Anda di halaman 1dari 7

Fraktur Tertutup Femur Dekstra 1/3 Distal

Kelompok B7
Anthony Djohary

102012031

Noor Syuhaila binti Mazlan

102012482

Feby Sondang Junita Siburian

102013152

Afifah Nur Utami

102013448

Florence Clarissa Benyamin

102014102

Ria Novelina

102014150

Dicky Febrian

102014162

Steven Jonathan

102014181

Sabrina Ayu Putri

102014190

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


2016
Jalan Arjuna Utara Nomor 6 Kebon Jeruk-Jakarta Barat 15510
Email: pblb7ukrida@gmail.com

Pendahuluan
Tulang merupakan penyangga dan kerangka tubuh dari manusia, selain itu merupakan
anggota gerak yang bekerjasama dengan otot. Mengingat salah satu ciri mahkluk hidup ialah
bergerak, maka tentunya keseharian kita tidak lepas daripada tulang yang merupakan anggota
gerak itu sendiri. Selain itu, fungsi tulang lainnya ialah penyangga tubuh dan pastinya tulang
merupakan struktur yang keras. Meskipun begitu, tulang tetap bisa patah meskipun tidak
memiliki kelainan seperti tulang keropos. Penyebab yang biasa terjadi ialah kecelakaan lalu
lintas, terjatuh dari tempat yang cukup tinggi, atau benturan dengan benda yang keras. Meski
dapat berregenerasi, namun agar bisa kembali normal sesuai dengan bentuknya semula
diperlukan bantuan medis. Pada makalah ini, akan dibahas mengenai fraktur tulang tertutup
khususnya pada regio femoris.
Anamnesis
Pada anamnesis yang dilakukan setelah mengisi identitas pasien dan informed
concent ialah menanyakan keluhan pasien. Pada skenario pasien adalah seorang laki-laki
berusia 18 tahun dengan keluhan sakit pada kaki kanan setelah mengalami kecelakaan sepeda
motor 1 jam lalu. Anamnesis pada pasien dengan fraktur tulang dilakukan apabila pasien
masih dalam keadaan sadar dengan kata lain, pasien tidak dalam keadaan kegawatdaruratan.
Adapun hal hal yang perlu ditanyakan adalah
-) Kapan Anda mengalami kecelakaan motor yang menyebabkan fraktur?
-) Apakah Anda mengalami sakit di bagian lain?
-) Dimanakan nyeri terasa paling sakit? (perkiraan fraktur terjadi pada tulang apa)
-) Bagaimana pola konsumsi makanan Anda? Apakah kaya akan kalsium?
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dilakukan untuk memperkuat temuan-temuan dalam
anamnesis. Teknik dalam pemeriksaan fisik meliputi TTV, pemeriksaan secara visual
(inspeksi), pemeriksaan melalui perabaan (palpasi), pemeriksaan dengan ketokan (perkusi)
dan pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop (auskultasi).3

Namun pada keadaan fraktur yang perlu dialakukan khususnya pada inspeksi dan
palpasi saja (look, feel, touch). Pada kasus ini dilakukan cek tanda tanda vital, inspeksi,
palpasi didapatkan bahwa:
TTV: Normal
Inspeksi:
-) Udem (+) 1/3 distal
-) Hematom (+)
Palpasi:
-) Nyeri tekan (+)
-) Krepitasi (+)
-) Pulse (+)
Movement:
-) Tidak bisa digerakkan
Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan penunjang berupa rontgen didapatkan bahwa terjadi fraktur
transversa femur 1/3 distal
Working Diagnosis
Working diagnosis yang diambil pada kasus ini ialah fraktur transversa tertutup femur
1/3 distal dan soft tissue swelling.
Etiologi
Fraktur dapat terjadi karena beberapa penyebab: 1-4
-) Fraktur trauma: ketika suatu gaya atau kekuatan yang melampaui kemampuan tulang untuk
menahan tekanan yang diterima tubuh. Contohnya seperti terjatuh, kecelakaan, olah raga.
-) Fraktur patologis: apabila tulang melemah, patah dapat terjadi meski hanya terjadi trauma
minimal atau tekanan rungan, disebabkan oleh karena pasien sudah mengalami kelainan

sebelumnya. Sering terjadi pada orang tua dengan osteoporosis, tumor, infeksi atau penyakit
lain
-) Fraktur stress (fatigue): disebabkan oleh trauma tingkat rendah namun terjadi
berkepanjanan atau berulang, seperti pada peningkatan drastis latihan pada seorang atlit.
Secara umum fraktur diklasifikasikan: 1-4
-) Simpleks (tertutup): bila fragmen tulang tidak menembus kulit
-) Compound (terbuka): bila fraktur menyebabkan robeknya kulit
-) Inkompleta (parsial): Kontinuitas tulang belum terputus seluruhnya
-) Kompleta (total): Kontinuitas tulang sudah terputus seluruhnya.
Berdasarkan posisi fragmen dan garis fraktur: 1,2
-) Kominutiva: tulang pecah menjadi sejumlah potongan kecil
-) Impakta: salah satu fragmen terdorong masuk kedalam fragmen lain
-) Segmentalis: terjadi pada dua daerah berdekatan
-) Overriding: fragmen fraktur menumpuk sehingga keseluruhan panjang tulang terlihat
memendek
-) longitudinal: garis fraktur berjalan seperti sumbu tulang
-) Oblik: garis fraktur menyilang pada sudut sekitar 450 sethadap sumbu tulang
-) Spiral: garis fraktur menyilang pada sudut yang oblique sehingga menciptakan pola spiral
-) Transversal: garis raktur membentuk sudut tegak lurus terhadap sumbu tulang
Epidemiologi
Diperkirakan ada 25% populasi penduduk mengalami cedera musculoskeletal setiap
tahun, dan jumlah cedera yang signifikan ini meliputi fraktur atau patah tulang.2
Patofisiologi
Sewaktu terjadinya patah tulang, maka sel-sel tulang mati. Perdarahan biasanya
terjadi disekitar lokasi fraktur dan kedalam jaringan lunak sehingga jaringan lunak juga
mengalami kerusakan. Reaksi peradangan hebat akan timbul setelah fraktur karena sel darah
putih dan sel mast berakumulasi dan menyebabkan aliran darah di lokasi fraktur meningkat.
Fagositosis dan pembersihan sel-sel mati terjadi dan ditempat fraktur terbentuk bekuan fibrin

(hematom fraktur) dan berfungsi sebagai jala untuk terbentuknya tulang baru. Aktifitas
osteoblas segera terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut kalus. Bekuan
fibrin direabsorbsi dan sel tulang baru perlahan mengalami remodelling untuk membentuk
tulang sejati menggantikan kalus dan mengalami kalsifikasi. Penyembuhan memerlukan
waktu beberapa minggu atau bulan (pada anak sembuh lebih cepat). Penyembuhan dapat
terganggu atau terlambat apabila hematom fraktur atau kalus rusak sebelum tulang sejati
terbetuk atau rusak selama proses kalsifikasi. 1,2,3
Manifestasi Klinis
Adapun tanda-tanda klinis fraktur tulang ialah: 1,2
-) Patah tulang traumatic dan cedera jarngan lunak biasanya disertai nyeri. Setelah patah
tulang dapat timbul spasme dan menambah rasa nyeri
-) Biasanya perubahan posisi tulang atau ekstremitas tampak jelas pada inspeksi. Contoh:
bagian distal fraktur akan eksorotasi pada fraktur femoris
-) Pembengkakan di sekitar fraktur akan menyertai proses peradangan
-) Dapat terjadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan, yang mengisyaratkan kerusakan saraf
-) Denyut nadi bagian distal fraktur harus teraba, utuh dan setara dangan bagian nonfraktur.
Hilangnya denyut nadi dapat mengindikasikan syok kompartemen
-) Krepitasi dapat terdengar sewaktu tulang digerakkan akibat pergeseran ujung-ujung
patahan tulang satu sama lain.
Penatalaksanaan
Penanganan fraktur awal pertama, RICE: 2
-) Rest: Istirahat
-) Ice: kompres dengan air dingin untuk mengurangi nyeri dan edema
-) Compression: pembidaian anggota gerak yang dicurigai fraktur dengan tujuan imobilisasi
-) Elevasi: dengan tujuan mengurangi rasa nyeri dan edema
Pemberian analgesik dapat diberikan pada penanganan awal seperti:
1. Paracetamol: R/ Paracetamol tab 500mg S3-4 dd tab I
2. NSAID: R/ Ibuprofen syr brufen 100mg/5mL S3-4 dd cth 2
3. Tramadol: R/ Tramadol kaps50 mg S1-2 dd kaps 1 p.r.n

4. Capcaisin oles R/ Capcaisin S 3-4 u.e


Anti depresan: R/ Elavil tab 25 mg S 3-6 dd tab 1-8
Setelah diagnosis fraktur pasti: 2,5
-) pemberian analgesik opioid
Morfin IM
-) obat relaksan otot atau sedatif dapat diberikan
Diazepam IV 5mg
-) anaestesi lokal:
Lidokain (xylocaine)
Suksinil kolin
Untuk penanganan selanjutnya: 1,2
-) Penyambungan kembali tulang penting dilakuakan agar posisi dan rentang gerak tulang
normal pulih. Dapat dilakukan fiksasi eksternal tanpa intervensi bedah, namun apabila tidak
memungkinkan (diperlukan) tindakan bedah untuk fiksasi internal dapat dilakukan dengan
memasang pen atau sekrup untuk mempertahankan sambungan
-) Perlu dilakukan imobilisasi jangka panjang, biasanya dengan gips
Komplikasi
Adapun bahaya-bahaya komplikasi dari fraktur tertutup femur: 1,2
-) Deformitas atau disfungsi permanen jika tulang fraktur tidak bisa sembuh (non-union) atau
mengalami kesembuhan yang tidak sempurna
-) Syok hipovolemik akibat kerusakan pembuluh darah (khususnya pada fraktur femur)
-) Sindrom kompartemen: ditandai oleh kerusakan atau kematian saraf dan pembuluh darah
yang disebabkan oleh pembengkakan atau edema didaerah fraktur sehingga menekan
pembuluh darah dan menyebabkannya kolaps
-) Emboli lemak akibat terpajannya sumsum tulang atau pengaktifan sistem saraf simpatis
setelah trauma. Embolus lemak biasa tersangkut pada sirkulasi paru dan menimbulkan
kegagalan pernajasan
-) Nekrosis aseptic akibat gangguan sirkulasi

Kesimpulan
Fraktur femur dapat terjadi bila trauma yang diterima sangat besar, hal yang sering
ditakutkan dari fraktur femur ialah komplikasi daripada fraktur itu sendiri yang seringkali
dapat membahayakan nyawa bila tidak ditangani dengan benar dan segera.
Daftar Pustaka
1. Corwin EJ. Patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2000: h. 298-301
2. Kowalk P, Welsh W, Mayer B. Buku ajar patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2011: h. 403-5
3. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit volume 2.
Ed6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005: h. 1365-8
4. Grace PA, Borley NR. At a glance: ilmu bedah. Ed ke-3. Jakarta: Erlangga Medical
Series; 2006.p. 85.
5. Katzung BG, Masters SB, Trevor AJ. Farmakologi dasar & klinik. Ed12. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2014. h. 514-36