Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Umum Buah Pala


Tumbuhan berbatang sedang ini memiliki tinggi sekitar 18 m. Daunnya
berbentuk bulat-telur atau lonjong-panjang dimana kaki dan ujungnya tajam.
Bagian belakang daun berwarna biru-hijau, sedang bagian atas daun berwarna
hijau-tua, berukuran 15 x 7 cm dan berbau wangi aromatis. Bunganya berwarna
kuning; sebagian besar adalah bunga jantan dan sebagian lagi bunga betina.
Bunga tersebut berkumpul sebagai malai yang bercagak kecil dan tidak berbulu.
Bunga jantan berbentuk buyung, besarnya antara 7-9 mm, dengan tiang benangsari sedangkan bunga betina agak lebih besar dan tidak mempunyai tiang benang
sari. Tanaman pala berbuah bundar, dengan kerut menurut panjangnya buah dan
terbagi dalam dua belah. Biji paIa yang diperdagangkan berwarna merah, tertutup
oleh mantel berdaging berupa daun (fuli atau arillus, dengan corak merah tua
halus); daging buah keras, berwarna keputih-putihan, mengandung getah putih,
dan rasanya kelat, enak dimakan dengan gula atau sirop (Drajat, 2007).
2.1.1 Karakteristik Umum
Pala (Myristica Fragans Houtt) merupakan tanaman buah berupa pohon
tinggi asli Indonesia, karena tanaman ini berasal dari Banda dan Maluku.
Tanaman pala menyebar luas ke pulau Jawa, pada saat perjalanan Marcopollo ke
Tiongkok yang melewati pulau Jawa pada tahun 1271 sampai 1295
pembudidayaan tanaman pala terus meluas sampai Sumatera (Sunanto, 1993).

Pala

(Myristica

fragrans

Houtt)

termasuk

tumbuhan

dari

famili

Myristicaceae (pala palaan). Tumbuhan berbatang sedang dengan tinggi


mencapai 18 m itu memiliki daun berbentuk bulat telur atau lonjong yang selalu
hijau sepanjang tahun. Buahnya bulat berkulit kuning jika sudah tua, berdaging
putih yang merupakan bahan manisan yang dikenal khas di Bogor. Bijinya
berkulit tipis agak keras berwarna hitam kecokelatan yang dibungkus fuli
berwarna merah padam. Isi bijinya putih, bila dikeringkan menjadi kecokelatan
gelap dengan aroma khas mirip cengkeh (Sayidin, 2009).

Gambar 2.1 a) Pohon Pala, b) Biji Pala


(Sumber: Martono, 2004).

2.1.2 Taksonomi
Sistematika penulisan taksonomi pala menurut Katzung (2004) adalah
sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Magnoliidae
Ordo : Magnoliales
Famiili : Myristicaceae
Genus : Myristica
Spesies : Myristica Fragant
Pala ( Myristica fragrans Houtt) adalah tanaman daerah tropik yang
memiliki 200 spesies, dan seluruhnya tersebar di daerah tropis. Dalam keadaan
pertumbuhan yang normal, tanaman pala memiliki mahkota yang rindang, dengan
tinggi batang 10-18 m. Mahkota pohonnya meruncing ke atas, dengan bagian
paling atasnya agak bulat serta ditumbuhi daunan yang rapat. Daunnya berwarna
hijau mengkilat, panjangnya 5-15 cm, lebar 3-7 cm dengan panjang tangkai daun
0,7-1,5 cm (Departemen Pertanian, 1986).
Tanaman pala termasuk golongan tanaman berjenis kelamin tunggal,
meskipun terdapat pula tanaman berjenis kelamin ganda. Berumah dua, yang
memiliki perbedaan yang jelas antara pohon betina dan pohon jantan. Tanaman
pala betina di tandai dengan pertumbuhan cabangnya secara horizontal
(mendatar), sedangkan tanaman pala jantan di tandai dengan cabang-cabangnya
yang mengarah ke atas membuat sudut lancip dengan batangnya.

Tanaman pala memiliki buah berbentuk bulat, berwarna hijau kekuningkuningan buah ini apabila masak terbelah dua. Garis tengah buah berkisar antara
3-9 cm, daging buahnya tebal dan asam rasanya. Biji berbentuk lonjong sampai
bulat, panjangnya berkisar antara 1,5-4,5 cm dengan lebar 1-2,5 cm. Kulit biji
berwarna coklat dan mengkilat pada bagian luarnya. Kernel biji berwarna keputihputihan sedangkan fulinya berwarna merah gelap dan kadang-kadang putih
kekuning-kuningan dan membungkus biji menyerupai jala (Departemen
Pertanian, 1986).
2.1.3 Kandungan Kimia
Komposisi kimia daging buah pala dapat dilihat pada Tabel 2.1 sebagai
berikut (Soetanto, 1998):
Tabel 2.1 Komposisi Kimia Daging Buah Pala (100 gram)
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Komposisi
Kalori
Air
Protein
Lemak
Karbohidrat
Kalsium
Fosfor
Besi
Vitamin A
Vitamin B1
Vitamin C

Jumlah
42,00 kal
88,10 %
0,30 g
0,20 g
10,90 g
32,00 mg
24,00 mg
1,50 mg
29,00 S. I.
0,00 mg
22,00 mg

Sumber: (Soetanto, 1998)

Hasil analisa komposisi senyawaan kimia terhadap limbah pengolahan


minyak pala diperoleh bahwa limbah tersebut kaya akan senyawa trigliserida yaitu
trimiristin. Dengan mengisolasi trimiristin disertai dengan amidasi mengggunakan
senyawa amoniak maka akan diperoleh amida asam lemak yang selanjutnya dapat
digunakan sebagai surfaktan (Masyithah, 2006).
Menurut Albert Y. Leung, komposisi kimia yang terdapat pada biji pala
ternyata cukup banyak dan beragam. Namun, jenis zat yang paling mendominasi
adalah zat zat antioksidan (Drazat, 2007).
Tabel 2.2 Komposisi Zat Pada Buah Pala Menurut A. Y. Leung
Jenis Zat

Persentase

Minyak Atsiri

2 16%

Minyak Kental (Fixed Oil) seperti asam palmetic, stearic, dan 25 40%
myristic
Karbohidrat

30%

Protein

6%

Minyak Pala (Monoterpen Hidro Carbon)

88%

Myristicin,

termasuk

jenis

alkohol

seperti

eugenol

dan 4 8%

methyleugenol
Zat antioksidan di bagian biji pala dan fuli

2,38 3,72%

(Sumber: Drazat, 2007).


Buah pala mengandung zat-zat : minyak terbang (myristin, pinen, kamfen
(zat membius), dipenten, pinen safrol, eugenol, iso-eugenol, alkohol), gliseda

(asam-miristinat, asam-oleat, borneol, giraniol), protein, lemak, pati gula, vitamin


A, B1 dan C. Minyak tetap mengandung trimyristin. Minyak atsiri diperoleh
dengan penyulingan uap pala tanah, dan digunakan secara luas dalam parfum dan
industri farmasi. Minyak tidak berwarna atau cahaya kuning, dan bau dan selera
pala. Ini berisi sejumlah komponen bunga untuk industri oleokimia, dan
digunakan sebagai makanan alami rasa dalam makanan yang dipanggang, sirup,
minuman, dan permen. Hal ini digunakan untuk mengganti tanah pala karena
tidak meninggalkan partikel dalam makanan. Minyak atsiri juga digunakan dalam
industri kosmetik dan farmasi, misalnya, dalam pasta gigi, dan sebagai unsur
utama dalam beberapa obat batuk. Dalam obat tradisional minyak pala dan pala
digunakan untuk gangguan yang berkaitan dengan sistem saraf dan pencernaan
(Rahadian, 2009).
2.2 Lemak Dan Minyak; Triester dari Gliserol
Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada
golongan lipid, yaitu senyawa organic yang terdapat di alam serta tidak larut
dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic non-polar, misalnya dietil eter
(C2H5OC2H5), kloroform, benzene dan hidrokarbon lainnya, minyak dan lemak
dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak
mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut tersebut. Berikut ini adalah
struktur trigliserida (Herlina, 2002):

Gambar 2.2 Struktur Trigliserida

Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol,


yang berarti triester dari gliserol.Jadi lemak dan minyak merupakan senyawa
ester.Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan
gliserol.Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai
hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang (Herlina, 2002).
2.3 Teknik Isolasi Lemak Dan Asam Lemak
Esterifikasi merupakan proses yang bertujuan untuk membebaskan asamasam lemak dari trigliseridanya menjadi bentuk ester. Reaksi esterifikasi dapat
dilakukan melalui reaksi kimia yang disebut interifikasi atau penukaran ester yang
didasarkan pada prinsip transestrerifikasi Fiedel-Craft (Herlina, 2002):

Gambar 2.3 Reaksi Esterifikasi


Hidrolisa lemak dan minyak merupakan suatu reaksi hidrolisis lemak dan
minyak yang akan diubah menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi
hidrolisis mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak.Ini terjadi karena terdapat
sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut (Herlina, 2002).

Gambar 2.3 Hidrolisis Trigliserida


Penyabunan dilakukan dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada
tigliserida.Bila penyabunan telah lengkap, lapisan air yang mengandung gliserol
dipisahkan dan gliserol dipulihkan dengan penyulingan (Herlina, 2002):

Gambar 2.4 Reaksi Penyabunan

Hidrogenasi adalah proses yang bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari


rantai karbon asam lemak atau minyak. Setelah proses hidrogenasi selesai,
minyakya adalah didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan disaring.
Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras, tergantung pada derajat
kejenuhan (Herlina, 2002).

Pembentukan keton dilakukan mellaui penguraian degan cara hidrolisa ester


oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan
lemak atau minyak. Terjadi reaksi oksidasi yang akan mengakibatkan bau tengik
pada lemak atau minyak (Herlina, 2002).
2.3.1 Ekstraksi Soxhlet
Ekstraksi adalah salah satu metode pemisahan yang didasarkan pada
distribusi zat terlarut diantara dua pelarut yang tidak saling bercampur.
Berdasarkan fasanya, ektraksi dikelompokkan menjadi ekstraksi cair-cair dan
padat-cair. Ektraksi cair-cair dilakukan untuk mendapatkan suatu senyawa dalam
campuran berfasa cair dengan pelarut lain yang fasanya cair juga. Alat yang
digunakan adalah corong pisah. Ekstraksi padat-cair dilakukan bila ingin
memisahkan suatu komponen dalam suatu padatan dengan menggunakan suatu
pelarut cair.Alat yang digunakan adalah ektraktor soxhlet.Misalnya untuk
mengekstrak minyak non-atsiri (senyawa yang terdapat pada bahan alam yang
tidak mudah menguap). Larutan pengekstrak ditempatkan pada labu alas bulat,
sampel yang akan dianalisis dibungkus dengan kertas saring ditempatkan dan
pada tabung ekstraktor. Bagian ujung atas merupakan pendingin Allihn atau
pendingin bola (Purnomo, 2012).
Ekstraksi dengan alat Soxhlet merupakan cara ekstraksi yang efisien, karena
pelarut yang digunakan dapat diperoleh kembali. Dalam penentuan kadar minyak
atau lemak, bahan yang diuji harus cukup kering, karena jika masih basah selain
memperlambat proses ekstraksi, air dapat turun ke dalam labu dan akan

mempengaruhi dalam perhitungan (Ketaren,1986) dan mempunyai ketepatan yang


baik.
Soxhlet merupakan alat yang terdiri dari pengaduk atau granul antibumping, still pot (wadah penyuling) bypass sidearm, thimble selulosa, extraction
liquid, syphon arm inlet, syphon arm outlet, expansion adapter, condenser
(pendingin), cooling water in, dan cooling water out. Soxhlet biasa digunakan
dalam pengekstrasian emak pada suatu bahan makanan.Metode soxhlet ini dipilih
karena pelarut yang digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan) dan larutan sari
yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga pelarut yang
digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan meningkatkan laju
ekstraksi.Waktu yang digunakan lebih cepat.Kerugian metode ini ialah pelarut
yang digunakan harus mudah menguap dan hanya digunakan untuk ekstraksi
senyawa yang tahan panas (Harper, 1979).
Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang
umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan
dengan adanya pendingin balik. Penetapan kadar lemak dengan metode soxhlet ini
dilakukan dengan cara mengeluarkan lemak dari bahan dengan pelarut anhydrous.
Pelarut anhydrous merupakan pelarut yang benar-benar bebas air.Hal tersebut
bertujuan supaya bahan-bahan yang larut air tidak terekstrak dan terhitung sebagai
lemak serta keaktifan pelarut tersebut tidak berkurang.Pelarut yang biasa
digunakan adalah pelarut hexana (Darmasih, 1997).
Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang dan kemudian dibungkus dengan
kertas saring atau ditempatkan dalam thimble (selongsong tempat sampel), di atas

sample ditutup dengan kapas. Kertas saring ini berfungsi untuk menjaga tidak
tercampurnya bahan dengan pelarut lemak secara langsung. Pelarut dan bahan
tidak dibiarkan tercampur secara langsung agar bahan-bahan lain seperti
fosfolipid, sterol, asam lemak bebas, pigmen karotenoid, klorofil dan lain-lain
tidak ikut terekstrak sebagai lemak. Hal ini dilakukan agar hasil akhir dari
penentuan kadar lemak ini lebih akurat. Selanjutnya labu kosong diisi butir batu
didih.Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah dikeringkan dan
didinginkan, labu diisi dengan pelarut anhydrous (Lucas, 1949).
Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam soxhlet.Alat
ekstraksi soxhlet disambungkan dengan labu lemak yang telah diisi pelarut lemak
dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor.Alat pendingin
disambungkan dengan soxhlet.Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi
lemak mulai dipanaskan. Penentuan kadar lemak pada bahan tersebut dilakukan
selama beberapa jam tergantung dari jumlah emak yang terkandung dalam bahan.
Semakin banyak kadungan lemak yang terdapat pada bahan, semakin lama proses
ekstraksi lemak dilakukan (Darmasih, 1997).
Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati soxhlet menuju ke pipa
pendingin.Air

dingin

yang

dialirkan

melewati

bagian

luar

kondenser

mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke


thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul
dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akandialirkan lewat
sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai
refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam. Setelah proses

ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan
dikeringkan (Darmasih, 1997).
Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang
umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan
dengan adanya pendingin balik.
Soklet terdiri dari:
1. pengaduk / granul anti-bumping
2. still pot (wadah penyuling)
3. Bypass sidearm
4. thimble selulosa
5. extraction liquid
6. Syphon arm inlet
7. Syphon arm outlet
8. Expansion adapter
9. Condenser (pendingin)
10. Cooling water in
11. Cooling water out
Bahan yang akan diekstraksi ialah jagung, dedak, tepung ikan, pelet.
Penentuan kadar lemak dengan pelarut organik, selain lemak juga terikut
Fosfolipida, Sterol, Asam lemak bebas, Karotenoid, dan Pigmen yang lain .
Karena itu hasil ekstraksinya disebut Lemak kasar .
Mekanisme soxhletasi adalah sebagai berikut :

1. Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang 5-10 gram dan kemudian


dibungkus atau ditempatkan dalam Thimble (selongsong tempat sampel) , di
atas sample ditutup dengan kapas.
2. Pelarut yang digunakan adalah Petroleum Spiritus/n-heksan/Alkohol 95
%/Petroleum Benzen dengan titik didih tertentu. Selanjutnya labu kosong diisi
butir batu didih. Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah
dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan Petroleum Spirit/nheksan/Alkohol 95 % sebanyak 175 ml. Digunakan petroleum spiritus karena
kelarutan lemak pada pelarut organik.
3. Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam soxhlet . Soxhlet
disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta
kondensor . Alat pendingin disambungkan dengan soxhlet. Air untuk
pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak mulai dipanaskan .
4. Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati soklet menuju ke pipa
pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondenser
mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes
ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini
terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan
dialirkan lewat sifon menuju

labu. Proses dari pengembunan hingga

pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan


selama 4 jam.
5.

Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses
penyulingan dan dikeringkan.

Kelemahannya metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, pelarut


yang digunakan mudah terbakar dan menguap, hanya digunakan untuk ekstraksi
senyawa yang tahan panas serta adanya zat lain yang ikut terekstrak sebagai
lemak.
2.3.2 Rotary Evaporator
Rotary vakum evaporator merupakan suatu instrumen yang tergabung antara
beberapa instrumen, yang menggabung menjadi satu bagian, dan bagian ini
dinamakan rotary vakum evaporator. Rotary vakum evaporator adalah instrumen
yang menggunakan prinsip destilasi (pemisahan). Prinsip utama dalam instrumen
ini terletak pada penurunan tekanan pada labu alas bulat dan pemutaran labu alas
bulat hingga berguna agar pelarut dapat menguap lebih cepat dibawah titik
didihnya.Instrumen ini lebih disukai, karena hasil yang diperoleh sangatlah akurat
(Azam, 2012).

Gambar 2.5 Rotary evaporator (Azam, 2012).

Pada gambar diatas, akan djelaskan beberapa nama beserta fungsinya :


1. Hot plate : berfungsi untuk mengatur suhu pada waterbath dengan temperatur
yang diinginkan (tergantung titik didih dari pelarut).
2. Waterbath : sebagai wadah air yang dipanaskan oleh hot plate untuk labu alas
yang berisi sampel
3. Ujung rotor sampel : berfungsi sebagai tempat labu alas bulat sampel
bergantung.
4. Lubang kondensor : berfungsi pintu masuk bagi air kedalam kondensor yang
airnya disedot oleh pompa vakum.
5. Kondensor : serfungsi sebagai pendingin yang mempercepat proses perubahan
fasa, dari fasa gas ke fasa cair.
6. Lubang kondensor : berfungsi pintu keluar bagi air dari dalam kondensor.
7. Labu alas bulat penampung : berfungsi sebagai wadah bagi penampung
pelarut.
8. Ujung rotor penampung : berfungsi sebagai tempat labu alas bulat
penampung (menggantung).
Perlu diperhatikan, bahwa penguapan dapat terjadi karena adanya
pemanasan menggunakan hot plate yang dibantu dengan penurunan tekanan pada
labu alas bulat sampel yang dipercepat dengan pemutaran pada labu alas bulat
sampel. Dengan bantuan pompa vakum yang mengalirkan air dingin (es) dari
suatu wadah kedalam kondensor dan dikeluarkan lagi oleh kondensor kepada
wadahnya lagi dan dimasukkan lagi dan seterusnya, karena proses ini berjalan

secara kontinyu. sehingga ketika uap dari pelarut mengenai dinding-dinding


kondensor, maka pelarut ini akan mengalami yang proses yg dinamakan proses
kondensasi, yaitu proses yang mengalami perubahan fasa dari fasa gas ke fasa
cair. Adapun demikian, proses penguapan ini dilakukan hingga diperoleh pelarut
yang sudah tidak menetes lagi pada labu alas bulat penampung dan juga bisa
dilihat dengan semakin kentalnya zat yang ada pada labu alas bulat sampel dan
terbentuk gelembung-gelembung pecah pada permukaan zatnya (Azam, 2012).
2.4 Hidrolisis Trimiristin
Trigliserida, komponen utama minyak alami atau lemak, dikonversi menjadi
diasilgliserol, monoasilgliserol dan gliserol oleh hidrolisis disertai dengan
pembebasan asam lemak di setiap langkah. Gliserol dan asam lemak yang banyak
digunakan sebagai bahan baku, dan monoasilglicerol digunakan sebagai agen
pengemulsi dalam makanan, kosmetik dan farmasi industri (Hermansyah, 2007).
Hidrolisis adalah reaksi yang terjadi antara suatu senyawa dan air dengan
membentuk rekasi kesetimbangan. Selain bereaksi, air juga berperan sebagai
medium reaksi sedangkan senyawanya dapat berupa senyawa anorganik maupun
senyawa organik (Mulyono, 2006).
Reaksi hidrolisis adalah penguraian senyawa kimia yang disebabkan oleh
reaksi dengan air. Umumnya terjadi senyawa baru dengan penambahan atom
molekul H2O kepada salah satu pecahan senyawa yang terurai. Biasanya satu
pecahan mengambil satu atom hidrogen, sedangkan yang lainnya lagi mengambil
gugus hidroksil (Hadyana, 2002).

Hidrolisis dengan mengganakan air murni reaksi yang terjadi sangat lambat
sehingga tidak pernah digunakan, dimana reaksi ini dikatalisis oleh asam encer,
sehingga ester dipanaskan dibawah refluks dengan sebuah asam encer seperti
asam hidroklorat encer atau asam sulfat encer. Berikut ini adalah dua contoh yang
sederhana dari hidrolisis menggunakan sebuah katalis asam yaitu (Brady, 1998):
1. Hidrolisis etil etanoat
2. Hidrolisis metil propanoat
Sedangkan hidrolisis menggunakan basa encer merupakan cara yang lazim
digunakan untuk hidrolisis ester. Ester dipanaskan dibawah refluks dengan sebuah
basa encer seperti larutan natrium hidroksida. Ada dua kelebihan utama dari cara
ini dibandingkan dengan menggunakan asam encer yaitu, reaksi yang terjadi
berlangsung dengan satu arah dan tidak reversibel, serta produknya lebih mudah
dipisahkan, contoh hidrolisis menggunakan larutan natrium hidroksida yaitu
(Brady, 1998):
1. Hidrolisis etil etanoat menggunakan larutan natrium hidroksida
2. Hidrolisis metil propanoat menggunakan larutan natrium hidroksida

Hidrolisis trigliserida dapat dilakukan dengan menggunakan asam atau


basa, dimana hidrolisis dengan katalis basa dikenal dengan istilah penyabunan
(saponifikasi). Hidrolisis trimiristin dengan penyabunan dilakukan dengan cara
memanaskan trigliserida dalam suatu air yang mengandung natrium hidroksida.
Isolasi asam miristat hasil dari hidrolisis dilakukan dengan cara penambahan asam
yang kemudian dilanjutkan rekristalisasi methanol (Guenther, 2006).

Hasil analisa komposisi senyawa kimia terhadap limbah pengolahan minyak


pala diperoleh bahwa limbah tersebut kaya akan senyawa trigliserida yaitu
trimiristin. Dengan mengisolasi trimiristin disertai amidasi menggunakan senyawa
amoniak maka akan diperoleh amida asam lemak yang selanjutnaya dapat
digunakan sebagai surfaktan. Pemanfaatan Trimiristin yang terdapat pada limbah
hasil; pengolahan minyak pala untuk ditranfor masikan menjadi miristimida
dengan cara mengisolasi limbah pala dengan pelarut n- heksan yang menghasilkan
rendemin trimiristin (Guenther, 2006).
2.5 Rekristalisasi
Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang biasa
digunakan, dimana zat zat tersebut atau zat zat padat tersebut dilarutkan dalam
suatu pelarut tertentu dikala suhu diperbesar. Karena konsentrasi impurity yang
rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang berkonsentrasi tinggi akan
mengendap (Arsyad, 2001).
Kristalisasi menunjukkan sejumlah fenomena yang berkaitan dengan
pembentukan struktur matriks kristal. Prinsip pembentukan kristal adalah sebagai
berikut (Estiasih, 2009):
1. Kondisi lewat jenuh untuk suatu larutan seperti larutan gula atau garam.
2. Kondisi lewat dingin untuk suatu cairan atau lelehan (melt) seperti air atau
lemak.
Rekristalisasi digunakan untuk pemisahan dua campuran senyawa atas dasar
perbedaan kelarutan pada suhu yang berbeda. Pertama, larutan dipanaskan
terlebih dahulu sampai terjadi pendidihan. Kemudian larutan disaring dengan

penyaring Buchner dalam keadaan panas. Kemudian filtrat didinginkan sampai


terbentuk endapan didasar tabung (erlenmeyer). Setelah terbentuk endapan,
endapan dipisahkan dengan cara disaring untuk menggunakan kertas saring.
Selanjutnya endapan dapat dikeringkan menggunakan oven setelah kristal kering
dapat digunakan untuk percobaan selanjutnya (Khamdinal, 2009).
Rekristalisasi satu dari metode yang paling ampuh untuk permunian zat
padat, didasarkan atas perbedaan antara kelarutan zat yang diinginkan dan
kotorannya. Sebuah produk tidak murni dilarutkan dan diendapkan kembali,
berulang kali jika perlu, dengan pengawasan yang hati hati terhadap faktor
faktor yang mempengaruhi kelarutan (Oxtoby, 2001).
Rekristalisasi berlangsung dengan cara sama pada suhu suhu lain, tetapi
dengan kerangka waktu yang berbeda. Perhatikan bahwa waktu untuk
pelaksanaan 50 persen rekristalisasi mudah di identifikasi, karena pada titik
tersebut reaksi berlangsung paling cepat (Vlack, 2004).

2.6 Identifikasi Senyawa dengan Spektrofotometer UV-Vis


Sumber radiasi elektromagnetik, yang mana sinar ultraviolet dan sinar
tampak merupakan salah satunya, dapat dianggap sebagai energi yang merambat
dalam bentuk gelombang. Beberapa istilah dan hubungan digunakan untuk
menggambarkan gelombang ini. Panjang gelombang merupakan jarak linier dari
satu titik gelombang ke titik yang bersebelahan pada gelombang yang berdekatan
(Gandjar dan Rohman, 2008).

Warna sinar tampak dapat dihubungkan dengan panjang gelombangnya.


Sinar putih mengandung radiasi pada panjang gelombang di daerah sinar tampak.
Sinar pada panjang gelombang tunggal (radiasi monokromatik) dapat dipilih dari
sinar putih (sebagai contoh dengan alat prisma). Berikut disebutkan dalam tabel
hubungan antara warna dengan panjang gelombang sinar tampak (Gandjar dan
Rohman, 2008):
Tabel 2.3 Hubungan Warna dengan Panjang Gelombang Sinar Tampak
Panjang Gelombang

Warna yang diserap

Warna yang diamati/


warna komplementer

400 435 nm

Ungu (Lembayung)

Hijau kekuningan

450 480 nm

Biru

Kuning

480 490 nm

Biru kehijauan

Oranye

490 500 nm

Hijau kebiruan

Merah

500 560 nm

Hijau

Merah anggur

560 580 nm

Hijau kekuningan

Ungu (Lembayung)

580 595 nm

Kuning

Biru

595 610 nm

Oranye

Biru kekuningan

610 750 nm

Merah

Hijau kebiruan

(Sumber: Ginandjar dan Rohman, 2008).


Spektrum ultraviolet adalah salah satu gambar antara panjang gelombang
atau frekuensi serapan lawan intensitas serapan (transmisi atau absorbansi). Sering
juga data ditunjukkan sebagai gambar grafik atau tabel yang menyatakan panjang
gelombang lawan serapan molar atau log dari serapan molar, Emax atau log Emax.

Dalam praktek, spektrofotometri ultraviolet digunakan terbatas pada sistem


terkonjugasi. Meskipun demikian terdapat keuntungan yang selektif dari serapan
ultraviolet, yaitu gugus gugus karakteristik dapat dikenal dalam molekul
molekul yang sangat kompleks. Sebagian besar dari molekul yang relatif
kompleks mungkin transparan dalam ultraviolet sehingga kita mungkin
memperoleh spektrum yang semacam dari molekul sederhana. Sebagai contoh,
spektrum pada hormon testosteron laki laki sangat mirip dengan spektrum yang
berasal dari mesitiloksida. Ternyata serapan dihasilkan dari struktur enon
terkonjugasi dari kedua senyawa tersebut (Sastrohamidjojo, 1991).

2.7 Tinjauan Bahan


2.7.1 Akuadest
Akuades adalah air hasil destilasi / penyulingan sama dengan air murni /
H2O. Akuades berbentuk cair dan tak berwarna. Berat molekul akuadest adalah
18,02 gr/mol. Nilai pH akuadest berkisar 7. Akuades ini mendidih pada suhu 100
C. Akuadest tidak berbahaya karena dengan pH-nya yang netral sehingga sama
dengan H2O (Arsyad, 2001).
2.7.2 Asam Klorida
HCl ini berbentuk cairan dan berbau sangat menyengat. HCl adalah asam
klorida yang termasuk dalam golongan asam karena memiliki pH di bawah 7. HCl
cukup berbahaya dalam konsentrasi cukup besar. HCl bisa dihasilkan dari reaksi
NaCl + H2O NaOH + HCl

HCl biasanya digunakan untuk titrasi, bisa juga untuk penukar kation (Gita,
2009).
2.7.3 Asam Miristat
Asam n-tetradekanoat, asam lemak jenuh yang mempunyai rumus kimia
C13H27COOH dan rumus struktur CH3(CH2)12COOH; Kristal berbentuk
serpihan tak berwarna. t.l 58 ; t.d 250,5 ; d 0,844 (Mulyono, 2007).
2.7.4 Etanol
Etanol juga disebut etil alkohol, etanol mudah menguap dan mudah terbakar.
Etanol berbentuk cairan dan tak berwarna. Ethanol termasuk dalam alkohol rantai
tunggal dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus empirisnya adalah C2H6O.
Ethanol larut dalam air dan pelarut organik lainnya seperti asam asetat, aseton,
benzena, kloroform, dietil eter, etilena glikol, gliserol, dan lain lain. Etanol
memiliki titik didih yang rendah dan cenderung aman. Keuntungannya dibanding
menggunakan aseton yaitu ethanol mempunyai kepolaran yang tinggi sehingga
mudah untuk melarutkan senyawa resin, lemak, minyak, karbohidrat, dan organik
lainnya (Rahma, 2012).
2.7.5 Methanol
Metanol,

juga

dikenal

sebagai

metil

alkohol,

wood

alcohol

atau spiritus,adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Ia merupakan


alkohol

paling

sederhana.

Pada

"keadaan atmosfer"

ia

berbentuk

cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan
beracun dengan bau yangkhas (berbau lebih ringan dari pada etanol). Massa
molar dari methanol adalah 32,04 gr/mol. Methanol bersifat toxic, bisa dipakai

pada industri sebagai starting material pembuatan bahan kimia seperti


formaldehid, asam asetat, dan lain lain (Putri, 2007).
2.7.6 Natrium Hidroksida (NaOH)
NaOH bisa dikenal dengan Natrium Hidroksida. Biasanya berbentuk
serpihan atau batangan. NaOH bersifat basa, bentuknya keras tetapi rapuh. Bila
dibiarkan di udara akan cepat menyerap karbondioksidan dan akan lembab. NaOH
mudah larut dalam air dan dalam ethanol tetapi tidak larut dalam eter. Titik
lelehnya adalah 318 C dan titik didihnya adalah 1390 C. Hidratnya mengandung
7; 5; 3,5; 3,2; dan 1 molekul air. NaOH membentuk basa kuat bila dilarutkan
dalam air. Densitas NaOH adalah 2,1. Senyawa ini sangat mudah terionisasi
membentuk ion natrium dan hidroksida (Budiyanto, 2013).
2.7.7 n-Heksana
Cairan tidak berwarna, berbau seperti benzena, titik lebur -94,3 , titik

didih 69 pada 1,013 kPa, titik nyala -22 . Berat jenis uap 2,79. Kelarutan
dalam air 0,0095 g/L pada 20 . Koefisien partisi (n-heksana) log Povy : 4,11.
Viskositas dinamis 0,326 mPa.S. n-heksana bersifat non polar (Mulyono, 2007).
2.7.8 Petroleum Eter
Petroleum eter dikenal sebagai bensin adalah sekelompok berbagai volatile,
mudah terbakar. Petroleum eter ini termasuk cairan hidrokarbon campuran yang
digunakan terutama sebagai pelarut nonpolar. Petroleum eter bukan merupakan
eter seperti dietil eter, tetapi sejenis hidrokarbon ringan. Berat jenis petroleum eter
adalah 0,6 dan 0,8 tergantung pada komposisinya. Petroleum eter ini kurang

berbahaya terhadap resiko kebakaran dan ledakan, serta lebih selektif untuk lemak
nonpolar (Rozi, 2011).
2.7.9 Trimiristin
Trimiristin merupakan salah satu bahan dalam golongan lemak yang
ditemukan pada biji buah pala. Trimiristin terkandung sekitar 25 % dari berat
kering biji buah pala. Mempunyai titik leleh 57 . Trimiristin merupakan
trigliserida yang tersusun atas 3 asam miristat dimana ketiganya bergabung
melalui reaksi esterifikasi dengan gliserol (Arsyad, 2001).