Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS KASUS

Pasian An. TRQ datang ke RSAM dengan keluhan kejang yang disertai
demam.

Kejang didefinisikan sebagai gangguan fungsi otak tanpa sengaja

paroksismal yang dapat nampak sebagai gangguan atau kehilangan kesadaran,


aktivitas motorik abnormal, kelainan prilaku, gangguan sensoris, atau disfungsi
autonom (Nelson, 2000). Terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan kejang, yaitu
infeksi (disertai demam), gangguan neurologi, gangguan metabolik, kejang demam,
trauma, keracunan, idiopatik atau epilepsi dan kegananasan. Pada pasien TRQ kejang
disertai demam yang ditandai dengan suhu tubuh 38,5 0C, R/ trauma disangkal, R/
kejang tanpa demam disangkal, R/ keracunan disangkal, sehingga dapat disimpulkan
bahwa kejang pada pasien An. TRQ disebabkan oleh infeksi, hal ini didukung oleh
hasil lab yaitu leukosit : 17.100. Terdapat beberapa penyakit yang dapat
menyebabkan kejang karna infeksi, seperti kejang demam dan meningitis. Pada
meningitis kejang terjadi setalh 72 jam setelah demam dan pada pemeriksaan fisik
didapatkan rangsang meningeal (kaku kuduk, brudzinski sign 1, brudzinski sign II,
kernigs sign positif) sedangkan pada pasien An. TRQ terjadi kejang pada saat demam
tinggi dan pada pemeriksaan fisik didapatkan rangsang meningeal (kaku kuduk,
brudzinski sign 1, brudzinski sign II, kernigs sign negatif) , oleh karena itu pasien
An. TRQ diagnosis kejang demam. Kejang demam dapat dibagi menjadi dua yaitu
kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana
dapat ditandai :
1. Kejang demam yang berlangsung singkat
2. Kejang kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri.
3. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal.Kejang
tidak berulang dalam waktu 24 jam.

1.
2.
3.

kejang demam kompleks ditandai dengan salah satu ciri berikut ini :
Kejang lama >15 menit.
Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial.
Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam (Behrman et al, 2004).

Pada kasus ini, anak adalah bayi laki-laki usia 1 tahun 11 bulan dengan
keluhan adanya riwayat kejang. Kejang 1x berlangsung selama kurang lebih 5 menit
dengan sejak sehari sebelumnya anak mengalami demam. Kejang pada anak ini
bersifat umum ditandai dengan kehilangan kesadaran yang tiba-tiba dan diikuti
dengan

menggerakkan

kedua

tangan

dan

kaki

serta

rahang

mengeras. (Christopher et al. 2011). Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam.
Dari gejala klinis tersebut pasien An. TRQ dapat didiagnosis kejang demam
sederhana.
Pasian An. TRQ selain mengeluh kejang juga mengeluh BAB cair berlendir
3x/hari gelas belimbing berwarna kekuningan ampas bercampur air. Diare adalah
suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair,
bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya 3x atau lebih)
dalam 1 hari. Diare terdapat 2 macam, yaitu Diare akut dan diare kronik atau diare
persisten. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sedangkan
Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Pada pasien An. TRQ
Bab cair terjadi kurang dari 14 sehingga pasien An. TRQ ini termasuk diare akut.
Diare juga terdapat 3 derajat yaitu :
1) Diare tanpa dehidrasi
2) Diare dengan dehidrasi ringan/ sedang
3) Diare dengan dehidrasi berat

Gejala/ derajat

Diare tanpa

Diare dehidrasi

Diare

dehidrasi

dehidrasi

ringan/ sedang

dehidrasi

Terdapat 2 tanda

Terdapat 2 tanda

berat
Terdapat 2

atau lebih

atau lebih

tanda atau

Baik, sadar

Gelisah, rewel

lebih
Lesu,

Keadaan umum

Lunglai/ tidak
Mata
Keinginan untuk

Tidak cekung
Normal, tidak

Cekung
Ingin minum

minum

ada rasa haus

terus, ada rasa

Kembali segera

haus
Kembali lambat

Turgor

sadar
Cekung
Malas minum

Kembali
sangat lambat

Pada anamnesis, Pasien An. TRQ masih ingin minum, turgor kulit kembali
segera. Dapat disimpulkan dari anamnesis maupun pemeriksaan fisik pasien
menggalami Diare akut tanpa dehidrasi. Infeksi yang melatarbelakangi kejang pada
anak dapat berhubungan dengan keadaan BAB berbentuk cair yang meningkat.
Pada inspeksi abdomen tidak ditemukan adanya massa atau perut kembung.
Perut kembung dan keras adalah gejala dari obstruksi pada usus. Pada tiap anak
dengan diare harus ditentukan bentuk dari feses untuk bisa memperkirakan penyebab
diare tersebut (Rahajoe dkk, 2012). Pada anak ini tidak ditemukan adanya darah dan
lendir serta masih terdapat ampas pada BAB. Pada pasien diare dengan demam
disebut juga diare inflamasi, dimana tipe ini berhubungan dengan diare sekretorik dan
diare osmotik. Pada anak dibawah 5 tahun penyebab diare tersering adalah rotavirus
sehingga terapi yang paling penting dilakukan adalah menambah kekurangan cairan
dengan lima lintas diare.
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko
terjadinya kejang demam, namun para ahli, khususnya di Indonesia menyepakati
bahwa antipiretik tetap dapat diberikan. Dosis anjuran paracetamol adalah 10-15
mg/Kgbb/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali (Pusponegoro dkk,
2006; Hirtz DL, 1997).

Berdasarkan konsensus kejang demam 2006, pemberian diazepam yang dipilih


saat kejang adalah bisa melalui iv atau rektal. Namun, dalam kasus ini diberikan
diazepam awal melalui rektal maupun intravena dengan dosis 10 mg untuk berat
badan >10 kg yang digunakan ketika anak kejang. Ketika sampai di rumah sakit, anak
sudah tidak kejang namun masih demam.

Keputusan untuk merawat anak dengan kejang demam di rumah sakit


bergantung pada situasi klinis dan keadaan keluarga. Anak sebaiknya berada di rumah
sakit minimal dalam beberapa jam dan di evaluasi ulang. Jika penyebab demam telah
diketahui dan ditatalaksana dengan baik, mereka dapat dipulangkan. Hal ini
tergantung pada follow up pasien. Jika kondisi klinis anak masih tidak stabil, jika
masih mungkin kejang disebabkan meningitis, atau jika orangtua anak tidak terlihat
cukup mandiri, sebaiknya anak dirawat di rumah sakit. Sekitar 16% anak akan
mengalami kejang demam berulang dalam 24 jam, tetapi tidak bisa dipastikan kapan
kejang demam akan berulang (Hirtz, 1997). Selama di rumah sakit, dilakukan
evaluasi untuk mengetahui asal kejang pada pasien.

Untuk penatalaksanaan diare pada kasus ini sudah sesuai yaitu sesuai dengan
rencana terapi tipe A ( diare tanpa dehidrasi). Mengikuti lima lantas yaitu
1. rehidrasi oral seperti oralit, makanan cair
2. Pemberian zinc pada anak >6 bulan sebanyak 20 mg/hr selama 10 hari
3. Diet dengan ASI pada <6 bulan dan makanan pada > 6 bulan
4. Antibiotik diberikan hanya pada anak dengan diare berdarah dan kolera, pada
kasus ini tidak perlu diberikan antibiotik
5. Edukasi kepada orangtua

Temuan pada pemeriksaan fisik didukung dengan pemeriksaan laboratorium


darah lengkap anak yang menunjukkan adanya peningkatan Leukosit, menandakan
adanya infeksi (Mc Phee and Hammer, 2010). Peningkatan Leukosit dalam kasus ini
kemungkinan behubungan dengan proses inflamasi disebabkan infeksi yang terjadi
(Dowshen, 2011; Mc Phee and Hammer, 2010). Ini menguatkan bahwa kejang yang
diawali demam pada anak ini terjadi akibat adanya infeksi pada gastrointestinal.
Prognosis pada kasus ini bonam. Walaupun kejang demam mengkhawatirkan
bagi orangtua, prognosis pada anak cukup baik. Hanya sebagian kecil yang
berkembang menjadi epilepsi atau kejang tanpa demam di kemudian hari. Tidak ada
resiko kerusakan otak, akan tetapi dapat terjadi keterlambatan intelektual dan motorik
sebagai akibat dari kejang demam. Kejang demam diketahui sebagai sindrom yang
dipengaruhi oleh faktor genetik. Sebagian besar anak dengan kejang demam tidak
memerlukan tatalaksana khusus dan akan memiliki prognosis yang baik namun
diperlukan peranan orangtua (Hirtz, 1997).
Sebagai orangtua, ibu anak telah memberikan anak makan yang cukup sesuai
usia, ASI diberikan sesuai dengan waktu minimal pemberian ASI, anak mendapat
imunisasi dasar lengkap dan ibu juga melakukan penimbangan anak dengan teratur.
Ibu juga segera memberikan anak pengobatan jika sakit. Ibu juga tampak memiliki
hubungan yang erat dengan anak, ibu melakukan kontak fisik saat menyusui anak.
Pertumbuhan anak samapai usia ini juga dinilai cukup baik dengan status gizi
menurut z score yaitu 0 sd +2 berdasarkan BB/U dan TB/U serta z 0 sd+2 untuk
status gizi berdasarkan BB/TB zscore +2. Peranan orangtua dapat membantu untuk
menjaga kebutuhan tumbuh kembang pada anak (Suciningsih,1995).