Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 4 BLOK 15

“Merujuk Pasien”

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO 4 BLOK 15 “Merujuk Pasien” Disusun oleh: 1. Nisa soffiyani (J2A013030) 2. Muhammad

Disusun oleh:

1. Nisa soffiyani

(J2A013030)

2. Muhammad Iqbal Maal Abror

(J2A013032)

3. Mutia Ulfah

(J2A013034)

4. Salsabila Milatina Askiyah

(J2A013032)

5. Desta Yusticis Herveny

(J2A013038)

6. Rifqi Muhammad

(J2A013040)

7. Sri Margiyanti

(J2A013042)

8. Ficky Vimbiyanti Ardelia

(J2A013044)

9. Bagus Aji Rahmawan

(J2A013008)

10. Roza Resty Pambudi

(J2A013048)

11. Ririn Aprillia Lacana

(J2A013050)

12. Dinda Rifka Mutiara

(J2A013047)

13. Kurna Adi Wikanto

(J2A013010)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

SEMARANG

2016

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas selesainya makalah yang berjudul “ Merujuk Pasien ”. Atas dukungan moral dan materi yang diberikan dalam penyusunan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. drg. Syaifuddin Ali Anwar, SKM., M. Kes., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Muhammadiyah Semarang.

2. Ibu drg. Ratna Sulistyorini, M.si med., selaku Ka. Prodi S1 Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Muahmmadiyah Semarang.

3. Drg.Bawa Adiwinarno selaku penanggung jawab pada blok 15 semester 5 ini tentang Penyakit Jaringan Lunak

4. Drg.Dwi Windu Kinanrti , yang memberikan bimbingan, masukan, dan tutor dalam penulisan makalah ini.

5. Rekan-rekan tutorial kelompok 2 semester 5, yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangung dari pembaca sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalh ini.

Semarang, 21 Januari 2016

Penulis

2

2

DAFTAR ISI

Halaman Judul

i

Prakata

ii

Daftar isi

iii

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

4

2. Rumusan Masalah

5

3. Manfaat dan Tujuan

5

BAB II PEMBAHASAN

1. sistem rujukan menurut undang undang

6

2. macam macam rujukan

6

3. prosedur rujukan

7

4. kriteria pasien rujukan

12

5. format surat rujukan

12

6. perbedaan rujukan vertikal dan horizontal

15

7. Hadist

16

BAB III PENUTUP

1. Simpulan

17

2. Saran

17

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

3

3

1.1 Latar belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam pelaksanaan pelayanan rujukan telah diatur dengan bentuk bertingkat atau berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama/primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan, pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan, termasuk didalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat. Tingkat kedua/sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukandari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta dapat merujuk kembali ke fasilitaspelayanan kesehatan yang merujuk. Dan tingkat ketiga/tersier adalah dokter subspesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan.

Dalam pelaksanaan pelayanan rujukan tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada di suatu sistem dan saling berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat primer maka ia menyerahkan tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan di atasnya, demikian seterusnya. Salah satu bentuk pelaksanaan dan pengembangan upaya kesehatan dalam Sistem kesehatan Nasional adalah rujukan . Untuk mendapatkan mutu pelayanan yang lebih terjamin, berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efesien), perlu adanya jenjang pembagian tugas diantara unit-unit pelayanan kesehatan melalui suatu tatanan sistem rujukan.

Beberapa kesenjangan dan konflik yang ditemukan dalam pelaksanaan kebijakan rujukan rumah sakit di lapangan yaitu tidak ada instrumen teknis yang mengatur mengenai prosedur rujukan pasien ke rumah sakit sehingga masyarakat tidak tahu harus pergi ke mana untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik dan bermutu. Selain itu, juga ditemukan ketidakjelasan apakah rujukan medik sudah menjadi sistem atau belum. Kebijakan sektor kesehatan hanya menetapkan pelayanan kesehatan pemerintah dalam sistem rujukan. Sedangkan pelayanan kesehatan swasta tidak masuk dalam jejaring sistem rujukan. Seharusnya ada network (jejaring kerjasama) rujukan antara sektor pemerintah dan sektor swasta sehingga dapat menjamin terselenggaranya sistem rujukan yang baik. Untuk mewujudkan terselenggaranya pembangunan kesehatan dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal diperlukan pelayanan medik yang terpadu, merata, berhasil guna dan berdaya guna salah satunya dengan meningkatkan manajemen rujukan medik agar penanganan kasus dapat paripurna, menyeluruh dari pelayanan dasar hingga pelayanan rujukan. Jika Puskesmas tak lagi mampu memberi pelayanan karena keterbatasan alat-alat kesehatan, akan memberi surat rujukan ke rumah sakit atau dokter spesialis.

4

4

1.2 Rumusan masalah

1. Sebutkan defini sistem rujukan menurut undang undang ?

2. Sebutkan macam macam rujukan ?

3. jelaskan prosedur rujukan ?

a.

b.

kriteria pasien rujukan ?

c.

format surat rujukan ?

4. jelaskan perbedaan rujukan vertikal dan horizontal ?

5. hadist

1.3 Tujuan

1. Mahasiswa mengetahui tentang sistem rujukan menurut undang undang

2. Mahasiswa mengetahui tentang macam macam rujukan

3. Mahasiswa mengetahui tentang prosedur rujukan

4. Mahasiswa mengetahui tentang kriteria pasien rujukan

5. Mahasiswa mengetahui tentang format surat rujukan

6. Mahasiswa mengetahui tentang perbedaan rujukan vertikal dan horizontal

5

5

BAB II

ISI

2.1 Definisi sistem rujukan

Menurut peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor 001 tahun 2012 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan Sistem Rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal.

2.2 Macam-macam rujukan

Macam-macam rujukan Sesuai dengan jenis upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas, ada dua macam rujukan yang dikenal yakni :

1) Rujkan upaya kesehatan perorangan

Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus penyakit.Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus penyakit tertentu, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih mampu (baik horizontal maupun vertical).Sebaliknya pasien pasca rawat inap yang hanya memerlukan rawat jalan sederhana, bias dirujuk kembali ke puskesmas.

Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam :

a. Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan medik (missaloperasi) dan lain lain.

b. Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih

lengkap.

c. Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih kompeten atau melakukan bimbingan tenaga puskesmas dan ataumenyelenggarakan pelayanan medik spesialis di puskesmas.

2) Rujukan upaya kesehatan masyarakat

Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah kesehatan masyarakat, misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan dan bencana.Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga dilakukan apabila satu puskesmas tidak mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat wajib dan pengembangan, padahal upaya kesehatan masyarakat tersebut telah menjadi kebutuhan masyarakat. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi masalah kesehatan masyarakat dan atau tidak mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat, maka puskesmas wajib merujuknya ke dinas kesehatan kabupaten atau kota.

6

6

Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam :

a. Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging,peminjaman alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio visual, bantuan obat, vaksin, dan bahan bahan habis pakai dan bahan makanan.

b. Rujukan tenaga, antara lain dukungan tenanga ahli untuk penyidikan kejadian luar biasa,

bantuan penyelesaian masalah hokum kesehatan, penanggulangan gangguan kesehatan karena

bencana alam.

c. Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan tanggungjawab

penyelesaian masalah kesehatan masyarakat (antara lain usaha kesehatan sekolah, usaha kesehatan kerja, usaha kesehatan jiwa, pemeriksaan contoh air bersih) kepada dinas kesehatan kabupaten / kota. Rujukan operasional diselenggarakan apabila puskesmas tidak mampu.

2.3 Prosedur rujukan

Menurut peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor 001 tahun 2012 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan . Rujukan dapat dilakukan secara

vertikal dan horizontal

pelayanan kesehatan yang berbeda tingkatan Rujukan horizontal sebagaimana dimaksud merupakan rujukan antar pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan. Rujukan vertikal sebagaimana dimaksud dapat dilakukan dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya.

Rujukan vertikal sebagaimana dimaksud merupakan rujukan antar

Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) dilakukan apabila:

a. pasien membutuhkanpasien membutuhkan spesialistik;

pelayanan kesehatan spesialistik atau sub

b. perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien

karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan.

Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih tinggi ke tingkatan pelayanan yang lebih rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) dilakukan apabila:

a. permasalahan kesehatan pasien dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan yang lebih rendah sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya;

b. kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua lebih baik dalam

menangani pasien tersebut;

c. pasien membutuhkan pelayanan lanjutan yang dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan

kesehatan yang lebih rendah dan untuk alasan kemudahan, efisiensi dan pelayanan jangka panjang; dan/atau

d. perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien

karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan dan/atau ketenagaan.

7

7

Setiap pemberi pelayanan kesehatan berkewajiban merujuk pasien bila keadaan penyakit atau permasalahan kesehatan memerlukannya, kecuali dengan alasan yang sah dan mendapat persetujuan pasien atau keluarganya. Alasan yang sah sebagaimana dimaksud pada adalah pasien tidak dapat ditransportasikan atas alasan medis, sumber daya, atau geografis dokter wajib menjelaskan sekurang kurangnya meliputi:

a. diagnosis dan terapi dan/atau tindakan medis yang diperlukan;

b. alasan dan tujuan dilakukan rujukan;

c. risiko yang dapat timbul apabila rujukan tidak dilakukan;

d. transportasi rujukan; dan

e. risiko atau penyulit yang dapat timbul selama dalam perjalanan.

Perujuk sebelum melakukan rujukan harus:

a. melakukan pertolongan pertama dan/atau tindakan stabilisasi kondisi

pasien sesuai indikasi medis serta sesuai dengan kemampuan untuk

tujuan keselamatan pasien selama pelaksanaan rujukan;

b. melakukan komunikasi dengan penerima rujukan dan memastikan bahwa

penerima rujukan dapat menerima pasien dalam hal keadaan pasien

gawat darurat; dan

c. membuat surat pengantar rujukan untuk disampaikan kepada penerima

rujukan.

Surat pengantar rujukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf c

sekurang-kurangnya memuat:

a. identitas pasien;

b. hasil pemeriksaan (anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

penunjang) yang telah dilakukan;

c. diagnosis kerja

d. terapi dan/atau tindakan yang telah diberikan;

e. tujuan rujukan e. tujuan rujukan; dan

f. nama dan tanda tangan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan.

1. Prosedur standar merujuk pasien

8

8

a. prosedur klinis

(1). Melakukan anamesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang medik untuk menentukan diagnosa utama dan diagnosa banding.

(2). Memberikan tindakan pra rujukan sesuai kasus

(3). Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan

(4) untuk pasien gawat darurat harus didampingi petugas medis / paramedis yang berkompeten dibidangnya dan mengetahui kondisi pasien

(5) apabila pasien diantar dengan kendaraan puskesmas keliling atau ambulans, agar petugas dan kendaraan tetap menunggu pasien di IGD tujuan sampai ada kepastian pasien tersebut mendapat pelayanan dan kesimpulan dirawat inap atau rawat jalan.

b. Prosedur Administratif

(1) dilakukan setelah pasien diberikan tindakan pra-rujukan

(2) membuat catatan rekam medis pasien

(3) memberi informed consent (persetujuan / penolakan rujukan)

(4) membuat surat rujukan pasien rangkap 2 lembar pertama dikirim ke tempat rujukan bersama pasien yang bersangkutan. Lembar kedua disimpan sebagai arsip.Mencatat identitas pasien pada buku regist rujukan pasien.

(5) menyiapkan sarana transportasi dan sedapat mungkin menjalin komunikasi dengan tempat

rujukan.

(6)pengiriman

pasien

sebaiknya

dilaksanakan

setelah

diselesaikan

administrasi

yang

bersangkutan

2. Prosedur standar menerima rujukan pasien

a. prosedur klinis

1. segera menerima dan melakukan stabilisasi pasien rujukan.

2. Setelah stabil, meneruskan pasien keruang perawatan elektif untuk perawatan selanjutnya

atau meneruskan ke sarana kesehatan yang lebih mampu untuk dirujuk lanjut.

3. Melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan klinis pasien.

b. prosedur administrative

9

9

1. menerima, meneliti dan menandatangani surat rujukan pasien yang telah diterima untuk

ditempelkan di kartu status pasien

2. apabila pasien tersebut dapat diterima kemudian membuat tanda terima pasien sesuai aturan

masing masing sarana.

3. Mengisi hasil pemeriksaan dan pengobatan serta perawatan pada kartu catatan medis dan

diteruskan ke tepat perawatan selanjutnya sesuai kondisi pasien.

4. Membuat inform consent

5. Segera membrikan informasi tentang keputusan tindakan / perawatanyang akan dilakukan

kepata petugas atau keluarga pasien yang mengantar

6. Apabila tidak sanggup menangani merujuk ke RSU yang lebih mampu dengan mebuat

surat rujukan rangkap 2.

7.

Mencatat indentitas pasien

3.

Prosedur standar membalas rujukan pasien

a.

Prosedur Klinis

1.

Rumah Sakit atau Puskesmas yang menerima rujukan pasien wajib mengembalikan pasien

ke RS / Puskesmas / Polindes / Poskesdes pengirim setelah dilakukan proses antaralain:

a. Sesudah pemeriksaan medis, diobati dan dirawat tetapi penyembuhan selanjutnyaperlu di follow up oleh Rumah Sakit / Puskesmas / Polindes / Poskesdes pengirim.

b. Sesudah pemeriksaan medis, diselesaikan tindakan kegawatan klinis, tetapipengobatan dan

perawatan selanjutnya dapat dilakukan di RumahSakit / Puskesmas / Polindes / Poskesdes

pengirim.

2. Melakukan pemeriksaan fisik dan mendiagnosa bahwa kondisi pasien sudahmemungkinkan

untuk keluar dari perawatan Rumah Sakit / Puskesmas tersebut dalamkeadaan:

a.

Sehat atau Sembuh.

 

b.

Sudah ada kemajuan klinis dan boleh rawat jalan.

 

c.

Belum ada kemajuan klinis dan harus dirujuk ke tempat lain

 

d.

Pasien sudah meninggal

 

3.

Rumah

Sakit

/

Puskesmas

yang

menerima

rujukan

pasien

harus

memberikanlaporan/informasi medis/balasan rujukan kepada RumahSakit/Puskesmas/Polindes/Poskesdes pengirim pasien mengenai kondisi klinis terahir pasien apabila pasien keluar dari Rumah Sakit / Puskesmas

b. Prosedur Administratif:

10

10

1. Puskesmas yang merawat pasien berkewajiban memberi surat balasan rujukan untuk setiap

pasien rujukan yang pernah diterimanya kepada RumahSakit/Puskesmas/Polindes/Poskesdes yang mengirim pasien yang bersangkutan.

2. Surat balasan rujukan boleh dititip melalui keluarga pasien yang bersangkutan dan untuk

memastikan informasi balik tersebut diterima petugas kesehatan yang dituju, dianjurkanberkabar lagi melalui sarana komunikasi yang memungkinkan seperti telepon,handphone, faksimili dan sebagainya

4. Prosedur standar menerima balasan rujukan pasien

a. Prosedur Klinis:

1. Melakukan kunjungan rumah pasien dan melakukan pemeriksaan

fisik.

2. Memperhatikan anjuran tindakan yang disampaikan oleh Rumah

Sakit / Puskesmas yangterakhir merawat pasien tersebut

3. Melakukan tindak lanjut atau perawatan kesehatan masyarakat dan

memantau (followup) kondisi klinis pasien sampai sembuh.

b. Prosedur Administratif:

1. Meneliti isi surat balasan rujukan dan mencatat informasi tersebut di buku register pasien

rujukan, kemudian menyimpannya pada rekam medis pasien yang bersangkutandan memberi

tanda tanggal / jam telah ditindaklanjuti.

2. Segera memberi kabar kepada dokter pengirim bahwa surat balasan rujukan telahditerima.

Persiapan Rujukan

Persiapan yang harus dilakukan sebelum merujuk adalah :

1. Persiapan tenaga kesehatan, pastikan pasien dan keluarga didampingi oleh minimal dua

tenaga kesehatan (dokter dan/atau perawat) yang kompeten.

2. Persiapan keluarga, beritahu keluarga pasien tentang kondisi terakhir pasien, serta alasan

mengapa perlu dirujuk. Anggota keluarga yang lain harus ikutmengantar pasien ke tempat

rujukan.

3. Persiapan surat, beri surat pengantar ke tempat rujukan, berisi identitas pasien,alasan rujukan, tindakan dan obat–obatan yang telah diberikan pada pasien.

4. Persiapan Alat,bawa perlengkapan alat dan bahan yang diperlukan.

11

11

5.

perjalananmerujuk.

Persiapan

Obat,

membawa

obat–obatan

esensial

yang

diperlukan

selama

6. Persiapan Kendaraan, persiapkan kendaraan yang cukup baik, yang memungkinkan pasien

berada dalam kondisi yang nyaman dan dapat mencapai tempat rujukansecepatnya.Kelengkapan ambulance, alat, dan bahan yang diperlukan.

7. Persiapan uang, ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah cukup untuk membeli obat-obatan dan bahan kesehatan yang diperlukan di tempatrujukan.

8. Persiapan donor danar, siapkan kantung darah sesuai golongan darah pasien atau calon

pendonor darah dari keluarga yang berjaga – jaga dari kemungkinan kasus yang memerlukan

donor darah

2.4 Kriteria pasien dirujuk

pasien yang akan dirujuk harus sudah diperiksa dan layak untuk dirujuk. Adapun kriteria pasien yang dirujuk adalah bila memenuhi salah satu dari:

1.

Hasil pemeriksaan fisik sudah dapat dipastikan tidak mampu diatasi.

2.

Hasil pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan penunjang medis ternyata tidak mampu

diatasi.

3.

Memerlukan pemeriksaan penunjang medis yang lebih lengkap, tetapi pemeriksaan

harus disertai pasien yang bersangkutan.

4. Apabila telah diobati dan dirawat ternyata memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan

perawatan di sarana kesehatan yang lebih mampu.

2.5 Format surat rujukan

Surat pengantar rujukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf c sekurang-kurangnya memuat:

a. identitas pasien;

b. hasil pemeriksaan (anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

penunjang) yang telah dilakukan;

c.

diagnosis kerja;

d.

terapi dan/atau tindakan yang telah diberikan;

e.

tujuan rujukan

e.

tujuan rujukan; dan

f.

nama dan tanda tangan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan.

12

12

Contoh format rujukan

Contoh format rujukan 13

13

13
14
14

14

14
2.5. Perbedaan rujukan vertikal dan rujukan horizontal Rujukan vertikal sebagaimana dimaksud merupakata rujukan antar

2.5. Perbedaan rujukan vertikal dan rujukan horizontal

Rujukan vertikal sebagaimana dimaksud merupakata rujukan antar pelayanan kesehatan yang berbeda tingkatan dan rujukan horizontal sebagaimana dimaksud merupakan rujukan antara pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan , rujukan vertikal sebagaimana dimaksud dilakukan dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya

Rujukan horizontal sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat 3 dalam permenkes 001 tahun 2012 tentang sistem rujukan perorangan adalah rujukan yang dilakukan apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas , peralatan dan ketenagan kerjaan yang sifatnya semnetara atau menetap.

Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih rendag ke tingkatan yang lebih tinggi sebagaimana dimaksud dilakukan apabila, pasien membbutuhkan pelayanan kesehatan atau sub spesalitik dan perujuk tidak dapat memberikan pelaynan kesehatan sesuai dengan kebuuhan pasien karena keterbatasabb fasilitas , perlatan atau ketenaga kerjaan .

15

15

2.6 Hadist

Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

16

16

3.1 Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

Pelaksanaan sistem rujukan dilakukan untuk meningkatkan akses masyarakar terhadap pelayanan kesehatan namun belum sepenuhnya melibatkan partisipasi masyarakat belum sepenuhnya melibatkan partisipasi masyarakat dalam suatu sistem pelayanan yang terintegritasi. Proses rujukan dari pelayanan kesehatan primer ke pelyanan kesehatan tinfkat lanjut belum memperhatikan aspek ketersediaan dan kelengkapan jenis layanan pada fasilitas kesehatan yang dituju.

3.2 Saran

Semoga proses pembelajaran PBL bisa lebih baik lagi agar keberhasilan akademik dalam berproses kearah yang lebih baik lagi.

17

17

DAFTAR PUSTAKA

1. Birnbbaum,Wreen.2009.Diganosisi kelainan dalam mulut .petunjuk bagi klinisi EGC.Jakarta.

2. Dinas kesehatan lingga , Profil kesehatan kabupaten lingga tahun 2010,lingga,2011.

3. Jurnal kebijakan nasional dalam konteks lokal tantangan implemnetasi kebijakan dan rujukan pelayanan kesehatan kepulauan yapen papua

4. Jurnal pelaksaan sistem rujukan di RSUD Banyudono

5. Jurnal kebijakan daerah dalam meningkatkan sistem rujukan kesehatan daerah kepulauan dikabupaten lingga provinsi kepulauan riau

6. Jurnal studi tentang pelayanan publik di bidang kesehatan dengan isstem rujukan di puskesma air outih kecamatan samarinda ulu kota samarinda

7. Poerwani SK, Soeginiono, Hardewo LKW Sopacua E.Rahayau pelayanan kesehatan.Depkes RI Badan penelitian dan oengmebangan kesehatan surabaya,1983.

8. Perarturan menteri kesehatan republik indonesia nomer 001 tahun 2012 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan

18

18