Anda di halaman 1dari 27

60

BAB III
OBJEK PENELITIAN

3.1.

KONDISI DESA MERTAPADAKULON


3.1.1. Sejarah Desa Mertapadakulon
Pada sekitar pertengahan abad ke XIV ditanah Cirebon kedatangan

seorang alim ulama bernama Syekh Arifin yang berasal dari Negeri Baghdad,
beliau datang ketanah Cirebon dengan maksud memperdalam dan menyebarkan
Agama Islam di tanah Cirebon. Syekh Arifin setelah berada di tanah Cirebon,
beliau pergi ke tanah timur, hingga pada suatu saat ia berada pada suatu
pedukuhan yang waktu itu masih merupakan hutan belukar yang sangat subur
dengan berbagai macam tumbuhan dan pohon yang sangat besar. Dalam
pengembaraannya, beliau menemukan seberkas cahaya yang memancarkan
sinarnya sangat berkemilau, setelah ditemukan sumber cahaya tadi, maka dalam
hati nuraninya seakan akan terasa sangat tentram dan bahagia, sehingga ia
bertekad untuk menetap di pedukuhan tersebut.
Syekh Arifin beserta istrinya, setelah menetap dipedukuhan tersebut
dalam hidupnya terasa sangat senang dan bahagia, baik lahir maupun batin
sehingga pedukuhan itu di namakan Mertalaya sedangkan sumber cahaya sinar
tadi dinamakan Ki Buyut Candi di kediaman Syekh Arifin secara perlahan tapi

61

pasti didalam menyebarkan Agama Islam mengalami suatu kemajuan yang sangat
berarti sehingga banyaklah para santrinya.
Ada tiga orang santri yang berasal dari negeri Cempa yaitu Sela Rasa, Sela
Ganda dan Sela Suara. Mereka ingin belajar dan memperdalam ajaran Islam.
Dalam mempelajari ilmu yang telah di berikan oleh Syekh Arifin kepada para
santrinya, dari sekian banyak santri diantaranya Sela Rasa, Sela Ganda dan Sela
Suara ini merupakan santri yang paling cerdas. Syekh Arifin berkata kepada
ketiga orang muridnya bahwa hendaknya meneruskan berguru Agama Islam
kepada Lobama yang ada di Pedukuhan Mundu. Karena Kilobama adalah murid
Sunan Gunung Jatii. Ketiga santri tersebut berangkat ke Mundu untuk menemui
Kilobama. Setibanya ditempat Kilobama mereka diterima sebagai santri untuk
memperdalam ajaran islam.
Raja Atas Ulun yang sekarang dinamakan Kampung Tegal Lempuyung,
yang berada di Desa Astanajapura, bermimpi bahwa negerinya kelak akan
mendapatkan suatu musibah dan kebanjiran sehingga banyak rumah penduduk
yang roboh juga pepohonan pada hanyut. Keesokan harinya Raja Atas Ulun
mengumpulkan para ahli nujum ( ParaNormal ) diantaranya bernama Nujum Sakti
Sidik. Raja Atas Ulun menceritakan tentang mimpinya semalam. Selanjutnya ahli
nujum berpendapat bahwa kelak Raja Atas Ulun akan menemui kehancuran
karena dimusuhi oleh para santrinya Syekh Arifin yaitu Sela Rasa, Sela Ganda
dan Sela Suara. Mendengar jawaban dari ahli nujum maka dengan gusar dan
marah Raja Atas Ulun segera memanggil Senpati dan para prajurit untuk

62

berangkat menyerbu ketiga santrinya Kilobama yaitu Sela Rasa, Sela Ganda dan
Sela Suara.
Sementara Ki Buyut Lobama seorang Arif dan bijaksana serta berilmu
yang cukup, ia pun sudah mengetahui isi hati Raja Atas Ulun baik kepada dirinya
maupun kepada ketiga santrinya, selanjutnya oleh Ki Buyut Lobam ketiga santri
tersebut di rubah menjadi tiga ekor ikan mas dan di simpan di kolam. Begitu patih
Raja Atas Ulun datang dan langsung menyerbu kediaman Ki Buyut Lobam, tidak
di temukannya para santri tadi, sehingga menimbulkan suatu kemarahan sang
patih serta para prajuritnya kapada ahli nujum, lantas mereka pun pulang tanpa
suatu hasil yang sangat berarti hanya kekecewaan yang mereka peroleh.
Sesampainya di kerajaan, Atas Ulun Senopati dan para prajuritnya
menceritakan bahwa dikediaman Ki Buyut Lobama tidak ada para santri yang
dimaksud, sehingga menimbulkan kemarahan sang raja kepada ahli Nujum dan
Nujum Sidik. Ahli Nujum tersebut menjelaskan kepada sang raja, bahwa ketiga
santri itu sudah berubah bentuk seekor ikan mas yang berada di balong. Dengan
rasa penasaran dan cemas, maka Patih dan segenap prajuritnya segera kembali ke
tempat Ki Buyut Lobama.
Sepeninggalnya Patih dan prajurit Raja Atas Ulun, lalu Ki Buyut Lobama
memanggil para santrinya segera untuk meninggalkan tempat tersebut dan segera
pergi untuk menemui Syekh Arifin yang berada di pedukuhan Mertalaya. Selang
beberapa lama setelah keberangkatan ketiga santri tersebut, datang lagi
rombongan Patih beserta prajurit Raja Atas Ulun di kediaman Ki Buyut Lobama,

63

dengan maksud untuk mengambil tiga ekor ikan mas, tetapi ikan mas tersebut
sudah tidak ada, sehingga Ki Buyut Lobama disiksa oleh para prajurit Raja Atas
Ulun. Sesampainya ketiga santri di kediaman Syekh Arifin, lalu menceritakan
tentang kejadian yang perah dialaminya. Kemudian ketiga orang santri itu diminta
untuk menetap di Mertalaya dan dipercaya untuk menjadi pendamping gurunya
dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada para santri-santrinya.
Pada suatu saat Syekh Arifin ingin menguji kemampuan ketiga santri
tersebut setelah diadakan uji coba, ketiganya sama-sama mempunyai ilmu yang
sejajar, sehingga sulit untuk dipilih siapa yang terbaiknya. Atas hasil uji coba,
nama pedukuhan Mertalaya diganti Mertapada yang artinya Merta yaitu tempat
pangonan, sedangkan Pada yaitu sama-sama pandai dan sakti. Kemudian Sela
Rasa diangkat sebagai wakil dari Syekh Arifin dalam memberikan ilmu
pengetahuan dibidang Agama tersebut, karena dianggap tertua umurnya.
Syekh Arifin menugaskan lagi kepada ketiga santrinya yaitu Sela Rasa,
Sela Ganda dan Sela Suara untuk memperdalam ilmunya di Muara Bengkeng
( yang sekarang berada di wilayah Kecamatan Lemahabang ) pemekaran dari
Desa Karang Suwung Kecamatan Karang Sembung. Karena di Muara Bengkeng
berdasarkan petunjuk dari Syekh Arifin para bangsa Jin sedang diajari ilmu
kanuragan di salah satu bangunan, oleh gurunya. Sesampainya mereka di tempat
itu dengan secara sembunyi-sembunyi ingin mengetahui para Jin itu belajar ilmu
kanuragan. Benar juga apa yang dikatakan dan petunjuk yang diajarkan oleh guru
jin itu.

64

Setelah para jin itu di uji kemampuan gurunya, tak satu pun yang bisa
diterima, sehingga sang guru jin tersebut merasa was-was, jangan-jangan ada
seorang manusia yang mengetahuinya pada saat mereka memberikan pelajaran.
Betul juga dugaan guru jin tersebut, melihat ada tiga orang santri yang sedang
memperhatikan dan mempelajari ilmunya. Setelah diketahui dengan jelas ia
sangat marah dan gusar sehingga ketiga santri tadi di hajarnya, santri tadi tidak
emosional. Mereka sekedar mengimbanginya saja, merasa dirinya direndahkan
oleh ketiga orang itu, guru jin itu semakin marah, dengan membabi buta segala
kepandaiannya dikeluarkan untuk segera melumpuhkan ketiga orang itu. Namun
kebetulan pada saat itu ada utusan dari raja jin yang mengurus patihnya untuk
mengontrol situasi para jin yang sedang belajar ilmu kanuragan.
Patih raja jin bernama Nurzaman melihat ada pergulatan, kemudian
melerainya kepada kedua belah pihak, Patih Nurzaman bertanya kepada Sela Rasa
dari mana asal-usulnya. Setelah mendapat jawaban dari Sela Rasa, maka secara
spontanitas Patih Nurzaman langsung merangkul Sela Rasa dan saudarasaudaranya, karena mereka masih merupakan keluarga dari Raja Jin tersebut.
Akhirnya oleh Patih Nurzaman Seka Rasa di beri Jimat berupa Cemiti Rukmin.
Setelah mereka mendapat pendidikan dan jimat berupa Cemiti Rukmin
Sela Rasa dan saudaranya kembali ke Mertapada di kediaman Syekh Arifin, lantas
ia di suruh pergi ke Mundu Pesisir untuk membantu Ki Lobama yang sedang
dalam bahaya, karena sedang mendapat serangan dari Raja Atas Angin.

65

Sela Rasa dan saudara-saudaranya segera bergegas menuju kediaman


Buyut Lobama, disitu Ki Lobama sedang di siksa oleh Raja Atas Angin dan para
prajuritnya. Maka dengan benda pusaka berupa Cemiti Rukmin yang mereka
miliki langsung menyerang pasukan Raja Atas Angin sampai porak poranda
begitu juga Raja Atas Angin dan Gajah Saktinya. Ki Lobama dapat diselamatkan
oleh Sela Rasa dan saudara-saudaranya. Selanjutnya mereka berpamitan pada Ki
Lobama untuk kembali ke Mertapada. Sela Rasa oleh Syekh Arifin dipercaya
sebagai pengganti dalam mengajarkan segala bidang ilmu pengetahuan. Sykeh
Arifin mengehembuskan nafas yang terakhir dan di kebumikan di Metapada
dengan julukan Ki Buyut Serpin selang beberapa tahun kemudian disusul oleh
ketiga santrinya dan dikuburkan disisi Buyut Serpin.
Dengan semakin pesatnya jumlah penduduk di Mertapada berdasarkan
musyawarah pemilihan Kuwu terpilih Ki Demang Ampunantara. Istri Ki Demang
Ampunantara bernama Nyai Mursipah, memiliki paras yang cantik dan
berwawasan yang luas, tidak membedakan derajat antara laki-laki dan perempuan.
Ki Demang Ampunantara dangan Nyai Mursipah di karunia dua orang anak lakilaki dan perempuan. Setelah Ki Demang meninggal dunia, sehingga terdapat
kekosongan Kuwu, maka anak laki-laki berhak sebagai pengganti ayahnya dalam
menjalankan roda pemerintahan di Desa/Kuwu, begitu juga menurut pendapat
anak perempuannya juga berhak.
Maka untuk menghindari perselisihan kedua saudara tersebut, oleh ibunya,
Mertapada di bagi dua yaitu Mertapadawetan di pegang oleh anak laki-lakinya,
sedangkan Mertapadakulon oleh anak perempuan beserta menantunya.

66

3.1.2. Terbentuknya Desa Mertapadakulon


A. POTENSI DESA MERTAPADAKULON
1. Data Wilayah
Luas wilayah Desa Mertapadakulon Kecamatan Astanajapura Kabupaten
Cirebon yaitu 114 Ha yang penggunaanya terdiri dari tanah sawah 26 Ha dan
tanah fasilitas umum 88 Ha. Dengan keadaan alam curah hujan antara 250 mm,
suhu rata-rata harian 26OC-31OC dengan tinggi dataran 1-3 m diatas permukaan
laut.
Desa Mertapadakulon terbagi dalam 3 Dusun dan 7 RW ( Rukun Warga )
dan 21 RT ( Rukun Tetangga ).
Desa Mertapadakulon berbatasan dengan
a.
b.
c.
d.

Sebelah Utara
Sebelah Timur
Sebelah Selatan
Sebelah Barat

: Desa Buntet
: Desa Mertapadawetan
: Desa Sidamulya
: Desa Munjul

Jarak Orbitasi dengan Pusat Pemerintahan adalah :


a. Jarak ke ibu kota Kecamatan
b. Jarak ke ibu kota Kabupaten
c. Jarak ke ibu kota Propinsi

: 1 Km
: 25 Km
: 126 Km

Tanah aset Pemda di Desa Mertapadakulon dapat dilihat pada tabel sebagai
berikut:

67

Tanah aset Pemda Desa Mertapadakulon


No
1.

Alamat
Desa Mertapadakulon

Luas ( Ha )
29,5

Penggunaan
Kantor Desa, TPU,

Asal usul

sarana Olah raga.

2. Data Penduduk
Jumlah Penduduk Desa Mertapadakulon sampai dengan 31 Desember
2014 sebanyak 5.381 jiwa yang terdiri dari 2.693 laki-laki dan 2.699 perempuan
dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 1.379 Kepala Keluarga terdiri dari
Laki-laki 1145 KK dan Perempuan 234 KK.
Jumlah Kepemilikan Bukti Otentik Diri
a. Jumlah Penduduk yang sudah memiliki KTP
: 3.588 orang
b. Jumlah Penduduk yang sudah memiliki KTP
: 1.244 orang
c. Jumlah Penduduk yang sudah memilki Akta Kelahiran : 4.625 orang
Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama
a.
b.
c.
d.
e.

Islam
Kristen
Katholik
Hindu
Budha

: 5.364 orang
: 17 orang
:
:
:
-

3. Data Ekonomi
a. Keluarga Sejahtera
Perkembangan Keluarga Sejahtera berdasarkan hasil Pendataan Penduduk
adalah sebagai berikut :

68

No
1.

2.
3.

Perkembangan Keluarga Sejahtera


Keluarga Pra Sejahtera
a. Karena alasan Ekonomi
b. Bukan alasan Ekonomi
Keluarga Sejahtera I
a. Karena alasan Ekonomi
b. Bukan alasan Ekonomi
Keluarga Sejahtera II
Keluarga Sejahtera III
Keluarga Sejahtera Plus

Jumlah
312
272
40
482
345
137
330
151
75

b. Mata Pencaharian Pokok


Mata pencaharian pokok berdasarkan hasil Pendataan Penduduk adalah
sebagai berikut :
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Mata Pencaharian Pokok


Petani
Buruh Tani
PNS
Pedagang
TNI/Polri
Karyawan Swasta
Wirausaha Lainnya
Montir
Jasa

c. Raskin

Jumlah
17 orang
135 orang
135 orang
387 orang
6 orang
97 orang
180 orang
3 orang
58 orang

69

Jumlah Kepala Keluarga yang memperoleh Raskin sebanyak 312 KK ( 15 Kg


beras ).

4. Data Pendidikan
Prasarana Pendidikan yang terdapat di Desa Mertapadakulon adalah sebagai
berikut :
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sekolah
Taman kanak-kanak
PAUD
SD/MI
SLTP/MTs
SLTA/MA
AKPER

Jumlah
3 buah
1 buah
8 buah
7 buah
7 buah
1 buah

Pengajar
15 orang
4 orang
65 orang
152 orang
174 orang
20 orang

Wajib belajar 9 Tahun


a. Jumlah Penduduk Usia 7-15 tahun sebanyak 970
b. Jumlah Penduduk Usia 7-15 tahun yang sekolah sebanyak 868
c. Jumlah Penduduk Usia 7-15 tahun yang tidak sekolah sebanyak 102
5. Data Kesehatan
a. Sarana dan Prasarana Kesehatan
a. Puskesmas pembantu sebanyak
b. Posyandu sebanyak
c. Dukun terlatih sebanyak

: 1 unit
: 6 unit
: -

70

d. Bidan Desa sebanyak

: 2 orang

b. Jumlah Rukun Tetangga Tercukup air bersih


a. Rumah Tangga menggunakan sumur gali

: 65 rumah tangga

b. Rumah Tangga Pelanggan PAM

: - rumah tangga

c. Rumah Tangga menggunakan sumur pompa

: 783 rumah tangga

d. Runah Tangga menggunakan perpipaan air

: - rumah tangga

e. Rumah Tangga menggunakan air sungai

: - rumah tangga

f. Rumah Tangga memiliki WC

: 1.295 rumah tangga

71

3.1.3. Kepemimpinan Desa


Penjabat Kepala Desa/ Kuwu yang pertama sampai dengan sekarang secara
berturut-turut sebagaimana tersebut pada tabel dibawah ini
Tabel 3.3
Nama-nama Pejabat Kepala Desa/Kuwu sampai dengan Tahun 2015
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

3.2.

Nama
YADI
NURUDDIN
Rd. TIRTA ATMAJA
MUKRI TAUHID
SLAMET RIYADI
KHAER YUSUF
AGUS ATIKUDIN
MOHAMAD YUSUF
NANANG ROYANI
AHMAD JAELANI

Tahun
1921 s/d 1967
1967 s/d 1987
1987 s/d 1989
1989 s/d 1995
1995 s/d 2003
2003 s/d 2013
1 bulan
2013 s/d sekarang

Keterangan

LETAK GEOGRAFIS
Desa Mertapadakulon Terletak antara Lintang Selatan dan Bujur Timur,

dengan luas wilayah 114 Ha, terdiri dari 3 Dusun, 7 RW dan 21 RT. Dengan batasbatas wilayah administratif sebagai berikut :
Sebelah Utara

: Desa Mertapadakulon

Sebelah Selatan

: Desa Sidamulya

Sebelah Barat

: Desa Munjul

72

Sebelah Timur

: Desa Mertapadawetan

3.2.1. Struktur Organisasi Pemerintahan Desa


Berdasarkan Perda Kabupaten Cirebon Nomor 8 Tahun 2006 Tentang
Pemerintahan Desa, bahwa Pemerintah Desa adalah Pemerintah Desa dan Badan
Permusyawaratan Desa ( BPD ) selaku penyelenggaraan urusan Pemerintahan
Desa.
Pemerintah Desa terdiri dari :
1. Kepala Desa/Kuwu
2. Pamong Desa/Perangkat Desa
Pamong Desa terdiri dari Juru Tulis dan Pamong Desa lainnya, antara lain :
1. Sekertaris Desa, terdiri dari Tata Usaha dan Keuangan
2. Pelaksana Teknis Lapangan, terdiri dari Kliwon, Lurah, Raksa, Bumi, dan
Lebe
3. Bekel/Kepala Dusun

Struktur Organisasi Pemerintahan Desa

KUWU
AHMAD

BPD

73

SEKDES
KADUS I

KADUS II

MOH. CECEP
ILHAMNUDIN

SYAHRIR

KADUS III

KADUS IV

MUKHSON

AHMAD
JAENURI

NANANG
ROYANI

K. KESRA

K. EKBANG

K. UMUM

K. PEM

K. KEU

M. SUGANA

ANIS SUHADI

MOH. YUSUF

MOH. KHAMDI
GUFRON

KOMAR

Sumber : Kelurahan Mertapadakulon 2015/2016

3.2.2. Aparatur Pemerintahan Desa


Jumlah Aparat Pemerintah Desa/Pamong Desa Mertapadakulon Tahun
2015 seluruhnya sebanyak 12 orang, terdiri dari 1 orang Kepala Desa/Kuwu
dan 11 orang Pamong Desa.
Pamong Desa terdiri dari 1 orang Jurutulis, 5 orang Pelaksana Teknis
Lapangan, yaitu Kaur Pemerintahan, Kaur Kesra, Kaur Ekbang, Kaur Keuangan,
Kaur Umum, serta 5 orang Kepala Dusun.
Data Aparatur Pemerintah Desa Metapadakulon pada saat ini dapat dilihat dalam
table dibawah ini.

74

Data Aparatur Pemerintah Desa Tahun 2015


No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Jabatan
Kuwu
Jurutulis
Kaur Pemerintahan
Kaur Ekbang
Kaur Kesra
Kaur Keuangan
Kaur Umum
Kepala Dusun Manis 1

Nama
AHMAD JAELANI
NANANG ROYANI
M.KHAMDI GHUFRON
M. SUBANA
ANIS SUHADI
SUROSO
MOH. YUSUF
M. SYAHRIR

Pendidikan
SI
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA

9.

Kepala Dusun Manis 2

CECEP ILHAMUDIN

SLTA

10.
11.
12.

Kepala Dusun Bun Pes 1


Kepala Dusun Bun Pes 2
Kepala Dusun Mersi

MUKHSON
A. JAENARI
ASEP SATRIA

SLTA
SLTA
SLTA

3.3. VISI DAN MISI


1. Visi
Menata Desa menuju kemandirian dan kesejahteraan berkeadilan.
2. Misi
a. Meningkatkan kualitas profesional dan rasa tanggung jawab Aparatur
Pemerintah Desa dalam upaya memberikan pelayanan prima kepada
masyarakat.
b. Meningkatkan dan menata pembangunan infrastruktur yang professional,
berkualitas dan berkelanjutan.
c. Meningkatkan perekonomian masyarakat Desa dalam upaya menciptakan
Desa yang mandiri dan sejahtera.
d. Mengembangkan kehidupan masyarakat yang beriman, bertaqwa dan
berakhlakul karimah.

75

3.4. BLOK BUNTET PESANTREN CIREBON


Desa Mertapadakulon terbagi dalam 3 Dusun/Blok dan 7 RW
( Rukun Warga ) dan 21 RT ( Rukun Tetangga ). 3 Dusun/Blok yang ada
di Desa Mertapadakulon yaitu Blok Karangpanas, Blok Kijayem dan
terakhir Blok Buntet Pesantren yang akan dibahas pada bab ini.

3.4.1 Embrio Buntet Pesantren


Muqoyyim ( 1689-1750)

Perjuangan

Mbah

Buntet Pesantren : Kampung Santri


Memasuki
Sindanglaut,

Buntet

Kabupaten

Pesantren
Cirebon,

Cirebon,

bagi

orang

Kecamatan
kota

yang

membayangkan alam yang asri, bangunan khas pedesaan, atau


bangunan pondok yang bagai penjara. Maka siap-siap saja untuk
terpengarah, karena di Buntet tidak akan ditemukan sebuah
keteduhan dengan pepohonan yang rindang, kompleks bangunan
yang khas dan terkesan alami pedesaan serta kelihatan nyaman
untuk belajar. Masuk ke Buntet, kita akan melihat kompleks
perumahan yang padat, berupa bangunan sangat sederhana,
dan ada juga yang kelihatan mewah.
Buntet memang pesantren yang terbuka, keberadaannya
tidak terkurung tembok atau pagar keliling, tetapi mirip sebuah
perkampungan. Memang di atas tanah seluas kurang lebih 10
hektar ini, tidak hanya dihuni oleh santri dengan asramanya
semata, tetapi juga penduduk, yang umumnya masih keturunan

76

kyai atau abdi dalem kyai juga diperkenankan menempati


tanah pesantren itu. Karena itu Buntet Pesantren mengesankan
bukan seperti sebuah pondok, tetapi mengesankan sebuah
permukiman biasa. Kalau toh ada kesan bahwa itu pesantren,
karena di situ ada ribuan santri laki-laki yang mengenakan kain
sarung dan berkopiah sedangkan santri perempuan berjilbab.
Kesan kedamaian yang ada di Buntet Pesantren bukan
terletak pada rindangnya pepohonan, tetapi tata pergaulan
antarpenduduk,
kelebihan

dari

santri
pondok

dengan

penduduk,

pesantren

ini.

adalah

Pola

refleksi

pengembangan

pesantren yang ada di Buntet Pesantren bertujuan membimbing


santrinya langsung di tengah tata pergaulan masyarakat, agar
kelak santri tidak canggung ketika terjun ke masyarakat.

Sebagai kampung santri, di Buntet Pesantren terdapat 70


kyai, dan masing-masing kyai memiliki asrama yang mandiri
yang mempunyai kurikulum tersendiri bagi para santrinya.
Umumnya kurikulum yang diberikan berupa pengajaran kitabkitab salaf secara sorogan maupun bandongan. Dari sistem
penjaran

yang

mengembangkan

demikian

memungkinkan

peminatan

pada

kajian

setiap
kitab

salaf

santri
yan

77

gdikehendaki. 70 kyai dengan 50 asrama ini dibawah


bimbingan sesepuh pesantren.
Pesantren yang didirikan tahun 1723 oleh Mbah Muqoyyim,
yang pernah menjadi Kepala Mahkamah Agung pada Keraton
Kasepuhan Cirebon. Sejak dulu pondok ini di samping sebagai
tempat pengajaran ilmu agama islam, juga dikenal sebagai
pondok

yang

menggembleng

santrinya

menjadi

manusia

dogdeng ( sakti ) lewat pelajaran ilmu kanuragan ( tenaga


dalam ). Puncak keterkenalan Buntet Pesantren sebagai tempat
penggodogan santri dalam ilmu kanuragan di saat Buntet
Pesantren dipimpin Kyai Abbas Bin KH. Abdul Jamil. Ketika
Pesantren Tebu Ireng yang didirikan oleh KH. Wahid Hasyim
sekitar tahun 1925 minta pasukan pengaman dari Buntet
Pesantren, KH. Abbas sendiri datang memimpin pengamanan
pendirian Pesantren Tebu Ireng.

3.4.2. Legenda Buntet Pesantren

78

Seperti umumnya daerah-daerah lain di Indonesia yang


memiliki legenda tentang asal muasal suatu daerah. Di Cirebon
pun terdapat legenda tentang asal muasal terjadinya desa, tidak
terkecuali Buntet Pesantren. Menurut inventarisir cerita rakyat
yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten
Cirebon terdapat legenda tentang asal-usul tentang Desa Buntet.
Legenda ini bermula dari sekitar pertengahan abad XV,
pada suatu masa tersebutlah sepasang putra dan putri dari
Galuh yang sedang berbulan madu di Linggarjati. Ia bernama
Pangeran Legawa ( Putra Ki Agung Sela dari Randubawa ), dan
Dewi Arum Sari ( Putri Raja Galuh ) . ketika Pangeran Legawa
mandi di sebuah kolam, putri Arum Sari dengan setia menunggui
busana ( pakaian ) sang suami sambil beristirahat melepas lelah.
Tanpa mereka sadari, di balik pepohonan yang rimbun terdapat
sepasang mata yang selalu mengintai dan mengawasi gerakgerik keduanya. Sepasang mata itu adalah milik Buta Ijo ( raja
maling ) yang langsung jatuh cinta melihat kecantikan paras ratu
Putri Arum Sari, nafsu Buta Ijo semakin menjadi sampai ia berniat
menculiknya.
Pangeran Legawa sendiri semakin asyik berenang di
tengah kolam yang airnya sangat jernih. Kesempatan ini tidak
disia-siakan oleh Buta Ijo untuk melakukan rencananya menculik

79

Putri. Didekapnya Putri dari belakang kemudian dipanggulnya


dan secepat kilat dilarikan. Dengan sangat terkejut dan dalam
kebingungan, Putri Arum Sari menjerit-jerit dan meronta-ronta
sambil meminta tolong kepada suaminya, namun sang Buta Ijo
tidak

memperdulikan,

bahkan

dengan

segala

upaya

Putri

dilumpuhkan sehingga tidak berdaya di atas punggungnya.


Pangeran legawa masih sempat mendengar jeritan istrinya
meminta tolong. Ia pun secepat kilat keluar dari kolam untuk
mengejar istrinya yang dilarikan ke hutan Karendawahana
(

diperkirakan

perkelahian

sekitar
sengit

desa
dan

Buntet
seru,

sekarang
keduanya

).

Terjadilah
sama-sama

mengeluarkan berbagai kesaktian yang dimiliki yang sangat


ampuh.
Sang Buta Ijo mengeluarkan ajaran hawa racun yang
ganas, sedangkan Pangeran Legawa menimbulkan hawa dingin
yang

dapat

membekukan

darah

dan

menghentikan

angin

prahara. Akhirnya sng Buta Ijo mati karena pukulan berat


Pangeran Legawa, badannya hancur luluh, musnah hilang lenyap
diserap bumi. Setelah itu Pangeran Legawa segera medekati
istrinya yang masih pingsan. Setelah diobati dengan ilmu yang
dimilikinya, tidak lama kemudian istrinya yang sangat ia cintai
siuman dari pingsannya.

80

Karena sangat gembiranya, keduanya memutuskan untuk


segera pulang ke Galuh. Namun diperjalanan tersangkut akar
pohon

dukuh

hingga

keduanya

terjatuh.

Anehnya

setelah

peristiwa itu keduanya menjadi tidak tahu arah. Hutan belantara


dirasakan menjadi buntu, gelap gulita, dan sukar menentukan
arah ke mana melanjutkan perjalanan pulang. Akhirnya suami
istri itu memutuskan untuk tidak pulang ke Galuh, dan membuat
sebuah pesanggrahan di tempat ini.
Di lokasi tempat sang Pangeran Legawa dan Putri Arum
Sari mendirikan pesanggrahan inilah kemudian dikenal dengan
nama Buntet, yang berasal dari bantu, buntek, dan buncret
yang artinya buntu.
Menurut oral histori yang ada, Buntet juga pernah
digunakan oleh Mbah Kuwu ( Pangeran Cakrabuana, putra Prabu
Siliwangi dan Uwak dari Syarif Hidayatullah ) untuk mendirikan
Padepokan, sehingga pada perkembangan selanjutnya Buntet
Pesantren oleh penduduk di sekitarnya disebut dengan Depok.
Pada periode selanjutnya, di Desa Buntet Pesantren ini
didirikan sebuah pesantren, Desa Mertapada Kulon, Kecamatan
Astanajapura, Kabupaten Cirebon. Desa ini di batasi oleh dua
buah sungai yaitu sungai Ciwado dan Kali Kanci.

81

Batas Desa Buntet terdiri dari sebelah barat berbatasan


dengan Desa Munjul. Sebelah utara berbatasan dengan sungai
Ciwado. Sebelah timur berbatasan dengan kali Kanci dan sebelah
selatan berbatasan dengan Desa Kiliem dengan desa luas
wilayah seluruh komplek pesantren 7 hektar.
3.5. Pesantren Buntet
Pesantren Buntet berada di Blok Manis Depok Pesantren,
Desa Mertapada Kulon Kecamatan Astanajapura Kabupaten
Cirebon. Letak Desa Mertapada Kulon adalah 12 Km ke arah
Selatan dari Kota Cirebon; 26 Km ke arah Timur dari Ibu Kota
Kabupaten Cirebon. Kedudukan Pesantren Buntet berada di
antara empat perbatasan yaitu sebelah Barat, berbatasan
dengan Desa Munjul; sebelah Utara berbatasan dengan Sungai
Cimanis Desa Buntet; sebelah Timur berbatasan dengan Kali
Anyar; dan sebelah Selatan berbatasan dengan Blok Kiliyem
Desa Sida Mulya.
Lokasi Pesantren Buntet, dapat dikategorikan sebagai
tempat yang strategis dan sangat mudah dijangkau dengan
menggunakan kendaraan jenis apapun. Lantaran jalan yang
menuju ke lokasi itu, sejak lama terlewati kendaraan umum (bus,
elf dan truk) dari Ciledug menuju ke Cirebon; bahkan bus atau

82

truk dari arah Jawa Tengah menuju ke Jakarta (melalui jalan


alternatif) dapat melewati jalan raya Mertapada Kulon (Desa di
mana terdapat Pesantren Buntet).
3.5.1 Sekolah Formal di Buntet Pesantren
1. Akademi Perawat Buntet Pesantren
2. SMK Mekanika Buntet Pesantren
3. SMP Plus Al-MAARIF Buntet Pesantren
4. Madrasah Aliyah Negeri (MAN)
5. Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Putera (MANU Putra)
6. Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Puteri (MANU Putri)
7. Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama Putra I (MTsNU Putra
I)
8. Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama Putra II (MTsNU Putra
II)
9. Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama Putri III (MTsNU Putri
III)
10.

Madrasah Ibtidaiyah Wathoniyah Putra

83

11.

Madrasah Ibtidaiyah Wathoniyah Putri

12.

Madrasah Diniyah

13.

Taman Kanak-Kanak Al- ANWAR

3.5.2 Letak Pesantren


Di

tempat

yang

sekarang

ini

berada,

pesantren

ini

posisinya ada di antara dua Desa: + 80% Pesantren ini menjadi


wilayah administratif Desa Mertapada Kulon dan sisanya bagian
Barat milik Desa Munjul. Pesantren ini sendiri bukanlah nama
Desa, melainkan hanya tempat/padepokan santri. Namun seiring
dengan perkembangan zaman, dari ratusan tahun yang lalu,
penduduk

pesantren

ini

makin

lama

makin

berkembang.

Kepadatannya cukup besar.


Wilayah Buntet Pesantren ini mirip sebuah desa yang
cukup luas, tetapi bukanlah nama Desa Buntet. Sebab Desa
Buntet yang memiliki kepala desa berlokasi sebelah Utara.
Adapun posisi pesantren ini terletak di antara dua desa, desa
Mertapada dan desa Munjul. Sebelah Utara Pesantren ini dibatasi
oleh Buntet Desa; sebelah Timur Desa Mertapada (LPI); Sebelah
Selatannya adalah Desa Kiliyem dan sebelah Barat adalah Desa
Munjul.

84

3.5.3 Masyarakat Penghuni Pesantren


Berbeda

dengan

Pondok

Pesantren

lain,

keberadaan

Pesantren Buntet ini cukup unik karena komunitasnya yang


homogen; antara santri dan penduduk asli pesantren ini sulit
dibedakan, terutama bila dipandang oleh orang lain. Orang yang
mengenal Buntet sebagai sebuah pesantren, ketika bertemu
dengan salah seorang lulusan pesantren ini, dianggapnya
sebagai santri sehingga kesan yang timbul adalah berdekatan
dengan ilmu keagamaan dan ubudiah. Karena memang tidak
bisa dipungkiri, baik penduduk asli pesantren ini ataupun santri,
keberadaan

sehari-hari,

tidak

lepas

dari

aktivitas

nyantri

(mengaji).
Setidaknya ada tiga jenis masyarakat penghuni pesantren:
Pertama, masyarakat keturunan kyai. Dari catatan silsilah
keturunan Kyai Buntet, hampir seluruh Kyai di Pesantren ini
adalah anak cucu dari keturunan Syarif Hidayatullah, salah
seorang anggota Walisongo. Kedua, Masyarakat biasa. Asal mula
mereka adalah para santri atau teman-teman Kyai yang sengaja
diundang untuk menetap di Buntet.
Mereka memiliki hubungan yang cukup erat bahkan saling
menguntungkan (mutualisme). Awalnya mereka menjadi khodim

85

(asisten) atau teman-teman Kyai kemudian karena merasa betah


akhirnya menikah dan menetap di Buntet Pesantren hingga
sekarang. Penduduk Buntet Pesantren yang bukan dari turunan
Kyai ini dulunya dikenal dengan istilah masyarakat Magersari.
Ketiga, masyarakat santri. Merekalah yang membesarkan nama
baik

Buntet

Pesantren.

Sebab namanya juga perkampungan santri, aktivitas sehari-hari


diramaikan oleh hingar-bingar pelajar yang menuntut ilmu; siang
para santri disibukkan dengan belajar di sekolah formal, dan
malam harinya belajar kitab atau diskusi tentang agama di
masing-masing kyai sesuai kapasitas ilmunya.

Hasil Pendataan Keluarga di Blok Buntet Pesantren

NO.

DUSUN/R

JUMLAH

JUMLAH JIWA DALAM

RT

KELUARGA
Laki-laki

Perempuan

1.

04

509

484

2.

05

226

212

86

3.

06

396

371

JUMLAH

1.131

1.067

Jadi, jumlah keseluruhan warga di Blok Buntet Pesantren yaitu


2.198 orang.