Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Secara umum Evaluasi kinerja menjelaskan mengenai suatu proses umpan balik atas
kinerja yang lalu dan mendorong adanya produktivitas di masa mendatang. Dalam era
globalisasi telah menuntut adanya perubahan yang sangat cepat dan menyebabkan adanya
pergeseran pemikiran yang kompleks di segala bidang. Untuk itu perusahaan harus memiliki
keunggulan kompetitif (competitive advantage) agar dapat memenangkan persaingan,
minimal untuk mempertahankan operasi perusahaan. Salah satu keunggulan kompetitif yang
penting bagi perusahaan adalah karyawan perusahaan. Karyawan perusahaan merupakan
penggerak operasi perusahaan, sehingga jika kinerja karyawan perusahaan baik, maka kinerja
perusahaan juga akan meningkat.
Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan
strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi pada ekonomi
(Armstrong dan Baron, 1998). Dengan demikian, kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan
dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan
dan bagaimana cara mengerjakannya.
Pengertian kinerja karyawan menunjuk pada kemampuan karyawan dalam melaksanakan
keseluruhan tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Kinerja para karyawan akan
meningkat apabila mereka terlibat secara aktif dan ikut berpartisipasi dan menjadi bagian tim
dalam proses kegiatan pada unit organisasi dimana mereka bekerja.

Dengan adanya partisipasi karyawan dalam proses kegiatan organisasi, hal ini akan
meningkatkan kesadaran karyawan akan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan
kepadanya. Dengan adanya partisipasi, karyawan tahu benar mengenai apa yang harus
dikerjakan berkaitan dengan pencapaian tujuan perusahaan.
Masalah kinerja bagi perusahaan adalah masalah yang sangat penting. Tanpa adanya
kinerja yang baik tidak mungkin perusahaan dapat menghasilkan produk yang kompetitif.
Peningkatan kinerja mempunyai implikasi yang positif bagi perusahaan itu sendiri, artinya
perusahaan dapat menghasilkan kuantitas dan kualitas produk yang optimal dengan harga
bersaing. Selain itu juga, mempunyai implikasi yang positif terhadap kualitas kehidupan
karyawan, karena memberikan sumbangan terhadap peningkatan kualitas hidup karyawan.
Kinerja karyawan akan meningkat bila didukung oleh penerapan sistem manajemen kinerja
dan sistem pengembangan karir yang baik dan efektif serta penerapan kerjasama tim dan
partisipasi karyawan.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Manajemen Partisipatif
Partisipasi bukanlah suatu pengetahuan yang eksak, tetapi merupakan suatu sistem.
Bilamana sistem ini dapat diterapkan dengan serasi maka akan diperoleh suatu hasil
partisipasi yang mendukung keberhasilan manajemen dalam usaha-usaha mencapai
tujuan. Upaya terciptanya partisipasi, secara terpadu dan aktif kearah peningkatan
poduktivitas diperlukan sistem manajemen yang tepat dapat melalui Pengendalian Mutu
Terpadu (PMT) yang dalam pelaksanaannya kendali mutu dilakukan oleh Gugus Kendali
Mutu (GKM). Partisipasi merupakan terlibatnya seseorang orang secara mental dan
emosional didalam satu kelompok yang merangsang mereka untuk berkontribusi kepada
tujuan kelompok dan berbagi tanggung jawab untuk apa yang dihasilkan (Manuaba,
1994).
Pertama adalah keberadaan manusia itu sendiri. Dalam literatur jawa disebutkan
diuwongke. Artinya betapapun rendahnya jabatan seseorang, mereka harus kita

manusiakan. Dihormati pendapatnya, diakui jabatannya, dilibatkan dalam pengambilan


keputusan.
Kedua adalah Mental dan Emosiaonal, memiliki arti bahwa kerja tidak hanya otot
belaka. Teknik dan strategi haruslah menjadi bahasan utama. Saat ini jaringan menjadi
sangat penting, apabila ada satu orang memiliki tiga jaringan, maka kalau dalam sebuah
kelompok kerja ada lima orang, akan ada lima belas jaringan. Apabila jaringan ini
dioptimalkan, maka efektif dan efisien akan didapat.
Ketiga adalah Kelompok. Secara naluriah, hidup manusia harus berkelompok.
Seseorang hanya memiliki keahlian terbatas, ia perlu bantuan orang lain. Apabila dari
masingmasing orang memiliki keahlian yang berbeda, maka akan terjadi kekuatan yang
sinergis. Hasil yang diperoleh pun merupakan kerjasama. Monumen yang dihasilkan pun
juga milik bersama, tak ada lagi milik perseorangan.
B. Pengertian Kerjasama Tim
Tim adalah suatu unit yang terdiri atas dua orang atau lebih yang berinteraksi dan
mengoordinasi kerja mereka untuk tujuan tertentu. Definisi ini memiliki tiga komponen.
Pertama, dibutuhkan dua orang atau lebih. Kedua, orang orang dalam sebuah tim memiliki
interaksi regular. Ketiga, orang orang dalam sebuah tim memiliki tujuan kinerja yang sama.
Perbedaan antara kelompok dan tim
KELOMPOK

TIM

Memiliki pemimpin yang ditunjuk

Berbagi peran kepemimpinan

Akuntabilitas individual

Akuntabilitas mutual dan individu

Tujuan kelompok dan organisasi sama

Visi atau tujuan khusus tim

Hasil kerja individual


Hasil kerja kolektif
Mengadakan pertemuan pertemuan
efisien

Pertemuan pertemuan mendorong


diskusi terbuka

Efektifitas secara tidak langsung diukur


oleh pengaruh bisnis

Efektifitas secara langsung diukur


dengan menilai kerja kolektif

mendiskusikan, memutuskan,
mendelegasikan pekerjaan untuk para

mendiskusikan, memutuskan, berbagi

individu

pekerjaan

1.1 JENIS TIM


a. Tim Formal
Tim formal diciptakan oleh organisasi sebagai bagian dari struktur formal organisasi. Dua
jenis tim formal yang paling umum adalah tim vertikal dan tim horizontal.
b. Tim Vertikal
Tim vertikal terdiri dari seorang manajer dan para bawahannya dalam rantai komando formal.
Terkadang tim ini disebut tim fungsional atau tim komando. Setiap tim diciptakan oleh
organisasi untuk mencapai tujuan tujuan tertentu lewat aktifitas dan interaksi bersama para
anggota.
c. Tim Horizontal
Tim horizontal terdiri atas karyawan karyawan dari tingkat hierarkis yang hamper sama,
tetapi dari bidang keahlian yang berbeda. Dua jenis tim horizontal yang paling umum adalah
angkatan tugas dan komite.

1. Angkatan tugas adalah kelompok karyawan dari departemen departemen berbeda


yang dibentuk untuk menangani aktifitas tertentu dan hanya bertahan sampai tugas itu selesai.
2. Komite biasanya berumur panjang dan mungkin merupakan bagian permanen dari
struktur organisasi. Komite memberikan keuntugan yaitu: memungkinkan para anggota
organisasi untuk bertukar informasi, menghasilkan saran saran untuk mengoordinasi unit
unit organisasional yang diwakilkan, mengembangkan berbagai ide dan solusi baru untuk
masalah masalah organisasional yang ada, dan membantu perkembangan berbagai praktik
dan kebijaksanaan organisasional yang baru.
d. Tim dengan Tujuan Khusus
Tim dengan tujuan khusus adalah tim yang diciptakan diluar organisasi formal untuk
mengerjakan proyek kepentingan atau kreatifitas khusus. Tim dengan tujuan khusus masih
merupakan bagian dari organisasi formal dan memiliki struktur laporannya sendiri.

e. Tim dengan Kepemimpinan Mandiri


Tim yang dibentuk dalam satu departemen yang sama dan anggotanya adalah karyawan
untuk mendiskusikan cara-cara peningkatan kualitas, efisiensi dll.

Tim pemecahan masalah biasanya terdiri atas 5 sampai 12 karyawan per jam dari
departemen yang sama yang dengan sukarela bertemu untuk mendiskusikan cara cara
peningkatan kualitas, efisiensi, dan lingkungan kerja. Tim pemecahan masalah biasanya
merupakan langkah pertama dalam langkah perusahaan menuju partisipasi karyawan yang
lebih besar. Seiring dengan bertambah dewasanya perusahaan, tim pemecahan masalah
berangsur angsur berkembang menjadi tim dengan kepemimpinan mandiri.
Kepemimpinan mandiri biasanya terdiri dari 5 sampai 20 pekerja dengan lebih dari
satu keterampilan yang menggilir pekerjaan untuk menghasilkan produk atau layanan yang
menyeluruh atau setidaknya satu aspek menyeluruh atau bagian dari sebuah produk atau
6

layanan. Ide pokoknya adalah bahwa tim tim itu sendiri, dan bukan para manajer atau
supervisor, bertanggung jawab atas pekerjaan mereka, membuat keputusan, mengawasi
kinerja mereka sendiri, dan mengubah perilaku kerja mereka seperti yang dibutuhkan untuk
memecahkan masalah, mencapai tujuan, dan menyusuaikan diri terhadap kondisi kondisi
yang berubah.
Tim dengan kepemimpinan mandiri merupakan tim permanen yang secara khusus meliputi
elemen elemen berikut ini :

Tim mencakup para karyawan yang memiliki beberapa keterampilan dan fungsi, dan
keterampilan keterampilan yang dikombinasikan sudah cukup untuk mengerjakan tugas
organisasional yang besar.

Tim diberi akses menuju sumber sumber daya seperti informasi, peralatan, mesin
dan persediaan yang dibutuhkan untuk mengerjakan seluruh tugas.

Tim diberi kekuasaan dengan otoritas pembuatan keputusan yang berarti bahwa para
anggota memiliki kebebasan untuk memilih anggota baru, memecahkan masalah,
menghabiskan uang, mengawasi hasil, dan merencanakan masa depan.

f. Tim di Lingkungan Kerja yang Baru

1.2. PERAN ANGGOTA


Dalam tim tim yang sukses syarat kinerja tugas dan kepuasan social dipenuhi oleh
munculnya dua jenis peran yaitu spesialis tugas dan sosioemosional.
Orang orang yang memainkan peran spesialis tugas menghabiskan waktu dan energi untuk
membantu tim meraih tujuannya. Mereka sering memperlihatkan perilaku perilaku berikut :

Memprakarsai ide

Memberikan opini

Mencari informasi
7

Meringkas

Memberi semangat

Orang orang yang menggunakan peran sosioemosional mendukung kebutuhan emosional


para anggota tim dan membantu menguatkan kesatuan social. Mereka memperlihatkan
perilaku perilaku berikut :

Mendorong

Berpadu

Mengurangi Ketegangan

Mengikuti

Berkompromi

C. Pengertian Kinerja Karyawan


Kinerja berasal dari pengertian Performance. Kinerja mempunyai makna yang lebih
luas, bukan hanya hasil kerja, tetapi termasuk bagaimana proses pekerjaan berlangsung.
Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis
organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi pada ekonomi (Armstrong dan
Baron, 1998). Dengan demikian, kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang
dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan
dan bagaimana cara mengerjakannya.
Kinerja dalam organisasi merupakan jawaban dari berhasil atau tidaknya tujuan
organisasi yang telah ditetapkan. Para atasan atau manajer sering tidak memperhatikan
8

kecuali sudah amat buruk atau segala sesuatu jadi serba salah. Terlalu sering manajer tidak
mengetahui betapa buruknya kinerja telah merosot sehingga perusahaan / instansi
menghadapi krisis yang serius. Kesan kesan buruk organisasi yang mendalam berakibat dan
mengabaikan tanda tanda peringatan adanya kinerja yang merosot.
Kinerja merupakan suatu kondisi yang harus diketahui dan dikonfirmasikan kepada
pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil suatu instansi dihubungkan dengan
visi yang diemban suatu organisasi atau perusahaan serta mengetahui dampak positif dan
negative dari suatu kebijakan operasional. Mink (1993 : 76) mengemukakan pendapatnya
bahwa individu yang memiliki kinerja yang tinggi memiliki beberapa karakteristik, yaitu
diantaranya: (a) berorientasi pada prestasi, (b) memiliki percaya diri, (c) berperngendalian
diri, (d) kompetensi.

BAB III
PEMBAHASAN MANAJEMEN PARTISIPATIF DAN PENGARUH KERJASAMA
TIM TERHADAP KINERJA KARYAWAN
Orang bisa mencapai sukses jika didukung dan mendukung orang lain. Intinya, sukses bisa
diraih melalui kerja sama tim. Siapa pun yang telah mencapai sukses pasti menyadari hal ini.
Tetapi, tentu saja tim yang dimaksud di sini bukanlah sembarang tim, tetapi tim yang efektif.
Kerjasama tim seperti kemampuan yang harus terus diasah. Tidak ada artinya karyawan
berkemampuan tinggi tetapi tidak bisa bekerja sama dalam tim. Dua hal tersebut seperti satu
paket.

A. Model Efektifitas Tim Kerja


Efektifitas tim kerja didasarkan pada dua hasil hasil produktif dan kepuasan pribadi.
Kepuasan berkenaan dengan kemampuan tim untuk memenuhi kebutuhan pribadi para
anggotanya dan kemudian mempertahankan keanggotaan serta komitmen mereka. Hasil
produktif berkenaan dengan kualitas dan kuantitas hasil kerja seperti yang didefinisikan oleh
tujuan tujuan tim. Faktor faktor yang mempengaruhi efektifitas tim yaitu konteks
organisasional, struktur, strategi, lingkungan budaya, dan system penghargaan. Karakter tim
yang penting adalah jenis, struktur, dan komposisi tim. Karakteristik karakteristik tim ini
mempengaruhi proses internal tim, yang kemudian mempengaruhi hasil dan kepuasan. Para
pemimpin harus memahami dan mengatur tingkat tingkat perkembangan, kekompakan,
norma norma, dan konflik supaya dapat membangun tim yang efektif.

1. CIRI-CIRI TIM YANG EFEKTIF :


a. Tujuan yang sama.
Jika semua anggota tim mendayung ke arah yang sama, pasti kapal yang didayung akan lebih
cepat sampai ke tempat tujuan, dari pada jika ada anggota tim yang mendayung ke arah yang
berbeda, berlawanan, ataupun tidak mendayung sama sekali karena bingung ke arah mana
harus mendayung. Jadi, pastikan bahwa tim memiliki tujuan dan semua anggota tim Anda
tahu benar tujuan yang hendak dicapai bersama, sehingga mereka yakin ke arah mana harus
mendayung.
b. Antusiasme yang tinggi.
Pendayung akan mendayung lebih cepat jika mereka memiliki antusiasme yang tinggi.
Antusiasme tinggi bisa dibangkitkan jika kondisi kerja juga menyenangkan: anggota tim
tidak merasa takut menyatakan pendapat, mereka juga diberi kesempatan untuk menunjukkan
keahlian mereka dengan menjadi diri sendiri, sehingga kontribusi yang mereka berikan juga
bisa optimal.
10

c. Peran dan tanggung jawab yang jelas.


Jika semua ingin menjadi pemimpin, maka tidak akan ada yang mendayung. Sebaliknya, jika
semua ingin menjadi pendayung, maka akan terjadi kekacauan karena tidak ada yang
memberi komando untuk kesamaan waktu dan arah mendayung. Intinya, setiap anggota tim
harus mempunyai peran dan tanggung jawab masing-masing yang jelas. Tujuannya adalah
agar mereka tahu kontribusi apa yang bisa mereka berikan untuk menunjang tercapainya
tujuan bersama yang telah ditentukan sebelumnya.
d. Komunikasi yang efektif.
Dalam proses meraih tujuan, harus ada komunikasi yang efektif antar-anggota tim.
Strateginya: Jangan berasumsi. Artinya, jika Anda tidak yakin semua anggota tim tahu apa
yang harus menjadi prioritas utama untuk diselesaikan, jangan berasumsi, tanyakan langsung
kepada mereka dan berikan informasi yang mereka perlukan. Jika Anda tidak yakin bahwa
tiap anggota tim tahu bagaimana melakukan ataupun menyelesaikan suatu tugas, jangan
berasumsi mereka tahu, melainkan informasikan atau tujukanlah kepada mereka cara
melakukannya. Komunikasi juga perlu dilakukan secara periodik untuk tujuan monitoring
(misalnya: sudah seberapa jauh tugas diselesaikan) dan correcting (misalnya: apakah ada
kesalahan yang perlu diperbaiki dalam menyelesaikan tugas yang telah ditentukan).
e. Resolusi Konflik.
Peace is not the absence of conflict, but the presence of justice. Ini merupakan pendapat
Martin Luther King. Rasanya hal ini berlaku pula pada pencapaian sebuah tujuan. Dalam
mencapai tujuan mungkin saja ada konflik yang harus dihadapi. Tetapi konflik ini tidak harus
menjadi sumber kehancuran tim. Sebaliknya, konflik ini yang dapat dikelola dengan baik bisa
dijadikan senjata ampuh untuk melihat satu masalah dari berbagai aspek yang berbeda
sehingga bisa diperoleh cara baru, inovasi baru, ataupun perubahan yang memang diperlukan
untuk melaju lebih cepat ke arah tujuan. Jika terjadi konflik, jangan didiamkan ataupun

11

dihindari. Konflik yang tidak ditangani secara langsung akan menjadi seperti kanker yang
menggerogoti semangat tim. Jadi, konflik yang ada perlu segera dikendalikan.
f.

Shared power.

Jika ada anggota tim yang terlalu dominan, sehingga segala sesuatu dilakukan sendiri, atau
sebaliknya, jika ada anggota tim yang terlalu banyak menganggur, maka pasti ada
ketidakberesan dalam tim yang lambat laun akan membuat tim menjadi tidak efektif. Jadi,
tiap anggota tim perlu diberikan kesempatan untuk menjadi pemimpin, menunjukkan
kekuasaannya di bidang yang menjadi keahlian dan tanggung jawab mereka masingmasing. Sehingga mereka merasa ikut bertanggung jawab untuk kesuksesan tercapainya
tujuan bersama.
g. Keahlian.
Bayangkan sebuah paduan suara dengan anggota memiliki satu jenis suara saja: sopran saja,
tenor saja, alto saja, atau bas saja. Tentu suara yang dihasilkan akan monoton. Bandingkan
dengan paduan suara yang memiliki anggota dengan berbagai jenis suara yang berbeda
(sopran, alto, tenor dan bas). Paduan suara yang dihasilkan pasti akan lebih harmonis.
Demikian pula dengan tim kerja. Tim yang terdiri dari anggota-anggota dengan berbagai
keahlian yang saling menunjang akan lebih mudah bekerja sama mencapai tujuan. Berbagai
keahlian yang berbeda tersebut dapat saling menunjang sehingga pekerjaan menjadi lebih
mudah dan lebih cepat diselesaikan. Anggota tim dengan keahlian yang berbeda juga bisa
saling memperluas perspektif and memperkaya keahlian masing-masing Apresiasi. Tiap
anggota yang telah berhasil melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya dengan baik,
atau telah memberikan kontribusi positif bagi keuntungan tim, pantas mendapat apresiasi.
Tentu saja apresiasi yang diberikan dengan tulus akan lebih terasa dampaknya. Apresiasi bisa
menambah semangat anggota tim yang bersangkutan untuk terus berprestasi. Apresiasi tidak
harus diberikan dalam bentuk uang. Saya sangat menghargai ketulusan Anda membantu

12

pelanggan memilih produk kita yang paling tepat untuknya, merupakan satu bentuk apresiasi
sederhana berupa kata-kata tulus.
Banyak bentuk apresiasi lain yang bisa diberikan, misalnya: promosi, bonus dalam
berbagai bentuk (wisata keluarga yang dengan menggunakan fasilitas transportasi dan vila
perusahaan, beasiswa bagi anak). Sikap dan pikiran positif. Dengan menggunakan kacamata
hitam, dunia yang Anda lihat akan lebih redup. Dengan menggunakan kacamata kehijauan,
dunia pun terlihat bernuansa hijau. Demikian pula dengan kacamata sikap dan pikiran yang
positif, dunia di sekitar Anda akan terlihat positif. Kesulitan pun akan terlihat lebih mudah
diatasi, karena kesulitan bukanlah masalah yang harus dihindari, tetapi tantangan yang harus
ditangani. Sikap dan pikiran yang positif merupakan modal utama sebuah tim.
h. Evaluasi.
Bagaimana sebuah tim bisa mengetahui sudah sedekat apa mereka dari tujuan, jika mereka
tidak menyediakan waktu sejenak untuk melakukan evaluasi? Evaluasi yang dilakukan secara
periodik selama proses pencapaian tujuan masih berlangsung bisa membantu mendeteksi
lebih dini penyimpangan yang terjadi, sehingga bisa segera diperbaiki. Evaluasi juga bisa
dilakukan tidak sekadar untuk koreksi, tetapi untuk mencari cara yang lebih baik. Evaluasi
bisa dilakukan dalam berbagai cara: observasi, riset pelanggan, riset karyawan, interview,
evaluasi diri, evaluasi keluhan pelanggan yang masuk, atau sekedar polling pendapat pada
saat meeting. Ingin sukses? Jangan lupa membantu anggota tim Anda untuk sukses. Jika
mereka sukses, maka mereka pun akan menjadi tim sukses yang mendukung Anda
B. Manajemen Peran Serta (Partisipative Management)
Partisipasi dalam organisasi merupakan keterlibatan yang meliputi pemberian
pendapat, pertimbangan dan usulan dari bawahan kepada pimpinan dalam mempersiapkan
dan merevisi tujuan organisasi. Partisipasi dalam proses peningkatan kinerja karyawan

13

merupakan suatu proses kerjasama dalam pembuatan keputusan yang melibatkan dua
kelompok atau lebih yang berpengaruh pada pembuatan keputusan di masa yang akan datang.
Manfaat Penerapan partisipasi dalam peningkatan kinerja karyawan adalah :

Partisipasi akan menaikkan rasa kebersamaan dalam kelompok, yang akibatnya akan
menaikkan kerjasama anggota kelompok di dalam penetapan sasaran.

Partisipasi dapat mengurangi rasa tertekan.

Partisipasi dapat mengurangi rasa ketidaksamaan di dalam alokasi sumber daya


diantara bagian-bagian organisasi.

Meskipun partisipasi mempunyai banyak manfaat bukan berarti partisipasi tidak mempunyai
keterbatasan dan masalah yang berkaitan dengan partisipasi.

a. Masalah Partisipasi
Sedangkan menurut (Siegel & Marcaroni, 1989 : 140 dalam Abriani, 1998), masalah yang
berkaitan dengan partisipasi ada 3 hal.

Masalah pertama adalah adanya kemungkinan manajer membentuk budget slack, slack
merupakan perbedaan (selisih) sumber daya yang sebenarnya diperlukan dalam proses yang
efisien, dengan jumlah yang lebih besar yang ditambahkan pada kegiatan tersebut.
Masalah kedua adalah Pseudoparticipation (partisipasi semu), yakni tampak berpartisipasi
tapi dalam kenyataannya tidak, artinya para manajer ini (sebagai bawahan) ikut
berpartisipasi, tetapi tidak diberi wewenang atau pendapat untuk menentukan atau
menetapkan tujuan organisasi.
Masalah ketiga adalah status dan pengaruh di dalam organisasi mengurangi efektifitas
partisipasi. Hal ini disebabkan biasanya orang yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi
akan mempunyai pengaruh yang lebih besar didalam proses penetapan sasaran.

14

Dengan adanya partisipasi akan terjadi mekanisme pertukaran informasi, yang dalam hal ini
masing-masing manajer akan memperoleh informasi tentang kerja. Informasi ini
memungkinkan pemahaman yang lebih baik tentang tugas yang akan mereka lakukan.
Tersedianya informasi yang berhubungan dengan tugas akan meningkatkan perencanaan
untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Individu yang memiliki informasi yang berhubungan
dengan tugas akan lebih keras dalam berusaha dan jauh lebih bersemangat dalam
mengerjakan tugas dibandingkan individu yang tidak memiliki informasi yang berhubungan
dengan tugas.
Manajemen kinerja adalah proses komunikasi yang dilakukan secara terus menerus dalam
kemitraan antara karyawan dengan atasan langsungnya. Proses komunikasi ini meliputi
kegiatan membangun harapan yang jelas pemahaman mengenai pekerjaan yang akan
dilakukan.
Manajemen peran serta (partisipative management) adalah suatu pendekatan manajemen
yang melibatkan bawahan dalam proses pengambilan keputusan.

Untuk dapat menetapkan pendekatan manajemen peran serta ini, para manajer harus:

memiliki kemampuan hubungan antar manusia

mengerti dan memahami anak buahnya tentang sifat-sifatnya, pribadinya, wataknya


dan kepentingan-kepentingannya

mampu berkomunikasi dengan baik

mampu mengatasi manajemen konflik dalam organisasinya

harus mampu membuat kekuatan masing-masing anak buahnya sebagai modal dan
menghilangkan kelemahannya

harus mampu mengkompromikan harapan-harapan dan kepentingan dari kelompokkelompok dan organisasi sedemikian rupa sehingga dapat dipertemukan
15

untuk meningkatkan mutu keputusan manajemen

untuk meningkatkan produktivitas karyawan dan manajer

untuk meningkatkan semangat dan kepuasan kerja karyawan dan manajer

memungkinkan organisasi lebih responsif/tanggap terhadap tuntutan lingkungan


b. Manfaat Manajemen Peran Serta / Partisipatif

memungkinkan karyawan lebih mudah dalam menerima perubahan-perubahan


manajemen peran serta menjadi salah satu kunci pendorong bagi organisasi dan
menempatkan karyawan atau manajer pada kedudukan untuk bersikap change oriented

menciptakan hubungan yang damai dan serasi antara manajer dengan bawahannya
dan serikat pekerja

meningkatkan komitmen (keterkaitan) karyawan atau manajer pada organisasi

meningkatkan rasa percaya diri kepada manajemen

memudahkan pengelolaan bawahan

meningkatkan mutu komunikasi antara atasan dengan bawahan

meningkatkan kerja sama (team work)

C. Pengaruh Kerjasama Tim terhadap Kinerja Karyawan


Tim adalah sebuah sistem yang unik, yaitu setiap tim bagaikan sistem yang berbeda-beda.
Tim merupakan kumpulan orang yaitu bagaikan komponen dalam satu sistem. Sedangkan
partisipasi (peran serta) karyawan merupakan sebuah proses dimana individu mengambil
bagian dalam pengambilan keputusan dalam sebuah institusi, program, dan lingkungan yang
mempengaruhi mereka. Sehingga dengan peranserta karyawan dalam tim akan dapat
meningkatkan kinerjanya.
Dari penjelasan tentang kerjasama tim dalam peningkatan kinerja karyawan, agar tim
dapat lebih berhasil hendaklah tiap karyawan dapat memahami hal berikut ini :

16

1. Proses pengenalan tuntas antar anggota tim.


2. Proses pemahaman yang mendalam antar anggota dalam tim.
3. Pembentukan ikatan hati sesama tim.
4. Membangun perasaan sehidup semati atau senasib sepenanggungan dalam tim.
5. Strategi mengatur satu tim efektif.
6. Kinerja tim efektif.
7. Komponen anggota tim yang efektif.
8. Membangun tim yang efektif dan produktif.
9. Motivasi dalam tim.
10. Pemanfaatan kekuatan individu dalam tim.
11. Menentukan target, program dan tujuan bersama.
12. Kepemimpinan dalam tim.
13. Membangun norma dan aturan main tim.
14. Membangun komunikasi dan hubungan antar tim.
15. Membangun pengaruh kepada anggota tim.
16. Mengelola konflik dalm tim.
17. Proses kreatif dalam tim.
18. Proses pengambilan keputusan : konsensus, kebersamaan, dan efektivitas-efisiensi.
19. Pertemuan dan rapat tim.
20. Membangun hubungan sosial intern atau antartim.

Karakteristik teamwork dan partisipasi efektif dalam meningkatkan kinerja.


Ada sepuluh karakteristik yang diperlukan tim dalam menghasilkan kinerja secara luar
biasa dan cepat mencapai tujuan yang diharapkan.
1. Prinsip, Tujuan dan Sasaran
Tim efektif sangat dipengaruhi adanya prinsip, tujuan, dan sasaran yang jelas, sehingga
secara sadar anggota tim disatukan oleh kebersamaan misi dan membangun komitmen
bersama. Semua anggota tim mengerti dan menyetujui tujuan serta sasaran tim.
2. Keterbukaan dan Konfrontasi
Tim efektif sangat dipengaruhi adanya keterbukaan dan saling mempercayai antar anggota
tim. Semua anggota mendapatkan informasi yang sama dari akses yang sama pula, serta
dapat berkomunikasi dengan lancar dan jelas. Anggota tim bebas untuk mengeluarkan ideidenya. Eksperimen dan kreativitas selalu digiatkan, anggota lainnya wajib untuk menolong
anggota bersangkutan, jika memang ide tersebut logis dan berguna.
3. Dukungan dan Kepercayaan
17

Tim efektif sangat dipengaruhi adanya dukungna dan kepercayaan antar seluruh anggota tim
dengan baik. Pemimpin tidak akan dapat menyelesaikan program dan kegiatan sendiri.
Dukungan dan kepercayaan anggota tim sangat diperlukan.
4. Kerjasama, Komunikasi dan Konflik
Tim efektif sangat dipengaruhi adanya kerjasama, komunikasi dan konflik. Komunikasi
adalah link antar sesama anggota kelompok, sehingga keberadaanya sangat penting.
Kemampuan menggunakan komunikasi yang efektif dengan memanfaatkan sarana
komunikasi yang ada. Harus mampu membuat konflik yang tidak merusak keutuhan tim.
Konflik yang terjadi dapat diselesaikan dengan jalan konsensus, bersifat konstruktif, dan
menerapkan pendekatan menang-menang (win-win approach).
5. Prosedur kerja dan keputusan yang layak
Tim akan efektif mencapai tujuan, ketika anggota selalu mendukung keputusan serta
menjalankan prosedur dan pengawasan yang dibuat bersama-sama. Dalam tim diperlukan
pemahaman peran, tanggung jawab, dan keterbatasan otoritas masing-masing.
6. Kepemimpinan yang layak
Kepemimpinan diri (personal leadership) adalah yang lebih utama, dibanding menuntut
pemimpin formal yang qualified dalam kelompok. Tim perlu menyediakan pemimpin yang
dilandasi prinsip yang kuat dan mencukupi kebutuhan.
7. Review Kerja dan Program secara Reguler.
Tim yang efektif harus selalu mengevaluasi fungsi dan proses yang sudah dilakukan secara
reguler. Tim efektif mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah dan membuat
keputusan dengan baik.
8. Pengembangan Individu.
Tim akan bekerja efektif jika selalu mengelola peningkatan penghargaan individu. Kegiatan
tim tidak hanya fokus pada hasil tetapi juga pada proses dan isi.

18

9. Hubungan antar kelompok (sosial).


Tim akan efektif jika memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan, baik
dengan para atasan (melobi), dengan tim lain (sosialisasi dan share) serta lingkungan
perusahaan (adaptasi). Kurang kerja sama dengan kelompok lain akan menyebabkan kerja
samanya kurang menggairahkan.

10. Ikatan hati secara sinergi.


Tim akan efektif jika sesama anggotanya memiliki ikatan hati dengan baik, bahkan secara
sinergi mempunyai tanggung jawab moral untuk saling menasihati dan mencapai
keberhasilan bersama. Dimasa depan, tim memiliki tumpuan utama pada kredibilitas moral
anggotanya.

19

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang telah dilakukan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
1. Kinerja karyawan menunjuk pada kemampuan karyawan dalam melaksanakan
keseluruhan tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Kinerja para karyawan akan
meningkat apabila mereka terlibat secara aktif dan ikut berpartisipasi dan menjadi bagian tim
dalam proses kegiatan pada unit organisasi dimana mereka bekerja.
2. Evaluasi kinerja berfungsi untuk : (a) mengetahui tingkat keberhasilan dan kegagalan
kinerja suatu organisasi; dan (b) memberikan masukan untuk mengatasi permasalahan yang
ada.

Melalui evaluasi kinerja dapat diketahui apakah pencapaian hasil, kemajuan dan

kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan misi dapat dinilai dan dipelajari guna perbaikan
pelaksanaan program/kegiatan di masa yang akan datang.
3. Tim adalah suatu unit yang terdiri atas dua orang atau lebih yang berinteraksi dan
mengoordinasi kerja mereka untuk tujuan tertentu. Definisi ini memiliki tiga komponen.
Pertama, dibutuhkan dua orang atau lebih. Kedua, orang orang dalam sebuah tim memiliki
interaksi regular. Ketiga, orang orang dalam sebuah tim memiliki tujuan kinerja yang sama.

20

4. Ada sepuluh karakteristik yang diperlukan tim dalam menghasilkan kinerja secara luar
biasa dan cepat mencapai tujuan yang diharapkan.

Prinsip, Tujuan dan Sasaran

Keterbukaan dan Konfrontasi

Dukungan dan Kepercayaan

Kerjasama, Komunikasi dan Konflik

Prosedur kerja dan keputusan yang layak

Kepemimpinan yang layak

Review Kerja dan Program secara Reguler.

Pengembangan Individu.

Hubungan antar kelompok (sosial).

Ikatan hati secara sinergi.

21

DAFTAR PUSTAKA

Niken Safitri, Pengaruh Partisipasi Dalam Penyusunan Anggaran Terhadap Kepuasan


Kerja dan Kinerja Karyawan : Job Relevant Information (JRI) Sebagai Variabel Antara,
Skripsi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2006
http://www.google.co.id
http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-linda3.pdf.
http://sukardihs.wordpress.com/2008/08/06/kerja-sama-tim-dalam-organisasi/

22