Anda di halaman 1dari 12

Etika Pergaulan Sosial-Relijius dalam Masyarakat Majemuk

Indonesia dikenal luas sebagai bangsa dengan realitas sosial majemuk. Hubungan sosial antar
masyarakat di Indonesia merupakan produk sejarah yang panjang, yang dari zaman ke zaman
mengalami perkenalan dan pergaulan dengan bangsa-bangsa, agama-agama, dan kebudayaankebudayaan dunia. Pengalaman ini membentuk nilai-nilai lama dan baru. Sebagian nilai-nilai
lama hendak ditinggalkan atau diperbaharui, sedangkan nilai-nilai baru yang sesuai dengan
perkembangan manusia pada masa sekarang dan masa mendatang harus dipahami dan
diwujudkan dalam pergaulan sosial. Implementasi proses transformasi memerlukan etika
sosial relijius.
Islam dan agama-agama besar lain telah mengembangkan pengaruh dalam berbagai bentuk
kegiatan sosial dan keagamaan. Tetapi kegiatan-kegiatan sosial keagamaan tampaknya tidak
sejalan dengan standar moral yang diharapkan; praktek-praktek korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN) menjadi fenomena dan bahkan kebiasaan nasional dalam beberapa
dasawarsa terakhir. Praktek-praktek keberagamaan tampak berkaitan hanya dengan hubungan
antara manusia dengan Tuhan; sedangkan hubungan-hubungan sosial tidak dikaitkan dengan
praktek-praktek keberagamaan. Hablumminallah (hubungan vertikal manusia-Allah) tidak
sejalan dengan hablumminannas (hubungan horizontal manusia-manusia). Secara ideal
hablumminallah harus terwujudkan juga dalam praktek-praktek hablumminannas, sehingga
manusia memperoleh status insan kamil, yakni manusia dengan mutu unggul.

I. Pendahuluan

Hubungan sosial kita merupakan produk dari proses sejarah panjang yang membentuk nilainilai yang sebagian hendak kita tinggalkan dan sebagian lagi perlu kita pahami, tafsirkan
kembali, dan implementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sebagian nilai-nilai hendak kita tinggalkan karena terasa tidak sesuai lagi atau harus
disesuaikan melalui reinterpretasi dan implementasi dalam kehidupan bersama. Sebagian lagi
memerlukan pemahaman kembali untuk diwujudkan dalam pergaulan sosial, karena nilainilai tersebut memang masih sangat dibutuhkan untuk kehidupan bersama di masa kini dan
masa yang akan datang.
Kita pun harus memahami bahwa diri kita dan pergaulan sosial kita merupakan hasil dari
berbagai pengaruh kebudayaan-kebudayaan dan perkembangan agama-agama besar dunia.
Kita telah hidup bersama nilai dan ajaran Hindu, dan kemudian Budha, sejak sekitar abad ke4 sampai abad ke-16, bahkan hingga sekarang; bersama nilai-nilai dan peradaban Islam sejak
sekitar abad ke-13; bersama peradaban Eropa, Kristen, sejak sekitar abad ke-16; dan bersama
berbagai peradaban dunia lainnya seperti Cina, Arab, Jepang, Amerika, dan sebagainya,
hingga sekarang.
Sejarah kehidupan kita sampai hari ini bagaikan raksasa yang menganga, terbuka mulutnya,
untuk setiap saat menelan unsur-unsur dan corak-corak nilai peradaban dan kebudayaan dari
berbagai sumber yang masuk lewat tenggorokan penyaringan peradaban dan kebudayaan
Indonesia baru menuju perut peradaban dan kebudayaan Indonesia mendatang. Dalam perut
kebudayaan itu dinamika kehidupan dan pergaulan sosial kita berproses. Dalam usus
kebudayaan bangsa yang bercabang-cabang dan kompleks, dinamika pergaulan sosial dan
kehidupan beragama kita berproses bergerak, menggeliat, maju, mundur, berputar, secara
tak-linear.

II. Fakta Sosial dan Keagamaan

Pengetahuan umum mengajarkan tentang penduduk Indonesia yang berjumlah 240 juta jiwa,
bermukim di kawasan geografis dan sosial yang terdiri atas sekitar 17.600 pulau besar dan
kecil, dengan 400an sistem budaya dan subbudaya, dengan 300an bahasa yang berbeda-beda,
namun hendak menjadi satu dengan Bahasa Indonesia dan Pancasila sebagai payung
pemersatu. Penduduk Indonesia ini tinggal di wilayah seluas 1,9 juta km daratan dan lautan
yang dibagi-bagi dalam 440 kabupaten dan kota, 5.106 kecamatan, dan 70.669 desa (KPU,
September 2004).
Sekitar 10-15% penduduk tersebut diperkirakan masuk kategori miskin dan kesrakat (truly
needy). Yang kaya? Catatan beserta kategori-kategori terinci dan transparan sulit dilakukan,
tapi diperkirakan bahwa mereka yang ada di puncak kerucut dari piramida ekonomi kita di
bawah 1%. Penelitian-penelitian yang dikerjakan cenderung membuka jawaban-jawaban
tentang penduduk miskin; menyelenggarakan penelitian mendalam tentang orang-orang
miskin jauh lebih mudah dikerjakan di Indonesia.
Persoalan sangat penting adalah kenyataan sosial-relijius, bahwa selama puluhan tahun kita
mengenal kehidupan dan perkembangan agama-agama resmi Islam, Kristen (Protestan dan
Katolik), Hindu dan Budha. Di luar yang resmi itu masih hidup berbagai aliran
kepercayaan dan religi dalam kelompok-kelompok masyarakat.
Perkembangan kehidupan beragama resmi dalam dua dasawarsa belakangan ini
menunjukkan gejala peningkatan kuantitas, dan mungkin kualitas, yang luar biasa, terutama
Islam sebagai agama dengan pengikut mayoritas. Namun demikian, perkembangan di luar itu,
yakni gejala deviansi juga berlangsung. Di satu sisi, kehidupan beragama umat Islam
meningkat dengan mengagumkan; di lain sisi, disaksikan bahwa kehidupan moral manusia di
Indonesia sangat mengkhawatirkan. Kehidupan umat Islam dan umat beragama di Indonesia
terlihat berwajah ganda.
Masyarakat Islam rajin beribadah. Masjid dan tempat-tempat ibadah penuh dihadiri umat.
Orang-orang Islam masih berpuasa, membayar zakat dan naik haji, tapi korupsi dan
penyelewengan dalam pelayanan publik terus berlangsung, sehingga sampai saat ini sulit
terhapus sebutan kita sebagai bangsa yang jagoan dalam kolusi, korupsi dan nepotisme
(KKN). Tambahan lagi, tindak kekerasan antar sesama manusia Indonesia berlangsung begitu
meluas dan mencemaskan.

Sangat mencengangkan dan mengandung paradoks besar adalah kenyataan bahwa ternyata
masih begitu besar solidaritas umat manusia Indonesia dan dunia ketika terjadi bencana alam,
gempa bumi dan gelombang tsunami di Aceh, dengan membantu para korban dalam
meringankan penderitaannya. Sikap dan pilihan sosial-relijius dengan solidaritas yang mulia
masih ditempuh umat manusia di Indonesia dan dunia ketika dihadapkan pada kepedulian
untuk mengulurkan bantuan terhadap manusia lain yang mengalami musibah besar.
Peningkatan kuantitas dan kualitas dalam pergaulan sosial-relijius yang mulia masih
mengandung harapan besar dalam kehidupan umat manusia.
Pada tingkatan tertentu pemahaman dan implementasi ibadah dan ketaqwaan kita ini kurang
lengkap. Seringkali masih kita alami bahwa pemahaman dan implementasi pergaulan relijius
kita cenderung menekankan pada matra hubungan antara manusia dengan Allah
(hablumminallah) dan kurang menekankan pada matra hubungan antar manusia
(hablumminannas) yang sesungguhnya.
Seolah-olah terdapat orang-orang yang ingin menuju sorga di sisi Allah sendirian dan tidak
perlu mengajak orang-orang lain untuk bersama-sama menikmati sorga di sisi Allah, sehingga
orang-orang tersebut beribadah sejadi-jadinya tanpa memedulikan orang-orang lain di
sekitarnya. Padahal seringkali orang-orang di sekitarnyalah yang mengangkat, menjunjung
seseorang menuju sorga. Untuk mencapai ketaqwaan yang sempurna orang harus memahami
dan mengimplementasikan kedua matra itu (hablumminallah dan hablumminannas) seikhlasikhlasnya.
III. Wacana Kebudayaan Reliji Jawa

Dalam perspektif kebudayaan Clifford Geertz (1960), masyarakat Jawa dibagi-bagi


berdasarkan orientasi nilai-nilai keagamaannya, menjadi kaum abangan, santri, dan priyayi.
Menurut Geertz, kaum abangan berorientasi kepada nilai-nilai agama Hindu-Jawa, meskipun
secara formal mengaku beragama Islam; kaum santri berorientasi kepada ajaran Islam secara
relatif ketat; sedangkan kaum priyayi kepada nilai-nilai kaum feodal Jawa. Kritik terhadapnya
antara lain, tidak semua priyayi tidak santri, dan demikian pula, tak jarang priyayi yang juga
abangan; sedangkan yang dianggap santri pun sesekali mempraktekkan kegiatan berbau
Hindu-Jawa.
Geertz secara deskriptif menggambarkan berbagai praktek dan corak kegiatan yang
berorientasi pada kehidupan reliji masyarakat Jawa, misalnya slametan untuk berbagai

kepentingan; kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus seperti memedi, lelembut,


thuyul, demit, dan danyang; praktek perdukunan untuk pengobatan, sihir dan magic
termasuk santet dan tenung yang dianalisis sebagai bagian dari kegiatan dalam kehidupan
kaum abangan. Kegiatan-kegiatan kaum santri berpusat pada lembaga-lembaga
pendidikannya seperti pondok, langgar, perkumpulan tarekat, dan madrasah, serta
perkumpulan pengajian-pengajian. Kegiatan hidup kaum priyayi, menurut Geertz,
mempertimbangkan berkembangnya estetika kesenian klasik (wayang kulit, gamelan,
tembang, joged, dan batik) dan kesenian populer Jawa (wayang wong, kethoprak, ludruk) dan
kesenian rakyat seperti ledek, jaranan, janggrung, dan tayuban); serta berbagai aliran mistik
dan kebatinan dengan sekte-sektenya (Budi Setia, Sumarah, Kawruh Beja, Ilmu
Sejati, dan Kawruh Kasunyatan).
Apa yang ditemukan dan dianalisis Geertz dari penelitiannya di Jawa pada tahun-tahun
1950an itu, meski tidak sepenuhnya, sekarang ini masih dapat kita jumpai dalam kehidupan
masyarakat tidak saja di Pulau Jawa. Berbagai konfigurasi kemajemukan yang saya paparkan
adalah kenyataan sosial-relijius yang sebagian masih hidup dan berkembang dalam
masyarakat pasca-moderen ini. Sebagian di antaranya mengalami proses pelapukan dan
pelenyapan, sebagian telah lenyap, dan sebagian lagi bertransformasi dalam corak dan
kemasan baru atau lain.
Surat Al-Kafiruun menyampaikan isyarat dan kesimpulan sebagai pedoman umum dalam
pergaulan sosial-relijius masyarakat majemuk, untuk menjamin rasa aman dan adil:
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah/dan kamu tidak pernah
(pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah/Untukmu agamamu dan untukku
agamaku.
IV. Implementasi Etika Pergaulan Sosial sebagai Amal Shaleh

Islam menetapkan masyarakat sebagai medan perwujudan nilai-nilai akhlak tertinggi, dan
menganggap gerak kemasyarakatan sebagai pengejawantahan tata-moral yang mulia.
Sementara itu, nilai-nilai etika masyarakat sangat diperlukan bagi moralitas dalam pergaulan
sosial, karena nilai-nilai etika menuntut kehadiran orang-orang lain, interaksi dengan mereka,
dan kondisi yang memungkinkan timbulnya tanggapan terhadap tindakan moral yang
dilakukan.
Tema-tema kebajikan seperti solidaritas, cinta dan kasih-sayang, kesantunan, kemurahan hati,

keadilan, kedamaian dan pengorbanan, hanya dapat diwujudkan manusia dalam pergaulan
dengan manusia lain (hablumminannas). Sangat sulit dibayangkan adanya seseorang yang
dapat mengamalkan kebajikan, tindakan bermoral dan beretika secara sendirian. Oleh sebab
itu, moralitas dan etika Islam pada hakekatnya merupakan moralitas dan etika pergaulan dan
tindakan amal shaleh.
Ungkapan Ismail R. Faruqi (1984: 62):
Islam membangun etika masyarakat atas dasar amal, dan membatasi kebaikan moral sebagai
ketentuan subyektif dan akibat ruang-waktu sekaligus. Etika Islam tidak menolak nilai etis
yang berlandaskan niat; tetapi beranggapan bahwa nilai seperti itu tidak lengkap dan tidak
cukup kuat untuk menyusun moralitas. Penekanan Quran pada amal sungguh sangat besar.
Percampuran proses dalam ruang dan waktu, dan pengarahan proses ini ke arah perwujudan
nilai-nilai etis yang secara sadar dijadikan tujuan, merupakan sikap Islam. Dengan prinsip ini,
orang Muslim tetap menaruh hormat meskipun menghindari pengasingan ascetic dan
kependetaan yang terdapat dalam agama Kristen (Quran 57: 27) dan Hindu, dan
menceburkan dirinya ke dalam hiruk-pikuknya pasar, suku, desa dan kota, perang,
perdamaian dan tata internasional.
Selanjutnya Faruqi (1984: 65-66) menegaskan:
Untuk hidup sebagai anggota masyarakat, Islam menciptakan suatu persaudaraan, yang di
dalamnya setiap anggota masyarakat berada pada kedudukan yang sama kecuali dalam
ketakwaan. Dalam hal ini, Islam mengundang setiap manusia untuk berlomba-lomba
mencapai ketakwaan dan membuktikan nilai moralnya. Lapangan ini terbuka bagi seluruh
manusia. Dalam hal ini mereka sama, hingga mereka membedakan dirinya dari yang lain
dalam tindakannya. Kehidupan mereka diatur bukan oleh otoritas yang sewenang-wenang,
melainkan oleh kriteria paling tinggi dan terakhir, adalah hukum Allah.

V. Matra Persaudaraan

Persaudaraan dalam pergaulan sosial dan kehidupan beragama dalam masyarakat majemuk
mendapat tempat yang utama dalam Islam. Ajaran tauhid mengandung gagasan persaudaraan
bagi seluruh umat manusia, dengan mengingat bahwa manusia diciptakan oleh Allah Yang

Maha Esa. Harun Nasution berujar: Seluruh manusia adalah bersaudara, karena mereka
diciptakan dari sumber yang satu oleh Yang Maha Esa (1987: ix). Nasution (1987: viii) juga
menegaskan, Apa yang disebut amal saleh dalam Islam tidak pula terbatas pada perbuatan
baik terhadap manusia saja, tetapi juga mencakup perbuatan baik terhadap binatang.
Akan tetapi karena tingkat pergaulan sosial seluruh umat manusia pada kodratnya (given)
berjenjang, tiga matra persaudaraan dalam pergaulan sosial manusia dapat menjadi pedoman
umum.
Pada matra pertama kaum muslim dapat memahami dan meng-implementasikan Ukhuwah
Islamiyah yang mendasari pergaulan sosial dan persaudaraan antar sesama pemeluk Islam.
Matra kedua, Ukhuwah Wathoniyah, pergaulan sosial dan persaudaraan antar umat sebangsa,
meski berbeda agama dan kelompok etnik atau kesukuan. Matra ketiga, Ukhuwah Insaniyah,
yakni pergaulan sosial dan persaudaraan antar sesama manusia, sebagai insan, makhluk
ciptaan Al-Khaliq, yang terdiri atas berbagai bangsa di seluruh dunia. Persaudaraan dalam
ketiga matra tersebut dari zaman ke zaman merupakan manusia sebagai perwujudan dari amal
shaleh manusia.
Di samping bangsa manusia, manusia masih harus hidup berdampingan dan bergaul dengan
makhluk-makhluk lain ciptaan Allah seperti binatang, tumbuh-tumbuhan dan yang gaib,
sebagai sesama makhluk. Dalam berbagai tingkat pergaulan dan persaudaraan, kiranya
masing-masing matra mengandung etika dan tata cara agar tidak saling bertabrakan dengan
tujuan harmoni, keselarasan jagad semesta, memayu hayuning bawana baik jagad kecil
mikrokosmos maupun jagad besar makrokosmos. Apabila keselarasan terganggu, kerusakan
jagad menunggu waktu.

VI. Etika Pergaulan Menurut Islam


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan

dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di
antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat [49]:13)
Pergaulan adalah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Bergaul dengan
orang lain menjadi satu kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan bisa dikatakan wajib bagi setiap
manusia yang masih hidup di dunia ini. Sungguh menjadi sesuatu yang aneh atau bahkan sangat
langka, jika ada orang yang mampu hidup sendiri. Karena memang begitulah fitrah manusia. Manusia
membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Tidak ada mahluk yang sama seratus persen
di dunia ini. Semuanya diciptakan Allah berbeda-beda. Meski ada persamaan, tapi tetap semuanya
berbeda. Begitu halnya dengan manusia. Lima milyar lebih manusia di dunia ini memiliki ciri, sifat,
karakter, dan bentuk khas. Karena perbedaan itulah, maka sangat wajar ketika nantinya dalam bergaul
sesama manusia akan terjadi banyak perbedaan sifat, karakter, maupun tingkah laku. Allah
mencipatakan kita dengan segala perbedaannya sebagai wujud keagungan dan kekuasaan-Nya. Maka
dari itu, janganlah perbedaan menjadi penghalang kita untuk bergaul atau bersosialisasi dengan
lingkungan sekitar kita. Anggaplah itu merupakan hal yang wajar, sehingga kita dapat menyikapi
perbedaan tersebut dengan sikap yang wajar dan adil. Karena bisa jadi sesuatu yang tadinya kecil,
tetapi karena salah menyikapi, akan menjadi hal yang besar. Itulah perbedaan. Tak ada yang dapat
membedakan kita dengan orang lain, kecuali karena ketakwaannya kepada Allah SWT (QS.
Al_Hujurat [49]:13) Perbedaan bangsa, suku, bahasa, adat, dan kebiasaan menjadi satu paket ketika
Allah menciptakan manusia, sehingga manusia dapat saling mengenal satu sama lainnya. Sekali lagi .
tak ada yang dapat membedakan kecuali ketakwaannya. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita
tumbuh kembangkan agar pergaulan kita dengan sesama muslim menjadi sesuatu yang indah sehingga
mewujudkan ukhuwah islamiyah. Tiga kunci utama untuk mewujudkannya yaitu taaruf, tafahum, dan
taawun. Inilah tiga kunci utama yang harus kita lakukan dalam pergaulan. Taaruf. Apa jadinya ketika
seseorang tidak mengenal orang lain? Mungkinkah mereka akan saling menyapa? Mungkinkah
mereka akan saling menolong, membantu, atau memperhatikan? Atau mungkinkah ukhuwah
islamiyah akan dapat terwujud? Begitulah, ternyata taaruf atau saling mengenal menjadi suatu yang
wajib ketika kita akan melangkah keluar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dengan taaruf kita
dapat membedakan sifat, kesukuan, agama, kegemaran, karakter, dan semua ciri khas pada diri
seseorang. Tafahum. Memahami, merupakan langkah kedua yang harus kita lakukan ketika kita
bergaul dengan orang lain. Setelah kita mengenal seseorang pastikan kita tahu juga semua yang ia
sukai dan yang ia benci. Inilah bagian terpenting dalam pergaulan. Dengan memahami kita dapat
memilah dan memilih siapa yang harus menjadi teman bergaul kita dan siapa yang harus kita jauhi,
karena mungkin sifatnya jahat. Sebab, agama kita akan sangat ditentukan oleh agama teman dekat

kita. Masih ingat ,Bergaul dengan orang shalih ibarat bergaul dengan penjual minyak wangi, yang
selalu memberi aroma yang harum setiap kita bersama dengannya. Sedang bergaul dengan yang jahat
ibarat bergaul dengan tukang pandai besi yang akan memberikan bau asap besi ketika kita
bersamanya. Tak dapat dipungkiri, ketika kita bergaul bersama dengan orang-orang shalih akan
banyak sedikit membawa kita menuju kepada kesalihan. Dan begitu juga sebaliknya, ketika kita
bergaul dengan orang yang akhlaknya buruk, pasti akan membawa kepada keburukan perilaku
( akhlakul majmumah ). Taawun. Setelah mengenal dan memahami, rasanya ada yang kurang jika
belum tumbuh sikap taawun (saling menolong). Karena inilah sesungguhnya yang akan
menumbuhkan rasa cinta pada diri seseorang kepada kita. Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada
ummatnya untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Rasullulloh SAW telah mengatakan
bahwa bukan termasuk umatnya orang yang tidak peduli dengan urusan umat Islam yang lain. Taaruf,
tafahum , dan taawun telah menjadi bagian penting yang harus kita lakukan. Tapi, semua itu tidak
akan ada artinya jika dasarnya bukan ikhlas karena Allah. Ikhlas harus menjadi sesuatu yang utama,
termasuk ketika kita mengenal, memahami, dan saling menolong. Selain itu, tumbuhkan rasa cinta
dan benci karena Allah. Karena cinta dan benci karena Allah akan mendatangkan keridhaan Allah dan
seluruh makhluknya. Wallahu alam bishshawab.

VI. Penutup

Konsep dasar mengenai kawruh pergaulan dan persaudaraan antar manusia dan antar
makhluk adalah kasih sayang, welas asih, sesama ciptaan Allah Kang Murbeng Dumadi,
sebagai perwujudan tindakan, di alam kasunyatan, social realities, social realm, dari sikap dan
amal shaleh berlandaskan ketaqwaan manusia sebagai makhluk berkarakteristik dan
berderajat tertinggi di antara makhluk-makhluk lain di alam semesta.
Surat Al-Hujurat: ayat 13 mendukung implementasi etika pergaulan dan persaudaraan
tersebut:
Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami
jadikan kamu berbagai bangsa dan berbagai kelompok agar kamu saling mengenal. Sungguh,
yang paling mulia di antara kamu bagi Allah ialah yang paling takwa di antara kamu.
Dengan demikian, bagi umat Islam, baik sebagai insan individu maupun sebagai insan
kelompok, tak ada masalah untuk menyelam dalam pergaulan sosial masyarakat majemuk,
yang karakteristiknya beraneka ragam dipandang dari berbagai sudut, kategori dan
klasifikasi, sepanjang yang menjadi ukuran dan penilaian tertinggi adalah ketakwaannya
kepada Allah Maha Pengasih. Sedangkan mengenai tingkat ketakwaan, sebagai perwujudan
dari taukhid, pemahaman dan keyakinan akan ketiadaan tuhan selain Allah, hanya Allah
Yang Maha Hakim, yang berhak memberikan penghakiman dalam Mahkamah Tertinggi: Man
proposes, but God disposes manusia berusaha dengan etika menuju tipe ideal sebagai insan
kamil, menuju ke kesempurnaan, melalui amalan-amalan dalam pergaulan sosialnya.
Telah bersabda Rasulullah Muhammad SAW: Tidak ada sesuatu pun lebih berat timbangan
(amal)nya daripada perangai yang baik (diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi).
Kiranya hanya manusia yang memahami dan mewujudkan etika pergaulan sosial sebagai
amal shaleh untuk mencapai derajat ketakwaan yang tinggi, mencapai derajat insan kamil,
yang dihadiahi Allah dengan perangai baik.
Wassalam.

Daftar Pustaka
Ali, A. Yusuf. Third Edition, 1938. Al-Quranulkariim. The Islamic University of Al Imam
Mohammad ibn Saud.
Dewanto, Nirwan. 1991. Kebudayaan Indonesia: Pandangan 1991, PRISMA No.
10/Oktober: 3-21.
Faruqi, Ismail R. 1984. Islam dan Kebudayaan (Islam and Culture), translated into Indonesian
by Yustiono. Bandung: Mizan.
Geertz, Clifford. 1960, 1976. The Religion of Java. Chicago: The University of Chicago
Press.
Hassan, A. 1976. Tarjamah Bulughul Maram 2. Bandung: CV Diponegoro.
Koentjaraningrat. 1971, 1993. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan,
Cetakan Keempatbelas.
Komisi Pemilihan Umum (KPU). 2004. Edaran untuk KPU Daerah. Pemilihan Presiden
Putaran Kedua, September 2004.
Nasution, Harun, dan Bachtiar Effendi (Editors). 1987. Hak Azasi Manusia dalam Islam.
Jakarta: Pustaka Firdaus.
Nurdien H. K. Editor. 1983. Perubahan Nilai-Nilai di Indonesia. Bandung: Alumni.