Anda di halaman 1dari 37

1.

Memahami dan menjelaskan fisiologis nyeri

Neuroanatomi Nyeri
Nyeri adalah sensasi subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan dengan kerusakan
jaringan aktual atau potensial (Corwin J.E, 2007). Ketika suatu jaringan mengalami cedera, atau
kerusakan mengakibatkan dilepasnya bahan-bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti
serotonin, histamin, ion kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang akan
mengakibatkan respon nyeri. Nyeri juga dapat disebabkan stimulus mekanik seperti
pembengkakan jaringan yang menekan pada reseptor nyeri.
Sistem saraf manusia mengandung lebih dari 1010 saraf atau neuron. Neuron merupakan unit
structural dan fungsional system saraf. Sel saraf terdiri dari badan sel yang di dalamnya
mempunyai inti sel, nukleus, mitokondria, retikulum endoplasma, dadan golgi, di luarnya banyak
terdapat dendrit, kemudian bagian yang menjulur yang menempel pada badan sel yang di sebut
akson. Dendrit menyediakan daerah yang luas untuk hubungan dengan neuron lainnya. Dendrit
adalah serabut aferen karena menerima sinyal dari neuron-neuron lain dan meneruskannya ke
badan sel. Pada akson terdapat selubung mielin, nodus ranvier, inti sel Schwan, butiran
neurotransmiter
Akson dengan cabang-cabangnya (kolateral), adalah serabut eferen karena membawa sinyal
ke saraf-saraf otot dan sel-sel kelenjar. Akson akan berakhir pada terminal saraf yang berisi
vesikel-vesikel yang mengandung neurotransmitter. Terminal inilah yang berhubungan dengan
badan sel, dendrit atau akson neuron berikutya.
a. Neuroanatomi sentuhan ringan dan tekanan
Nama jalan: Tractus Spinothalamicus Anterior
a) Pada medulla spinalis:
Axon dari neuron orde pertama (ganglion spinalis) memasuki ujung cornu posterior
medulla spinalis dan bercabang dua : serabut yang naik dan serabut yang turun.
Sesudah memasuki satu atau dua segmen medulla spinalis membentuk Tractus
posterolateral (Lissaueri). Lalu bersinaps dengan neuron orde kedua yang terletak
pada kelompok sel substantia gelatinosa cornu posterior substansia grissea.
Axon dari neuron orde ke dua jalan menyilang pada comissura anterior substansia
grissea dan substansia alba, kemudian naik keatas pada sisi anterolateral substantia
alba sebagai tractus neurospinotalamicus anterior.
b) Pada medulla oblongata : pada medulla oblongata tractus tersebut jalan beriringan dengan
tractus spinotalamicus lateralis dan tractus spinotectalis, semuanya disebut Lesminicus
Spinalis.
c) Pada pons, mesencephalon dan diencephalon : beriringan dengan Lemniscus medialis
untuk akhirnya bersinaps pada neuron orde ketiga yaitu nucleus posterolateral dari
kelompok ventral thalamus (bagian kelompok nuclei lateralis thalamus) disini tekanan
dan sentuhan mulai diinterpretasikan.
d) Pada cortex cerebri : axon dari neuron orde ketiga jalan memasuki crus posterior interna
dan corona radiata berakhir pada gyrus poscentralis (area brodmann 3,2,1)
menafsirkan sensasi sentuhan dan tekanan sehingga timbul kesadaran akan sensasi
tersebut.
(Stephen, 2007)
b. Neuroanatomi sensasi sakit dan suhu
Nama jalan: Tractus Spinothalamicus Lateralis
a) Pada medulla spinalis:
Axon dari neuron orde pertama (ganglion spinalis) memasuki ujung cornu posterior
substansia grissea medulla spinalis dan segera bercabang dua: serabut yang naik dan

b)

c)
d)
e)

f)

serabut yang turun. Sesudah memasuki satu atau dua segmen medulla spinalis
membentuk tractus posterolateral (Lissaueri). Lalu bersinaps dengan neuron orde
kedua yang terletak pada kelompok sel substantia gelatinosa pada cornu posterior.
(Jurnalis, 2009)
Axon dari neuron orde ke dua jalan menyilang pada comissura anterior substansia
grissea dan substansia alba, kemudian naik keatas pada sisi kontralateral sebagai
tractus neurospinotalamicus lateralis.
Pada medulla oblongata : pada medulla oblongata tractus tersebut terletak pada dataran
lateral antara nucleus olivarius inferius dengan nucleus tractus spinalis N. Trigeminus.
Disini bergabung dengan: tractus spinotalamicus anterius, tractus spinotectalis. Ketiga
tractus tersebut disebut Lemnicus Spinalis.
Pada pons : lemniscus spinalis naik keatas dibagian belakang pons.
Pada mesencephalon: lemniscus spinalis jalan pada tegmentum, lateralis dari lemniscus
medialis.
Pada diencephalon : serabut saraf tractus spinotalamicus lateralis akan bersinaps dengan
neuron orde ketiga yaitu nucleus posterolateral dari kelompok ventral thalamus (bagian
dari nucleus lateralis thalamus) disinilah terjadi penilaian kadar sensasi sakit dan suhu
juga reaksi emosi mulai timbul.
Pada cortex cerebri : axon dari neuron orde ketiga jalan memasuki crus posterior interna
dan corona radiata berakhir pada gyrus poscentralis (area brodmann 3,2,1)
menafsirkan suhu dan sakit sehingga timbul kesadaran akan sensasi tersebut. (Price,
2006)

Neurofisiologi Nyeri
Nociceptor diaktivasi oleh stimulus yang berpotensi untuk merusak sel jaringan. Kerusakan
jaringan tersebut dapat disebabkan oleh stimulasi mekanis yang kuat, temperatur yang ekstrim,
kekurangan oksigen, dan paparan oleh zat kimia. (Barry, 2007)
Sel-sel jaringan yang rusak tersebut dapat pula mengeluarkan substansi yang mampu
membuka channel ion pada membran nociceptor, seperti :
Protease
Enzim pengurai protein ini dapat mengurai peptida kininogen yang berada di extra selular
sehingga terbentuklah bradikinin. Bradikinin ini kemudian akan terikat dengan molekul
reseptor spesifik untuk mengaktivasi konduksi ion pada nociceptor.
ATP
ATP dapat berikatan langsung dengan ATP Gated Ion Channel sehingga terjadi depolarisasi
pada nociceptor.
K+
Peningkatan K+ extraselular berperan langsung pada depolarisasi membran neuronal.
(Price, 2006)

Jenis Nociceptor
Transportasi stimulus nyeri terjadi pada ujung saraf bebas (FNE), yaitu serat C tanpa myelin
(unmyelinated C Fiber) dan serat A myelin tipis Nociceptor terbagi menjadi empat jenis, yaitu :
a. Polymodal Nociceptor : merespon terhadap stimulus mekanis, suhu, dan kimia.
b. Mechanical Nociceptor : hanya merespon terhadap tekanan yang kuat.

c. Thermal Nociceptor : hanya merespon terhadap suhu panas atau dingin.


d. Chemical Nociceptor : merespon terhadap histamin dan zat kimia lainnya.
Serat C terkecil (kecepatan konduksi <0.5 m/s) merespon selektif terhadap histamin dan
mempersepsikan rasa gatal.
Hyperalgesia
Nociceptor biasanya hanya merespon saat terjadi stimulus yang cukup kuat untuk merusak
jaringan. Hiperalgesia adalah keadaan dimana kulit, sendi, atau otot yang sudah terluka menjadi
sangat sensitif terhadap stimulus. Sebagai contoh, pada kulit yang sehat, rasa sentuhan tidak
terasa sakit, namun pada kulit yang melepuh rangsang tersebut terasa sakit.
Hiperalgesia dapat berupa penurunan ambang nyeri, peningkatan intensitas stimulus nyeri,
atau nyeri spontan. Hiperalgesia juga dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Primer : hanya terjadi pada daerah jaringan yang terluka.
b. Sekunder : jaringan yang berada di sekitar jaringan yang terluka juga ikut menjadi sensitif.
Beberapa zat kimia yang berperan dalam hiperalgesia:
Bradikinin
Selain menghasilkan rasa nyeri, bradikinin juga menstimulasi perubahan intracellular yang
berlangsung lama, sehingga channel ion nociceptor menjadi lebih sensitif.
Prostaglandin
Prostaglandin tidak menyebabkan nyeri, melainkan meningkatkan sensitivitas nociceptor lain.
Substance P
Merupakan substansi yang dihasilkan oleh nociceptor sendiri. Aktivasi salah satu cabang axon
nociceptor dapat menyebabkan sekresi substance P di cabang axon lainnya. Substance P
menyebabkan vasodilatasi dan pelepasan histamin oleh sel mast, sehingga dapat juga
menyebabkan hiperalgesia sekunder.
Aferen Primer dan Mekanisme Spinal
Terdapat dua jenis persepsi nyeri, yaitu :
a. First pain : cepat dan tajam, diaktivasi oleh serat A
b. Secon pain : nyeri yang mengikuti first pain dan berlangsung lama, diaktivasi serat C

Perhubungan spinalis axon nociceptif

Neurotransmitter nyeri diduga adalah glutamat, namun neuron-neuron juga mengandung


substance P pada axon terminalis. Transmisi sinaps yang diperantarai oleh substance P
dibutuhkan untuk menghasilkan rasa nyeri. (Barry, 2007)
Nyeri Alih (Referred Pain)
Merupakan fenomena dimana aktivasi nociceptor organ dalam (viseral) dipersepsikan sebagai
sensasi luar (cutaneus). Disebabkan karena axon nociceptor dari organ dalam memiliki rute yang
sama dengan nociceptor kutan dalam memasuki corda spinalis, sehingga terjadilah pencampuran
informasi dari kedua input tersebut.
Jalur Nyeri Ascendens
1. Spinothalamic Pathway
Informasi suhu dan nyeri disampaikan dari corda spinalis ke orak melalui jalur spinothalamic.
Axon dari neuron ordo II langsung menyeberang dan menyusuri tractus spinothalamicus.
Serat spinothalamicus berjalan dari corda spinalis kemudian melewati medulla, pons, dan
midbrain tanpa bersinaps sampai mereka mencapai thalamus.
Pada akhirnya, setelah melewati batang otak, axon spinothalamicus berada bersebelahan
dengan lemniscus medialis, namun kedua axon tersebut tetap terpisah satu sama lain.
Informasi sentuhan berjalan secara ipsilateral, sedangkan nyeri berjalan contralateral.
2. Trigeminal Pathway
Informasi suhu dan nyeri yang berasal dari muka dan kepala berjalan melalui jalur ini, yang
mirip dengan spinothalamic pathway.
Serat nervus trigeminal bersinaps pada neuran orde kedua di nucleus trigeminal spinalis
pada batang otak.
Axon tersebut kemudian naik ke thalamus di lemniscus trigeminal.
Sensasi nyeri dan sentuhan sama-sama berakhir di thalamus (Nucleus VP dan intralaminar)
tetapi menempati daerah yang berbeda. Kemudian informasi dari thalamus tersebut diteruskan
ke berbagai daerah pada cortex cerebral.
Regulasi Nyeri
a. Regulasi Aferen
Nyeri yang dihasilkan oleh aktivitas nociceptor dapat dikurangi dengan aktivitas
mechanoreceptor (Serat A) secara bersamaan. Inilah mengapa rasa nyeri pada memar akan
berkurang apabila kita lakukan gerakan memijat.
Gate Theory of Pain
*Tidak ada konflik stimulus

Dapat dilihat pada gambar ini, bahwa stimulus yang dibawa oleh serat C berjalan dengan
lancar (tidak ada hambatan apapun) dan akan sampai pada projection neuron, yang kemudian
akan diteruskan ke otak, menyebabkan sensasi nyeri maksimal.
*Terdapat konflik stimulus. Stimulus nyeri dibawa oleh serat C menuju projection
neuron. Di saat yang sama, stimulus sentuhan (stimulus tidak nyeri) dibawa oleh serat A
menuju projection neuron dan interneuron inhibitorik.
Aktivasi interneuron inhibitorik tersebut akan menghambat projection neuron,
sehingga tidak ada stimulus yang diteruskan ke otak sehingga mengurangi sensasi nyeri yang
ada. Namun tidak semua interneuron inhibitorik dapat diaktifkan, sehingga masih terdapat
sensasi nyeri yang diteruskan ke otak. (Barry, 2007)
1. Regulasi Descendens
Emosi yang kuat atau stres pada seseorang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa
nyeri. Telah diketahui bahwa terdapat bagian dari otak yang berperan dalam supresi nyeri.
Salah satunya adalah zona-zona neuron di midbrain, seperti periventricular dan
periaqueductal gray matter (PAG).
Mekanismenya adalah sebagai berikut :
PAG menerima input emosional dari struktur-struktur otak.
Neuron-neuron di PAG mengirimkan axon menuju daerah pada medulla, yaitu raphe
nuclei, yang kemudian akan mengeluarkan neurotransmitter serotonin.
Kemudian neuron medulla tersebut akan memproyeksikan axon ke cornu posterior
corda spinalis, dimana axon yang membawa serotonin tersebut akan menekan aktivitas
nociceptor.
Intensitas Nyeri
gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas
nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama
dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda.
Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan
respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan metode ini
juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Sherwood, 2004).
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :

1) skala intensitas nyeri deskritif

2) Skala identitas nyeri numerik

3) Skala analog visual

4) Skala nyeri menurut bourbanis

Keterangan
0 : Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan (secara obyektif pasien dapat berkomunikasi dengan baik).
4-6 : Nyeri sedang (secara obyektif pasien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan
lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik).
7-9 : Nyeri berat (secara obyektif pasien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi
masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat
mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan
distraksi).
10 : Nyeri sangat berat (pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul).
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih
obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah
garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak
yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diurutkan dari tidak terasa nyeri
sampai nyeri yang tidak tertahankan. Kinisi menunjukkan pasien skala tersebut dan
meminta pasien untuk memilih intensitas nyeri terbaru yang ia rasakan. Klinisi juga
menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri
terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan pasien memilih sebuah
kategori untuk mendeskripsikan nyeri. (Price, 2006)
Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai
pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, pasien menilai nyeri dengan

menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri
sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri,
maka direkomendasikan patokan 10 cm.
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah
suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi
verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk
mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri
yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari
pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka.
Faktor yang mempengaruhi nyeri: usia, jenis kelamin, budaya, makna nyeri, perhatian,
ansietas, pengalaman masa lalu, pola adaptasi, support keluarga dan social.
2. Memahami dan menjelaskan nyeri kepala
2.1. Menjelaskan definisi nyeri kepala

Nyeri kepala adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala yang berasal
dari struktur sensitif terhadap rasa sakit (Kenneth, 2004). Struktur cranium yang peka nyeri
kepala adalah semua jaringan ekstrakranium, termasuk kulit kepala, otot, arteri, dan
periosteum tengkorak; sinus kranialis; sinus vena intrakranium dan vena-vena cabangnya;
bagian dari dura di dasar otak dan arteri di dalam dura; dan nervus kranialis trigeminus,
fasialis, vagus, dan glosofaringeus serta nrvus cervicalis ( C2 dan C3).
Apabila nyeri kepala melibatkan struktur-struktur di daerah infratentorium, nyeri
tersebut dari daerah oksipitalis kepala dan leher oleh akar saraf cervical atas. Nyeri
supratentorium dirasakan di bagian anterior kepala (daerah oksipital, temporalis, dan
parietalis) dan terutama diperantai oleh nervus trigeminus. (Kowalak, 2011)
2.2. Menjelaskan epidemiologi nyeri kepala

Prevalensi migren adalah 18,2% diantaranya wanita dan 6,5% pria, dengan 23%
rumah tangga memiliki paling sedikit 1 anggotanya yang mengidap migren. Sebelum usia
12 tahun migren lebih sering terjadi pada anak laki-laki, namun setelah pubertas migren
sering dijumpai pada perempuan dengan rasio 2:1.
Pada nyeri kepala cluster lebih sering pada laki-laki (80% s/d 90%). Dalam sebuah
studi, nyeri kepala cluster memiliki insidensi 1/25 kali dibandingkan dengan nyeri migren.
90% keluhan nyeri kepala bersifat vaskuler, timbul karena kontraksi otot atau kombinasi
keduanya; 10% yang lain terjadi karena gangguan intracranial, sistemik ataupun
psikologis. Gaya hidup, kondisi penyakit, jenis kelamin, umur, pemberian histamin atau
nitrogliserin sublingual dan faktor genetik berpengaruh terjadinya nyeri kepala. (Kenneth,
2004)
2.3. Menjelaskan etiologi nyeri kepala

Sebagian besar nyeri kepala terjadi karena tegangan (kontraksi otot) dapat disebabkan
oleh:
Stres emosional, kelelahan, menstruasi, rangsangan dari lingkungan (bunyi berisik,
kerumunan banyak orang, cahaya yang terang).
Keadaan lain yang dapat menjadi penyebab: glaukoma, inflamasi pada mata atau
mukosa nasal atau sinus paranasal, penyakit pada kulit kepala, gigi, arteri ekstrakranial,
pemakaian obat-obat vasodilator (nitrat, alkohol dan histamin), penyakit sistemik,
hipertensi, peningkatan tekanan intracranial, trauma/tumor kepala, perdarahan, abses
atau aneurisma intrakranial. (Price, 2006)

2.4. Menjelaskan klasifikasi nyeri kepala

Klasifikasi nyeri kepala menurut International Headache Society (HIS) membagi nyeri
kepala menjadi dua kategori utama.
Nyeri kepala primer : migren, nyeri kepala tension, nyeri kepala cluster, nyeri kepala
yang tidak berhubungan lesi struktural.
Nyeri kepala sekunder : nyeri kepala berhubungan dengan cedera kepala, gangguan
vaskuler, gangguan intrakranial non-vaskuler, infeksi non cephalic, gangguan
metabolik, gangguan tengkorak, leher, mata, hidung, gigi, mulut, atau struktur-struktur
wajah kranium, neuralgia cranialis, nyeri batang syaraf dan nyeri deafness.
2.5. Menjelaskan patofisiologi nyeri kepala

Beberapa mekanisme umum yang berpengaruh memicu nyeri kepala:


Peregangan atau pergeseran pembuluh darah: intrakranium atau ekstrakranium.
Traksi pembuluh darah.
Peregangan periosteum (nyeri local).
Degenerasi spina cervicalis atas disertai kompresi pada akar nervus cervicalis
(misalnya, arthritis vertebra cervicalis).
Defisiensi enkefalin (peptide otak mirip opiate, bahan aktif endorphin).
Sistem saraf simpatis pada dasarnya bertanggung jawab atas pengendalian neural
pembuluh darah cranium dan ekstrakranium. Nyeri kepala dapat memancar dari struktur
yang peka terhadap rasa nyeri seperti kulit, kulit kepala, otot, arteri dan vena; nervus
kranialis V. VII, IX dan X; atau nervus kranialis 1, 2, dan 3.
Empat fase nyeri kepala:
1. Normal. Arteri serebri dan arteri temporalis dipersarafi secara ekstrakranial; arteri
dalam parenkim otak tidak dipersarafi.
2. Vasokontriksi (aura). Vasokontriksi lokal neurogenik yang berkaitan dengan stres pada
arteri serebri yang dipersarafi akan mengurangi aliran darah ke dalam otak (iskemia
lokal). Secara sistematis, prostaglandin tromboksan akan meningkatkan agregasi
trombosit dan pelepasan serotonin, suatu vasokontriktor yang poten, serta mungkin pula
zat adiktif lain.
3. Dilatasi arteri parenkim. Pembuluh darah parenkim otak yang tidak dipersarafi akan
berdilatasi sebagai reaksi terhadap keadaan asidosis dan anoksia (iskemia). Peningkatan
aliran darah, kenaikan tekanan internal dan peningkatan pulsasi pembuluh darah
menyebabkan aliran darah melintas pembuluh darah yang pada keadaan normal untuk
memberikan nutrisi.
4. Vasodilatasi. Mekanisme kompensasi menimbulkan vasodilatasi pada arteri yang
dipersarafi sehingga terjadi nyeri kepala. Agregasi trombosit dalam peredaran darah
sistemik berkurang dan penurunan kadar serotonin menyebabkan vasodilatasi.
(Kowalak, 2011)
Patofisiologi Migrain Tanpa Aura
Migren tanpa aura dimula di neuron-neuron nosiseptif di pembuluh darah. Sinyal nyeri
berjalan dari pembuluh ke aferem primer dan kemudian ke ganglion trigeminus, dan
akhirnya mencapai nucleus kaudalis trigeminus, suatu daerah pengolah nyeri di batang
otak. Neuron-neuron aktif di SSP kemudian mengekspresikan gen c-fos, yang ditekan oleh
butabarbital di nucleus caudatus. (Kenneth, 2004)
Patofisiologi Migrain dengan Aura

Penyebaran gejala neurologic fokal spreading depression korteks yang terjadi saat
depolarisasi listrik melintasi korteks dan merangsang neuron-neuron sehingga fungsi
neuron terganggu dan terjadi pengaktifan trigeminus. Spreading depression memerlukan
aktivitas reseptor N-metil-D-aspartat (NMDA) glutamate. Gejala aura yang khas adalah
perubahan penglihatan dan sensorik abnormal. Aura bersifat somatosensorik seperti rasa
baal di tangan atau satu sisi wajah.
2.6. Menjelaskan manifestasi klinis nyeri kepala

Selama serangan migrain, fungsi fisiologik terganggu:


1. Gangguan pemprosesan sensorik menyebabkan disfungsi penglihatan dan pendengaran
(fotofobia dan fonofobia).
2. Gangguan motilitas GI dapat menyebabkan mual dan muntah serta kesulitan
mengkonsumsi obat antimigren oral.
3. Gangguan autonom dapat menimbulkan berbagai gejala seperti diare.
4. Gangguan serebrum dapat menyebabkan perubahan kognitif dan suasana hati.
Tipe
Migrain tanpa aura ( migrain biasa)
Durasi 4 sampai 72 jam apabila tidak
diobati

Migrain dengan aura (klasik)


Biasanya terjadi pada kepribadian
kompulsif.

Tanda dan Gejala


Gejala prodromal yang meliputi rasa lelah,
nausea, vomitus, dan ketidakseimbangan
cairan yang mendahului serangan sakit kepala.
Sensitive terhadap cahaya dan bunyi berisik.
Nyeri tipe sakit kepala (rasa pegal atau nyeri
berdenyut yang bias unilateral atau bilateral).
Gejala prodromal yang meliputi gangguan
penglihatan seperti penampakan garis zig zag
dan cahaya yang terang, gangguan sensorik
(kesemutan pada wajah, bibir serta tangan),
gangguan motorik.
Sakit kepala yang periodik dan rekuren.

Migrain hemiplegik dan oftalmoplegik


Biasanya terjadi pada dewasa muda
Nyeri unilateral
Kelumpuhan otot ekstraokuler (N. cranial III)
dan psitosis.
Migrain hemiplegic terdapat gangguan
neurologi (hemiparesis, hemiplagia) yang
dapat bertahan meskipun sakit kepala sudah
mereda.
Migrain arteri basilaris
Terjadi pada wanita muda periode Gejala prodromal yang meliputi gangguan
haid
penglihatan parsial dengan keluhan vertigo,
ataksia, tinnitus, kesemutan jari-jari tangan
serta kaki.
Nyeri kepala yang berupa nyeri berdenyut di
daerah oksipital dn vomitus.
(Kowalak, 2011)
Membedakan Nyeri Kepala

Jenis atau
Penyebab
Ketegangan
otot

Migren

Nyeri Kepala
Cluster

Hipertensi

Kelainan
mata (iritis,
glaukoma).

Kelainan
sinus

Tumor otak

Infeksi otak

Ciri Khas

Pemeriksaan Diagnostik

Sakit kepala sering terjadi, nyeri


hilang timbul, tidak terlalu berat dan
dirasakan di kepala bagian depan dan
belakang atau dirasakan kekakuan
menyeluruh.
Nyeri dimulai di dalam dan di sekitar
mata atau pelipis, menyebar ke satu
atau kedua sisi kepala, biasanya
mengenai seluruh kepala, berdenyut
dan disertai dengan hilangnya nafsu
makan, mual dan muntah.
Serangannya singkat (sekitar 1 jam),
dirasakan di satu sisi kepala, serangan
terjadi secara periodik, menyerang
pria
yang
disertai
dengan
pembengkakan mata, hidung meler &
mata berair pada sisi yang sama
dengan nyeri.
Nyerinya berdenyut dan dirasakan di
kepala bagian belakang atau di
puncak kepala.
Nyeri dirasakan di kepala bagian
depan atau di dalam dan di seluruh
mata, bersifat sedang sampai berat
dan seringkali memburuk jika mata
dalam keadaan lelah.
Nyeri bersifat akut atau subakut,
dirasakan di kepala bagian depan,
bersifat tumpul atau berat, biasanya
memburuk di pagi hari, membaik di
siang hari dan memburuk dalam
keadaan dingin atau lembab.
Nyeri hilang-timbul, bersifat ringan
sampai berat, dirasakan di satu titik
atau di seluruh kepala. Kelemahan di
salah satu sisi tubuh semakin
meningkat,
kejang,
gangguan
penglihatan, kemampuan berbicara
hilang, muntah dan perubahan
mental.
Nyeri hilang-timbul, bersifat ringan
sampai berat, dirasakan di satu titik
atau di seluruh kepala. Sebelumnya
penderita pernah mengalami infeksi
telinga, sinus atau paru-paru,
penyakit jantung rematik atau

Pemeriksaan
untuk
menyingkirkan penyakit fisik
serta penilaian faktor psikis &
kepribadian.
Jika
diagnosisnya
masih
meragukan dan sakit kepala
baru terjadi, dilakukan CT scan
atau MRI/diberikan obat migren
untuk melihat efeknya.
Obat migren diberikan untuk
melihat efeknya (sumatriptan,
metisergid/obat vasokonstriktor,
kortikosteroid,
indometasin)
atau menghirup O2.

Analisa kimia darah


pemeriksaan ginjal.

dan

Pemeriksaan mata.

Rontgen sinus

MRI atau CT scan

MRI atau CT scan

10

Meningitis

Hematoma
subdural

Perdarahan
subaracnoid

Sifilis,
tuberculosis,
kriptococcus
, kanker.

penyakit jantung bawaan.


Nyeri baru dirasakan, menetap, berat
dan dirasakan di seluruh kepala serta
menjalar ke leher. Sakit disertai
demam, muntah dan sebelumnya
mengalami nyeri tenggorokan atau
infeksi pernafasan dan leher sulit
ditekuk.
Nyeri hilang-timbul atau terus
menerus, bersifat ringan sampai
berat, bisa dirasakan di satu titik atau
di seluruh kepala, menjalar ke leher.
Biasanya sebelumnya telah terjadi
cedera pada penderita yang disertai
penurunan kesadaran.
Nyeri baru dirasakan, menyebar,
hebat dan menetap, kadang dirasakan
di dalam dan di sekitar mata, kelopak
mata turun.
Nyeri bersifat tumpul sampai berat
dan dirasakan di seluruh kepala atau
di puncak kepala, menderita demam
meski tidak terlalu tinggi dan terdapat
riwayat
sifilis,
tuberkulosis,
kriptokokosis,
sarkoidosis
atau
kanker pada pasien.

Pemeriksaan
lumbal.

darah,

pungsi

MRI atau CT scan.

MRI atau CT scan, jika hasilnya


negatif maka dilakukan pungsi
lumbal.

Pungsi lumbal.

(The International Classification of Headache Disorders, 2004)

2.7. Menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding nyeri kepala

Amanmesis
Pertanyaan umum pada anamnesa keluhan nyeri kepala:
1. Apakah nyeri kepala itu merupakan nyeri kepala biasa?
Istilah biasa disini berarti nyeri kepala yang terjadi kadang-kadang tanpa sebab
yang jelas dan lazim diderita banyak orang. Namun kemungkinan adanya gangguan
biokimiawi dibalik nyeri tersebut juga tidak dapat disingkirkan.
2. Apakah pasien pernah mengalami gangguan cedera kepala yang terjadi segera,
beberapa minggu bahkan beberapa bulan sebelum timbulnya nyeri kepala untuk
pertama kali?
Nyeri kepala semacam ini bisa merupakan suatu gejala sisa setelah seseorang
mengalami kontusio cerebri atau perdarahan subdural.
3. Apakah disertai gejala demam?
Jika ya, penyebabnya harus dipikirkan. Pada penyakit-penyakit infeksi tertentu,
terutama demam tifoid dan infeksi yang disebabkan oleh arbovirus, nyeri kepala
dapat dirasakan sangat hebat sehingga menutupi keluhan demamnya.

11

4. Bagaimana pasien menjelaskan nyeri kepala (lokasi, frekuensi, waktu, durasi,


kualitas, faktor pemicu, faktor pereda)?
5. Apakah nyeri kepala timbul tersendiri atau disertai kelainan lain (mual, muntah,
pusing, fotofobia, penglihatan kabur)?
(Price, 2006)
Pertanyaan diagnostik spesifik:
1. Apakah nyeri kepala menggangu kehidupan anda?
2. Apakah ada perubahan pola nyeri kepala selama 6 bulan terakhir?
3. Seberapa sering anda mengalami nyeri kepala tipe apapun?
4. Seberapa sering anda menggunakan obat untuk mengatasi nyeri kepala?
Kriteria diagnostik Migrain Tanpa Aura
1. Sekurang-kurangnya terjadi 5 serangan.
2. Serangan nyeri kepala berlangsung selama 4-72 jam (tidak diobati atau tidak berhasil
diobati).
3. Nyeri kepala mempunyai sedikitnya 2 diantara karakteristik berikut:
Lokasi unilateral
Kualitas berdenyut
Intensitas nyeri sedang atau berat
Keadaan bertambah berat oleh aktifitas fisik atau pasien menghindari aktivitas
fisik rutin (seperti berjalan atau naik tangga).
4. Selama nyeri kepala disertai salah satu dibawah ini:
Nausea dan atau muntah
Fotofobia dan fonofobia.
5. Tidak berkaitan dengan kelainan yang lain.
Kriteria diagnostik Migrain dengan Aura
1. Sekurang-kurangnya terjadi 2 serangan.
2. Minimal memenuhi 3 dari 4 kriteria berikut ini :
Satu atau lebih gejala aura yang reversibel yang mengindikasikan gejala fokal
kortikal atau disfungsi batang otak.
Minimal gejala aura muncul secara gradual dalam waktu > 4 menit.
Gejala aura tidak berlangsung dalam waktu > 60 menit.
Sakit kepala yang diikuti dengan aura disertai interval 60 menit.
3. Tidak dijumpai adanya kelainan organik.
Kriteria diagnostik Tension type headache
1. Minimal ada 10 serangan nyeri kepala dengan frekuensi < 15 x/bulan atau < 180
x/tahun.
2. Nyeri kepala berlangsung dari 30 menit 7 hari.
3. Minimal ada 2 kriteria nyeri sebagai berikut :
Rasa seperti ditekan/berat di kepala (non pulsating, tidak berdenyut).
Intensitas nyeri ringan sedang.
Lokasi bilateral.
Tidak teragregasi oleh aktifitas fisik.
4. Tidak dijumpai nausea, vomitus, photophobia, phonophobia jarang dijumpai
Pemeriksaan penunjang
1. Foto Rontgen kepala.
2. Elektroenchelpalograph/Elektro Enselo Grafi (EEG).

12

3.
4.
5.
6.

CT-SCAN.
Arteriografi, Brain Scan Nuklir.
Pemeriksaan laboratorium (tidak rutin atas indikasi).
Pemeriksaaan psikologi (jarang dilakukan).

Diagnosis Banding
Cedera serebrovaskular, arteritis temporalis, sinusitis, meningitis, perdarahan
subarachnoid, sakit kepala pasca trauma, sakit kepala karena rangsangan dingin, sakit
kepala yang diinduksi nitrat/nitrit, sakit kepala karena monosodium glutamat (MSG),
penyakit sendi temporo mandibular, athritis servikalis.
2.8. Menjelaskan tatalaksana nyeri kepala

Sasaran penatalaksanaan tergantung lama dan intensitas nyeri, gejala penyerta, derajat
disabilitas serta respon awal dari pengobatan dan mungkin pula ditemukan penyakit lain
seperti epilepsi, ansietas, stroke, infark miokard. Karena itu harus hati-hati memberikan
obat. Bila ada gejala mual/muntah, obat diberikan rektal, nasal, subkutan atau intra vena.
Tatalaksana pengobatan migren dapat dibagi kepada 4 kategori
a. Langkah umum
b. Terapi abortif
c. Langkah menghilangkan rasa nyeri
d. Terapi preventif

A. Langkah Umum
Perlu menghindari pencetus nyeri, seperti perubahan pola tidur, makanan, stres dan
rutinitas sehari-hari, cahaya terang, kelap kelip, perubahan cuaca, berada ditempat
yang tinggi seperti gunung atau di pesawat udara.
B. Terapi Abortif
Pada serangan ringan sampai sedang atau serangan berat. Analgesik ringan aspirin
(drug of choice). Bila tidak respon terhadap NSAIDs, dipakai obat spesifik. seperti:
Triptans (naratriptans, rizatriptan, sumatriptan, zolmitriptan), Dihydro ergotamin
(DHE), obat kombinasi (aspirin dengan asetaminophen dan kafein), obat golongan
ergotamin.
Tabel obat spesifik
Jenis obat
1. Ergotamin

Dosis : 1-2 mg oral/jam, maksimal 3 dosis sehari, gunakan


dosis efektif terkecil.
Suppos : 1 mg, dosis maks, 2-3/ hr dan 12/bulan
Kontra indikasi : pengguna triptans, hamil, menyusui,
hipertensi, sepsis, coronary, cerebral, peripheral vascular
disease.
Adverse react: Increased incidence of migraines, daily
headaches, tachycardia,arterial spasm, numbness and
tingling, vomiting, diarrhea, dizziness, abdominal cramps.
2. Caffeine plus Dosis: 2 tablet (100 mg caffeine/1mg ergot) pada saat onset,
Ergotamine
kemudian 1 tab tiap 30 menit, dapat naik sampai 6 tab.(jangan

13

lebih
10 tab/minggu nya).
Suppos (2 mg ergot/100 mg caff).
3. Dihydroergot
amine (DHE)

Triptans
1. Sumatriptan

2. Naratriptan

3. Rizatriptan

4. Zolmitriptan

Dosis: 1 mg IM, SC Max initial dose: 0.5 to 1.0 mg; dapat


diulang tiap jam sampai dosis max 3 mg IM atau 2 mg IV per
hari, dan 6 mg per minggu.
Intranasal: 0.5-mg spray pada tiap nostril, dosis maksimal 4
spray (2 mg) per hari.
Dosis: 6 mg SC, dapat diulang dalam 1 jam, dosis maksimal
12 mg/hr. 25 -100 mg oral /2 jam, dosis maks: 200 mg/hari
Max initial dose: 100 mg.
Intranasal: 5 -10 mg (1-2 spray) pada satu nostril; dapat
diulang sesudah 2 jam, dosis maksimal 40 mg/hari.
Kontraindikasi : Ergotamine, hemiplegic atau basilar migraine,
hamil, gangguan fungsi hepar, CAD, MAOI
Adverse react : vomiting, vertigo, headache, chest pressure
and heaviness.
Dosis: 1.0 - 2.5 mg ooral/4 jam, dosis max 5 mg per hari.
Kontra indikasi : Ergot-type medications, kontrasepsi oral,
merokok, CAD.
Adverse react : Dizziness, nausea, fatigue.
Dosis: 5 - 20 mg oral/2jam, dosis maks 30 mg per hari.
Kontra indikasi : Ergot-type medications, other triptans,
propranolol, cimetidine, CAD
Adverse react : Tachycardia, throat tightness.
Dosis: 2.5-5.0 mg oral/2 jam, dosis maks 10 mg per hari.
Kontra indikasi: Ergot-type medications, other triptans, CAD.

(Gunawan, 2007)
C. Langkah Menghilangkan Rasa Nyeri
Terapi abortif mungkin belum mengatasi nyeri secara komplit, dibutuhkan
analgesik NSAIDs. Obat OTCs yang direkomendasikan FDA ialah kombinasi aspirin
250 mg, acetaminophen 250 mg dan caffein 65 mg. Ketoralac tromethamin non
narcotic, non habituating dapat dipakai, efek sampingnya minim, dosis 60 mg i.m.
Analgesik narkotik, antiemetik, pheno-tyhiazines, dan kompres dingin bisa
mengurangi nyeri. Analgesik narkotik (codein, meperidine HCL , methadone HCL)
diberikan parenteral, efektif menghilangkan nyeri. Anti emetik diberikan parenteral
atau suppositoria (phenergan, chlopromazine dan prochlorperazine) mempunyai efek
sedatif dan anti mual. Transnasal butorphanol tartrate diberikan parenteral. Pemberian
nasal efektif karena sifat mukosa hidung lebih cepat mengabsorbsi. (Price, 2006)
D. Terapi preventif
Prinsip umum terapi preventif :
*Mengurangi frekuensi berat dan lamanya serangan.
*Meningkatkan respon pasien terhadap pengobatan.
*Meningkatkan aktivitas sehari-hari, serta pengurangan disabilitas.
Formula Prevensi Migren.

14

*Pemakaian obat: dosis rendah yang efektif dinaikkan pelan-pelan sampai dosis
efektif. Efek klinik tercapai setelah 2-3 bulan.
*Pendidikan terhadap penderita: teratur memakai obat, perlu diskusi rasional
tentang pengobatan, efek samping.
*Evaluasi : Headache diary merupakan suatu gold standart evaluasi serangan,
frekuensi, lama, beratnya serangan, disabilitas dan respon obat.
*Kondisi penyakit lain : pedulikan kelainan yang sedang diderita seperti stroke,
infark myocard, epilepsi dan ansietas, penderita hamil (efek teratogenik), hati-hati
interaksi obat-obat.

Tabel Obat profilaksis Migren


Jenis Obat
Dosis
-blokers
Atenolol
50-150mg/hr
Metaprolol
100-200 mg/hr
Nadolol
20-160 mg/hr
Propanolol
40-240 mg/hr
Calcium
channel
blockers
5-10 mg/hr
Flunarizine
240-320 mg/hr
Verapamil

Efek Samping

Kontraindikasi

Fatigue, bronchospasm, Pasien asma, DM, peny.


bradikardi,
hipotensi, vaskuler perifer, heart
depresi, congestive heart block, ibu hamil.
failure, impotensi,
gangguan tidur.
Fatigue,
bradikardi,
konstipasi,
edema.

depresi, ibu hamil, hipertensi,


hipotensi, aritmia.
nausea,

Serotonin receptor
antagonists
Methysergide
2 mg
8mg/hr)
Pizotyline (pizotifen)
Tricyclic analgesics
Amitriptiline
Nortriptiline

Anti-epileptik
Divalproex
Sodium
valproate
Valproic acid
Gabapentin

(max Retroperitoneal,cardiac
and
pulmonary fibrosis
0.5 mg (max 3- Weight gain, Fatigue.
6 mg/hr)
10-150 mg
10-150 mg

hipertensi, kehamilan,
tromboflebitis.

Mulut kering, konstipasi, kelainan liver, ginjal,


weight gain, drowsiness,
paru, jantung,
reduced
seizure glaukoma, hipertensi.
threshold, cardiovascular
effects.

500-1500 mg/d
500-1500 mg/d
500-1500 mg/d

Nausea, tremor, weight


gain,
alopecia, increased liver
enzyme levels.
900-1800
Dizzines, fatique, ataxia,
mg/hr
(max nausea, tremor.
2400)

(Kenneth, 2004)
Tatalaksana Nyeri Kepala Tension
Terapi Non-farmakologi

15

*Melakukan latihan peregangan leher atau otot bahu sedikitnya 20 sampai 30


menit.
*Perubahan posisi tidur.
*Pernafasan dengan diafragma atau metode relaksasi otot yang lain.
*Penyesuaian lingkungan kerja maupun rumah.
*Pencahayaan yang tepat untuk membaca, bekerja, menggunakan komputer, atau
saat menonton televisi.
*Hindari eksposur terus-menerus pada suara keras dan bising.
*Hindari suhu rendah pada saat tidur pada malam hari.

(Price, 2006)
Terapi farmakologi
*Menggunakan analgesik atau analgesik plus ajuvan sesuai tingkat nyeri. Seperti obatobat OTC: aspirin, acetaminophen, ibuprofen atau naproxen sodium. Produk kombinasi
dengan kafein dapat meningkatkan efek analgesik.
*Untuk sakit kepala kronis, perlu assesment yang lebih teliti mengenai penyebabnya,
misalnya karena anxietas atau depresi.
*Pilihan obatnya adalah antidepresan, seperti amitriptilin atau antidepresan lainnya.
Hindari penggunaan analgesik secara kronis memicu rebound headache.
(Kowalak, 2011)
Tatalaksana Cluster headache
Sasaran terapi : menghilangkan nyeri (terapi abortif), mencegah serangan (profilaksis).
Strategi terapi : menggunakan obat NSAID, vasokonstriktor cerebral.
*Obat terapi abortif: oksigen, ergotamin, sumatriptan (dosis sama dengan dosis migren).
*Obat terapi profilaksis: verapamil, litium, ergotamin, metisergid, kortikosteroid,
topiramat.

2.9. Menjelaskan komplikasi nyeri kepala

Komplikasi dapat meliputi: kesalahan diagnosis, status migren, ketergantungan obat dan
perubahan gaya hidup.
Menjelaskan prognosis nyeri kepala
Prognosis nyeri kepala bergantung pada jenis sakit kepalanya sedangkan indikasi merujuk
pada keadaan : (1) sakit kepala yang tiba-tiba dan timbul kekakuan di leher, (2) sakit
kepala dengan demam dan kehilangan kesadaran, (3) sakit kepala setelah terkena trauma
mekanik pada kepala, (4) sakit kepala disertai sakit pada bagian mata dan telinga, (5) sakit
kepala yang menetap pada pasien yang sebelumnya tidak pernah mengalami serangan, (6)
sakit kepala yang rekuren pada anak.

2.10.

Menjelaskan pencegahan nyeri kepala


Prognosis nyeri kepala bergantung pada jenis sakit kepalanya sedangkan indikasi
merujuk pada keadaan : (1) sakit kepala yang tiba-tiba dan timbul kekakuan di leher, (2)
sakit kepala dengan demam dan kehilangan kesadaran, (3) sakit kepala setelah terkena
trauma mekanik pada kepala, (4) sakit kepala disertai sakit pada bagian mata dan telinga,

2.11.

16

(5) sakit kepala yang menetap pada pasien yang sebelumnya tidak pernah mengalami
serangan, (6) sakit kepala yang rekuren pada anak.
Prognosis nyeri kepala bergantung pada jenis sakit kepalanya sedangkan indikasi
merujuk pada keadaan : (1) sakit kepala yang tiba-tiba dan timbul kekakuan di leher, (2)
sakit kepala dengan demam dan kehilangan kesadaran, (3) sakit kepala setelah terkena
trauma mekanik pada kepala, (4) sakit kepala disertai sakit pada bagian mata dan telinga,
(5) sakit kepala yang menetap pada pasien yang sebelumnya tidak pernah mengalami
serangan, (6) sakit kepala yang rekuren pada anak.
3. Memahami dan menjelaskan nyeri somatoform
3.1. Menjelaskan definisi nyeri somatoform

Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik
(sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan
medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan
penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien
untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. (Kaplan, 1997)
Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa factor
psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala.
Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau
gangguan buatan. Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:
Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem
organ.
Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.
Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan
pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.
Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang
berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan
faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.

3.2. Menjelaskan epidemiologi nyeri somatoform

Faktor risiko gangguan somatoform: riwayat orangtua, pola asuh dalam keluarga
yang salah, wanita lebih banyak menderita, memiliki kepribadian yang mudah cemas,
orang yang tertutup, alkoholism, serta pada penyalahgunaan obat.
Prevalensi gangguan somatisasi pada populasi umum diperkirakan 0,1 sampai 0,2 %.
Prevalensi gangguan somatisasi pada wanita di populasi umum adalah 1 2 %. Rasio
penderita wanita dibanding laki-laki adalah 5 berbanding 1 dan biasanya gangguan mulai
pada usia dewasa muda (sebelum usia 30 tahun). Gangguan somatisasi seringkali bersamasama dengan gangguan mental lainnya. Sifat kepribadian atau gangguan kepribadian yang
seringkali menyertai adalah yang ditandai oleh ciri penghindaran, paranoid, mengalahkan
diri sendiri dan obsesif konpulsif.
Hipokondriasis. Satu penelitian terakhir melaporkan pravalensi enam bulan sebesar 46% pada populasi klinik medis umum. Laki-laki dan wanita memiliki perbandingan yang
sama. Onset gejala dapat terjadi pada setiap usia, onset paling sering antara usia 20 dan 30
tahun. Beberapa bukti menyatakan bahwa diagnosis adalah lebih sering diantara kelompok
kulit hitam dibandingkan kulit putih, tetapi posisi sosial, tingkat pendidikan, dan status
perkawinan tampaknya tidak mempengaruhi diagnosis. (Yutzy, 2006)

17

Pada gangguan konversi, rasio wanita terhadap laki-laki 2 berbanding 1. Laki-laki


dengan gangguan konversi seringkali terlibat di dalam kecelakaan ataupun militer. Paling
sering terjadi pada daerah pedesaan, orang dengan pendidikan rendah, mereka dengan
intelegensi rendah, dan anggota militer.
Gangguan dismorfik tubuh paling sering antara 15-20 tahun dan wanita lebih sering
dibanding laki-laki. Satu penelitian membuktikan 90% pasien dengan gangguan dismorfik
tubuh pernah mengalami episode defresif berat dalam hidupnya.
Gangguan nyeri didiagnosis 2x lebih sering pada wanita daripada pria. Gangguan nyeri
paling mungkin pada pekerja buruh. (Kaplan, 1997)
3.3. Menjelaskan etiologi nyeri somatoform

Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikologis di bawah sadar yang mempunyai
tujuan tertentu. Pada beberapa kasus ditemukan faktor genetik dalam transmisi gangguan
ini. Selain itu, dihubungkan pula dengan adanya penurunan metabolisme
(hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer non dominan. Secara
garis besar, faktor-faktor penyebab dikelompokkan sebagai berikut:
a. Faktor-faktor Biologis
Faktor ini berhubungan dengan kemungkinan pengaruh genetis (biasanya pada
gangguan somatisasi).
b. Faktor Lingkungan Sosial
Sosialisasi terhadap wanita pada peran yang lebih bergantung, seperti peran sakit
yang dapat diekspresikan dalam bentuk gangguan somatoform.
c. Faktor Perilaku
Pada faktor perilaku ini, penyebab ganda yang terlibat adalah:
Terbebas dari tanggung jawab yang biasa atau lari atau menghindar dari situasi
yang tidak nyaman atau menyebabkan kecemasan (keuntungan sekunder).
Adanya perhatian untuk menampilkan peran sakit.
Perilaku kompulsif yang diasosiasikan dengan hipokondriasis atau gangguan
dismorfik tubuh dapat secara sebagian membebaskan kecemasan yang
diasosiasikan dengan keterpakuan pada kekhawatiran akan kesehatan atau
kerusakan fisik yang dipersepsikan.
d. Faktor Emosi dan Kognitif
Pada faktor penyebab yang berhubungan dengan emosi dan kognitif, penyebab ganda
yang terlibat adalah sebagai berikut:
Salah interpretasi dari perubahan tubuh atau simptom fisik sebagai tanda dari
adanya penyakit serius (hipokondriasis).
Dalam teori Freudian tradisional, energi psikis yang terpotong dari impuls-impuls
yang tidak dapat diterima dikonversikan ke dalam simptom fisik (gangguan
konversi).
Menyalahkan kinerja buruk dari kesehatan yang menurun mungkin merupakan
suatu strategi self-handicaping (hipokondriasis).
(Khan, 2003)
Pada gangguan Somatisasi berhubungan dengan:
Faktor Psikososial
Rumusan psikososial tentang penyebab gangguan melibatkan interpretasi gejala
sebagai sutu tipe komunikasi sosial, hasilnya adalah menghindari kewajiban,
mengekspresikan emosi, atau untuk mensimbolisasikan suatu perasaan atau
keyakinan. Beberapa pasien dengan gangguan somatisasi berasal dari rumah yang

18

tidak stabil dan telah mengalami penyiksaan fisik. Faktor sosial, kultural dan juga
etnik mungkin juga terlibat dalam perkembangan gangguan somatisasi.
Faktor Biologis
Faktor genetik dalam transmisi gangguan somatisasi dan adanya penurunan
metabolisme (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer
non-dominan. Selain itu diduga terdapat regulasi abnormal sistem sitokin yang
mungkin menyebabkan beberapa gejala yang ditemukan pada gangguan somatisasi.

Pada gangguan hipokondriasis berhubungan dengan:


Model belajar sosial. Gejala hipokondriasis dipandang sebagai keinginan untuk
mendapatkan peranan sakit oleh seseorang untuk menghadapi masalah yang
tampaknya berat dan tidak dapat dipecahkan.
Varian dari gangguan mental lain. Gangguan yang paling sering dihipotesiskan
berhubungan dengan hipokondriasis adalah gangguan depresif dan gangguan
kecemasan.
Psikodinamika. Menyatakan bahwa harapan agresif dan permusuhan terhadap orang
lain dipindahkan (melalui represi dan pengalihan) kepada keluhan fisik.
Hipokondriasis juga dipandang sebagai pertahanan dan rasa bersalah, rasa keburukan
yang melekat, suatu ekspresi harga diri yang rendah, dan tanda perhatian terhadap diri
sendiri (self-concern) yang berlebihan.
3.4. Menjelaskan klasifikasi nyeri somatoform

1) Gangguan Somatisasi
Gangguan somatisasi adalah salah satu gangguan somatoform spesifik yang ditandai
oleh banyaknya keluhan fisik/gejala somatik yang mengenai banyak sistem organ yang
tidak dapat dijelaskan secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium.
Gangguan somatisasi dibedakan dari gangguan somatoform lainnya karena banyaknya
keluhan dan melibatkaan sistem organ yang multiple (gastrointestinal dan neurologis).
2) Gangguan hipokondriasis
Adalah keterpakuan (preokupasi) pada ketakutan menderita, atau keyakinan bahwa
seseorang memiliki penyakit medis yang serius, meski tidak ada dasar medis untuk
keluhan yang dapat ditemukan. Ciri utama dari hipokondriasis adalah fokus atau
ketakutan bahwa simptom fisik yang dialami seseorang merupakan akibat dari suatu
penyakit serius yang mendasarinya, seperti kanker atau masalah jantung.
3) Gangguan nyeri menetap
Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan
faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis. Pasien
sering wanita yang merasa mengalami nyeri yang penyebabnya tidak dapat ditemukan.
Munculnya secara tiba-tiba, biasanya setelah suatu stres dan dapat hilang dalam
beberapa hari atau berlangsung bertahun tahun. Biasanya disertai penyakit organik
yang walaupun demikian tidak dapat menerangkan secara adekuat keparahan nyerinya.
4) Gangguan konversi
Adalah suatu tipe gangguan somatoform yang ditandai oleh kehilangan atau kendala
dalam fungsi fisik, namun tidak ada penyebab organis yang jelas. Simptom fisik
biasanya muncul tiba-tiba dalam situasi yang penuh tekanan. Tangan seorang tentara
dapat menjadi lumpuh saat pertempuran yang hebat, misalnya.

19

5) Gangguan dismorfik tubuh


Gangguan dismorfik tubuh (body dismorphic disorder) ditandai oleh kepercayaan
palsu atau persepsi yang berlebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat. Orang
dengan gangguan ini terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau dibesarbesarkan dalam hal penampilan mereka. Mereka dapat menghabiskan waktu berjamjam untuk memeriksakan diri di depan cermin dan mengambil tindakan yang ekstrem
untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan, seperti menjalani operasi
plastik yang tidak dibutuhkan, menarik diri secara sosial atau bahkan diam di rumah
saja, sampai pada pikiran-pikiran untuk bunuh diri.
(Maslim, 2001)
3.5. Menjelaskan patofisiologi nyeri somatoform
3.6. Menjelaskan manifestasi klinis nyeri somatoform

Manifestasi klinis gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang
berulang disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti
hasilnya negatif dan juga telah dijelaskan dokter bahwa tidak ada kelainan yang mendasari
keluhannya (Kapita Selekta, 2001). Beberapa orang biasanya mengeluhkan masalah dalam
bernafas atau menelan, atau ada yang menekan di dalam tenggorokan. Masalahmasalah seperti ini dapat merefleksikan aktivitas yang berlebihan dari cabang
simpatis sistem saraf otonomik, yang dapat dihubungkan dengan kecemasan. Kadang
kala, sejumlah simptom muncul dalam bentuk yang lebih tidak biasa, seperti kelumpuhan
pada tangan atau kaki yang tidak konsisten dengan kerja sistem saraf. Dalam kasus-kasus
lain, juga dapat ditemukan manifestasi di mana seseorang berfokus pada keyakinan bahwa
mereka menderita penyakit yang serius, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang
dapat ditemukan (Nevid, 2005).
Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari perhatian (histrionik),
terutama pada pasien yang kesal karena tidak berhasil membujuk dokternya untuk
menerima bahwa keluhannya memang penyakit fisik dan bahwa perlu adanya pemeriksaan
fisik yang lebih lanjut (PPDGJ III, 2003).
Gambaran keluhan gejala somatoform
Neuropsikiatri: kedua bagian dari otak saya tidak dapat berfungsi dengan baik ;
saya tidak dapat menyebutkan benda di sekitar rumah ketika ditanya
Kardiopulmonal: jantung saya terasa berdebar debar. Saya kira saya akan mati
Gastrointestinal: saya pernah dirawat karena sakit maag dan kandung empedu dan
belum ada dokter yang dapat menyembuhkannya
Genitourinaria:saya mengalami kesulitan dalam mengontrol BAK, sudah dilakukan
pemeriksaan namun tidak di temukan apa-apa
Musculoskeletal: saya telah belajar untuk hidup dalam kelemahan dan kelelahan
sepanjang waktu
Sensoris: pandangan saya kabur seperti berkabut, tetapi dokter mengatakan
kacamata tidak akan membantu
Beberapa tipe utama dari gangguan somatoform adalah gangguan konversi,
hipokondriasis, gangguan dismorfik tubuh, dan gangguan somatisasi. (PPDGJ, 2003)

20

Gangguan somatisasi
1. Adanya beberapa keluhan fisik (multiple symptom) yang berulang, dimana ketika
diperiksa secara fisik/medis, tidak ditemukan adanya kelainan tetapi ia tetap kontinyu
memeriksakan diri.
2. Gangguan tidak muncul karena penggunaan obat. Keluhan yang umumnya, misalnya
sakit kepala, sakit perut, sakit dada, mestruasi tidak teratur.
3. Pasien menunjukkan keluhan dengan cara histrionik, berlebihan, seakan
tersiksa/merana.
4. Berulang kali memeriksa diri ke dokter, kadang menggunakan berbagai obat, dirawat
di RS bahkan dilakukan operasi.
5. Sering ditemukan masalah perilaku atau hubungan personal seperti kesulitan dalam
pernikahan.
Gangguan konversi
1. Kondisi dimana panca indera atau otot-otot tidak berfungsi walaupun secara
fisiologis, pada sistem saraf atau organ-organ tubuh tersebut tidak terdapat
gangguan/kelainan.
2. Secara fisiologis, orang normal dapat mengalami sebagian atau kelumpuhan total
pada tangan, lengan, atau gangguan koordinasi, kulit rasanya gatal atau seperti
ditusuk-tusuk, ketidakpekaan terhadap nyeri atau hilangnya kemampuan untuk
merasakan sensasi (anastesi), kelumpuhan, kebutaan, tidak dapat mendengar, tidak
dapat membau, suara hanya berbisik, dll.
3. Biasanya muncul tiba-tiba dalam keadaan stres, adanya usaha individu untuk
menghindari beberapa aktivitas atau tanggungjawab.
4. Konsep Freud: energi dari insting yang di refleks berbalik menyerang dan
menghambat fungsi saluran sensorimotor.
5. Kecemasan dan konflik psikologik diyakini diubah dalam bentuk simptom fisik.
Hipokondriasis
1. Meyakini/ketakutan atau pikiran yang berlebihan dan menetap bahwa dirinya
memiliki suatu penyakit fisik yang serius.
2. Adanya reaksi fisik yang berlebihan terhadap sensasi fisik/tubuh (salah interpretasi
terhadap gejala fisik yang dialaminya), misalnya otot kaku, pusing/sakit kepala,
berdebar-debar, kelelahan.
3. Melakukan banyak tes lab, menggunakan banyak obat, memeriksakan diri ke banyak
dokter atau RS.
4. Keyakinan ini terus berlanjut, tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dokter,
walaupun hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya penyakit dan sudah
diyakinkan.
5. Keyakinan ini menyebabkan adanya distress atau hambatan dalam fungsi sosial,
pekerjaan atau aspek penting lainnya.
Gangguan dimorfik tubuh
1. Keyakinan akan adanya masalah dengan penampilan atau melebih-lebihkan
kekurangan dalam hal penampilan (misalnya : keriput di wajah, bentuk atau ukuran
tubuh).
2. Keyakinan/perhatian berlebihan ini meyebabkan stres, menghabiskan banyak waktu,
menjadi mal-adaptive atau menimbulkan hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan
atau aspek penting lainnya (menghindar/tidak mau bertemu orang lain, keluar sekolah
atau pekerjaan), juga menyebabkan dirinya sering harus konsultasi untuk operasi
plastik

21

3. Bagian tubuh yang diperhatikan sering bervariasi, kadang dipengaruhi budaya.


Gangguan nyeri
1. Gangguan dimana individu mengeluhkan adanya rasa nyeri yang sangat dan
berkepanjangan, namun tidak dapat dijelaskan secara medis (bahkan setelah
pemeriksaan yang intensif).
2. Rasa nyeri ini bersifat subyektif, tidak dapat dijelaskan, bersifat kronis, muncul di
satu atau beberapa bagian tubuh.
3. Rasa nyeri ini menyebabkan stress atau hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan dan
aspek penting lainnya.
4. Faktor-faktor psikologis sering memainkan peranan penting dalam memunculkan,
memperburuk rasa nyeri.
3.7. Menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding nyeri somatoform

Kriteria diagnosis menurut DSM-IV


Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi
A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi
selama periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan
gangguan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada
sembarang waktu selama perjalanan gangguan:
1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat
tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi,
anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau
selama miksi).
2. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal
selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan,
diare, atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
3. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif
selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi,
menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang
kehamilan).
4. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang
mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala
konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau
kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi
urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan,
ketulian, kejang;gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran
selain pingsan).
C. Salah satu (1) atau (2):
1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat
dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yangdikenal atau efek
langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol).
2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau
pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yangdiperkirakan dan
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan
atau pura-pura).
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi

22

A. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau
sensorik yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
B. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena
awal atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor
lain.
C. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
D. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan
sepenuhnya oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau
sebagai perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.
E. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan
pemeriksaan medis.
F. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi
semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan
dengan lebih baik oleh gangguan mental lain.
Sebutkan tipe gejala atau defisit:
Dengan gejata atau defisit motorik
Dengan gejala atau defisit sensorik
Dengan kejang atau konvulsi
Dengan gambaran campuran
Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis
A. Preokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu
penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejalagejala tubuh.
B. Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan
penentraman.
C. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan
delusional, tipe somatik) dan tidak terbatas pada kekhawatiran tentang penampilan
(seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
D. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
E. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
F. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum,
gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas
perpisahan, atau gangguan somatoform lain.
Sebutkan jika:
Dengan tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selama episode berakhir,
orang tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius
adalah berlebihan atau tidak beralasan.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh
A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit
anomali tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyata.
B. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.

23

C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain
(misalnya, ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia
nervosa).
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri
A. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan
cukup parah untuk memerlukan perhatian klinis.
B. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
C. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan,
eksaserbasi atau bertahannnya nyeri.
D. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
E. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau
gangguan psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.
Tuliskan seperti berikut:
Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis: faktor psikologis
dianggap memiliki peranan besar dalam onset, keparahan, eksaserbasi, dan
bertahannya nyeri. Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun kondisi
medis umum
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Catatan: yang berikut ini tidak dianggap merupakan gangguan mental dan dimasukkan
untuk mempermudah diagnosis banding.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan
A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih).
B. Salah satu (1) atau (2)
1. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya
oleh kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu
zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol).
2. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau
gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa
yang diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau
temuan laboratonium.
C. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
D. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
E. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya
gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan,
gangguan tidur, atau gangguan psikotik).

24

F. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
buatan atau berpura-pura).
Kriteria Diagnostik Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kondisi Medis
A. Adanya suatu kondisi medis umum (dikodekan dalam Aksis III).
B. Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis umum dengan salah satu
cara berikut:
1. Faktor yang mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum ditunjukkan
oleh hubungan erat antara faktor psikologis dan perkembangan atau
eksaserbasi dan, atau keterlambatan penyembuhandan, kondisi medis
umum.
2. Faktor yang mengganggu pengobatan kondisi medis umum.
3. Faktor yang membuat risiko kesehatan tambahan bagi individu.
4. Respons fisiologis yang berhubungan dengan stres menyebabkan atau
mengeksaserbasi gejala-gejala kondisi medis umum.
Pilihlah nama bendasarkan sifat faktor psikologis (bila terdapat lebih dan satu
faktor, nyatakan yang paling menonjol).
Gangguan mental mempengaruhi kondisi medis (seperti gangguan depresif
berat memperlambat pemulihan dan infark miokardium). Gejala psikologis
mempengaruhi kondisi medis (misalnya gejala depresif memperlambat pemulihan
dan pembedahan; kecemasan mengeksaserbasi asma). Sifat kepribadian atau gaya
menghadapi masalah mempengaruhi kondisi medis (misalnya penyangkalan
psikologis terhadap pembedahan pada seorang pasien kanker, perilaku
bermusuhan dan tertekan menyebabkan penyakit kandiovaskular).
Perilaku kesehatan mal-adaptif mempengaruhi kondisi medis (misalnya
tidak olahraga, seks yang tidak aman, makan berlebihan). Respon fisiologis yang
berhubungan dengan stres mempengaruhi kondisi medis umum (misalnya
eksaserbasi ulkus, hipertensi, aritmia, atau tension headache yang berhubungan
dengan stres).
Diagnosis Banding Gangguan Somatoform
a. Gangguan Somatisasi
Klinisi harus selalu menyingkirkan kondisi medis non-psikiatrik yang dapat
menjelaskan gejala pasien. Gangguan medis tersebut adalah sklerosis multiple,
miastenia gravis, lupus eritematosus sistemik kronis. Selain itu juga harus
dibedakan dari gangguan depresi berat, gangguan kecemasan (anxietas),
gangguan hipokondrik dan skizofrenia dengan gangguan waham somatik.
b. Hipokondriasis
Kondisi medis nonpsikiatrik: khususnya gangguan yang tampak dengan gejala
yang tidak mudah didiagnosis. Penyakit-penyakit tersebut adalah AIDS,
endokrinopati, miastenia gravis, skerosis multiple, penyakit degeneratif pada
sistem saraf, lupus eritematosus sistemik, dan gangguan neoplastik yang tidak
jelas.
c. Gangguan Konversi
Gangguan neurologis (seperti demensia, penyakit degeneratif), tumor otak,
penyakit ganglia basalis harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding.
d. Gangguan Dismorfik Tubuh

25

Pada distorsi citra tubuh terjadi pada anoreksia nervosa, gangguan identitas jenis
kelamin, gangguan depresif, gangguan kepribadian narsistik, skizofrenia dan
gangguan obsesif-kumpulsif.
e. Gangguan Nyeri
Gangguan nyeri harus dibedakan dari gangguan somatoform lain, seperti nyeri
pada hipokondrial, nyeri pada konversi.
(Kaplan, 1997)
3.8. Menjelaskan tatalaksana nyeri somatoform

Konsep penggabungan psikoterapetik dan pengobatan medis, yaitu pendekatan yang


menekankan hubungan pikiran dan tubuh dalam penbentukan gejala dan gangguan,
memerlukan tanggung jawab bersama di antara berbagai profesi. Permusuhan, depresi, dan
kecemasan dalam berbagai proporsi adalah akar dan sebagian besar gangguan psikomatik.
Terapi kombinasi merupakan pendekatan di mana dokter psikiatrik menangani aspek
psikiatrik, sedangkan dokter ahli penyakit dalam atau dokter spesialis lain menangani
aspek somatik.
Tujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat
berperan dengan berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan akhirnya
adalah kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi
kepribadian. Psikoterapi kelompok dan terapi keluarga. Terapi keluarga menawarkan
harapan suatu perubahan dalam hubungan keluarga dan anak, mengingat kepentingan
psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik.
keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam
perkembangan gangguan psikosomatik.

Gangguan somatisasi ditatalaksana dengan ikatan terapeutik, perjanjian teratur, dan


intervensi krisis. Pengobatan psikofarmakologis diindikasikan bila gangguan
somatisasi disertai dengan gangguan penyerta (misalnya: gangguan mood, gangguan
depresi yang nyata, gangguan anxietas. Medikasi harus dimonitor karena pasien
dengan gangguan somatisasi cenderung menggunakan obat secara berlebihan dan
tidak dapat dipercaya.

Penatalaksanaan untuk gangguan konversi adalah sugesti dan persuasi dengan


berbagai teknik. Strategi penatalaksanaan pada hipokondriasis meliputi pencatatan
gejala, tinjauan psikososial, dan psikoterapi.

Gangguan dismorfik tubuh diterapi dengan ikatan terapeutik, penatalaksanaan stres,


psikoterapi, dan pemberian antidepresan.

Terapi pada gangguan nyeri mencakup ikatan terapeutik, menentukan kembali tujuan
terapi, dan pemberian antidepresan.
Pendekatan terapi
a. Berhubungan dengan primary care practitioner memonitoring gejala yang dialami
pasien, apakah ada gejala baru, dan pengobatan yang diberikan. Diperlukan juga
untuk berkonsultasi dengan psikiatri.
b. Medikamentosa
c. Pasien dengan somatoform disorder terkadang diperlukan obat anti-anxietas atau obat
antidepresan jika ada mood atai anxietas disorder. Tricyclic antidepresant dan
selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) mungkin bisa membantu.
d. Psikoterapi.
e.
Cognitif-behavioural therapy

26

Terapis behavioral dapat mengajarkan anggota keluarga untuk menghargai usaha


memenuhi tanggung jawab dan mengabaikan tuntutan dan keluhan. Teknik kognitif
behavioral, paling sering pemaparan terhadap pencegahan respons dan restrukturisasi
kognitif, juga mencapai hasil yang memberikan harapan dalam menangani gangguan
dismorfik tubuh (BDD). Pencegahan respons berfokus pada pemutusan ritual kompulsif
seperti memeriksa di depan cermin (dengan menutup semua cermin) dan berdandan
berlebihan. Dalam restrukturisasi kognitif, terapis menantang keyakinan pasien dengan
cara menyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan bukti yang
jelas. (Yutzy, 2006)
Perhatian akhir-akhir ini beralih pada penggunaan anti depressan terutama fluoxetine
(Prozac) dalam menangani beberapa tipe gangguan somatoform. Meski kita kekurangan
terapi obat yang spesifik untuk gangguan konversi, sebuah penelitian terhadap 16 pasien
hipokondriasis menunjukkan penurunan yang berarti terhadap keluhan-keluhan
hipokondrial setelah percobaan selama 12 minggu dengan Prozac.
Hipnosis
Tujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat
berperan dengan berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan akhirnya
adalah kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi
kepribadian. Psikoterapi kelompok dan terapi keluarga. Terapi keluarga menawarkan
harapan suatu perubahan dalam hubungan keluarga dan anak, mengingat kepentingan
psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik.
Keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam
perkembangan gangguan psikosomatik.

*motivasi: perlu motivasi dari orang lain, karena pasien sering kali berpikir bahwa
mereka tidak memerlukan terapi.
*konfrontasi: merespon dengan cara mendukung melalui konfrontasi terhadap akibat
dari pemikiran dan pola perilaku. Lebih efektif bila dilakukan oleh teman sebaya,
psikoterapis.
*peran keluarga dan kelompok.
*dorongan dan partisipasi sangat efektif bagi pasien.
*bila terdapat cemas dan depresi maka berikan anti-depresan namun terkadang tidak
efektif.

Terapi jangka panjang


Terapi wicara: psikoterapi yang dimaksudkan untuk membantu pasien mengerti apa
penyebab kecemasan dan mengenal perilakunya yang tidak pantas, sebagai landasan
untuk pengobatan lainnya. Psikoanalisis: bila ditemukan gangguan kepribadian seperti,
narsis/obsesif kompulsif. (Khan, 2003)

Medikamentosa

27

Golongan
Anti depresan trisiklik

Mekanisme Kerja
Contoh
Menghambat reuptake
Amitriptilin, imipramin,
5-HT/NE
secara
tidak desipramin,
nortriptilin,
selektif
klomipramin
Menghambat secara
Fluoksetin, paroksetin,
selektif reuptake 5-HT
sertralin, fluvoksamin

SSRIs
(selective
serotonin
reuptake inhibitors)
Mixed
DA/NE Menghambat reuptake
reuptake
DA/NE secara tidak selektif
Inhibitor
MAO inhibitors
Menghambat aktivitas
enzim MAO

Trazodon, nefazodon,
mirtazapin, bupropion,
maprotilin, venlafaksin
Phenelzine, tranylcypromine

Dosis
Depresi ringan sampai dengan sedang 25 mg 1-3 x sehari atau 25-75 mg 1 x sehari
tergantung dari beratnya gejala.
Depresi berat 25 mg 3 x sehari atau 75 mg 1 x sehari. Maksimal: 150 mg/hari dalam
dosis tunggal atau terbagi.
Lansia Awal 10 mg 3 x sehari atau 25 mg 1 x sehari. Bila perlu tingkatkan bertahap
sampai 25 mg 3 x sehari atau 75 mg 1 x sehari.
Efek Samping
Reaksi SSP, antikolinergik ringan, sinus takikardi, hipotensi pustural, reaksi alergi pada
kulit, kejang, aritmia, gangguan hantaran jantung, alveolitis alergi, hepatitis.
Kontraindikasi

epilepsi atau ambang rangsang lebih rendah, intoksikasi akut oleh alkohol, gangguan
hantaran jantung, glaukoma sudut sempit, retensi urin, hepatitis berat, gangguan
ginjal.
pengguanaan bersama obat analgesik, hipnotik, atau psikotropik.

Perhatian pada pasien dengan:


*Insufisiensi hati & ginjal, retensi urin, riwayat peningkatan tekanan intra okular, hamil,
laktasi, skizofrenia, gangguan afektik siklik, dapat mengganggu kemampuan
mengemudi/menjalankan mesin.
Rujukan: penanganan pada kasus ini juga membutuhkan dukungan dari berbagai bidang
ilmu misalnya psikiatri, ahli penyakit dalam, keluarga, serta para ulama (bila perlu).
(Gunawan, 2007)

3.9. Menjelaskan komplikasi nyeri somatoform

komplikasi iatrogenik akibat prosedur diagnostik invasif / prosedur prosedur


operasi.

28

ketergantungan pada substansi- substansi pengontrol yang diresepkan.


kehidupan yang bergantung pada orang lain.
suicide.

Menjelaskan prognosis nyeri somatoform


Prognosis pada gangguan somatoform sangat bervariasi, tergantung umur pasien dan sifat
gangguannya (kronik atau episodik). Umumnya, gangguan somatoform prognosisnya baik,
dapat ditangani secara sempurna. Sangat sedikit sekali yang mengalami eksarsebasi, dapat
bervariasi dari mild-severe dan kronis. Pengobatan yang lebih awal dan menjadikan
prognosis menjadi lebih baik. Secara independen tidak meningkatkan risiko kematian.
Kematian lebih disebabkan karena upaya bunuh diri. (Kaplan, 1999)

3.10.

3.11.

Menjelaskan pencegahan nyeri somatoform

4. Memahai dan menjelaskan aspek klinis gangguan somatisasi

Gangguan somatisasi adalah salah satu gangguan somatoform spesifik yang ditandai oleh
banyaknya keluhan fisik/gejala somatik yang mengenai banyak sistem organ yang tidak
dapat dijelaskan secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium.
Gangguan somatisasi dibedakan dari gangguan somatoform lainnya karena banyaknya
keluhan dan melibatkaan sistem organ yang multiple (sebagai contoh, gastrointestinal dan
neurologis). Gangguan ini bersifat kronis dengan gejala ditemukan selama beberapa tahun
dan dimulai sebelum usia 30 tahun dan disertai dengan penderitaan psikologis yang
bermakna, gangguan fungsi sosial dan pekerjaan, dan perilaku mencari bantuan medis
yang berlebihan.
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi gangguan somatisasi pada populasi umum diperkirakan 0,1 0,2 %, walaupun
beberapa kelompok penelitian percaya bahwa angka sesungguhnya mungkin mendekati
0,5 %. Prevalensi gangguan somatisasi pada wanita di populasi umum adalah 1 2 %.
Rasio penderita wanita dibanding laki-laki adalah 5 berbanding 1 dan biasanya gangguan
mulai pada usia dewasa muda (sebelum usia 30 tahun).
Beberapa peneliti menemukan bahwa ggangguan somatisasi seringkali bersama-sama
dengan gangguan mental lainnya. Sifat kepribadian atau gangguan kepribadian yang
seringkali menyertai adalah yang ditandai oleh ciri penghindaran, paranoid, mengalahkan
diri sendiri dan obsesif konpulsif.
ETIOLOGI
Penyebab ganggguan somatisasi tidak diketahui secara pasti tetapi diduga terdapat faktorfaktor yang berperan terhadap timbulnya gangguan somatisasi yakni:
Faktor Psikososial
29

Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikis dibawah sadar yang mempunyai tujuan
tertentu. Rumusan psikososial tentang penyebab gangguan melibatkan interpretasi gejala
sebagai sutu tipe komunikasi sosial, hasilnya adalah menghindari kewajiban (sebagai
contoh: mengerjakan ke pekerjaan yang tidak disukai), mengekspresikan emosi (sebagai
contoh: kemarahan pada pasangan), atau untuk mensimbolisasikan suatu perasaan atau
keyakinan (sebagai contoh: nyeri pada usus seseorang).
Beberapa pasien dengan gangguan somatisasi berasal dari rumah yang tidak setabil dan
telah mengalami penyiksaan fisik. Faktor sosial, kultural dan juga etnik mungkin juga
terlibat dalam perkembangan gangguan somatisasi.
Faktor Biologis
Ditemukan adanya faktor genetik dalam transmisi gangguan somatisasi dan adanya
penurunan metabolisme (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan
hemisfer nondominan. Selain itu diduga terdapat regulasi abnormal sistem sitokin yang
mungkin menyebabkan beberapa gejala yang ditemukan pada gangguan somatisasi.
GAMBARAN KLINIS
Ciri utama gangguan somatisasi adalah adanya gejala-gejala fisik yang bermacam-macam
(multiple), berulang dan sering berubah-ubah, yang biasanya sudah berlangsung beberapa
tahun sebelum pasien datang ke psikiater. Kebanyakan pasien mempunyai riwayat
pengobatan yang panjang dan sangat kompleks, baik ke pelayanan kesehatan dasar,
maupun spesialistik, dengan hasil pemeriksaan atau bahkan operasi yang negatif.
Keluhannya dapat mengenai setiap sistem atau bagian tubuh manapun, tetapi paling lajim
mengenai keluhan gastrointestinal (perasaan sakit, kembung, mual, muntah), kesulitan
menelan, nyeri di lengan dan tungkai, napas pendek yang tidak berhubungan dengan
aktivitas dan keluhan-keluhan perasaan abnormal pada kulit (perasaan gatal, rasa terbakar,
kesemutan, baal, pedih, dsb.), serta bercak-bercak pada kulit. Keluhan mengenai seks dan
haid juga lazim terjadi. (1,3)
Penderitaan psikologis dan masalah interpersonal adalah menonjol, dan sering sekali
terdapat anxietas dan depresi yang nyata sehingga memerlukan terapi khusus. Pasien
biasanya tetapi tidak selalu menggambarkan keluhannya dengan cara yang dramatik,
emosional, dan berlebih-lebihan, dengan bahasa yang gamblang dan bermacam-macam.
Pasien wanita dengan gangguan somatisasi mungkin berpakaian eksibisionistik. Pasien
mungkin merasa tergantung, berpusat pada diri sendiri, haus akan pujian atau sanjungan
dan manipulatif.
Gangguan somatisasi sering disertai oleh gangguan mental lainnya, termasuk gangguan
depresi berat, gangguan kepribadian, gangguan berhubungan dengan zat, gangguan
kecemasan umum, dan fobia.
DIAGNOSIS
30

Kriteria diagnosis gangguan somatisasi berdasarkan DSM IV:


A. Riayat banyak keluhan fisik dengan onset sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama
periode beberapa tahun dan menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial,
pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
B. Tiap kriteia berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada
sembarang waktu selama perjalanan gangguan.
1. Empat gejala nyeri: Riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat
tempat atau fungsi yang berlebihan (misalnya: kepala, perut, punggung, sendi, anggota
gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi).
2. Dua gejala gastrointestinal: Riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain dari
nyeri (misalnya: mual, kembung, muntah selain dari kehamilan, diare, atau intoleransi
terhadap berbagai jenis makanan).
3. Satu gejala seksual: Riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduksi selain
dari nyeri (misalnya: indiferensi seksual, disfungsi erektil, atau ejakulasi, menstruasi yang
tidak teratur, perdaraahan menstruasi yang berlebih, muntah sepanjang kehamilan).
4. Satu gejala pseudoneurologis: Riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang
mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi
seperti gangguaan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit
menelan atau benjolan ditenggorokan, retensi urin, hilangnya sensasi sentuh atau nyeri,
pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang, gejala disosiatif seperti amnesia atau
hilangnya kesadaran selain pingsan).
C. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
buatan atau pura-pura).
Diagnosis pasti gangguan somatisasi berdasarkan PPDGJ III:
1. Ada banyak dan berbagai gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan adanya kelainan fisik
yang sudah berlangsung sekitar 2 tahun.
2. Selalu tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak
ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhan-keluhannya.
3. Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang berkaitan
dengan sifat keluhan-keluhannya dan dampaak daari perilakunya.
PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS
Gangguan somatisasi merupakan gangguan yang berlangsung kronik, berfluktuasi,
menyebabkan ketidakmampuan dan sering kali disertai dengan ketidakserasian dari
perilaku sosial, interpersonal dan keluarga yang berkepanjangan.
Episode peningkatan keparahan gejala dan perkembangan gejala yang baru diperkirakan
berlangsung 6 9 bulan dan dapat dipisahkan dari periode yang kurang simtomatik yang
berlangsung 9 12 bulan. Tetapi jarang seorang pasien dengan gangguan somatisasi
berjalan lebih dari satu tahun tanpa mencari suatu perhatian medis.

31

Seringkali terdapat hubungan antara periode peningkatan stress atau stress baru dan
eksaserbasi gejala somatik.
Prognosis gangguan somatisasi umumnya sedang sampai buruk.

TERAPI
Pasien dengan gangguan somatisasi paling baik diobati jika mereka memiliki seorang
dokter tunggal sebagai perawat kesehatan umumnya. Klinisi primer harus memeriksa
pasien selama kunjungan terjadwal yang teratur, biasanya dengan interval satu bulan.
Jika gangguan somatisasi telah didiagnosis, dokter yang mengobati pasien harus
mendengarkan keluhan somatik sebagai ekspresi emosional, bukannya sebagai keluhan
medis. Tetapi, pasien dengan gangguan somatisasi dapat juga memiliki penyakit fisik,
karena itu dokter harus mempertimbangkan gejala mana yang perlu diperiksa dan sampai
sejauh mana.
Strategi luas yang baik bagi dokter perawatan primer adalah meningkatkan kesadaran
pasien tentang kemungkinan bahwa faktor psikologis terlibat dalam gejala penyakit.
Psikoterapi dilakukan baik individual dan kelompok. Dalam lingkungan psikoterapetik,
pasien dibantu untuk mengatasi gejalanya, untuk mengekspresikan emosi yang mendasari
dan untuk mengembangkan strategi alternatif untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Pengobatan psikofarmakologis diindikasikan bila gangguan somatisasi disertai dengan
gangguan penyerta (misalnya: gangguan mood, gangguan depresi yang nyata, gangguan
anxietas. Medikasi harus dimonitor karena pasien dengan gangguan somatisasi cenderung
menggunakan obat secara berlebihan dan tidak dapat dipercaya.
5. Memahami dan menjelaskan sakinah mawaddah warrahmah

Semua ibadah dalam Islam mengandung hikmah yang baik bagi manusia, baik yang sudah
dapat diketahui atau belum bisa diketahui. Sikap seorang mukmin ketika sudah jelas datang aturan
dari Allah dan Rasul Nya. Begitupun dengan syari'at pernikahan, di dalamnya mengandung
hikmah dan tujuan yang baik bagi manusia, antara lain adalah :
1) Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi.
Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, tidak bertentangan dengan
perkara-perkara yang asasi bagi manusia, seperti marah, malu, cinta, ini semua adalah contoh
sifat fitrah manusia, dalam Islam tidak boleh dimatikan, tetapi di atur agar menjadi ibadah
kepada Allah ta'ala.
Menikah juga merupakan fitrah manusia (ghorizah insaniyah) yang tidak boleh
dibunuh sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada diri dan masyarakat, maka ghorizah
insaniyah/ insting manusiawi ini harus diatur dengan nikah, kalau tidak maka dia akan
mencari jalan setan yang menjerumuskan manusia ke lembah hitam. Oleh karena itu dalam
Islam tidak ada doktrin kerahiban, "tidak menikah dan mengklaim mensucikan diri". Juga

32

tidak dibiarkan saja menghambur nafsu syahwatnya tanpa aturan, sehingga menimbulkan
berbagai penyakit moral dalam masyarakat.
2) Untuk membentengi akhlak yang luhur
Menikah merupakan jalan yang paling bermanfaat dan paling afdhol dalam upaya
merealisasikan dan menjaga kehormatan. Dengan menikah seseorang dapat menundukan
pandangannya dan menjaga kemaluannya, sehingga tidak terjatuh dalam berbagai bentuk
kemaksiatan dan perzinahan, dengan menikah seseorang dapat menjaga kehormatan dan
akhlaknya, tidak mengikuti nafsu syahwat.
, :
. , .
Dari Ibnu Mas'ud RA telah bersabda Rosulullah SAW : "Wahai para pemuda barang siapa
diantara kalian yang sudah mampu maka segeralah menikah, karena hal ini dapat
menundukan pandangan dan menjaga kemaluan, barangsiapa yang belum mampu, maka
hendaklah dia berpuasa karena hal ini dapat menjadi tameng baginya. " (Muttafaqun
'alaihi).
3) Untuk menegakkan rumah tangga yang Islami
Merupakan salah satu tujuan pernikahan dalam Islam, yang semestinya setiap mukmin
memperhatikannya. Maka Islam sedemikian rupa mengatur urusan pernikahan ini agar
pasangan suami istri dapat bekerja sama dalam merealisasikan nilai-nilai Islam dalam rumah
tangga.
4) Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT
Bersabda Rosulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam
..... : , : ,
,.
" ..Sesoorang diantara kalian yang bergaul dengan istrinya adalah sedekah!"
Mendengar sabda Rosulullah SAW tersebut para sahabat bertanya: "Wahai Rosulullah,
apakah seseorang dari kita yang melampiaskan syahwatnya terhadap istrinya akan
mendapatkan pahala?" Rosulullah SAW menjawab: "Bagaimana menurut kalian jika
sesorang bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah dia berdosa?, Begitu pula jika dia
bersetubuh dengan istrinya maka dia akan mendapatkan pahala." (HR. Bukhori Muslim)
5) Untuk memperoleh banyak keturunan yang sholeh dan sholehah
Firman Allah ta'ala dalam surat An Nahl ayat 72 :
Artinya:
"Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan
bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari
yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari
nikmat Allah ?"
Melalui menikah dengan izin Allah SWT, seseorang akan mendapatkan keturunan yang
sholeh sehingga menjadi aset yang sangat berharga, karena anak yang sholeh senantiasa
akan mendoakan kedua orang tuanya ketika masih hidup atau sudah meninggal dunia, hal
ini menjadi amal jariyah bagi kedua orang tua. Dengan banyak anak juga akan memperkuat
barisan kaum muslimin.
6) Untuk mendatangkan ketenangan dalam hidupnya.

33

Merupakan salah satu tujuan dalam pernikahan, yakni membentuk keluarga yang sakinah,
mawaddah warohmah.
Firman Allah ta'ala dalam Al Qur'an surat Ar Rum ayat 2:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteriisteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."
Rasulullah SAW menyebutkan beberapa indikasi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah
dalam sabdanya :
, , , :
. , ,
.
Dari Anas RA, telah bersabda Rosulullah SAW : "Apabila Allah SWT ingin menghendaki
kebaikan pada sebuah rumah tangga, maka Allah akan mengkaruniakan keluarga tersebut
kepahaman terhadap agamanya, orang yang kecil dikeluarga akan menghormati yang
besar, Allah akan mengkaruniakan kepada mereka kemudahan dalam penghidupan mereka
dan kecukupan dalam nafkahnya, dan Allah akan menampakkan aib dan keburukan
keluarga tersebut kemudian mereka semua bertaubat dari keburukan tersebut. Jika Allah
tidak menginginkan kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah akan biarkan begitu saja
keluarga tersebut (tanpa bimbingan Nya). (HR Ad Daruquthni).
Sakinah merupakan pondasi dari bangunan rumah tangga yang sangat penting. Tanpanya,
tiada mawaddah dan warahmah. Sakinah itu meliputi kejujuran, pondasi iman dan taqwa
kepada Allah SWT.
Dalam hadits yang mulia ini ada beberapa indikator keluarga sakinah, yakni :
At tafaqquh fid diin : Indikasinya adalah, anggota keluarga tersebut rajin dan penuh
semangat dalam menuntut ilmu agama, menjadikan rumah sebagai tempat ibadah dan
majelis ilmu, cinta kepada orang-orang sholeh dan pejuang Islam serta mereka
berupaya menerapkan nilai-nilai Islam itu pada seluruh anggota keluarganya.
Al ihtiroom al mutabaadil lilhuquuq baina ash shighoor wal kibaar (ada
penghormatan yang timbal balik dalam kewajiban antara orang tua dan anakanak) : Indikasinya anak-anak berbakti kepada orang tuanya dan mereka pun
mendapatkan pendidikan dan kebutuhan dari kedua orang tuanya, serta lingkungan
keluarga yang kondusif dan Islami.
Ar rifqu fil ma'iisyah (Allah SWT mudahkan penghidupannya) : Indikasinya selalu
berusaha mencari nafkah dengan jalan yang halal, berinfak dan membantu yatim piatu
serta orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Al qoshdu fin nafaqoot (merasa cukup dengan rezeki yang Allah SWT
karuniakan) : Indikasinya anggota keluarga tersebut mempunyai sikap qona'ah dan
hatinya tidak tergantung dan terbuai dengan kehidupan dunia.
Tabshiirul 'uyuub at taubah 'anhaa (Allah SWT tampakkan aibnya dan mereka
bertaubat dari aib tersebut) : Indikasinya mereka selalu muhasabah dalam hidup,
menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan anggota keluarga, menjaga kehormatan
keluarga dan tidak menyebarkan rahasia-rahasia keluarga.

34

Mawaddah adalah berupa cinta dan harapan. Setiap mahluk Allah SWT kiranya
diberikan sifat ini, mulai dari hewan sampai manusia. Dalam konteks pernikahan, contoh
mawaddah itu berupa kejutan suami untuk istrinya, begitu pun sebaliknya. Misalnya
suatu waktu si suami bangun pagi-pagi sekali, membereskan rumah, menyiapkan sarapan
untuk anak-anaknya. Dan ketika si istri bangun, hal tersebut merupakan kejutan yang luar
biasa.
Warahmah merupakan kasih sayang yang merupakan suatu kewajiban. Kewajiban
seorang suami menafkahi istri dan anak-anaknya, mendidik, dan memberikan contoh yang
baik. Kewajiban seorang istri untuk menaati suaminya. Intinya warahmah ini kaitannya
dengan segala kewajiban.
Hak bersama suami istri
1. Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah.
2. Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya.
3. Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis.
4. Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan.
Kewajiban suami kepada istri
1. Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan
agama.
2. Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya.
3. Hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah meminta istri yang sholehah.
4. Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: membayar mahar, memberi nafkah
(makan, pakaian, tempat tinggal), menggaulinya dengan baik, berlaku adil jika beristri
lebih dari satu.
5. Jika istri berbuat Nusyuz, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara
berurutan: memberi nasehat, pisah kamar, memukul dengan pukulan yang tidak
menyakitkan. Nusyuz adalah: kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan
kepada Allah.
6. Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya dan
paling ramah terhadap istrinya/keluarganya.
7. Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.
8. Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya.
9. Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya
terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan.
10. Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya.
11. Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang,
tanpa kasar dan zhalim.
12. Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak
memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam
rumah sendiri.
13. Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan
menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
14. Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukumhukum haidh, istihadhah,dll).
15. Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri.
16. Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun.
17. Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib
mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa.

35

18. Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu
kepada istrinya.
Kewajiban istri kepada suami
1. Hendaknya istri menyadari dan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah
pemimpin kaum wanita.
2. Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi
daripada istri.
3. Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan.
4. Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah: menyerahkan dirinya, entaati suami,
tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya, inggal di tempat kediaman yang
disediakan suami, menggauli suami dengan baik.
5. Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam
kesibukan.
6. Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu
sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami
meridhainya.
7. Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah SWT mengampuni
dosa- dosa seorang istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya.
8. Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam
keridhaan suaminya akan masuk surga.
9. Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw: Seandainya
dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada
suaminya. (Timidzi)
10. Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya.
11. Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami.
12. Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya
(saat suami tidak di rumah).
13. Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: banyak anak, sedikit harta, tetangga
yang buruk, istri yang berkhianat.
14. Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat
bulan sepuluh hari.
15. Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga
kemaluannya.
Prinsip yang harus dilakukan untuk mencapai rasa tenteram, kasih dan sayang dalam
rumah tangga:
Sikap yang santun dan bijak (Muasyarah bil Maruf), merawat cinta kasih dalam
keluarga. Rasulullah saw menyatakan bahwa : Sebaik-baik orang diantara kamu
adalah orang yang paling baik terhadap isterinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang
yang paling baik terhadap isteriku.
Saling mengingatkan dalam kebaikan. Di antara bentuk ketakwaan suami istri dalam
mempererat serta mengokohkan rumah tangga adalah dengan saling nasehat
menasehati untuk menjalankan sunnah Nabi.
"Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk melaksanakan
shalat (malam/tahajjud) lalu dia juga membangunkan istrinya hingga shalat. Jika
istrinya enggan untuk bangun dia percikan air kewajahnya. Dan Allah merahmati
seorang istri yang bangun dimalam hari untuk melaksanakan shalat (malam/tahajjud)
lalu dia membangunkan suaminya hingga shalat. Jika suaminya enggan untuk bangun

36

dia percikan air kewajahnya" (HR. Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah dan derajatnya
hasan shohih).
Lebih mengutamakan untuk melaksanakan kewajiban daripada menuntut hak. Dalam
membangun rumah tangga, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban yang saling
sinergi satu sama lain. Untuk menghadirkan ketentraman, hendaknya setiap individu
lebih mengedepankan kewajiban daripada hak. Hal ini akan menumbuhkan sikap
saling pengertian dan rasa tanggung jawab. Sebaliknya, tuntutan yang muncul dalam
kehidupan rumah tangga dapat menyulut api perpecahan diantara pasangan suami-istri.
Saling menutupi kekurangan pasangannya. Setiap suami pasti memiliki kekurangan,
begitu juga dengan sang istri. Dengan saling menutupi kekurangan diri masingmasing, harmonisasi dalam rumah tangga akan terjaga. Prinsip saling menutupi ini
didasari oleh Surat Al Baqarah ayat 187, "..mereka adalah pakaian bagimu, dan
kamupun adalah pakaian bagi mereka..". Fungsi pakaian adalah menutup aurat,
sehingga dapat dipahami bahwa suami-istri hendaknya saling menutupi
kekurangannya satu sama lain.
Saling tolong menolong. Itulah kata kunci pasangan samara dalam mengelola
keluarga. Suami-istri itu akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam mengelola
keluarga mereka. Suami penuh rasa tanggung jawab, istri mampu menjaga kehormatan
diri dan pandai menempatkan diri. (www. Aklaqukarimah.com)

37