Anda di halaman 1dari 6

PRAKTIKUM FISIKA MODERN-1114100094

Spektrometer

Annisa Nurul Aini, Chi Chi Novianti dan Sefrilita R. A. Rani, Eddy Yahya
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: annisa@tantowi.com
AbstrakTelah dilakukan percobaan yang berjudul
Spektrometer yang berprinsip pada difraksi dan refreksi.
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari teori
spectrometer prisma dengan pendekatan eksperimental,
mengamati spektrum warna cahaya dari panjang gelombang
tertentu, menentukan indeks bias prisma kaca, dan
menentukan panjang gelombang dengan menggunakan
prisma yang telah dikalibrasi. Setelah percobaan selesai
dilakukan, didapatkan hasil bahwa Spektrometer sebuah alat
yang menerapkan prinsip difraksi dan refreksi yang
berfungsi untuk menampilkan spektrum-spektrum warna
dari sebuah lampu gas. Pada dua lampu gas yang digunakan
(Helium dan Neon), masing-masing memiliki karakteristik
yang sama pada spektrum warnanya. Urutan panjang
gelombang terpanjang ke terpendek adalah merah, jingga,
kuning, hijau, biru, dan ungu. Besar indeks bias prisma
adalah 1,34. Besar panjang gelombang masing-masing warna
adalah, merah 755.41 nm, jingga 653.7 nm, kuning 53,95 nm,
hijau 493.1 nm, biru 446.38 nm, dan ungu 411.4 nm.
Keywords--- Difraksi, Hukum Snellius Pembiasan
Prisma, Refraksi, Spektrum Warna.

I.
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari, sering terlihat oleh
mata kita peristiwa pembiasan cahaya. Salah satu contoh
dari fenomena ini adalah, dasar kolam yang dalam nampak
sangat dangkal. Peristiwa ini biasa disebut pembiasan atau
refraksi. Peristiwa refraksi ini disebabkan karena
perbedaan kecepatan jalar cahaya di udara dan di medium
lain, misalkan air, kaca. Selain peristiwa refraksi yang
menampakkan dalamnya dasar kolam menjadi dangkal,
terdapat peristiwa dispersi dari cahaya matahari menjadi
tujuh warna pelangi. Peristiwa refraksi dan dispersi
tersebut merupakan salah dua contoh yang digunakan pada
praktikum spektrometer. Terutama dispersi, merupakan
salah satu peristiwa alam yang dapat dilakukan dengan
prisma. Oleh karena itu, dilakukanlah percobaan
spektrometer ini, agar dapat mempelajari teori
spektrometer prisma, mengamati spektrum warna cahaya,
menentukan indeks bias prisma kaca, dan menentukan
panjang gelombang dengan menggunakan prisma.
Spektrometer atau spektroskop merupakan sebuah
alat yang digunakan untuk mengukur panjang gelombang
secara akurat menggunakan batas difraksi (atau sebuah
prisma) untuk memisahkan panjang gelombang yang
berbeda dari sebuah cahaya. Spektrometer diilustrasikan
sebagai lingkaran dengan satu jari-jari yang merupakan
garis dari kolimator yang di tengahnya terdapat temu
difraksi. Terusan garis dari kolimator dengan sudut sebesar
ke radian dua, terdapat teleskop. Dan dari arah yang
berlawanan dengan kolimator terdapat sumber cahaya atau
yang biasa disebut S. Panjang kolimator disebut SL.
Kronologi proses kerja dari spektrometer ini adalah,
cahaya dari sumber cahaya memancar ke titik pusat
lingkaran melewati kolimator. Perpindahan sudut teleskop
yang mudah berpindah-pindah membuat cahaya dengan
mudah terlihat di fokus teleskop dan terlihat oleh mata
pengamat. Apabila penempatan teleskop tidak tepat, maka
mata pengamat tidak akan melihat apa-apa. Untuk itu,
mikroskop perlu digeser sebesar ke radian dua agar dapat

melihat peristiwa difraksi dari panjang gelombang yang


dipancarkan sumber. Sudut tersebut dapat dihitung
dengan keakurasian yang tinggi menggunaan persamaan
satu di bawah ini

(1)
Di mana m adalah orde dan d adalah jarak antara garis
temu. Garis yang akan dilihat pengamat di dalam
spektrometer untuk masing-masing panjang gelombang
adalah gambar sebenanrnya dari sumber. Jika cahaya
mengandung sela yang berkelanjutan dari panjang
gelombang, maka kelanjutan spektrum tersebut dapat
dilihat menggunakan spektroskop[1].

Gambar 1. Spektrometer

Hingga pertengahan abad ke-17, mayarakat


umum masih memercayai bahwa cahaya terdiri dari aliran
korpusel. Korpusel tersebut dipancarkan oleh sumber
cahaya seperti matahari atau cahaya lilin, dan terpancar
keluar dari sumber tersebut dalam bentuk garis-garis lurus.
Korpusel tersebut dapat menembus benda bening dan akan
dipantulkan oleh permukaan bahan yang tak tembus
pandang. Apabila korpusel masuk ke mata, maka akan
merangsang sel mata[2].

Gambar 2. Penguraian Warna oleh Prisma.

Teori itu cukup baik untuk menerangkan


mengapa cahaya menjalar dalam garis lurus, mengapa
cahaya dipantulkan oleh permukaan yang mulus seperti
cermin dengan sudut datang sama dengan sudut pantul,
dan mengapa cahaya terbiaskan oleh permuikaan batas,
misalnya antara udara dan air atau antara udara dan kaca.
Thomas Young dan Agustin Fresnel juga telah melakukan
percobaan pada 1827 untuk interferensi dan pengukuran
kecepatan cahaya pada cairan oleh Leon Faucault dapat
menunjukkan bahwa adanya gejala optis di alam ini tidak
dapat seluruhnya diterangkan dengan teori korpursel

PRAKTIKUM FISIKA MODERN-1114100094


sebagaimana pembiasan dan pemantulan. Gejala
interferensi dan difraksi hanya dapat diterangkan dengan
memandang cahaya sebagai gerakan gelombang.
Percobaan yang dapat digunakan untuk mengukur panjang
gelombang, sedangkan percobaan Fresnel dapat
menunjukkan bahwa penjalaran cahaya adalah garis lurus.
Efek difraksi yang diamati oleh Grimaldi dapat
diterangkan menggunakan sifat cahaya untuk panjang
gelombang pendek[1].
Dua yang dominan dari latar belakang suatu
cahaya yang secara siap untuk dijelaskan adalah intensitas
(atau kecerahan) dan warna. Intensitas cahaya adalah
energi yang mengandung satuan unit waktu, dan
dihubungkan ke petak persegi dari gelombang amplitudo,
seperti gelombang yang lain. Warna dari cahaya
dihubungkan dengan frekuensi f atau panjang gelombang
dari sebuah cahaya. Cahaya tampak adalah cahaya yang
dapat ditangkap oleh mata manusia secara telanjang.
Cahaya tampak mengandung frekuensi dari 4 10 14 Hz
hingga 7,5 1014 Hz, berhubungan dengan panjang
gelombang di udara kira-kira 400nm hingga 750nm. Hal
ini diketahui sebagai spektrum tampak, dan dengan itu
menyatu warna-warna yang berbeda dari ungu hingga
merah. Cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek
dari 400nm disebut sebagai ultraviolet (UV). Dan cahaya
dengan panjang gelombang lebih dari 750 nm disebut
infrared (IR). Meskipun mata manusia tidak peka terhadap
ultraviolet maupun infrared, beberapa tipe pelat film dan
beberapa detektor cahaya yang lain dapat merespon
ultraviolet dan infrared dengan baik[1].
Panjang gelombang dari cahaya tampak apabila
diukur di udara, panjangnya akan mencapai 400nm hingga
50nm, dan skala ini adalah skala yang biasanya diketahui
dan dikatakan. Tetapi, interior mata manusia disisi dengan
cairan dengan indeks bias n=1,4. Jadi, panjang gelombang
di mana mereka sebenarnya mencapai retina mata adalah
lebih kecil karena faktor ini[2].
Sebuah prisma membagi cahaya putih menjadi
warna-warna pelangi. Hal ini terjadi karena indeks bias
dari material tergantung dari panjang gelombang. Cahaya
putih adalah campuran dari semua panjang gelombang
yang tampak, dan saat cahaya putih jatuh ke prisma,
perbedaan panjang gelombang dipancarkan ke berbagai
kemiringan. Karena indeks biasnya terkuat untuk panjang
gelombang terpendek, cahaya ungu dipancarkan lebih
banyak dan cahaya merah dipancarkan paling sedikit.
Perenggangan cahaya putih ke dalam bentuk spektrum
penuh disebut dispersi[1].
Pelangi dan berlian merupakan contoh dispersi.
Pelangi dapat terbentuk saat cahaya matahari bertemu
titik-titik air. Sedangkan berlian dibentuk dari kombinasi
antara dispersi dan refleksi internal total. Karena berlian
memiliki indeks bias yang sangat tinggi, kira-kira 2,4,
sudut kritis untuk refleksi internal total hanya 25. Cahaya
didispersikan ke dalam sebuah spektrum di dalam
berlian[1].
Ketika berbicara tentang Hukum Snellius, pokok
yang pasti tercantum dalam bahasan adalah besar sudut
pada peristiwa pembiasan. Hukum Snellius merupakan
persamaan secara matematik yang memberikan hubungan
antara sudut datang dan sudut bias pada cahaya atau
gelombang lainnya yang melalui batas antara dua medium
isotropik berbeda, seperti udara dan air atau udara dan
kaca. Hukum ini disebut pula Hukum Pembiasan, yang
menyebutkan bahwa sinus sudut datang dan sudut bias

adalah konstan bergantung medium. Secara matematik,


pernyataan tersebut dirumuskan sebagai berikut.
(2)
Di mana 1 adalah sudut datang dan 2 adalah sudut bias.
Serta v1 adalah kecepatan cahaya datang dan v2 adalah
kecepatan cahaya bias. Sedangkan n1 adalah indeks bias
sinar datang, dan n2 adalah indeks bias sinar pergi[3].
II.
METODOLOGI PERCOBAAN
A. Peralatan
Alat-alat
yang
digunakan
pada
percobaan
Spektrometer ini adalah satu set spektrometer yang
berfungsi sebagai pengurai cahaya polikromatik, lampu
gas neon dan lampu gas helium yang berfungsi sebagai
cahaya polikromatik yang akan diuraikan. Terdapat pula
step up transformer yang berfungsi untuk menaikkan
tegangan dan step down transformer yang berfungsi untuk
menurunkan tegangan, hambatan geser yang berfungsi
untuk memvariasi nilai tegangan, dan power supply
sebagai sumber tegangan.
B. Skema Alat
Sebelum memulai percobaan, peralatan pada sub-bab
A di atas dirangkai seperti pada gambar 5 di bawah ini.
Lampu Gas

Spektrometer
Hambatan Geser

Step Up dan Step Down

Gambar 3. Rangkaian Alat Spektrometer.

C. Langkah Kerja
Langkah pertama yang harus dilakukan pada
percobaan ini adalah, peralatan dirangkai seperti pada
gambar 5 di atas. Kemudian lampu gas Neon dipasang
pada sistem tegangan tinggi, dan posisinya diatur agar
lampu tersebut terletak di belakang celah kolimator dan
sinarnya dapat sampai ke prisma. Langkah ketiga, fokus
teropong diatur agar dapat melihat benda tak terhingga.
Langkah keempat yaitu, celah kolimator diatur letaknya
agar spektrum yang terjadi cukup tajam dan spektrum
tampak bersama-sama dengan pembagian skala. Langkah
kelima, besar sudut pelurus kolimator yang ditunjukkan
pada skala vernier dengan teleskop diatur. Kemudian besar
sudut deviasi yang ditunjukkan pada skala vernier untuk
setiap warna ditentukan. Dan langkah terakhir adalah,
langkah pertama hingga keenam diulangi dengan
menggunakan lampu gas yang berbeda.
Setelah dilakukan percobaan dan didapatkan
beberapa data, dilakukanlah perhitungan untuk mencari
nilai indeks bias yang merupakan sumbu y, panjang
gelombang perhitungan, sumbu x, serta nilai error.
(3)
(4)
(5)
(6)

PRAKTIKUM FISIKA MODERN-1114100094


Persamaan (3) digunakan untuk mencari nilai indeks
bias, dan merupakan sumbu y yang digunakan untuk
membuat grafik. Persamaan (4) merupakan rumus untuk
mencari panjang gelombang secara perhitungan.
Persamaan (5) untuk memperoleh nilai sumbu x. Dan
persamaan (6) digunakan untuk mencari nilai error.
Langkah kerja di atas dirangkum menjadi flowchart
seperti pada gambar 6 di bawah ini.

Tabel 2. Data Hasil Percobaan pada Lampu Neon.

Spektrum

1()

Merah

79.3

Jingga

79.6

Kuning

79.9

Hijau
Ungu

2()

3()

4()

5()

rata()

80

80

79.8

78.8

79.58

80.5

80.1

80

79.5

79.92

80.9

80.6

80.1

79.8

80.26

80.5

81.5

81.4

80.2

80.5

80.82

83.1

82.8

82.6

81.2

81

82.14

Start
B. Perhitungan
Data-data pada tabel 1 dan tabel 2 di atas selanjutnya
diolah untuk mendapatkan
nilai indeks bias, nilai
perhitungan, nilai x, dan nilai error percobaan. Berikut
satu contoh perhitungan pada masing-masing persamaan.
1. Indeks bias

Peralatan dirangkai seperti pada gambar


5.
Lampu Gas Neon dipasang pada sistem
tegangan tinggi.
Letak lampu diatur di belakang
kolimator.
Fokus teropong diatur.
Letak dan celah kolimator diatur.
Besar sudut pelurus kolimator
ditentukan.

2.

perhitungan

perhitungan
perhitungan =

Besar sudut deviasi ditentukan.

perhitungan = 787.5416475 nm.


3. Nilai x
Nilai x =

Ya

Diulangi dengan
lampu gas yang
berbeda.

Nilai x =
Nilai x = 2.19479 10-6
4. Error
Error =

Tidak
Finish
Gambar 6. Flowchart Percobaan Spektrometer.

III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Analisa Data
Pada percobaan Spektrometer ini, didapatkan data
berupa sudut deviasi dan spektrum warna. Berikut datadata tersebut disajikan dalam tabel 1.
Tabel 1. Data Hasil Percobaan pada Lampu Helium.

Error =
Error = 14.2902471 %
Dari contoh-contoh perhitungan di atas, dilakukan
perhitungan yang sama untuk data-data yang lain. Berikut
hasil perhitungan-perhitungan tersebut disajikan dalam
tabel.
Tabel 3. Data Hasil Perhitungan pada Lampu Helium.

Spektrum

rata()

Merah

Spektrum

1()

2()

3()

4()

5()

rata()

Merah

73.5

73.4

73

73.4

73.4

73.34

Jingga

74

74

74

74

74

74

Kuning

74.8

74.9

74.9

74.9

74.9

74.88

Hijau

76.2

76.2

76.2

76.2

76.1

76.18

Biru

76.8

77

76.9

77

76.9

76.92

Ungu

77.6

77.6

77.6

77.6

77.6

77.6

1.46

perhit
(nm)
787.5

1.44

670.6

1.42

572.4

1.39

482.4

1.37

446.4

1.35

419.3

73.34
Jingga
74
Kuning
74.88
Hijau
76.18
Biru
76.92
Ungu
77.6

x
2.2
10-6
2.4
10-6
3.03
10-6
3.6
10-6
4.4
10-6
6.3
10-6

Error
(%)
14.3
3.1
0.5
8.8
6.4
4.6

PRAKTIKUM FISIKA MODERN-1114100094


Tabel 4. Data Hasil Perhitungan pada Lampu Neon.

rata()

Spektrum
Merah

1.3

perhit
(nm)
723.3

1.29

637.03

1.28

575.5

1.26

503.8

1.23

403.6

79.58
Jingga
79.92
Kuning
80.26
Hijau
80.82
Ungu
82.14

x
2.2
10-6
2.4
10-6
3.02
10-6
3.6
10-6
6.3
10-6

Error
(%)
6.7
2.04
0.08
4.22
0.88

C. Grafik
Data-data pada sub-bab B di atas dibuat grafik
dengan hubungan n dan
seperti di bawah ini.

Grafik Hubungan 1/^2 dengan n


pada Lampu Helium
1.48
1.46
1.44
n

1.42
1.4
1.38
1.36
1.34

y = -25995x + 1.4965

1.32
0

0.000002 0.000004 0.000006 0.000008


1/^2

Grafik 1. Hubungan antara

dengan n pada Lampu Helium.

Grafik Hubungan 1/^2 dengan n


pada Lampu Neon
1.31
1.3
1.29
1.28
1.27
1.26
1.25
1.24
1.23
1.22

y = -16389x + 1.3281
0

0.000002 0.000004 0.000006 0.000008


1/^2

Grafik 2. Hubungan antara

dengan n pada Lampu Neon.

D. Pembahasan
Dari percobaan yang berjudul spektometer dan
bertujuan untuk mempelajari teori spektrometer prisma

dengan pendekatan eksperimental, mengamati spektrum


warna cahaya dari panjang gelombang tertentu,
menentukan indeks bias prisma kaca, dan menentukan
panjang gelombang dengan menggunakan prisma yang
telah dikalibrasi, dibutuhkan beberapa alat. Alat-alat yang
digunakan pada percobaan Spektrometer ini adalah satu set
spektrometer yang berfungsi sebagai pengurai cahaya
polikromatik, lampu gas neon dan lampu gas helium yang
berfungsi sebagai cahaya polikromatik yang akan
diuraikan. Terdapat pula step up transformer yang
berfungsi untuk menaikkan tegangan dan step down
transformer yang berfungsi untuk menurunkan tegangan,
hambatan geser yang berfungsi untuk memvariasi nilai
tegangan, dan power supply sebagai sumber tegangan.
Setelah mengetahui alat dan bahan yang akan
digunakan, dilakukanlah percobaan dengan langkah
pertama yang harus dilakukan pada percobaan ini adalah,
peralatan dirangkai seperti pada gambar 5 di atas.
Kemudian lampu gas Neon dipasang pada sistem tegangan
tinggi, dan posisinya diatur agar lampu tersebut terletak di
belakang celah kolimator dan sinarnya dapat sampai ke
prisma. Langkah ketiga, fokus teropong diatur agar dapat
melihat benda tak terhingga. Langkah keempat yaitu, celah
kolimator diatur letaknya agar spektrum yang terjadi
cukup tajam dan spektrum tampak bersama-sama dengan
pembagian skala. Langkah kelima, besar sudut pelurus
kolimator yang ditunjukkan pada skala vernier dengan
teleskop diatur. Kemudian besar sudut deviasi yang
ditunjukkan pada skala vernier untuk setiap warna
ditentukan. Dan langkah terakhir adalah, langkah pertama
hingga keenam diulangi dengan menggunakan lampu gas
yang berbeda. Dan dari percobaan ini dapatkanlah
beberapa data seperti pada tabel 1 dan tabel 2. Data-data
tersebut kemudian diolah dan didapatkan hasil-hasil
perhitungan pada tabel 3 dan tabel 4. Dari data-data
tersebut, dapat dianalisa bahwa, semakin besar sudut
deviasinya, panjang gelombangnya akan semakin pendek.
Hal ini dikarenakan, warna yang memiliki sudut deviasi
kecil, akan memiliki energi yang besar. Jika gelombang
tersebut memiliki energi yang besar, maka gerak
gelombang tersebut mampu mencapai jarak yang jauh.
Spektrometer atau spektroskop merupakan sebuah
alat yang digunakan untuk mengukur panjang gelombang
secara akurat menggunakan batas difraksi (atau sebuah
prisma) untuk memisahkan panjang gelombang yang
berbeda dari sebuah cahaya. Spektrometer diilustrasikan
sebagai lingkaran dengan satu jari-jari yang merupakan
garis dari kolimator yang di tengahnya terdapat temu
difraksi. Terusan garis dari kolimator dengan sudut sebesar
ke radian dua, terdapat teleskop. Dan dari arah yang
berlawanan dengan kolimator terdapat sumber cahaya atau
yang biasa disebut S. Panjang kolimator disebut SL.
Kronologi proses kerja dari spektrometer ini adalah,
cahaya dari sumber cahaya memancar ke titik pusat
lingkaran melewati kolimator. Perpindahan sudut teleskop
yang mudah berpindah-pindah membuat cahaya dengan
mudah terlihat di fokus teleskop dan terlihat oleh mata
pengamat. Apabila penempatan teleskop tidak tepat, maka
mata pengamat tidak akan melihat apa-apa. Untuk itu,
mikroskop perlu digeser sebesar ke radian dua agar dapat
melihat peristiwa difraksi dari panjang gelombang yang
dipancarkan sumber.
Sumber cahaya yang terpancar dari sumber lampu
gas akan disejajarkan oleh kolimator yang terdapat prisma
di kedua ujungnya menuju prisma di pusat spektrometer.

PRAKTIKUM FISIKA MODERN-1114100094


Kolimator ini berfungsi untuk mensejajarkan cahaya agar
sampai ke prisma dan tidak menyebar ke mana-mana.
Setelah cahaya sampai ke prisma, maka prisma akan
menguraikan cahaya lampu gas itu menjadi spektrumspektrum warna sesuai dengan sifat lampu gas tersebut.
Dan spektrum warna ini dapat diamati melalui teleskop
yang diatur sudutnya. Sehingga, mata pengamat mampu
melihat spektrum-spektrum tersebut dengan jelas.
Dihitung dari rata-rata keseluruhan nilai n yang
didapat, nilai n rata-rata atau indeks bias yang dimiliki
prisma adalah 1,34. Sedangkan untuk masing-masing
panjang gelombang yang terdapat pada spektrum cahaya,
dihitung secara rata-rata dihasilkan merah 755.41 nm,
jingga 653.7 nm, kuning 53,95 nm, hijau 493.1 nm, biru
446.38 nm, dan ungu 411.4 nm.
IV.
KESIMPULAN
Dari percobaan Spektrometer ini, dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut.
1. Spektrometer sebuah alat yang menerapkan
prinsip difraksi dan refreksi yang berfungsi untuk
menampilkan spektrum-spektrum warna dari
sebuah lampu gas.
2. Pada dua lampu gas yang digunakan (Helium dan
Neon), masing-masing memiliki karakteristik
yang sama pada spektrum warnanya. Urutan
panjang gelombang terpanjang ke terpendek
adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan
ungu.
3. Besar indeks bias prisma adalah 1,34.
4. Besar panjang gelombang masing-masing warna
adalah, merah 755.41 nm, jingga 653.7 nm,
kuning 53,95 nm, hijau 493.1 nm, biru 446.38
nm, dan ungu 411.4 nm.

UCAPAN TERIMA KASIH


Terima kasih kepada Chi Chi Novianti dan
Sefrilita R. A. Rani selaku asisten laboratorium yang
bersedia membagi ilmunya kepada kelompok kami.
Terima kasih pula kepada Bapak Eddy Yahya selaku
dosen pembimbing yang telah membimbing kami untuk
mempelajari Fisika Modern lebih dalam lagi. Dan terima
kasih untuk teman-teman satu kelompok, Kurnia, Andi,
Rifki, Nusur, Fachrina, dan Firman yang bersedia
membantu dalam menyelesaikan laporan.
DAFTAR PUSTAKA
Giancoli, Douglas.Physics Principles with Application
6thedition,Pearson Education inc. USA(2005)
Hugh, Young.Fisika Universitas Edisi 10 Jilid 2,Erlangga.
Jakarta(2004)
Halliday, David.Fisika Dasar.Erlangga. Jakarta(2010)

PRAKTIKUM FISIKA MODERN-1114100094


LAMPIRAN

Gambar 4. Spektrum Warna Lampu Helium.

Gambar 5. Spektrum Warna Lampu Neon.