Anda di halaman 1dari 3

6.1.2.

Permasalahan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)


Menurut American Diabetes Association pada tahun 2010, diabetes melitus (DM)
merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi
karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada
diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa
organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah.
WHO memperkirakan jumlah penderita diabetes diatas umur 20 tahun pada tahun 2000
berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun yaitu pada tahun 2025, jumlah
tersebut akan meningkat menjadi 300 juta orang. Pada tahun 2014, WHO memperkirakan bahwa
prevalensi DM di seluruh dunia mencapai 9% pada orang dewasa dengan usia di atas 18 tahun
dan penyebab utama 1,5 juta kematian pada tahun 2012, dimana 80% kematian yang disebabkan
oleh diabetes terjadi pada negara dengan penghasilan rendah dan menengah. Untuk Indonesia
WHO memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000
menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Hal senada juga diungkapkan International Diabetes
Federation (IDF) pada tahun 2009 yang memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM dari 7,0
juta pada tahun 2009 menjadi 12,0 juta pada tahun 2030.
Menurut World Health Organization, Indonesia menduduki peringkat 4 tertinggi dalam hal
jumlah penderita diabetes setelah China, India, dan Amerika. Berdasarkan Riskesdas, pada tahun
2013, prevalensi DM di Indonesia meningkat menjadi 2,1% dari sebelumnya, yaitu 1,1% pada
tahun 2007.5 Di Sumatera utara sendiri, prevalensi penderita diabetes adalah sebesar 2,3%.
Gejala klinis dari Diabetes Melitus sendiri dapat bervariasi, mulai dari polifagi, poliuri,
polidipsi sampai raa kebas-kebas di anggota gerak, penurunan berat badan, dan luka yang sulit
sembuh.
Penatalaksanaan dikenal dengan empat pilar penatalaksanaan diabetes melitus, yang
meliputi : edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani dan pengelolaan farmakologis. Pengelolaan
DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4
minggu). Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran, dilakukan intervensi
farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan/atau suntikan insulin. Pada keadaan
tertentu, OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi, sesuai
indikasi.Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat, misalnya ketoasidosis, stres berat, berat
badan yang menurun dengan cepat, dan adanya ketonuria, insulin dapat segera diberikan.
Masalah

Di wilayah kerja Puskesmas Medan Amplas pada periode Juni-November 2015, kasus
penyakit infeksi seperti DM merupakan penyakit terbanyak yang diderita pada pasien yang
datang berobat ke Puskesmass Amplas tahun 2015, yaitu sebanyak 5358 kasus, dan kasus
diare yaitu sebanyak 1.024 kasus. Penyakit infeksi seperti DM merupakan penyakit yang dapat
dicegah dan dikontrol agar tidak menimbulkan kecacatan.
Pada masyarakat Kecamatan Medan Amplas, beberapa permasalahan yang dijumpai
berkaitan dengan DM antara lain:
1. Kesadaran masyarakat mengenai pola hidup yang sehat berupa pola makan sehat dan
olahraga teratur.
2. Terdapatnya penderita DM yang tidak rutin berobat dan tidak meminum obat secara teratur .
Pemecahan Masalah
Penderita DM yang tidak mengatur pola makannya dan tidak berolahraga teratur dapat
memperburuk kondisi penyakit tersebut sehingga bisa menyebabkan kecacatan yang permanen.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah sebagai
berikut ini:
1.

Melakukan penyuluhan mengenai penyakit Diabetes


Melitus dan faktor risiko yang dapat menyebabkan penyakit DM serta komplikasi yang dapat
ditimbulkan apabila tidak melakukan pengobatan rutin secara kepada pengunjung puskesmas dan

posyandu lansia serta memberikan leaflet sebagai bahan edukasi.


2.
Mengajarkan kepada masyarakat mengenai pola
makan yang sesuai kepada penderita DM dengan memberikan beberapa contoh menu yang dapat
ditiru. Selain itu, diberikan waktu diskusi mengenai jenis makanan yang dapat dikonsumsi oleh
penderita DM.
3.

Mengajak masyarakat untuk mengikuti kegiatan


senam yang dilakukan di kecamatan maupun puskesmas serta melakukan

olahraga secara

mandiri minimal 3 kali seminggu, seperti jalan pagi, bersepeda dan senam lansia.

Saran
1. Menganjurkan
mengkonsumsi
berlebihan.

masyarakat
makanan

untuk

sehat

dan

menjaga
bergizi

pola
secara

makan
cukup

dengan

dan

tidak

2. Menganjurkan penderita DM agar mengkonsumsi obat secara teratur dan


rutin mengontrol kadar gula darah.
3. Menganjurkan masyarakat untuk mengikuti senam yang dilaksanakan di
kecamatan ataupun puskesmas.