam hal ini (kelas penjenis), telah masuk fase
pembungaan maka seluruh tanaman di bari tersebut akan dieliminasi juga.
Eliminasi tanaman off-type, harus seluruh tanaman termasuk akar-akarnya.
Tnaman yang telah dieliminasi, sebaiknnya langsung di buang dan tidak di
tinggal dilapang. Bila rouging telah selesai dilakukan, maka semua tanaman di
lapangan tersebut harus memiliki diskripsi/karakteristik dari varietas yang
ditanam.
2.1.1 Kebutuhan Benih
Benih yang digunakan hendaknya benih bermutu, hal ini sangat penting
disamping untuk menghasilkan produksi yang tinggi juga tahan terhadap hama
dan penyakit yang menyerang. Kebutuhan benih per hektar 100 kg atau sama
dengan 1 kg/100 m dengan sistim larikan jika ditanam dengan sistim tugal
kebutuhan benih bisa kurang dari 100 kg/ha.

2.1.2 Waktu Penanaman


Waktu tanam yang tepat adalah pada awal musim kemarau dan di akhir
musim penghujan, pada sebagian besar daerah di Pulau Jawa biasanya berada di
antara bulan April Mei, dimana di perkirakan curah hujan tidak terlalu tinggi.
Namun demikian, ada beberapa daerah yang waktu tanamnya tidak pada
bulanbulan tersebut. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut mempunyai musim
kemarau dan penghujan yang berbeda.
2.2 Panen
Gandum yang siap panen apabila tanaman telah berumur 90 untuk
dataran rendah, berumur 107 hari untuk dataran menengah, dan 112 hari untuk
untuk dataran tinggi. Atau dengan kondisi 80% dari rumpun telah bermalai,
jerami, batang dan daun mengering serta menguning. Jika 20% dari bagian malai
telah matang penuh, dimana butir gandum telah cukup keras jika dipijit dengan
tangan, maka sudah waktunya dipanen. Panen sebaiknya dilakukan pada keadaan
cuaca cerah, karena akan sangat membantu dalam perontokan biji. (panen
menggunakan sabit bergerigi), segera dirontokan (dipisahkan dari malai)
menggunakan thresher, kemudian dikeringkan. Apabila bila menggunakan
thresher, maka setelah dipanen, biji yang masih bersatu dengan malai, dijemur
kemudian dirontokan dengan cara diinjak-injak dengan kaki, setelah itu biji
dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari. Namun hal ini beresiko
menambah kemungkinan kerusakan benih yang nantinya akan menyebabkan
pertumbuhan benih ketika ditanam akan terhambat.
Kadar air benih merupakan sesuatu yang penting dalam pemanenan
gandum sampai penggilingan. Secara fisiologis benih yang telah cukup dewasa
akan memiliki kadar air 35-45% . Jika kadar air benih yang dihasilkan lebih dari
14%, benih bisa disimpan dalam jangka waktu 2-3 bulan, jika benih akan
disimpan dalam periode 4-12 bulan maka kadar air benih harus dikurangi hingga
kurang dari 14%. Temperatur pengeringan dapat mencapai angka 140 oC denggan
waktu 100 menit hingga 6 jam.

2.3 Pembersihan
Setelah dilakukan perontokkan, benih yang belum masak, pasir, batu dan
bahan asing lainnya harus dipisahkan dari bulir gandum. Pembersihan ini
dilakukan untuk menjaga kondisi fisik benih dan mencegah kemungkinan adanya
penyakit yang dibawa oleh materi asing yang tercampur dalam benih.
Penyeleksian benih yang dilakukan dapat berdasarkan beberapa kriteria seperti
berat jenis benih, ketebalan, panjang, lebar dan bentuk dari benih itu sendiri. Alat
pembersihan yang dipakai juga perlu diperhatikan kebersihannya, karena alat
pembersih dan metode pembersihan yang tepat dapat mendorong kemurnian dan
daya kecambah benih. Alat yang sering digunakan untuk melakukan pembersihan
adalah Air Screen Cleaner, yang berfungsi untuk memisahkan benih dari benda
asing yang tidak dinginkan berdasarkan berat dan ukurannya, benda yang tidak
diinginkan ini bisa berupa gulma maupun benih yang tidak seusai dengan kriteria.
2.4 Perlakuan Benih
Perlakuan benih secara kimiawi sekarang menjadi salah satu cara yang
efisien dan ekonomis dan bsia digunakan untuk mengintrol baik infeksi benih
eksternal maupun internal. Perlakuan ini melindungi benih atau tanaman dewasa
dari serangan penyakit yang terdapat dalam benih, yang terdapat dalam tanah
maupun yang berada di udara. Perlakuan kimiawi ini juga dapat meningkatkan
daya kecambah benih, mengatur dan meningkatkan kualitas benih dan pada
akhirnya dapat mengurangi kerugian. Pemilihan substansi kimiawi tergantung
daripada organisme sasaran pengendalian. Perlakuan kimiawi ini bisa mencegah
berkembangnya hama, penyakit, jamur dan nematoda yang mungkin menyerang
benih dan menyebabkan kerugian.
2.3 Penyimpanan
Setelah dipanen, benih disimpan, ada 2 jenis ruang untuk penyimpanan malai
dan benih gandum. Benih ditempatkan terpisah di gudang dengan suhu 20oC dan
kelembapan relatif dari 60%, atau benih juga dapat disimpan diruangan dingin
yang bersuhu 50C dan kelembapan relatif lama(kira-kira 2 tahun dan dalam
jumlah yang relatif sedikit)

Sementara benih atau malai tersebut di simpan, sampel yang telah di ambil
(tidak mengganggu kualitas benih/malai)
Syarat-syarat gudang penyimpanan adalah :
1. Tidak bocor
2. Lantai harus padat (terbuat dari semen atau beton)
3. mempunyai ventilasi yang cukup, sehingga udara didalam gudang tidak lembab
4. Bebas dari gangguan hama penyakit (ruangan bersih, lubang ventilasi tertutup
kawat kasa
Penumpukan barang simpanan hendaknya diatur agar penghitugan tumpukan
mudah, tidak roboh dan jalan keluar masuk barang lebih mudah

2.5 Pemasaran
Setengah hingga gandum yang diproduksi di negara-negara berkembang
tidak sampai pasaran. Hasilnya biasanya dikonsumsi sendiri oleh penanam
gandum tersebut. Baru kemudian sisanya inilah yang masuk ke jalur pemasaran
dan disimpan selama beberapa bulan hingga setahu, diikuti dengan penggilingan
hingga menjadi tepung kemudian di distribusikan ke pabrik roti
Kendala pemasaran benih gandum di Indonesia adalah jumlah panennya
yang masih sangat sedikit sehingga setelah panen maka hasil panen tersebut akan
bingung dipasarkan kemana karena jika hasil panennya hanya satu ton maka
perusahaan besar pengembang roti tidak berkenan membeli karena membutuhkan
jumlah yang jauh lebih banyak. Maka dari itu untuk ranah produksi roti masih
menggunakan gandum hasil impor yang hasilnya tidak sedikit. Ada beberapa
daerah di Indonesia yangs ebetulnya berpotensi untuk menjadi daerah penghasil
Gandum seperti contohnya: NTT, Papua (Merauke), Sulawesi Selatan dan daerah
Sulawesi Utara.

DAFTAR PUSTAKA
Cook, R.J and R.J. Veseth, 1991. Wheat Health Management. APS Press,
Minnesota, USA.
Food Agriculture Organization. 1994. Trade Yearbook 1993. p 27 In Grubben, G.
J. H. And S.Partohadjono (Eds.) Plant Resources of South-East Asia
(PROSEA) No. 10. Cereals. Backhuys publishers. Leiden, Netherland.
Subandi, M. Yusuf, Rudiyanto, Ch. T. Harwati, S.D. Santoso, N. Surnarniyati, E.
Patola, Siswadi, E. Pudjihartarti, D, Murdiono, Y.H. Agus, B.H.
simanjuntak, S. Ruusminto,2001. Selekksi Awal dan Produksi Benih
Gandum (Triticum castivum L) Varietas DWR 162 dari India. Fakultas
Pertanian Universitas Slamet Riyadi Surakarta, dan Universitas Kristen
satya Wacana salatiga.
Stoskoff, C. N. 1985. Cereal Graind Crops. Reston publishing Company,Inc.
Virginia.