Anda di halaman 1dari 6

Negara dan konstitusi adalah dwitunggal.

Jika diibaratkan bangunan, negara sebagai pilar-pilar atau


tembok tidak bisa berdiri kokoh tanpa pondasi yang kuat, yaitu konstitusi Indonesia. Hampir setiap
negara mempunyai konstitusi, terlepas dari apakah konstitusi tersebut telah dilaksanakan dengan
optimal atau belum. Yang jelas, konstitusi adalah perangkat negara yang perannya tak bisa
dipandang sebelah mata.
Pancasila sebagai ideal nya
Negara sepakat bahwa basis pemerintahan didasarkan atas aturan hokum dan konstitusi.
Konstitusi sebagai keinginan bersama, kesepakatan bersama

Konstitusi merupakan jaminan yg paling efektif dalam menjaga agar


kekuasaan yg ada dlm Negara tidak salah gunakan dan hak asasi
manusia/warga Negara tidak dilanggar,konstitusi sangat penting artinya
bagi suatu Negara karena kedudukannya dalam mengatur dan membatasi
kekuasan dalam suatu Negara.
hal yang termuat dalam konstitusi tersebut menun jukkan arti
pentingnya suatu konstitusi yang menjadi barometer kehidupan
bernegara dan berbangsa. Konstitusi juga memberikan arah dan
pedoman bagi generasi penerus bangsa dalam menjalankan suatu
negara. Konstitusi memiliki kedudukan istimewa dan menjadi
sumber hukum utama. Oleh karena itu, tidak boleh ada satu
peraturan perundang-undangan pun yang bertentangan dengannya.
Konstitusi sangat diperlukan oleh suatu negara. Oleh karena itu,
semua negara yang baru merdeka akan menyusun konstitusi.
Konstitusi merupakan dokumen nasional yang bersifat mulia dan
istimewa dan sekaligus merupakan dokumen hukum dan politik.
Konstitusi berisi kerangka dasar, susunan, fungsi, dan hak lembaga
negara, pemerintahan, hu bungan antara negara dan warganya,
serta pengawasan jalannya pemerintahan.
Penyimpangan pada masa Orde baru Dalam hal konstitusi

1.
2.

Perubahan kekuasaan yang statis


Perekrutan politik yang tertutup

3.
4.
5.

Pemilihan umum yang kurang demokratis


Kurangnya jaminan hak asasi manusia
Salah satu ciri dari negara yang menganut paham demokrasi adalah adanya
pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia. Dalam pemerintahan Orde Baru, dirasakan
penghormatan dan perlindungan HAM masih kurang diperhatikan.
6.
Presiden mengontrol perekrutan organisasi politik
7.
Pengisian jabatan ketua umum partai politik harus mendapat persetujuan dari
presiden. Seharusnya pemilihan ketua umum partai diserahkan kepada kader partai
bersangkutan.
8.
Presiden memiliki sumber daya keuangan yang sangat besar

Contoh penyimpangan Konstitusi


1.

Kasus Mesuji, di Provinsi Lampung, menyentak nurani. Rakyat,


yang sehari-hari bekerja sebagai petani atau petani penggarap,
harus menghadapi kekerasan senjata hanya karena mereka
hendak mempertahankan lahan garapannya.

aparat negara,

sebagai satu-satunya lembaga yang sah memonopoli penggunaan


kekerasan dalam alam demokrasi, diduga kuat ikut terlibat dalam
pelanggaran hak asasi manusia tersebut. mengakibatkan jatuhnya
sekitar 30 korban tewas dari kalangan petani setempat, membuka
mata kita bahwa pemerintah telah mengabaikan perlindungan
kepada kaum tani.. merujuk Pembukaan UUD 1945, salah satu
tujuan dibentuknya pemerintahan negara Indonesia ialah untuk
memberikan perlindungan kepada segenap tumpah darah dan
warga negara Indonesia.
2. PENTINGNYA KONSTITUSI BAGI NEGARA
3. Eksistensi konstitusi dalam kehidupan ketatanegaraan merupakan suatu hal yang

sangat krusial, karena tanpa konstitusi bisa jadi tidak akan terbentuk suatu Negara.
Dalam lintasan sejarah hingga awal abad ke-21 ini, hamper tidak ada Negara yang
tidak memiliki konstitusi. Hal ini menunjukkan betapa urgennya konstitusi sebagai

4.

5.
6.
7.

suatu perangkat Negara. Konstitusi dan Negara ibarat dua sisi mata uang yang satu
sama lain tidak terpisahkan.
Sejalan dengan perlunya konstitusi sebagai instrument untuk membatasi kekuasaan
dalam suatu Negara, Miriam Budi ardjo mengatakan Di dalam Negara-negara yang
mendasarkan dirinya atas demokrasi konstitusional. Undang-Undang Dasar
mempunyai fungsi yang khas yaitu membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian
rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang. Dengan
demikian diharapkan hak-hak warga Negara akan lebih terlindungi.Dalam konteks
pentingnya konstitusi sebagai pemberi batas kekuasaan tersebut,Kusnardi membagi
fungsi konstitusi menjadi 2 yaitu:
1. Membagi kekuasaan dalam Negara.
2. Membatasi kekuasaan pemerintah atau penguasa dalam Negara.
3. Deskripsi yang menyangkut masalah hak asasi manusia.

UNDANG-UNDANG DASAR 1945 SEBAGAI KONSTITUSI NEGARA


Undang-undang Dasar 1945 merupakan konstitusi bagi Negara Indonesia. Sebagai dasar
hukum, UUD 1945 memegang peranan dalam mewujudkan nilai-nilai luhur yang terkandung
dalam ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.
Pancasila merupakan hukum diatas segala hukum (staats fundamental norm). Artinya UUD
1945 sebagai dasar hukum, dalam pembuatannya tidak boleh beretentangan dan harus mematuhi
nilai-nilai yang terdapat pada Pancasila, sebab UUD 1945 adalah hukum yang setingkat di bawah
Pancasila (walaupun tidak tertera secara langsung dalam UU). Maka dari itu, dikenal lah sebuah
asas yang berbunyi lex superior derogat legi inferior, artinya, hukum yang lebih tinggi menjadi
acuan hukum yang lebih rendah.
UUD 1945 dalam proses pelaksanaannya tidak bersifat sattis/absolut. UUD 1945 dapat
diamandemen sesuai dengan keadaan dan kebutuhan negara. Bahkan soal perubahan UUD ini
sudah tertuang sendiri pada batang tubuh UUD 1945 Pasal 37. Dalam perubahannya ini juga
UUD 1945 harus tetap mematuhi asas lex superior derogat legi inferior. Sampai saat tulisan ini
ditulis, UUD 1945 sudah mengalami 4 kali amandemen.
Setiap warga negara Indonesia beserta pemerintah wajib mematuhi apa yang sudah tertulis
dalam UUD 1945. Sebab dengan cara ini, tujuan negara dalam menyelenggarakan kepentingan
umum tanpa menyingkirkan kepentingan pribadi dapat terlaksana dengan baik dan bijaksana.

Dari UUD 1945 hingga Amandemen Era


Reformasi
Setiap Konstitusi di negara manapun di dunia selalu menyimpan atau mengandung masalah dan
memiliki kekurangan serta kelemahan sehingga harus membuka diri untuk perbaikan. Konstitusi
merupakan hal yang paling mendasar bagi negara, karena konstitusi merupakan dasar dari semua
peraturan perundang-undangan yang diberlakukan dalam pemerintahan negara tersebut yang harus
tersiapkan dan tersusun secara konseptual agar tidak terlalu sering diperbaiki.
Bagi Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945 bukan cuma produk yuridis semata-mata dan
bukan hanya merupakan landasan yuridis saja bagi Negara Republik Indonesia tapi merupakan
lambing hak bangsa Indonesia menentukan nasibnya sendiri, sebagai lambang perjuangan rakyat
Indonesia untuk merebut kemerdekaan dan sekaligus sebagai faktor integritas bangsa.
UUD 1945 sangat kaitannya dengan kemerdekaan RI yang pada tanggal 17 Agustus 1945 sehingga
nilai-nilai yang terkandung dalam UUD 1945 bukan saja yang mengandung norma hukum tapi amat
sarat dengan muatan politik psikologis. Perbaikan maupun perubahan atau amandemen dari UUD
1945 bulan Cuma melihat dari segi yuridis saja, tapi harus tetap memperhatikan latar belakang
politik dan psikologis bangsa disaat menyusunnya disesuaikan dengan perkembangan politik dan
psikologis bangsa terkini.
Mengingat Konstitusi mengandung hal-hal yang paling mendasar dan harus disiapkan serta disusun
secara konseptual maka amandemen pada konstitusi harus berharap, memerlukan waktu untuk
penyesuaian dan evaluasi. UUD 1945 sejak disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 hanya berumur
4 tahun 4 bulan sudah diganti dengan UUD RIS yang juga hanya berumur kurang setahun karena
berganti dengan UUDS 1950 yang bertahan selama 9 tahun dan pada tanggal 9 Juli 1959 Negara
RI kembali ke UUD 1945. UUD 1945 sendiri baru beruur 2 bulan ketika Wakil Presiden
mengeluarkan Maklumat X yang memungkinkan pembentukan 8 Partai Politik dan ini merupakan
langkah awal menuju sistem pemerintahan parlementer.
Seharusnya hal ini sudah menjadi bahan pertimbangan awal yang mulai dievaluasi mengenai
kelemahan dan kekurangan dalam Konstitusi RI 1945. Mungkin karena situasi darurat perang antara
1945 s/d 1949 maka tidak sempat mengevaluasi Konstitusi RI 1945 dan UUD RIS 1949 dan UUDS

1950. Ketika diundangkan lagi UUD 1945 pada 9 Juli 1959 juga terjadi banyak pelanggaran
terhadap konstitusi itu sendiri, tetapi tidak dievaluasi untuk perbaikan.
Ketika Orde Baru mengambil alih pemerintahan dari rezim Soekarno maka Pancasila dan UUD 1945
mulai disakralkan , sehingga semakin sulit mengevaluasi konstitusi tersebut untuk perbaikan. Pada
saat era reformasi pemikiran untuk mengamandemen UUD 1945 mulai muncul dan menjamur.
Evaluasi terhadap konstitusi ini bukan saja pada hal-hal yang terjadi saat era reformasi tapi pada
semua permasalahan mulai sejak UUD 1945 disahkan dan diberlakukan kembali pada tahun 1959.
Hal yang tidak Diamandemen
Dilihat dari waktu relatif panjang usia konstitusi RI maka sudah memenuhi syarat untuk
diamandemen dan selama kurang lebih tiga tahun dari 2000-2004 proses amandemen telah
memperbaiki atau mengamandemen sekitar 80% dari pasal-pasal dan ayat UUD 1945.
Pada awal sidang Umum MPR RI 1999, telah dibuat kesepakatan dikalangan anggota MPR RI,
yang akan mengevaluasi dan melaksanakan amandemen UD 1945 , kesepakatan itu antara lain:
Mempertahankan Pembukaan UUD 1945, Mempertahankan NKRI, mempertahankan sistem
pemerintahan Presidensiil, Memindahkan ketentuan-ketentuan normatif dalam penjelasan ke dalam
pasal-pasal UUD 1945 dan Perubahan dilakukan dengan cara addendum. (DP)

Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya


baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur olehpemerintahan yang berada di
wilayah tersebut.[1][2][3] Negara juga merupakan suatu wilayah yang memiliki suatu sistem atau aturan
yang berlaku bagi semua individu di wilayah tersebut, dan berdiri secara independent. Syarat primer
sebuah negara adalah memiliki rakyat, memiliki wilayah, [4] dan memiliki pemerintahan yang
berdaulat. Sedangkan syarat sekundernya adalah mendapat pengakuan dari negara lain.

Pasal penghinaan presiden


Rohaniawan Romo Benny Susetyo menilai Presiden Joko Widodo tengah dijebak orang-orang di
sekelilingnya melalui rencana dihidupkannya kembali pasal penghinaan presiden dalam rancangan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP).
Romo Benny mengatakan rencana penghidupan pasal penghinaan presiden sama sekali tidak
menggambarkan karakter Jokowi. Oleh karena itu, ia menilai pasal ini dapat menjatuhkan citra

Presiden Jokowi. Kendati demikian, Romo Benny tidak menyebutkan siapakah diduga menjebak
Jokowi. "Siapa sebenarnya orang-orang ini yang menjebak dan menjatuhkan citra Jokowi? Ada
agenda apa dibalik ini?" ujar Romo Benny di Jakarta, Senin (10/8).
Tak hanya itu, ia pun meyakini Presiden Jokowi pasti akan menolak pasal ini apabila benar-benar
mengetahui dan mengerti pasal penghinaan presiden ini akan mematikan demokrasi di Indonesia.
Sebab, ia menilai penghidupan pasal tersebut sama dengan membawa Indonesia kembali ke rezim
otoriter.
Diketahui, pasal penghinaan presiden telah dibatalkan Mahkamah Konstitusi pada 2006 lalu.
Dengan substansi yang serupa, pasal tersebut dibangkitkan kembali dalam RKUHP. Adapun yang
membedakan adalah ancaman hukuman penjara yang lebih berat kini diatur dalam RKUHP.
Dalam pasal 262 RKUHP orang yang menyerang diri presiden atau wakil presiden dapat dipidana
penjara paling lama sembilan tahun. Selain itu, mengenai penahanan pun diatur dalam Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana pasal 21.
Oleh sebab itu, Direktur Lima Indonesia Ray Rangkuti mengatakan pihak kepolisian dapat langsung
memanggil bahkan menahan pihak yang dianggap menghina presiden.
"Kalau lihat redaksi pasal ini, substansinya masih tabu. Polisi dapat menangkap siapapun yang
mengkritik," ujar Ray.
Matinya Industri Kreatif
Selain mematikan nalar demokrasi, Romo Benny menilai industri kreatif di Indonesia akan mati
apabila pasal penghinaan presiden ini lolos dan kemudian diundangkan. "Pasal ini bisa
memberangus orang-orang yang mencoba menyuarakan kebenaran," tuturnya.
Adapun industri kreatif yang dimaksud seperti, jurnalis, seniman bahkan komedian. Menurutnya,
penerapan pasal penghinaan presiden nantinya akan bersifat subjektif.
Hal serupa diutarakan Peneliti Indonesian Institute for Development and Democracy Arif Susanto. Ia
mengatakan pasal penghinaan presiden ini mengancam kebebasan berekspresi.
Menurutnya, pasal penghinaan presiden merupakan pasal karet yang dapat menyebabkan multi
tafsir dan tidak dapat membedakan mana bentuk kritikan masyarakat dan mana yang merupakan
murni penghinaan terhadap presiden.
Pernyataan itu didukung Ketua Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Riza Damanik.
"Kalau program masyarakat yang tidak baik, tidak ada salahnya mayarakat memprotes.
Penghinaaan ini perlu dipilah-pilah," tuturnya.