Anda di halaman 1dari 16

AKBAR

HIDAYAT
61113020

TUGAS
TUTORIA
L
Nama mahasiswa :
AKBAR HIDAYAT
NPM :
61113020
Angkatan :
2013
Kelompok tutor :
X
Dosen tutor :
NOPRI ESMIRALDA

[ FK ~ UNIVERSITAS
BATAM ]

Skenario 4
SAKIT KEPALA
Andre, seorang karyawan swasta berusia 28 tahun datang dengan ke praktek dokter
umu dengan keluhan nyeri kepala sebelah kiri yang di rasakan berdenyut sejak 2 hari yang
lalu. Keluhan nyeri kepala ketika timbul dapat berlangsung hingga 5 jam. Sebelum timbul
nyeri kepala dapat didahului dengan gangguan pada penglihatan berupa bintik putih.
Selain keluhan diatas leher Aandre juga terasa nyeri dan kaku. Keluhan ini jga disetai
mual-muntah dan takut dengan cahaya. Andre juga mengeluh sulit untuk berdiri tegak karena
terasa berputar-putar sehingga sulit menjaga keseimbangan tubuh.Keluhan ini juga dirasakan
hilang timbul. Pada pemeriksaan fisik dijumpai: kesadaran baik dan tanda vital dalam batas
normal, nyeri kepala sebelah sinistra, berdenyut denyut, fotofobia, dan scotomata. Dokter
menyarankan kepada Andre agar istirahat yang cukup, mengatur asupan makanan. Rajin
berolahraga dan minum obat teratur. Bagaimana anda menjelaskan kondisi yang dialami oleh
Andre?

TERMINOLOGI ASING
1. Fotofobia
Sensitif terhadap cahaya, atau nyeri mata terhadap cahaya
2. Cotomata
Daerah buram lapang pandang dikelilingi daerah terang
3. Nyeri kepala
Rasa nyeri yang tidak enak pada kepala yang bisa menjalar ke gigi, rahang dan leher
bawah

RUMUSAN MASALAH

1.
2.
3.
4.
5.

Mengapa andre mengeluh nyeri kepala sejak 2 hari yang lalu?


Mengapa nyeri kepala berlangsung hingga 5 jam?
Mengapa Tn. Andre merasa nyeri dan kaku pada lehernya?
Mengapa keluhan Tn. Andre disertai mual, muntah dan takut terhadap cahaya?
Mengapa nyeri kepala didahului dengan gangguan pada penglihatan berupa bintik

putih?
6. Mengapa Tn. Andre sulit untuk berdiri tegak?
7. Mengapa dokter menyarankan Tn. Andre agar istirahat yang cukup, mengatur asupan
makanan, rajin berolahraga,dan minum obat teratur?
8. Obat apa yang diberikan kepada Tn. Andre?
9. Diagnosis sementara?

HIPOTESIS
1. Nyeri kepala sejak dua hari yang lalu dapat diakibatkan karna kurangnya istirahat.
Kurangnya istirahat dapat membuat kompensasi jantung meningkat karna badan
terlalu dipaksakan dan mengakibatkan oksigen keotak berkurang, kurangnya pasokan
oksigen bisa membuat kelainan system pembuluh darah mengalami vasokontriksi
yang membuat jalan oksigen ke kepala menyempit sehingga dapat terjadi migran.
2. Nyeri kepala dapat berlangsung 5 jam karna adanya factor factor tertentu, yaitu
seperti efek obat yang dikonsumsi atau istirahat karna rangsangan oleh nyeri kepala
tersebut.
3. Nyeri dan kaku pada lehernya akibat adanya kelainan pada pembuluh darah yang
membuat saraf saraf terkait menimbulkan rasa nyeri.
4. Mual dan muntah dapat kita masukkan dengan kompensasi jantung yang meningkat
dan nyeri kepala biasanya membuat mata berbintik putih sehingga susah untuk
melihat cahaya yang terang.
5. Karna efek dari nyeri kepala
6. Sulit berdiri tegak karna efek dari nyeri kepala yang berlebihan membuat kesadaran
menurun.
7. Istirahat yang cukup, mengatur asupan makanan, rajin berolahraga, dan minum obat
teratur dapat membuat kurangnya rasa nyeri pada kepala.
8. Analgetik
9. Migran

SKEMA
Tn. Andre

Keluhan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nyeri kepala sebelah


Leher kaku
Fotofobia
Scotomata
Sulit berdiri tegak
Keluhan hilang timbul

TTV normal
Pem. Fisik :

Kesadaran
baik
Scotomata
fotofobia

Diagnosa
(Nyeri kepala)

TUJUAN PEMBELAJARAN
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang migran berdasarkan :
1. Defenisi migran
2. Epidemiologi migran
3. Etiologi migran
4. Patofisiologi migran
5. Klasifikasi
6. Manifestasi migran
7. Diagnosis migran
8. Diagnosis banding migran
9. Penatalaksanaan migran
10. Komplikasi migran
11. Prognosis migran

PEMBAHASAN
Defenisi
Menurut International Headache Society, 2004, migren adalah nyeri kepala dengan
serangan nyeri yang berlangsung 4-72 jam. Nyeri biasanya unilateral, sifatnya berdenyut,
intensitas nyerinya sedang sampai berat dan diperberat oleh aktivitas, dan dapat disertai mual,
muntah, fotofobia dan fonofobia.
Konsep klasik mengatakan migren adalah gangguan fungsional otak dengan
manifestasi nyeri kepala unilateral yang sifatnya mendenyut atau mendentum yang terjadi
mendadak disertai mual atau muntah.Konsep tersebut telah diperluas oleh The Research

Group On Migraine and Headache of The World Federation Of Neurology. Migren


merupakan gangguan bersifat familial dengan karakteristik serangan nyeri kepala yang
berulang-ulang yang intensitas, frekuensi dan lamanya bervariasi.Nyeri kepala umumnya
unilateral, disertai anoreksia, mual, dan muntah.Dalam beberapa kasus migren ini didahului
oleh gangguan neurologik dan gangguan perasaan hati.
Definisi migren yang lain yang ditetapkan oleh panitia ad hoc mengenai nyeri kepala
(Ad Hoc Comittee on Classification of Headache) adalah serangan nyeri kepala unilateral
berulang-ulang dengan frekuensi lama dan hebatnya rasa nyeri yang beraneka ragam dan
biasanya berhubungan dengan tidak suka makan dan terkadang dengan mual dan muntah.
Terkadang didahului oleh gangguan sensorik, motorik, dan kejiwaan.Sering dengan faktor
keturunan.
Blau (2003) mengusulkan definisi migren sebagai nyeri kepala berulang-ulang
berlangsung antara 2-72 jam dan bebas nyeri antara serangan nyeri kepala, harus
berhubungan dengan gangguan visual atau gastrointerstinal atau keduanya.Gejala visual
timbul sebagai aura dan/atau fotofobia selama nyeri kepala.Bila tidak ada gangguan visual
hanya berupa gangguan gastrointestinal, maka muntah harus sebagai gejala pada beberapa
serangan (Harsono, 2005, Kapita Selekta Neurologi Edisi Kedua).

EPIDEMIOLOGI
Migren dialami oleh lebih dari 28 juta orang di seluruh dunia. Diperkirakan
prevalensinya di dunia mencapai 10%; wanita lebih banyak daribpada pria. Beberapa studi
menunjukkan bahwa prevalensi seumur hidup (lifetime prevalence) pada wanita sebesar 25%,
sedangkan pada pria hanya sebesar 8%. Usia penderita terbanyak sekitar 25-55 tahun. Total
biaya langsung dan tak langsung (direct and indirect costs) diperkirakan 5,6 hingga 17,2
milyar dolar Amerika berdasarkan hilangnya waktu kerja dan produktivitas akibat migren.3,4
Migren menduduki peringkat ke-19 di antara semua penyakit penyebab hendaya (disability)
atau cacat di dunia, dan peringkat ke-12 di antara wanita di seluruh dunia.

Di Inggris, migren diderita oleh lebih dari 14% (7,6% pria dan 18,3% wanita)
populasi; lebih dari 6 juta orang. Sekitar 5,7 hari efektif kerja hilang per tahun untuk setiap
pekerja atau pelajar penderita migren, dan pada setiap hari kerja hingga 90.000 orang tidak
masuk kerja atau sekolah karena migren. Di Amerika Serikat, sekitar 18% wanita dan 6% pria
menderita migren, prevalensinya meningkat tajam. Di Inggris dan Amerika Serikat,
diperkirakan sekitar dua pertiga penderita migren tidak pernah berkonsultasi ke dokter, tidak
diberi tahu diagnosis yang tepat, dan hanya diobati dengan (atau dibeli sendiri)obat-obat
bebas tanpa resep dokter

ETIOLOGI
Menurut Harsono (2005), Kapita Selekta Neurologi, edisi kedua, sampai saat ini
belum diketahui dengan pasti faktor penyebab migren, diduga sebagai gangguan
neurobiologis, perubahan sensitivitas sistem saraf dan aktivasi sistem trigeminal vaskular,
sehingga migren termasuk dalam nyeri kepala primer. Diketahui ada beberapa faktor pencetus
timbulnya serangan migren yaitu :
1. Perubahan hormonal
Beberapa wanita yang menderita migren merasakan frekuensi serangan akan
meningkat saat menstruasi. Bahkan ada diantaranya yang hanya merasakan serangan migren
saat menstruasi.Istilah menstrual migraine sering digunakan untuk menyebut migren yang
terjadi pada wanita saat dua hari sebelum menstruasi dan sehari setelahnya. Ini terjadi
disebabkan penurunan kadar estrogen.

2. Kafein
Kafein terkandung dalam banyak produk makanan seperti minuman ringan, teh,
cokelat, dan kopi. Kafein dalam jumlah yang sedikit akan meningkatkan kewaspadaan dan
tenaga, namun bila diminum dalam dosis yang tinggi akan menyebabkan gangguan tidur,
lekas marah, cemas dan sakit kepala.
3. Puasa dan terlambat makan

Puasa dapat mencetuskan terjadinya migren oleh karena saat puasa terjadi pelepasan
hormone yang berhubungan dengan stres dan penurunan kadar gula darah.

4. Ketegangan jiwa (stres) baik emosional maupun fisik atau setelah istirahat dari
ketegangan.

5. Cahaya kilat atau berkelip


Cahaya yang terlalu terang dan intensitas perangsangan visual yang terlalu tinggi akan
menyebabkan sakit kepala pada manusia normal. Mekanisme ini juga berlaku untuk penderita
migren yang memiliki kepekaan cahaya yang lebih tinggi daripada manusia normal.
6. Makanan
Penyedap makanan atau MSG dilaporkan dapat menyebabkan sakit kepala,
kemerahan pada wajah, berkeringat dan berdebar-debar jika dikonsumsi dalam jumlah yang
besar pada saat perut kosong. Fenomena ini disebut Chinese Restaurant
Syndrome.Aspartam atau pemanis buatan pada minuman diet dan makanan ringan, dapat
menjadi pencetus migren bila dimakan dalam jumlah besar dan jangka waktu yang lama.
7. Banyak tidur atau kurang tidur
Gangguan mekanisme tidur seperti tidur terlalu lama, kurang tidur, sering terjaga
tengah malam, sangat erat hubungannya dengan migren dan sakit kepala tegang, sehingga
perbaikan dari mekanisme tidur ini akan membantu mengurangi frekuensi timbulnya migren.

8. Faktor herediter

9. Faktor kepribadian

Gambar 2.1.Frequency of individual triggers occurring at least occasionally (by


percentage)
dikutip dari : www.health24.com(2004).

PATOFISIOLOGI
Pemicu kimia dapat menstimulasi neuroreseptor yang mengakibatkan pelepasan
neurotransmiter. Neurotransmiter dapat mempengaruhi langsung terhadap neuron pada jalur
migren trigeminovaskular sehingga melepaskan substance P (SP), calcitonin gene-related
peptide (CGRP) dan neurokinin yang di aktifkan dari berbagai pencetus. Patogenesis migren
ini dapat dilihat pada Gambar 2.1. Substance P berhubungan dengan vasodilatasi, degranulasi
mast cell, peningkatan permeabilitas dan edema meningeal. Secara bersamaan terjadi
pembentukan fenomena yang disebut peradangan neurogenik. Aktivitas ganglia trigeminal
yang berlebihan dan peradangan pada neurovaskular dari meningeal menyebabkan serangan
migren.
Hubungan aura dan komponen serangan migren merupakan dasar mekanisme aksi
potensial terhadap diet pencetus. Fase primer adalah neuronal dengan depolarisasi neuron
kortikal dan sensitisasi ganglia saraf trigeminal. Fase sekunder merupakan vasokonstriksi,
vasodilatasi dan peradangan vaskular yang diperantarai oleh neurotransmiter kimia
khususnya reseptor serotonin. Adanya hubungan migren dengan vasokonstriksi arteri
intrakranial pada awal, yang menimbulkan aliran darah menurun ke korteks visual, kemudian
diikuti periode vasodilatasi ekstrakranial. Bagian terdekat dengan inervasi trigeminal dari
pembuluh serebral, duramater dan kulit kepala menunjukan lokasi dari serangan migren.

Pencetus diet mempengaruhi patofisiologi fase proses serangan migren dengan


terjadinya pelepasan serotonin dan norepinefrin. Hal ini mengakibatkan vasokonstriksi atau
vasodilatasi maupun dengan stimulasi langsung ganglia trigeminal, talamus, batang otak dan
jalur neuronal korteks. Mekanisme potensial dan mediator kimia dari pemicu ini
mengakibatkan beberapa reaksi. Reaksi tersebut yaitu pelepasan norepineprin yang
diperantarai oleh tyramin dan phenylethylamine, pelepasan nitritoksida oleh nitrat dan nitrit
serta pengaruh histamin dan reseptor glutamat oleh histamin dan MSG. Pemicu kimia ini
menstimulasi neuroreseptor mengakibatkan pelepasan neurotransmiter atau pengaruh
langsung terhadap neuron dalam jalur migren trigeminovaskular.

Gambar 2.1. Neuron trigeminovaskular yang respon terhadap berbagai pemicu


mengakibatkan pelepasan substan P (SP) dan calcitonin gene-related peptide (CGRP) yang
menyebabkan vasodilatasi, perubahan permeabilitas vaskular dan edema pada meningeal.
Pelepasan trigeminal yang berlebihan seperti pada aktivitas yang berbeda dari biasanya,
dimana struktur anatomi yang terlibat menyebabkan respon nyeri pada migren.

KLASIFIKASI
Menurut The International Headache Society, klasifikasi migren adalah sebagai berikut :
1. Migren tanpa aura
2. Migren dengan aura
Migren dengan aura yang khas
b. Migren dengan aura yang diperpanjang
c. Migren dengan lumpuh separuh badan (familial hemiflegic migraine)
d. Migren dengan basilaris
e. Migren aura tanpa nyeri kepala

f. Migren dengan awitan aura akut


3. Migren oftalmoplegik
4. Migren retinal
5. Migren yang berhubungan dengan gangguan intrakranial
6. Migren dengan komplikasi
Status migren (serangan migren dengan sakit kepala lebih dari 72 jam)
Tanpa lebihan penggunaan obat
Kelebihan penggunaaan obat untuk migren
Infark migren
7. Gangguan seperti migren yang tidak terklasifikasikan
Dahulu dikenal adanya classic migraine dan common migraine.Classic migraine
didahului atau disertai dengan fenomena defisit neurologik fokal, misalnya gangguan
penglihatan, sensorik, atau wicara.Sedangkan common migraine tidak didahului atau disertai
dengan fenomena defisit neurologikfokal. Oleh Ad Hoc Comittee of the International
Headache Society (1987) diajukan perubahan nama atau sebutan untuk keduanya menjadi
migren dengan aura untuk classic migraine dan migren tanpa aura untuk common migraine.

MANIFESTASI KLINIS
Secara keseluruhan, manifestasi klinis penderita migren bervariasi pada setiap
individu.Terdapat 4 fase umum yang terjadi pada penderita migren, tetapi semuanya tidak
harus dialami oleh setiap individu.Fase-fase tersebut antara lain (Aminoff, MJ et al, 2005) :
1. Fase Prodromal. Fase ini dialami 40-60% penderita migren. Gejalanya berupa
perubahan mood, irritable, depresi, atau euphoria, perasaan lemah, letih, lesu, tidur
berlebihan, menginginkan jenis makanan tertentu (seperti cokelat) dan gejala lainnya.
Gejala ini muncul beberapa jam atau hari sebelum fase nyeri kepala. Fase ini memberi
petanda kepada penderita atau keluarga bahwa akan terjadi serangan migren.
2. Fase Aura. Aura adalah gejala neurologis fokal kompleks yang mendahului atau
menyertai serangan migren. Fase ini muncul bertahap selama 5-20 menit. Aura ini
dapat berupa sensasi visual, sensorik, motorik, atau kombinasi dari aura-aura tersebut.
Aura visual muncul pada 64% pasien dan merupakan gejala neurologis yang paling
umum terjadi. Yang khas untuk migren adalah scintillating scotoma (tampak bintikbintik kecil yang banyak) , gangguan visual homonym, gangguan salah satu sisi
lapang pandang, persepsi adanya cahaya berbagai warna yang bergerak pelan

(fenomena positif). Kelainan visual lainnya adalah adanya scotoma (fenomena


negatif) yang timbul pada salah satu mata atau kedua mata. Kedua fenomena ini dapat
muncul bersamaan dan berbentuk zig-zag. Aura pada migren biasanya hilang dalam
beberapa menit dan kemudian diikuti dengan periode laten sebelum timbul nyeri
kepala, walaupun ada yang melaporkan tanpa periode laten.
3. Fase nyeri kepala. Nyeri kepala migren biasanya berdenyut, unilateral, dan awalnya
berlangsung didaerah frontotemporalis dan okular, kemudian setelah 1-2 jam
menyebar secara difus kearah posterior. Serangan berlangsung selama 4-72 jam pada
orang dewasa, sedangkan pada anak-anak berlangsung selama 1-48 jam. Intensitas
nyeri bervariasi, dari sedang sampai berat, dan kadang-kadang sangat mengganggu
pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
4. Fase Postdromal. Pasien mungkin merasa lelah, irritable, konsentrasi menurun, dan
terjadi perubahan mood. Akan tetapi beberapa orang merasa segar atau euphoria
setelah terjadi serangan, sedangkan yang lainnya merasa deperesi dan lemas.
Gejala diatas tersebut terjadi pada penderita migren dengan aura, sementara pada
penderita migren tanpa aura, hanya ada 3 fase saja, yaitu fase prodromal, fase nyeri kepala,
dan fase postdromal.

Gambar 2.2. Fase Prodromal dikutip dariwww.medscape.com(2009).

DIAGNOSIS
Menurut Sjahrir (2008), nyeri kepala atau sefalgia adalah rasa nyeri atau rasa tidak
mengenakan pada seluruh daerah kepala dengan batas bawah dari dagu sampai ke daerah
belakang kepala (area oksipital dan sebahagian daerah tengkuk)
Etiologi dari nyeri kepala dapat disebabkan oleh beberapa macam penyebab.
Beberapa penyebabnya bisa saja karena adanya kelainan pada neurovaskulernya (migren),
bisa karena adanya infeksi, trauma kepala, tumor otak, dll. Mengingat penyebabnya begitu
beragam, kita harus berhati-hati dalam menentukan diagnosisnya. Dari hasil anamnesis yang
diperoleh, diagnosis banding yang diperoleh untuk pasien ini, yaitu:
Nyeri kepala e.c Migran tanpa aura
Pasien menderita nyeri kepala sejak kelas 2 SMA dan belum pernah diperiksa.
Nyerinya muncul secara tiba-tiba yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan nyut-nyutan. Dulu
nyeri ini sering sekali kambuh-kambuhan sekitar 10 kali sebulan, sedangkan sekarang nyeri
hanya sekitar 1 atau 2 kali yang disertai fotofobia dan fonofobia.
Nyeri kepala e.c tension headache
Dahulu nyeri yang dirasakan sering sekali kambuh-kambuhan dari pada sekarang.
Akhir ini nyeri hanya kambuh sektar 1 atau 2 kali/bulan. Oleh karena itu, mungkin juga
nyeri kepala ini dapat disebabkantension headache. Pada tension headache atau nyeri kepala
tipe tegangmerupakan hasil dari proses kontraksi (ketegangan) otot kepala, wajah, rahang,
dan leher. Biasanya disebabkan oleh stres fisik maupun psikis, juga sikap dan posisi badan
serta kepala yang salah dan terus menerus dalam waktu lama yang dapat menyebabkan
nyerisecara bilateral serta tidak disertai dengan fotofobia/fonofobia (Sjahrir, 2008).
Pada pasien ini dia hanya merasakan nyeri di kepala bagian kanan (unilateral) yang
disertai dengan fotofobia/fonofobia sehingga diagnosis berupa tension headache dapat
dihilangkan (Sjahrir, 2008).
Nyeri kepala e,c cluster
Nyeri kepala tipe klaster adalah jenis nyeri kepala yang berat, terjadi pada satu sisi
(unilateral), timbul secara mendadak disekitar mata, supraorbital dan bisa menyebar didaerah
temporal. Nyeri sering disertai conyunctival injecyion, lakrimasi, nasal-congestion,
rhinorrhea, kening dan wajah berkeringat, miosis, ptosis dan edema daerah kelopak mata.

Pada anamnesis, pasien hanya merasakan nyeri kepala yang unilateral serta fotofobia dan
fonofobia sehingga diagnosis berupa cluster dapat dihilangkan (Sjahrir, 2008).
Menurut Harsono (2005), kriteria-kriteria diagnosis migren tanpa aura, yaitu:
Sekurang-kurangnya terjadi 10 kali serangan nyeri kepala.
Nyeri berlangsung antara 4 72 jam.
Nyeri kepala terjadi sekurang-kurangnya dua dari karakteristik berikut, lokasi unilateral,
sifatnya mendenyut, intensitasnya sedang sampai berat, dan diperberat oleh kegiatan fisik.
Selama serangan setidaknya ada satu dari karakteristik berikut, mual/muntah,
fotofobia/fonofobia.
Berdasarkan uraian kriteria-kriteria di atas, diagnosis kerja menurut saya adalah nyeri kepala
e.c migren tanpa aura.
2. Pemeriksaan Neurologis
Pada pemeriksaan fisik maupun neurologis, biasanya pasien tidak ditemukan adanya
kelainan yang berarti selain gejala-gejala sistemik yang terkait seperti fotofobia dan
phonophobia. Bila ada kelainan pada pemeriksaan fisik dapat menunjukkan penyebab lain
yang lebih serius dari sakit kepala, (emedicine, 2010).
3. Pemeriksaan Penunjang
Pasien belum pernah periksa ke rumah sakit. Namun, menurut saya perlu dilakukan
pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis secara pasti. Pemeriksaan penunjang
yang perlu dilakukan, yaitu:
CT Scan kepala
CT scan yang berarti computed tomography scan merupakan pemeriksaan khusus
yang tidak menyakiti, tidak berbahaya cepat dikerjakan dan banyak memberikan informasi
yang dapat diandalkan.Pada kasus ini, penggunaan CT scan berfungsi untuk memastikan apa
yang menyebabkan terjadinya nyeri kepal ini. Dengan CT scan kita bisa melihat ada atau
tidaknya tumor, edema atau lesi di otak sehingga kita bisa menyingkirkan diagnosis nyeri
kepala akibat faktor penyebab lainnya.

Pada penggunaan CT scan, kita seharusnya tahu terlebih dahulu kriteria-kriteria yang
tepat untuk melakukan CT scan pada kepala. Pada kasus nyeri kepala ini perlu
dipertimbangkan secara cemat dengan keadaan pasien mengingat mahalnya biaya untuk
melakukannya dan pada kasus ini, hasil dari pemeriksaan CT scan memiliki nilai yang tidak
bermakna.

DIAGNOSIS BANDING
1. Nyeri kepala tegang (tension headache)
2. Nyeri kepala cluster (cluster headache)
3. Gangguan predaran darah spintas (transient Ischemic Attack/TIA)
PENATALAKSANAAN
Pengobatan non-medik.
Karena faktor pencetus tidak selalu bisa dihindari, maka dianjurkan pengobatan nonmedik, oleh karena hal ini dapat mengurangi banyaknya obat migren sehingga efek samping
dari obat-obatan dapat dikurangi.Termasuk dalam pengobatan non-medik adalah latihan
relaksasi otot (Harsono. Kapita Selekta Neurologi Edisi Kedua, 2003).
Pengobatan simptomatik
Willinson (1988), menganjurkan pada waktu serangan migren sebagai berikut (Harsono,
2003) :
a.Mencegah pemberian obat-obat yang mengganggu tidur
b. Obat-obat anti mual seperti metoklopramid. Obat anti mual dapat memicu aktivitas normal
pencernaan (gastrointestinal) yang terganggu saat serangan migren.
c.Analgetika sederhana. Misalnya aspirin atau parasetamol dapat menghilangkan nyeri kepala
bila sebelumnya diberi yang memicu aktivitas gastrointestinal.
d. Ergotamin tartrat. Cara kerja obat ini bifasik, bergantung pada tahanan darah yang telah
ada sebelumnya.
Pengobatan abortif
Harus diberikan sedini mungkin, tetapi sebaiknya saat timbul nyeri kepala. Obat yang dapat
digunakan:
a. Ergotamin tartrat dapat diberikan tersendiri atau dicampur dengan obat antiemetik,
analgesik, atau sedatif.

b. Dihidroergotamin (DHE) merupakan agonis reseptor serotonin yang aman dan efektif
untuk menghilangkan serangan migren dengan efek samping mual yang kurang dan lebih
bersifat vasokonstriktor.
c. Sumatriptan suksinat merupakan agonis selektif reseptor 5- Hidroksi triptamin (5-HT1D)
yang efektif dan cepat menghilangkan serangan nyeri.
Pengobatan pencegahan
Pengobatan pencegahan diberikan bila terdapat lebig dari 2 kali serangan dalam sebulan.
Obat pencegah migren adalah (Harsono, 2003):
a. Beta-blocker
b. Antagonis Ca
c. Antiserotonin dan antihistamin
d. Antidepresan trisiklik
e. NSAID

KOMPLIKASI
1. Fibrilasi atrium
2. Emboi sistemik
3. Hipertensi pulmonal
4. Dekompensasi kordis
5. Endocarditis
PROGNOSIS
Bagi banyak penderita migren, masa penyembuhan sangat penting, terutama menghindari
factor pencetus. Migren pada akhirnya dapat sembuh sempurna. Terutama pada wanita yang
sedang memasuki masa menopause, akan lebih aman mengalami serangan, berhubungan
dengan produksi serotonim.