Anda di halaman 1dari 4

Jarum infus atau abocath atau kateter intravena, secara umum diberi warna yang berbedabeda dengan alasan

untuk mempermudah petugas mengenali ukuran abbocath yang


diperlukan. Semakin rendah ukuran abochat maka semakin besar jarum abochat.
Macam-macam Ukuran Abocath
Menurut Potter (1999) ukuran jarum infuse yang biasa digunakan adalah :
Ukuran 16G warna abu-abu
Guna : Dewasa, Bedah Mayor, Trauma, Apabila sejumlah besar cairan perlu
diinfuskan
Pertimbangan Perawat : Sakit pada insersi, Butuh vena besar
Ukuran 18G Warna hijau
Guna : Anak dan dewasa, Untuk darah, komponen darah, dan infus kental lainnya
Pertimbangan Perawat : Sakit pada insersi, Butuh vena besar

Ukuran 20G Warna merah muda


Guna : Anak dan dewasa, Sesuai untuk kebanyakan cairan infus, darah, komponen
darah, dan infus kental lainnya
Pertimbangan Perawat : Umum dipakai

Ukuran 22G Warna biru


Guna : Bayi, anak, dan dewasa (terutama usia lanjut), Cocok untuk sebagian besar
cairan infus
Pertimbangan Perawat : Lebih mudah untuk insersi ke vena yang kecil, tipis dan
rapuh, Kecepatan tetesan harus dipertahankan lambat, Sulit insersi melalui kulit yang
keras

Ukuran 24G Warna kuning, 26 Warna putih


Guna : Nenonatus, bayi, anak dewasa (terutama usia lanjut), Sesuai untuk sebagian
besar cairan infus, tetapi kecepatan tetesan lebih lambat
Pertimbangan Perawat : Untuk vena yang sangat kecil, Sulit insersi melalui kulit keras

Selain ukuran di atas, ada jarum infus yang mirip sayap kupu-kupu yang kita sebut sebagai
wing. Jarumnya padat dan sangat halus.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru
Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi

Observasi tanda / reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain

Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukan

Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir

Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum infus perlahan,
periksa ujung kateter terhadap adanya embolus

Bersihkan lokasi penusukan dengan anti septik. Bekas-bekas plester dibersihkan


memakai kapas alkohol atau bensin (jika perlu).

Gunakan alat alat-alat yang steril saat pemasangan, dan gunakan tehnik sterilisasi
dalam pemasangan infus.

Hindarkan memasang infus pada daerah-daerah yang infeksi, vena yang telah rusak,
vena pada daerah fleksi dan vena yang tidak stabil.

Mengatur ketepatan aliran dan regulasi infus adalah tanggung jawab perawat.

Masalah yang dapat muncul apabila perawat tidak memperhatikan regulasi infus adalah
hipervolemia dan hipovolemia. Untuk mengatur tetesan infus, perawat harus mengetahui
volume cairan yang akan dimasukkan dan waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan
cairan infus. Penghitungan cairan yang sering digunakan adalah penghitungan millimeter
perjam (ml/h) dan penghitungan tetes permenit. Perhitungan Tetesan Infus dapat dibagi
menjadi 2 yaitu makro dan mikro.
Berikut sepuluh hal yang sering terlupa ataupun yang menjadi penyebab kita gagal dalam
memasang infus
1. Salah Sudut
Hal penentu masuk dan tidaknya abocath kedalam pembuluh darah vena secara tepat
tergantung dari perawat ketika dalam membuat sudut pemasangan ketika akan
menusuk. Kemiringan jarum abocath tidak boleh terlalu besar, karena akan berimbas
pecahnya pembuluh darah vena karena terjadi ruptur akibat tembusnya abocath pada
bagian bawah vena. Sebaliknya sudut yang terlalu kecil mengakibatkan abocath hanya
akan berjalan-jalan didalam kulit (dibawah permukaan kulit) tanpa mengenai
pembuluh darah, dan tahukah anda, ini berasa sangat sakit sekali. Sebelum
menusukkan abocath, perkirakan bahwa sudut yang kita buat adalah berkisar antara
40 hingga 60 derajat dari permukaan kulit pasien, tusukkanlah dan rasakan ketika
ujung jarum menembus pembuluh darah, kurangi sedikit sudutnya sambil menarik
sedikit jarum ketika darah sudah terlihat keluar dia penampung darah abocath, terus
dorong selang abocath hingga habis, tarik jarum, tekan sedikit pada permukaan kulit
tempat masuknya jarum agar darah tidak mengalir, masukkan selang ifus dan alirkan
cairan.
2. Salah Ukuran Abocath
Pastikan selalu perhatikan ukuran pembuluh darah yang akan ditusuk dan perkirakan
dengan ukuran abocath. Ingat, disini ilmu kirologi perawat sangat dibutuhkan. Ukuran
jarum abocath berhitung terbalik, semakin kecil nomornya, semakin besar ukuran
jarumnya, dan ukuran abocath untuk infus selalu genap. Untuk ukuran pasien
Indonesia, pada orang dewasa lazimnya memakai abocath dengan ukuran 20 G,
sedangkan pada anak-anak dimulai pada ukuran 24 G keatas. Yang perlu dicatat
disini, ukuran jarum mempengaruhi jumlah cairan yang masuk, apabila pada kondisi
pasien syok, maka jumlah cairan yang masuk pun harus dalam jumlah banyak dan
cepat, makanya biasanya untuk pasien-pasien gawat dan memerlukan terapi cairan

3.

4.

5.

6.

7.

8.

yang banyak dan cepat, biasanya menggunakan abocath berukuran 18 G, begitupun


untuk calon pasien operasi biasanya menggunakan abocath dengan ukuran 18 G.
Catatan penting disini, semakin besar ukuran jarum, maka panjang abocath juga
semakin panjang, oleh karena itu perlu disesuaikan dengan pembuluh darah.
Salah Memilih Pembuluh Darah Vena
Kesalahan yang berikutnya adalah kesalahan dalam memilih pembuluh darah vena,
yang harus diingat pemilihan pembuluh darah vena adalah dari ujung ke pangkal, dari
punggung tangan semakin keatas. Pembuluh darah yang dicari pun harus dicari yang
tidak bercabang dan tidak keriting, karena akan mengakibatkan pecahnya pembuluh
darah. Vena yang kita pilih juga tidak boleh yang melewati persendian, karena akan
mengakibatkan infus mudah macet.
Salah Cairan
Memasang infus adalah kerja kolaborasi perawat dengan profesi lain, namun sebagai
perawat kita harus jeli, apakah cairan yang diorder benar-benar sesuai dengan
kebutuhan serta kondisi pasien atau tidak, karena perawat adalah seseorang yang
mendampingi pasien selama 24 jam. Pelajari apa saja yang terkandung dalam cairan
infus tersebut, misalnya pada pasien dengan oedem harus membatasi garam, maka
cairan NaCl harus dipertimbangkan, pada pasien DM penggunaan cairan Dextrose
harus benar-benar diperhatikan, cairan-cairan dengan osmolaritas tinggi perlu dibatasi
kadarnya. Hal terpenting, jangan sampai salah cairan yang masuk ke pasien, karena
itu sangat merugikan dan membahayakan pasien.
Lupa Mengalirkan cairan dalam selang infus
Keteledoran yang lumayan sering terjadi adalah abocath sudah tertusuk tapi cairan
belum siap... ini nih yang sering bikin berabe, dan kesannya tidak profesional. Buatlah
sebuah ritual khusus dalam memasang infus, misal menusuk botol, mengalirkan
cairan dalam selang melihat ada udara atau tidak baru gantungkan diatas tiang infus,
jadikan itu adalah ritual pertama sebelum memasang infus, jadi walaupun pikiran kita
sedang ruwet otak bawah sadar kita pasti akan melakukannya ketika memasang infus.
Lupa memotong Plaster
Ini nih yang gak kalah bikin bete... sudah siap semuanya eh.. plaster belum ada, repot
kan jadinya. Masih nyambung dengan poin sebelumnya, pastikan memotong plaster
adalah ritual kedua setelah mempersiapkan cairan dan selang, hitung bener-bener
jumlah plaster, panjang pendeknya sudah tepat belum (sesuai ilmu kirologi) atau
kalau memakai metode satu plaster apakah plaster sudah dibelah atau belum.
Lupa Melakukan Desinfeksi
Terkadang hal yang sepele begini bisa kelupaan loh... dengan pedenya kita
menusukkan abocath, eh baru teringat belum di desinfeksi, hal ini bisa karena kita
terlalu grogi, terlalu-buru-buru tau lupa bawak alatnya. What ever alasan kita,
pokoknya melakukan desinfeksi sebelum menusukkan abocath itu wajib hukumnya,
kan kasihan pasiennya....
Lupa Memakai Handscoon
Berbagai alasan ketika kita tidak memakai Handscoon, kadang lupa kadang juga
sengaja. Memang terkadang kita tidak merasa nyaman memasang infus dengan

memakai Handscoon, apalagi kalo pas lagi memasang plaster... huh lengket sana sini.
Tapi demi keamanan serta kenyamanan kita dan pasien ini juga kudu dilakuin...