Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Hukum Internasional

Definisi oleh Prof. Dr. J.G. Starke

Hukum Internasional adalah sekumpulan hukum yang sebagian besar terdiri atas asas-asas
dan peraturan tingkah laku yang mengikat negara-negara sehingga ditaati dalam hubungan
negara-negara tersebut.

Definisi oleh Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmaja, S.H.

Hukum Internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas yang mengatur hubungan atau
persoalan yang melintasi batas negara antara negara dengan negara, dan negara dengan
subjek hukum lain yang bukan negara atau subjek hukum bukan negara satu sama lain.

Definisi oleh Rebecca M Wallace

Hukum Internasional merupakan peraturan-peraturan dan norma-norma yang mengatur


tindakan negara-negara dan kesatuan lain yang pada suatu saat diakui mempunyai
kepribadian internasional, seperti misalnya organisasi internasional dan individu, dalam hal
hubungan satu dengan lainnya.

Hugo de Groot

Mengemukakan bahwa hokum dan hubungan internasional didasarkan pada kemauan bebas
atau hokum alam dan persetujuan beberapa atau semua Negara. Ini ditujukan demi
kepentingan bersama dari mereka yang menyatakan diri di dalamnya.
Hukum internasional adalah keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas yang mengatur
hubungan atau persoalan yang melintasi batas-batas Negara antara Negara dengan Negara,
Negara dengan subjek hukum internasional lainnya yang bukan Negara atau subjek hukum
bukan Negara satu sama lain.

Definisi oleh Wirjono Prodjodikoro

Hukum Internasional adalah hukum yang mengatur perhubungan hukum antar berbagai
bangsa di berbagai Negara.

Hukum Interrnasional merupakan istilah yang berasal dari bahasa inggris, yakni:
internasional law atau common law atau law of nations atau transnasional law.
Hukum Internasional dalam istilah bahasa perancis disebut dengan droit internasional.
Terdapat perbedaan istilah hukum internasional dalam bahasa perancis dan bahasa inggris,
yakni pada kata droit dan law karena istilah droit dalam bahasa perancis berarti aturan
sedangkan istilah law dalam bahasa inggris berarti hukum. Sehingga dalam kamus bahasa
Indonesia diterjemahkan menjadi hukum antara negara dan hukum bangsa-bangsa.
Kata Internasional dalam istilah Hukum Interrnasional menunjukkan bahwa bidang yang
dikaji oleh hukum internasional bukanlah hukum yang bersifat lokal atau hanya berlaku di
tingkatan lokal (nasional). Hal itu menunjukkan bahwa bidang kajian hukum internasional
mencakup hukum yang berlaku bagi negara-negara di dunia, baik negara tersebut sudah
tergabung (menjadi anggota) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun negara yang belum
tergabung dalam PBB.
Oleh karena ruang lingkup hukum interrnasional yang mencakup negara-negara di dunia,
maka hukum internasional juga mengkaji segala hal mengenai organisasi-organisasi dunia,
seperti PBB dan united Nations termasuk Piagam Kesepakatan Internasional United Charter.
Hal ini disebabkan PBB merupakan sebuah badan internasional yang mendukung dan
mendorong terciptanya ketentuan atau aturan-aturan internasional (hukum internasional) yang
berlaku dan bersifat mengikat bagi anggota-anggotanya.
Pengertian hukum internasional adalah :
Hukum Internasional adalah peraturan atau norma-norma hukum yang mengatur
hubungan-hubungan antara subyek-subyek hukum internasional.
Selain itu, hukum interrnasional juga dapat dimaknai sebagai keseluruhan kaidah dan
asas yang mengatur hubungan-hubungan yang melintasi batas-batas negara dengan subjek
hukum negara dengan negara atau negara dengan subjek hukum bukan negara atau subjek
hukum bukan negara dengan subjek hukum bukan negara.

SUMBER HUKUM INTERNASIONAL


Sumber hukum dibedakan menjadi dua yaitu sumber hukum formail dan sumber hukum
materiil.
Sumber hukum formail adalah sumber hukum yang dilihat dari bentuknya, sedang
sumber hukum materiil adalah segala sesuatu yang menentukan isi dari hukum.
Menurut Starke, sumber hukum materiil hukum internasional diartikan sebagai bahanbahan aktual yang digunakan oleh para ahli hukum intrenasional untuk menetapkan hukum
yang berlaku bagi suatu peristiwa atau situasi tertentu.
1. Sumber Hukum Formil merujuk kepada adanya proses formal yang diakui metodenya oleh
institusi yang berwenang menerbitkan ketentuan yang mengikat yang biasanya diterapkan
dalam sebuah sistem hukum tertentu. Dari sebuah hukum formal inilah validitas sebuah
hukum ditemukan.
2. Sumber Hukum Materiil merujuk kepada bukti-bukti baik secara umum maupun khusus
yang menunjukkan bahwa hukum tertentu telah diterapkan dalam suatu kasus tertentu. Dari
sebuah hukum materiil inilah isi dari sebuah hukum bisa ditemukan. Dengan kata lain,
sumber hukum materiil memberikan isi dari hukum sementara hukum formil memberikan
kewenangan dan validitas pemberlakuannya.
Macam-macam sumber hukum formal:
1. Perjanjian Internasioanl (Treaty),
2. Kebiasaan Internasional, Prinsip Hukum Umum,
3. Karya Yuridis (Yuristic Work),
4. Keputusan-Keputusan Organ/Lembaga Internasional (Decisions of The Organs of
International Institution),
5. Yurisprudensi (Keputusan Pengadilan) Dan Pendapat Ahli Hukum Internasional

1. Perjanjian Internasioanl (Treaty), Perjanjian internasional ada dua macam:


A. Law Making Treaties
B. Treaty Contract
Law making treaties adalah perjanjian internasional yang menetapkan ketentuan hukum
internasional yang berlaku umum. Law making treaties ini menetapkan ketentuan- ketentuan
hukum perjanjian internasional (treaty rules). Law making treaties juga disebut international
legislation. Contoh law making treaties sebagai berikut:
a. Konvensi Perlindungan Korban Perang Jenewa Tahun 1949.
b. Konvensi Hukum Laut Jenewa Tahun 1958.
c. Konvensi Wina Tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik.
d. Konvensi Wina Tahun 1963 tentang Hubungan Konsuler.

Treaty contract menetapkan ketetuan hukum internasional yang berlaku bagi dua pihak atau
lebih yang membuatnya dan berlaku khusus bagi pihak-pihak tersebut. Ketentuan hukum
internasional yang menetapkan treaty contract hanya untuk hal khusus dan tidak
dimaksudkan berlaku umum. Namun dalam beberapa hal dapat berlaku secara umum melalui
kebiasaan,yaitu jika ada pengulangan, ditiru oleh treaty, dan sebagai hukum internasional
kebiasaan.
2. Kebiasaan Internasional
Kebiasaan internasional menetapkan ketentuan-ketentuan hukum kebiasaan internasional
(international costomary rules). Kabiasaan menurut pasal 38 ayat (1) Piagam Mahkamah
Internasional adalah kebiasaan yang terbukti dalam praktik umum dan diterima sebagai
hukum. Contoh kebiasaan internasional adalah penyambutan tamu dari negara-negara lain
dan yang mengharuskan menyalakan lampu bagi kapal yang berlayar pada malam hari di laut
bebas untuk menghindar tabrakan. Semula ketentuan tentang menyalakan lampu kapal
tersebut ditetapkan oleh pemerintah Inggris, tetapi kemudian diterima umum sebagai hukum
kebiasaan internasional. Badan peradilan banyak berperan dalam menetapkan ketentuan
hukum kebiasaan internasional. Adapun badan-badan peradilan yang menetapkan ketentuan
hukum kebiasaan internasional sebagai berikut:
A. Peradilan Internasional
Peradilan internasional dapat dibedakan :
a. bersifat umum, misalnya The International Court of Justice (ICJ); dan
b. bersifat sementara, misalnya Mahkamah Militer Internasional.
B. Peradilan Nasional
Putusan peradilan nasional dapat menjadi sumber hukum internasional melalui berikut ini:
a. Preseden (precedent), yaitu putusan peradilan nasional suatu negara yang ditiru atau
dicontoh dalam praktik hukum internasional.
b. Kebiasaan, yaitu proses pembuatan suatu ketentuan menjadi ketentuan hukum yang
berlaku umum, tetapi tidak memenuhi persyaratan yang berlaku bagi perundang-undangan.
C. Abitrase Internasional
Lembaga abitrase internasional bersifat tidak tetap. Lembaga ini ada jika dikehendaki oleh
para pihak. Dalam menyelesaikan masalah, lembaga abitrase cenderung menempuh cara
kompromi.
3. Prinsip Hukum Umum
Yang dimaksud prinsip hukum umum adalah dasar-dasar sistem hukum pada umumnya yang
berasal dari asas hukum Romawi. Menurut pendapat Sri Seianingsih Suwardi,S.H., fungsi
dari prinsip-prinsip hukum umum ini terdiri dari hal-hal sebagai berikut:

A. Sebagai pelengkap dari hukum kebiasaan dan perjanjian internasional. Contoh: Mahkamah
Internasional tidak dapat menyatakan non liquet, yaitu tidak dapat mengadili karena tidak ada
hukum yang mengaturnya. Tetapi dengan sumber ini Mahkamah Internasional bebas
bergerak.
B. Sebagai penafsiran bagi perjanjian internasional dan hukum kebiasaan. Jadi kedua sumber
hukum itu harus sesuai dengan asas-asas hukum umum.
C. Sebagai pembatasan bagi perjanjian internasional dan hukum kebiasaan. Contoh,
perjanjian internasional tidak dapat memuat ketentuan yang bertentangan dngan asas-asas
hukum umum.
4. Karya Yuridis (Yuristic Work)
Karya yuridis bukan merupakan sumber hukum yang independen, tetapi hanya sebagai
pelengkap atau penjelasan hukum internasional, yaitu berupa analisis secara umum terhadap
peristiwa-peristiwa tertentu.
5. Keputusan-Keputusan Organ/Lembaga Internasional (Decisions of The Organs of
International Institution)
Keputusan-keputusan organ atau lembaga internasional pada prinsipnya hanya
mengikutinegara-negara anggota, tetapi dapat berlaku secara umum. Misalnya: Universal
Declaration of Independent.
6. Yurisprudensi (Keputusan Pengadilan) Dan Pendapat Ahli Hukum Internasional
Yurisprudensi internasional (judicial decisions) dan pendapat ahli hukum internasional
merupakan sumber hukum tambahan yang digunakan untuk membuktikan dipakai tidaknya
kaidah hukum internasional berdasarkan sumber hukum primer, seperti perjanjian
internasional, kebiasaan internasional, dan prinsip-prinsip hukum umum dalam
menyelesaikan perselisihan internasional. Walaupun bersifat tidak mengikat, yang berarti
tidak dapat menimbulkan suatu kaidah hukum, mamun tetap memiliki pengaruh besar dalam
perkembangan hukum internasional.
Sumber hukum materiil
Sumber hukum material adalah faktor yang menentukan isi ketentuan hukum yang
berlaku. Sumber hukum material bagi hukum internasional adalah prinsip-prinsip yang
menentukan isi ketentuan hukum internasional yang berlaku. Prinsip-prinsip tersebut
misalnya, bahwa setiap pelanggaran perjanjian menimbulkan kewajiban untuk memberikan
ganti rugi dan korban perang harus diperlakukan manusiawi. Diantara prinsip-prinsip tersebut
ada yang berlaku memaksa. Prisnip ini disebut ius cogens. Prinsip yang berlaku memaksa
misalnya, perjanjian harus ditaati (pacta sunt servanda). Berlakunya prinsipini tidak dapat
disimpangi oleh ketentuan hukum internasional yang ditetapkan kemudian dan tidak dapat
diubah oleh prinsip hukum internasional yang sifatnya tidak sama.

Penggolongan menurut Pasal 38 (1) Statuta Mahkamah Internasional


Sumber Hukum Internasional menurut ketentuan Pasal 38 (1) Statuta Mahkamah
Internasional adalah terdiri dari :
1. Perjanjian Internasional (International Conventions)
2. Kebiasaan International (International Custom)
3. Prinsip Hukum Umum (General Principles of Law) yang diakui oleh negara-negara eradab.
4. Keputusan Pengadilan (judicial decisions) dan pendapat para ahli yang telah diakui
kepakarannya