Anda di halaman 1dari 10

analisa permanganometri

ABSTRAK
Percobaan ini bertujuan untuk membuat larutan KMnO4 0,1 N kemudian membakukannya
dengan Na2C2O4diperoleh normalitas KMnO4 sebesar 0,0298 N. Serta menentukan kadar nitrit
dengan reaksi Redoks menggunakan larutan baku KMnO4 diperoleh sebesar 6,5 %.
Pada pembakuan larutan KMnO4, yang bertindak sebagai analit adalah Na 2C2O4 sedangkan
KMnO4 bertindak sebagai titran. Dan pada penentuan kadar nitrit, yang bertindak sebagai analit
adalah KMnO4 yang kemudian ke dalamnya ditambahkan H2SO4. Sedangkan sampel nitritnya
bertindak sebagai titran.

I. PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Pembakuan larutan Kalium Permanganat dengan Natrium Oksalat
2. Menentukan kadar Nitrit dengan menggunakan larutan standar kalium permanganat.
1.2 Latar Belakang
Metode Permanganometri adalah suatu metode yang dilandaskan pada prinsip redoks dan
menggunakan larutan Kalium Permanganat sebagai suatu zat pengoksidasi. Reagensia Kalium
Permanganat telah banyak dipergunakan sebagai agen pengoksidasi selama lebih dari 100 tahun.
Reagen ini mudah diperoleh, tidak mahal, dan tak memerlukan indikator kecuali bila larutan yang
digunakan sangat encer. Dalam teknik kimia sendiri, zat ini digunakan untuk menentukan kadar dari
suatu senyawa. Sebagai contoh dalam aplikasinya, permanganometri digunakan untuk menentukan
kadar besi dalam bijih besi, menentukan kadar Ca2+ dalam kalsium karbonat pada proses
pengolahan air, serta analisis kandungan limbah cair produksi. Sehingga analisa permanganometri
tidak hanya bermanfaat di skala laboratorium namun juga di skala industri. Oleh karena itu,
praktikum analisa permanganometri diperlukan agar praktikan memahami konsep analisa
permanganometri dengan tepat.

II. DASAR TEORI

Kalium Permanganat (KMnO4) telah banyak digunakan sebagai agen pengoksidasi selama
lebih dari 100 tahun. Reagen ini dapat diperoleh dengan mudah, tidak mahal, dan tidak
membutuhkan indikator terkecuali untuk larutan yang amat encer. Satu tetes permanganat 0,1 N
memberikan warna merah muda yang jelas pada volume dari larutan yang biasa dipergunakan
dalam sebuah titrasi. Warna ini dipergunakan untuk mengindikasikan kelebihan reagen
tersebut. Permanganat mengalami beragam reaksi kimia, karena Mangan(Mn) dapat dalam kondisi
+2, +3, +4, +6, +7.
Reaksi yang paling umum ditemukan dalam laboratorium adalah reaksi yang terjadi dalam
larutan-larutan yang bersifat asam 0,1 N atau lebih besar :
MnO4- + 8H+ + 5e- Mn2+ + 4H2O + Eo = +1,51 V
Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan reaksi ini,
namun beberapa substansi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah katalis untuk
mempercepat reaksi. Permanganat adalah agen unsur pengoksidasi yang cukup kuat untuk
mengoksidasi Mn (II) menjadi MnO2 sesuai dengan persamaan:
3Mn2+ + 2MnO4- + 2H2O 5 MnO2(s) + 4H+
(Day, R.A dan Underwood, 1986 : 332).
Kalium Permanganat bukanlah standar primer. Sangat sukar untuk mendapatkan pereaksi ini
dalam keadaan murni, bebas sama sekali dari mangan dioksida.Apa lagi, air yang dipakai sebagai
pelarut sangat mungkin masih mengandung zat pengotor lain yang dapat mereduksi Permanganat
menjadi Mangan dioksida (MnO2). Adanya zat ini sangatlah mengganggu,
mempercepat penguraian dari larutan permanganat setelah didiamkan.

karena

akan

Reaksi Penguraian :
4MnO4- + 2H2O 4MnO2- + 3O2- + 4OHPermanganat merupakan oksidasi yang cukup kuat untuk mengoksidasi Mn(II) menjadi
MnO2 menurut persamaan :
2MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O 5MnO2 + 4H+
Reaksi ini lambat dalam larutan asam, tetapi sangat cepat dalam larutan netral.
Larutan Kalium Permanganat(KMnO4) dapat distandarisasikan dengan menggunakan arsen
(III) oksida atau Natrium Oksalat sebagai larutan standar primer,larutan standar sekunder meliputi
besi logam, dan besi (II) etilenadiamonium sulfat ( etileradiamina besi (II) sulfat), FeSO 4,
C2H4(NH3)2SO4, 4H2O (Basset, J. dkk, 1984 : 212).
Larutan KMnO4 standar dapat juga digunakan secara tidak langsung dalam penetapan zat
pengoksida, terutama oksida yang lebih tinggi seperti logam timbal dan mangan, oksida semacam
itu sukar dilarutkan dalam asam atau basa tanpa mereduksi logam itu ke keadaan yang lebih

tinggi. Tidak praktis untuk menitrasi zat ini secara langsung karena reaksi dari zat padat dengan zat
pereduksi berjalan lambat (Day, R. A dan Underwood, 1986).
Oleh karena itu sampel diolah dengan kuantitasnya yang berlebih diketahui sesuatu zat
peruduksi dan dipanasi agar reaksi lengkap. Kemudian kelebihan zat pereduksi dititrasi dengan
Permanganat standar. Berbagai zat pereduksi dapat digunakan seperti AS 2O3 dan N2C2O4. Analisis
pirolusit, atau bijih yang mengandung MnO 2merupakan latihan yang lazim bagi mahasiswa. Reaksi
MnO2 dengan HASO2 :
MnO2(s) + HASO2 + 2H+ Mn2+ + H3AsO4
Dalam larutan yang bersifat basa, KMnO 4 agar mudah mengoksidasi ion-ion iodida, sionida,
tiosianat, dan beberapa senyawa organik dioksidasi oleh kalium permanganat menjadi oksalat,
bukan menjadi karbondioksida (Rivai, 1995).
Larutan baku KMnO4 dibuat dengan melarutkan sejumlah Kalium Permanganat dalam air,
mendidihkannya selama delapan jam atau lebih, kemudian saring endapan MnO 2 yang terbentuk,
lalu dibakukan dengan zat baku utama. Zat baku utama yang lazim dipakai adalah Natrium Oksalat.
Reaksi yang terjadi pada proses pembakuan tersebut adalah sebagai berikut :
5C2O42- + 2MnO42- + 16H+ 2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O
Titik titrasi akhir ditandai dengan timbulnya warna merah muda yang disebabkan oleh
kelebihan Permanganat (Rivai, 1995).
Standarisasi larutan Kalium permanganat dapat dilakukan dengan senyawa Natrium Oksalat
(Na2C2O4) yang juga merupakan standar primer yang baik untuk permanganat dalam larutan
asam. Senyawa ini mempunyai derajat kemurnian yang tinggi, stabil pada pengeringan dan tidak
mudah menguap. Reaksi dengan Permanganat agak rumit, dan meskipun telah banyak
penyelidikan, mekanisme yang eksak masih belum jelas. Reaksi itu lambat pada temperatur kamar
dan karenanya biasanya larutan dipanaskan yaitu pada suhu sekitar 60oC (Day, R. A dan
Underwood, 1986 : 341).
Penetapan titrimetrik terhadap Kalsium dalam batu kapur seringkali digunakan sebagai latihan
mahasiswa.Kalsium diendapkan sebagai Kalsium Oksalat(CaC2O4). Setelah disaring dan dicuci,
enadapan dilarutakn dalam Asam Sulfat dan Oksalatnya dititrasi dengan Permanganat.Prosedur ini
lebih cepat dibandingkan prosedur Gravimetri (Day, R. A dan Underwood, 1986).

III. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


A. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :


Gelas beker 50 mL

Buret 50 mL
Erlenmeyer

Gelas arloji
Neraca analitik

Gelas ukur 10 mL
Statif

Sudip
Botol semprot

B. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
-

NaNO2 (Natrium Oksalat)


H2SO4 pekat

Larutan KMnO4 (Kalium Permanganat)


Larutan H2SO4 pekat

Akuades
3.2 Prosedur Kerja
A. Pembakuan Larutan Kalium Permanganat dengan Natrium Oksalat
1. Menimbang 0,1 gram NaC2O4 dan melarutkan dengan aquades.
2. Menambahkan 2,5 mL H2SO4 pekat, mengaduk sampai volume totalnya 50 mL.
3. Mengambil 5 mL larutan untuk dititrasi.
4. Menitrasi dengan KMnO4 sambil mengocok perlahan sampai berubah warna dari ungu menjadi
merah muda
5. Mengulangi sebanyak 2 kali dan mencatat volume titrasinya.
B. Penentukan Kadar Nitrit
1. Menimbang nitrit sebanyak 0,2 gram dan melarutkannya dengan aquades sampai volume
totalnya 50 mLdan memasukkannya kedalam buret.
2. Memipet 5 mL KMnO4 kedalam erlenmeyer dan menambahkan 2,5 mL H2SO4.
3.
Menitrasi dengan larutan nitrit yang ada dalam buret sampai warna berubah dari ungu

menjadi bening.
4. Mengulangi sebanyak 2 kali dan mencatat hasilnya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
A. Pembakuan Larutan Kalium Permanganat dengan Natrium Oksalat
Tabel 4.1 Pembakuan Larutan Kalium Permanganat dengan Natrium Oksalat
No

Langkah Percobaan

Menimbang 0,1 gram Natrium Oksalat

Menambahkan H2SO4 pekat


mengaduknya
akuades

kemudian

Hasil
Massa = 0,1 gram
dan

menambahkan

V H2SO4 = 2,5 mL
Vakuades = 50 mL

Mengambil larutan untuk dititrasi

V = 5 mL

Menitrasi dengan KMnO4 sambil dikocok

Titrasi I

perlahan.

V awal = 16,3 mL
V akhir = 18,9 mL
V titrasi I = 16,3 18,9
= 2,6 mL
Titrasi II
V awal = 18,9 mL
V akhir = 21,5 mL
V titrasi I = 18,9 21,5
= 2,6 mL
V rata-rata=

= 2,6 mL Laruta
n menjadi pink
B. Penentuan Kadar Nitrit
Tabel 4.2 Penentuan Kadar Nitrit
No

Langkah Percobaan

Hasil

Menimbang
NaNO2 dan
dengan aquades.

Memipet 5 mL KMnO4 dan memasukkannya

ke dalam erlenmeyer.
Menambahkan 2,5 mL
erlenmeyer.

melarutkannya

H2SO4 ke

dalam

Massa = 0,2 gram


V akuades = 50 mL

Menitrasi dengan lerutan sampel nitrit

Titrasi I
V awal = 16,5 mL
V akhir = 17,7 mL
V titrasi I = 17,7 - 16,5
= 1,2 mL
Titrasi II
V awal = 19,5 mL
V akhir = 20,7 mL
V titrasi I = 20,7 19,5
= 1,2 mL
V ratarata=

= 1,2 mL
Warna berubah dari ungu
menjadi bening

4.2 Pembahasan
A. Pembakuan Larutan Kalium Permanganat dengan Natrium Oksalat
Dalam percobaan ini natrium oksalat merupakan standar primer yang baik untuk
permanganat dalam larutan asam. Sebelum melakukan pembakuan larutan KMnO 4 dengan
NaC2O4 praktikan harus menembahkan H2SO4 ke dalam NaC2O4 pada saat penambahan terjadi
reaksi :
2Na+ +C2O42- + 2H+ + SO42-

H2C2O4 + 2Na+ + SO42-

Pengasaman larutan dengan H2SO4 tidak akan menghasilkan reaksi samping, tetapi jika
menggunakan HCl maka asam itu tidak akan dapat digunakan karena HCL dapat teroksidai menjadi
klor. Fungsi penambahan H2SO4 adalah sebagai pendonor H+, membuat larutan dalam suasana
asam dan juga melepas oksigen dari C2O4 agar bilangan oksidasinya turun, sehingga Na2C2O4 lebih
mudah bereaksi dengan KMnO4. Selain itu fungsi penambahan H2SO4 adalah untuk mengubah
natrium oksalat menjadi asam oksalat dan juga untuk menurunkan energi aktivasinya. Penambahan
H2SO4 juga berfungsi sebagai katalis untuk mempercepat reaksi.
Reaksi permanganat dengan NaC2O4 berjalan lambat dalam suhu ruangan sehingga
biasanya harus dipanaskan pada suhu 70-80 oC agar reaksi yang terjadi dapat bejalan dengan cepat.
Walaupun dengan temperatur yang dipertinggi reaksi mulai dengan perlahanm, namun

kecepatannya meningkat ketika ion mangan (II) terbentuk. Ion ini dapat memberikan efek ketitiknya
dengan cara bereaksi cepat dengan permangannat untuk memberikan mangan. Reaksi yang terjadi
antara oksalat dengan permanganat adalah :
5C2O42- + 2MnO4- + 16H+
2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O
Pada saat titrasi larutan mengalami perubahan warna yang semula bening menjadi
warna pink. Hal ini menunjukan bahwa larutan tersebut telah mencapai titik ekivalen dan berakhirnya
titrasi dimana larutan KMnO4 sebagai titran jumlah molnya sama dengan jumlah mol pada titrat.
Terjadinya perubahan warna karena Mn2+ ( larutan bening) dan MnO4- tereduksi oleh
Na2C2O4 menjadi Mn2+ (merah muda). Volume rata-rata titrannya adalah 2,6 mL dan berdasarkan
perhitungan normalitas KMnO4 sebesar 0.057 N.
B. Penentuan Kadar Nitrit
Untuk menentukan suatu kadar nitrit, sampel nitrit diencerkan dan dimasukan kedalam buret.
Kadar nitrit dapat ditentukan dengan menggunakan titrasi redoks dan menggunakan larutan baku
KMnO4. KMnO4bertindak sebagai titrat yang ditambahkan H 2SO4 agar larutan bersuasana asam,
H2SO4 juga menurunkan bilangan oksidasi dengan cara melepaskan oksigen dari MnO 4 sehingga
KMnO4 lebih mudah bereaksi dengan NaNO 2. Larutan yang ditambahkan H 2SO4 reaksinya lebih
cepat karena H2SO4 bertindak sebagai katalisator. Larutan yang dititrasi dengan nitrit mencapai titik
ekivalen dengan berubahnya warna dari ungu menjadi bening. Perubahan warna ini disebabkan
karena jumlah KMnO4 telah berkurang dan jumlah NaNO2 sebagai titrat telah sedikit berlebih dan
telah mencapai titik ekivalen dimana jumlah mol titrat sama dengan jumlah mol titrannya. Reaksi
yang terjadi adalah sebagai berikut :
NaNO2 + H2SO4 Na2SO4 + 2 H+ + NO22MnO4- + 6H+ + 5NO2- 2Mn2+ + 3H2O + 5NO3Dari hasil titrasi titik ekivalen dicapai dengan volume sebesar 1,2 mL. Berdasarkan hitungan, kadar
nitrit dalam NaNO2 sebesar 6,5%.
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah :
1.

Permanganometri merupakan titrasi reduksi oksidasi dengan menggunakan larutan baku


permanganat.

2.

Kalium Permanganat (KMnO4) merupakan zat pengoksidasi yang kuat dan dapat dipakai
tanpa penambahan indikator, karena ia dapat bertindak sebagai indikator (autoindikator).

3.
4.

Normalitas KMnO4 yang diperoleh sebesar 0,057 N.


Kadar nitrit yang diperoleh adalah sebesar 6,5 %.

Saran
Dalam praktikum ini sangat dibutuhkan ketelitian dan kesabaran terutama pada saat titrasi
karena hanya dengan beberapa mL saja larutan bisa berubah dan melewati titik ekivalen apabila kita
tidak teliti dan berhati-hati.

DAFTAR PUSTAKA
Basset, J. dkk. 1984. Buku ajar Vogel Kimia analisis kuantitatif anorganik. Kedokteran EGC. Jakarta.
Day, R. A. Jr dan A. L. Underwood. 1986. Kimia analisis kuantitatif. Erlangga. Jakarta.
Rivai, Harrizul. 1995. Asas pemeriksaan kimia. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.