Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum Ektoparasit

IDENTIFIKASI EKTOPARASIT
DENGAN METODE PENGAWETAN SLIDE

Oleh :

Nama

KHARISMA

NIM

O111 12 106

Kelompok

I (SATU)

Asisten

MUHAMMAD ZULFADILLAH

LABORATORIUM PARASITOLOGI VETERINER


PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016

BAB I TINJAUAN PUSTAKA


Parasit

tinggal

berdekatan)

adalah

organisme

yang

eksistensinya tergantung adanya organisme lain yang dikenal sebagai


induk semang atau hospes. Organisme yang hidup sebagai parasit seperti
cacing telah dikenal beratus-ratus tahun yang lalu oleh nenek moyang kita.
Hewan-hewan parasit telah dikenal dan dibicarakan semenjak zamannya
Aristoteles (384-322 SM) dan Hipocrates ( 460-377 SM ) di Yunani tetapi
ilmu parasitnya sendiri baru berkembang setelah manusia menyadari
pentingnya ilmu parasit dalam bidang biologi. Redi, (16264698 ) seorang
Itali menemukan larva di dalam daging yang kemudian berkembang
menjadi lalat. Dan penemuan ini maka Redi diduga orang yang pertama
mengembangkan ilmu parasit. Kemudian setelah ditemukan alat pembesar
oleh Leeuwenhoek (1632- 1723) dan Belanda, hewan-hewan parasit bersel
satu banyak ditemukan (Kendall, 2008).
Ektoparasit atau ektozoa. Ektoparasit adalah parasit-parasit yang
hidup berparasitnya pada permukaan tubuh hospes atau di dalarn liangliang pada kulit yang masih mempunyai hubungan bebas dengan dunia
luar. Termasuk golongan ini adalah parasit temporer atau non periodik atau
dikenal parasit datang pergi. Disebut parasit datang pergi karena parasit
mengunjungi hospesnya hanya pada waktu tertentu saja (Krantz, 2008).
Contoh-contoh ektoparasit Nyamuk dan lalat. Nyamuk dan lalat
seperti nyamuk Anopheles (manusia) dan lalat Stomoxys (kuda, sapi)
termasuk parasit temporer karena keduanya mengunjungi hospesnya untuk
hidup berparasit pada waktu tertentu untuk menghisap darah. Kutu, pinjal
dan caplak. Kutu seperti Pediculus ( manusia ), Haematopinus (sapi) dan
Linognathus (sapi, domba, kambing, anjing), pinjal seperti Pulex (tikus),
dan Ctenocephalus (anjing, kucing), caplak seperti Ixodes, Boophilus,
Riphicephalus (herbivora, karnivora) semuanya termasuk ektoparasit
karena hidup pada permukaan tubuh hospesnya. Tungau, tungau-tungau
seperti Sarcoptes, Psoroptes, Chorioptes ( herbivora ), Demodex ( anjing,
sapi, manusia ), Cnemidocoptes (unggas ), Otodectes (kelinci) adalah
tungau yang hidup di dalam liang-liang kulit dan karena liang-liang

tersebut masih berhubungan dengan dunia luar maka tungau juga termasuk
ektoparasit (Kadarsan dkk., 2003).
Klasifikasi
Tungau, caplak, kutu dan pinjal tergabung dalam satu filum yang
sama yaitu Arthropoda.Tungau dan caplak berada dibawah satu kelas
(Arachnida) dan anak kelas yang sama yaitu Acari, namun keduanya
tergolong dalam suku yang berbeda. Caplak termasuk dalam golongan
suku Ixodidae dan Argasidae sedangkan suku yang lain disebut tungau saja
(Krantz, 2008).
Menurut Borror dkk. (2006) kutu dan pinjal termasuk dalam kelas
Insekta (serangga) namun berbeda bangsa. Kutu seringkali dibagi menjadi
dua bangsa yang terpisah yaitu Mallophaga (kutu penggigit) dan Anoplura
(kutu penghisap). Kutu penghisap sering pula disebut tuma oleh
masyarakat Indonesia. Ahli entomologi dari Inggris, Jerman dan Australia
hanya mengenali satu bangsa tunggal yaitu Phthirptera, dengan empat
anak bangsa (salah satunya Anoplura).
Pinjal termasuk dalam bangsa Siphonaptera. Beberapa suku yang
terdapat

di

Indonesia

antara

lain

Pulicidae,

Ischnopsyllidae,

Hystrichopsyllidae, Pygiopsyllidae, Ceratophyllidae dan Leptosyllidae.


Pinjal tikus dan kucing yang umum ditemukan termasuk dalam Pulicidae
(Krantz, 2008).
Morfologi
Sama seperti anggota arachnida lainnya (laba-laba, kalajengking
dll.), tubuh tungau dan caplak terbagi menjadi dua bagian, yaitu: bagian
depan disebut cephalothorax (prosoma) dan bagian belakang tubuh disebut
abdomen (ophistosoma).Meskipun demikian, tidak terdapat batas yang
jelas diantara dua bagian tubuh tersebut. Tungau dan caplak dewasa
mempunyai alat-alat tubuh pada arachnida seperti khelisera dan palpus
(alat sensori) yang terdapat di bagian , dan enathosoma/capitulum, dan
empat pasang kaki (Kendall, 2008).
Sebagian besar tungau berukuran sangat kecil, memiliki panjang
kurang dari 1 mm. Namun ada pula tungau besar yang dapat mencapai
panjang 7.000 m. Pada gnathosoma tungau terdapat epistoma,

tritosternum (berfungsi dalam transport cairan tubuh), palpus yang beruasruas, khelisera, corniculi, hipostoma berseta yang masing-masing sangat
beragam dalam hal bentuk dan jumlah ruasnya tergantung pada
kelompoknya (Kendall, 2008).
Khelisera pada tungau teradaptasi untuk menusuk, menghisap atau
mengunyah. Tubuh dilindungi oleh dorsal shield/scutum. Tungau memiliki
stigma (alat pertukaran O2 dan CO2) yang letaknya bervariasi yaitu di
punggung dorsal, antara pangkal kaki/ coxa 2 dan 3, di sebelah coxa ke
tiga atau diantara khelisera (Kendall, 2008).
Letak stigma menjadi kunci penting untuk membedakan bangsa
tungau. Caplak memiliki ukuran lebih besar dari pada tungau. Panjang
tubuh dapat mencapai 2.000-30.000 m. Selain ukurannya, caplak
dibedakan dari tungau berdasarkan letak stigma yang berada di bawah
coxa (pangkal kaki) ke empat. Caplak juga memiliki karakter-karakter
khas tersendiri pada hipostoma memiliki ocelli/mata, tetapi tidak memiliki
epistoma, corniculi dan tritosternum. Caplak dibedakan menjadi 2
kelompok yaitu caplak berkulit keras/ hard tick (Ixodidae) dan caplak
berkulit lunak/soft tick (Argasidae) karena tidak memiliki scutum (Krantz,
2008; Evans, 2002).
Hipostoma pada caplak merupakan suatu struktur yang terdiri dari
gigi- gigi yang tersusun teratur dan menonjol. Struktur inilah yang
digunakan untuk menusuk tubuh induk semang ketika caplak menghisap
darah. Hipostoma dilindumgi oleh khelisera (Vredevoe, 2007). Kutu
termasuk anggota kelompok serangga yang mempunyai tiga pasang kaki
dan sayap yang mereduksi. Dua kelompok kutu yaitu kutu penghisap/
tuma dan kutu penggigit memiliki ciri-ciri morfologiyang berbeda
Ukuran tubuh kutu penghisap mencapai 0,4-6,5 mm; kepala kutu
penghisap biasanya lebih sempit daripada protoraksnya; sungut beruasruas; mata mereduksi dan bagian-bagian mulut haustellat. Tuma memiliki
tiga stilet penusuk (dorsal, tengah dan ventral) pada bagian mulutnya dan
satu rostrum pendek pada ujung anterior kepala.Dari tempat itu tiga stilet
penusuk dijulurkan. Stilet tersebut kira-kira panjangnya sama dengan

kepala dan apabila tidak dipakai dapat ditarik masuk ke dalam satu
struktur seperti kantung panjang di bawah saluran pencernaan(Krantz,
2008).
Stilet dorsal berfungsi sebagai saluran makanan. Stilet tengah
mengandung air liur dan berfungsi sebagai hipofaring, sedangkan stilet
ventral sebagai penusuk utama diperkirakan berfungsi sebagai labium.
Kaki-kaki kutu penghisap pendek dan memiliki cakar pengait yang
termodifikasi untuk melekat pada induk semang. Kutu penggigit bertubuh
pipih; berukuran tubuh 2-6 mm; bagian mulut mandibulat; mata majemuk
mereduksi; lebar kepala sama atau lebih dengan protoraksnya; tarsi beruas
2-5 dan tidak memiliki cerci (Borror dkk., 2006; Elzinga, 2008).
Pinjal berbentuk tubuh menyerupai biji lamtoro pipih kesamping;
berukuran + 3 mm; seluruh tubuh tertutup bulu-bulu; mulut berupa mulut
penusuk dan penghisap. Kaki ke tiga dari pinjal berukuran lebih besar dan
lebih

panjang

daripada

dua

pasang

kaki

lainnya

sehingga

memungkinkannya untuk melompat. Lompatannya sangat jauh dan tinggi


dibandingkan ukuran tubuhnya (Kadarsan dkk., 2003).
Habitat
Tungau terdapat pada hampir semua habitat. Beberapa tungau tidak
membahayakan, hidup pada bahan organik yang mati atau membusuk atau
sebagai predator invertebrata kecil lainnya. Sebagian lagi bersifat
membahayakan karena hidup sebagai parasit pada tumbuhan, hewan dan
bahkan pada manusia.
Caplak adalah ektoparasit penghisap darah pada hewan vertebrata.
Contoh caplak berkulit keras di Indonesia adalah caplak sapi (Boophilus
microplus), caplak anjing (Rhipicephalus sanguineus), caplak babi
(Dermacentor auratus). Contoh tungau ektoparasit antara lain gurem atau
sieur (Dermanyssus gallinae) yang menyerang ayam, tungau kudis
manusia (Sarcoptes scabiei) tungau ajing (Demodex canis) dll.
Selain itu adapula yang bersifat endoparasit, misalnya tungau dari
suku Rhinonyssidae yang ditemukan pada saluran pernafasan burung
(Krantz, 2008 & Kadarsan, 2003).

Kutu merupakan serangga ektoparasit yang dapat ditemukan pada


burung, mamalia dan bahkan manusia. Kutu seringkali ditemukan hanya
pada bagian tubuh tertentu induk semangnya. Tuma memakan cairan tubuh
termasuk darah.induk semang Contoh tuma antara lain tuma kepala
(Pediculus

humanus

capitis)

(dan

tuma

kerbau

(Haematopinus

tuberculatus) (Krantz, 2008).


Kutu penggigit pada umumnya memakan bulu dan serpihan kulit
induk semang. Kutu ini biasanya berkumpul di bagian dada, paha dan
sayap unggas. Contoh kutu penggigit adalah Menopon gallinae (Harvey &
Yen, 2009; Kadarsan dkk., 2003).
Pinjal ditemukan dekat dengan induk semangnya, baik di rambut,
bulu-bulu atau di sarangnya. Pinjal dewasa menghisap darah induk
semang. Contoh pinjal adalah pinjal kucing (Ctenophalides felis) dan
pinjal tikus (Xenopsylla cheopis) (Krantz, 2008).
Siklus hidup
Proses reproduksi pada tungau dan caplak bervariasi. Siklus hidup
yang dijalaninya berupa: telur-larva-nimpha-tungau/caplak dewasa. Larva
tungau dan caplak hanya memiliki 3 pasang kaki. Larva caplak, setelah
makan darah induk semang, akan tumbuh menjadi nimpha yang memiliki
4 pasang kaki (Kendall, 2008).
Nimpha makan darah dan akan tumbuh menjadi caplak dewasa.
Setelah makan satu kali sampai kenyang, caplak dewasa betina akan
bertelur kemudian ia mati. Caplak betina setelah kenyang menghisap darah
dapat membengkak sampai 20-30 kali ukuran semula. Caplak memerlukan
+ 1 tahun untuk menyelesaikan satu siklus hidup di daerah tropis dan lebih
dari satu tahun di daerah lebih dingin (Kendall, 2008).
Caplak dapat bertahan hidup selama berbulan- bulan tanpa makan
jika belum mendapatkan induk semangnya. Caplak dapat hidup pada 1-3
induk semang berbeda selama fase pertumbuhannya sehingga dikenal
dengan sebutan caplak berinduk semang satu, berinduk semang dua dan
berinduk semang tiga (Vredevoe, 2007).

Kutu menjalani proses metamorfosa yang tidak sempurna, yaitu


telur-nimpha-individu dewasa. Seluruh siklus hidup terjadi di tubuh induk
semang. Telur kutu akan menempel pada rambut induk semang dengan
bantuan zat perekat yang dihasilkannya. Sedangkan siklus hidup yang
dijalani pinjal merupakan metamorfosa sempurna yaitu telur-larva-pupadewasa. Larva yang baru menetas tidak memiliki kaki. Fase pupa adalah
fase yang tidak memerlukan makanan (Kadarsan dkk., 2003).
Potensi
Sebagai binatang parasit, tungau, caplak dan pinjal dapat
menularkan berbagi macam organism penyebab penyakit Misalnya
Ornithodoros (caplak kulit lunak) dapat menularkan larva filaria pada ular
phyton dan gerbil. Beberapa organisme dapat bersifat zoonosis yaitu dapat
menular dari binatang ke manusia. Organisme pathogen dapat ditularkan
melalui air liur, serpihan kulit akibat garukan dan feses (Evans, 2002).
Beberapa penyakit yang ditimbulkan akibat infestasi caplak dan
tungau antara lain: scrub thypus, rocky mountain spotted fever, tularemia,
Lyme disease (Krantz, 2008). Infestasi pinjal bahkan pernah menyebabkan
epidemi pes di daerah Boyolali, Jawa Tengah pada akhir 1999an. Hal ini
disebabkan karena pinjal dapat menularkan bakteri Yersinia pestis,
penyebab penyakit pes, dari tikus ke manusia (Kadarsan dkk., 2003).
Infestasi kutu pada hewan ternak dan binatang peliharaan dapat
menyebabkan iritasi dan menurunnya kesehatan. Luka garukan (akibat
rasa gatal yang ditimbulkan) dapat menyebabkan infeksi sekunder.
Serangan gurem pada unggas dapat menyebabkan ayam gelisah karena
gatal dan mengakibatkan merosotnya produksi daging dan telur (Kendall,
2008).

BAB II ALAT DAN METODE

1. BAB III PEMBAHASAN


- Pembahasan berisikan materi mengenai ektoparasit pada hewan tertentu
(sesuai dengan pembagian kelompok). Materinya meliputi siklus hidup,
morfologi, patogensitas dsb yang berkaitan dengan ektoparasit di hewan
-

tertentu.
Selain itu, materi di pembahasan di khususkan pada penjelasan ektoparasit
yang di bawa ketika praktikum. Sehingga ada dua penjelasan. Ada yang
menjelaskan secara umum ektoparasit apa saja yang ada di hewan tertentu,
dan ada materi yang menjelaskan dengan rinci tentang ektoparasit yang di
praktikumkan.

2. BAB IV KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Borror, D. J., C. A. Triplehorn & N. F. Johnson. 2006. Pengenalan Pelajaran Serangga.


Ed. 6. Penerjemah:S. Partosoedjono. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Elzinga, R. J. 2008. Fundamentals of Entomology. Prentice Hall of India Private Ltd.
New Delhi.
. Evans, G. O. 2002. Principles of Acarology. Cambridge University Press, UK.
Harvey, M. S & A. L. Yen. 2009. Worms to Wasps, an Illustrated Guide to Australias
Terrestrial Invertebrates. Oxford University Press.
Kadarsan, S., A. Saim, E. Purwaningsih, H. B. Munaf, I. Budiarti & S. Hartini.
2003. Binatang
Parasit. Lembaga Biologi Nasional-LIPI. Bogor.
Kendall, D. A. 2008. Mites & Ticks in Insect & Other arthropod. www.kendallbioresearch.co.uk/mite. htm.
Krantz, G. W. 2008. A Manual of Acarology. 2nd ed. Oregon State University Book
Store, Inc.Corvalis
Vredevoe,

L.

2007.

Background

Information

on

the

Biology

http://entomology.ucdavis.edu/ faculty/rbkimsey/tickbio.html.

of

Ticks..