Anda di halaman 1dari 6

L.

Arika Sri Sunjari/10700227/kelompok 3/Puskesmas Urangagung

Otitis Media Akut


(OMA)
A. DEFINISI
Otitis Media Akut (OMA) merupakan peradangan pada sebagian atau seluruh
mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid yang
berlangsung mendadak yang disebabkan oleh invasi bakteri maupun virus ke dalam telinga
tengah baik langsung maupun secara tidak langsung sebagai akibat dari infeksi.
B. PATOFISIOLOGI
Otitis media akut (OMA) terjadi karena terganggunya faktor pertahanan tubuh.
Faktor utama penyebab terjadinya penyakit OMA adalah sumbatan pada tuba Eustachius,
sehingga terganggu pula pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah sehingga
kuman masuk dan terjadi peradangan yang menyebabkan terjadinya tekanan negatif di
telingah tengah dan terjadi transudasi cairan hingga supurasi. Pencetus terjadinya OMA
adalah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Makin sering anak-anak terserang ISPA,
makin besar kemungkinan terjadinya OMA.
Ada 5 stadium OMA berdasarkan pada perubahan mukosa telinga tengah, yaitu:
1. Stadium Oklusi, stadium ini ditandai dengan gambaran retraksi membran
timpani akibat tekanan negatif telinga tengah. Membran timpani kadang
tampak normal atau berwarna suram.
2. Stadium Hiperemis, pada stadium ini tampak pembuluh darah yang melebar
di sebagian atau seluruh membran timpani, membran timpani tampak
hiperemis disertai edem.
3. Stadium Supurasi, stadium ini ditandai edem yang hebat telinga tengah
disertai hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen
di kavum timpani sehingga membran timpani tampak menonjol (bulging) ke
arah liang telinga luar.
4. Stadium Perforasi, pada stadium ini terjadi ruptur membran timpani
sehingga nanah keluar dari telinga tengah ke liang telinga.
5. Stadium Resolusi, pada stadium ini membran timpani berangsur normal,
perforasi membran timpani kembali menutup dan sekret purulen tidak ada
1

lagi. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah maka resolusi
dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan.
C. GEJALA KLINIS
Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien, pada usia
anak anak umumnya keluhan berupa:
1. Rasa nyeri di telinga dan demam.
2. Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya.
3. Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan
pendengaran dan telinga terasa penih.
4. Pada bayi gejala khas OMA adalah panas yang tinggi, anak gelisah dan sukar
tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit.
D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Dapat ditemukan demam.
2. Pemeriksaan dengan otoskopi untuk melihat membran timpani:
a. Pada stadium oklusi tuba Eustachius terdapat gambaran retraksi membran
timpani, warna membran timpani suram dengan reflek cahaya tidak terlihat.
b. Pada stadium hiperemis membran timpani tampak hiperemis serta edema.
c. Pada stadium supurasi membran timpani menonjol ke arah luar (bulging)
berwarna kekuningan.
d. Pada stadium perforasi terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar
mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar.
e. Pada stadium resolusi bila membran timpani tetap utuh, maka perlahanlahan akan normal kembali.Bila telah terjadi perforasi, maka sekret akan
berkurang dan mengering.
3. Pada pemeriksaan penala yang dilakukan pada anak yang lebih besar dapat
ditemukan tuli konduktif.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Kultur bakteri pada kasus OMA berulang.
F. DIAGNOSIS BANDING
1. Furunkel liang telinga (MAE)
2. Otitis Eksterna
G. TERAPI
a. Non medikamentosa
KIE :
2

1. Mencegah infeksi saluran napas atas (ISPA) pada bayi dan anak-anak,
2.
3.
4.
5.

menangani ISPA denganpengobatan adekuat.


Memberikan ASI minimal selama 6 bulan
Menghindari pemberian susu di botol saat anak berbaring
Menghindari pajanan terhadap asap rokok
Menghindari mengorek-ngorek telinga

1.
2.
6.

Gizi :
Makan makanan bergizi seperti buah, sayur, daging, ikan atau telur.
Menghindari terlalu banyak makan gorengan dan minum minuman dingin.
Menghindari telinga dari kemasukan air saat mandi

Rencana Program Promosi Kesehatan Yang Dapat Dilakukan


Kegiatan

Sasaran

Target

Rincian Kegiatan

Penyuluhan

Seluruh

Memberikan

1.

warga

di pengetahuan

wilayah kerja mengenai OMA


Puskesmas

2.

Urangagung

3.

Lokasi

Tenaga

Pelaksanaan Pelaksana

Memberikan

informasi Puskesmas

mengenai

gambaran Urangagung umum

6
sekali

Pelaksanaan
bulan

1. Spanduk
2. Brosur
tentang

klinis OMA
Memberikan
pengetahuan

mengenai

cara

mencegah

terjadinya OMA
Memberikan informasi
mengenai dampak dari
OMA

Dokter

Kebutuhan

Jadwal

OMA
3. Materi
tentang
OMA
4. Power point
slide tentang
OMA

b. Medikamentosa
Penatalaksanaan OMA tergantung pada stadium penyakit yaitu:
1. Stadium Oklusi : diberikan dekongestan dan pemberian antibiotik.
2. Stadium Presupurasi : analgetika, antibiotika (biasanya golongan ampicillin
atau penisilin) dan dekongestan.
3. Stadium Supurasi : diberikan antibiotika dan obat-obat simptomatik. Dapat
juga dilakukan miringotomi bila membran timpani menonjol dan masih
utuh untuk mencegah perforasi.
4. Stadium Perforasi : Diberikan H2O2 3% selama 3-5 hari dan diberikan
antibiotika yang adekuat.
H. KOMPLIKASI
1. Mastoiditis
2. Paralisis saraf fasialis
3. Labirinitis
4. Komplikasi lain ke susunan saraf pusat. Antara lain: meningitis, abses otak, dan
hidrosefalus otitis.
I. PROGNOSIS
Prognosis untuk otitis media akut sangat baik bila ditangani dengan tepat dan cepat.
Namun, bila terjadi penumpukan cairan dalam rongga telinga dalam waktu yang lama
maka ada kemungkian otitis media yang diderita akan berubah menjadi kronis.

PENULISAN RESEP: Otitis Media Akut Presupurasi


Dewasa
R/ Amoxicillin tab 500 mg No. XXI
3 dd tab I
R/ Paracetamol tab 500 mg No. X
3 dd tab I prn
5

R/ Pseudoefedrine tab 60 mg No. X


3 dd tab I

Pro : Ny. T (26 tahun)

Anak
R/ Amoxicillin syrup fl No. I
3 dd cth II
R/ Paracetamol syrup fl No. I
3 dd cth I prn
R/ Pseudoefedrine tab 60 mg No. V
3 dd tab

Pro : An. I (5 tahun, 14 kg)