Anda di halaman 1dari 3

Pergeseran Paradigma Hukum

Saat ini perbincangan mengenai reformasi berbagai aspek kemasyarakatan dan


kenegaraan telah menjadi milik kalangan luas masyarakat dan cukup mendominasi
tema keseharian kita. Pada pokoknya sebagian besar pengamatan memberi prioritas
utama pada perlunya reformasi di tiga aspek, yakni hukum, ekonomi dan politik.
Ketiga aspek tersebut boleh jadi mempunyai nilai signifikansi dan bobot yang sama
bagi keberhasilan reformasi secara keseluruhan. Namun sayangnya, perhatian atas
aspek hukum masih belum sebesar perhatian atas aspek ekonomi dan politik.
Yang mencuat mengenai aspek hukum hanyalah persoalan pencabutan paket lima
undang-undang politik dan undang-undang subversi, yang notabene pemberlakuan
serta kelangsungannya hanya merupakan hasil dari proses yang menyangkut teknik
dan politik perundang-undangan. Tulisan ini sebagai sumbang saran mencoba
mendiskusikan apa yang dinamakan dalam tulisan ini sebagai pergeseran paradigma,
terutama menyangkut teknik dan politik perundang-undangan dalam pembentukan
hukum. Pergeseran paradigma ini menurut pandangan penulis penting diupayakan
untuk memberi iklim kondusif bagi pelaksanaan reformasi. Inti pergeseran
paradigma tersebut mencakup tiga hal, yakni dari jargon konstitusional menuju
pemurnian pelaksanaan Undang-undang Dasar 1945, dari formalisme menuju
substansialisme, dan dari absolutisme menuju dinamisme.
Pertama, pergeseran dari jargon konstitusional menuju pemurnian pelaksanaan
Undang-Undang Dasar 1945. Dalam hal ini eksekutif dan legislatif tidak lagi
menyembunyikan kepentingannya dalam jargon secara konstitusional dalam
menanggapi keinginan perubahan. Karena pada intinya atau bila diartikan lebih
lanjut, jargon secara konstitusional tersebut berkecenderungan untuk tetap
mengedepankan peraturan perundangan atau peraturan tata tertib yang memangkas
kedaulatan rakyat. Sebagai contoh di antaranya adalah penggunaan hak-hak DPR,
seperti hak inisiatif, amandemen dan budgeter dalam pemberdayaan potensi
perancangan maupun korektif DPR terhadap kinerja pemerintahan. Hak-hak tersebut
tidak dapat dipraktekkan secara leluasa, karena belenggu peraturan tata tertib DPR
sendiri. Oleh karenanya tidak menjadi aneh apabila pihak legislatif pada
kenyataannya lamban dalam menyikapi keinginan perubahan. Hal ini dapat dilihat
secara konkrit dalam tanggapan berbagai pihak mengenai press-release Pimpinan
DPR/MPR agar Presiden mengundurkan diri. Press-release yang dibacakan tanggal 18
Mei 1998 tersebut, walaupun sifatnya baru merupakan himbauan, bukan Ketetapan
atau Keputusan, dianggap menyalahi Undang-undang dan/atau Tata Tertib DPR/MPR.
Semenjak mencuatnya gagasan reformasi, jargon reformasi yang konstitusional
kerap dipakai kalangan eksekutif dan legislatif dalam memberikan tanggapan
terhadap keinginan reformasi. Namun jargon tersebut terkesan dipergunakan untuk
melambat-lambatkan keinginan reformasi, bahkan menyembunyikan kecenderungan
mempertahankan status quo. Oleh karenanya jargon secara konstitusional
dipandang oleh banyak pihak sebagai tanda bagi kelumpuhan paradigma (paradigm
paralisys) dinamika kehidupan bangsa melalui jalur formal. Padahal akan berbahaya
sekali bilamana kesadaran kelumpuhan tersebut berujung pada pikiran bahwa tidak
ada jalan lain bagi perubahan, kecuali melalui revolusi.
Jalan terbaik yang mendesak diupayakan sebenarnya adalah bagaimana kita sebagai
sebuah bangsa berani kembali kepada kemurnian pelaksanaan pasal-pasal undang-

undang dasar kita, dan bukannya menggunakan peraturan perundangan organik


atau peraturan tata tertib yang pada kenyataannya membuat kedaulatan rakyat
menjadi sulit dicapai. Sejarah ketatanegaraan kita pernah melakukan hal yang patut
diteladani dalam rangka pemurnian pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945. Yakni
diadakannya peninjauan kembali produk-produk legislatif Negara yang berupa
Ketetapan MPRS dan di luar produk MPRS, yakni yang berbentuk Penetapan
Presiden, Peraturan Presiden, Undang-undang, maupun Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang (Perpu). Hal tersebut diatur dalam Ketetapan MPRS No.
XX/MPRS/1966 dan Ketetapan MPRS No. XIX/MPRS/1966. Pelaksanaan dua
Ketetapan tersebut berhasil melakukan pencabutan beberapa produk legislatif
negara, yang isi serta tujuannya dipandang bertentangan dengan suara hati nurani
rakyat.
Sebagai tindakan awal yang sejalan dengan paradigma ini, adalah relevan untuk
memenuhi tuntutan pencabutan paket lima undang-undang politik. Namun untuk
mencapai tahap reformasi yang mencukupi, segala peraturan perundangan dan tata
tertib yang menghambat keberdayaan kewenangan legislasi DPR harus secara
langsung dicabut dan diganti.
Kedua, pergeseran dari formalisme menuju substansialisme. Dalam hal ini proses
pembetukan suatu hukum haruslah pertama-tama didasarkan pada materi atau
substansi peraturan perundangan yang bersangkutan, dan bukan pada bentuk
peraturan perundangannya. Maksudnya adalah bahwa perlunya kedaulatan rakyat
dilibatkan, yang dalam konteks negara kita melalui persetujuan DPR, bukan dilihat
bahwa peraturan perundangan yang bersangkutan akan dituangkan dalam bentuk
undang-undang atau peraturan perundangan di bawah undang-undang, misalnya
Peraturan Pemerintah atau Keppres. Namun apakah substansi peraturan
perundangan tersebut merupakan materi yang boleh dibentuk oleh eksekutif saja
ataukah harus dengan persetujuan legislatif. Sebagai contoh misalnya bahwa
selayaknya setiap pembebanan kewajiban, terutama menyangkut ekonomi dan
finansial kepada warga negara haruslah mendapat persetujuan DPR. Jadi peraturan
perundangannya harus berbentuk undang-undang. Sehingga tidak dapat dituangkan
dalam bentuk yang untuk pemberlakuannya tidak memerlukan persetujuan DPR,
misalnya Peraturan Pemerintah atau Keputusan Presiden.
Saat ini bisa dilihat bahwa peraturan perundangan berbentuk Keppres diberlakukan
untuk hal-hal yang membebani secara ekonomis kepada rakyat. Contoh terbaru dari
hal ini adalah Keppres Nomor 69 dan 70 tahun 1998 tentang kenaikan harga Bahan
Bakar Minyak dan kenaikan Tarif Dasar Listrik. Suatu peraturan perundangan yang
seperti kita ketahui sendiri, dampaknya sangat luas dan strategis terhadap berbagai
bidang lain, hanya diatur oleh Keppres yang pemberlakuannya tidak diperlukan
persetujuan DPR. Padahal kalau kita pelajari peruntukannya, menurut Surat Presiden
yang ditujukan kepada Ketua DPR No. 2262/HK/1959 disebutkan bahwa bentuk
peraturan perundangan Keppres dimaksudkan untuk melakukan atau meresmikan
pengangkatan-pengangkatan. Jadi Keppres diundangkan untuk mengatur hal-hal
yang bersifat intern kepresidenan dan administrasi kepemerintahan.
Ketiga, pergeseran dari absolutisme menuju dinamisme. Yakni sudah saatnya masuk
dalam pemikiran kita membuang jauh gagasan yang hendak mengabsolutkan
peraturan perundangan, dimana satu proses dan produk ketatanegaraan masa
tertentu bisa membelenggu proses dan produk ketatanegaraan dan kemasyarakatan
masa-masa yang akan datang. Setiap dinamika dan perkembangan yang terjadi atau

diinginkan bagian terbesar masyarakat harus mendapat tempat dalam proses


pembentukan hukum. Sehingga tidak perlu terjadi misalnya suatu konsensus dari
satu kelompok masyarakat pada masa tertentu mengabsolutkan keberlakuan dan
penafsiran peraturan perundangan. Dalam hal ini, budaya menempatkan
amandemen dan addendum yang memang dibutuhkan terhadap suatu peraturan
perundangan, tidak dipersulit dengan lingkaran setan aturan mengenai referendum
yang berlaku saat ini. Sejalan dengan ini adalah pengamatan DR Adnan Buyung
Nasution yang menyimpulkan, bahwa tidak ada satupun negara di dunia ini yang
bahkan undang-undang dasarnya sekalipun tidak bisa dirubah atau ditambah.
Secara umum upaya terbaik bagi terselenggaranya pergeseran paradigma
absolutisme menuju dinamisme adalah dikembalikannya gairah intelektualisme
dalam kajian konstitusi di tengah masyarakat kita. Seluruh potensi pemikiran dan
kritik dari kalangan yang seluas-luasnya mengenai tema ini perlu diperlakukan
sebagai sesuatu yang sah dan dihargai sebagai sebuah partisipasi dalam
menegakkan demokrasi dan kedaulatan rakyat. Tingkat kesadaran ini memang
memerlukan satu metode yang perlu dipahami bersama secara lebih mendalam.
Yakni bahwa segala proses dan hasil dari kajian konstitusi bukan merupakan suatu
doktrin yang ketat, sehingga menjadi tafsir baku yang alergi terhadap kritik dan
perbedaan. Segala kajian, baik itu yang bersifat resmi kelembagaan negara, semisal
butir-butir Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), maupun bersifat
umum dari kalangan intelektual dan masyarakat, harus diperlakukan selayaknya
sebuah ilmu atau diskursus yang setiap saat siap untuk dipelajari dan dikritisi.
Mengenai intelektualisme ini, kita dapat mengambil hikmah dari kegairahan
sebagaimana terjadi pada tahap awal kemerdekaan Republik Indonesia sampai
dekade pertama dari masa pemerintahan Presiden Soekarno. Seluruh komponen
kritis bangsa pada waktu itu ikut berpartisipasi menyumbangkan pemikirannya
terhadap konstitusi dan penafsirannya, baik berupa buku, pidato maupun bentuk
lain. Bahkan terhadap perancangan undang-undang dasar sendiri terjadi perdebatan
penting antara dua kubu yang berlainan konsep dan wawasannya. Yakni yang dalam
istilah sekarang sering disebut sebagai kubu integralistik, yang diwakili pemikiran
Soepomo dan Soekarno, berhadapan dengan kubu liberal, yang diwakili pemikiran
Hatta dan Syahrir.
Selain itu di tingkat undang-undang dasar kita juga bisa belajar dari apa yang
pernah dilakukan Konstituante dalam melaksanakan mandatnya untuk menyusun
konstitusi baru. Walaupun gagal, namun gairah intelektualisme dan keberanian
berfikir dalam tubuh legislatif tetap patut dijadikan contoh bagi DPR sekarang ini.
Sedangkan di tingkat undang-undang dan peraturan perundangan di bawahnya,
intelektualisme dapat ditumbuhkembangkan salah satunya dengan memberikan hak
uji materiil (judicial review), terutama pada komponen yudikatif, yakni Mahkamah
Agung. Dengan demikian, secara kelembagaan Mahkamah Agung dapat berfungsi
tidak saja sebagai agent of justice, namun juga sebagai the agent of democracy. Dan
secara umum, masukan atau koreksi yuridis yang berasal dari masyarakat akan
mendapat saluran yang lebih luas, berwibawa, serta sistemik. Sehingga pada
gilirannya nanti dapat membantu membiasakan cara-cara demokratis dan
berkedaulatan rakyat ke tengah-tengah masyarakat Indonesia.